Di antara metode yang diterapkan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam dalam Tarbiyah adalah memberikan deskripsi nilai-nilai tinggi yang esesnsial di belakang pemahaman-pemahaman yang telah berkembang secara luas. Ini bertujuan mengarahkan kemauan kepada segala sesuatu yang tinggi dan maksud yang mulia. Contoh-contoh dari metode ini adalah sebagaimana sabda Beliau Shalallahu alaihi wasallam:
1. “Kekayaan bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan hati.” (HR. Ahmad-Bukhari Muslim). Imam Muslim meriwayatkan dari Mutharrif dari ayahnya yang berkata, “Aku datang kepada Nabi Shalallahu alaihi wasallam saat Beliau sedang membaca “al haakumt takaatsur/Menumpuk-numpuk harta menjadikan kalian lupa”. Beliau berkata, “Anak Adam berkata, “Hartaku, hartaku.” Beliau melanjutkan, “Wahai Anak Adam, bukanlah tiada harta yang kamu miliki dari hartamu kecuali apa yang telah kau makan dan kamu lalu kamu menghabiskannya, atau apa yang telah kamu memakainya dan lalu kamu membuatnya menjadi usang, atau apa yang kamu sedekahkan dan kamu mengabadikannya?””
2. “Orang yang kuatlah bukanlah orang yang banyak membanting musuhnya. Orang yang kuat hanyalah orang yang mampu menahan diri ketika marah.” (HR. Ahmad- Bukhari Muslim)
3. “Bukanlah disebut penyambung sanak famili seorang yang hanya membalas kunjungan, penyambung sanak famili sesungguhnya adalah seorang yang jika tali sanak familinya terputus maka ia menyambungnya.” (HR. Ahmad-Bukhari Muslim)
4. “Bukanlah orang buta seseorang yang buta matanya. Orang buta sesungguhnya adalah orang yang buta mata hatinya.” (HR. Baihaqi dalam Syuabul Iman)
5. “al Birr (kebaikan) bukanlah busana dan penampilan bagus, tetapi kebaikan adalah ketenangan dan kesantunan.” (HR. Dailami dalam Musnadul Firdaus)
6. “al Bayan bukanlah banyaknya ucapan, tetapi ucapan yang lugas dalam hal yang disukai Alloh dan Rasul-Nya. Gagap bukanlah gagap lisan, tetapi minimnya pengetahuan akan kebenaran.” (HR. Dailami dalam Musnadul Firdaus). Sejalan dengan ini adalah sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya sebagian dari al Bayan adalah sihir.”
7. “Pembohong bukanlah orang yang mendamaikan manusia; ia lalu menyampaikan kebaikan (pihak pertama kepada pihak kedua) dan mengucapkan kebaikan (pihak kedua kepada pihak pertama)" (HR. Ahmad-Bukhari Muslim Abu Dawud Turmudzi)
8. “Puasa bukan hanya dari makan dan minum. Puasa sebenarnya adalah dari lagh dan rafats; jika ada orang mencacimu atau berbuat bodoh kepadamua maka ucapkanlah, “Sesungguhnya aku berpuasa, sesungguhnya aku berpuasa.” (HR. Hakim-Baihaqi)
9. “Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling (kesana kemari meminta sedekah) kepada manusia sehingga ia mendapatkan sesuap dua suap atau sebutir dua butir kurma, tetapi miskin yang sebenarnya adalah orang yang tidak mendapatkan kekayaan yang membuatnya puas, tidak pula diketahui akan kondisinya sehingga bisa diberikan sedekah kepadanya dan tidak pula ia bangkitkan lalu meminta-minta kepada manusia.” (HR. Malik Ahmad Bukhari Muslim Abu Dawud Hakim)
10. “Bukanlah orang terbaik di antara kamu seorang yang meninggalkan dunia demi akhirat atau meninggalkan akhirat demi dunia sehingga ia mampu mendapatkan keduanya sebab sesungguhnya dunia adalah sarana menuju akhirat. Jangan kalian menjadi beban orang lain.” (HR. Ibnu Asakir)
Sepadan dengan hal di atas adalah ucapan syair:
1. Kehidupan bukan sekedar nafas-nafas yang engkau hembuskan. Kehidupan sesungguhnya adalah kehidupan ilmu dan budi pekerti.
2. Anak yatim bukanlah anak yang ditinggal oleh bapaknya. Anak yatim sesungguhnya adalah orang yang ditinggalkan ilmu dan budi pekerti.
Imam Syafii ra. Berkata:
Ilmu bukanlah sesuatu yang diambil. Ilmu sebenarnya adalah sesuatu yang bermanfaat.
Selengkapnya...
Nov 11, 2009
Oct 24, 2009
Dimana Memakai Cincin
Saya pemuda yang suka memakai cincin. Tetapi bukan cincin emas karena itu dilarang keras. Saya melihat umumnya masyarakat cincin diletakkan pada jari-jemari tangan kiri. Saya juga melihat meski tidak banyak orang yang memakai cincin pada jari-jemari tangan kanan. Nah, yang saya tanyakan sunnah memakai cincin itu di tangan yang sebelah mana? Apakah dahulu Rasulullah suka memakai cincin? Dan di mana beliau meletakkan cincinnya? Ustadz, sebelumnya terimakasih banyak atas jawaban pertanyaan ini.
Budi Kurniawan, Megaluh Jombang.
Jawab:
Menurut Imam asSubky, menurut Rasulullah dalam hal kesehariannya termasuk sunnah, seperti meniru cara makan, cara berpakaian, cara bersisir dan lain sebagainya. Dari berbagai riwayat, terlihat Rasulullah suka memakai cincin (takhottum). Artinya, memakai cincin adalah sunnah. Beliau suatu saat pernah memakai cincin di jari kelingking tangan kanan dan suatu saat yang lain beliau memakainya pada tangan sebelah kiri, sebagaimana dalam hadits shohih, yang artinya:
"Adalah beliau bercincin pada tangan kanannya." (HR. Bukhori dan Tirmidzi)
"Adalah beliau bercincin pada tangan kirinya." (HR. Muslim dan Abu Dawud)
Dari sini memakai cincin baik di tangan kanan maupun tangan kiri sama-sama sunnahnya. Imam As Syafi’i berpendapat bahwa memakainya di sebelah kanan itu lebih utama. Sementara Imam Malik berpendapat sebaliknya. Imam Bukhori dan Imam Al Munawi memilih meletakkan cincin pada jari kelingking tangan kanan dengan alas an tangan kanan lebih pantas untuk diperindah. Sedang hadits lain yang menyatakan cincin Rasululla dipakai pada tangan kanan lalu diubah pada tangan kiri adalah hadits dhoif. Oleh karena itu tidak bisa dipakai hujjah. (Lihat Al Munawi: Fadlul Qodir Jilid V Dar. Al Ma’rifah, cet II Beirut).[] Selengkapnya...
Budi Kurniawan, Megaluh Jombang.
Jawab:
Menurut Imam asSubky, menurut Rasulullah dalam hal kesehariannya termasuk sunnah, seperti meniru cara makan, cara berpakaian, cara bersisir dan lain sebagainya. Dari berbagai riwayat, terlihat Rasulullah suka memakai cincin (takhottum). Artinya, memakai cincin adalah sunnah. Beliau suatu saat pernah memakai cincin di jari kelingking tangan kanan dan suatu saat yang lain beliau memakainya pada tangan sebelah kiri, sebagaimana dalam hadits shohih, yang artinya:
"Adalah beliau bercincin pada tangan kanannya." (HR. Bukhori dan Tirmidzi)
"Adalah beliau bercincin pada tangan kirinya." (HR. Muslim dan Abu Dawud)
Dari sini memakai cincin baik di tangan kanan maupun tangan kiri sama-sama sunnahnya. Imam As Syafi’i berpendapat bahwa memakainya di sebelah kanan itu lebih utama. Sementara Imam Malik berpendapat sebaliknya. Imam Bukhori dan Imam Al Munawi memilih meletakkan cincin pada jari kelingking tangan kanan dengan alas an tangan kanan lebih pantas untuk diperindah. Sedang hadits lain yang menyatakan cincin Rasululla dipakai pada tangan kanan lalu diubah pada tangan kiri adalah hadits dhoif. Oleh karena itu tidak bisa dipakai hujjah. (Lihat Al Munawi: Fadlul Qodir Jilid V Dar. Al Ma’rifah, cet II Beirut).[] Selengkapnya...
Labels:
Fas'alu
Sep 18, 2009
Khutbah Idul Fitri
Para pembaca yang budiman,
Insya Alloh Abi Ust.H.M. Ihya' Ulumiddin akan khutbah Idul Fitri 1430 H di masjid Rahmat Kembang Kuning Surabaya. Sholat akan dimulai pukul 06.00 wib. Semoga informasi ini bermanfaat. Selengkapnya...
Insya Alloh Abi Ust.H.M. Ihya' Ulumiddin akan khutbah Idul Fitri 1430 H di masjid Rahmat Kembang Kuning Surabaya. Sholat akan dimulai pukul 06.00 wib. Semoga informasi ini bermanfaat. Selengkapnya...
Labels:
Breaking News
Sep 8, 2009
Ya Alloh... Berikanlah Tambahan Jangan Pernah Mengurangi!
Seorang mukmin yang terbina wajib memahami bahwa setiap ibadah memiliki dimensi eksoteris dan esoteris (zhahir dan batin) atau memiliki kulit dan isi sebagaimana diisyaratkan oleh sabda Rasulullah shallallâhu 'alahi wasallam kepada seorang yang berbuat jelek dalam shalatnya: "Kembalilah melakukan shalat, sebab engkau belum melakukan shalat!" Muttafaq alaih.
Juga sabda Rasulullah shallallâhu 'alahi wasallam berikut ini: "Betapa banyak seorang yang melakukan Qiyamullail tetapi tidak mendapatkan apapun selain kecapekan dan kepayahan." HR. Ahmad.
"Betapa banyak orang yang berpuasa dan tidak ada bagian untuknya dari puasa tersebut kecuali lapar dan dahaga." HR. Thabarani.
Ulama zhahir menetapkan syarat-syarat zhahir bagi suatu amal ibadah karena keterkaitan syarat-syarat tersebut dengan kemurahan dan kemudahan agama ini. Bagi mereka, yang terpenting adalah segala bentuk beban syariat (takâlif) bisa mudah dilaksanakan oleh mayoritas orang-orang yang lupa. Jadi fokus perhatian mereka adalah bagaimana ibadah itu sah dan bisa diterima sebagai sebuah amal batin terpusat kepada bagaimana ibadah itu bisa diterima dalam arti bisa membawa kepada maksud dan tujuan pokok yang berupa rahasia-rahasia ibadah sebagai buah dari keikhlasan dalam menjalankannya sebagaimana contoh berikut:
1. Rahasia Thaharah
a. Mensucikan anggota tubuh dari kriminalitas dan dosa-dosa.
b. Mensucikan hati dari etika-etika tercela.
c.Mensucikan hati dari segala sesuatu selain Alloh.
Ini semua berdasarkan firman Alloh, "...Alloh tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Maidah: 6)
Rasulullah shallallâhu 'alahi wasallam bersabda, "Bersuci adalah separuh keimanan." HR. Turmidzi.
2. Rahasia Shalat
Shalat disyariatkan sebagai media bermunajat kepada Alloh ta'âlâ, menyegarkan kembali dzikir, takbir, ta'zhîm, tahmid dan pujian kepada-Nya. "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 45-46)
Karena itulah Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata, "Shalat menjadi sempurna bila disertai konsentrasi hati (hudhûr), berusaha memahami makna bacaan, perasaan ta'zhîm, haebah, pengharapan dan rasa malu."
3. Rahasia Zakat dan Sepadannya
Berakhlak dengan salah satu akhlak Alloh berupa rahmat yang seringkali diucapkan oleh lidah setiap muslim, Bismillâhirrahmânirrahîm. Hal ini memiliki maksud terciptanya suasana saling menyayangi satu dengan yang lain dalam komunitas kaum muslimin meski hanya dengan sedikit kebaikan sebagaimana sabda Rasulullah shallallâhu 'alahi wasallam, "Sungguh janganlah kalian meremehkan sedikit apapun kebaikan." HR. Abu Dawud.
Beliau juga bersabda:
"Sesungguhnya para wali Abdâl umatku tidak masuk surga dengan amal ibadah, tetapi mereka masuk surga hanya karena rahmat Alloh, jiwa yang dermawan (lowprofile), hati yang bersih dan kasih sayang kepada seluruh kaum muslimin." (al Mundziri berkata: Hadits Mursal riwayat Ibnu Abi Dun'ya/Kasyful Ghummah hal. 54)
4. Rahasia Puasa
a. Berakhlak dengan salah satu akhlak Alloh yang berupa shamadiyyah yang memiliki arti dzat yang tidak makan. Abu Amar mengatakan dalam Lisanul Arab; Shamad adalah seorang yang tidak merasakan haus dan lapar di medan peperangan.
b. Menteladani malaikat dalam mencegah diri dari syahwat sebisa mungkin. Atas dasar inilah para ulama membagi puasa menjadi tiga tingkatan:
- Puasa Umum. Mengekang perut dan kemaluan dari dorongan syahwat.
- Puasa Khushush. Menjaga pendengaran, penglihatan, lidah tangan, kaki dan seluruh anggota badan dari dosa-dosa.
- Puasa Khushûshul khushush. Hati berpuasa dari segala keinginan rendah, pemikiran-pemikiran keduniaan, menjaga hati dari segala hal selain Alloh serta hal-hal lain dari berbagai rahasia ibadah yang menjadi rencana utama terciptanya kita umat manusia di mana hal ini justru sedikit orang yang memahaminya kecuali kelompok al-ârifûn, para pemilik mata hati yang terang benderang. Ini bertolak belakang dengan kondisi orang-orang yang lupa dan orang-orang yang mencampur adukkan kebaikkan dan keburukan yang mayoritas keinginan mereka adalah segala sesuatu yang menopang urusan penghidupan, memudahkan mereka memperturutkan syahwat dan kelezatan badan dari urusan makanan, minuman, pakaian dan kebutuhan biologis serta mengumpulkan dan menyimpan harta benda.
Ya, Alloh, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kesehatan dalam keimanan. Keimanan dalam keindahan budi pekerti. Keberhasilan yang diikuti keberuntungan. Kasih sayang, afiyah, maghfirah dan ridha dari-Mu. Semoga rahmat ta'zhim selalu tercurah atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya selama orang-orang yang berdzikir mengingat-Nya dan orang-orang yang lupa melupakan-Nya.[]
Selengkapnya...
Juga sabda Rasulullah shallallâhu 'alahi wasallam berikut ini: "Betapa banyak seorang yang melakukan Qiyamullail tetapi tidak mendapatkan apapun selain kecapekan dan kepayahan." HR. Ahmad.
"Betapa banyak orang yang berpuasa dan tidak ada bagian untuknya dari puasa tersebut kecuali lapar dan dahaga." HR. Thabarani.
Ulama zhahir menetapkan syarat-syarat zhahir bagi suatu amal ibadah karena keterkaitan syarat-syarat tersebut dengan kemurahan dan kemudahan agama ini. Bagi mereka, yang terpenting adalah segala bentuk beban syariat (takâlif) bisa mudah dilaksanakan oleh mayoritas orang-orang yang lupa. Jadi fokus perhatian mereka adalah bagaimana ibadah itu sah dan bisa diterima sebagai sebuah amal batin terpusat kepada bagaimana ibadah itu bisa diterima dalam arti bisa membawa kepada maksud dan tujuan pokok yang berupa rahasia-rahasia ibadah sebagai buah dari keikhlasan dalam menjalankannya sebagaimana contoh berikut:
1. Rahasia Thaharah
a. Mensucikan anggota tubuh dari kriminalitas dan dosa-dosa.
b. Mensucikan hati dari etika-etika tercela.
c.Mensucikan hati dari segala sesuatu selain Alloh.
Ini semua berdasarkan firman Alloh, "...Alloh tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Maidah: 6)
Rasulullah shallallâhu 'alahi wasallam bersabda, "Bersuci adalah separuh keimanan." HR. Turmidzi.
2. Rahasia Shalat
Shalat disyariatkan sebagai media bermunajat kepada Alloh ta'âlâ, menyegarkan kembali dzikir, takbir, ta'zhîm, tahmid dan pujian kepada-Nya. "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 45-46)
Karena itulah Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata, "Shalat menjadi sempurna bila disertai konsentrasi hati (hudhûr), berusaha memahami makna bacaan, perasaan ta'zhîm, haebah, pengharapan dan rasa malu."
3. Rahasia Zakat dan Sepadannya
Berakhlak dengan salah satu akhlak Alloh berupa rahmat yang seringkali diucapkan oleh lidah setiap muslim, Bismillâhirrahmânirrahîm. Hal ini memiliki maksud terciptanya suasana saling menyayangi satu dengan yang lain dalam komunitas kaum muslimin meski hanya dengan sedikit kebaikan sebagaimana sabda Rasulullah shallallâhu 'alahi wasallam, "Sungguh janganlah kalian meremehkan sedikit apapun kebaikan." HR. Abu Dawud.
Beliau juga bersabda:
"Sesungguhnya para wali Abdâl umatku tidak masuk surga dengan amal ibadah, tetapi mereka masuk surga hanya karena rahmat Alloh, jiwa yang dermawan (lowprofile), hati yang bersih dan kasih sayang kepada seluruh kaum muslimin." (al Mundziri berkata: Hadits Mursal riwayat Ibnu Abi Dun'ya/Kasyful Ghummah hal. 54)
4. Rahasia Puasa
a. Berakhlak dengan salah satu akhlak Alloh yang berupa shamadiyyah yang memiliki arti dzat yang tidak makan. Abu Amar mengatakan dalam Lisanul Arab; Shamad adalah seorang yang tidak merasakan haus dan lapar di medan peperangan.
b. Menteladani malaikat dalam mencegah diri dari syahwat sebisa mungkin. Atas dasar inilah para ulama membagi puasa menjadi tiga tingkatan:
- Puasa Umum. Mengekang perut dan kemaluan dari dorongan syahwat.
- Puasa Khushush. Menjaga pendengaran, penglihatan, lidah tangan, kaki dan seluruh anggota badan dari dosa-dosa.
- Puasa Khushûshul khushush. Hati berpuasa dari segala keinginan rendah, pemikiran-pemikiran keduniaan, menjaga hati dari segala hal selain Alloh serta hal-hal lain dari berbagai rahasia ibadah yang menjadi rencana utama terciptanya kita umat manusia di mana hal ini justru sedikit orang yang memahaminya kecuali kelompok al-ârifûn, para pemilik mata hati yang terang benderang. Ini bertolak belakang dengan kondisi orang-orang yang lupa dan orang-orang yang mencampur adukkan kebaikkan dan keburukan yang mayoritas keinginan mereka adalah segala sesuatu yang menopang urusan penghidupan, memudahkan mereka memperturutkan syahwat dan kelezatan badan dari urusan makanan, minuman, pakaian dan kebutuhan biologis serta mengumpulkan dan menyimpan harta benda.
Ya, Alloh, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kesehatan dalam keimanan. Keimanan dalam keindahan budi pekerti. Keberhasilan yang diikuti keberuntungan. Kasih sayang, afiyah, maghfirah dan ridha dari-Mu. Semoga rahmat ta'zhim selalu tercurah atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya selama orang-orang yang berdzikir mengingat-Nya dan orang-orang yang lupa melupakan-Nya.[]
Selengkapnya...
Labels:
Tausiyah
Aug 21, 2009
After Vertigo
Ikhwani wa Akhwati hafidhokumullah,
Setelah Ust. Ihya' mengalami vertigo 2 bulan ini, vertigo beliau datang, pergi, datang lagi begitu seterusnya. Vertigo beliau tidak dapat dipastikan datangnya. Atas saran seorang akhwat, Ust. Ihya' berobat ke dokter syaraf di rumah sakit haji. Hasilnya, Ust. Ihya' diharuskan CT Scan Kepala, Rekam Otak (EEG) dan cek darah lengkap. Ini untuk melihat efek vertigo yang dialami beliau, bersifat permanen ataukah tidak. Juga untuk melihat efek-efek yang lainnya akibat vertigo yang dialami beliau.
Mohon doa para jamaah sekalian. Selengkapnya...
Setelah Ust. Ihya' mengalami vertigo 2 bulan ini, vertigo beliau datang, pergi, datang lagi begitu seterusnya. Vertigo beliau tidak dapat dipastikan datangnya. Atas saran seorang akhwat, Ust. Ihya' berobat ke dokter syaraf di rumah sakit haji. Hasilnya, Ust. Ihya' diharuskan CT Scan Kepala, Rekam Otak (EEG) dan cek darah lengkap. Ini untuk melihat efek vertigo yang dialami beliau, bersifat permanen ataukah tidak. Juga untuk melihat efek-efek yang lainnya akibat vertigo yang dialami beliau.
Mohon doa para jamaah sekalian. Selengkapnya...
Labels:
Breaking News
Subscribe to:
Posts (Atom)