Showing posts with label Khutbah Jumat. Show all posts
Showing posts with label Khutbah Jumat. Show all posts

Jan 8, 2015

,

Mencintai Rosululloh Saw dengan Sepenuh Hati

 لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتيَّ أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sebelum diriku lebih dia cintai daripada anak dan orang tuanya serta sekalian manusia”Muttafaq Alaihi.

 Syarah Hadits

Mencintai Rosululloh Saw adalah salah satu konsekwensi Iman sebagimana halnya mencintai Alloh Swt. “Katakanlah: “Jika orag-orang tua, anak-anak, saudara-saudara…lebih kamu cintai daripada Alloh dan RosulNya…maka bersiaplah sampai Alloh mendatangkan keputusanNya. Sungguh Aloh tidak menunjukkan orang-orang yang fasiq”QS at Taubah: 24. Ayat ini cukup menjadi bukti bahwa mencintai Rosululloh Saw  merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar, dengan bukti adanya ancaman “tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusanNya” serta stigma sebagai orang yang Fasiq.

Dalam mencintai Rosululloh Saw, orang beriman juga dituntut untuk memberikan cintanya kepada Beliau Saw dengan sepenuh hati, melebihi cinta kepada anak, orang tua, saudara, dan harta benda. Dengan inilah orang beriman baru akan merasakan betapa manisnya keimanan, “Tiga hal, barang siapa berada di dalamnya maka dia akan menemukan manisnya iman; hendaknya Alloh dan RosulNya lebih dia cintai daripada selain keduanya, tidak mencintai orang lain kecuali karena Alloh, dan hendaknya dia merasa enggan kembali kepada kekafiran seperti layaknya dia enggan jika dilemparkan ke neraka”HR Bukhori. Bahkan lebih dari itu, cinta kepada Rosululloh Saw harus melebihi rasa cinta kepada diri sendiri. Suatu ketika Umar ra berkata: Wahai Rosululloh, sungguh engkau lebih saya cintai daripada semuanya, kecuali diri saya sendiri! Rosululloh Saw bersabda: “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sebelum diriku lebih dia cintai daripada dirinya sendiri”HR Muttafaq Alaihi. Umar segera menyahut: “Demi Dzat Yang menurunkan kepadamu Alqur’an, sungguh engkau lebih saya sayangi daripada diri saya sendiri?! Rosululloh Saw bersabda: “Sekarang, wahai Umar”.

Tanda Cinta

Seseorang yang mencintai dan mengidolakan tokoh tertentu maka cinta itu membawanya untuk selalu atau cenderung meniru tokoh tersebut, jika tidak demikian bisa disimpulkan bahwa cintanya itu bohong belaka. Karena itulah apakah kita termasuk orang yang mencintai Rosululloh Saw atau tidak maka marilah kembali melihat apakah dalam diri ini ada ciri-ciri mencintai makhluk Alloh yang paling utama itu: 1) Mengikuti, menuruti perintah dan menjauhi larangan Beliau Saw, firman Alloh: “Katakanlah: “Jika kalian mencintai Alloh maka ikutilah diriku, (jika demikian) Alloh pasti mencintai kamu”QSAli Imron: 31. 2) Mendahulukan  anjuran Rosululloh Saw dan mengakhirkan kepentingan diri sendiri, “…dan mereka mengakhirkan diri mereka meski diri mereka sendiri sangat membutuhkan…”QS al Hasyr: 9. Ayat ini menceritakan sekaligus membanggakan karakter yang dimiliki para pecinta Rosululloh Saw (para sahabat) di mana mereka lebih mendahulukan orang lain meski diri mereka sendiri membutuhkan. 3) Menghidupkan sunnah Rosululloh Saw, Anas bin Malik menceritakan bahwa Rosululloh Saw pernah bersabda kepadanya: “Wahai anakku, itulah sunnahku, barang siapa yang menghidupkan sunnahku berarti telah mencintaiku dan barang siapa mencintaiku maka dia bersamaku di surga”HR Turmudzi. 4) Banyak menyebut Beliau Saw, sebab barang siapa yang mencintai sesuatu maka dia pasti banyak menyebutnya. Selain itu merasa rindu dan ingin bertemu dengan Beliau Saw. Dalam Dalail Nubuwwah Imam Baihaqi menuturkan bahwa ketika orang-orang Asy’ari datang ke Madinah, mereka tak lelah mendendangkan sebuah syair yang artinya: “Esok kita akan bertemu dengan para kekasih, Muhammad dan para sahabatnya”. 5) Mencintai orang yang dicintai oleh Rosululloh Saw, termasuk para isteri, keluarga dan sahabat Beliau Saw, “Barang siapa mencintai keduanya (Hasan Husen) berarti mencintaiku…” HR Ibnu Majah

Jika seluruh kriteria di atas tertanam dalam diri berarti cinta itu sempurna, dan bila hanya sebagian saja maka cintanya tidak sepenuh hati. Kendati demikian dia tetap dikatakan sebagai pecinta Rosululloh Saw. Saat seorang minum arak dan dijatuhi hukuman, banyak orang mencela dan menghinakannya, akan tetapi Rosululloh Saw segera membantah: “Jangan kalian melaknatnya, sebab dia mencintai Alloh dan RosulNya”.

Mereguk Pahala Cinta

Mencintai Rosululloh Saw, di samping bisa dirasakan nikmatnya di dunia dengan datangnya rasa manis dan indah kala bisa dan mampu melaksanakan konsekwensi dari cinta itu sendiri, juga bisa dirasakan lezatnya nanti di akhirat. Seorang pernah datang kepada Rosululloh Saw dan bertanya: Kapan kiamat datang, wahai Rosululloh? Beliau Saw balik bertanya: Apa yang kamu siapkan untuknya? Orang itu menjawab: Saya tidak menyiapkan untuknya banyak sholat, banyak puasa atau banyak sedekah, tetapi saya mencintai Alloh dan RosulNya. Rosululloh Saw bersabda: “Kamu bersama orang yang kamu cintai”Muttafaq Alaihi.  Shofwan bin Qudamah bercerita: Aku berhijroh kepada Rosululloh Saw, aku lalu datang dan bertemu dengan Beliau. Aku berkata: Tolong berikan tangan anda, karena saya akan berbaiat! Setelah Beliau Saw memberikan tangannya yang mulia, aku berkata: Wahai Rosululloh, sesungguhnya saya mencintai anda! Beliau Saw bersabda: “Seseorang bersama orang yang dia cintai”HR Bukhori. Ali ra berkisah: Rosululloh Saw memegang tangan Hasan dan Husen, lalu Beliau Saw bersabda: “Barang siapa mencintai kedua anak ini, ayah dan ibu keduanya maka dia bersamaku dalam derajatku di surga”HR Turmudzi.

Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki datang dan berkata kepada Rosululloh Saw: Wahai Rosululloh, sungguh anda lebih saya cintai daripada keluarga dan harta benda saya sehingga ketika mengingat anda maka saya tidak sabar dan ingin segera datang untuk melihat engkau. Lelaki itu melanjutkan: Dan ketika saya mengingat bahwa kematian pasti datang, tetapi sesudah itu di surga engkau akan diangkat ke derajat para nabi, dan mulai itulah saya tidak lagi bisa melihat anda! keluhan lelaki inilah yang menjadikan sebab turunya firman Alloh: “Barang siapa yang taat kepada Alloh dan RosulNya maka mereka akan bersama orang-orang yang memperoleh nikmat Alloh dari para nabi, orang-orang yang sungguh-sungguh, dan orang-orang yang saleh. Betapa indah berteman dengan mereka”QS an Nisa’: 69.


Mar 17, 2009

Menata Niat

Firman Allah swt. dalam QS. Adz-Dzâriyât: 56’ yang artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”

Jamaah Jum’at yang berbahagia, hafidlokumulloh,

Pertama-tama dari atas mimbar ini wasiat bersama untuk diri saya sendiri dan yang hadir di tempat yang berkah ini yang terkait dengan penghambaan kita kepada Allah Swt. sebatas mana kita telah melaksanakan penghambaan ini yang mestinya hamba seharusnya patuh terus kepada Allah swt. yang telah menciptanya, yang mengatur hidupnya. Sudah tentu yang demikian, Allah swt. haknya untuk disembah dan dipatuhi ini akan memberikan berkah dalam kehidupannya.

Seorang muslim, melakukan pekerjaan sekecil apapun harus mengetahui apakah hukumnya hal ini sangat penting. Halal ataukah haram, makruh atau sunnah. Keterikatan inilah yang disebut dengan takwa. Takwa yang memiliki arti menaati segala perintah-perintahNya dan menjauhi segala larangan-larangannnya.

Jamaah Jum’at yang berbahagia, hafidlokumulloh,

Pada muqoddimah khutbah, kami menyampaikan di antara firman Allah swt. yang terkait dengan tahrirun niyah (menata niat) terkait dengan ibadah karena kita diciptakan ini oleh Allah yang untuk beribadah seperti yang difirmankan Allah swt. dalam. Adz-Dzâriyât: 56 yang artinya

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”


Artinya, Aku tidak akan menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengenal Aku, setelah mengenal Aku mengagungkan Aku, setelah mengagungkan Aku, menyembah Aku. Menyembah yang bersifat khusus yang disebut ibadah makhdo (sholat, puasa, haji dan lain-lain) dalam aturan-aturan tertentu. Menyembah bersifat umum, segala kegiatan dan aktifitas kita selama berdekatan dengan Allah, Allah al-Qorib (Maha Dekat).

Pekerjaan kita sehari-hari sekecil apapun selama itu dekat dengan Allah disebut ibadah. Peran Basmallah dan Hamdalah sangat penting dalam aktifitas tersebut agar dapat menjadi ibadah. Dimulai dengan Basmalah maka, makan kita ingat Allah diakhiri dengan Alhamdulillah yang telah memberikan makan. Hidup yang ibkah (hidup yang berberkah) adalah hidup yang diberi oleh Allah sesuatu yang baik menurut Allah, menurut aturan-aturan Allah tidak hidup dengan aturan-aturan dan pikiran kita sendiri, tidak juga seukuran kemampuan kita. Tips berkah itu sendiri adalah kita tidak pernah lepas dari kehidupan kita ini untuk ibadah atau tidak. Sementara jika kita mengandalkan kemampuan atau pikiran kita sangat terbatas berbeda jika mengkaitkan segala aktifitas dan kegiatan kita kepada Allah maka dia akan bernilai ibadah. Tidak semata-mata tujuan kita hanya mendapatkan uang sebagai contoh, tidak juga bertujuan mendapatkan keberuntungan tetapi yang kita kerjakan adalah semata-mata untuk beribadah karena Allah.

Jika seseorang makan umpamanya kemudian dalam makan itu dia mengingat Allah swt. Semoga dengan makan ini diberi kekuatan untuk beribadah kepada Allah maka makannya itu memiliki status ibadah. Di sinilah kemudian ayat Alquran yang saya bacakan di atas menentukan selalu dalam kehidupan kita ini dan menjadikan berkah kehidupan ini karena Allah berfirman, yang artinya:

“Barangsiapa berniat untuk mendapatkan akhirat (pekerjaan yang segalanya memenuhi akhirat) maka pada Allah kami akan menambahkan kelapangan pada pekerjaannya itu”

Menambahkan artinya cukup Allah melipatkan gandakan 10 kali kebaikan dalam pekerjaannya itu bahkan bisa sampai 700 kali Siapa yang dapat memberikan balasan sebaik itu kalau tidak Allah swt. “Barangsiapa menghendaki semata dunia, Saya akan memberikan yang sudah tentu Allah telah menentukan kadar rezekinya, jika ia sempit rezekinya maka ia akan sempit, jika sudah ditentukan lapang rezeki maka ia akan lapang rezekinya. Permasalahannya, sempit atau lapang rezeki bagi Allah tidak masalah, semuanya itu merupakan ujian, kalau toh ia lapang rezeki bukan berarti ia dimuliakan oleh Allah, bersyukur atau tidak jika ia lapang rezeki sementara yang diberi kesempitan rezeki, sabar atau tidak dengan hal tersebut. Lapang atau sempit rezeki tidak ada bedanya. Begitu juga, kaya atau miskin, sama saja. Karena itu sangat sayang jika kehidupan yang kita jalani tidak diniatkan untuk akhirat sama sekali. Sangat rugi.

Rasulullah saw. berkata “Barangsiapa akhirat itu menjadi tujuan niatnya maka hal-hal yang menjadi tujuannya akan dikumpulkan oleh Allah entah darimana jalannya, tahu-tahu datang dari sana dan sini”.

Subhanallah. Dan Allah menjadikan kaya hati di dalam hatinya, semuanya merasa cukup, jika mendapatkan uang sedikit cukup, mendapatkan banyak cukup, itulah jika tujuan akhirat menjadi tujuannnya. Tiba-tiba dunia datang dengan sendirinya, dunia mengejarnya karena niat akhiratnya itu. Sementara itu barang siapa tujuannya adalah dunia, maka Allah akan mengocar-ngacir. Terkadang yang dituju tidak dapat malahan berlari menjauh. Jika dapatpun maka hatinya tidak pernah puas. Betapa pun mendapatkan uang yang banyak. Padahal tidak datang urusan dunianya kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah swt. kepadanya. Jika kita melihat orang-orang sholeh, tidak pernah ngoyo, selalu mensyukuri, tidak pernah lepas dari Allah swt. ada atau tidak tetap bersyukur dan cukup. Sementara orang yang menjadikan siang jadi malam atau malam menjadi siang, kaki menjadi kepala, kepala menjadi kaki, toh tetap dapatnya segitu saja. Menjadikan hidup berkah ini sangat penting dan sangat terkait dengan niat yang kita pasang, niat yang kita gotong, niat menjadi salah jika kita wirid-an yang banyak agar dagangan kita laris. Aneh. Semestinya kita mencukupi dunia untuk kekuatan beribadah. Sholat dhuha, sholat tahajjud seumpama agar lancar rizki. Terbalik. Padahal sing dunaini dapat mengakhirati sementara yang akhirati ternyata duniani. Segala aktifitas yang kelihatan seperti dunia dapat menjadi aktifitas akhirat. Dan sebaliknya aktifitas yang kelihatan seperti akhirat ternyata bersifat dunia. Ini semua terletak pada niat awal yang dipasang. Niat yang dipasang di awal inilah yang harus di tata kembali. Keberkahan akan kita dapatkan jika meletakkan nait kita di awal sebagai ibadah.

Walaupun seseorang duduk di masjid, hendaknya dia tidak sembarang duduk, jika niat awal adalah itikaf, maka duduknya itu bernilai ibadah. Contoh lain, jika seseorang sikat gigi kemudian dia ingat Rasulullah selalu membawa sikat untuk mengosok gigi maka itu dapat bernilai ibadah dengan niat mengikuti sunnah Nabi.

Dalam satu kaidah di katakan
“Dengan niat yang baik dan tulus maka kegiatan sehari-hari itu dapat bernilai ibadah.”

Alangkah indahnya jika seluruh aktifitas kita sehari-hari bernilai ibadah dan kita akan mendapatkan ganjaran di akhirat dikarenakan karena setiap kebaikan akan bernilai 10 kali dan akan berlipat sesuai dengan janji Allah.

Kembali kepada firman Allah di atas mari kita pahami bersama dan menata kembali niat agar setiap aktifitas kita berkah dan diberkahi Allah swt.

[]

Feb 6, 2009

Khutbah Jum’at: Salah Satu Tanda Akhir Zaman

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Pertama-tama dari atas mimbar ini kami sampaikan wasiat bersama. Wasiat yang terkait dengan kehambaan kita kepada Allah Subhanawata’ala. Sebatas mana kita menghambakan diri kepadaNya. Tundukkah kita akan peraturan-peraturannya? Mengertikah kita bahwa Allah Ta’ala adalah Maha Pengasih tetapi Allah juga raja diraja di hari kiamat? Sudah tentu kita harus takut terhadap apa yang akan terjadi di hari kiamat nanti. Karena masing-masing kita ini nantinya diminta pertanggung jawaban tentang amal kita masing-masing selama hidup di dunia ini.

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Wasiat yang kami sampaikan di atas sangat terkait dengan kehambaan kita, kehambaan yang memberikan konsekuensi yang selalu terikat dengan hukum-hukum Allah Ta’ala. Dalam arti, seorang muslim tidak melakukan perbuatan sekecil apapun kecuali ia mengetahui hukumnya. Boleh atau tidak boleh, haram atau halal, mubah atau makruh, dan hukum-hukum yang terkait dengannya.

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Masih dalam pasca hari raya idul adha. Hari yang di dalamnya tidak lepas dari apa yang dilakukan teman-teman kita yang diberi kesempatan oleh Allah Ta’ala menunaikan ibadah haji. Mereka mencontoh ibadah haji yang dilakukan oleh Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wassalam. Ibadah haji yang dikenal dengan “Hujjatul Wada’” Kita juga mengingat khutbah wukuf yang beliau Saw. sampaikan tepat pada hari Jumat kepada seluruh jamaah haji yang yang hadir di Arofah. Namun bukan itu yang akan kami sampaikan.


Diriwayatkan dari Sayyidina Ibnu Abbas ra. Beliau berkata Rasulullah melaksanakan haji wada’ kemudian ketika Beliau berada di ka’bah, sambil memegang handle pintu ka’bah. Beliau berkhutbah, “Wahai para manusia, maukah kalian saya beritahu tanda-tanda datangnya hari kiamat. Kemudian, Salman berdiri dan menjawab, “Beritakanlah kepada kami ya Rasulullah tentang apa yang akan engaku kabarkan.” Berkata Rasululloh, “Termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah menyia-nyiakan shalat.”

Tanda-tanda ini tentunya diperuntukkan untuk kita kaum muslimin. Shalat, ketika awal generasi yang dibimbing langsung oleh Rasulullah, dikenal dengan khoiruh ummah (sebaik-baik umat) telah mengalami pergeseran nilai sedikit demi sedikit. Pada akhirnya tiba pada satu generasi di mana shalat telah disia-siakan. Hal ini sangat sesuai dengan firman Alloh Ta’ala dalam surat Maryam: 59, yang artinya

"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,"

Datang satu generasi di mana generasi ini bukan generasi yang baik, generasi yang buruk. Generasi ini ditandai dengan menyia-nyiakan shalat. Jika seseorang itu dengan shalatnya menganggap sebagai suatu kewajiban adalah untung besar karena ia menganggap antara ia dan Allah ada suatu kewajiban sebagai seorang hamba dengan khaliknya. Apalagi shalat itu dijadikan sebagai media komunikasi dengan Alloh Ta’ala. Orang tersebut termasuk tidak menyia-nyiakan shalat. Pengertian menyia-nyiakan shalat jika seseorang tidak memiliki perasaan kewajiban shalat apalagi mengganggap shalat bukan sebagai media komunikasi dengan Allah Ta’ala.

Sudah tentu jika shalat ini tidak terurus dengan baik, mereka selalu memperturutkan hawa nafsu. Generasi seperti ini oleh Alloh Ta’ala dikatakan menemukan kesesatan di akhirat nantinya.

Kembali kepada hadits di atas. Ketika Rasululloh mengabarkan tanda-tanda hari kiamat. Rasululloh mengatakan “iba’ah sholah” menyia-nyiakan shalat dan kecenderungan memperturukan hawa nafsu. Hawa nafsu menang atas seseorang mengalahkan hak dan kewajiban atas Alloh Subhana wata’ala. Mereka lebih mengagungkan pemilik harta dan orang-orang berduit ketimbang ulama dan orang-orang shaleh.

Kemudian Salman berkata, “Terjadi seperti ini ya Rasululloh?” Rasululloh menjawab, “Iya, demi Alloh, Dzat yang jiwa raga Muhammad di tangan-Nya.” “Pada waktu itu wahai Salman, ada zakat dihutang-hutangkan, datangnya harta menjadi rebutan di sana sini, dan sang pedusta justru dibenarkan dan dipercaya, orang yang jujur justru didustakan, orang yang berkhianat justru dipercaya, orang yang bisa dipercaya malah dianggap berkhianat dan akan berbicara ar roghiboh.” Berkata para sahabat, “Apakah itu ar roghibo?” Rasulullah berkata, “Apa yang berbicara tentang manusia, apa dan siapa yang tidak bisa berbicara.” Dalam hal ini adalah isyarat adanya teknologi canggih. Yang tidak dapat berbicara, berbicara tentang manusia. Apakah itu radio yang benda mati atau tv yang benda mati, ataukah handphone dan lain sebagainya. Semua ini benda mati yang dapat berbicara dengan jelas tentang keadaan dan perilaku manusia. Saat ini kita memasuki dunia 3G dan suatu ketika kita akan masuk dalam teknologi hologram yang berbicara tentang manusia.

Ada keterangan dari Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wassalam bahwa suatu saat ini ada sandal yang dapat berbicara. Di mana sandal ini akan berbicara tentang keadaan keluarga yang ada dirumahnya. Lepas dari hadits ini menjelaskan hakekat sandal yang berbicara atau isyarat adanya benda-benda mati saat ini yang berbicara. Seperti handphone yang dapat berbicara yang kita bawa kesana kemari seperti halnya sandal yang kita pakai. Pada masa itu banyak orang tidak mengutamakan lagi nilai-nilai yang religius. Demikianlah gambarannya.

Berkata guru kami, as Sayyid Muhammad bin Alwy Al Maliki tentang sandal yang berbicara di akhir zaman. Beliau mengartikan secara hakekat bahwa ada sandal berbicara. Di saat teknologi manusia sedemikian canggih yang mana pencapaiannya diperlukan eksperimen bertahun-tahun terlebih dahulu. Radio, televisi, handphone dan lain sebagainya didapatkan melalui eksperimen yang membutuhkan waktu lama. Alloh cukup berkata ‘kun fa yakun’ tidak butuh waktu bertahun-tahun, sebuah sandal yang tidak ada alat-alat yang menempel padanya dapat berbicara. Hal ini menunjukkan kekuasaan dan kekuatan Allah Subhana wata’ala atas manusia yang lemah itu.

Selanjutnya, Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wassalam berkata, “Pada zaman itu kebenaran Islam diingkari lebih dari 90% manusia. Sirna Islam ini. Islam tinggal namanya saja”. Islam hanya sebagai KTP. Tidak ada pengamalan terhadap ajaran-ajaran Islam.

Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wassalam berkata, “Al Quran ada kecuali tinggal tulisannya”. Hadits ini sangat panjang yang tidak mungkin kami sebutkan seluruhnya di mimbar Jumat yang terbatas waktunya ini.

Seiring denga hadits yang kami bacakan sebelumnya, ada hadits yang diriwayatkan Imam Turmudzi, dari Abu Hurairah ra., Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wassalam berkata, yang artinya

“Wahai sahabat-sahabatku, kalian hidup di suatu zaman, barangkali di antara kalian meninggalkan 10% saja dari agama ini kalian celaka, tetapi akan datang suatu zaman, seseorang mengamalkan 10% agama ini akan selamat”.

Adanya hadits ini membuat kita lebih berhati-hati hidup di zaman ini. Kita hidup di suatu zaman, pendusta dibenarkan, orang yang jujur dikhianati. Aneh, saat ini orang-orang lebih percaya pada mama Loren, Ki Joko Bodo, Gendeng Pamungkas, dan lainnya ketimbang orang-orang shaleh. Apalagi saat ini banyak iklan-iklan di televisi yang meramal masa depan seseorang melalui sms. Aneh. Itulah gambaran kehidupan pada zaman ini. Kita harus lebih berhati-hati. Bisakah kita mengamalkan agama ini 10% nya? Jangan sampai kita mengamalkan agama ini di bawah 10%. Kita akan mengalami kehancuran di akhirat nanti. Dan jangan-jangan kita meninggal dalam keadaan su’ul khotimah bukannya khusnul khotimah. Na’udzubillah.

Di akhir khutbah ini kami sampaikan sebuah hadits Nabi Sholallahu ‘alaihi wassalam yang artinya,

“Barangsiapa berpegang teguh pada sunnahku di saat umat ini rusak, maka bagi dia seratus pahala orang-orang yang mati syahid.”


Harapan kita bersama, semoga jamaah seluruhnya ini dijaga oleh Allah Subhana wata’ala, di jaga agama kita, dan semoga kita mati tetap dalam khusnul khotimah.

[]

Dec 2, 2008

Memilih Dengan Hati Nurani


Jamaah Jum’at yang berbahagia hafizhokumullôh,

Pertama-tama dari atas mimbar ini kami sampaikan wasiat. Wasiat bersama, untuk pribadi saya sendiri dan kepada seluruh jamaah. Wasiat tersebut sangat terkait dengan kehambaan kita kepada Allah swt. Selalu terikat dengan hukum-hukum Allah swt. dalam segala tindak tanduk kita.

Kita melihat dalam keseharian seorang muslim, kadangkala ia minum dengan tangan kiri bahkan dengan berdiri pula. Padahal Rasulullah saw. tidak mengajarkan minum dengan tangan kiri dan sambil berdiri. Makruh hukumnya. Sunnah minum adalah dengan tangan kanan dan tidak sambil berdiri, kecuali minum air zam-zam. Perbuatan minum memang perbuatan yang kecil. Namun, sekecil apapun perbuatan kita semestinya tetap terikat dengan hukum-hukum Allah. Dengan begitu, kita akan mendapatkan ridha dan cinta Allah swt. Ada selalu keterikatan dengan hukum-hukum Allah swt. dalam setiap perbuatan inilah yang disebut dengan dasar ketakwaan. Halal, haram, makruh, atau mubah harus diketahui dalam perbuatan yang akan kita lakukan. Sebaik-baik bekal dalam menghadap Allah swt. adalah ketakwaan ini.



Itulah wasiat yang pertama kami sampaikan dalam khutbah ini, yakni keterikatan pada hukum-hukum Allah swt.. Dengan demikian, seorang muslim harus terikat dengan hukum-hukum Allah swt. dalam segala perilakunya, sekecil apapun, seperti makan dan minum yang kami sebutkan di atas. Lalu bagaimana dengan memilih presiden? Tentu ini urusan yang lebih besar. Urusan negara dan urusan kita dalam memilih pemimpin.

Sering kita mendengar iklan, spanduk, atau slogan-slogan yang isinya ”Hendaklah kita memilih dengan hati nurani”. Hal ini menambah kebingungan, karena harus memilih berdasarkan hati nurani. Bisa jadi seseorang memilih presiden karena gantengnya, memilih karena persaudaraan, karena berasal dari satu daerah, atau berasal dari satu partai, dan lain sebagainya. Padahal yang menyelamatkan kita di hadapan Allah swt. bukanlah partai. Islamlah yang menyelamatkan kita. Terkait dengan memilih dengan hati nurani ini semestinya kita kembali kepada hadits Rasulullah saw. yang menyebutkan:

Laa yu’ minnu ahadukum hatta yakunaa hawau tabaa lima jiktum
”Tidak sempurna iman seorang di antara kamu sehingga nuraninya itu selalu mengikuti tuntunan yang aku bawa.”

Sementara itu tuntunan yang dibawa Rasulullah saw. itu sudah terikat dengan halal, haram, makruh, dan mubah. Oleh karena itu, kita sebagai seorang muslim harus mengetahui hukum dasar Islam, bagaimana kita secara umum memilih seorang pemimpin itu. Firman Allah swt. dalam surat at-Taubah: 23,

”Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.”

Jamaah Jum’at yang berbahagia hafizhokumullôh,

Ayat di atas secara jelas mengatakan, sekalipun itu bapak kita atau saudara kita jika mereka bukan seorang muslim, maka tidak boleh dipilih. Jika salah satu calon pemimpin itu, entah presiden atau wakil presiden beragama Nasrani, Hindu, atau Budha, maka tidak boleh dipilih. Pelarangan keras ini sangat jelas dalam al-Quran seperti ayat yang kami kutip di atas.

Hubungan bapak dan saudara itu sangat dekat. Antara seorang anak dengan bapaknya dan seorang saudara dengan saudaranya. Apalagi tidak ada hubungan darah atau kekerabatan sama sekali. Jika terjadi seorang muslim memilih pemimpinnya berasal dari non muslim atau orang yang mendahulukan kufur atas iman, maka mereka itu orang-orang yang telah berbuat zhalim (wa man yatawallahum minkum faûlâika humuzh zhôlimûn). Mereka telah berbuat aniaya dan dosa pada diri mereka sendiri. Ini kita lakukan agar kita mendapatkan ridha dari Allah swt.

Mengapa demikian? Karena Allah swt. sesungguhnya tidak senang terhadap hamba-Nya yang berbuat kekufuran. Padahal kita setiap hari membaca ihdzinash shirôthol mustaqîm, shirôthol ladzîna an’amta ’alaihim ghoiril maghdhûbi ’alaihim minimal 17 kali setiap hari. Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat. Orang-orang yang diberi nikmat dan dicintai oleh Allah swt. di antaranya adalah para nabi, shiddiqin (orang-orang yang jujur), sholihin (orang-orang shaleh), dan syuhada (orang-orang yang berjuang membela agama). Manakala orang dicintai oleh Allah swt., maka kita mencintainya. Sebaliknya, manakala orang dibenci oleh Allah swt., tentu kita juga membencinya. Di sinilah arti ghoiril maghdhûbi, mereka yang dimurkai oleh-Nya, yaitu orang-orang Yahudi. Waladh-dhôlîn, dan bukan pula orang-orang yang tersesat, yaitu orang-orang Nasrani. Kesesatan mereka karena mengatakan bahwa Allah memiliki anak. Kapan Allah swt. melahirkan anak? Ada juga sebutan Allah Bapa; Allah Anak dan kesesatan-kesesatan yang lain. Sungguh mereka adalah orang-orang yang tersesat.

Ini merupakan contoh betapa kita tidak boleh memilih orang-orang yang berasal bukan dari golongan Islam. Kita semua akan mati dan kita harus mempertanggungjawabkan di hadapan Allah apa-apa yang kita lakukan di dunia ini. Jika kita memilih pemimpin beragama Nasrani misalkan, sudah tentu Allah swt. Murka, karena Nasrani termasuk golongan yang dikatakan sesat oleh Allah swt.

Jamaah Jum’at yang berbahagia hafizhokumullôh,

Selanjutnya, kita pun tidak memilih seorang muslim namun tidak berpikiran Islam. Saat ini kita mengenal Islam yang beragam. Islam kapitalis: ia mengaku Islam namun pemikirannya kapitalis. Islam sosialis: ia mengaku Islam namun pemikirannya sosialis dan dalam kehidupannya ia memperjuangkan sosialisme. Islam plularis, Islam humanis, dan Islam-is yang lain. Hal ini telah digambarkan oleh Rasulullah saw. bahwa nanti sebelum hari Kiamat tiba akan datang suatu golongan da’i yang menyeru kepada agama Allah, namun hakekatnya menyeru ke neraka. ”Mereka itu siapa ya Rasulullah?” para sahabat bertanya. Rasulullah saw. menjawab, ”Mereka itu sekulit dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita. Tetapi mereka itu mengajak ke neraka jahanam.”

Islam liberal umpamanya. Banyak hukum-hukum Islam mereka ’preteli’ seenaknya. Jilbab hukumnya tidak wajib. Pembagian hukum waris perempuan dan laki-laki dimana 1 banding 2 itu jaman dulu; sekarang tidak berlaku lagi. Dan masih banyak lagi hukum-hukum Islam yang oleh Islam Liberal diprotoli.

Walaupun calon pemimpin tersebut seorang Islam, namun tidak berpikiran Islam, tentu tidak akan kita pilih. Jadi siapa yang akan kita pilih? Sudah tentu seorang Islam yang berpikiran Islam, berpijak kepada Islam dan hatinya juga Islam. Dialah yang akan kita pilih. Tentu berbeda antara Islam santri dan Islam abangan. Berbeda. Islam abangan KTP-nya Islam, namun pemikirannya bukan Islam. Islam abangan mengatakan semua agama itu sama. Tentu beda dengan Islam santri yang menyatakan agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.

Di sinilah hati nurani kita harus dibatasi dengan tuntunan dari Rasulullah saw., bukan dengan hati nuraninya masing-masing. Apalagi berkembang istilah “suara rakyat adalah suara Tuhan.” Apakah suara Tuhan juga jika rakyatnya maling semua? Tentu hal itu tidak benar. Istilah itu adalah kaidah atau pedoman yang dikembangkan demokrasi liberal yang datangnya dari barat. Pemikiran suara rakyat adalah suara Tuhan adalah pemikiran demokrasi liberal. Hal ini tidak sesuai dengan aqidah kita, aqidah Islam.

Jika ada pilihan Islam abangan dan Islam santri, sudah tentu kita memilih Islam santri. Tidak peduli apakah itu satu partai atau bukan, saudara atau tidak saudara. Kita akan memilih Islam santri. Karena kita kembali kepada Islam, bukan kepada satu partai, satu saudara, atau fisiknya yang ganteng dan gagah.

Dalam agama ini, ada cabang-cabang iman, di antaranya al-hubbu fillâh wa bughdu fillâh, mencintai seseorang karena Allah dan membenci seseorang karena Allah. Benci bukan berarti dendam. Jika kita membenci orang-orang kafir bukan berarti kita dendam. Kita membenci perilakunya yang menentang Allah. Ada hak dan kewajiban yang kita tunaikan ketika kita bertetangga dengan orang kafir. Ada hak dan kewajiban yang kita laksanakan ketika kita bermuamalah dengan orang kafir. Kita tunjukkan perilaku Islam kepada mereka. Dengan demikian, ada harapan mereka dapat memeluk Islam ini. Sekali lagi, benci bukan berarti dendam.

Jamaah Jum’at yang berbahagia hafizhokumullôh,

Sebagai da’i ilallôh kami wajib menyampaikan dalam khutbah ini karena banyak orang Islam yang bingung dalam memilih. Dalam ber-Islam ini ada miqyâsul ’amal, barometer beramal, yaitu selalu terikat dengan hukum-hukum Allah. Telah kami contohkan sebelumnya bahwa minum dengan tangan kanan beda dengan minum tangan kiri. Berbeda sunnah dengan makruh.

Di akhir khutbah yang singkat ini kami ingatkan kembali dengan firman Allah:

”Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.”

Dalam dua arti, pertama, jangan memilih pemimpin non muslim. Dan kedua, jangan memilih muslim namun tidak berpikiran dengan Islam.

***

Foto: http://giant41.blogspot.com

Nov 25, 2008

Memaknai Usia

Hadirin Sidang Jumat yang berbahagia hafizhakumullah,

Matahari terbit tiap hari. Siang malam susul-menyusul datang bergantian. Detik, menit, dan jam terus berjalan tiada berhenti. Hari berganti hari. Hari-hari menjadi minggu, bulan, dan tahun. Itu semua adalah manifestasi usia. Ia terus bergerak dan bergulir dan bila berlalu tidak akan kembali.

Usia ibarat mesin di sebuah perusahaan. Ia senantiasa beroperasi, dari tahun alif hingga tahun dal. Bila mesin yang terus beroperasi itu tidak dimanfaatkan, maka hitunglah berapa kerugian yang diderita perusahaan tersebut. Saat ini bukanlah saat kemarin. Dan saat ini tidaklah sama dengan esok dan lusa.

Oleh karena terus berjalan, pergerakan usia berarti sangat cepat dan singkat. Tiap dengus nafas yang kita keluarkan adalah bagian dari usia kita. Ia adalah pedang yang sangat tajam. Ia tidak menanti orang lengah lagi berpaling hingga ia sadar. Orang yang lengah dan siapapun yang tidak sadar akan digilasnya.

Hasan al-Bashri berkata, “Setiap hari ketika fajar merekah ada penyeru dari sisi Tuhan memanggil, ‘Wahai anak Adam, aku adalah makhluk baru dan aku menjadi saksi atas perbuatan kalian. Maka berbekallah dariku dengan amal shaleh. Sesungguhnya jika aku berlalu, maka aku tidak akan kembali lagi sampai hari Kiamat.” (Khuluqul Muslim, hal. 227)

Setiap hari matahari terbenam. Ada yang bekerja dan berhasil, dan ada yang bekerja namun merugi. Dan hari yang misterius ini akan menjadi saksi bagi manusia.

Hasan al-Bashri berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah hari-hari. Bila satu hari lepas, maka lepaslah sebagianmu.” Dia juga bertutur memberikan kesan, “Aku mendapati satu kaum (generasi sahabat) yang dalam hal waktu mereka lebih sigap dan disiplin dibanding dengan sigap dan disiplinmu saat ini dalam mencari dirham dan dinar.”

Pergerakan usia yang cepat dan singkat akan bertambah cepat dan singkat temponya manakala zaman telah menjelang akhir seperti sekarang ini. Rasanya pagi hari baru tadi kita rasakan, kini sudah masuk malam. Sepertinya baru kemarin tahun 2000, kini sudah 2008. Seakan-akan baru kemarin usia kita 25 tahun, kini sudah menapaki 45 tahun. Subhanallah. Rasulullah Saw. bersabda,

Tidak akan tiba hari Kiamat sehingga tempo zaman menjadi pendek (singkat). Tahun menjadi seperti bulan. Bulan menjadi seperti minggu. Minggu seperti hari. Hari seperti sesaat. Sesaat seperti laksana nyala api. (H.R. Tirmidzi)

Hadirin Sidang Jumat yang berbahagia hafizhakumullah,

Pergerakan usia yang cepat tentunya harus diikuti dengan kesigapan dan kedisiplinan memanfaatkan dan mengelolanya. Bila tidak, seperti dominannya kebiasaan menunda-nunda waktu, tentunya kerugian dan penyesalan yang akan diterima. Hidup hanya sekali, maka hiduplah yang berarti. Usia hidup kita saat ini tidak akan kembali untuk kedua kalinya.

Karena itu, kita harus mengikat usia itu dengan berbagai aktivitas yang diridlai Allah Swt., baik dengan ibadah, dzikir, berdakwah, mencari ilmu, bekerja mencari sumber penghidupan (maisyah), membaca al-Qur’an, tafakkur, dan sebagainya. Usia jangan sampai terbuang sia-sia tanpa aktivitas yang berguna, menganggur, atau digunakan justru dengan aktivitas kedurhakaan, atau ditunda-tunda. Usia adalah peluang. Peluang itu harus direbut, sebab bila telah lewat, ia tidak akan bisa lagi kita dapati.

Sahabat Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, “Aku tidak menyesal kepada sesuatu melebihi penyesalanku kala matahari terbenam, ajalku berkurang, sedang amalku tidak bertambah.” (Qîmah az-Zamân ‘inda al-Ulamâ’, hal. 27)

Usia yang kita miliki merupakan hujjah bagi kita. Maknanya, usia akan menjadi pembantah dari berbagai alasan yang akan kita kemukakan kelak di yaumil mizan. Usia akan dimintai pertanggungan jawabnya. Kita bisa mendapatkan siksa dari Allah Swt. manakala usia tidak kita manfaatkan dengan baik dan benar. Mari kita renungkan bantahan Allah Swt. terhadap argumentasi orang-orang kafir, ketika mereka meminta dikeluarkan dari neraka dan berjanji akan mengerjakan amal shaleh.

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan." Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolongpun. (Q.S. Fâthir: 37)

Hadirin Sidang Jumat yang berbahagia hafizhakumullah,

Usia adalah tempo (tenggang waktu) yang dikaruniakan Allah Swt. agar kita manfaatkan. Kita masing-masing tidak tahu berapa tempo usia yang menjadi jatah kita. Sementara ajal kematian selalu mengintai setiap detak napas kita. Saat kita sehat, kesehatan itu bisa disusul oleh sakit dan saat kita longgar (punya waktu luang), kelonggaran itu bisa disusul oleh berbagai kesibukan dan kendala. Maka, kapan lagi kita memanfaatkan usia, kalau tidak sekarang ini. Senyampang masih diberikan kesehatan dan waktu luang. Tempo usia kita kelak dari saat ke saat akan dihisab. Sabda Rasulullah Saw.,

Kedua kaki seorang hamba tidak akan bisa menapak pada hari Kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara; tentang usianya bagaimana dia menghabiskannya, tentang masa mudanya bagaimana ia mempergunakan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkan dan ke mana dia mendistribusikan, serta tentang ilmunya, apa yang dia amalkan dari ilmunya itu. (H.R. Tirmidzi dari sahabat Abu Barzah al-Aslami)

Alangkah menyesalnya kita di akhirat kelak ketika menyadari bahwa banyak dari tempo usia kita yang kita sia-siakan. Tidak kita manfaatkan kecuali untuk kedurhakaan atau untuk hal-hal yang tidak berguna. Kelak, penduduk surga akan menyesali diri atas satu waktunya yang berlalu tanpa digunakan berdzikir kepada Allah Swt. Jika ahli surga saja merasa rugi dengan satu waktunya yang berlalu tanpa digunakan berdzikir, bagaimana dengan orang yang belum tentu menjadi penghuni surga yang sekian banyak waktunya terbuang sia-sia. Lalu bagaimana pula dengan orang-orang kafir penghuni neraka, betapa nyata rugi mereka atas usianya, yang berlalu dengan kelalaian (al-ghaflah wa al-nisyan), yang melampaui batas kepada Allah Swt.

Sahabat Muadz bin Jabal ra. menceritakan hadits dari Rasulullah Saw.,

Tidak ada yang membuat penghuni surga menyesal atas kehidupannya di dunia, kecuali atas berlalunya beberapa saat tanpa diisi dengan dzikir kepada Allah ‘azza wa jalla di dalamnya. (H.R. Thabarani)

Sebelum terlambat, tempo usia semestinya diantisipasi dengan memberi makna-makna yang anggun di dalamnya, sebelum usia itu habis jatah temponya, atau senyampang belum datang ketuaan, pikun, sakit, kesibukan, kefakiran, dan lainnya yang merintangi kita memanfaatkan usia secara leluasa.

Usia semestinya juga tidak disia-siakan dengan menunda-nunda aktivitas yang positif (amal shaleh), karena sikap menunda-nunda sendiri akan menggerogoti usia kita. Ironisnya, sikap menunda-menunda dan tidak ambil peduli dengan usia merupakan fenomena kebanyakan umat manusia sekarang ini. Mereka sama tertidur (tidak sadar) dan baru tersadar ketika maut menjemputnya. Rasulullah Saw. memperingatkan,

Ada dua kenikmatan yang banyak membuat manusia terpedaya, yaitu kesehatan dan kesempatan (waktu luang). (H.R. Bukhari)

***

Nov 19, 2008

Hubungan Haji dan Rukun-rukun Islam Sebelumnya

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,
Di antara teman-teman kita pada bulan Dzulqo’dah ini, mendapatkan taufiq dan pertolongan dari Allah swt. untuk dapat melaksanakan tiang Islam yang kelima yaitu hijjul bait (menuju baitullah) untuk menuju kesempurnaan beribadah dan penghambaan diri (tammin ibadah ubudiyyah) kepada Allah Swt. Pada khutbah kali ini perlu kami sampaikan hubungan tiang haji yang kelima ini dengan tiang-tiang sebelumnya.

Bertolak pada hadits Rasulullah Saw.

”Bangunan Islam dibangun atas tiang yang lima...”

Sudah tentu ketika Islam ini dibangun dengan kokoh maka sudah tentu tiang-tiang ini adalah tiang-tiang yang kokoh. Tetapi kekokohan tiang-tiang tersebut kembali kepada kita sendiri bagaimana memahami tiang-tiang itu. Ketika kita memahami makna yang terkandung dalam 5 tiang-tiang itu. Maka disitulah kita dikatakan kokoh pemahaman keimanan dan keislaman kita.

Dalam khutbah yang singkat ini, perlu kami sampaikan keterkaitan rukun-rukun Islam satu dengan lainnya. Sudah tentu yang perlu kita pahami adalah ’ngaji makno’ bukan ’ngaji wacan’. Ketika kita ngaji makno tentang tiang-tiang yang kokoh ini mampukah kita mengamalkannya? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Pemahaman kita pada tiang-tiang yang kokoh tersebut akan berimplikasi pada kuat dan rapuhnya iman kita.

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,
Islam merupakan merek paten. Merek paten ini perlukan karena Islam itu sendiri diperjuangkan mulai sekian ribu tahun yang lalu diturunkan kepada Nabi Adam as. Melewati tantangan dan ujian yang berat hingga akhirnya lolos dari ujian dan tantangan tersebut. Kemudian kesempurnaan Islam ini dibawa Rasulullah Saw. ketika Beliau menerima firman Allah Swt. di hari Arofah yang dikenal dengan nama Haji Wada’.

"...pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu..." QS. Al-Maidah: 3.

Islam ini agama yang diridhoi, karena itu merek paten itu perlu. Alhamdulillah, kita mendapatkan merek paten tersebut. Tanpa merek paten ini jangan harap ada keselamatan. Dengan merek paten ini akan dinilai seluruh aktifitas kita sebagai ibadah oleh Allah Swt. Alangkah sayangnya, orang-orang kafir yang memiliki jasa yang besar dalam perkembangan kemajuan dunia ini, seluruh amalnya tidak dianggap oleh Allah Swt. karena mereka tidak memiliki merek paten itu.

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Syahadat, merupakan tiang-tiang kokoh yang pertama. Tiang ini sangat terkait dengan surga. Syahadat laa illaha illallahu merupakan kunci surga. Barangsiapa yang ber-Islam maka dia telah memiliki kunci surga. Untuk membuka dan tidaknya kembali kepada kita. Mengerti dan memahami makna syahadat ini terkait dengan tiang-tiang yang lainnya. Bisa jadi kita telah memegang kunci surga tetapi kita masuk surga diakhir-akhir karena tidak memahami tiang-tiang lainnya. Kita harus memahami kelanjutannya setelah kita memegang kunci surga. Keterkaitan syahadat sebagai kunci surga dengan rukun-rukun Islam yang lain.

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Selanjutnya adalah shalat. Shalat merupakan media komunikasi seorang hamba dengan Allah Swt. Mendapatkan merek paten tetapi tidak pernah berhubungan dengan Allah dalam mengarungi kehidupan ini tidak ada artinya. Kita harus terus melakukan hubungan dengan Allah, berkomunikasi dengan Allah, paling tidak 5 kali dalam sehari. Hal ini pertanda bahwa kita mensyukuri adanya merek paten yaitu Islam. Itulah yang menjadi inti ibadah dalam keseharian hidup kita, yaitu shalat sebagai media komunikasi dengan Allah Swt. Kita meminta kepada Allah Swt. agar diampuni dosa-dosa kita, rabbilfighfirli. Kita minta dikasih sayangi Allah, warhamni. Kita meminta diangkat derajat kita, warfa’ni. Kita minta kepada Allah diberi rizki, warzuqni. Wahdini, Wa’afani dan lain sebagainya. Demikian salah satu bacaan doa yang kita lantunkan dalam shalat kita. Shalat ini fardhu karena telah ditentukan oleh Allah,

"Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." QS. an-Nisaa’: 103.

Kewajiban yang tidak boleh ditinggal. Jika ditinggalkan sudah tentu ada ancaman yang besar. Namun begitu, shalat yang dilaksanakan 5 menit ini dalam sehari 5 kali banyak teledor dan tidak khusyuk dalam menjalankannya. Sungguh sangat jauh dari inti ibadah.

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,
Ibadah itu sendiri tidak hanya hubungan manusia dengan Allah Swt. Hubungan manusia dengan manusia juga dinilai Allah Swt. sebagai ibadah. Ketika manusia menyenangkan sesamanya, maka manusia itu berakhlak dengan akhlaknya Allah. Sifat kasih sayang Allah ditiru manusia. Menyenangkan manusia ini diwujudkan dalam ibadah wajib yaitu zakat. Zakat adalah awal proses menyenangkan orang lain. Kita diharuskan menyisikan sebagian rizki yang kita miliki kepada orang lain. Tidak hanya zakat, Allah Swt. berfirman

"Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak". QS. Al-Hadid: 18.

Ada shadaqah yang tidak wajib, yaitu infak dan sedekah. Shadaqah ini tidak hanya berupa harta dan makanan. Mengucapkan kalimat thayyibah juga shadaqah. Kullu tahmid shadaqah, kullu takbiratun shadaqah, wa kullu tashbih shadaqah, wa kalimatun shadaqah.

Berbicara kalimat yang baik, indah, dan menyenangkan didengar adalah shadaqah. Kita juga dianjurkan Rasulullah Saw. untuk selalu berseri wajah ketika bertemu dengan teman,


مِنَ الصَّدَقَةِ أَنْ تُسَلِّمَ عَلَى النَّاسِ وَأَنْتَ طَلِيْقَ الْوَجْهِ
“Termasuk sedekah jika mengucapkan salam kepada orang – orang beserta wajahmu yang ramah berseri – seri “(HR Ibnu Abi Dun’ya. Ini adalah hadits Mursal).

Dan juga,

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ
“Senyummu di (hadapan) wajah saudaramu adalah sedekah” (HR Turmudzi Ibnu Hibban)

Inti ibadah zakat ini adalah bagaimana kita menyenangkan orang lain. Ibadah menyenangkan orang lain yang dapat menumbuhkan sikap kasih sayang bersama, satu dengan yang lain. Tidak ada saling hasut, dan rasa dengki. Hidup guyub dan rukun. Hal ini dapat terwujud jika diantara kita memiliki sifat pandai menyenangkan orang lain. Menyenangakan orang lain merupakan makna yang terkandung dalam rukun Islam yang ketiga yaitu az-zakah. Rukun Islam ketiga ini merupakan ibadah yang terkait hubungan manusia dengan manusia lainnya.

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Selanjutnya, rukun Islam yang keempat, puasa. Setiap muslim pasti dapat tidak melakukan makan, minum dan tidak berkumpul dengan istri mulai pukul 5 pagi hingga pukul 6 sore. Toh setelah itu kita diperbolehkan makan, minum dan juga berkumpul dengan istri. Kita harus mengetahui apa yang sebenarnya makna dari puasa yang kita lakukan. Bukan sekedar menahan tidak makan, tidak minum, dan tidak berkumpul dengan istri. Makna yang dikandung oleh tiang kekokohan Islam yang keempat ini adalah bagaimana kita dapat melawan hawa nafsu. Kita diuji oleh Allah Swt. melalui hawa nafsu, syetan, teman-teman yang seperti syetan serta ingkungan yang tidak mendukung. Kita memiliki akal dan hati. Suatu kita akal kita menang, dilain waktu nafsu yang mengatur kita. Terkadang kita kuat melawan hawa nafsu dan terkadang kita juga terkalahkan oleh nafsu kita. Kuat atau tidak tergantung pribadi kita masing-masing. Selalu dapat mengontrol hawa nafsu yang ada di dalam diri kita. Itulah makna dari puasa yang kita lakukan.

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Terakhir, rukun Islam yang kelima, haji. Jika keempat rukun Islam dapat kita laksanakan maka orang yang berhaji telah melakukan ”tammamul ibadah ubudiyyah” kesempurnaan beribadah dan penghambaan. Ibadah haji ini dilakukan dengan uang yang tidak sedikit, menguras tenaga, susahnya meninggalkan keluarga, dan membutuhkan waktu yang lama. Namun setibanya di sana kita diperintahkan Allah hanya berputar-putar, berlari-lari kecil, dan berkumpul dipadang Arofah dengan banyak manusia. Suasana hawa yang panas terik. Tidak ada waktu yang menyenangkan. Seluruhnya susah payah. Itulah ibadah haji dan kita diperintahkan Allah Swt. melakukan semua itu. Masuk akal atau tidak. Kita harus tunduk atas perintah itu. Di sanalah kita mengetahui jati diri kita sebenarnya. Seakan Allah Swt. berkata, ”Wahai manusia, kamu itu siapa?” ”Wahai manusia, kamu itu tidak ada apa-apanya.”. Begitu kita memasuki Makkah, kita akan merasa kecil. Siapapun kita. Presiden, jenderal, wali, nabi, seorang penguasa, dan lain-lainnya.


"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia"

Makkah atau Bakkah, yang bermakna qoto’a, bakka, yabukku, bakkan dan qota’a, yaqtho’u, qot’an, berarti memutus leher. Jika kita berangkat menunaikan ibadah haji berarti kita memutus leher kita. Memutus leher dalam arti Allah tidak memandang diri kita siapa. Di sana kita sendiri-sendiri. Presiden sendiri. Jenderal sendiri. Tidak ada pengawal lagi. Hati orang-orang yang beribadah haji digelontor oleh Allah Swt. Sifat manusia jika telah memiliki kemampuan dan kekuasaan selalu melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Jika ia mempunyai ilmu maka akan digunakan menzalimi yang bodoh. Jika ia memiliki harta yang lebih cenderung menzalimi yang kekurangan harta. Dan lain sebagainya.

Allah Swt. tidak pernah melihat kita dari pangkat atau kelebihan yang kita miliki. Tukang sapu dan direktur sama. Presiden dengan Pak RT tidak ada bedanya. Hati yang dimiliki manusia itulah yang dilihat oleh Allah Swt. Hatilah yang membedakan manusia yang satu dengan manusia yang lain. Sudah menjadi ketentuan Allah Swt. menjadikan manusia itu kaya, miskin, ganteng, berpangkat dan kelebihan lainnya Bukan ketentuan manusia. Hikmah Allah menjadikan seperti itu agar manusia satu dengan yang lain saling membutuhkan. Ada dokter tentu ada pasien. Ada kyai tentu ada santri. Dan contoh-contoh lainnya. Adanya hal ini menjadikan manusia satu dengan yang lainnya saling melengkapi, membutuhkan dan mengisi. Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi antara yang satu dan yang lainnya. Jika salah satu berbuat zalim terhadap yang lain sudah tentu bertentangan dengan saling berkebutuhan, saling mengisi, dan saling melengkapi. Islam tidak pernah mengajarkan menzalimi yang lemah.

Madrasah haji menjadikan orang yang menunaikannya memahami hal tersebut. Manusia tidak ada apa-apanya. Contoh pelaksanaan wukuf di Arofah, setiap laki-laki hanya memakai pakaian dua helai kain saja tidak boleh lebih dari itu. Di akhir ibadah haji, setiap laki-laki memotong rambutnya hingga gundul. Tidak peduli ia presiden, harus gundul. Apakah ia jenderal, juga harus gundul. Walhasil, siapa dan apapun kedudukannya, diakhir ibadah haji diharuskan mencukur rambut hingga gundul.

Ibadah haji memberikan pelajaran bagi yang melaksanakannya. Memahami dengan benar siapa diri mereka sebenarnya. Kecil, kerdil, dan tidak memiliki apapun di hadapan Allah Swt. Suatu pelajaran bagi setiap yang berhaji. Melaksanakan seluruh ritual ibadah haji dengan ikhlas dan dibiayai dari harta yang halal. Walaupun pribadi tersebut sebelum melaksanakan ibadah haji memiliki pribadi yang ‘mbeling’ dan tidak baik, Insya Allah akan berubah. Berubah lebih baik dibandingkan dengan sebelum haji. Rahmat Allah turun berbagai rupa seperti hujan deras yang turun ke bumi. Segala dosa diampuni. Segala yang kurang baik dan buruk akan ditutupi oleh yang baik-baik.

Jika sepulang haji tidak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, bahkan tambah lebih buruk ketika sebelum berhaji, ada sesuatu yang salah dan patut dipertanyakan. Ada hijab yang menyelimutinya. Hijab yang menghalangi masuknya sentuhan-sentuhan dan rahmat Allah kepada hati. Hijab ini dapat berasal dari mempergunakan harta yang haram dalam menunaikan ibadah haji.

Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.

Inilah para jamaah jumah hafidhokumullah, keterkaitan rukun-rukun Islam satu dengan yang lainnya sebagai tiang-tiang yang kokoh. Kekokohan tiang tersebut kembali kepada diri kita masing-masing menjaganya. Ketika kita dapat memaknai ‘ngaji makno’ yang terkandung di dalamnya untuk selanjutnya kita amalkan.

[]

Nov 17, 2008

4 Kunci Meraih Keberuntungan di Dunia dan Akhirat

Jamaah Jum’at Hafidhokumulloh,
Pada awal khutbah ini kami menyebutkan firman Allah Swt. Surat Ali Imran: 200 yang berbunyi, yang artinya

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung."

Ayat ini memberikan isyarat kepada kita semua tentang 4 hal kunci keberuntungan di dunia dan akhirat.

Pertama, Sabar. Sabar merupakan sifat yang utama dan mulia. Sabar tidak hanya dalam keadaan tertimpa musibah tetapi kita juga harus sabar dalam keadaan senang. Sering kali kita lupa sabar dalam keadaan lapang. Ketika kita tertimpa musibah, entah itu ada yang meninggal di antara orang-orang yang kita cintai, hampir pasti orang-orang akan menyalami kita dan berucap, “Semoga Allah memberikan kesabaran kepadamu”. Ucapan ini hampir tidak kita jumpai ketika ketika dalam keadaan lapang. Kelapangan kita sering kita pergunakan pada hal-hal yang tidak berguna. Kita tidak sabar dalam menjalani kelapangan yang ada pada kita.

Kita juga dituntut sabar dalam menjalankan segala perintah Allah. Shalat yang kita kerjakan masih diliputi rasa ketidak sabaran. Allah hanya menuntut waktu kita 10 menit namun kita memberikan imbalan yang tidak pantas. Dalam shalat, kita tidak pernah ingat Allah kecuali pada saat takbir awal, selebihnya kita ingat pekerjaan kita, bisnis yang sedang berjalan, atau masalah yang sedang kita hadapi. Shalat yang kita laksanakan seluruhnya merupakan bacaan doa jika kita dengan tartil dan meresapi artinya. Masih banyak contoh sabar yang lain. Kita juga harus sabar dalam menjauhi segala larangan-larangan Allah Swt. Kita tahu kalau alcohol adalah haram. Namun ketika kita berkumpul dengan teman sekerja dalam merayakan suatu keberhasilan proyek dengan minum sampanye. Kita tidak sabar dalam menjauhi segala yang dilarang oleh Allah Swt.

Kedua, Mushabarah. Mirip dengan sabar, namun lebih banyak berasal dari luar kita. Dalam hidup bertetangga tentu kita selalu berinteraksi dengan tetangga. Entah itu diundang tahlilan, atau bentuk undangan lainnya. Atau juga sekali waktu kita mengundang tetangga pada acara hajatan yang kita adakan. Terkadang terselip celetukkan yang membuat merah telinga ketika mendengarnya. Tabah dan tidak emosi dalam menanggapi hal tersebut. Atau juga kita terkena fitnah. Kita harus dapat memberikan jawaban yang tepat tentang inti permasalahan yang sebenarnya dan kita tidak perlu membalas perlakukan buruk tersebut. Memaafkan lebih utama. Contoh tentang ini banyak kita jumpai pada kehidupan Nabi Saw. Dan sahabat. Kita cukup membacanya di buku-buku yang telah banyak ditulis dan beredar di sekitar kita.

Ketiga, Murabathah. Aslinya makna ini adalah mengikat kuda untuk berjaga di benteng pertahanan. Makna lainnya adalah menyiapkan semua potensi kekuatan yang dimiliki untuk menghadapi musuh Islam, baik sarana itu berupa material (madiyyah) atau non material (Ruhiyyah).

Murabathah juga memiliki arti yang lain seperti yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. Bersabda, “Apakah aku akan menunjukkan kalian sesuatu yang karenanya Allah menghapus dosa-dosa dan meninggikan derajat-derajat?” “Ya, Rasulullah”, jawab para sahabat. Beliau lalu bersabda, “Menyempurnakan wudhu, banyak langkah ke masjid, menanti shalat demi shalat. Itulah ribath, itulah ribath, ituah ribath”.
Dari hadits di atas kita dapatkan tiga isyarat. Pertama, “menyempurnakan wudhu…” merupakan isyarat adanya perperangan terhadap hawa nafsu. Kedua, “banyak langkah…” sebagai isyarat adanya pengawasan ketat (muraqabah) terhadap hati dan anggota tubuh. Ketiga, “menanti shalat…” menjadi isyarat adanya penjagaan waktu serta mencari dan memanfaatkan kesempatan.

Keempat, Taqwa. Kata ini sudah seringkali kita. Makna yang dikandungnya sangat dalam. Takwa ini sudah kami sebutkan dalam muqaddimah khutbah ini dan setiap khotib jum’at pasti menyebutkan juga makna takwa ini. Pemahaman yang mudah dari takwa adalah melaksanakan yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala yang dilarang Allah. Dengan bekal takwa ini kita berharap mendapatkan ridhaNya.

Demikian khutbah jum’at yang singkat ini. Kita berharap, semoga Allah memudahkan kita melaksanakan 4 hal yang dimaksud dalam surat Ali Imran: 200 tersebut.

[]