Mar 7, 2017

Lemah Lembut




Keutamaan Shohabat Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Al-Khotthob

"Beliau memiliki sifat halus (lemah-lembut) yang di dalamnya terdapat kekuatan"

Salah satu sifat yang ditemukan dalam diri Sayyidina Abu Bakar. Seorang shohabat Rosul yang dikenal sebagai orang yang paling menjaga sunnah-sunnah Rosul. Seorang istimewa yang "persahabatannya" dengan Rosululloh Alloh firmankan dalam Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 40,

"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Alloh telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Alloh beserta kita"."

Dalam riwayat Imam Bukhori, disebutkan bahwa Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
"(beliau bermimpi) Ketika aku berada di sebuah sumur menarik ember, tiba-tiba Abu Bakar dan Umar datang, kemudian Abu Bakar menarik seember atau dua ember dan dalam tarikannya terdapat kelemahan, Alloh pun mengampuninya. Kemudian Umar bin Khotthob mengambil ember dari tangan Abu Bakar, tiba-tiba embernya berubah menjadi besar, tidak pernah aku melihat seorang kuat yang beramal gigih seperti kegigihannya, sehingga orang banyak yang bisa minum dengan puas dan mereka bisa membuat kandang untuk unta (yang banyak)"

Para ulama ahli hadits, menjelaskan bahwa hadits tentang mimpi Rosululloh tersebut merupakan sebuah isyarat akan datangnya kepemimpinan Islam yang dipimpin Sayyidina Abu Bakar setelah kewafatan beliau, dan dalam kepemimpinannya terdapat kelemahan. Maksud dari kelemahan tersebut, bukanlah kelemahan pribadi beliau (Abu Bakar), namun lebih pada keadaan yang terjadi pada kaum Muslimin saat itu yang banyak murtad dan menentang ajaran Islam.

Hingga bisa kita dapati dalam sejarah Islam, bahwa di masa kepemimpinan Sayyidina Abu Bakar, beliau banyak memerangi kaum murtaddin yang merongrong dan merusak pemerintahan Islam saat itu.

Kemudian Sayyidina Umar bin Khottob mengambil ember dari tangan Sayyidina Abu Bakar, hal tersebut diisyaratkan bahwa setelah masa kepemimpinan Sayyidina Abu Bakar, maka Sayyidina Umar akan naik menggantikan posisi beliau dalam memimpin kaum Muslimin. Adapun maksud dari kalimat Rosul yang berbunyi, "tiba-tiba embernya berubah menjadi besar..." mengisyaratkan bahwa dalam kepemimpinan Sayyidina Umar, Islam menjadi mulia dan mengalami banyak perkembangan dan futuhat di berbagai tempat. Penyebaran Islam mengalami kemajuan pesat, dan kekuatan serta kesejahteraan kaum Muslimin pada masa itu mengalami puncak keemasaannya.

Inilah maksud dan penjelasan para ulama' terkait dengan hadits yang disabdakan oleh Rosululloh.Dan sebagaimana kita telah ketahui akan sejarah yang tertulis, bahwa mimpi yang dialami oleh Rosululloh tersebut benar-benar terjadi dan terealisasi di masa berikutnya.

Cukuplah jikalau kita menjadikan profil shohabat-shohabat dekat Rosululloh sebagai teladan dalam kehidupan keseharian kita. Entah itu teladan dalam membina rumah tangga, dalam hidup bermasyarakat, dalam kepemimpinan umat, bahkan dalam melakukan pembelaan pada Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam.

Sebagaimana sebuah pembelaan Sayyidina Abu Bakar terhadap Rosululloh yang diriwayatkan pula oleh Imam Bukhori dalam sebuah haditsnya. Dimana saat Rosululloh tengah sholat, dengan sebuah selendang yang beliau lilitkan di leher, tiba-tiba Uqbah bin Mu'ith datang dan menarik selendang beliau dengan keras hingga mencekiknya.

Melihat hal tersebut, Sayyidina Abu Bakar datang melindungi Rosululloh dengan penuh keberanian dan berkata, "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhanku ialah Alloh, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu"." (Surat Ghofir ayat 28)

Dan dalam kepemimpinan umat, dimana kita ketahui dalam berbagai tulisan ahli sejarah, bahwa Khulafaur-Rosyidin, para shohabat terkemuka yang memimpin umat Muslim setelah kewafatan Rosululloh telah memberikan sebuah contoh kepemimpinan yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang setelahnya. Kepemimpinan sejati yang penuh dengan ketulusan, mengesampingkan kepentingan pribadi demi menjaga amanah yang dibebankan dan demi memajukan agama dan ajaran yang dicintai, dijadikan pedoman dalam setiap langkah hidupnya.

Mudah-mudahan kita bisa menjadikan beliau semua (shohabat dekat Rosul) sebagai teladan dan panduan bagi perjalanan kehidupan kita di dunia yang fana dan penuh akan ujian dan godaan. Dengan harapan, kita bisa bertemu dan berkumpul dengan beliau semua di surgaNya kelak. Amiin

Ringkasan Taklim Kitab Shohih Bukhori, 8 Maret 2017.


Oct 5, 2016

Betapa Indahnya Surga

#TaklimShahihMuslim

Seorang sahabat Nabi, Abu Hurairah pernah bilang: “Ya Rasulullah, Dikala kami bersama engkau, tiada yang kami rasakan kecuali hati kami merasa lembut, zuhud dengan dunia, dan kami merasa sebagai ahli akhirat. Lalu ketika kami keluar meninggalkan engkau lantas kami bergaul dengan istri kami, menciumi anak-anak kami, kami ingkar dengan diri kami sendiri."

Lantas Rasulullah menjawab: ”Jika kalian dikala keluar meninggalkanku kondisi kalian seperti ketika bersamaku, maka malaikat akan menziarahi rumahmu. Jika kalian tiada berbuat dosa, Allah ta'ala akan mendatangkan makhluk baru agar mereka melakukan dosa lalu Allah mengampuninya.”

Abu Hurairah bertanya lagi: “Ya Rasulallah, dari apa makhluk diciptakan?”

“Dari air”, jawab Nabi

“Kalau surga itu dibangun dari apa?”

“Batu bata dari perak, batu bata dari emas, semennya dari misik terwangi, kerikilnya dari mutiara dan yaqut, debunya dari za'faron, sesiapa yang memasuki akan merasakan kenikmatan tiada diazab, terus hidup tiada mati, pakaiannya tiada kusam, masa muda tiada pernah sirna.”

Lantas Rasulullah melanjutkan, “Tiga orang yang tiada ditolak doanya: Imam yang adil, seorang yang berpuasa dikala berbuka, dan doa orang yang teraniaya terangkat menembus langit, baginya dibuka pintu-pintu langit. Allah berfirman: Demi kemulyaanku, Aku sungguh akan benar-benar menolongmu meskipun nanti. (Tirmidzi: 2526)

Dalam hadits di atas, Rasulullah mengilustrasikan keindahan kondisi surga. Sebuah ilustrasi yang tentunya hanya bisa dibayangkan dengan amat terbatas. Sebab keindahan itu adalah keindahan yang kedua mata tak pernah melihat dan menyaksikan, telinga belum pernah mendengar, dan tak pernah sama sekali terbersit di hati.

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa, di Surga ada sebuah Pohon, menurut Ibnul Jauzi pohon yang dimaksud adalah pohon Thuba (طوبى). Sebuah pohon yang besar dan tinggi menjulang. Seorang pengendara kuda yang lihai dan dengan kecepatan maksimal ketika berjalan di naungannya meski menghabiskan waktu selama 100 tahun, ia tiada akan berhasil menempuhnya. (Lihat Tirmidzi: 2524)

Menurut Nabi itulah yang di maksud dengan “wazhillin mamdud” naungan yang terbentang, dalam surat Al Waqiah.

وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِين ٢٧
27. dan golongan kanan, Alangkah bahagianya golongan kanan itu.

فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ ٢٨
28. berada di antara pohon bidara yang tak berduri,

وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ ٢٩
29. dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya,

وَظِلٍّ مَمْدُودٍ ٣٠
30. dan naungan yang terbentang luas,

وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ ٣٢
32. dan buah-buahan yang banyak,

لا مَقْطُوعَةٍ وَلا مَمْنُوعَةٍ ٣٣
33. yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya.

وَفُرُشٍ مَرْفُوعَةٍ ٣٤
34. dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.

إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً ٣٥
35. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka Bidadari-bidadari dengan langsung (tanpa melalui kelahiran dan langsung menjadi gadis).

فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا ٣٦
36. dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.

عُرُبًا أَتْرَابًا ٣٧
37. penuh cinta lagi sebaya umurnya.

لأصْحَابِ الْيَمِينِ ٣٨
38. kami ciptakan mereka untuk golongan kanan,

Secara prinsip bahwa masing-masing penghuni Surga mendapatkan luas wilayah tidak kurang dari luas kabupaten. Sebab lebar surga layaknya langit dan bumi.

Sementara di lain kesempatan para penghuni Surga bisa juga berekreasi. Di pohon besar itulah mereka akan berekreasi. Disana disediakan hiburan yang demikian menggiurkan. Jika ada yang ingin mendengarkan alunan musik. Allah ta'ala akan mengirimkan angin untuk menyenandungkan nada-nada indah hasil paduan suara dengan pohon-pohon disana. Pohon-pohon yang batang-batangnya terbuat dari emas murni.

Kenikmatan-kenikmatan yang menggiurkan itu, tentu saja seperti yang disabdakan Nabi, dalam meraihnya ketika didunia, semua itu dipenuhi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Huffat bil makarih. Dikelilingi dengan sekian hal yang tidak menyenangkan.

Semoga Allah memberi kekuatan kita untuk terus berusaha meraih surga dengan terus menjalankan ketaatan meski banyak hal yang tak menyenangkan hadir mengusik kehidupan kita. Amin.

Wallahu ta'ala a'lam.

(Diresume oleh: Ust Sabieq)

Oct 3, 2016

Doa Seorang Guru Dambaan Setiap Santri

Syabib Ibn Al Ghorqodah berkata: Aku mendengar banyak orang dari Bani al Bariqy menceritakan, dari Urwah bin al Ja'd al Bariqy, seorang Qodhi perdana di negeri Kufah. Bahwa Rasulullah memberinya satu dinar, agar ia membelikan seekor kambing untuk beliau. Maka ia pun membelikan dua ekor kambing untuk beliau. Lalu ia berinisiatif untuk menjual salah satu kambing itu dengan harga satu dinar. Sehingga ia datang menemui Rasulullah dengan membawa seekor kambing dan plus uang satu dinar. Tersebab merasa senang dengan apa yang ia kerjakan, Rasulullah seketika mendoakan keberkahan dalam jual belinya. Dan konon setelah itu, jika ia semisal menjual debu saja, ia pasti akan mendapatkan laba. 3642
Bagaimana kita melihat seorang Urwah mendapatkan doa Rasulullah tanpa meminta terlebih dahulu. Dan kemudian ia merasakan betapa memang doakan keberkahan beliau benar-benar diijabah oleh Allah. Dalam satu kesempatan, Urwah pernah bercerita, “Aku masuk pasar Kufah untuk berdagang, maka aku mendapatkan laba 40.000 dirham.” Padahal pada waktu itu uang 8 dirham sudah sangat cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Maka sebagai seorang santri, kita harus berusaha menyuguhkan khidmah terbaik sehingga bisa membuat guru atau orang yang kita khidmahi merasa senang. Munculkan ide-ide cemerlang yang bisa membuat senang. Dan jangan hanya menunggu perintah.
Abi Ihya’ ketika masih menjadi santri, di kala Abuya al Maliki di Thoif, Abuya ingin untuk qodlil hajah. Maka beliau bergegas mengecek WC terlebih dahulu, ternyata WC yang ada dipenuhi dengan kotoran. Tanpa pikir panjang beliau langsung membersihkannya memakai tangan. Selepas selesai, ternyata Abuya tahu tentang apa yang dikerjakan santrinya itu. Sehingga beliau langsung mendoakan: “Barokallohu fik, Barokallohu fik, barokallohu fik.”
Seharusnya seseorang dikala mendapatkan hal yang menyenangkan dari orang lain, ia menyambutnya dengan mendoakan orang itu dengan kebaikan. Barokallohu fik.
Selain itu, doa adalah sebuah hal yang selayaknya dimintakan kepada seorang shalih. Sebab hanya doa sebuah hal yang paling layak dan pas untuk dimintakan kepada mereka. Meski barangkali mereka menawarkan kepada kita untuk meminta kebutuhan apa saja. Akan tetapi doa mereka lebih penting untuk kita mintakan daripada harta benda atau yang lainnya.
Abi Ihya’ memiliki tugas khidmah menjaga telefon dari Abuya disetiap malam sabtu di kantor As-Shofwah Surabaya. Di setiap akhir percakapan dengan Abuya, Abuya pasti menawarkan kepada Abi: “Isy lak hajah?”, “Kau pengin apa?”. Dan disetiap itu pula Abi selalu menjawab: “Ad-da'awat Abuya”, “Cukup doa Abuya”.
Sayyidina Anas juga mendapatkan doa Rasulullah yang berupa tiga hal, panjang umur, keberkahan rizqi, dan banyak anak. Dan lihat ia diberi umur panjang lebih dari seratus tahun, rizqi yang ia dapat dari ladang sukses besar bahkan bisa dipanen lebih banyak dari kebanyakan orang, dan anak turunnya beliau lebih dari 500 anak cucu.
Dalam hadits di atas. Urwah memang menjual sebuah kambing yang bukan miliknya. Akan tetapi karena tujuannya tiada lain adalah untuk menyenangkan Rasulullah, menurut Qoul Qadim hal ini diperbolehkan. Namun menurut Qoul jadid hal ini tidak diperbolehkan sebab ada hadits Hakim bin Hazm yang menyatakan: “La tabi' ma laisa ‘indak!”, Jangan kau jual apa yang bukan milikmu.
Imam Rifa'i seorang Penggagas Thoriqoh Rifaiyyah pernah menghidupkan tanah tak bertuan (Ihya' al Mawat) di Mesir. Sehingga tempat itu menjadi ramai dengan kegiatan keagamaan. Di suatu hari ia didatangi seorang yang mengaku sebagai pemilik tanah. Tanpa pikir lagi, beliau langsung mempersilahkan orang itu jika ingin mengambil alih kepemilikan tempat tersebut.
Hal ini memberikan pelajaran yang teramat besar. Jika suatu saat ada hak yang kita miliki dirampas oleh orang, kita harus belajar untuk bersikap legawa. Yakinkan dalam diri bahwa Allah akan mendatangkan sebuah ganti yang lebih besar dan agung untuk kita. Sebuah hal yang mudah sekali diucapkan, tidak demikian dalam ranah pengamalan.
Wallahu ta'ala a'lam.

(Peresume: Ust. Shabieq)

Al Ayman Fal Ayman


#NgajiShohihMuslim

Dikala kita sedang bersama hendak menikmati minuman, ada sebuah hal yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Sebuah cara yang akan menciptakan kebersamaan yang demikian indah, bahkan sampai pada tingkat “ngalap barokah”.

Caranya yakni dengan memutarkan minuman itu kepada orang ke arah kanan. Meskipun ada orang yang lebih tua di sisi kirinya. Hal ini juga amat berkaitan dengan kesunnahan mendahulukan segala hal yang baik dengan memakai anggota bagian kanan (tayamun).

ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ، ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺗﻲ ﺑﻠﺒﻦ ﻗﺪ ﺷﻴﺐ ﺑﻤﺎء، ﻭﻋﻦ ﻳﻤﻴﻨﻪ ﺃﻋﺮاﺑﻲ، ﻭﻋﻦ ﻳﺴﺎﺭﻩ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ، ﻓﺸﺮﺏ ﺛﻢ ﺃﻋﻄﻰ اﻷﻋﺮاﺑﻲ، ﻭﻗﺎﻝ: «اﻷﻳﻤﻦ ﻓﺎﻷﻳﻤﻦ»

Dari Anas bin Malik, bahwa sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberi susu yang telah dicampur dengan air. Di sisi kanan beliau ada seorang A'roby, sementara di sisi kiri beliau adalah Abu Bakar. Beliaupun meminumnya lantas memberikannya kepada A'roby, dan bersabda: “Sisi kanan (lebih berhak) lalu sisi kanannya lagi.” 124 - (2029)

Di hadits yang lain disebutkan bahwa: Sayyidina Anas pernah bercerita: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, saat itu usiaku 10 tahun, dan Nabi meninggal dunia saat aku berusia 20 tahun. Bahwa ibu-ibuku mendorong aku untuk berkhidmah kepada Rasulullah. Maka suatu saat Rasulullah berkunjung ke rumahku. Maka aku memerahkan susu kambing untuk beliau. Lantas dicampurlah susu itu dengan air sumur di rumah. Rasulullah pun lalu meminumnya. Sayyidina Umar berkata kepada beliau sementara Abu Bakar berada di sisi kiri beliau: “Rasulullah, berilah Abu Bakar”. Maka Beliau justru memberikannya kepada seorang A'roby yang berada di sisi kanan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Sisi kanan (lebih berhak) lalu sisi kanannya lagi.” 125 - (2029)

Ada hadits yang lain yang sampai menyebutkan bahwa: Suatu saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diberi minuman, lantas beliau meminumnya, di sisi kanan Nabi ada seorang anak kecil, dan disisi kiri ada orang-orang tua. Maka beliau bersabda kepada anak kecil itu: “Apakah kau kasih izin supaya aku memberi mereka?”. Anak kecil itu menjawab: “Tidak demi Allah, aku takkan mendahulukan orang lain dengan jatahku yang dari engkau.” Maka Rasulullah pun menurunkan minuman itu pada tangan anak kecil tadi. 127 - (2030)

Memang demikian adanya bahwa Rasulullah mendahulukan A'roby daripada Abu Bakar sebab beliau hendak berusaha menghargai dan “ngewongno” A'roby. Juga mengharuskan Rasulullah meminta izin terlebih dahulu kepada anak kecil barangkali ia mau mendahulukan orang-orang tua meski ternyata ia tidak mau. Tentu saja, pada prinsipnya sebetulnya mendahulukan orang lain dalam urusan selain ibadah adalah hal yang lebih utama.

Kadang ada saja seseorang yang menganggap jijik dengan hal semacam ini. Padahal ada hadits yang menyebutkan bahwa sisa seorang mukmin adalah obat. Su'rul Mukmin syifa'. Meski hadits ini dloif akan tetapi seharusnya bisa dijadikan sebuah motivasi dalam hal ini. Jangan meniru seseorang yang justru bangga ketika ia suatu saat memesan sekian ragam makanan lantas ia tidak menghabiskannya.

Terlebih bahwa makan dan minum bersama mempunyai efek dan fungsi yang luar biasa bagi tumbuhnya kebersamaan, pertautan hati yang kuat, dan cinta.

“Al-Muthoamah tuqi'u al Ulfah wal Mahabbah fil Qulub”. Saling memberi makanan menyebabkan pertautan hati dan kecintaan di hati.

Demikianlah salah satu bentuk kesunahan ringan yang seharusnya terus kita lestarikan. Jangan menganggap tidak penting apalagi sampai meremehkan. Sebab Syetan juga amat hobi menghembuskan godaannya kepada seseorang agar ia suka meremehkan sebuah hal yang kecil.

Wallahu ta'ala a'lam.

(Diresume oleh: Ust Sabiq)

Oct 1, 2016

Bacaan “Amin “ Bersama


Pertanyaan:

Belakangan ini ada sebagian kelompok Islam yang mengklaim sebagai penerus generasi salaf, akan tetapi ada banyak hal aneh dari mereka yang berbeda dengan kebiasaan yang sudah berlaku di kalangan kaum muslimin dunia khususnya Indonesia. Di antara keanehan kelompok tersebut adalah tidak mau membaca “Amin “ bersama - sama untuk mengamini do’a salah seorang ustadz atau kiyai. Menurut mereka, kebiasaan tersebut tidak ada dalil dan tidak pernah pula diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Menurut Pak Kiyai, apakah benar pendapat mereka tersebut?

Haryono, Batu Malang 

Jawaban:

Klaim bahwa bacaan “ Amin “ bersama - sama tidak ada dalilnya adalah salah. Sebab dalil - dalil terkait dengan ini banyak sekali. Di antaranya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang artinya:


Sebuah kelompok tidak berkumpul lalu sebagian berdo’a dan sebagian lain mengamini kecuali Allah pasti mengabulkan mereka “ HR Hakim.

Hadits ini secara jelas menegaskan bahwa pembaca  “Amin “, orang yang mengamini do’a orang lain dianggap ikut serta bedo’a dan berharap dari Allah Swt yang berarti ia juga berhak mendapatkan apa yang didapatkan oleh orang yang berdo’a.

Sungguh memasyarakatkan bacaan “Amin “ dalam setiap kesempatan - selain dalam shalat - adalah upaya menunjukkan identitas dan nilai lebih ajaran Islam disamping juga membuat musuh - musuh Islam gigit jari karena iri dan dengki seperti diriwayatkan oleh Sayyidatuna Aisyah ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya:

Yahudi tidak iri kepada kalian seperti mereka iri akan (ucapan) Salam dan (bacaan) Amin “ HR Ibnu Majah–Ibnu Khuzaimah.

Sep 26, 2016

Makna dari sebuah Bendera dan Kewajiban Bermadzhab


Pertanyaan:

a.Bagaimana hukumnya merayakan hari kemerdekaan RI, baik dari pasang bendera, upacara, umbul–umbul sampai tirakatan?
b.Apa perbedaan antara Madzhab dan Manhaj? Adakah Dalil yang mengharuskan bermadzhab atau memakai manhaj tertentu?  

Hermin Hendarti, di Bumi Allah

Jawaban:

a – Kemerdekaan merupakan anugerah besar dari Alloh, sebab kemerdekaan menjadikan kita terhindar dari perbudakan dan kemerdekaan memberikan kesempatan kepada kita untuk bangkit dan meraih kemuliaan yang telah hilang. Ingat pesan ratu Bulqis saat bertitah:

... إِنَّ الْمُلُوْكَ إِذَا دَخَلُوْا قَرْيَةً أَفْسَدُوْهَا وَجَعَلُوْا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً ...

“…Sesungguhnya raja–raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka akan membinasakan negeri tersebut dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina…”QS an Naml: 34.

      Karena itulah, keluarnya penjajah dari negeri ini merupakan sesuatu hal yang harus disyukuri dan sebenarnya banyak sekali yang bisa dan harus dilakukan dalam rangka memenuhi tuntutan bersyukur. Salah satu yang bisa dan boleh dilakukan adalah melakukan perayaan dengan upacara, memasang bendera atau umbul–umbul. Khusus tentang bendera, di sini ulama memperbolehkan atau memasang dan menghormat bendera dengan mengambil dalil pada kejadian di perang Mu’tah saat Abdulloh bin Rawahah sebagai pemegang bendera. Ketika tangan kanan terputus maka bendera itu dipegang dengan tangan kiri dan saat tangan kiri terputus maka dirangkul. Dalam setiap peperangan, pasukan islam juga tak pernah melupakan bendera hingga dalam sejarah peperangan Rasulullah Saw sendiri tercatat jelas siapa yang bertugas membawa bendera dan bahkan membawa bendera merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Hal ini menunjukkan bahwa bendera memiliki makna sebuah eksistensi, kebanggaan dan kemuliaan. Adapun perayaan hari kemerdekaan dengan ritual tirakatan (puasa) yang tidak sesuai dengan ajaran islam maka sungguh ini tidak dibenarkan. Sementara perayaan hari kemerdekaan dengan mengadakan sebuah konser musik dan berbagai kemaksiatan lain, maka semua termasuk bagian dari mengkufuri nikmat–nikmat Alloh.

      b–Secara bahasa kata Madzhab dan Manhaj bermakna sama yaitu sebuah jalan (Thoriiqoh) yang dipilih dan diikuti, tetapi kemudian bahasa Madzhab menjadi sebuah istilah yang Identik dengan fiqih. Dalam masalah ini memang setiap pribadi muslim wajib mengikuti salah satu dari empat Madzhab Fiqih yaitu Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali. Kewajiban ini dengan syarat seseorang tidak memiliki kemampuan atau keahlian berijtihad yaitu mengambil hukum (Istinbath) dari Alqur’an dan Sunnah. Sementara jika mempunyai kemampuan maka dia justru diharuskan berijtihad. Dalil yang mengharuskan agar berTaqlid atau mengikuti dan mengekor kepada Madzhab tertentu bagi orang yang tidak tahu adalah firman Allah Swt: “Maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui”QS an Nahl: 43, juga firman Allah:

وَلَوْ رَدُّوْهُ إِلَي الرَّسُوْلِ وَإِلَي أُولِي اْلأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَـنْبِطُوْنَهُ مِنْهُمْ ...

“Dan andai mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang–orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya…”QS an Nisa’ : 83.

Bermadzhab adalah nama lain dari berpegang teguh kepada ajaran Alqur’an dan Sunnah Rasulullah Saw, sebab hukum–hukum dari Madzhab tak lain adalah intisari dari Alqur’an dan Hadits Nabi Saw. Justru ketika seseorang tidak bermadzhab padahal dia tidak memiliki kompetensi untuk mengambil hukum sendiri maka sangat dikhawatirkan dia akan akan mati tenggelam dalam kesesatan, sebagaimana halnya seorang yang ingin memiliki mutiara, kemudian langsung sendiri menyelam ke dasar lautan padahal dia tidak bisa berenang atau bisa berenang tetapi tidak didukung oleh sarana yang memadai maka dapat dipastikan ia hanya akan pulang nama. Mestinya jika ingin memiliki mutiara dia harus pergi ke toko perhiasan dan membelinya di sana. Lantas mengapa hanya terbatas pada empat Madzhab? Jawabnya karena selain imam empat tersebut tidak memiliki jaringan yang jelas dan dapat dipercaya yang bisa membawa dan menyampaikan hasil Ijtihadnya. Selain itu, hasil – hasil Ijtihad  dari selain Imam empat tidak pernah terbukukan.[]

                               

Bagaimana Cara Minum Ala Rasulullah

#Ta'lim Shahih Muslim


Kita sudah mengerti, betapa Rasulillah shalallahu alaihi wasallam adalah seorang figur yang mengajari adab tentang sebuah hal dengan demikian detail. Maka seharusnya dalam setiap apa yang beliau ajarkan itu, kita ambil hal itu sebagai sebuah tuntunan. Sebab maklum bahwa apa yang beliau ajarkan tak ada lain kecuali merupakan sebuah wahyu yang di wahyukan.

Seperti dalam cara bagaimana Rasulillah makan dan minum. Karena dengan mengikutinya disamping merupakan bukti kecintaan kita, sebuah cara menghidupkan sunnah, ternyata apa yang diajarkan Rasulillah amat banyak menyimpan hikmah.

Kita melihat betapa seseorang mendapatkan gelar doktor hanya sebab ia meneliti manfaat menjilati jemari selepas makan dari hadits yang mengajarkan hal itu. Orang lain mendapatkan gelar doktor sebab meneliti hikmah tentang perintah Rasul supaya mencelupkan sekalian lalat yang hinggap di minuman kita. Oleh sebab itu, kita seharusnya mencontoh apa yang beliau teladankan, dan tidak perlu bertanya-tanya dan protes tentang hal itu.

Rasulillah adalah seorang Nabi yang jarang menderita sakit, ada yang menyebutkan bahwa Rasulillah hanya sakit dua kali selama hidupnya. Maka hal ini seharusnya yang kita contoh, bagaimana beliau melakukan kiat-kiat dalam menjaga kesehatan, terlebih dalam makan dan minum.

Rasulillah mengajarkan jika kita hendak makan dan minum agar jangan sampai berlebihan. Larangan semacam itu muncul ternyata adalah sebuah isyarat bahwa makan minum berlebihan mengandung banyak akibat negatif, lebih-lebih dalam masalah kesehatan. Dan kesehatan mengungkapkan fakta bahwa mayoritas penyakit dipicu oleh makan dan minum yang berlebihan.

Selain itu, Rasulillah mengajarkan agar supaya ketika kita hendak minum. Kita jangan sampai bernafas di dalam minuman yang kita minum. Sebab ternyata setelah diteliti, nafas yang kita lepaskan di minuman mengandung CO 2 yang tidak baik bagi kesehatan.

Sebaiknya jika kita ingin bernafas, kita bernafas di luar gelas atau diluar tempat minuman itu. Dan jangan juga meminum dengan sekali teguk, akan tetapi apa yang diajarkan Rasulillah adalah meminum dengan tiga kali tegukan. Satu lagi, jangan lupa untuk membaca basmalah dan mengakhirinya dengan hamdalah. Sebab Rasulillah melakukan hal itu, bahkan Rasulillah membaca basmalah dan hamdalah di setiap tegukan. Dalam sebuah hadits di sebutkan:

ﻋﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻗﺘﺎﺩﺓ، ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ، «ﺃﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻧﻬﻰ ﺃﻥ ﻳﺘﻨﻔﺲ ﻓﻲ اﻹﻧﺎء»

Dari Abdillah bin Abi Qatadah, dari ayahnya, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang bernafas di dalam bejana/gelas.

Di riwayat yang lain, Rasulillah menghela nafas di luar gelas atau minuman tiga kali. Dan hal itu seperti yang dijelaskan Rasulillah di nilai lebih menyegarkan, menghilangkan penyakit dan lebih nikmat. Dalam sebuah hadits di sebutkan:

ﻋﻦ ﺃﻧﺲ، «ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﻳﺘﻨﻔﺲ ﻓﻲ اﻹﻧﺎء ﺛﻼﺛا

Dari Anas, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bernafas di (luar) bejana/gelas tiga kali.

ﻋﻦ ﺃﻧﺲ، ﻗﺎﻝ: ﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺘﻨﻔﺲ ﻓﻲ اﻟﺸﺮاﺏ ﺛﻼﺛﺎ، ﻭﻳﻘﻮﻝ: «ﺇﻧﻪ ﺃﺭﻭﻯ ﻭﺃﺑﺮﺃ ﻭﺃﻣﺮﺃ»، ﻗﺎﻝ ﺃﻧﺲ: «ﻓﺄﻧﺎ ﺃﺗﻨﻔﺲ ﻓﻲ اﻟﺸﺮاﺏ ﺛﻼﺛﺎ

Dari Anas, ia berkata: Bahwa Rasulillah shallallahu alaihi wasallam bernafas di (luar) minuman tiga kali. Dan beliau bersabda: “Sungguh hal itu lebih menyegarkan, menghilangkan penyakit, dan lebih nikmat”. Anas berkata: “Maka aku bernafas di (luar) minuman tiga kali.”

Hadits-hadits diatas dalam redaksi yang disebutkan, seolah bertentangan dengan hadits yang melarang bernafas di dalam bejana/ gelas. Namun para Ulama memberikan pemahaman untuk menjami’kannya bahwa yang di maksud adalah “Fi khorijil ina'/syarob” yakni diluar bejana, gelas, atau minuman.

(Diresume oleh | Ust. Sabieq)