Showing posts with label Tasawuf. Show all posts
Showing posts with label Tasawuf. Show all posts

Jul 7, 2009

Hakikat Cinta Kepada Alloh

Cinta bukan sekedar diucapkan dengan kata-kata. Namun cinta itu mesti dibuktikan dengan tindakan nyata. Lebih-lebih cinta kepada sang Khalik Alloh swt. Betapa banyak orang mengikrarkan cinta pada-Nya, tapi hakikatnya perasaan mahabbah itu semu tidak nyata.

Al Hubb Lillaah
Alloh ta’ala berfirman: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh”. QS. al-Baqarah: 165.

Ini terkait hubungan seorang muslim dengan diri sendiri yang berupa kewajiban membangun kepribadian Islam yang mencakup: 1) Pola pikir Islami yang berpikir dengan logika Islam ketika memberikan penilaian terhadap segala sesuatu, kejadian-kejadian, pribadi-pribadi dengan aneka ragam sikap. 2) Pola jiwa Islami yang memberikan gambaran bagaimana berinteraksi dengan orang sekitar dan segala yang ada di kanan kirinya sesuai manhaj.

Ini berarti tidak ada pilihan kecuali melakukan pembinaan kepada generasi muslim yang kelak akan mengemban Risalah Islam dengan pemikiran yang jelas di kepalanya, aqidah kuat menancap dalam hatinya, ibadah yag murni untuk Tuhannya dan amal shaleh yang memberikan manfaat kepada selainnya.


Al Hubb Fillaah
Alloh ta’ala berfirman, “Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara…” QS. Hujurat: 10. Ini terkait hubungan seorang muslim dengan saudaranya yang berupa kewajiban mewujudkan ikatan Ilsam seperti yang dilakukan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para sahabat yang disebutkan oleh Alloh dalam firman-Nya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…”

Sikap tegas mereka terhadap orang-orang kafir adalah sebagai buah dari tindakan melarang kemungkaran dalam makna luas, sementara berkasih sayang di antara mereka merupakan buah aktivitas memerintahkan yang baik dalam makna yang luas pula seperti terkandung dalam sabda Rasulullah sholallahu alaihim wasallam, “Setiap kebaikan adalah sedekah”. HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud. Sementara sedekah bisa menolak bencana. Dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Orang yang pengasih akan selalu dikasihi Dzat Maha Pengasih tabbaraka wata’aalaa. Kasihanilah orang yang ada di bumi niscaya orang yang ada di langit akan selalu mengasihi kalian!” HR. Ahmad, Abu Dawud, Turmudzi, Hakim. (al Jami’ as Shagir 2/25). “Perlakuan baik akan menjaga dari kematian-kematian buruk, bencana-bencana dan kerusakan-kerusakan…” HR. Hakim dalam al Mustadrak/Kasyful Ghummah: hal. 12).

Al Hubb Ma’allah

Alloh ta’alaa berfirman, “Maka pernakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…” QS. Jatsiyah: 22.

Ini terkait hubungan seorang muslim dengan amalnya. Ia menyangka telah beramal karena Alloh, padahal dalam dirinya ada syirik yang tidak menampak baginya meski ia tahu itu termasuk hal-hal yang merusak amal. Ibnu Taimiyah dalam sebagian fatwa-fatwanya berkata:
“Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya memiliki kecintaan sebagaimana kaum musyrikin mencintai tuhan-tuhan mereka dan sebagaimana kecintaan para penyembah kepada anak sapi emas. Inilah kecintaan Ma’allah, bukan kecintaan Lillaah. Dan inilah kecintaan pada ahli syirik. Hawa nafsu terkadang mengaku mencintai Alloh, meski pada kenyataannya itu adalah kecintaan syirik. Ia hanya cinta kepada sesuatu yang disukainya yang terbungkus dalam kecintaan bersama Alloh. Dan memang keinginan itu sendiri terkadang tidak jelas bagi nafsu sebab sesungguhnya kecintaan anda akan sesuatu bisa menjadikan buta dan menyebabkan tuli. Begitulah amal yang oleh manusia disangka bahwa telah menjalankannya karena Alloh, padahal di sana adal syirik terselubung yang sebenarnya ia mengetahuinya. Hal itu karena kecintaan akan kekuasaan (riyasah), atau kecintaan akan harta benda, atau kecintaan akan popularitas. Karena inilah para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, seseorang berperang karena keberanian, dorongan emosional dan karena pamer. Manakah yang berbeda di jalan Alloh? Beliau sholallahu alai wasallam menjawab, “Barang siapa yang berperang agar kalimat Alloh menjadi mulia maka dialah yang berada di jalan Alloh””. (Tafsir al Qosimi, Mahasin at Ta’wiil I/462). Dan inilah yang dinamakan Syirik Khafi yang harus diwaspadai oleh seorang muslim yang terbina.[]

Dec 17, 2008

Keterkaitan Ibadah Dengan Kelancaran Rezeki

Sholat Dluha dipahami sebagai upaya menarik rezeki, sebenarnya tidak cukup salah. Hanya saja, pemahaman ini perlu dikembangkan pada tataran pemahaman yang realistis. Setiap anggota tubuh manusia yang jumlahnya kurang lebih 360 sendi menuntut sedekah sebagai perwujudan rasa syukur. Salah satu bentuk sedekah itu ialah mengerjakan sholat Dluha. Dengan sholat Dluha berarti manusia telah bersyukur atas nikmat, sementara manakala manusia bersyukur, Alloh akan menambahkan nikmat padanya.

Selain sholat Dluha sebenarnya banyak syariat sehari-hari yang mengarah kepada upaya menarik rezeki atau kelancaran rezeki bagi manusia. Di antaranya apabila masuk dan keluar masjid dengan membaca doa, seperti yang diriwayatkan dalam Shohih Muslim jilid I halaman 318, yang artinya:

Ya Alloh! Bukalah untukku pintu-pintu rahmat-Mu. (Doa masuk masjid)

Ya Alloh! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu akan anugerah-Mu. (Doa keluar masjid)

Dengan memohon, Alloh berkenan membuka pintu-pintu rahmat. Maksudnya, tiba di masjid seseorang berkehendak untuk mendekatkan diri secara serius. Di situ dikerjakanlah berbagai ketaatan (ibadah) yang diumpamakan laksana pintu-pintu dengan tujuan untuk mendapati rahmat. Doa ini berarti permintaan agar diberikuan kemudahan sekaligus keseriusan untuk menjalankan ibadah di masjid. Dengan doa itu kepentingan ibadahnya mudah-mudahan diterima. Selanjutnya, ia mendapatkan balasan berupa rahmat. Ini yang pertama.

Kedua, apabila keluar masjid memohon anugerah, artinya ketika seseorang keluar dari masjid, maknanya ia hendak beraktivitas kembali untuk mencari penghidupan, umpamanya berdagang, bertani, berternak, atau berwiraswasta, dan lain sebagainya. Alhasil, keluar masjid, kepentingan untuk mendapatkan rezeki diharap tidak sampai kerepotan. Nah, di sinilah sebenarnya secara tersirat doa keluar masjid itu doa agar diberi kelancaran pada urusan rezeki. Lafadz "fadl" (anugerah atau karunia) berarti rezeki.

Arti tersirat ini ditegaskan oleh Al Quran ayat 10 dari surat al Jum'ah (walaupun secara khusus ayat ini terkait dengan sholat Jum'at), yang artinya

Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaralah kamu di muka bumi; dan carilah anugerah Alloh dan ingatlah Alloh sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. (QS. al-Jum'ah: 10)

Agar dapat serius dalam beribadah sekaligus lancar dan tidak kesulitan dalam mendapati rezeki, rasanya doa masuk dan keluar masjid ini penting untuk diamalkan. Dari sini kita pun mafhum bahwa manusia manakala kuat berhubungan dengan Alloh niscaya akan lancarlah rezekinya, sesuai dengan janji Alloh, "Barangsiapa yang bertakwa kepada Alloh, maka Alloh mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya dengan rezeki yang tiada perkira".

Wallahu 'alam.

Sep 9, 2008

33 Kiat Menggapai Ketenangan Jiwa (Bag. 1)

Situasi kesehatan jiwa saat ini, sebagaimana dinyatakan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), merupakan krisis yang tidak terungkap yang akan semakin buruk dimasa-masa yang akan datang.

Di zaman maju ini, betapa banyak orang menderita ketegangan, kecemasan, panic, depresi, tidak puas, disharmoni, gelisah, kecewa, curiga berlebihan, dan lainnya sebagai akibat dari tekanan-tekanan yang menganggu jiwa atau batinnya. Dengan kenyataan ini, ketenangan jiwa semakin mahal harganya dan akan semakin didamba banyak orang.

Dulu, ada pepatah “Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat (men sana in corpore sano)”. Kini justru jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat. Karena ternyata banyak orang yang tubuhnya segar bugar tapi jiwanya sakit, sementara ada orang yang meski tubuhnya sakit tapi jiwanya tetap sehat.

Keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Merupakan modal utama mencapai dan menjaga kesehatan jiwa. Penelitian menunjukkan masyarakat yang religius lebih kecil resiko terkena gangguan kejiwaan dibanding mereka yang tidak religius dalam kehidupan sehari-harinya.

Berikut ini adalah kiat-kiat untuk menggapai ketenengan jiwa sebagaiaman diajarkan atau disemangati oleh agama kita, Islam, yang bersumber dari al-Quran dan hadits Nabi Saw. Dalil-dalilnya terpaksa kami tulis demi kepraktisan.


UMUM

1. Tidak memaksakan diri di luar batas kemampuan. Tidak ada ”takalluf” (pemaksaan diri) dalam agama Islam. Islam justru menyeru bermadya (al-qosda); berlaku sedang, tengah, dan wajar.

2. Menghindari dosa. Pelanggaran terhadap aturan agama atau dosa yang memberikan pengaruh yang tidak baik pada jiwa. Dosa menjadikan kita tidak tenang, takut, dan was-was. Kita takut dosa itu diketahui orang lain.

3. Dzikir, mengingat Allah Swt. Ia menumbuhkan keyakinan diri, mendekatkan komunikasi diri kepada Allah Swt., dan menjadikan hati tidak kering. Dzikir bisa berupa shalat (paling tidak shalat lima waktu, apalagi bila ditambah tahajud), membaca al-Quran, membaca doa-doa, dan sebagainya.

4. Melihat, membaca, menyimak, dan memperhatikan sejarah atau perilaku keteladanan orang-orang shaleh. Pepatah mengatakan, ”Saat orang-orang shaleh dituturkan, turunlah rahmat-rahmat”.

5. Ringan tangan, suka menolong, dan dermawan (sakho’). Tidak melihat diri. Tidak melihat apa yang telah dia keluarkan bagi orang lain. Bermanfaat bagi orang banyak.

6. Lapang dada (salamatus shadri). Hatinya dijauhkan dari dengki, iri hati, dendam, takabur, prasangka buruk, dan semacamnya.

7. Menasehati khalayak (an-nushu lil ummah) atau berdakwah atau ta’lim. Alangkah bahagia melihat ilmu yang kita berikan diterima dan diamalkan orang lain. Orang-orang awam menjadi lepas dari kebodohannya. Dikatakan, ”Amal yang menyebar manfaatnya kepada khalayak lebih utama daripada amal yang manfaatnya terbatas pada diri sendiri”.

8. Berlaku santun (al-hilmu) dan tidak tergesa-gesa (al-anah). Terburu-buru dan reaktif terhadap situasi yang mengelilinginya merupakan tanda ketidaktenangan jiwa. Dengan berpikir jernih, terencana, dan tidak gegabah, jiwa menjadi tenang.

9. Puasa dalam arti khusus maupun puasa dalam arti umum yaitu menahan diri (imsak). Puasa bisa menstabilkan jiwa. Para ulama banyak memaknai sabar dalam al-Quran sebagai puasa.


TERKAIT DENGAN KEILMUAN

10. Menambah ilmu. Wawasan menjadi luas, tidak berpikiran sempit. Kapan dan di mana pun kita adalah tholib (pencari ilmu). Tidak merasa puas diri ibarat merasa besar di dalam akuarium kecil. Di atas orang yang alim ada yang lebih alim lagi. Betapa tinggi ilmu Nabi Musa a.s. namun Allah Swt. Memerintahkannya tetap memburu ilmu dari Nabi Khidlir a.s.

11. Memahkotai ilmu yang dimiliki dengan akhlak terpuji, meliputi makrifat (kesadaran), tawadhu’ (kerendahan hati), amal, dan takwa. Ilmu tidak akan bermanfaat dengan sendirinya. Orang yang berilmu harus sadar diri. Ikhlas. Berilmu tapi sombong dibenci masyarakat. Ilmu tanpa amal, jiwa terasa dikejar-kejar. Dan seandainya ilmu menjadi baik tanpa takwa, maka manusia termulia di bumi adalah iblis.

(bersambung)