Showing posts with label Tsaqofah. Show all posts
Showing posts with label Tsaqofah. Show all posts

May 19, 2022

,

Mujahadatun Nafsi

 

Mujaahadah adalah modal sukses disetiap medan perjuangan. Dengan kadar mujaahadah inilah dibedakan derajat orang orang muslim kelak disurga, mulai dari derajat ‘Usshooh (ahli maksiat), derajat Ashaabul Yamin, derajat Muqarrabin, sampai dengan derajat Abraar. Pada dasarnya mujaahadah adalah Mujaahadatun Nafsi (kesungguhan diri). Rosululloh saw bersabda:

Mujahid adalah orang yang ber-mujaahadatun Nafsi. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Mujaahadatun Nafsi bisa memberi spirit untuk mengegolkan aktivitas, meskipun berat. Sahabat Ummu Kultsum binti   Uqbah bin Abi Muaith hijrah dari Makkah ke Madinah dengan berjalan kaki. Begitu pun dengan Ummu Aiman. Ia berangkat hijrah tanpa bekal, walaupun setetes air minum. Meski dengan kondisi apa adanya, kedua sahabat wanita itu sukses di dalam aktivitasnya, karena keduanya telah mewujudkan di dalam jiwanya sikap Mujaahadatun Nafsi. Dalam hikmah disebutkan:

Dengan kadar apa yang Engkau bekerja keras, Engkau akan peroleh apa yang Engkau cita-citakan.

Dengan bekerja keras akan diperoleh keluhuran, dan barang siapa mencari keluhuran, maka ia terjaga di waktu malam.

Bagi seorang muslim, Mujaahadah Nafsi pertama yang mesti harus di lakukan adalah mengerjakan amal-amal wajib dan meninggalkan amal-amal yang dilarang, karena ini dasar daripada seorang muslim untuk memasuki surga, berdasarkan hadist:

Seorang Badui datang kepada Rosululloh saw, lalu berkata: "Ya Rosululloh, tunjukkanlah kepadaku amal yang jika aku kerjakan aku masuk surga." Beliau bersabda: "Kamu menyembah kepada Alloh seraya tidak menyekutukan sesuatu pun denganNya; kamu dirikan sholat maktubah(fardhu); kamu tunaikan zakat fardlu; dan kamu berpuasa ramadlan." Ia berkata: "Demi Dzat yang diriku berada di dalam kekuasaanNya, aku tidak akan menambah apapun atas ini selamanya dan aku tidak juga akan menguranginya."  Tatkala Baduwi berpaling, Nabi saw bersabda: "Barang siapa ingin melihat seseorang dari penduduk surga, maka hendaklah ia melihat orang ini." (HR. Muslim, jilid 1hal. 31)

Dalam hal (mengerjakan amal-amal wajib dan meninggalkan amal-amal yang dilarang), ada yang sifatnya individu, seperti sholat lima waktu, puasa, zakat, serta ada yang sifatnya jama'y seperti Iqaamatul Khilaafah berikut wasilah-wasilahnya. Sebagaimana amal individu tidak layak diabaikan maka tidak layak pula mengabaikan amal yang sifatnya jama'i.  Karena nilai dari amal jama'y tidak kurang dengan nilai dari amal individu. Bahkan di dalam kaidah fiqih disebutkan:

Amal yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain itu lebih afdhol daripada amal yang bermanfaat hanya untuk diri sendiri.

Dengan bergabung bersama Jamaah Dakwah berarti telah ada Mujaahadatun Nafsi untuk ikut memikirkan Iqaamatul Khilafah sekalipun masih dalam tahap mempersiapkan wasilah dan sekalipun berhukum fardhlu kifayah, tetapi ini tidak kalah dengan amal fardlu yang lain, mengingat dibalik itu ada usaha dan kerja untuk memikirkan nasib banyak orang, terlebih sedikit sekali orang yang punya pemikiran dan kemauan demikian pada saat ini. Imam Al Haromain berpendapat:

Bagi orang yang melakukan fardlu kifayah ada kelebihan atas fardlu ain karena orang yang melakukan fardlu kifayah berarti menggugurkan dosa dari banyak orang."

Setelah masuk Jamaah Dakwah, maka ada satu konsekuensi sikap Mujaahadatun Nafsi , yaitu memikirkan bagaimana Jamaah Dakwah berfungsi secara optimal. Untuk upaya ini, segala potensi (harta dan jiwa) dan keahlian harus disalurkan untuk memperkuat Jamaah Dakwah, dalam kondisi mansyath (giat) maupun kondisi makrah (enggan), sebagaimana dahulu dibaiatkan oleh Rosululloh saw kepada para sahabat.tidak selayaknya ada sikap Ajzun Nafsi (lemah diri) untuk ini, karena sikap itu bisa menimbulkan efek negatif yaitu pasif dan keloyoan. Dan kemandegan aktifitas Jamaah Dakwah akibat Ajzun Nafsi tentu tidak diharapkan. Rosululloh bersabda:

Berikanlah potensimu dan jangan kamu lemah diri. (HR. Abu Dawud, jilid II Hal.123)

Sementara Jamaah Dakwah telah mempunyai sarana-sarana dakwah baik material maupun non-material, maka sebagai bentuk pengejawantahan Mujaahadatun Nafsi, sarana itu mestinya dioptimalkan untuk mendayagunakan peran Jamaah Dakwah dalam kancah perjuangan pergerakan Islam di dunia, seiring dengan terlaksananya progam dan kegiatan yang esensial, seperti qiyamullail bersama, infaq fii sabilillah, pembinaan anggota, perekrutan kader baru, dan lain sebagainya.

Dengan Mujaahadatun Nafsi, mudah-mudahan diri yang bergabung dalam Jamaah dakwah ini mendapatkan ridlo Alloh Subhanahu wata'ala.

Wallohu A’lam

 

Mar 22, 2015

Bahaya dan Fitnah Para Preman Aqidah

Kekhawatiran Nabi Saw akan:

Bahaya dan Fitnah Para Preman Aqidah

Dari Abu Dzar ra bahwasanya Rosululloh Saw bersabda:

غَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُ عَلَي أُمَّتِيْ  مِنَ الدَّجَّالِ : اْلأَئِـمَّةُ الْمُضِلُّوْنَ

“Selain Dajjal, lebih menakutkan (lebih berbahaya) atas umatku daripada Dajjal, mereka adalah para pemimpin menyesatkan”

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad dengan Sanad yang baik (Jayyid). Hadits ini juga dikuatkan oleh hadits riwayat Imam Muslim yang artinya: “Selain Dajjal lebih mengkhawatirkan diriku atas kalian; sebab jika Dajjal keluar dan aku berada di antara kalian maka akulah pembela kalian, dan bila Dajjal keluar saat aku tidak berada di antara kalian maka seseorang menjadi pembela diri sendiri, sementara Alloh adalah Kholifahku atas seluruh orang islam”. Juga diperkuat oleh hadits riwayat Imam Turmudzi:

غَيْرُ الدَّجاَّلِ أََخْوَفُ لِيْ عَلَيْكُمْ
“Selain Dajjal lebih mengkhawatirkanku atas kalian”

Uraian Hadits

Salah satu sifat yang melekat pada diri Rosululloh Saw adalah: “Telah datang kepada kalian seorang utusan…terasa berat olehnya penderitaan kalian…”QS at Taubah: 128. Perwujudan sifat ini bisa dilihat dari berbagai kekhawatiran yang pernah Beliau ungkapkan atas umat ini, antara lain Beliau  Saw pernah bersabda: “…demi Alloh, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia dilapangkan atas kalian seperti telah dilapangkan atas orang – orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba – lomba seperti juga mereka berlomba – lomba hingga akhirnya dunia menghancurkan kalian seperti juga telah menghancurkan mereka“Muttafaq Alaih,   “Hal yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah Syirik kecil”, para sahabat bertanya: Apakah itu Syirik kecil (Syirik Ashghor)? Nabi Saw menjawab: “Pamer, …”HR Ahmad.

Dajjal berasal dari kata Dajl yang maknanya menutup, dinamakan Dajjal karena menutup kebenaran dengan kebatilan. Abu Umamah al Bahili ra berkisah bahwa Rosululloh Saw pernah berkhutbah: “Sesungguhnya tiada fitnah di bumi,  sejak Alloh menciptakan anak keturunan Adam, lebih besar daripada fitnah Dajjal, sesungguhnya Alloh tak mengutus seorang Nabi kecuali pasti dia (Nabi itu) memperingatkan umatnya akan Dajjal. Aku adalah Nabi terakhir, dan kalian adalah umat terakhir, (karena itu) ia (Dajjal) pasti keluar di antara kalian…wahai para hamba Alloh, tabahkanlah diri kalian! Sesungguhnya aku akan menyebutkan kepada kalian ciri – cirinya yang belum pernah disebutkan oleh Nabi siapapun sebelumku. Dia (Dajjal) berkata: “Aku adalah Nabi” padahal tak ada nabi lagi setelahku. Dia lalu mengatakan: “Aku adalah Tuhan kalian” padahal kalian tak akan pernah melihat Tuhan sebelum kalian mati. Dia bermata juling, padahal Tuhan kalian tidak juling. Di dahinya tertulis “Kafir” dan bisa dibaca oleh orang yang bisa menulis serta orang yang tidak bisa menulis.  ”HR Ibnu Majah.

Hebat dan dahsyatnya fitnah Dajjal ternyata oleh Rosululloh Saw tidak lebih mengkhawatirkan daripada fitnah para tokoh sesat yang memiliki banyak pengagum dan pengikut. Hal ini bisa dimaklumi, sebab fitnah Dajjal sudah jelas kesesatan dan keburukannya, maka ada upaya untuk menghindari. Kondisi ini berbeda dengan para tokoh panutan yang sesat, keyakinan dan segala prilaku sesat mereka akan dengan mudah menjalar kepada para loyalisnya. Sebab para loyalis menganggap semua yang dilakukan oleh tokoh pujaan adalah kebenaran dan paling sesuai dengan akal. Dewasa ini sebuah fenomena menyedihkan sering terjadi di sekitar kita, para tokoh sesat ternyata banyak bermunculan dengan aneka ragam formalitas; ada yang bersembunyi di balik baju Intelektual, Jama’ah kebatinan dll. Situasi ini diperparah dengan keberadaan media – media yang menyokong dan menyebar luaskan ajaran – ajaran sesat mereka. Intinya media berusaha menciptakan dan membangun opini bahwa apa yang dilakukan oleh para tokoh sesat tersebut tidak salah dan sangat sesuai dengan masa sekarang. Akhirnya dapat kita saksikan para tokoh sesat tersebut seringkali nongol di media dengan berbagai macam ulasan dan tulisan yang intinya sama, yaitu berusaha menyebar luaskan kesesatan yang mereka anggap sebagai sebuah kebenaran. Akhirnya terjadilah sebuah realitas seperti digambarkan oleh Syekh Muhammad Nur Syah al Kasymiri: “Para penyeru kesesatan, betapa banyak kesesatan, betapa banyak para penyeru kesesatan dan betapa banyak pula orang – orang yang mengikuti mereka”.

Para tokoh sesat dan menyesatkan tersebut, memang sangat layak mendapat kekhawatiran secara berlebih dari Rosululloh Saw, sebab dari merekalah banyak muncul kekafiran dan kemaksiatan dalam bentuk – bentuk yang sangat halus serta tidak terasa. Ajakan untuk mengakui kebenaran agama lain dan penolakan atas tindakan tegas terhadap penyimpangan agama adalah sebuah bentuk pendangkalan Aqidah dan peleburan sebuah keyakinan. Selain mengkaburkan Aqidah umat, para tokoh sesat tersebut juga melakukan tindakan penelanjangan syariat dengan menerima sebagian syariat serta menolak sebagian yang lain dengan menyatakan itu bukan bagian syariat, tetapi budaya Arab, atau syariat itu sudah tidak sesuai diterapkan pada masa kini. Rasanya sangat pantas dan seharusnya ada kata sepakat bagi kita untuk mengatakan bahwa para tokoh sesat itu adalah para Preman Aqidah, merekalah setan – setan dalam bentuk manusia, “Katakanlah aku berlindung kepada Tuhan manusia, …dari gangguan setan… berupa Jin dan manusia”QS an Naas: 1 – 6.

Sebagai seorang beriman yang memiliki kecemburuan terhadap agamanya, sudah selayaknya kita mengambil tindakan terhadap para Preman Aqidah tersebut, upaya dialogis sama sekali tak akan memberikan hasil, hanya ada satu pilihan yaitu bertindak tegas dan represif. Ingat mereka tak akan pernah menerima nasehat atau koreksi dari orang lain karena akal dan hati mereka telah tercuci. Dalam kesesatan itu mereka senantiasa dan terus berkata kami berada dalam kebenaran dan kami memperjuangkan kebenaran. Mereka inilah orang yang termaksud dalam firman Alloh:

قُلْ هَلْ نُنَـِّبئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِيْنَ أَعْمَالاً  , أَلَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُـهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا
“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepada kalian tentang orang – orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang – orang yang telah sesat perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik – baiknya”QS al Kahfi: 103 – 104.

Para Preman Aqidah itu tak akan pernah bertaubat, mereka tak bisa lagi diharapkan untuk bertaubat, sebab taubat berangkat dari sebuah kesadaran dan penyesalan. Sedang mereka tak akan pernah sadar, karena mereka tidak pernah merasa tertidur atau pingsan, meski sebenarnya mereka telah mati hati, sedang kesempatan taubat telah lewat setelah mati. Merekalah para pelaku perbuatan Bid’ah  yang telah mendapat hukuman dari Alloh Swt sebagaimana dijelaskan oleh Rosululloh Saw:

إِنَّ اللهَ حَجَرَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ

“Sesungguhnya Alloh menghalangi taubat dari setiap pelaku Bid’ah”HR Baihaqi.

Karena inilah, setan dalam rangka menyesatkan manusia meletakkan perbuatan Bid’ah pada urutan kedua setelah kekafiran dalam jajaran target yang harus dicapai. Supaya selamat dalam beragama serta tidak hanyut terbawa oleh arus Bid’ah, seseorang disarankan untuk dekat dengan para ulama yang mengenal dan meneladani Sunnah Nabi Muhammad Saw. Seseorang diharapkan mengambil dan menimba ilmu dari para guru yang jelas Sanad keilmuannya. Ibnul Mubarok berkata: “Sanad itu bagian dari agama maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dari mana dia mengambil agamanya”. Ibnu Syaudzab seperti dilansir oleh Ibnul Jauzi dalam Talbiis Iblis berkata: “ Sesungguhnya termasuk nikmat Alloh kepada seseorang adalah apabila dia bisa berada dekat dengan pelaku Sunnah (Shohib Sunnah)  hingga dia terus mendapat dorongan menjalankan Sunnah”.

Kondisi para pelaku Bid’ah yang sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk bisa bertaubat tersebut, sama dengan yang dialami oleh manusia – manusia yang teguh dengan kekafiran mereka. Mereka tidak bertaubat bukan karena tidak mengerti dan menyadari kesalahan mereka, serta bukan pula karena tidak mengerti kebenaran Islam, tetapi karena memang mereka telah mendapat laknat dari Alloh Swt, hingga hati mereka pun terkunci mati. Firman Alloh:
وَقَالُوْا قُلُوْبُنَا غُلْفٌ , بَلْ لَعَنَهُمُ اللهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيْلاً مَّا يُؤْمِنُوْنَ


“Mereka (Yahudi) berkata (kepada Rosululloh Saw): “Hati kami tertutup” tetapi sebenarnya Alloh telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka beriman” QS al Baqoroh: 88

Jan 8, 2015

,

Mencintai Rosululloh Saw dengan Sepenuh Hati

 لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتيَّ أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sebelum diriku lebih dia cintai daripada anak dan orang tuanya serta sekalian manusia”Muttafaq Alaihi.

 Syarah Hadits

Mencintai Rosululloh Saw adalah salah satu konsekwensi Iman sebagimana halnya mencintai Alloh Swt. “Katakanlah: “Jika orag-orang tua, anak-anak, saudara-saudara…lebih kamu cintai daripada Alloh dan RosulNya…maka bersiaplah sampai Alloh mendatangkan keputusanNya. Sungguh Aloh tidak menunjukkan orang-orang yang fasiq”QS at Taubah: 24. Ayat ini cukup menjadi bukti bahwa mencintai Rosululloh Saw  merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar, dengan bukti adanya ancaman “tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusanNya” serta stigma sebagai orang yang Fasiq.

Dalam mencintai Rosululloh Saw, orang beriman juga dituntut untuk memberikan cintanya kepada Beliau Saw dengan sepenuh hati, melebihi cinta kepada anak, orang tua, saudara, dan harta benda. Dengan inilah orang beriman baru akan merasakan betapa manisnya keimanan, “Tiga hal, barang siapa berada di dalamnya maka dia akan menemukan manisnya iman; hendaknya Alloh dan RosulNya lebih dia cintai daripada selain keduanya, tidak mencintai orang lain kecuali karena Alloh, dan hendaknya dia merasa enggan kembali kepada kekafiran seperti layaknya dia enggan jika dilemparkan ke neraka”HR Bukhori. Bahkan lebih dari itu, cinta kepada Rosululloh Saw harus melebihi rasa cinta kepada diri sendiri. Suatu ketika Umar ra berkata: Wahai Rosululloh, sungguh engkau lebih saya cintai daripada semuanya, kecuali diri saya sendiri! Rosululloh Saw bersabda: “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sebelum diriku lebih dia cintai daripada dirinya sendiri”HR Muttafaq Alaihi. Umar segera menyahut: “Demi Dzat Yang menurunkan kepadamu Alqur’an, sungguh engkau lebih saya sayangi daripada diri saya sendiri?! Rosululloh Saw bersabda: “Sekarang, wahai Umar”.

Tanda Cinta

Seseorang yang mencintai dan mengidolakan tokoh tertentu maka cinta itu membawanya untuk selalu atau cenderung meniru tokoh tersebut, jika tidak demikian bisa disimpulkan bahwa cintanya itu bohong belaka. Karena itulah apakah kita termasuk orang yang mencintai Rosululloh Saw atau tidak maka marilah kembali melihat apakah dalam diri ini ada ciri-ciri mencintai makhluk Alloh yang paling utama itu: 1) Mengikuti, menuruti perintah dan menjauhi larangan Beliau Saw, firman Alloh: “Katakanlah: “Jika kalian mencintai Alloh maka ikutilah diriku, (jika demikian) Alloh pasti mencintai kamu”QSAli Imron: 31. 2) Mendahulukan  anjuran Rosululloh Saw dan mengakhirkan kepentingan diri sendiri, “…dan mereka mengakhirkan diri mereka meski diri mereka sendiri sangat membutuhkan…”QS al Hasyr: 9. Ayat ini menceritakan sekaligus membanggakan karakter yang dimiliki para pecinta Rosululloh Saw (para sahabat) di mana mereka lebih mendahulukan orang lain meski diri mereka sendiri membutuhkan. 3) Menghidupkan sunnah Rosululloh Saw, Anas bin Malik menceritakan bahwa Rosululloh Saw pernah bersabda kepadanya: “Wahai anakku, itulah sunnahku, barang siapa yang menghidupkan sunnahku berarti telah mencintaiku dan barang siapa mencintaiku maka dia bersamaku di surga”HR Turmudzi. 4) Banyak menyebut Beliau Saw, sebab barang siapa yang mencintai sesuatu maka dia pasti banyak menyebutnya. Selain itu merasa rindu dan ingin bertemu dengan Beliau Saw. Dalam Dalail Nubuwwah Imam Baihaqi menuturkan bahwa ketika orang-orang Asy’ari datang ke Madinah, mereka tak lelah mendendangkan sebuah syair yang artinya: “Esok kita akan bertemu dengan para kekasih, Muhammad dan para sahabatnya”. 5) Mencintai orang yang dicintai oleh Rosululloh Saw, termasuk para isteri, keluarga dan sahabat Beliau Saw, “Barang siapa mencintai keduanya (Hasan Husen) berarti mencintaiku…” HR Ibnu Majah

Jika seluruh kriteria di atas tertanam dalam diri berarti cinta itu sempurna, dan bila hanya sebagian saja maka cintanya tidak sepenuh hati. Kendati demikian dia tetap dikatakan sebagai pecinta Rosululloh Saw. Saat seorang minum arak dan dijatuhi hukuman, banyak orang mencela dan menghinakannya, akan tetapi Rosululloh Saw segera membantah: “Jangan kalian melaknatnya, sebab dia mencintai Alloh dan RosulNya”.

Mereguk Pahala Cinta

Mencintai Rosululloh Saw, di samping bisa dirasakan nikmatnya di dunia dengan datangnya rasa manis dan indah kala bisa dan mampu melaksanakan konsekwensi dari cinta itu sendiri, juga bisa dirasakan lezatnya nanti di akhirat. Seorang pernah datang kepada Rosululloh Saw dan bertanya: Kapan kiamat datang, wahai Rosululloh? Beliau Saw balik bertanya: Apa yang kamu siapkan untuknya? Orang itu menjawab: Saya tidak menyiapkan untuknya banyak sholat, banyak puasa atau banyak sedekah, tetapi saya mencintai Alloh dan RosulNya. Rosululloh Saw bersabda: “Kamu bersama orang yang kamu cintai”Muttafaq Alaihi.  Shofwan bin Qudamah bercerita: Aku berhijroh kepada Rosululloh Saw, aku lalu datang dan bertemu dengan Beliau. Aku berkata: Tolong berikan tangan anda, karena saya akan berbaiat! Setelah Beliau Saw memberikan tangannya yang mulia, aku berkata: Wahai Rosululloh, sesungguhnya saya mencintai anda! Beliau Saw bersabda: “Seseorang bersama orang yang dia cintai”HR Bukhori. Ali ra berkisah: Rosululloh Saw memegang tangan Hasan dan Husen, lalu Beliau Saw bersabda: “Barang siapa mencintai kedua anak ini, ayah dan ibu keduanya maka dia bersamaku dalam derajatku di surga”HR Turmudzi.

Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki datang dan berkata kepada Rosululloh Saw: Wahai Rosululloh, sungguh anda lebih saya cintai daripada keluarga dan harta benda saya sehingga ketika mengingat anda maka saya tidak sabar dan ingin segera datang untuk melihat engkau. Lelaki itu melanjutkan: Dan ketika saya mengingat bahwa kematian pasti datang, tetapi sesudah itu di surga engkau akan diangkat ke derajat para nabi, dan mulai itulah saya tidak lagi bisa melihat anda! keluhan lelaki inilah yang menjadikan sebab turunya firman Alloh: “Barang siapa yang taat kepada Alloh dan RosulNya maka mereka akan bersama orang-orang yang memperoleh nikmat Alloh dari para nabi, orang-orang yang sungguh-sungguh, dan orang-orang yang saleh. Betapa indah berteman dengan mereka”QS an Nisa’: 69.


Feb 14, 2012

Aug 20, 2010

Takwinur Rijal

Tulisan ini disampaikan pada pembinaan Kepala Sekolah dan Direktur LPI, 6 September 2003 di Yayasan Al Haromain.

Kebingungan sistem pendidikan nasional telah melahirkan ketidakmapanan output pendidikan baik di jenjang terendah hingga jenjang tertinggi. Generasi yang dihasilkan tidak memiliki kematangan dan kemandirian. Bahkan generasi tersebut sangat lemah baik secara akhlaq, akal, kepribadian, etos kerja dan upaya pembaharuan (ijtihad). Karena itu sosok generasi yang muncul adalah generasi bandel, demoralisasi, korupsi, penipu, manipulasi, konsumtif, materialis dan tidak memilki kemandirian. Hal ini sangat berbeda dengan genersai yang dididik mengikuti tahaban dan metode tarbiyah Islam.

Sosok generasi yang dihasilkan tahabapn dan metode tarbiyah Islam adalah generasi yang kuat dan amanat (al qowiyyul amin). Sosok generasi ini pernah terbentuk di zaman Rosululloh Sholallah Alaihi Wassalam dan para sahabatnya. Mereka sangat kuat dalam mengemban tugas-tugas agama, berdakwah beramar ma’ruf dan bernahi munkar. Generasi yang kuat termasuk di dalamnya adalah tahan bantingan menghadapi ujian kehidupan, dan tidak mudah putus asa. Generasi amanah adalah yang dapat dipercaya baik sikap, ucapan, maupun suluknya. Bila mereka menerima tugas dakwah, tugas itu akan dilaksanakan sampai sempurna dengan penuh tanggung jawab.

Amanah sebagai bagian asas pendidikan Islam, karena melalui proses amanah akan terbentuk generasi yang berbudi pekerti luhur, yang mampu mengemban segala beban yang dipikulnya. Amanah merupakan sikap internal yang menunjukkan intregrasi kepribadian sehingga generasi amanah menjadi pribadi utuh, penuh tanggung jawab, dan dapat mengembangkan dirinya untuk kehidupan orang lain.


Islam tidak menghendaki umatnya menjadi umat yang lemah. Bahkan, Al Qur’an sejak lama telah memberikan warning (peringatan) kepada kaum muslimin agar tidak meninggalkan sosok generasi yang lemah. Alloh berfirman dalam surat An Nisa’: 9
“Dan hendaklah takut kepada Alloh (cemas) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir (terhadap kesejahteraan mereka). Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Kuat lemahnya suatu generasi ternyata banyak ditentukan oleh faktor pendidikan. Pendidikan yang baik, yang dikelola secara benar akan mampu melahirkan generasi pilihan, generasi unggul, generasi yang cerdas secara intelektual juga generasi yang berakhlak mulia. Islam sangat memperhatikan masalah pendidikan. Islam sejak lama mewajibkan umatnya untuk giat mencari ilmu sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abdil Barr:

“Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim.”

Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur segala sesuatu dari masalah yang paling kecil sampai masalah yang paling besar, dari masalah yang paling remeh sampai masalah yang paling berat, tidak terkecuali masalah ilmu. Alangkah indahnya pandangan Islam tentang ilmu yang dengan pandangan brilian itu mampu mencetak generasi berilmu tinggi, generasi peletak dasar-dasar ilmu modern sekarang ini.
Korelasi (hubungan) antara konsep ilmu dalam Islam dan generasi yang dihasilkan dapat diumpamakan seperti segitiga. Dua garis vertikal bertemu dalam satu titik, titik Allah SWT. Sementara garis horizontal yang menghubungkan kedua garis vertikal tadi menunjukkan generasi yang beremosi stabil, rendah hati, tidak sombong. Ibarat ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Hal ini didasari oleh kesadaran bahwa amatlah terbatas ilmu Allah yang berhasil dikuasai manusia, dan teramat banyak ilmu Allah yang belum dikuasai manusia. Masih banyak hal di alam ini yang masih misterius yang belum mampu diungkap oleh keterbatasan manusia. Inilah generasi dambaan umat. Dari tipe generasi ini umat Islam akan kembali mendapatkan predikat khairu ummah dari Allah SWT.

Semua Ilmu dari Allah SWT
Ilmu pengetahuan yang dikuasai manusia semuanya dari Allah SWT, bersumber dari Dzat yang satu. Allah adalah guru manusia. Dia mengajarkan apa saja yang tidak diketahui manusia. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah: 31

“Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, “Sebutkankah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”

Dari ayat ini, semestinya harus mulai dihilangkan paradigma yang membagi ilmu menjadi dua dikotomi, yaitu ilmu umum dan ilmu agama. Pembagian itu mengesankan bahwa ilmu umum itu tidak bernilai relegi/agama. Padahal, semua ilmu itu diajarkan oleh Allah. Semestinya segala yang dikuasai manusia akhirnya harus sampai pada kesimpulan bahwa Allah berada di balik semua ilmu. Bukankah ilmu itu awalnya dari sebuah pengamatan terhadap gejala-gejala alam/ayat-ayat kauniyah/sunnatullah. Dari situ manusia mulai memformulasikan teori-teori yang akhirnya terdokumentasi menjadi ilmu pengetahuan. Jadi, tidak ada ilmu yang bebas dari nilai-nilai ketuhanan/keagamaan.

Setiap muslim harus berupaya sekuat tenaga untuk menyerap ilmu sebanyak-banyak dengan segala jenisnya tanpa terpengaruh adanya dua dikotomi di atas. Generasi Islam di abad pertengahan tercatat dalam sejarah sebagai peletak dasar segala ilmu modern sekarang ini. Kita harus mencontoh jejak-jejak emas mereka. Penemuan mereka terbukti telah mendatangkan banyak kemaslahatan umat sekarang ini. Bukankah ini sebagai amal jariahnya yang pahalanya tidak terputus?

Islam menyebut tiga ilmu pokok yang harus dikuasi manusia/umat Islam, yaitu ayatul muhkamat (ilmu Al Qur’an), sunnah rasul (ilmu hadits), dan faroidl (ilmu waris). Selain ketiga ilmu itu, maka termasuk kelebihan (fadhlun). Banyak sekali ilmu-ilmu yang termasuk kelebihan tersebut. Dalam kaitan ini, umat Islam harus selektif dalam mempelajarinya sebab ilmu-ilmu kelebihan tersebut bisa mengantarkan manusia ke arah kebaikan, juga bisa mengantarkan manusia ke arah kejahatan, orang menyebutnya sebagai ilmu hitam, ilmu yang dapat mencelakakan orang lain dan dirinya sendiri.
Pengajaran ilmu pokok tersebut sebaiknya dimulai dari usia dini dalam pendidikan prasekolah (PG/TK). Lalu dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Menurut penelitian ditemukan bahwa perkembangan otak manusia itu 80 % terjadi dalam usia 0 – 8 tahun, sedang yang 20 % berkembang di atas usia tersebut Semakin dini mengenalkan tiga ilmu pokok tersebut akan menghasil kualitas lulusan yang lebih baik.

Bacalah ilmu dengan bismillah
Allah berfirman dalam surat Al Alaq:1

“Bacalah dengan menyebut asma tuhanmu yang menciptakan!”


Dalam membaca ayat-ayat qouliyah maupun ayat-ayat kauniyah jangan sampai lupa menyebut nama Allah SWT. Apapun yang kita baca hendaknya selalu menghadirkan Allah di dalamnya. Allah yang berfirman dalam ayat-ayat qouliyah, juga Allah yang menciptakan ayat-ayat kauniyah. Membaca bismillah berarti mengharapkan bantuan Allah untuk memahami bahan bacaan. Membaca bismillah berarti membuka tabir keberkahan ilmu pengetahuan. Membaca bismillah seolah-olah kita minta izin pada Allah sebagai pemilik segala ilmu pengetahuan. Dengan bismillah akan mengantarkan manusia ke puncak pengetahuan tentang Allah.

Memasuki konsep ini harus menjadikan keterikatan pada pencipta ilmu. Ketika berada dalam ilmu yang dapat dikembangkan melalui metodologi penelitian, maka harus tetap mengembalikan kekuasaan tertinggi pada Allah Ta’ala. Dan di setiap mengembangkan ilmu harus dilandasi dengan penyebutan kekuasaan Allah Ta’ala. Akhirnya ilmu yang digeluti akan menghantarkan kepada kesempurnaan keimanan seseorang.

Jun 18, 2009

Wasiat Komplit

Allah Subhana wata’ala berfirman yang artinya

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”

Allah Subhana wata’ala menutup surat ini dengan beberapa pesan yang komplit kepada orang-orang yang beriman di mana jika mereka bisa melaksanakan pesan-pesan tersebut, mereka menjadi yang paling berhak meraih keberuntungan dunia akhirat. Pesan yang dimaksud adalah seperti berikut:

1. Sabar
Sabar akan menjadi sumber segala keutamaan dan aneka ragam kesempurnaan.

2. Mushobaroh
Mushobaroh berarti berusaha maksimal menahan semua hal yang tidak menyenangkan yang diterima dari orang lain. Hal-hal yang termasuk dalam kategori mushobaroh ini adalah:
a. Tabah akan rasa sakit karena ulah keluarga dan tetangga.
b. Tidak membalas perlakuan buruk orang lain.
c. Mendahulukan (mengalah dari) orang lain/Itsar.
d. Memaafkan kedholiman orang lain.
e. Menghadang, mencegah, dan memberikan jawaban atas tindak pengaburan para pendusta serta memberantas keragu-raguan yang mereka sebarkan.


3. Murobathoh
Kata murobathoh memiliki makna asli mengikat kuda untuk berjaga di benteng pertahanan. Meski begitu, yang dimaksud dengan kata murobathoh adalah menyiapkan seluruh potensi kekuatan yang kita miliki secara total untuk menghadapi musuh Islam dengan berbagai macam sarana, baik material (madiyyah), atau nonmaterial (ruhiyyah) secara sendiri-sendiri atau bersama-sama.

Selain ini, murobathoh juga memiliki arti lain, seperti diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwaththo’ dari Abu Hurairoh ra. bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:

“Apakah aku akan menunjukkan sesuatu kepada kalian yang karenanya Allah menghapus dosa dan meninggikan derajat-derajat?” “Ya, wahai Rasulullah,” jawab para sahabat. Beliau lalu bersabda, “Menyempurnakan wudhu dalam kondisi tak menyenangkan, banyak langkah ke masjid, menanti shalat demi shalat. Itulah ribath, itulah ribath, itulah ribath.”

Pertama (menyempurnakan wudhu) merupakan isyarat adanya peperangan dengan nafsu. Kedua, (banyak langkah ke masjid sebagai isyarat adanya pengawasan ketat (muroqobah) terhadap hati dan anggota tubuh. Ketiga, (menanti shalat) menjadi isyarat adanya penjagaan terhadap waktu serta mencari dan memanfaatkan kesempatan.

4. Taqwa
Taqwa dimaksudkan sebagai upaya menjaga diri dari kebencian dan kemarahan Allah yang tidak terwujud kecuali setelah mengenal-Nya dan mengetahui apa yang membuat keridhoan-Nya atau menyebabkan kebencian-Nya.

Semoga Allah Subhana wata’ala memberikan taufik-Nya kepada kita untuk bisa melakukan aktivitas yang membuat-Nya ridho sehingga kita akan mengapai keberuntungan dunia akhirat dengan anugerah, kebaikan, dan kemurahan-Nya. Washolallahu ‘ala Sayydina Muhammad wa’ala alihi washohbihi wasallam.[]

Apr 10, 2009

Musibah, Nadhrah, dan Roja’


Jika kita mengamati fenomena moralitas di masyarakat, kita akan mendapati bahwa berbagai tindak kemaksiatan dan kedzaliman telah merajalela. Tidak hanya dikatakan merajalela, tindak kemaksiatan dan kedzaliman itu bahkan bisa dikatakan telah sampai pada tingkat membudaya (al fusyuw). Misal, realita dan fenomena itu adalah membudayanya perzinaan (seks) di berbagai lapisan masyarakat.

Kita berulang kali mendengar perzinaan –tidak ada bedanya dilakukan secara paksa (pemerkosaan) maupun suka sama suka- telah dilakukan oleh orang-orang yang telah bersuami-istri, yang secara hakekat telah ada saluran kebutuhan biologisnya. Fenomena lebih parah lagi adalah membudayanya perzinaan yang dilakukan oleh antar mahram (kerabat yang haram dinikahi).

Syara’ jauh sebelumnya mengingatkan, masyarakat harus menghindari dekat-dekat kepada zina. Artinya, sarana-sarana yang bisa menjurus kepada tindak perzinaan harus dijauhi. Syara’ kemudian mengharamkan membuka aurat, berdua-duaan ditempat sepi (khalawat), dan menyaksikan hal-hal yang bisa membangkitkan gairah perzinaan, seperti menonton BF, mengikuti dan meyaksikan pertunjukan tari, membaca tulisan serta melihat gambar porno, dan lain sebagainya. Sementara pada saat ini sarana-sarana yang mendekatkan kepada zina seakan leluasa membius masyarakat dari segala penjuru. Tak ayal, siapa saja yang tidak mempunyai filter kuat pada jiwanya, orang tua atau lebih-lebih remaja, tentu terjerumus kepada dosa besar itu.


Pada saat yang demikian, baiklah kita mengingat keterangan hadits berikut, yang artinya:

Umatku senantiasa dalam kebaikan selama zina tidak membudaya pada mereka; Apabila zina membudaya pada mereka, maka hampir dekat Alloh akan menimpakan krisis terhadap mereka. (HR. Ahmad).

Bermula dari membudayanya tindak kemaksiatan dan kedzaliman seperti zina dan semacamnya, Alloh Ta’ala lalu menimpatkan suatu peringatan berupa musibah agar kita menyadari akan kesalahan yang telah kita perbuat. Beberapa bentuk musibah yang ditentukan berturut-turut yang mulai dari terberat adalah khauf (ketakutan), jû’ (kelaparan), naqsun minal amwâl (kekurangan harta), naqsun minal anfus (kekurangan jiwa), dan naqsun minats-tsamarat (kekurangan buah-buahan). (Lihat QS. Al Baqarah: 155).

Kali ini, kita ditimpa musibah krisis moneter. Melihat implikasinya, krisis ini dapat dikategorikan sebagai satu bentuk musibah naqsun minal amwâl (kekurangan harta). Musibah satu saja ini pun sudah melumpuhkan sebagian terbesar dimensi kehidupan. Lalu, bentuk musibah ini tidakkah akan berlanjut kepada musibah lain yang lebih berat? Sebagian pengamat memperkirakan, bulan-bulan mendatang kita bakal mengalami kemarau panjang yang lebih daripada kemarau kemarin, sementara pada saat ini banyak lahan-lahan pertanian gagal panen. Hal demikian dikhawatirkan musibah yang lebih berat akan turun menimpa kita, yaitu musibah jû’ (kelaparan). Lebih dari itu, kondisi perpolitikan yang masih labil dimungkinkan pula menjurus kepada musibah terberat, yaitu khauf (ketakutan) yang memungkinkan berbentuk perang saudara, fitnah, culik-menculik, dan pembunuhan. Allohu A’lam.

Qadla Qadar
Ditinjau dari sudut Aqidah Islamiyah, sesungguhnya keberadaan musibah merupakan qadla qadar. Sebab musibah manakala sudah turun maka manusia tidak akan bisa menolak karena adanya berada di luar kemampuan manusia. Hal ini terbukti, para ahli ekonomi dengan ilmunya serta merta menyerah manakala mengamati fenomena musibah krisis moneter. Berbagai upaya deteksinya meleset di dalam mengantisipasi hakikat musibah itu, termasuk deteksi seorang ekonom kondang yang lagi naik daun. Ini karena hakikat musibah memang berada di luar kemampuan manusia.
Alloh Ta’ala berfirman:

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS. At-Taubah: 51, periksa pula QS. Al Hadid: 22-23).

Oleh karena musibah adalah qadla qadar, maka sikap terbaik pada saat mengalaminya adalah mengeluh, tidak putus asa, dan tawakkal , seraya menumbuhkan pengakuan jiwa untuk mengembalikan musibah itu kepada Alloh Ta’ala melalui kalimat istirja’.

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"” (QS. Al Baqarah: 156).

Sekalipun dituntut bersikap positif saat mengalami musibah, namun sikap itu tidaklah menutup aktivitas yang wajar (al ikhtiar al lazimah) untuk bisa keluar dari musibah, karena maklum tindakan itu diperbolehkan.

Memang, bersikap baik saat manakala ditimpa musibah sangatlah sukar karena kecenderungan manusia saat dirinya ditimpa kesusahan adalah mengeluh dan putus asa. Oleh karena sangat sukar, derajat luhur dan pahala besar diberikan sebagai balasan atas orang-orang yang menerima musibah dengan bersikap baik. Alloh Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Baqarah: 157).


Makhraj (Solusi/Jalan Keluar)

Makhraj agar musibah segera berakhir adalah dengan menyadari setiap kesalahan yang menjadi wasilah musibah diturunkan. Caranya dengan beristighfar, bertaubat, dan tawajjuh (menghadap) kepada Alloh Ta’ala. Termasuk dalam hal ini adalah qunut nazilah. Saat-saat krisis kita perlu merendahkan diri sebagai pertanda bahwa kita masih membutuhkan peran Alloh Ta’ala di dalamnya.

Ketika musibah krisis moneter menimpa kita beberapa tahun lalu, tampak orang enggan untuk melibatkan Alloh Ta’ala di dalamnya termasuk para pengamat, malah terkesan sama sekali peranan Alloh Ta’ala tidak dibutuhkan lagi. Di sisi lain, orang mendambakan peran blok kafir di dalamnya antara IMF dan CBS, padahal amat riskan paket makhraj yang ditawarkan oleh para durjana itu. Alloh Ta’ala telah menyebutkan, setiap amal perbuatan orang-orang kafir itu itu laksana fatamorgana yang disangka air oleh orang-orang yang kehausan. Tetapi, bila didatanginya air itu maka tidak akan didapatnya suatu apapun. (QS. An Nur: 39).

Nadhrah
Untuk menggerakkan kesadaran umum melakukan istighfar, taubat, dan tawajjuh agar pengaduan kita didengar oleh Alloh Ta’ala tentulah tidak mudah pada kondisi di mana kedzaliman dan kemaksiatan membudaya. Maka, caranya adalah dengan mengoptimalkan wujudnya kelompok-kelompok yang senantiasa mendapatkan nadhrah (penglihatan rahmat) dari Alloh Ta’ala. Di antara mereka adalah tiga kelompok di bawah ini:
1. Orang-orang yang beristighfar di waktu sahur.
2. Orang-orang yang memakmurkan masjid.
3. Orang-orang yang cinta kasih dan setia kawan dalam urusan yang diridlai.

Imam Abdullah Ba’alawi Al Haddad mengubah qasidah doanya yang masyhur sebagai berikut:

Perhatikan ya Alloh dengan nadhrah; pandangan yang penuh rahmat, yang mengobati segala penyakit menyakitkan yang menimpaku.

Bersamaan dengan optimalisasi keberadaan kelompok-kelompok yang mendapatkan nadhrah, kita harus melakukan raja’ (berpengharapan) kepada Alloh Azza wa Jalla: “Mudah-mudahan musibah ini cepat diselesaikan oleh Alloh Ta’ala”, sebab bagaimanapun Dia adalah Dzat Yang Rahman, Maha Pengasih kepada hamba-Nya, tanpa membedakan hamba yang baik atau hamba yang buruk. Imam An Nawawi dalam Riyadlusshalihin hal. 139 mengatakan, pada saat sehat harus stabil antara sikap khouf (cemas) dan raja’, sementara pada saat krisis sikap yang dibutuhkan adalah raja’ saja.

Perlunya bersikap raja’ kepada Alloh Ta’ala ini berdasarkan anjuran berprasangka baik kepada-Nya manakala kita memasuki masa menjelang kematian, sedang krisis moneter ibaratnya adalah sebuah kematian, sedang krisis moneter ibaratnya adalah sebuah kematian kondisi yang sebelumnya berjalan dengan baik. Rasululloh Sholallallohu Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya:

“Janganlah salah satu dari kamu mati kecuali dirinya sedang berprasangka baik kepada Alloh Azza wa Jalla”. (HR. Muslim)

Wallahu A’lam.

Nov 22, 2008

Susui Bayi dengan ASI 2 Tahun Penuh


Dewasa ini banyak orang tua yang mengeluhkan problem anak-anaknya. Di antara mereka merasa heran, sebab problem yang menimpa anak semakin lama semakin menjadi-jadi, kompleks dan tak jarang aneh.

Betapa tidak? Penyakit lahiriah yang bisa menyerang anak-anak misalnya tambah beragam, padahal obat dan berbagai solusi kesehatan yang diiklankan televisi bertambah gencar dan seabrek banyaknya. Begitu pula penyakit batiniah, semacam malas ibadah, nakal, bandel, lemah daya nalar dan lain-lain. Padahal lembaga dan sistem pendidikan disebut-sebut semakin bonafid dan modern. Nah, apakah ada kesalahan? Dimanakah letak kesalahan itu?


Menyimpang dari Fitrah

Islam menetapkan suatu aturan sesuai dengan fitrah manusia. Jika kemudian aturan itu tidak diterapkan dan malah beralih pada alternatif lain, maka hal itu berarti keluar dari fitrah. Jika keluar dari fitrah, maka konsekuensinya tidak diragukan lagi adalah munculnya berbagai problem. Semakin bertambah melenceng dari fitrah, maka bertambah pula problem-problem itu.

Munculnya berbagai problem pada anak itu barangkali lebih bijak bila disebut sebagai akibat saja, dan bukan sebagai penyebab. Lantas apa penyebabnya? Penyebabnya boleh jadi karena orang tua telah menjauhkan diri dari fitrah yang telah ditetapkan oleh Islam. Ketika orang tua menjauhkan diri dari fitrah, maka akibatnya adalah munculnya berbagai problem yang menimpa anak-anaknya. Dan diantara fitrah itu adalah penggunaan air susu ibu (ASI) selama dua tahun penuh. Hal itu telah ditetapkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:


“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan …” (Q.S. Al-Baqarah: 233)

Dewasa ini betapa banyak orang tua yang menggunakan alternatif lain di luar ASI atau kalaupun menggunakan ASI, namun tidak sampai sempurna 2 tahun. Salah satu dampak negatifnya adalah orang tua setiap saat disuguhi kondisi fisik dan kondisi mental anaknya yang tidak menyenangkan. Abdul Mun'im Qudzail dalam bukunya “At-Tadâwy bil-Qur'ân” halaman 79 menyebutkan, "Bayi yang disusui selain ASI akan lebih mudah diserang aneka ragam penyakit dibandingkan dengan bayi yang disusui langsung oleh ibunya dengan ASI."

Memang penggunaan ASI tidak berhukum wajib. Namun seharusnya bukan soal wajib dan tidaknya itu yang menjadi standar, melainkan oleh karena sangat banyaknya pengaruh positif ASI pada anak, disebabkan kelebihan-kelebihannya, berikut rahasia-rahasia ilahiahnya. Alangkah indahnya jika saat ini orang tua bergegas kembali kepada fitrah. Bergegas untuk menyusui bayinya selama 2 tahun penuh.

Kelebihan ASI


ASI merupakan makanan bayi yang kaya akan protein. Di dalamnya terkandung tenaga atau energi yang lebih tinggi dibandingkan dengan makanan pengganti lainnya. Di dalam ASI terdapat zat anti bodi atau zat anti infeksi. Zat ini memberikan ketahanan tubuh bayi dari serangan penyakit.

ASI adalah satu-satunya zat makanan bagi bayi yang steril. Berbeda dengan makanan pengganti lainnya yang harus disterilkan terlebih dahulu. Tidak ada seorang dokterpun yang membantah bahwa ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi. Tidak ada jenis makanan buatan yang mendekati atau semutu dengan air susu ibu ini. ASI mulai dari tetes pertama sampai tetes terakhir, yang dapat diproduksi oleh ibu, ternyata mengandung semua zat-zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi, yaitu zat pembangun, zat pengatur, dan zat tenaga.

Tentang kelebihan ini Rasulullah Saw. bersabda: "Tidak ada penyusuan kecuali penyusuan yang menyembulkan tulang dan menumbuhkan daging." (H.R. Abu Dawud).

Hadits ini menyiratkan bahwa untuk membentuk tulang yang kuat serta menumbuhkan daging yang bagus diperlukan penyusuan dengan ASI. Ulama' As-Syafi'iyah dengan argumentasinya mengatakan, "Air kencing bayi (laki-laki) dihukumi najis mukhoffafah (najis yang ringan) selama belum makan sesuatu kecuali air susu ibu dan belum sampai pada umur dua tahun." Persyaratan "belum makan selain ASI" itu menyiratkan bahwa dengan mengkonsumsi ASI saja berarti bayi masih bersih. Bila sudah tercampur dengan makanan lain atau air susu buatan (formula), maka air kencingnya sudah tidak dianggap bersih, sehingga dihukumi seperti air kencingnya orang dewasa (najis mutawassithah). Hadits itu juga menyiratkan bahwa apabila dikehendaki oleh orang tua, ASI mampu mencukupi segala kebutuhan bayi selama dua tahun penuh walaupun tanpa ditambahi makanan apapun.

ASI di samping menguntungkan bayi juga menguntungkan ibu yang menyusukannya. Rahim ibu lebih cepat pulih seperti sebelum hamil, kemungkinan ibu terserang kanker buah dada menjadi berkurang, serta dapat menjarangkan kehamilan (KB Islami).

Dalam proses penyusuan, banyak hal yang bermanfaat bagi ibu dan bayi. Oleh sebab itu, menyusui bukan semata-mata hanya untuk memberikan makanan bagi bayi demi kelangsungan hidupnya, akan tetapi menyusui juga berfungsi memberikan kepuasan emosional yang dibutuhkan bagi bayi. Hubungan psikologi yang kontinyu secara berangsur-angsur akan menumbuhkan perasaan kasih sayang antara ibu dan anak . Di sinilah letak pentingnya menyusui, yaitu sebagai kunci keberhasilan dalam membentuk kepribadian si anak dalam proses melakukan penyusuan langsung oleh ibu.

Dengan penyusuan ASI akan tumbuh keterikatan antara ibu dan bayi. Kemudian dari rasa keterikatan itu, bayi akan lebih mengenal lingkungannya. Karena lingkungan pertama yang dijumpai adalah ibu, maka bayi sudah dapat membedakan antara puluhan wanita lain dengan ibunya. Tidak jarang dijumpai, anak akan menangis tatkala sedang mesranya diemban oleh ibunya lalu diambil alih orang lain. Dengan keterikatan itulah bayi dapat mengembangkan suatu mental image mengenai ibunya, terutama pada wajah ibunya yang setiap hari menyusuinya. Hal ini memberikan reaksi pada bayi, ia merasa takut bila ada orang asing mendekatinya, karena belum kenal dan belum ada rasa keterikatan.

Dengan adanya rasa keterikatan itu, seorang ibu akan mendapatkan kebahagiaan tersendiri. Ibu akan mempunyai kesempatan yang lebih leluasa untuk memeluk, melimpahkan rasa kasih sayang dan merapatkan tubuhnya (hanânatul Umm) untuk memberikan support (dorongan) pada bayi dan juga perangsang pada alat indra bayi, sehingga bayi lebih aktif dalam memberikan respon gerakan ibu. Dari pihak bayi, tingkah laku lengket tadi ditandai dengan tangisan jika ibunya suatu saat pergi meninggalkannya. Anak akan merasa senang bila obyek kelekatannya datang menghampiri dan menggendongnya. Bila anak sudah betah dengan lingkungan yang ada dan merasa terikat, maka terjadilah hubungan batin dengan ibunya yang tidak akan terputuskan.

Mengapa Harus 2 Tahun?

Islam menganjurkan ibu untuk menyusui anaknya secara terus-menerus sampai dua tahun penuh. Barangkali rahasia batasan itu sebagaimana argumentasi yang dikemukakan oleh ulama' As-Syafi'iyah seperti disampaikan di atas. Batasan itu menyiratkan bahwa penyusuan itu selayaknya dilakukan selama masa dua tahun penuh dan hanya dengan ASI saja tidak dicampuri makanan lain. Jika ibu mulai menyusui bayinya tanggal 1 Syawal 1428 misalnya, maka dua tahun kemudian bertepatan tanggal 30 Ramadhan 1430 bayi tersebut harus disapih. Di samping itu, menurut penelitian para ahli, ibu yang menyusui secara baik dan benar selama 2 tahun penuh, maka 90% tidak terjadi kehamilan. Kalau Islam memerintahkan untuk menyusui bayi selama dua tahun penuh, maka berarti Islam sebenarnya menghendaki pengaturan keluarga atau penjarangan kehamilan (tahdid an-nasl) secara alamiah.

Penyusuan selama dua tahun penuh adalah sempurnanya. Bila dikurangi atau ditambah dapat tidak bertambah baik. Sayyidina Umar berkata, "Sesuatu jika telah sampai pada puncak kesempurnaannya, kemudian diubah, maka akan rusaklah sesuatu itu."

Hasil Jerih Payah

Seorang ibu yang menyusui bayinya dengan ASI selama dua tahun penuh tentu mendapati kesulitan-kesulitan. Karena itu, dirinya butuh perhatian ekstra. Ibu harus menjaga porsi makan dengan teratur (ibu bisa jadi cepat lapar), menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat serta menambah kesempurnaan makan agar ASI tetap lancar. Juga diperlukan kesabaran, jika perlu juga sampai menahan kantuk untuk menyusui bayinya, dan lain sebagainya.

Barangkali karena beratnya menyusui bayi itu, maka Islam kemudian memberikan dispensasi boleh tidak berpuasa Ramadhan kepada para ibu yang sedang menyusui bayinya. Bertambah berat beban yang ditanggung seorang ibu yang menyusui, maka bertambah ringanlah kaffaratnya. Imam As-Syafi'i berpendapat, ibu yang menyusui kemudian tidak berpuasa karena mengkhawatirkan dirinya saja, maka ia wajib meng-qadha (mengganti) puasanya, ditambah membayar fidyah sebanyak hari yang ditinggalkan. Jika mengkhawatirkan dirinya dan bayinya, maka ia hanya wajib qadla saja. Ini artinya Islam menghargai ibu yang mau menyusui bayinya dengan ASI.

Kesulitan-kesulitan di atas adalah mujahadah atau riyadloh-nya seorang ibu. Tentu saja dengan mujahadah dan riyadlohnya sedemikian rupa itu, bayi yang disusuinya akan menjadi generasi yang unggul fisik dan mentalnya serta tidak mudah terserang penyakit, baik penyakit lahir maupun penyakit batin. Hal demikian sebagai balasan dari Allah Swt. atas jerih payah ibunya.

Zaman sekarang, ibu kebanyakan tidak mau sulit-sulit, tidak mau berpayah-payah, dan ingin praktisnya saja. Karena itu, penyusuan bayinya pun dialihkan tidak dengan ASI, melainkan dengan air susu sapi atau susu olahan lainnya. Jika pada akhirnya anaknya menjadi kader koplo, pendurhaka pada orang tua dan lain sebagainya, maka hal itu sebenarnya konsekuensi atas penyimpangannya dari fitrah yang telah menjadi sunnatullah. Oleh karena itu, hendaklah para ibu menyadari bahwa "bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian" adalah lebih baik daripada “bersenang-senang dahulu, tetapi sakit kemudian.”

Lebih-lebih dengan banyaknya kejadian ditemukannya zat-zat berbahaya pada susu formula untuk balita akhir-akhir ini, maka agaknya inilah momen yang sangat tepat untuk kembali kepada fitrah. Kembali pada penyempurnaan penyusuan bayi dengan ASI selama 2 tahun penuh.

Wallôhu a’lamu bish-showâb.

***