Jul 3, 2016

Angka Standar Pembayaran Fidyah

Pertanyaan:

Saya sekarang dalam keadaan hamil muda dan tidak kuat berpuasa.Seperti yang saya ketahui dari sebagian teman bahwa fidyah itu adalah sama dengan uang 15 000. Sebenarnya berapa jumlah fidyah yang harus saya keluarkan?

Anita, Babat Lamongan

Jawaban:

Menurut madzhab Imam Syafii dan Imam Ahmad, jika wanita hamil atau ibu menyusui tidak berpuasa karena khawatir keselamatan kandungan dan bayinya saja maka mereka wajib qodho’ dan membayar fidyah. Jika khawatir keselamatan diri atau dan kandungan serta bayinya maka hanya wajib qodho’, tidak usah fidyah. Hal ini sesuai dengan madzhab Ibnu Umar radhiyallahu anhumaa seperti diriwayatkan oleh Nafi’ bahwa ketika ditanya tentang wanita hamil yang khawatir akan kandungannya maka Ibnu Umar berkata, “ Wanita itu boleh tidak berpuasa dan memberi makan orang miskin satu mud gandum sebagai ganti dari sehari“.

Sementara itu, menurut riwayat dari Ibnu Abbas, wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa karena khawatir anaknya maka tidak wajib qodho’ dan hanya wajib fidyah. Beliau berkata kepada Jariyahnya yang sedang hamil, “ Kamu sama dengan orang yang tidak kuat berpuasa, maka hanya wajib bagimu membayar fidyah dan tidak wajib atasmu meng qodho’ (Diriwayatkan dan dishohihkan oleh Imam Daru Quthni). Dalam madzhab Imam Abu Hanifah, Abu Tsaur dan Abu Ubed, wanita hamil dan ibu menyusui hanya wajib mengqodho’ saja dan tidak ada fidyah.

Terkait dengan jumlah fidyah bagi wanita hamil dan ibu menyusui, maka berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar ra di atas adalah 1 Mud yang dalam takaran sekarang hanya sekitar 6 ons. Jika mengacu kepada ini maka yang wajib dibayarkan memang hanya sejumlah itu. Sementara  jumlah uang 15 000 seperti yang disampaikan teman anda maka sangat mungkin perhitungan ini berdasarkan kondisi pada masa dahulu yang memang makanan pokok ketika itu (gandum/kurma) 1 Mud cukup untuk makan sehari dalam standar hidup kala itu. Sementara dalam standar hidup masa sekarang, tentunya beras 6 ons adalah ukuran di bawah standar hidup (apakah mungkin makan hanya dengan beras?) Jadi jumlah 15 000 adalah sesuai dengan standar hidup masa sekarang (5000 x 3 kali makan).

Perhitungan demikian mirip dengan pembayaran Diyat ( tebusan yang harus dibayar oleh pembunuh ) yang berupa 100 unta. Membayar tebusan 100 unta untuk ukuran sekarang adalah hal yang tidak mungkin, karena unta yang langka dan sangat mahal. Karena itu perlu merujuk kembali kepada kondisi saat itu di mana satu unta cukup untuk makan seratus orang dalam sehari. Artinya Diyat masa sekarang adalah biaya hidup seratus orang dalam sehari kali seratus yang berarti biaya hidup sepuluh ribu orang. Jika satu orang dalam sehari biaya hidupnya adalah 15000 berarti angka Diyat adalah 15000 x 10. 000 = 150. 000. 000. Wallohu A’lam

Jun 20, 2016

Melihat dan Mencekik Setan, Mencari ilmu mulai gendongan Ibu, Pahala Uang Sumbangan yang diselewengkan

Pertanyaan:

A-Saya pernah membaca  Kitab Risalah Muawanah, dan di sana ada bacaan:

وَيَقُوْلُ (رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ) وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ إِنِّي َلأَرَي الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ فِي خِلاَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهُ الْحَذَفُ .   يعْنِي الْغَنَمَ الصِّغَارَ  
Apa tafsiran dari ungkapan al Hadzaf, lalu bagaimana kaitan hadits tersebut jika dikaitkan dengan hadits yang menyebutkan bahwa ketika datang bulan Romadhon maka pintu–pintu surga dibuka, pintu–pintu neraka ditutup serta setan–setan diikat?

B–Seseorang dituntut agar mencari ilmu sejak lahir sampai mati, bisakah anak yang baru lahir itu menuntut ilmu, sedangkan akalnya masih belum sempurna, lantas apakah anak itu berdosa jika tidak menuntut ilmu, padahal dia baru dilahirkan? 

C–Si Fulan pernah memberikan sumbangan uang ke Masjid untuk pembelian semen. Uang tersebut diserahkannya kepada Ta’mir Masjid, tetapi oleh Ta’mir uang itu malah digunakan untuk kepentingan pribadinya. Jika begini apakah uang si Fulan tetap termasuk amal jariyah? Lalu sampai kapan pahala amal jariyah itu tetap mengalir?

Muhammad Adnawi, Pangarangan Sumenep Madura



Jawaban:

A–Ungkapan ini adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra tentang pentingnya serta perhatian besar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam soal mengatur barisan dalam sholat. Lengkapnya hadits tersebut adalah:

رُصُّوْا صُفُوْفَكُمْ وَقَارِبُوْا بَيْنَهَا وَحَاذُوْا بِاْلأَعْنَاقِ فَوَالَّذِي ..

 “Lekatkanlah (rapatkan) barisan kalian, dekatkanlah di antaranya (antara barisan depan belakang/ sekitar tiga hasta atau tiga kali 48 CM), dan luruskan leher, maka demi Dzat yang diriku ada dalam KekuasaanNya, sungguh aku melihat setan masuk di sela–sela barisan laksana kambing hitam / Hadzaf”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud nomor 660 serta juga ditulis oleh Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin. Maksud kata al Hadzaf, adalah sesuai dengan artinya sendiri yaitu anak kambing hitam yang banyak terdapat di daerah Yaman. Dan memang dalam Hadits ini Rosululloh Saw menjelaskan telah melihat setan dalam bentuk seperti itu. Fenomena ini tentu saja merupakan salah satu keistimewaan Beliau Saw selaku seorang Utusan Alloh. Bahkan  tidak hanya melihat, Nabi Saw juga sempat mencekik setan, seperti sabda Beliau Saw yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh:

إِنَّ الشَّيْطَانَ عَرَضَ لِيْ فَشَدَّ عَلَيَّ لِيَقْطَعَ الصَّلاَةَ عَلَيَّ فَأَمْكَنَنِيَ اللهُ فَذَعَّـتُّـهُ , وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أُوْثِقَـهُ  إِلَي سَارِيَةٍ حَتيَّ تُصْبِحُوْا فَتَـنْظُرُوْا إِلَيْـهِ , فَذَكَرْتُ قَوْلَ سُلَيْمَانَ : "رَبِّ هَبْ لِيْ مُلْكاً لاَ يَنْبَغِيْ ِلأَحَدٍ مِنْ بَعْدِيْ " فَرَدَّهُ الله خَاسِئًا

“Sesungguhnya setan menggoda dan memaksa supaya memutus sholatku hingga lalu Allah memberiku kemampuan untuk bisa mencekikya. Sungguh aku ingin sekali mengikatnya pada salah satu tiang (masjid) hingga pada pagi harinya kalian bisa melihat, tetapi aku kemudian mengingat do’a Sulaiman: “Ya Tuhanku, berilah diriku kekuasaan yang tidak seyogya dimiliki oleh seorang pun setelahku” akhirnya Allah mengusir setan itu dengan hina” HR Bukhori/Bab Ma Yajuuzu Minal Amal Fissholat.

Adapun hadits tentang pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup serta setan diikat maka jika semua ini diartikan secara zhohir berarti juga menjadi salah satu keistimewaan Nabi Saw yang juga masih terkait dengan masalah di atas soal melihat dan mencekik setan. Sementara jika diartikan lain maka maknanya adalah bahwa pada bulan Romadhon manusia mudah sekali beramal baik yang layak mendapat pahala di surga, sementara dia mudah sekali meninggalkan larangan yang akan menjadikannya masuk neraka serta dalam bulan Romadhon, saat manusia berpuasa setan seperti terikat, maksudnya pengaruhnya kepada manusia sangat lemah, sebab setan berjalan dalam diri manusia mengikuti aliran darah, sementara dalam keadaan berpuasa aliran darah melemah. Wallohu A’lam

B –  
أُطْلبُوُا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَي اللَّحْدِ
“Carilah ilmu mulai ayunan sampai kuburan”

Ungkapan ini bukanlah Hadits, kendati telah biasa diungkapkan oleh banyak orang. Sebagai salah satu buktinya coba anda melihat dan meneliti seluruh kitab – kitab Hadits yang tersebar maka anda tak pernah akan menemukan ungkapan ini tertera di sana. Demikian Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah menegaskan dalam Qiimatuz Zamaan Indal Ulama’. Jika bukan hadits berarti tak ada kewajiban bagi anak yang baru lahir untuk menuntut ilmu. Meski begitu, dari ungkapan ini dapat diambil pelajaran bahwa menuntut ilmu harus dilakukan sejak dini dan tak ada kata berhenti. Ini artinya siapapun dan apapun statusnya seseorang harus terus berusaha menambah ilmu, yang itu berarti dia tetap butuh pada bimbingan dan petunjuk orang lain yang lebih pandai darinya, ingatlah bahwa “Dan di atas orang yang memiliki ilmu ada orang yang memiliki ilmu”QS Yusuf: 76. Dengan terus menambah ilmu berarti seseorang berpeluang untuk terus meningkatkan dan merubah amalnya menuju yang lebih baik, sebab barang siapa yang mandek ilmunya maka mandek pula amalnya. Terus menambah ilmu juga diperintahkan oleh Allah dalam firmanNya: “Dan berdo’alah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu untukku” QS Thoha : 114. Rosululloh Saw sendiri berdo’a: “Ya Allah, berilah aku manfaat ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku hal yang bermanfaat bagiku dan tambahilah ilmuku, dan segala puji bagi Alloh dalam semua keadaan”HR Turmudzi.

Perlu juga dimengerti bahwa seorang anak tidak termasuk Mukallaf, sehingga dia baligh. Kendati demikian jika si anak melakukan kebaikan maka ada pahala masuk ke rekening amal  orang tua, sebab anak adalah hasil usaha dan jerih payah orang tuanya. Sebaliknya jika si anak melakukan keburukan maka sama sekali tak ada dosa bagi orang tua. Ingatlah firman Allah: “Seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” QS al An’am: 164. Anugerah Allah ini diperjelas oleh sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  riwayat Anas ra:

الْمَوْلُوْدُ حَتيَّ يَبلَغَ الْحِنْثَ  مَا عَمِلَ مِنْ حَسَنَةٍ كُتِبَتْ لَهُ وَلِوَالِدَيْهِ وَمَا عَمِلَ مِنْ سَيِّـئَةٍ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْهِ وَلاَ عَلَي وَالِدَيْهِ فَإِذَا بَلَغَ الْحُلُمَ أُجْرِيَ عَلَيْهِ الْقَلَمُ

“Seorang bayi sampai dewasa, kebaikan yang dia lakukan ditulis untuknya serta kedua orang tuanya. Sedang amal keburukan yang dia lakukan tidak ditulis atasnya atau kedua orang tuanya. Dan ketika dia mencapai dewasa maka Qolam berjalan atasnya”( Fathur Rohiimu Rohmaan.)

C- Selama si Fulan tulus semata karena Allah dalam memberikan uang itu untuk membeli semen sebagai amal jariyah baginya maka Insya Allah dia tetap dan terus akan mendapatkan pahala. Sebab Allah Maha Pemberi anugerah memberi pahala seseorang karena niat lebih besar daripada memberi pahala karena amal. Sungguh amal tanpa niat tidak sah dan sama sekali tidak mendapat pahala, sementara hanya dengan niat seseorang bisa memperoleh pahala besar. Ingatlah sabda Rasulullah Saw: “Sesungguhnya sahnya amal adalah dengan niat, dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan”Muttafaq Alaihi.

Dalam Jawahir al Lu’luiyyah (Syarah Arbain an Nawawiyyah milik Muhammad bin Abdullah al Jardaani ad Dimyathi), disebutkan bahwa pada hari kiamat nanti Allah berfirman kepada malaikat pencatat amal: “Tulislah untuk hambaKu pahala begini dan begini!”. Para malaikat pencatat amal bertanya: Ya Alloh, kami tidak mendapatkan ini semua darinya, atau dalam catatan amalnya. Allah lalu berfirman: “Dia telah meniatinya”. Disebutkan pula bahwa pada kiamat nanti ada seorang yang menerima buku catatan amalnya dengan tangan kanan, lalu di sana dia menemukan haji, jihad dan sedekah, padahal dia merasa tidak pernah melakukannya. Dia berkata: Ini bukan catatan amalku, sebab aku tidak pernah melakukan ini semua. Alloh lalu berfirman: “Ini memang catatan amalmu, sebab kamu telah hidup berusia panjang dan selalu mengatakan: Andai aku punya harta maka aku akan berhaji, andai aku punya harta maka aku akan bersedekah. Aku mengerti bahwa itu semua muncul dari kesungguhan niatmu hingga Akupun memberikan pahala semua itu untukmu”. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيُعْطِي الْعَبْدَ عَليَ نِيَّـتِهِ مَا لاَ يُعْطِيْهِ عَلَي عَمَلِهِ


“Sesungguhnya Alloh pasti memberi seorang hamba karena niatnya apa yang tidak Dia berikan kepadanya karena amalnya”HR Dailami.

Pemahaman Ikhlash dari Madrasah Ramadhan


Firman Allah ta’alaa: “agar kalian bertaqwa” di akhir ayat tentang kewajiban puasa (QS al Baqarah:183) memberikan gambaran kepada kita bahwa puasa adalah madrasah taqwa. Setiap madrasah memiliki manhaj dan tentunya setiap manhaj memiliki landasan. Adalah sesuatu yang sudah dimaklumi bahwa taqwa adalah manhaj kehidupan untuk meraih keridhoan Allah ta’alaa.

Taqwa mempunyai landasan yaitu Ikhlash seperti difirmankan Allah: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama....QS al Bayyinah:5, dan merupakan hal yang menjadikan setan berputus asa dari menyesatkan orang-orang yang ikhlash seperti difirmankan Allah: Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka"QS al Hijr:39-40.
Dan dari sudut pandang bahwa puasa –seperti diriwayatkan- sebagai pintu ibadah yang menjadikan orang yang sedang berpuasa merasa ringan menjalankan ibadah-ibadah yang lain seperti shalat, zakat, haji dll karena puasa terasa lebih berat bagi nafsu dan lebih terkait dengan penjernihannya, maka Rasulullah Saw menekankan tentang Ihklash dalam puasa dengan sabda beliau: “Barang siapa berpuasa ramadhan karena iman dan mencari pahala dari Allah maka diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Ahmad Bukhari Muslim dan Imam empat. Ini shahih). Imam al Khathib al Baghdadi menambahkan riwayat: “...dan dosa-dosa yang akan berlaku”, tetapi ini (dha’if)[1].
Bahasa karena iman memberikan isyarat  kewajiban ikhlash dalam beramal karena Allah, yakni bermaksud mendekatkan diri kepada Allah, mengagungkan perintahNya[2] dan memenuhi seruanNya[3] karena Dialah satu-satunya Dzat Pemberi anugerah[4]. Sebaliknya adalah nifaq.
Bahasa Ihtisab atau mencari pahala dari Allah  memberikan isyarat keharusan ikhlash dalam mencari pahala dari Allah, yaitu keinginan mendapatkan manfaat akhirat dengan amal kebaikan. Sebaliknya adalah riya’ atau pamer, yaitu keinginan memperoleh manfaat dunia dengan amalan akhirat. Baik berharap secara langsung dari Allah atau dari manusia. Jadi ikhlash ada dua sebagaimana disebutkan.

Kemudian Rasulullah Saw menjelaskan janji Allah terkait balasan ikhlash yang terdorong oleh puasa dengan firman Allah dalam hadits qudsi:Seluruh amal anak Adam adalah miliknya kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa itu milikKu dan Aku akan memberikan balasannya” (Diriwayatkan oleh al Khamsah/lima perowi hadits).

Ungkapan ini (  وأنا أجزي به ) menunjukkan kiranya tiada balasan yang lebih baik daripada balasan Allah kepada hambaNya yang berpuasa. Karena inilah dikatakan: “Barang siapa yang ikhlash karena Allah maka pasti menampak berkah jejak langkahnya”.
Memang demikian halnya, akan tetapi ikhlash sudah pasti memerlukan dalil (bukti) berupa senantiasa mau berkorban dalam segala jenis amalan disertai totalitas sabar, mushabarah, murabathah, ketabahan, ridho dengan pembagian dan kepastian sekaligus sekuat tenaga menjaga diri dari sepuluh hal:

1.           Nifaq,  : Sebaliknya beramal karena Allah
2.        Riya’         : Sebaliknya Ikhlash mencari pahala
3.        Takhlith/Mencampur aduk : Sebaliknya Taqwa
4.        al Mann/Mengungkit-ungkit :
 Sebaliknya menyerahkan amal kepada Allah
5.        al Adzaa/Menyakiti :
 Sebaliknya membentengi   amal
6.        An Nadamah/Menyesali :
Sebaliknya meneguhkan hati
7.        al Ujub/Rumongso :
Sebaliknya mengingat anugerah hanya kepada Allah
8.     al Hasrah/Nelongso:
Sebaliknya mencari kebaikan
9.    At Tahawun/Meremehkan :
Sebaliknya mengagungkan taufiq
10.              Takut dicela manusia :
 Sebaliknya takut kepada Allah

Buah ikhlash adalah kelanggengan dan kesinambungan amal sebagai berkah penjagaan dan perawatan dari Allah sebagaimana dikatakan: “Segala sesuatu karena Allah pasti langgeng dan bersambung. Dan segala sesuatu yang bukan karena Allah maka akan terputus dan terpisah”. Allah berfirman: “...Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”QS Ar Ra’d:17.

Begitulah madrasah ramadhan yang memberikan bimbingan agar seluruh amalan kita, metode dan jalan yang ditempuh, berdiri di atas landasan ini. Inilah roh ketaqwaan yang menjadi syarat diterimanya ketaatan.Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa”QS al Maidah:27.




Ramadhan telah datang. Selamat atas kedatangannya
Sungguh beruntung orang yang berharap keberuntungan dan mengejarnya
Ramadhan madrasah petunjuk, ketaqwaan
dan kemuliaan. Segala kebaikan bisa didapatkan
Ya Allah, selamatkanlah kami untuk ramadhan dan selamatkanlah ramadhan untuk kami. Serahkanlah ia pada kami dengan diterima (sebagai amal sholeh). Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berpuasa dan menjalankan hak-haknya.
Walhamdu Lillaahi rabbil aalamiin
والله يتولى الجميع برعايته==

Referensi;

  1. Dzikroyaat wa Munaasabaat. Abuya As Sayyid al Walid
  2. Bustanul Waa’izhiin wa riyaadhussaami’in. Imam Ibnul Jauzi
  3. Raudhatuth thalibin wa umdatussalikin. Imam Ghazali.





[1] Al Jami’ As Shaghir 2/174
[2] QS al Hajj:32
[3] QS al Anfaal:24
[4] QS Yunus:58

Jun 13, 2016

Berpuasa tapi tidak Shalat

Pertanyaan:

Banyak orang menjalankan puasa Ramadhan tetapi shalatnya tidak dilaksanakan. Apakah puasa orang semacam ini tetap sah? Bagaimana memandang kasus ini? Harap diterangkan.

Fulan, di Bumi Allah



Jawaban:

Puasa adalah ibadah tersendiri. Dia tidak terkait dengan shalat. Dengan demikian, puasa orang yang tidak shalat tetap dihukumi sah dan insyaallah mendapatkan pahala selama amaliah puasanya ikhlas karena Allah subhanahu wata’ala. Boleh jadi hal ini karena bulan Ramadhan memiliki daya tarik (magnitude) tersendiri bagi kebanyakan orang untuk turut serta menyemarakkannya. Amal baik yang dipersembahkan untuk Allah subhanahu wata’ala sekecil apapun niscaya ada nilainya dan tidak akan disia-siakan. Di dalam Al Qur’an disebutkan:

فَمَن يَعِمَلْ مَثْقَالَ ذَرَّةٍخَيْرًايَرَهُ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

"Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun niscaya dia kan melihat balasan-nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun niscaya dia kan melihat balasannya pula". (Q.S. Az Zalzalah: 7-8)

Hanya saja orang yang melaksanakan puasa dituntut hendaknya meningkatkan kapasitas diri dalam menyempurnakan rukun Islam dengan melaksanakan ibadah shalat. Karena tidak kalah dengan puasa, shalat adalah ibadah yang memiliki posisi penting dalam jajaran rukun Islam. Shalat adalah tiang agama. Meninggalkannya adalah kefasikan (perbuatan dosa). Sementara sebagian ulama menyebut meninggalkannya adalah suatu kekafiran. (Shiyamak, Abdul Alim Abdurrahman Assa’di, hal 41& Fiqh Ash Shiyam, Al Qardhawi, hal 143).

Jun 12, 2016

Menjadi Manusia Cerdas



Begitu indah orang berkata:

Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang cerdas
yang tidak terpesona oleh dunia dan bahkan mengkhawatirkan fitnah-fitnahnya
Mereka mengamati dunia, lalu ketika mengetahui bahwa ia bukanlah tempat tinggal bagi orang yang hidup
Maka mereka menganggapnya sebagai samudera yang harus dilalui dengan perahu-perahu amal keshalehan

Dunia adalah tempat ujian dan fitnah secara fisik maupun psikis. Fitnah dunia sungguh semakin berat jika datang dari orang-orang yang hidup bersama kita; isteri-isteri dan anak-anak kita. Karena itu Allah memperingatkan agar kita tidak terjebak dalam fitnah ini yang secara khusus disebutkan oleh Allah dalam firmanNya: “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya sebagian dari isteri-isterimu dan anak-anakmu adalah musuh bagimu maka waspadalah...”QS At Taghabun:14.
Disebutkan bahwa ayat ini diturunkan terkait orang-orang yang telah masuk islam semenjak di Makkah dan bermaksud hijrah (ke Madinah) akan tetapi langkah mereka surut dan tertahan oleh isteri-isteri dan anak-anak mereka. Demikian seperti dikatakan oleh Ibnu Abbas ra.  Al Qadhi Abu Bakar bin Al Arabi mengatakan: [Ini menjelaskan sisi permusuhan (yang dimaksudkan) karena musuh bukanlah dianggap musuh kecuali sebab perbuatannya. Jadi apabila isteri dan anak berbuat seperti perbuatan musuh maka mereka berdua adalah musuh karena tidak ada perbuatan yang paling buruk daripada menghalangi antara seorang hamba dengan ketaatan]

Al Hasan (al Bashri) mengatakan:
[Digunakan huruf Jarr “Min” untuk menunjukkan arti sebagian karena tidak keseluruhan mereka berubah menjadi musuh dalam arti sebagian mereka ada yang melakukan perbuatan melawan agama sehingga dengan perbuatan melawan ini mereka dianggap sebagai musuh yang perlu diwaspadai dan tidak boleh diremehkan akan bahaya dan keburukan mereka]

Hal paling berbahaya yang bisa memberikan pengaruh kepada perbuatan melawan agama pada sekarang ini adalah terjadinya apa yang sudah beritakan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam sabda Beliau; “...kemudian akan ada fitnah yang memasuki seluruh rumah orang Arab (penduduk muslimin) tanpa terkecuali” HR Bukhari. “Termasuk tanda-tanda kiamat adalah anak-anak menjadi sumber kemarahan( orang tua)...”HR Thabarani. “Akan terjadi fitnah-fitnah yang membuat orang bijak pun merasa kebingungan di dalamnya”

Fitnah semacam ini dalam penilaian kita tidak lain adalah fitnah yang berkembang saat ini berupa TV, Komputer, Internet, Face Book, Twitter dan HP dll bagi siapa saja yang tidak bisa mengambil manfaat positifnya, lagu-lagu, para selebritis dan konser-konser musik. Sungguh semuanya sudah mewabah dan disaksikan oleh seluruh orang. Karena seringkali bersentuhan sehingga hati menganggapnya biasa dan merasa kerusakan ini bukanlah hal yang serius serta tidak perlu dipermasalahkan. Laa haula walaa quwwata illaa billaah al aliiy al azhiim.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda; “Ingat, sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging; jika daging itu baik maka seluruh tubuh juga baik dan jika daging itu rusak maka seluruh tubuh menjadi rusak”HR Bukhari Muslim.
Hati yang rusak adalah hati yang sakit. Hati yang sakit adalah hati yang diliputi kegelapan. Hati yang sakit berbahaya bagi pemiliknya; dalam agamanya sebagai modal meraih keberuntangan dunia akhirat, juga dalam akhiratnya sebagai rumah yang langgeng dan abadi baginya.

Hati yang sakit bisa diidentifikasi melalui gejala-gejala yang muncul di mana yang paling dominan adalah bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan, merasa berat melakukan kebaikan-kebaikan, serta sikap rakus terhadap kesenangan dan kelezatan dunia, sama sekali jauh dari memperlakukan dunia sebagai ladang akhirat.
Jika gejala-gejala tersebut muncul maka seseorang wajib berusaha melakukan terapi  pengobatan. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman!  penuhilah Allah jika Dia Memanggilmu menuju hal yang bisa membuatmu selalu hidup –menghidupkan hatimu – dan ketahuilah bahwa  sesungguhnya Allah Menghalangi antara seseorang dan hatinya dan sesungguhnya kepadaNya-lah kalian dikumpulkan”QS Al Anfaal:24.

Ayat ini memberikan arahan untuk melakukan pengobatan hati dan berusaha selalu menghidupkannya dengan berbagai macam cara di mana yang paling memudahkan mencapai tujuan adalah dengan mencari seorang Guru Murabbi yang akan selalu membimbing dan mengarahkan, yang bisa melihat hati dan membersihkan akhlak,  yang akan memegang tangannya menuju Allah,  dan yang karena bershuhbah dengan guru itu Allah menjaga dirinya dari keburukan, hawa nafsu dan kemaksiatan.
Apabila tidak menemukan guru seperti itu maka mencari teman yang shaleh yang selalu memberi nasehat. Saran dan pendapat  teman seperti ini bisa membantu mengenali penyakit hati dan pengobatannya.
Atau mencari Jamaah yang patut untuk bergabung di dalamnya agar bisa turut serta bersama yang lain dalam memperbaiki hati.
Jika semuanya tidak ditemukan - sebagaimana kondisi mayoritas masyarakat sekarang ini yang susah mencari orang-orang yang bisa saling membantu dalam kebaikan dan kebenaran – maka harus melakukan secara rutin iltizamat berikut ini:

  1. Menjalankan shalat dan keharusan-keharusannya yang berupa; mendirikannya, menjaganya, khusyu’, khudhur dan melanggengkannya. Sungguh shalat bisa menghilangkan kotoran-kotoran hati.
  2. Memperbanyak bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam karena shalawat bisa menambal keretakan hati.
  3. Membaca Alqur’an karena membaca Alqur’an bisa membersihkan karat-karat hati
  4. Merutinkan wirid-wirid dan dzikir-dzikir serta menghadiri majlis-majlis dzikir yang di antaranya adalah majlis ilmu.
  5. Menetapi Istighfar. Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah mengatakan: [Carilah hatimu dalam tiga suasana; ketika mendengarkan Alqur’an, dalam majlis-majlis dzikir dan dalam waktu-waktu khalwah. Jika kamu tidak menemukkannya dalam suasana-suasana ini maka memohonlah kepada Allah agar menganugerahkan hati kepadamu karena kamu sama sekali tidak memiliki hati]

Ada do’a-do’a ma’tsur yang menjadi dalil adanya peluang merubah akhlak yang tercela seperti berikut:

  1. Ya Allah, sesungguhnya saya memohon perlindunganMu dari kejahatan diriku dan dari kejahatan seluruh binatang melata yang ubun-ubunya ada dalam genggamanMu . sesungguhnya Tuhanku berada pada jalan yang lurus”
  2. “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon perlindunganMu dari akhlak yang mungkar, menuruti keinginan nafsu dan dari berbagai penyakit”
  3. “Ya Allah, tunjukkanlah diriku akan akhlak yang baik karena tidak ada yang menunjukkan akan  akhlak yang baik kecuali Engkau. Hindarkanlah keburukan akhlak dariku. Karena tak  ada yang menghindarkannya dariku kecuali Engkau”

=والله يتولى الجميع برعايته=

May 31, 2016

Menanggalkan Fanatisme Ashabiyyah (Fanatisme)

Ashabiyyah berasal dari kata Ashabah  yang artinya keluarga dekat (Aqaarib)  dari pihak ayah. Selanjutnya muncul bahasa Ashabiyy bagi orang yang marah dan membela keluarga dekatanya. Kemudian lahir istilah Ashabiyyah ketika ada perbuatan atau perlakuan yang mendukung dan mengikuti orang yang disayanginya tanpa peduli apakah orang yang disayanginya itu benar atau salah. Watsilah bin al Asqa’ bercerita: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  tentang apakah itu Ashabiyyah? Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Jika kamu membela kaummu atas suatu kezaliman“ HR Abu Dawud

Ibnu Mas’ud ra berkata: “Barang siapa yang membela kaumnya atas suatu kesalahan maka dia tak lebih seperti unta yang terjatuh ke dalam sumur kemudian ditarik ekornya” Imam Khatthabi menjelaskan bahwa maksud ucapan Ibnu Mas’ud ra ini adalah bahwasanya seorang yang terlilit rantai fanatisme berarti dia terjatuh dalam dosa dan mengalami kematian seperti nasib yang dialami oleh unta yang terjatuh ke dalam sumur dan kemudian ditarik keluar dengan ekornya
yang tentu saja unta itu tak akan bisa keluar dari sumur tersebut. Seperti lazimnya sifat–sifat buruk yang lain, Ashabiyyah juga muncul dalam berbagai model:

1.      1. Fanatisme keluarga, Tidak menerima bahwa keluarganya telah bertindak salah
dan tetap merasa bahwa apa yang dilakukan keluarganya itu benar. Fanatisme seperti ini kerap kali muncul ketika keluarga mengalami perselisihan dengan keluarga yang lain. Lihatlah sikap orang tua yang selalu membela anaknya saat terjadi pertikaian antara anaknya dengan anak tetangga. Atau seorang anak tak jarang juga turut membela orang tuanya tanpa terlebih
dahulu melihat siapa yang benar siapa yang salah. Memang Islam telah menetapkan salah satu standar bahwa orang yang paling baik adalah yang paling baik berbuat baik kepada keluarga, dan salah satu jenis perbuatan baik kepada keluarga adalah melakukan pembelaan untuk keluarga, akan tetapi Islam juga memberi gambaran jelas batasan pembelaan.
Suraqah bin Malik ra berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam berkhuthbah, Beliau bersabda: “Sebaik–baik kalian adalah orang yang melakukan pembelaan untuk keluarga selama dia tidak melakukan dosa “  HR Abu Dawud.

Selain menjadikan standar kebaikan, pembelaan yang dilakukan untuk keluarga juga telah ditetapkan oleh Islam sebagai salah satu jalan meraih kesyahidan (Syahaadah),  
Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :  “Barang siapa yang terbunuh di bawah hartanya maka dia Syahid, barang siapa yang terbunuh di bawah keluarganya atau darahnya atau agamanya maka dia Syahid”  HR Abu Dawud.

Predikat sebagai orang terbaik dan gelar sebagai seorang Syahid ini diraih jika memang seseorang membela keluarganya yang teraniaya, artinya jika dia tidak melakukan dosa dalam pembelaan itu dengan membela keluarganya yang melakukan kesalahan.

2.      2.Fanatisme Pertemanan. Teman, setiap orang membutuhkan teman untuk berbagi
rasa, memberi bantuan saat sulit menghimpit, mencerahkan kala suram duka menyiram. Fungsi–fungsi seperti ini tak jarang membuat manusia begitu menyayangi teman lebih dari
saudara. Rasa sayang yang besar itu juga sering kali membuat manusia menjadi tajam mata dengan kebaikan teman serta buta pandangan akan keburukan–keburukannya. Sikap seperti ini sebenarnya jika disadari justru akan menghancurkan teman tersayang, karena dengan sikap itu seseorang telah kehilangan fungsinya sebagai cermin bagi temannya. Sebaliknya bagi sang teman, orang tersebut bukanlah teman sejati, tetapi musuh yang tidak terdeteksi yang setiap  saat akan menghancurkan.  Dalam hikmah dikatakan:

“Temanmu adalah orang yang jujur kepadamu, dan
bukan orang yang selalu membenarkanmu”

Tindakan mendukung teman dan selalu membelanya  adalah suatu tindakan tercela yang bahayanya merata bagi pelaku pembelaan, yang dibela serta pihak ketiga. Pelaku pembelaan disebut sebagai seorang yang terlilit fanatisme, yang dibela merasa tindakan yang dia lakukan benar dan tentu saja pihak ketiga menjadi orang yang teraniaya. Allah berfirman:
“…dan janganlah  kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang–orang yang khianat”  QS an Nisa’:105.

Ayat ini diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu’mah dan ia menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Selanjutnya Thu’mah tidak mengakui perbuatan itu dan bahkan menuduh Yahudi itu sebagai pencuri. Kerabat Thu’mah lalu mengajukan masalah ini kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , mereka meminta supaya Yahudi itu diberi hukuman, kendati mereka mengerti bahwa Thu’mah lah pencuri itu. Nabi  shallallahu alaihi wasallam  hampir saja percaya dan memberikan hukuman kepada Yahudi hingga turunlah firman Allah tersebut. Meski ayat ini turun karena kasus itu, akan tetapi
secara umum bisa diambil pelajaran akan adanya larangan membela yang bersalah dan menyalahkan orang yang benar.

3.Fanatisme kebudayaan. Adat istiadat dan kebudayaan merupakan salah satu hal yang mesti diwariskan oleh orang–orang tua kepada anak keturunan. Tak ditemui suatu komunitas dari desa sampai bangsa kecuali mesti di sana ada suatu aturan berpakaian atau aktivitas tertentu yang merupakan warisan budaya nenek moyang dan masih dipegang atau dilakukan oleh anak
keturunan. Fanatisme kebudayaan ini muncul bila mana anak keturunan ogah atau bahkan menolak dengan keras manakala dianjurkan supaya budaya itu ditinggalkan karena tidak sesuai
dan sangat bertentangan dengan aturan Allah. Tak jarang atau mungkin seringkali akal dan fikiran normal tak berfungsi ketika seseorang berhadapan dengan budaya. Dalam tradisi
masyarakat Jawa misalnya, di sana ada tradisi  Bersih Deso yang salah satu ritualnya adalah menyembelih ayam kemudian menanamnya di setiap perempatan desa, dan pada puncaknya dengan mengadakan pesta maksiat dengan mengundang Group Campur Sari yang di sana ditampilkan para penari wanita dan ditonton dengan minuman keras tergenggam di tangan. Jika memang  Bersih Deso  merupakan luapan rasa syukur, apakah seperti itu aturan agama dalam mewujudkan rasa Syukur. Tidak hanya di pedesaan, di kota pun juga demikian,
kaum bangsawan dan para borjuis yang notabene nya adalah manusia–manusia yang berakal cerdas dan berpendidikan tinggi juga masih banyak sekali yang terlilit oleh Fanatisme
Kebudayaan . Dalam ritual pernikahan misalnya, banyak sekali yang masih belum bisa membebaskan diri dari budaya yang tak sejalan dengan nilai Islami, bahkan cenderung mempertahankan atau bahkan menghidupkannya. Sebagai contoh apa maksud ritual menginjak telor atau mandi air bunga dengan mempertontonkan aurat mempelai wanita, dan apa pula maksudnya ketika para tamu undangan disuruh mengambil peralatan dapur  yang sudah disiapkan? Jika memang budaya–budaya tersebut tidak bersentuhan dengan masalah Aqidah mungkin resiko yang ditanggung ringan saja jika budaya itu tetap dipertahankan, mungkin
setingkat perlakukan maksit atau  hanya pada posisi menghindar anjuran Hadits yang artinya:
 “Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah bila mana dia meninggalkan sesuatu
yang tidak berguna baginya”  HR Turmudzi, akan tetapi akibatnya akan sangat fatal bila terkait dengan Aqidah, dan inilah yang menimpa para penganut paganisme ketika mereka menolak meninggalkan menyembah berhala, “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah apa yang kami dapati (Wajadnaa) bapak–bapak kami mengerjakannya”…”  QS al Ma’idah : 104.  Allah juga
berfirman: “Dan apabilah dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”, maka mereka menjawab: “ (Tidak) , tetapi kami hanya mengikuti apa yang
kami dapatkan dari nenek moyang kami…” QS al Baqarah : 170.

Ayat ini turun guna merespon tanggapan Yahudi saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
 menawarkan Islam, mereka menjawab tawaran itu: “Tidak, cukup bagi kami mengikuti apa yang telah dilakukan oleh nenek moyang kami yang juga menyembah berhala dan menyekutukan Allah”.

Meski demikian, secara umum menutup diri secara total dari ajaran–ajaran atau pemikiran baru yang membawa pencerahan serta hanya terpaku pada ajaran dan pemikiran lama yang sudah kuno dan tidak relevan serta kebenarannya masih dipertanyakan juga termasuk dalam penyakit
Fanatisme  jenis ini.[]