May 31, 2016

Menanggalkan Fanatisme Ashabiyyah (Fanatisme)

Ashabiyyah berasal dari kata Ashabah  yang artinya keluarga dekat (Aqaarib)  dari pihak ayah. Selanjutnya muncul bahasa Ashabiyy bagi orang yang marah dan membela keluarga dekatanya. Kemudian lahir istilah Ashabiyyah ketika ada perbuatan atau perlakuan yang mendukung dan mengikuti orang yang disayanginya tanpa peduli apakah orang yang disayanginya itu benar atau salah. Watsilah bin al Asqa’ bercerita: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  tentang apakah itu Ashabiyyah? Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Jika kamu membela kaummu atas suatu kezaliman“ HR Abu Dawud

Ibnu Mas’ud ra berkata: “Barang siapa yang membela kaumnya atas suatu kesalahan maka dia tak lebih seperti unta yang terjatuh ke dalam sumur kemudian ditarik ekornya” Imam Khatthabi menjelaskan bahwa maksud ucapan Ibnu Mas’ud ra ini adalah bahwasanya seorang yang terlilit rantai fanatisme berarti dia terjatuh dalam dosa dan mengalami kematian seperti nasib yang dialami oleh unta yang terjatuh ke dalam sumur dan kemudian ditarik keluar dengan ekornya
yang tentu saja unta itu tak akan bisa keluar dari sumur tersebut. Seperti lazimnya sifat–sifat buruk yang lain, Ashabiyyah juga muncul dalam berbagai model:

1.      1. Fanatisme keluarga, Tidak menerima bahwa keluarganya telah bertindak salah
dan tetap merasa bahwa apa yang dilakukan keluarganya itu benar. Fanatisme seperti ini kerap kali muncul ketika keluarga mengalami perselisihan dengan keluarga yang lain. Lihatlah sikap orang tua yang selalu membela anaknya saat terjadi pertikaian antara anaknya dengan anak tetangga. Atau seorang anak tak jarang juga turut membela orang tuanya tanpa terlebih
dahulu melihat siapa yang benar siapa yang salah. Memang Islam telah menetapkan salah satu standar bahwa orang yang paling baik adalah yang paling baik berbuat baik kepada keluarga, dan salah satu jenis perbuatan baik kepada keluarga adalah melakukan pembelaan untuk keluarga, akan tetapi Islam juga memberi gambaran jelas batasan pembelaan.
Suraqah bin Malik ra berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam berkhuthbah, Beliau bersabda: “Sebaik–baik kalian adalah orang yang melakukan pembelaan untuk keluarga selama dia tidak melakukan dosa “  HR Abu Dawud.

Selain menjadikan standar kebaikan, pembelaan yang dilakukan untuk keluarga juga telah ditetapkan oleh Islam sebagai salah satu jalan meraih kesyahidan (Syahaadah),  
Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :  “Barang siapa yang terbunuh di bawah hartanya maka dia Syahid, barang siapa yang terbunuh di bawah keluarganya atau darahnya atau agamanya maka dia Syahid”  HR Abu Dawud.

Predikat sebagai orang terbaik dan gelar sebagai seorang Syahid ini diraih jika memang seseorang membela keluarganya yang teraniaya, artinya jika dia tidak melakukan dosa dalam pembelaan itu dengan membela keluarganya yang melakukan kesalahan.

2.      2.Fanatisme Pertemanan. Teman, setiap orang membutuhkan teman untuk berbagi
rasa, memberi bantuan saat sulit menghimpit, mencerahkan kala suram duka menyiram. Fungsi–fungsi seperti ini tak jarang membuat manusia begitu menyayangi teman lebih dari
saudara. Rasa sayang yang besar itu juga sering kali membuat manusia menjadi tajam mata dengan kebaikan teman serta buta pandangan akan keburukan–keburukannya. Sikap seperti ini sebenarnya jika disadari justru akan menghancurkan teman tersayang, karena dengan sikap itu seseorang telah kehilangan fungsinya sebagai cermin bagi temannya. Sebaliknya bagi sang teman, orang tersebut bukanlah teman sejati, tetapi musuh yang tidak terdeteksi yang setiap  saat akan menghancurkan.  Dalam hikmah dikatakan:

“Temanmu adalah orang yang jujur kepadamu, dan
bukan orang yang selalu membenarkanmu”

Tindakan mendukung teman dan selalu membelanya  adalah suatu tindakan tercela yang bahayanya merata bagi pelaku pembelaan, yang dibela serta pihak ketiga. Pelaku pembelaan disebut sebagai seorang yang terlilit fanatisme, yang dibela merasa tindakan yang dia lakukan benar dan tentu saja pihak ketiga menjadi orang yang teraniaya. Allah berfirman:
“…dan janganlah  kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang–orang yang khianat”  QS an Nisa’:105.

Ayat ini diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu’mah dan ia menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Selanjutnya Thu’mah tidak mengakui perbuatan itu dan bahkan menuduh Yahudi itu sebagai pencuri. Kerabat Thu’mah lalu mengajukan masalah ini kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , mereka meminta supaya Yahudi itu diberi hukuman, kendati mereka mengerti bahwa Thu’mah lah pencuri itu. Nabi  shallallahu alaihi wasallam  hampir saja percaya dan memberikan hukuman kepada Yahudi hingga turunlah firman Allah tersebut. Meski ayat ini turun karena kasus itu, akan tetapi
secara umum bisa diambil pelajaran akan adanya larangan membela yang bersalah dan menyalahkan orang yang benar.

3.Fanatisme kebudayaan. Adat istiadat dan kebudayaan merupakan salah satu hal yang mesti diwariskan oleh orang–orang tua kepada anak keturunan. Tak ditemui suatu komunitas dari desa sampai bangsa kecuali mesti di sana ada suatu aturan berpakaian atau aktivitas tertentu yang merupakan warisan budaya nenek moyang dan masih dipegang atau dilakukan oleh anak
keturunan. Fanatisme kebudayaan ini muncul bila mana anak keturunan ogah atau bahkan menolak dengan keras manakala dianjurkan supaya budaya itu ditinggalkan karena tidak sesuai
dan sangat bertentangan dengan aturan Allah. Tak jarang atau mungkin seringkali akal dan fikiran normal tak berfungsi ketika seseorang berhadapan dengan budaya. Dalam tradisi
masyarakat Jawa misalnya, di sana ada tradisi  Bersih Deso yang salah satu ritualnya adalah menyembelih ayam kemudian menanamnya di setiap perempatan desa, dan pada puncaknya dengan mengadakan pesta maksiat dengan mengundang Group Campur Sari yang di sana ditampilkan para penari wanita dan ditonton dengan minuman keras tergenggam di tangan. Jika memang  Bersih Deso  merupakan luapan rasa syukur, apakah seperti itu aturan agama dalam mewujudkan rasa Syukur. Tidak hanya di pedesaan, di kota pun juga demikian,
kaum bangsawan dan para borjuis yang notabene nya adalah manusia–manusia yang berakal cerdas dan berpendidikan tinggi juga masih banyak sekali yang terlilit oleh Fanatisme
Kebudayaan . Dalam ritual pernikahan misalnya, banyak sekali yang masih belum bisa membebaskan diri dari budaya yang tak sejalan dengan nilai Islami, bahkan cenderung mempertahankan atau bahkan menghidupkannya. Sebagai contoh apa maksud ritual menginjak telor atau mandi air bunga dengan mempertontonkan aurat mempelai wanita, dan apa pula maksudnya ketika para tamu undangan disuruh mengambil peralatan dapur  yang sudah disiapkan? Jika memang budaya–budaya tersebut tidak bersentuhan dengan masalah Aqidah mungkin resiko yang ditanggung ringan saja jika budaya itu tetap dipertahankan, mungkin
setingkat perlakukan maksit atau  hanya pada posisi menghindar anjuran Hadits yang artinya:
 “Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah bila mana dia meninggalkan sesuatu
yang tidak berguna baginya”  HR Turmudzi, akan tetapi akibatnya akan sangat fatal bila terkait dengan Aqidah, dan inilah yang menimpa para penganut paganisme ketika mereka menolak meninggalkan menyembah berhala, “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah apa yang kami dapati (Wajadnaa) bapak–bapak kami mengerjakannya”…”  QS al Ma’idah : 104.  Allah juga
berfirman: “Dan apabilah dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”, maka mereka menjawab: “ (Tidak) , tetapi kami hanya mengikuti apa yang
kami dapatkan dari nenek moyang kami…” QS al Baqarah : 170.

Ayat ini turun guna merespon tanggapan Yahudi saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
 menawarkan Islam, mereka menjawab tawaran itu: “Tidak, cukup bagi kami mengikuti apa yang telah dilakukan oleh nenek moyang kami yang juga menyembah berhala dan menyekutukan Allah”.

Meski demikian, secara umum menutup diri secara total dari ajaran–ajaran atau pemikiran baru yang membawa pencerahan serta hanya terpaku pada ajaran dan pemikiran lama yang sudah kuno dan tidak relevan serta kebenarannya masih dipertanyakan juga termasuk dalam penyakit
Fanatisme  jenis ini.[]



May 30, 2016

Hukum Memakan Ikan yang dikasih makan barang Najis

Pertanyaan: 

Ustadz pengasuh Fas'alu yang saya hormati,bagaimana hukumnya memakan ikan lele yang dimasukkan dalam kolam yang setiap harinya kolam tersebut diberi kotoran-kotoran ayam, atau hewan atau barang najis lainnya?. Hal ini saya tanyakan karena di daerah kami banyak para petani lele dombo yang biasa memberi makan lelenya dengan kotoran ayam atau kotoran yang lain. Muhid, di Tulungagung

Jawaban: 

Dalam studi fiqih islam dikenal istilah Jallaalah, yang diperuntukkan bagi hewan ternak seperti unta, sapi, kambing, ayam dan lainnya yang memakan kotoran atau benda najis jenis apapun dengan syarat mayoritas makanannya adalah barang najis. Sedang jika kebanyakan makanannya dari barang yang suci maka tidak bisa masuk dalam kategori Jallaalah. Versi lain menurut Jumhur mengatakan bahwa standar utama apakah binatang itu termasuk Jallaalah atau tidak, bergantung kepada perubahan bau pada hewan tersebut. Jika baunya masih normal maka tidak termasuk kategori Jallaalah meski kebanyakan makananannya dari barang najis. Sebaliknya jika bau berubah meski hanya sedikit memakan barang najis maka masuk dalam kategori Jallaalah. Demikian Imam Nawawi dalam Al Majmu' menjelaskan.

Dalam Al Muhadzab 1/348 juga disebutkan bahwa jika binatang ternak yang biasa diberi makanan najis hendak disembelih maka agar status Jallaalah hilang hendaknya terlebih dahulu diberi makanan suci hingga pengaruh makanan najis selama ini hilang. Pendapat ini didukung oleh Ibnu Umar ra, bahkan Beliau memberikan standar waktu untuk unta selama empat puluh hari, untuk kambing tujuh hari dan untuk ayam tiga hari sebelum menyembelih. Menurut Ash'hab (para santri) Imam Syafi’i tidak ada batasan waktu, yang terpenting diberi makanan suci sebelum disembelih entah berapa hari hingga bau dari pengaruh makanan najis hilang.

Tentang memakan hewan Jallaalah, maka dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas ra disebutkan:

 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَي عَنْ لُحُوْمِ الْجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا "
Sesungguhnya Nabi saw melarang dari daging dan susu Jallaalah".
HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i.

Dari hadits ini Imam Syafii seperti tersebut dalam Bidayatul Mujatahid 2/5 menghukumi haram memakan daging hewan Jallaalah. Sementara Jumhur Ulama mengatakan Makruh Tanzih dan sebagian kelompok yang di dalamnya termasuk Abu Ishaq Al Marwazi, Al Ghazali, Imam Qaffal dan Al Baghawi menyatakan bahwa hukum memakan Jallaalah adalah Makruh Tahrim.

 Perlu digaris bawahi perbedaan hukum ini terjadi jika memang bau najis sangat kentara dan jelas tercium. Sementara jika bau itu tidak begitu kentara dan hanya sedikit terasa maka jelas bahwa binatang tersebut halal seratus persen. (Al Majmu' : 9 / 28 - 29 Cet : Idaaroh Lith Thiba'ah Al Muniiriyyah Mesir).[]

Jan 13, 2016

Ringkasan Ta'lim Pagi

#ringkasantaklimpagi

Abi Ulumiddin @ Ma'had Nurul Haromain Pujoj

Rosululloh ditanya, "Apakah hak-hak jalan ya Rosululloh?" beliau menjawab, "Menundukkan pandangan, Menahan diri dari menyakiti (org lain), Menjawab salam, Menyuruh pada kebaikan, Menahan dari kemungkaran" 

-Makna Hadits- 
Salah satu dari sekian ajaran Islam yang mengedepankan etika dan norma-norma dalam berinteraksi sesama manusia. Menahan keegoisan diri demi menghargai orang lain. Menjaga hak-hak mereka dan berusaha untuk bermanfaat selalu di setiap kesempatan. 

Dalam sebuah kesempatan, di awal Hijrah Rosululloh dari Makkah ke Madinah, beliau menyampaikan sebuah pesan (sebagai sebuah pesan awal) kepada para shohabat Muhajirin dan Anshor, "Sebarkan salam, bagikanlah makanan, sholatlah di malam hari saat manusia tengah terlelap" 

-Makna Hadits- 
Terlihat sepele dan remeh, namun sangat berdampak luar biasa dalam usaha interaksi yang baik antar sesama manusia. Dilihat dari satu sisi, salam merupakan salah satu bentuk sapaan menyenangkan seorang Muslim pada Muslim lainnya, membahagiakan orang lain dengan berbagai cara, meski hanya dengan hal kecil dan tak dirasa. Dan bisa dilihat pula dari sisi lainnya, ia (salam, red.) merupakan sebuah bentuk doa langsung yang dilantunkan seorang Muslim untuk saudaranya. 

Yang tentunya sebagaimana telah kita ketahui, doa baik seseorang akan langsung dikabulkan oleh Alloh dan menjadi investasi kebaikan untuknya kelak di akhirat. "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." Al-Baqoroh: 186 

Selain salam, Rosululloh juga mengajarkan pada kita untuk selalu mencoba bersifat dermawan pada setiap orang, dan di setiap kesempatan. Tak ada seorangpun yang tak senang saat disampaikan suatu hal baik padanya. Tak ada seorangpun yang tak suka saat diperlakukan sebaik mungkin dalam hidupnya. Tak lepas dari kodrat manusia itu sendiri, yang selalu ingin hidup enak kapanpun dan dimanapun ia berada. Islam mengajarkan hal tersebut. Rosululloh mengajarkan pada kita untuk selalu berbagi. Membagi rejeki yang Alloh berikan pada kita, meski hanya dengan sedikit minuman, sepotong kecil roti, atau bahkan dengan suatu hal yang dinilai tidak terlalu berharga bagi pribadi kita. 

Karena kita tidak pernah tau, bahwa hal (kecil) tersebut merupakan suatu berkah tersendiri bagi saudara kita lainnya. Dan selain itu, Karena tak ada hal yang bernilai kecil sedikitpun di hadapan Alloh selama hal tersebut dilakukan untuk menggapai ridlo dan cintaNya. Dan yang terakhir yaitu bahasan tentang sholat malam. Termasuk salah satu ajaran Rosululloh yang lebih beliau pentingkan setelah sholat fardlu dan kewajiban-kewajiban lainnya. Dilihat dari sisi hukum fiqihnya, mungkin hanya sekedar sunnah. Ibadah yang bila dilakukan berpahala, jika ditinggalkan tidak apa-apa. Karena tidak ada kewajiban bagi seorang Muslim yang tidak mampu dalam melaksanakannya untuk mengganti (mengqodlo') di waktu yang lain. 

Namun, hal tersebut bukan berarti suatu hal remeh, tidak penting yang kemudian bisa kita tinggalkan dan sia-siakan begitu saja. Cukuplah sebuah riwayat yang mengisahkan dimana Rosululloh melaksanakannya dengan penuh semangat, istiqomah, bahkan hingga telapak kaki beliau bengkak kebiru-biruan, menjadi sebuah jawaban bagi kita akan pentingnya sholat tersebut. Tiada lain, beliau (Rosululloh) contohkan hal tersebut, agar menjadi perhatian bagi kita untuk selalu berusaha mendekatkan diri pada Alloh. Berusaha mencari pandangan (nadhroh) rohmatNya yang luas. Menggapai ridlo dan cintaNya yang mulia. Dan tentunya, sholat di malam hari saat manusia lainnya tengah terlelap merupakan waktu yang tepat dan cepat untuk meraih tujuan agung tersebut. 

Sebagaimana dijelaskan oleh Rosululloh dalam beberapa riwayat Hadits, bahwa di sepertiga malam Alloh akan turun ke langit dunia untuk mendengarkan doa-doa para hambaNya. Mengampuni orang-orang yang beristighfar (memohon ampunan), meninggikan derajat orang-orang yang memuji, dan mengabulkan kebutuhan orang-orang yang memohon kepadaNya. Semua itu menunjukkan bahwa tak ada sedikitpun hal remeh yang diajarkan dalam Islam. 

Tak ada hal apapun yang bernilai kecil, selama hal tersebut disandarkan dan diniatkan untuk menyenangkan Alloh dan RosulNya. Karena pada akhirnya, keridloan Alloh dan Sayafa'at RosulNya lah yang kita butuhkan kelak dalam hidup yang penuh keabadian (akhirat, red.) Maka tak berlebihan jika kemudian muncul sebuah definisi baru para ulama' terkait dengan ibadah sunnah tersebut, "Jika diamalkan mendapatkan pahala, namun jika ditinggalkan maka ia telah merugi dan berbuat sia-sia" Mudah-mudahan kita bisa menjalankan ajaran agama kita, dengan penuh semangat dan ta'dhim. Dengan harapan, semoga Alloh berkenan memberikan keridloanNya pada kita dalam menjalani hidup baik di dunia maupun di akhirat kelak. Aamiin...

Jan 9, 2016

BAB: Manfaat Sholawat

Sumber : Kitab Syaroful Ummah Muhammadyah, Karya : Al 'Alamah ABUYA As Sayyid Muhammad Al Maliky. Hal :328 -337 (terjemah)

Majelis Ilmi, KHM. Ihya' Ulumiddin, Jum'at,
Ketintang Barat I / 27 Surabaya.
27 Robi'ul Awwal 1437H / 08 Januari 2016

***

Di dalam Qs. Al Ahzab : 56
ان الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

Sesungguhnya Alloh dan malaikat2Nya bersholawat untuk nabi.Hai orang2 beriman bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya"

Sholawat kita sebagai umat Nabi Muhammad saw yg mendapat predikat  Nabiyu Rohmah,  Nabiyu Syafa'ah bermakna doa dan permohonan , sedangkan sholawat dari Alloh swt berarti pujian dan pemuliaan terhadap kekasihNya. (Abuya Al Habib Muhammad Al Maliky)

*****

Manfaat sholawat diantaranya adalah :
اذن يغقر لك زنبك و يكفي لك همك,
Hadits :  "....idzan yughfaru laka dzanbuka wa yukfa laka hammuka "

 Artinya : .... diampuni bagimu dosa2mu dan mencukupi bagimu kesusahanmu...

▶"Hammuka"bisa diartikan : kesusahan di dunia dan kesusahan di akhirat.

Kesusahan di dunia adalah semua hal yg berkaitan dg khdp di dunia

Kesusahan di akhirat maknanya adalah
1. Susah  saat bertemu munkar nakir (di alam.kubur)
2. Susah di padang mahsyar
3. Susah di atas shiroth

Keselamatan di akhirat bisa dicapai dg memperbanyak sholawat sebagai WASHILAH keselamatan di akhirat
-Abuya Sayyid Muhammad Al Maliky-

*****
 Doa yg tidak didahului sholawat pun akan  berhenti dan terkatung-katung di antara langit dan bumi.

Dalam QS.Fatir :10  :

اليه يصعد لكلم اطيب والعمل الصا لح يرفعه

Ilaihi yash'adul kalimatuth thoyyib wal 'amalusholih yarfa'ahu

Artinya:  Kepada NYA lah perkataan2 yg baik dan amal sholeh yg dinaikkan NYA
 ▶
Kalimath thoyib adalah ucapan
سبحان الله ...ا لحمدلله....لااله ال الله ....

Pengertian amal sholeh disini adalah Sholawat itu sendiri

Manfaat Sholawat kepada  Sayyidina Muhammad 'alaihi afdhalush sholah was salam
menurut Abuya Al 'Alamah Al Habib Muhammad  al Maliky dalam kitab ini ada 39 qoidah yang banyak disebut oleh ulama' khususnya al 'alamah Ibnul Qoyyim dan Al Hafidz Ibnu Hajar Al Haitsami

Diantaranya beberapa qoidah itu disebut dibawah ini :
Sholawat bisa bermakna sebagai

1. Penyelesaian Alloh terhadap kesusahan hamba-hamba-Nya

2. Dapat menjadi shodaqoh bagi orang yang kesulitan hidup (faqir  )

3. Untuk terlaksananya beberapa kebutuhan orang yang membacanya
Misal:
Sholawat nariyah  untuk kesusahan hati, sholawat taysir untuk kemudahan segala urusan dlm hidup
sholawat tafjriyah dll

4. Menyempurnakan zakat  dan thaharah

Maknanya di sini bahwa zakat seseorang  belum tentu bersihkan hartanya secara keseluruhan ( dengan kurangnya perhitungan dalam zakat maal yg dikeluarkan)
maka dalam hal ini sholawat dapat berfungsi untuk menyempurnakan zakat itu sendiri.

5. Sholawat sebagai sarana mendatangkan kabar gembira (tabsyir) bagi hamba Alloh sebelum wafat bahwa dia akan masuk surga. (Disebutkan oleh al Hafidz Abu Musa dalam kitab yg ditulisnya )

6. Sholawat dapat menjadi sebab harumnya majelis

7. Sholawat menyelamatkan dari busuknya majelis ( yang tidak disebut-sebut nama Alloh dan Rosululloh) .
Misalnya : rapat-rapat di kantor-kantor pemerintah, pertemuan-pertemuan antar pejabat dll

8. Sholawat juga merupakan sarana untuk terhindar dari kemelaratan

9. Sholawat menjadi sebab bagi timbulnya pancaran Nur seorang hamba Alloh saat berjalan di atas shiroth ( dikemukakan oleh Abu Musa dll dalam haditsnya)

10. Sholawat merupkan sarana bagi seseorang untuk memperoleh pertolongan Alloh agar tercukupi kebutuhan-kebutuhannya.

11. Sholawat juga merupakan sarana untuk terhindar dari kemelaratan

12. Sholawat merupakan sarana bagi yang mengucapkannya untuk memperoleh berkah dalam amal kebaikannya dan dalam usianya.

13. Sholawat merupakan sarana bagi turunnya hidayah kepada hamba Alloh yang mengucapkannya dan sarana pula untuk  menghidupkan hati dan perasaannya

14. Sholawat menjadi sebab dikemukakannya nama orang berdzikir  mengucapkannya ke hadapan Rosululloh shallallahu wa sallam. Maknanya kenalnya Rosululloh mengenal umatnya nama per nama bagi yang bersholawat pada beliau.

15. Sholawat menjadi sebab Alloh melanggengkan pujian terhadap hamba-Nya di kalangan para penghuni langit dan bumi. Sebab orang yang bersholawat berarti dia memuji, menghormati dan memuliakan beliau Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam.

Demikian beberapa kaidah manfaat sholawat  dari 39 qoidah yg disunting Abuya As Sayyid Muhammad al Maliky.

Allohu'alam


Mar 23, 2015

Mar 22, 2015

Bahaya dan Fitnah Para Preman Aqidah

Kekhawatiran Nabi Saw akan:

Bahaya dan Fitnah Para Preman Aqidah

Dari Abu Dzar ra bahwasanya Rosululloh Saw bersabda:

غَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُ عَلَي أُمَّتِيْ  مِنَ الدَّجَّالِ : اْلأَئِـمَّةُ الْمُضِلُّوْنَ

“Selain Dajjal, lebih menakutkan (lebih berbahaya) atas umatku daripada Dajjal, mereka adalah para pemimpin menyesatkan”

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad dengan Sanad yang baik (Jayyid). Hadits ini juga dikuatkan oleh hadits riwayat Imam Muslim yang artinya: “Selain Dajjal lebih mengkhawatirkan diriku atas kalian; sebab jika Dajjal keluar dan aku berada di antara kalian maka akulah pembela kalian, dan bila Dajjal keluar saat aku tidak berada di antara kalian maka seseorang menjadi pembela diri sendiri, sementara Alloh adalah Kholifahku atas seluruh orang islam”. Juga diperkuat oleh hadits riwayat Imam Turmudzi:

غَيْرُ الدَّجاَّلِ أََخْوَفُ لِيْ عَلَيْكُمْ
“Selain Dajjal lebih mengkhawatirkanku atas kalian”

Uraian Hadits

Salah satu sifat yang melekat pada diri Rosululloh Saw adalah: “Telah datang kepada kalian seorang utusan…terasa berat olehnya penderitaan kalian…”QS at Taubah: 128. Perwujudan sifat ini bisa dilihat dari berbagai kekhawatiran yang pernah Beliau ungkapkan atas umat ini, antara lain Beliau  Saw pernah bersabda: “…demi Alloh, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia dilapangkan atas kalian seperti telah dilapangkan atas orang – orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba – lomba seperti juga mereka berlomba – lomba hingga akhirnya dunia menghancurkan kalian seperti juga telah menghancurkan mereka“Muttafaq Alaih,   “Hal yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah Syirik kecil”, para sahabat bertanya: Apakah itu Syirik kecil (Syirik Ashghor)? Nabi Saw menjawab: “Pamer, …”HR Ahmad.

Dajjal berasal dari kata Dajl yang maknanya menutup, dinamakan Dajjal karena menutup kebenaran dengan kebatilan. Abu Umamah al Bahili ra berkisah bahwa Rosululloh Saw pernah berkhutbah: “Sesungguhnya tiada fitnah di bumi,  sejak Alloh menciptakan anak keturunan Adam, lebih besar daripada fitnah Dajjal, sesungguhnya Alloh tak mengutus seorang Nabi kecuali pasti dia (Nabi itu) memperingatkan umatnya akan Dajjal. Aku adalah Nabi terakhir, dan kalian adalah umat terakhir, (karena itu) ia (Dajjal) pasti keluar di antara kalian…wahai para hamba Alloh, tabahkanlah diri kalian! Sesungguhnya aku akan menyebutkan kepada kalian ciri – cirinya yang belum pernah disebutkan oleh Nabi siapapun sebelumku. Dia (Dajjal) berkata: “Aku adalah Nabi” padahal tak ada nabi lagi setelahku. Dia lalu mengatakan: “Aku adalah Tuhan kalian” padahal kalian tak akan pernah melihat Tuhan sebelum kalian mati. Dia bermata juling, padahal Tuhan kalian tidak juling. Di dahinya tertulis “Kafir” dan bisa dibaca oleh orang yang bisa menulis serta orang yang tidak bisa menulis.  ”HR Ibnu Majah.

Hebat dan dahsyatnya fitnah Dajjal ternyata oleh Rosululloh Saw tidak lebih mengkhawatirkan daripada fitnah para tokoh sesat yang memiliki banyak pengagum dan pengikut. Hal ini bisa dimaklumi, sebab fitnah Dajjal sudah jelas kesesatan dan keburukannya, maka ada upaya untuk menghindari. Kondisi ini berbeda dengan para tokoh panutan yang sesat, keyakinan dan segala prilaku sesat mereka akan dengan mudah menjalar kepada para loyalisnya. Sebab para loyalis menganggap semua yang dilakukan oleh tokoh pujaan adalah kebenaran dan paling sesuai dengan akal. Dewasa ini sebuah fenomena menyedihkan sering terjadi di sekitar kita, para tokoh sesat ternyata banyak bermunculan dengan aneka ragam formalitas; ada yang bersembunyi di balik baju Intelektual, Jama’ah kebatinan dll. Situasi ini diperparah dengan keberadaan media – media yang menyokong dan menyebar luaskan ajaran – ajaran sesat mereka. Intinya media berusaha menciptakan dan membangun opini bahwa apa yang dilakukan oleh para tokoh sesat tersebut tidak salah dan sangat sesuai dengan masa sekarang. Akhirnya dapat kita saksikan para tokoh sesat tersebut seringkali nongol di media dengan berbagai macam ulasan dan tulisan yang intinya sama, yaitu berusaha menyebar luaskan kesesatan yang mereka anggap sebagai sebuah kebenaran. Akhirnya terjadilah sebuah realitas seperti digambarkan oleh Syekh Muhammad Nur Syah al Kasymiri: “Para penyeru kesesatan, betapa banyak kesesatan, betapa banyak para penyeru kesesatan dan betapa banyak pula orang – orang yang mengikuti mereka”.

Para tokoh sesat dan menyesatkan tersebut, memang sangat layak mendapat kekhawatiran secara berlebih dari Rosululloh Saw, sebab dari merekalah banyak muncul kekafiran dan kemaksiatan dalam bentuk – bentuk yang sangat halus serta tidak terasa. Ajakan untuk mengakui kebenaran agama lain dan penolakan atas tindakan tegas terhadap penyimpangan agama adalah sebuah bentuk pendangkalan Aqidah dan peleburan sebuah keyakinan. Selain mengkaburkan Aqidah umat, para tokoh sesat tersebut juga melakukan tindakan penelanjangan syariat dengan menerima sebagian syariat serta menolak sebagian yang lain dengan menyatakan itu bukan bagian syariat, tetapi budaya Arab, atau syariat itu sudah tidak sesuai diterapkan pada masa kini. Rasanya sangat pantas dan seharusnya ada kata sepakat bagi kita untuk mengatakan bahwa para tokoh sesat itu adalah para Preman Aqidah, merekalah setan – setan dalam bentuk manusia, “Katakanlah aku berlindung kepada Tuhan manusia, …dari gangguan setan… berupa Jin dan manusia”QS an Naas: 1 – 6.

Sebagai seorang beriman yang memiliki kecemburuan terhadap agamanya, sudah selayaknya kita mengambil tindakan terhadap para Preman Aqidah tersebut, upaya dialogis sama sekali tak akan memberikan hasil, hanya ada satu pilihan yaitu bertindak tegas dan represif. Ingat mereka tak akan pernah menerima nasehat atau koreksi dari orang lain karena akal dan hati mereka telah tercuci. Dalam kesesatan itu mereka senantiasa dan terus berkata kami berada dalam kebenaran dan kami memperjuangkan kebenaran. Mereka inilah orang yang termaksud dalam firman Alloh:

قُلْ هَلْ نُنَـِّبئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِيْنَ أَعْمَالاً  , أَلَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُـهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا
“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepada kalian tentang orang – orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang – orang yang telah sesat perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik – baiknya”QS al Kahfi: 103 – 104.

Para Preman Aqidah itu tak akan pernah bertaubat, mereka tak bisa lagi diharapkan untuk bertaubat, sebab taubat berangkat dari sebuah kesadaran dan penyesalan. Sedang mereka tak akan pernah sadar, karena mereka tidak pernah merasa tertidur atau pingsan, meski sebenarnya mereka telah mati hati, sedang kesempatan taubat telah lewat setelah mati. Merekalah para pelaku perbuatan Bid’ah  yang telah mendapat hukuman dari Alloh Swt sebagaimana dijelaskan oleh Rosululloh Saw:

إِنَّ اللهَ حَجَرَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ

“Sesungguhnya Alloh menghalangi taubat dari setiap pelaku Bid’ah”HR Baihaqi.

Karena inilah, setan dalam rangka menyesatkan manusia meletakkan perbuatan Bid’ah pada urutan kedua setelah kekafiran dalam jajaran target yang harus dicapai. Supaya selamat dalam beragama serta tidak hanyut terbawa oleh arus Bid’ah, seseorang disarankan untuk dekat dengan para ulama yang mengenal dan meneladani Sunnah Nabi Muhammad Saw. Seseorang diharapkan mengambil dan menimba ilmu dari para guru yang jelas Sanad keilmuannya. Ibnul Mubarok berkata: “Sanad itu bagian dari agama maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dari mana dia mengambil agamanya”. Ibnu Syaudzab seperti dilansir oleh Ibnul Jauzi dalam Talbiis Iblis berkata: “ Sesungguhnya termasuk nikmat Alloh kepada seseorang adalah apabila dia bisa berada dekat dengan pelaku Sunnah (Shohib Sunnah)  hingga dia terus mendapat dorongan menjalankan Sunnah”.

Kondisi para pelaku Bid’ah yang sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk bisa bertaubat tersebut, sama dengan yang dialami oleh manusia – manusia yang teguh dengan kekafiran mereka. Mereka tidak bertaubat bukan karena tidak mengerti dan menyadari kesalahan mereka, serta bukan pula karena tidak mengerti kebenaran Islam, tetapi karena memang mereka telah mendapat laknat dari Alloh Swt, hingga hati mereka pun terkunci mati. Firman Alloh:
وَقَالُوْا قُلُوْبُنَا غُلْفٌ , بَلْ لَعَنَهُمُ اللهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيْلاً مَّا يُؤْمِنُوْنَ


“Mereka (Yahudi) berkata (kepada Rosululloh Saw): “Hati kami tertutup” tetapi sebenarnya Alloh telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka beriman” QS al Baqoroh: 88

Mar 6, 2015