Feb 4, 2015
Jan 8, 2015
Mencintai Rosululloh Saw dengan Sepenuh Hati
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ
حَتيَّ أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِيْنَ
“Tidak
sempurna iman salah seorang dari kalian sebelum diriku lebih dia cintai
daripada anak dan orang tuanya serta sekalian manusia”Muttafaq Alaihi.
Syarah Hadits
Mencintai Rosululloh Saw
adalah salah satu konsekwensi Iman sebagimana halnya mencintai Alloh Swt. “Katakanlah:
“Jika orag-orang tua, anak-anak, saudara-saudara…lebih kamu cintai daripada Alloh
dan RosulNya…maka bersiaplah sampai Alloh mendatangkan keputusanNya. Sungguh
Aloh tidak menunjukkan orang-orang yang fasiq”QS at Taubah: 24. Ayat
ini cukup menjadi bukti bahwa mencintai Rosululloh Saw merupakan kewajiban yang tidak bisa
ditawar-tawar, dengan bukti adanya ancaman “tunggulah sampai Alloh
mendatangkan keputusanNya” serta stigma sebagai orang yang Fasiq.
Dalam mencintai Rosululloh
Saw, orang beriman juga dituntut untuk memberikan cintanya kepada Beliau Saw
dengan sepenuh hati, melebihi cinta kepada anak, orang tua, saudara, dan harta
benda. Dengan inilah orang beriman baru akan merasakan betapa manisnya
keimanan, “Tiga hal, barang siapa berada di dalamnya maka dia akan menemukan
manisnya iman; hendaknya Alloh dan RosulNya lebih dia cintai daripada selain
keduanya, tidak mencintai orang lain kecuali karena Alloh, dan hendaknya dia
merasa enggan kembali kepada kekafiran seperti layaknya dia enggan jika
dilemparkan ke neraka”HR Bukhori. Bahkan lebih dari itu, cinta
kepada Rosululloh Saw harus melebihi rasa cinta kepada diri sendiri. Suatu
ketika Umar ra berkata: Wahai Rosululloh, sungguh engkau lebih saya cintai
daripada semuanya, kecuali diri saya sendiri! Rosululloh Saw bersabda: “Tidak
sempurna iman salah seorang dari kalian sebelum diriku lebih dia cintai
daripada dirinya sendiri”HR Muttafaq Alaihi. Umar segera menyahut:
“Demi Dzat Yang menurunkan kepadamu Alqur’an, sungguh engkau lebih saya sayangi
daripada diri saya sendiri?! Rosululloh Saw bersabda: “Sekarang, wahai Umar”.
Tanda Cinta
Seseorang yang mencintai dan
mengidolakan tokoh tertentu maka cinta itu membawanya untuk selalu atau
cenderung meniru tokoh tersebut, jika tidak demikian bisa disimpulkan bahwa
cintanya itu bohong belaka. Karena itulah apakah kita termasuk orang yang mencintai
Rosululloh Saw atau tidak maka marilah kembali melihat apakah dalam diri ini
ada ciri-ciri mencintai makhluk Alloh yang paling utama itu: 1)
Mengikuti, menuruti perintah dan menjauhi larangan Beliau Saw, firman Alloh:
“Katakanlah: “Jika kalian mencintai Alloh maka ikutilah diriku, (jika
demikian) Alloh pasti mencintai kamu”QSAli Imron: 31. 2)
Mendahulukan anjuran Rosululloh Saw dan
mengakhirkan kepentingan diri sendiri, “…dan mereka mengakhirkan diri mereka
meski diri mereka sendiri sangat membutuhkan…”QS al Hasyr: 9. Ayat
ini menceritakan sekaligus membanggakan karakter yang dimiliki para pecinta
Rosululloh Saw (para sahabat) di mana mereka lebih mendahulukan orang lain
meski diri mereka sendiri membutuhkan. 3) Menghidupkan sunnah Rosululloh
Saw, Anas bin Malik menceritakan bahwa Rosululloh Saw pernah bersabda
kepadanya: “Wahai anakku, itulah sunnahku, barang siapa yang menghidupkan
sunnahku berarti telah mencintaiku dan barang siapa mencintaiku maka dia
bersamaku di surga”HR Turmudzi. 4) Banyak menyebut Beliau
Saw, sebab barang siapa yang mencintai sesuatu maka dia pasti banyak
menyebutnya. Selain itu merasa rindu dan ingin bertemu dengan Beliau Saw. Dalam
Dalail Nubuwwah Imam Baihaqi menuturkan bahwa ketika orang-orang Asy’ari
datang ke Madinah, mereka tak lelah mendendangkan sebuah syair yang artinya:
“Esok kita akan bertemu dengan para kekasih, Muhammad dan para sahabatnya”.
5) Mencintai orang yang dicintai oleh Rosululloh Saw, termasuk para
isteri, keluarga dan sahabat Beliau Saw, “Barang siapa mencintai keduanya
(Hasan Husen) berarti mencintaiku…” HR Ibnu Majah.
Jika seluruh kriteria di atas
tertanam dalam diri berarti cinta itu sempurna, dan bila hanya sebagian saja
maka cintanya tidak sepenuh hati. Kendati demikian dia tetap dikatakan sebagai
pecinta Rosululloh Saw. Saat seorang minum arak dan dijatuhi hukuman, banyak
orang mencela dan menghinakannya, akan tetapi Rosululloh Saw segera membantah:
“Jangan kalian melaknatnya, sebab dia mencintai Alloh dan RosulNya”.
Mereguk Pahala Cinta
Mencintai Rosululloh Saw, di
samping bisa dirasakan nikmatnya di dunia dengan datangnya rasa manis dan indah
kala bisa dan mampu melaksanakan konsekwensi dari cinta itu sendiri, juga bisa
dirasakan lezatnya nanti di akhirat. Seorang pernah datang kepada Rosululloh Saw
dan bertanya: Kapan kiamat datang, wahai Rosululloh? Beliau Saw balik bertanya:
Apa yang kamu siapkan untuknya? Orang itu menjawab: Saya tidak menyiapkan
untuknya banyak sholat, banyak puasa atau banyak sedekah, tetapi saya mencintai
Alloh dan RosulNya. Rosululloh Saw bersabda: “Kamu bersama orang yang kamu
cintai”Muttafaq Alaihi.
Shofwan bin Qudamah bercerita: Aku berhijroh kepada Rosululloh Saw, aku
lalu datang dan bertemu dengan Beliau. Aku berkata: Tolong berikan tangan anda,
karena saya akan berbaiat! Setelah Beliau Saw memberikan tangannya yang mulia,
aku berkata: Wahai Rosululloh, sesungguhnya saya mencintai anda! Beliau Saw
bersabda: “Seseorang bersama orang yang dia cintai”HR Bukhori.
Ali ra berkisah: Rosululloh Saw memegang tangan Hasan dan Husen, lalu Beliau
Saw bersabda: “Barang siapa mencintai kedua anak ini, ayah dan ibu keduanya
maka dia bersamaku dalam derajatku di surga”HR Turmudzi.
Dikisahkan bahwa ada seorang
lelaki datang dan berkata kepada Rosululloh Saw: Wahai Rosululloh, sungguh anda
lebih saya cintai daripada keluarga dan harta benda saya sehingga ketika
mengingat anda maka saya tidak sabar dan ingin segera datang untuk melihat
engkau. Lelaki itu melanjutkan: Dan ketika saya mengingat bahwa kematian pasti
datang, tetapi sesudah itu di surga engkau akan diangkat ke derajat para nabi,
dan mulai itulah saya tidak lagi bisa melihat anda! keluhan lelaki inilah yang
menjadikan sebab turunya firman Alloh: “Barang siapa yang taat kepada Alloh
dan RosulNya maka mereka akan bersama orang-orang yang memperoleh nikmat Alloh
dari para nabi, orang-orang yang sungguh-sungguh, dan orang-orang yang saleh.
Betapa indah berteman dengan mereka”QS an Nisa’: 69.
Sep 21, 2014
Masalah dalam Qurban
Pertanyaan:
Dalam kesempatan kali
ini saya mau bertanya sehubungan dengan adanya pendapat yang saya kurang tahu
dasar hukumnya, antara lain :
1. Mengenai batas
penyerahan hewan qurban kepada panitia kurban. Apakah sebelumnya/sesudah shalat
Id atau masih bisa dengan batas tiga hari? Mohon penjelasan serta dasarnya.
2. Apabila penyembelihan
hewan kurban tidak dilaksanakan oleh panitia kurban, melainkan dilakukan sendiri
oleh beberapa kelompok tertentu. Misalnya: satu RW biasanya ada panitia kurban
yang dipusatkan di Mushalla atau masjid. Jika ada yang menyembelih sendiri,
misalnya untuk satu RT, selain panitia qurban, apakah boleh ?
3. Sebenarnya berapa
bagian yang diterima oleh orang yang berqurban?
4. Bagaimana jika saat
melakukan puasa Daud bertepatan dengan hari dimana puasa diharamkan? Demikian
masalah yang saya sampaikan. Atas perhatian dan jawaban Kyai saya sampaikan terima kasih.
Indra Siswa Rini, Jl. Manukan
Krajan IV/40 Surabaya 60185
Jawaban:
Jumhur Ulama
berpendapat, waktu menyembelih hewan kurban adalah setelahnya shalat Id sampai
pada batas akhir tiga hari tasyriq. Jadi, tersedia waktu selama empat hari.
Sementara dahulu seorang sahabat bernama Abu Burdah menyembelih hewan kurbannya
sebelum shalat, dan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
dikatakan sah maka itu adalah aturan yang ditentukan padanya saja secara
khusus. Hal ini berdasarkan pada hadist:
مَنْ
ضَحَّى قَبْلَ الصَّلاَةِ فَاِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَاَصَابَ سُنَّةَ اْلمُسْلِمِيْنَ
"Barangsiapa menyembelih kurban sebelum sholat,
sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa menyembelih
setelah sholat maka telah sempurnalah ibadahnya dan sesuai dengan sunnah
orang-orang Islam". (HR.
Muslim)
أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ كُلُّهَاذَبْحٌ
"Hari-hari Tasyriq seluruhnya adalah waktu untuk
menyembelih qurban". (HR.Thobaroni,
lihat Majmauz Zawaid Jilid II hlm.25)
Sedangkan teknis penyembelihan hewan kurban, orang
yang berqurban boleh melakukannya sendiri. Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam pernah menyembelih hewan qurbannya dengan tangan beliau sendiri.
Boleh pula penyembelihannya diwakilkan orang lain yang lebih ahli, sebagaimana
beliau mengizinkan sahabat Ali bin Abi Thalib untuk menyembelih hewan kurban
beliau. Apabila penyembelihannya diwakilkan kepada orang lain, maka dianjurkan
kepada orang yang berkurban untuk menyaksikan proses pelaksanaan penyembelihan.
Sebagaimana perintah beliau kepada putri beliau, Fathimah Azzahra’. Lihat Shahih
Muslim Jilid VI hlm.78, Majmu’ Jilid VIII hlm.405. dan Jam’ul fawaid min Jamiil
Ushul jilid I hlm.203.
Mengenai pembagian
daging qurban, asal bukan qurban nadzar, maka orang yang berkurban berhak
mengambil sebagian daging kurban dan selebihnya disedekahkan kepada fakir
miskin. Sebagian Ulama berpendapat: Daging qurban didistribusikan menjadi 3
bagian; sepertiga dimakan (oleh orang berkurban), dan sepertiga lagi untuk
disimpan (oleh orang yang berkurban). Sementara Imam Syafi’i dalam qoul
Jadidnya berpendapat, sepertiga untuk dimakan dan dua pertiganya untuk
disedekahkan. Hal ini didasarkan pada Al Qur’an surat Al Hajj, ayat 28 dan
Hadist :
وَكُلُوْا وَتَصَدَّقُوْا وَادَّخِرُوْا
Makanlah dan bersedekahlah dan
simpanlah.(HR.
Abu Dawud)
Adanya hak orang yang
berkurban mengambil daging qurbannya demikian itu tidaklah mengurangi nilai
ibadah qurbannya. Oleh karena nilai berkurban telah terwujud pada proses
penumpahan darah hewan qurban. Perbuatan yang dilarang dalam hal ini adalah
menjual daging kurban atau memberikan upah berupa sebagian daging kurban kepada
orang yang diserahi menyembelih.( Lihat Fiqh Al Madzahib Al Arba’ah jilid I
hlm.723).
Berkaitan dengan puasa
daud yang teknisnya sehari berpuasa dan sehari berbuka maka hal itu adalah
dalil umum. Sementara keberadaan dalil umum diberi ketentuan (ditakhsis) oleh
nash-nash yang mengharamkan puasa pada hari-hari tertentu. Seperti pada hari
raya Idul Fitri, Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyriq (11, 12, 13
Dzukhijjah). Pada ketiga kesempatan itu, Ulama seluruhnya berijma’ akan
keharaman puasa didalamnya, baik puasa fardlu maupun puasa sunnah. Sedangkan
pada hari Syak (yakni tanggal 30 bulan Sya’ban) dimana diharamkan berpuasa bagi
mereka yang tidak punya kebiasaan berpuasa, maka bagi orang yang berpuasa daud
dipersilahkan berpuasa (Lihat Ahkamus Siyam 50).
Dari sini orang yang
berpuasa daud apabila hari puasanya bertepatan dengan hari-hari haram berpuasa,
maka hendaklah ia berbuka.
Sep 15, 2014
Hikmah Ta'lim Pagi, 15 September 2014
Cukuplah kisah Luqmanul Hakim bersama anaknya, bahwa kita ini tidak akan pernah selamat dari lisan manusia. Lukman mengajak anaknya membawa keledai dan melewati 5 desa. Pada desa pertama keledai tidak dinaiki maka keluar komentar, "Dasar punya keledai tidak di naiki." Memasuki desa ke dua, Luqman menaiki keledai, penduduk desa tersebut berkomentar, "Dasar orang tua tidak kasihan sama anak." Pada desa ke tiga, berganti anaknya naik dan Luqman turun, penduduk desa itu pun berkomentar, "Dasar anak tidak kasihan sama orang tuanya." Masuk desa ke empat, keduanya naik di atas keledai. maka penduduk desa itu pun berkomentar, "Dasar orang tidak kasihan pada hewan, keledai kecil dinaiki dua orang. Maka ketika akan masuk desa kelima, Luqman berkata pada anaknya, "Nak, sekarang tinggal satu, mari biar keledai ini yg naik punggung kita." Begitulah gambarannya, bahwa kesepakatan manusia adalah tujuan yg tidak akan tercapai. Pasti ada cara pandang yg tak sama. Tinggal kita dan pendirian kita. Pepatah mengatakan, "Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu."
Pujon, 15 September 2014, diresume | zulfikar kamal
Pujon, 15 September 2014, diresume | zulfikar kamal
Jul 15, 2014
Quote of a Day
حَسْبِىَ الرَّبُّ مِنَ الْمَرْبُوْبِيْنَ حَسْبِىَ
الْخَالِقُ مِنَ الْمَخْلُوْقِيْنَ حَسْبِىَ الرَّازِقُ مِنَ الْمَرْزُوْقِيْنَ
حَسْبِىَ السَّاتِرُ مِنَ الْمَسْتُوْرِيْنَ حَسْبِىَ النَّاصِرُ مِنَ
الْمَنْصُوْرِيْنَ حَسْبِىَ الْقَاهِرُ مِنَ الْمَقْهُوْرِيْنَ حَسْبِيَ الَّذِيْ
هُوَ حَسْبِى مَنْ لَمْ يَزَلْ حَسْبِى, حَسْبِيَ الله وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
حَسْبِىَ اللهُ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِهِ,
“Cukuplah Tuhanku (sebagai Pelindung) dari makhluk yang
diciptakan-Nya. Cukuplah bagiku Allah sebagai Pencipta dari para makhluk.
Cukuplah bagiku Allah sebagai Pemberi rezeki dari pada mereka yang diberi
rezeki. Cukuplah bagiku Allah sebagai penutup aibku daripada orang-orang yang
ditutupi. Cukuplah bagiku Allah sebagai pembela dari pada orang-orang yang
dibela. Cukuplah bagiku Allah Yang Maha Menundukkan dari pada orang-orang yang
ditundukkan. Cukuplah bagiku Allah sebagai pelindung yang senantiasa
melindungi. Cukuplah bagiku Allah sebagai Penolong dan Dialah sebaik-baik
Penolong. Cukuplah bagi Allah sebagai Pelindung dari semua makhluk-Nya.”
Shalat Isya’ di belakang Tarawih
Pertanyaan:
Seseorang datang di Masjid dan mendapati orang-orang
sudah shalat Isya’ dan kini sedang menjalankan shalat Tarawih. Ia lalu niat
shalat Isya’ dan bergabung dengan mereka. Bagaimanakah hukum shalat Isya’ orang
tersebut?
Muhammad, Gunung Sari Batu Malang
Jawaban:
Seseorang dianggap telah mendapat keutamaan shalat
berjama’ah meski ia baru datang dan bertakbir ketika Imam telah duduk Tahiyyat
Akhir. Termasuk kemudahan lagi dalam beroleh keutamaan shalat berjama’ah
adalah ketika status shalat Imam dan shalat Ma’mum tidak harus sama. Bisa jadi
status shalat Imam adalah sunnah dan shalat Ma’mum adalah wajib seperti
diriwayatkan oleh Jabir ra bahwa Muadz bin Jabal ra mengikuti shalat berjamaah
Isya’ bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Setelah sampai di kampungnya, Muadz pun shalat kembali
menjadi Imam bagi penduduk kampungnya yang ketika itu belum shalat Isya’. (HR
Bukhori Muslim). Atau status shalat Imam adalah wajib dan shalat Ma’mum
adalah sunnah seperti disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam melihat seorang shalat sendirian, Beliau lalu bersabda: “ Adakah
seseorang yang akan memberikan sedekah kepadanya, lalu mau shalat bersamanya
“ [ HR Abu Dawud Turmudzi Ibnu Khuzaimah Ibnu Hibban Hakim ]
Jul 11, 2014
Da’i Batu Asah
QS al Baqarah:44
أَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ
وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُوْنَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan
diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidak-kah
kalian berakal“
Analisa
Bahasa
Al Biirr :
Adalah bahasa untuk segala jenis ketaatan dan amal-amal shaleh yang menetapkan
adanya pahala. Sebaliknya adalah al itsmu. Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam bersabda;
الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَاْلإِثْمُ مَا
حَاكَ فِى نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
“Kebaikan adala budi pekerti yang baik.Dosa adalah
hal yang meragukan hatimu serta kamu tidak suka orang lain mengetahuinya”(HR
Muslim/2553)
Analisa Ayat
Sebab firman
Allah ini ditujukan kepada para pendeta dan tokoh-tokoh Yahudi yang getol
menyuarakan kebaikan dan amal shaleh di kalangan umat dan pengikut mereka. Akan
tetapi justru kelakuan mereka sangat berbeda dengan apa yang mereka suarakan.
Kelakuan seperti itu sangatlah buruk bagi mereka dalam pandangan Allah sehingga
Allah berfirman; “..Maka tidak-kah kalian berakal“.
Betapapun
asalnya ditujukan kepada Bani Israil, muatan ayat ini secara umum juga berlaku
bagi siapapun dari kita umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang
memberikan nasehat, yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran agar
berusaha menjalankan seperti yang diperintahkannya serta menjauhi apa yang
dicegahnya.
Memerintahkan
suatu kebaikan tanpa berusaha untuk bisa menjalankan adalah laksana lampu yang
memberikan penerangan pada lingkungan sekitar tetapi dirinya justru terbakar.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda;
مَثَلُ الَّذِى يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ
وَيَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيْءُ لِلنَّاسِ وَيُحْرِقُ نَفْسَهُ
“Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada
manusia dan melalaikan dirinya sendiri adalah seperti lampu yang menerangi
manusia (tetapi justru) membakar dirinya sendiri” (HR Thabarani dengan
sanad shahih)
Orang yang
senantiasa menyuruh orang lain agar melakukan kebaikan, tetapi dirinya sendiri
tidak melakukan kebaikan yang diperintahkan juga laksana seperti batu asah yang
aktif menajamkan pisau tetapi tidak pernah bisa memotong. Dalam syair
dikatakan:
فَيَا حَجَرَ الشَّحْذِ حَتَّى مَتَى تَسُنُّ الْحَدِيْدَ وَلَمْ تَقْطَعِ
Duhai batu
asah, sampai kapankah kamu terus menerus menajamkan besi, tetapi tidak pernah
bisa memotong
Seorang
penyeru kebaikan tanpa mau belajar menjadi pelaku kebaikan adalah orang-orang
yang pernah disaksikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam
Isra’; [Pada malam diisra’kan, aku menyaksikan orng-orang yang lidahnya
dipotong dengan gunting-gunting dari api. Aku bertanya: Siapakah mereka wahai
Jibril? Jibril menjawab: “Mereka adalah para pengkhutbah dari umatmu. Mereka
memerintahkan kebaikan tetapi melupakan diri mereka sendiri. Padahal mereka
membaca al kitab. Apakah mereka tidak berakal?”] (HR Ibnu Hibban. Ibnu Abi
Dun’ya dalam Kitabus sumti)
Dalam riwayat
Ibnu Abi Dun’ya: Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Pada
malam isra’ aku menyaksikan kaum yang lidahnya dipotong dengan gunting-gunting
dari api. Setiap kali dipotong maka lidahnya kembali lagi. Aku bertanya:
Siapakah mereka? Jibril menjawab: Para pengkhutbah dari umatmu. Mereka
mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan”
Orang-orang
tersebut dihari kiamat juga akan menerima bentuk siksaan seperti disabdakan
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: [Pada hari kiamat didatangkan
seseorang yang lalu ia dilemparkan ke neraka. Isi perutnya terburai sehingga ia
lalu berputar-putar membawa isi perut tersebut seperti halnya himar memutar
gilingan. Penduduk nereka segera berkumpul mengelilinginya. Mereka bertanya:
“Wahai fulan, ada apa denganmu, bukankah dulu kamu telah memerintahkan kebaikan
dan mencegah kemungkaran?” Ia lalu menjawab: “Ia, aku dulu memerintahkan
kebaikan tetapi tidak mau melakukan. Aku mencegah kemungkaran tetapi aku malah
melakukannya”](HR Bukhari Muslim)
Kendati
sebuah peringatan agar kita para da’i mawas diri untuk terus berbenah
memperbaiki diri sendiri, firman Allah ini juga merupakan sinyalemen kondisi
akhir zaman berupa kemunculan para penyeru kebaikan, tetapi bukan sebagai
pelaku kebaikan. Inilah isyarat kemunculan orang-orang yang lebih senang
berbicara daripada berbuat. Sebuah fenomena di mana khalayak lebih melihat dan
mudah terpesona ulasan dan penjelasan indah daripada usaha-usaha dan langkah
nyata. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya
diriku tidak mengkhawatirkan seorang mukmin atau musyrik atas umatku karena
seorang mukmin akan dikendalikan oleh keimanannya dan seorang musyrik akan
dihancurkan oleh kekafirannya. Akan tetapi aku mengkhawatirkan atas kalian
seorang munafik yang alim lidahnya (Alimul lisan); ia mengatakan apa
yang kalian mengerti dan melakukan apa yang kalian ingkari” (HR Thabarani)
Seorang
penyeru kebaikan yang tidak melakukan kebaikan, meski ia dicela dan disiksa,
bukan berarti menafikan pahala yang diterimanya atas seruan kebaikannya. Karena
jelas bahwa orang yang menunjukkan kebaikan adalah seperti orang yang
melakukan kebaikan. Hal ini sama seperti ketika disebutkan bahwa orang
miskin lebih dulu memasuki surga daripada orang kaya dalam rentang wakru
setengah hari atau lima ratus tahun dalam hitungan hari-hari dunia, maka bukan
lantas difahami bahwa derajat orang miskin di surga lebih tinggi daripada orang
kaya.
Karena itu,
marilah terus menyerukan kebaikan. Sebab jika tidak diserukan maka
kebaikan-kebaikan akan semakin ditinggalkan.
Dari terus
menyuarakan, Insya Allah kita akan belajar dan termotivasi untuk menjadi
orang baik. Dan yang perlu dicatat di sini bahwa al birr dalam firman
Allah di atas dijelaskan Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam sebagai budi pekerti yang baik dan sementara ulama
memberikan bimbingan bahwa kedermawanan adalah kunci memasuki budi
pekerti yang baik, maka belajar menjadi orang yang dermawan adalah urgensi bagi
penyeru kebaikan. Allahu a’lam.
Subscribe to:
Posts (Atom)
