Jun 26, 2014

Berpuasa tapi tidak Shalat

Pertanyaan:

Banyak orang menjalankan puasa Ramadhan tetapi shalatnya tidak dilaksanakan. Apakah puasa orang semacam ini tetap sah? Bagaimana memandang kasus ini? Harap diterangkan.

Fulan, di Bumi Allah



Jawaban:

Puasa adalah ibadah tersendiri. Dia tidak terkait dengan shalat. Dengan demikian, puasa orang yang tidak shalat tetap dihukumi sah dan insyaallah mendapatkan pahala selama amaliah puasanya ikhlas karena Allah subhanahu wata’ala. Boleh jadi hal ini karena bulan Ramadhan memiliki daya tarik (magnitude) tersendiri bagi kebanyakan orang untuk turut serta menyemarakkannya. Amal baik yang dipersembahkan untuk Allah subhanahu wata’ala sekecil apapun niscaya ada nilainya dan tidak akan disia-siakan. Di dalam Al Qur’an disebutkan:

فَمَن يَعِمَلْ مَثْقَالَ ذَرَّةٍخَيْرًايَرَهُ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

"Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun niscaya dia kan melihat balasan-nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun niscaya dia kan melihat balasannya pula". (Q.S. Az Zalzalah: 7-8)


Hanya saja orang yang melaksanakan puasa dituntut hendaknya meningkatkan kapasitas diri dalam menyempurnakan rukun Islam dengan melaksanakan ibadah shalat. Karena tidak kalah dengan puasa, shalat adalah ibadah yang memiliki posisi penting dalam jajaran rukun Islam. Shalat adalah tiang agama. Meninggalkannya adalah kefasikan (perbuatan dosa). Sementara sebagian ulama menyebut meninggalkannya adalah suatu kekafiran. (Shiyamak, Abdul Alim Abdurrahman Assa’di, hal 41& Fiqh Ash Shiyam, Al Qardhawi, hal 143).

Bacaan Khathib saat Duduk di antara Dua Khutbah

Pertanyaan:

KH. Ihya' yang saya hormati, pada waktu duduk di antara dua khutbah Jum’at, apakah ada doa atau dzikir yang disunnahkan dibaca oleh khatib ataukah justru sunnahnya itu khatib diam?  Jazakumullah atas jawabannya.

Khatib Pemula, di Surabaya
Jawaban:

Di antara dua khutbah Jum’at, disunnahkan bagi khatib untuk duduk sebentar, karena hal ini menjadi kebiasaan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam sewaktu Beliau khutbah. Lalu tindakan apakah yang sunnah dilakukan pada saat duduk di antara dua khutbah itu? Di dalam hadits disebutkan:

كَانَ النَّبِىُّ صلي لله عليه وسلم يَخْطُبُ خُطْبَتَيْنِ: كَانَ يَجْلِسُ إِذَاصَعِدَالْمِنْبَرَ حَتَّي يَفْرُغَ (الْمُؤَذِّنُ)، ثُمَّ يَقُوْمُ فَيَخْطُبُ، ثُمَّ يَجْلِسُ فَلاَيَتَكَلَّمُ، ثُمَّ يَقُوْمُ فَيَخْطُبُ

Nabi shalallahu alaihi wasalam khutbah dua kali. Beliau duduk ketika naik mimbar sampai muaddzin selesai dari adzannya. Beliau bangkit dan khutbah. Lalu duduk dan tidak berbicara. Kemudian bangkit dan khutbah lagi. (H.R. Abu Dawud I : 286 nomor 1092 dari Abdullah bin Umar)

Dari hadits ini, sikap yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasalam sewaktu duduk di antara dua khutbah ialah tidak berbicara. Sementara Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan bahwa tidak berbicara bukan berarti menafikan dzikir dan atau berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala secara sirri (pelan). Karena itu, pada riwayat Ibnu Hibban, disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pada duduk di antara dua khutbah Beliau membaca kitab Allah subhanahu wata’ala. Dan kitab Allah yang paling utama dibaca waktu itu ialah surat Al Ikhlas. (Syarah Ath Thibi).

Jun 2, 2014

Shalat Jum’at Terlambat

Pertanyaan:

Bapak kyai pengasuh kolom Fasalu. Saya menanyakan kasus. Misalnya saya shalat Jum’at dan terlambat datang. Saya menjumpai imam ketika itu sudah memasuki rakaat kedua. Pada kasus ini sikap apa yang harus saya lakukan? kedua, bagaimana bila saat itu saya datang dan menjumpai imam telah duduk tasyahud (menjelang salam)? Saya mengharapkan jawaban Bapak kyai sekaligus beserta dalilnya agar semakin mantap.

Santri, di bumi Allah Jombang.

Jawaban:

Bila ketepatan datang terlambat pada saat shalat Jum’at dan masih menjumpai rakaat kedua, setidak-tidaknya yaitu menjumpai imam tengah melaksanakan ruku’, maka saudara tinggal melanjutkan menambah satu rakaat yang tertinggal tadi segera setelah imam usai salam, seperti layaknya bila ketinggalan pada shalat fardlu yang lain. Sementara bila keterlambatan saudara sampai menyebabkan tidak menjumpai rakaat kedua sama sekali, seperti hanya menjumpai duduk tasyahudnya imam menjelang salam, maka tindakan yang mesti dilakukan ialah segera melanjutkan shalat empat rakaat. Ini merupakan madzhab yang dipilih oleh Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ibnul Mubarak, dan Suf-yan Ats Tsauri. Menurut ulama pengikut madzhab Syafi'i (Syafi’iyah) tindakan ini dikenal dengan ungkapan: “Shalat tanpa niat dan niat tanpa shalat.”

Dasar dari sikap-sikap tersebut ialah hadits:

مَنْ أَدْرَكَ مِنَ الصَّلاَةِرَكْعَةً فَقَدْأَدْرَكَ الصَّلاَةَ
Barangsiapa menjumpai satu rakaat shalat, sesungguhnya dia telah menjumpai shalatnya. (H.R. Abu Dawud I : 292 nomor 1121 dan Tirmidzi II : 19 nomor 523)


Sedang menurut Imam Abu Hanifah, selama masih menjumpai imam shalat Jum’at meski pun pada waktu tasyahud (ujung rakaat kedua), maka seseorang hanya meneruskan shalat Jum’atnya (dua rakaat), bukan melanjutkan shalat empat rakaat (shalat Dhuhur). (Tuhfatul Ahwadzi III : 62)

May 29, 2014

May 28, 2014

Al Qur’an, Energy Kemuliaan & Rahasia Dibalik Kebersamaan

QS al Baqarah:185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًي لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَي وَالْفُرْقَانِ ...

“Bulan Ramdhan adalah bulan di mana Alqur’an diturunkan di dalamnya sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk  itu dan pembeda (antara yang hak dan bathil)…”

Analisa Ayat

Seperti dimaklumi bahwa pada bulan Ramadhan seorang muslim dituntut supaya bersabar dan meneguhkan diri menjalani berbagai macam ritual Ramadhan berupa  puasa, qiyam ramadhan dsb secara total baik fisik ataupun mental semata demi mewujudkan keimanan yang kuat sebagai bekal menuju ketaqwaan. Sementara ada hal sangat penting dan perlu dimengerti ketika dalam ayat ini Allah azza wajalla menyebutkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan di mana terjadi peristiwa agung dan mulia, yaitu Nuzul Alqur’an. Ayat ini menyebutkan Alqur’an bersama bulan Ramadhan sebagaimana halnya sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Puasa dan Alqur’an sama-sama memberi syafaat kepada seorang hamba kelak di hari kiamat. Puasa berkata: “Duhai Tuhanku, saya mencegahnya dari makanan dan syahwat maka biarkanlah saya memberinya syafaat” Alqur’an lalu berkata:“Duhai Tuhanku, saya menghalanginya tidur di malam hari maka biarlah saya memberinya syafaat”Nabi bersaba:. “Maka syafaat keduanya pun diterima oleh Allah” (HR Ahmad Thabarani Ibnu Abi Dun’ya Hakim). Selain memberi makna bahwa puasa, dalam hal ini adalah di bulan Ramadhan, seyogyanya dihias dengan bacaan Alqur’an. Penegasan adanya Nuzul Alqur’an di bulan Ramadhan juga memiliki hikmah:

A) Keharusan bagi umat Islam untuk bersabar dan meneguhkan diri berjalan mengikuti tuntunan dan petunjuk Alqur’an dalam segala aspek kehidupan tanpa peduli dengan berbagai tantangan dari berbagai pihak dan golongan internal Islam maupun pihak eksternal. Segala keinginan pasti ada tantangan, itulah lakon kehidupan. Termasuk dalam upaya mengibarkan bendera Alqur’an. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.“ QS al Kahfi:54.

Ini karena Alqur’an adalah petunjuk bagi manusia. Di dalamnya penuh dengan penjelasan-penjelasan dan pembeda (Furqaan). Alqur’an datang dengan misi mensucikan Aqidah, membersihkan moral etika, membimbing amal sampai pada tingkat profesional, mendorong kepada jalan keberhasilan, memberi peringatan agar menjauhi jalur-jalur kesesatan dan kecelakaan sebagaimana firman Allah, “dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” QS al An’aam:154. “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. QS al Fath:28. Alqur’an juga datang dalam rangka memberikan keputusan dalam segala konflik yang terjadi di antara manusia, “dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka… “ QS al Maidah:49.

Alqur’an penuh dengan energy kemuliaan karena ia datang dari Allah Dzat Maha Mulia. Diturunkan dengan iring-iringan dan pawai makhluk mulia yaitu para malaikat yang secara langsung dipimpin oleh Jibril penghulu para malaikat. Alqur’an juga diturunkan pada momen mulia bulan Ramadhan kepada makhluk termulia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diutus kepada umat termulia dibandingkan umat-umat sebelumnya. Tentu saja kemuliaan ini baru bisa terwujud dan dirasakan oleh umat yang mau menerima Alqur’an secara komprehensif dan aplikatif, bukan hanya sekedar simbolis dengan hanya membeli lembaran-lembaran mushafnya, menaruhnya di rak koleksi dan sesekali waktu membacanya. Kondisi inilah yang sekarang terjadi dalam mayoritas kaum muslimin di seluruh negeri sehingga dari sana sini ada berita kemiskinan, kelaparan, keterbelakangan, kelemahan dan ketidakberdayaan yang seluruh obyek beritanya adalah kaum muslimin kaum yang memiliki kwantitas tangguh tetapi secara kwalitas loyo sebagai akibat tidak mau mengamalkan Alqur’an.

Kondisi demikian bertolak belakang dengan kaum muslimin generasi terdahulu yang memang secara total mengamalkan Alqur’an dalam segala aspek kehidupan baik secara individu, keluarga, masyarakat dan negara sehingga mereka mendapatkan janji Allah berupa kekuasaan, kemenangan dan kesejahteraan sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik “ QS An Nuur:55.

B) Alqur’an mengalami dua proses turun (Nuzul);
(a) Proses Inzal. Turun dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia secara keseluruhan pada malam Lailatul Qadar sebagaimana Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan“ QS al Qadar:1.
(b) Proses Tanziil. Turun secara berkala (Munajjaman) sebagaimana Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran secara bertahap, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” QS al Hijr:9. juga firman Allah:

تَنْـزِيْلَ الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِ
“(sebagai wahyu) yang diturunkan secara bertahap oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,“ QS Yasin:05.

Imam Suyuthi rahimahullah berkomentar: [Andaikan hikmah Ilahiyyah tidak menggariskan kedatangan Alqur’an kepada manusia secara bertahap sesuai keadaan yang terjadi niscaya Alqur’an akan turun di bumi secara keseluruhan seperti halnya kitab-kitab sebelumnya. Tetapi, Allah Menjadikan Alqur’an berbeda dengan kitab-kitab terdahulu dengan memberinya dua tahapan; Inzaal dan Tanziil semata demi memuliakan manusia yang menerima Alqur’an (al Munzal alaih]

Dalam proses Tanziil ada sekian banyak maksud dan tujuan:
  1. Meneguhkan hati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam menghadapi aksi pendustaan orang-orang yang memusuhinya.
  2. Talatthuf, rasa sayang dalam wujud semacam dispensasi untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika menerima wahyu. Sebab haebah, wibawa dan kharisma Alqur’an begitu hebat sehingga andaikan diturunkan kepada gunung niscaya akan hancur lebur.”Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia”)QS ar Ra’ad:31.
  3. Bertahap dalam permberlakuan hukum-hukum Islam
  4. Memudahkan kaum muslimin dalam menghafal dan memahami Alqur’an
  5. Mengikuti perkembangan peristiwa yang terjadi dengan harapan bisa lebih mudah dan mengena dalam hati untuk mengambil pelajaran darinya.
Poros dari semua hal ini adalah pentingnya mengamalkan Alqur’an dalam kehidupan nyata sebagai standar nilai segala dimensi kehidupan karena –sekali lagi- Alqur’an adalah petunjuk, cahaya, rahmat, dan obat di mana semua ini betul-betul diresapi dan dihayati oleh malaikat sehingga mereka mengiringnya; berbeda dengan kebanyakan manusia yang kehilangan daya resap dan penghayatan seperti ini sehingga mereka layak disebut oleh Alqur’an: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki…“ QS al Maidah:50.

Akhirnya dari keimanan kita akan keberadaan Alqur’an yang diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia secara keseluruhan memberikan isyarat bahwa Allah memiliki keputusan yang wajib diimani berupa realitas tertulisnya Alqur’an di sisiNya sebelum akhirnya diturunkan secara bertahap ke dunia. Ini juga menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat Maha Luas ilmuNya. Allah A’lam.



May 7, 2014

Hikmah Ta'lim Pagi 8 Mei 2014

Manusia dengan sifat dasarnya yang bermacam-macam terutama sifat yang kurang baik, seperti suka mengeluh, suka berdebat, pemarah, iri, dengki dan pendendam kikir telah disiapkan oleh Allah ta'ala sebuah penetralisir yg berupa AGAMA atau IMAN. Terbukti dimana sahabat Umar bin Khattab yg keras dan pemarah, dengan suaranya yg lantang ketika tersentuh agama dan iman dari Allah ta'ala yang d bawa Rasullah shallallahu 'alaihi wasallam dapat menjadi lembut. Sehingga, ketika berbincang dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam suaranya begitu lirih sampai-sampai Rasulullh shallallahu 'alaihi wasallam meminta untuk mengeraskan sedikit.

Abina@Hikmah Ta'lim Pagi Pujon | 080514
diresume: zulfikarkamal

May 6, 2014

Hikmah Ta'lim Pagi 07 Mei 2014

Di puji tidak tinggi hati, di caci tidak sakit hati, itulah gambaran jika seseorang mampu ikhlas, cacian dan pujian adalah sesuatu yg tak ber arti baginya, itu akan terwujud jika kita mampu menata dan me-manage niat.

Abina@Pujon.070514 | diresume@zulfikarkamal