Feb 6, 2014

Mewaspadai Kamuflase Syetan pada Perbuatan Manusia

وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لاَ غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّيْ جَارٌ لَّكُمْ فَلَمَّا تَرَآءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّيْ بَرِىءٌ مِّنْكُمْ إِنِّيْ أَرَى مَا لاَ تَرَوْنَ إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ وَاللهُ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Dan ketika syetan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: ‘Tidak seorang manusiapun yang dapat menang terhadap kalian pada hari ini, dan sesungguhnya aku ini adalah pelindung kalian.’ Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syetan itu balik ke belakang seraya berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian; sesungguhnya aku dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya aku takut kepada Alloh. Dan Alloh sangat keras siksa-Nya.’” (QS. Al Anfaal: 48)

Analisis Ayat
 زَيَّنَ لَهُمُ artinya حَبَّبَ لَهُمْ (syetan menjadikan mereka memandang senang terhadap pekerjaan mereka dalam membangun rasa bermusuhan terhadap orang-orang mukmin dengan cara membisiki mereka).
نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ artinya رَجْعُ الْقَهْقَرِيُّ (merosot, mundur, kembali ke belakang).
     
Makna dan Penjelasana Ayat           
Alloh Swt. mengingatkan Rosul-Nya ketika syetan menjadikan orang-orang kafir memandang baik pekerjaan mereka yang bertentangan dengan agama Alloh Swt. dan menjadikan mereka memandang senang terhadap pekerjaan itu, serta membikin khayalan seolah-olah mereka tak akan terkalahkan karena banyaknya jumlah dan perlengkapan mereka, seraya berbisik, “Tidak seorang manusiapun yang dapat menang terhadap kalian pada hari ini, dan sesungguhnya aku ini adalah tetangga kalian.” Maksudnya adalah pembantu dan pelindung bagi mereka. Karena tetangga adalah orang yang memberikan rasa aman bagi orang lain di sekitarnya dari sesuatu yang membuat takut dan cemas. Ucapan tersebut merupakan majas perumpamaan tentang bisikan syetan tersebut.

Tatkala kedua belah pasukan muslimin dan kafir telah saling berhadapan, dan syetan melihat para malaikat di antara mereka, maka ia mundur kembali ke belakang seraya berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian dan dari apa yang telah kalian lakukan; sesungguhnya aku dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat, “ Yakni terhadap tentara Alloh yang telah siap berperang diantara barisan kaum muslimin. Maksudnya syetan telah mengurungkan pekerjaannya membantu pasukan kafir dan merasa kehilangan siasat untuk mengalahkan pasukan muslimin yang dibantu oleh para malaikat. Ini adalah gambaran sikap syetan tatkala bersama orang-orang kafir di dunia, lalu bagaimana sikapnya ketika di akhirat nanti?

Syetan berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Alloh.” Ia berkata demikian karena telah melihat bantuan Alloh Swt. terhadap pasukan muslimin dengan datangnya bala tentara Alloh berupa para malaikat, dan ia merasa teramat takut terhadap mereka. Perkataan syetan, “Aku takut kepada Alloh.” Memiliki kemungkinan makna bahwa ia takut tertimpa sesuatu yang buruk bila harus berhadapan dengan para malaikat Alloh tersebut.


Perkataan syetan, “Dan Alloh sangat keras siksa-Nya.” Inilah sesungguhnya yang ia katakan dengan jujur, sedangkan perkataan dia, “Aku takut kepada Alloh” adalah dusta. Bila ia benar-benar merasa takut kepada Alloh, tentu ia akan menyembah dan mentaati-Nya dengan baik. Akan tetapi dalam hal ini syetan sebenarnya bermaksud menghindar dari kekalahan dalam peperangan tersebut.
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa pada saat itu Iblis menyerupai Suroqoh bin Malik, seorang penyair dari suku Kinan, untuk mengelabui orang-orang kafir.

Kamuflase Syetan Sangat Beragam
            Bila di saat umat manusia masih bersama Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam saja syetan telah cukup berani mengelabui mereka. Lalu bagaimana halnya di zaman ini, ketika kita telah ditinggal oleh beliau 15 abad lamanya. Tentu hal itu menjadi kekhawatiran yang cukup besar. Karena kebatilan semakin merajalela.

            Perbuatan batil memiliki bentuk yang buruk, sedangkan syetan menginginkan kebatilan tetap ada dan dilakukan manusia, oleh karena itu ia kemudian mencari siasat agar mereka memandang baik terhadap kebatilan tersebut, lalu syetan memulainya dari penyesatan ibadah. Ia berjanji pada dirinya sendiri seraya berkata:
لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الأَرْضِ ثُمَّ لأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِيْنَ
Pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan batil) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Al Hijr :39)

            Termasuk bentuk pengelabuan seperti diatas adalah siasat syetan dalam mengubah nama perbuatan buruk atau durhaka dengan nama-nama yang menarik dan disukai oleh nafsu manusia. Syetanlah yang menyebut pohon ‘terlarang’ sebagai pohon ‘keabadian’ (QS. Thoha : 120), khamr atau minuman keras sebagai sumber kesenangan, riba sebagai bunga dan keuntungan, tabarruj (berhias melebihi batas) sebagai hak asasi dan kebebasan perempuan, ikhtilat (pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan) sebagai trend dan modernitas, nyanyian sebagai kesenian, pemeran film atau drama sebagai bintang dan pahlawan.

            Peristiwa pengelabuan syetan terhadap manusia dalam ayat di atas harus menjadi peringatan yang cukup keras bagi kita semua. Kewaspadaan terhadap kamuflase yang dilakukan musuh Alloh tersebut adalah tugas bersama kaum muslimin. Terutama siasat pengelabuan yang dilakukan syetan pada perbuatan manusia. Tak jarang kita melihat seseorang mudah mengatakan kalimat yang baik hanya sebagai pemanis bibir saja, sekedar klise, dan tak memberi makna terdalam bagi yang mendengarnya.      

            Dalam realitas hidup kita dapat menghubungkannya dengan ucapan orang non-muslim yang seringkali meniru atau mengutip ucapan orang Islam. Seorang kafir misalkan, ia juga bisa mengucapkan “Assalamualaikum” dengan baik dan fasih. Pada salah satu sambutannya, presiden Amerika Serikat George W. Bush, juga pernah mengutip terjemahan ayat Al-Quran dengan ekspresi penuh penghayatan. Hal ini juga bisa dilakukan oleh orang fasik yang citranya di masyarakat dinilai buruk, seorang penyanyi dangdut misalkan, pemain film mesum, ahli maksiat, atau seorang cendikiawan muslim yang pemikirannya telah tercampuri ideologi dan pemikiran Barat dan sebagainya. Mereka dengan mudah mengucapkan kalimat yang identik dengan Islam dan kesalehan (contoh: Alhamdulillah, mudah-mudahan mendapat ridlo Alloh, ini kan demi mencari nafkah yang halal, ini kan takdir Alloh dsb.), serta mengemukakan gagasan atau permasalahan baru yang nyatanya ajaran Islam sendiri berlepas diri darinya, dan semua itu belum tentu mewakili kebenarannya. Semua orang mungkin juga bisa melakukan hal yang demikian. Namun, apakah yang diucapkannya terlahir dari kejujuran atau kesungguhan diri, sehingga memiliki makna yang dalam, berkesan, dan memberi pengaruh baik bagi pendengarnya. Disinilah kita harus waspada, teliti, dan hati-hati memikirkannya, penuh pertimbangan dan menghindari ketergesaan dalam menilai. Untuk itu Ibnu Qudamah telah berpesan kepada kita:
وَرُبَّمَا يَنْتَهِى الْعِلْمُ بِأَهْلِ الْعِلْمِ اِلَى أَنْ يَتَغَايَرُوا كَمَا يَتَغَايَرَ النِّسَآءُ
Dan mungkin ilmu terhenti menurut para cendikianya, sehingga ia dapat berubah (menurut kemaun mereka) seperti halnya wanita yang mudah berubah.”

            Kekhawatiran itu rasanya mulai terlihat di saat ini. Dimana manusia telah lebih memilih kecenderungan negatif dirinya daripada kecenderungan positif dalam berbuat sesuatu. Dalam melihat, mendengar, berkata, berpikir dan menggerakkan langkahnya. Semua itu menjadi penentu sikap kita.

Mengkaji Kembali Makna Kejujuran
            Makna kejujuran atau kesungguhan (ash shidq) harus kita kaji kembali, karena pemaknaannya saat ini tidak lagi sesuai dengan kemurniannya yang hakiki. Menurut Ibnu Qudamah, kata kejujuran atau kesungguhan hati pada umumnya digunakan dalam beberapa arti. Kejujuran atau kesungguhan diri dalam perkataan, niat dan keinginan, tekad dan pelaksanaannya, dalam perbuatan, serta maqam dalam agama (seperti khauf dan roja’, zuhud, ridlo, cinta, dan tawakal).

            Kejujuran atau kesungguhan yang ada pada diri seseorang akan memunculkan sikap menjaga ucapan, tidak berkata kecuali dengan jujur, memurnikan perbuatannya karena Alloh, melaksanakan tekad, memenuhi janji, menyeimbangkan antara lahir dan batin, dan terus bermujahadah mencapai maqam kemuliaan di sisi Alloh.  

            Pemaknaan kembali kejujuran atau kesungguhan diri akan membantu kita melihat dengan jernih setiap peristiwa yang ada, sehingga kita tidak mudah membenarkan sesuatu yang tidak jelas kebenarannya, atau menyalahkan sesuatu yang tidak jelas pula kesalahannya.

Tingkatkan Kewaspadaan 
            Kewaspadaan ini harus terus kita tingkatkan, karena saat zaman semakin akhir ancaman pengelabuan yang dilakukan oleh syetan dan musuh-musuh Islam yang bersekongkol dengannya juga semakin meningkat tajam. Demikian besar, licik dan kuat syetan mengelabui kita, membuat kamuflase yang menjebak perbuatan manusia agar terperangkap dalam kedustaan, kedurhakaan dan keburukan akhlak. Bahkan, jika bisa ia menginginkan umat manusia seluruhnya menjadi teman abadi di neraka.    Kewaspadaan kita sudah seharusnya ditingkatkan semaksimal mungkin hingga pada titik tersulit bagi syetan untuk menjangkaunya. Dan kewaspadaan paling sederhana yang bisa kita lakukan sejak saat ini adalah fasta’idz billahi minasy syaithonir rojim (meminta perlindungan kepada Alloh dari godaan dan bisikan syetan yang terkutuk), lalu ditindaklanjuti dengan kewaspadaan yang lebih baik lagi setelahnya.       
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
“Dan jika kamu ditimpa suatu godaan syetan, maka berlindunglah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al A’raaf: 200).[]



Rambut dan Kuku Janabat Menjadi Api


Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. Wb.
Kyai, saya ingin bertanya. Di lingkungan ana ada pemahaman bahwa orang yang junub sebelum sempat mandi janabat lalu rambutnya jatuh atau kukunya dipotong maka rambut dan kuku tersebut harus dicari, dikumpulkan, lalu disertakan dalam mandi janabat. Bila tidak, menurut pemahaman itu, rambut dan kuku tersebut kelak berubah menjadi api neraka. Apakah benar pemahaman tersebut? Bila benar, tidakkah hal ini akan menyulitkan umat? Mohon dijelaskan kedudukannya secara benar. Bila memang hukum memastikan demikian, maka tidak ada jalan lain kecuali ana harus mengikutinya.
Jazakumullah.

Musthofa Alydrus, Jl Masjid At Taqwa 23 Telagamas Ampenan Utara Mataram NTB

Jawaban:

Pemahaman bahwa rambut orang junub yang jatuh dan kukunya yang dipotong harus dicari, dikumpulkan, lalu disertakan dalam mandi janabat (mandi untuk menghilangkan hadats besar) insya Allah berdasarkan pada hadits yang bunyinya sebagai berikut:

مَنْ تَرَكَ مَوْضِعَ شَعْرَةٍ مِنْ جَنَابَةٍ (لَمْ يَغْسِلْهَا ) فُعِلَ بِهِ كَذَا وَكَذَا مِنَ النَّارِ.

“Barangsiapa meninggalkan satu tempat rambut dari janabat (tidak membasuhnya) maka dengan itu ia akan diperlakukan begini dan  begini dari api neraka (gambaran tentang beratnya balasan siksa di neraka) (HR Abu Daud jilid I hal 65 no. hadits 249,di dalam sanadnya terdapat Atho' binSaib).

Dalam hadits ini, perawi pertamanya adalah sahabat Ali bin Abi Thalib ra. yang karena hadits ini Beliau senantiasa gundul (memotong pendek) rambutnya karena takut jika air tidak dapat sampai pada pangkal rambutnya (ushuulus sya'ar) ketika mandi janabat. Hal yang perlu diperhatikan disini adalah kata-kata tempat rambut atau pangkal rambut, bukan ditujukan pada rambutnya. Ummu Salamah diperintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika mandi besar untuk tidak usah melepas gelungnya. (Bulughul Maram no. hadits 131). Madzhab Syafi'i sendiri berpendapat wajib sampainya air ke pangkal rambut. Sedangkan, hadits yang memerintahkan membasuh seluruh rambut yang teksnya berbunyi :

اِنَّ تَحْتَ كُلِّ شَعْرَةٍ جَنَابَةً فَاغْسِلُوْا الشَّعْرَ وَاَنْقُوْا اْلبَشَرَ


"Sesungguhnya di bawah tiap-tiap rambut ada janabat maka basuhlah seluruh rambut dan bersihkanlah kulit". Menurut ittifaq ulama, hadits ini dhoif, karena di dalam sanadnya terdapat Harts bin Wajih, ia munkar haditsnya. (lihat Abu Daud jilid I hal 65 no. hadits 248 dan Bulughul Maram no. hadits 134).

Sementara itu, Imam Atho' (generasi tabi'in) dalam Shahih Al Bukhari Sindy Jilid I  hal 62 berpendapat bahwa orang yang junub boleh berbekam (canduk), boleh memotong kukunya, dan boleh pula memotong rambutnya sekalipun orang yang junub tersebut belum berwudlu.

Jadi, tidak perlu mencari rambut yang rontoh ketika mandi janabat kemudian dikumpulkan jadi satu dan dibasuh bersama-sama. Akan kerepotan sekali jika rambut yang rontok ketika mandi janabat tersebut jatuh dan tidak tahu tempatnya. Semoga bermanfaat.[]


Jan 25, 2014

Menyimpan, Jalan Keberhasilan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:
“Jadikan menyimpan sebagai penolong mendapatkan kebutuhan–kebutuhan kalian” (HR Thabarani)

Banyak jalan yang harus dilalui oleh manusia untuk mendapatkan maksud keinginan. Di antara cara yang mungkin sering dilupakan adalah Menyimpan (Kitmaan) dalam arti tidak membeberkan maksud keinginan kepada orang lain sebelum keinginan itu tercapai. Hal ini karena setiap nikmat pasti diikuti oleh perasaan iri dari orang lain yang akibatnya sebelum nikmat itu didapatkan maka sangat mungkin orang.

Dalam riwayat Ibnu Abbas ra dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berbunyi:

“Sesungguhnya bagi pemilik nikmat ada orang – orang yang iri hati maka waspadailah mereka” lain akan melakukan upaya penggagalan. Inilah yang melatarbelakangi mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berpesan demikian seperti disebut dalam lanjutan hadits di atas:
“...karena sungguh setiap pemilik nikmat itu dihasudi (ada orang yang iri kepadanya)”

Anjuran menyimpan ini sama sekali tidak bertentangan dengan  hadits–hadits yang menganjurkan supaya nikmat diceritakan kepada orang lain (Tahadduts Binni’mah),  sebab menceritakan nikmat adalah ketika nikmat sudah didapat sementara menyimpan adalah ketika nikmat itu masih dalam harapan dan pencarian (belum didapatkan). Dari hadits ini orang–orang berakal (Uqala’) mengambil pelajaran bahwa barang siapa hendak bermusywarah maka semestinya ia berusaha menyimpan dan melipat dengan baik rahasianya.

Imam Syafi’i berkata, “Barang siapa menyimpan rahasianya maka kebaikan berpihak kepadanya” Sebagian ahli Hikmah berkata, “Barang siapa menyimpan rahasianya maka pilihan ada padanya. Betapa banyak membocorkan rahasia menjadi sebab darah pemiliknya mengalir dan mencegah maksud keinginan” sebagian lagi berkata, “Rahasiamu adalah darahmu, jika kamu ceritakan berarti kamu telah mengalirkan darahmu”.

Anu Syirwan berkata, “Ada dua keuntungan yang diperoleh dari menyimpan rahasia; mendapatkan maksud keinginan dan selamat dari bahaya yang mengancam” . Dalam tebaran hikmah juga dikatakan, “Milikilah sendiri rahasiamu, jangan titipkan kepada orang yang teguh yang bisa mengakibatkan dia runtuh. Atau orang bodoh yang menjadikan ia berulah” Kendati demikian ada sebagian rahasia yang mesti harus diketahui oleh teman dekat atau orang yang dimintai pendapat. Dalam kasus ini seorang harus berhati– hati dan meneliti sipakah orang yang layak ia percaya. Sebab tidak setiap orang yang dapat dipercaya memegang harta bisa dipercaya bisa menyimpan rahasia. 

Sungguh menjaga diri dari harta  (Iffah) lebih mudah daripada menghindarkan diri dari membocorkan rahasia. Ar Raghib berkata, “Menyebarkan rahasia pertanda minusnya kesabaran dan dada yang sempit di mana hal ini menjadi ciri lelaki lemah dan para wanita. Menyimpan rahasia menjadi hal yang sulit dilakukan karena manusia memiliki dua kekutan mengambil  (Aakhidzah) dan kekuatan memberikan  (Mu’thiyah) di mana keduanya sangat ingin mendapat aktivitas yang istimewa. Andai saja Allah tidak menentukan  Mu’thiyah agar menampakkan isinya niscaya anda tidak akan mendapat kabar apapun dari orang yang tidak anda dorong (untuk memberikan kabar kepada anda). Karena itulah wajib bagi manusia untuk menahan kekuatan Mu’thiyah dan tidak melepaskannya kecuali jika wajib dilepaskan.


[]

Di Atas Jalan Petunjuk

oleh | K.H. M. Ihya' Ulumiddin

Tausiah Vol XVI Edisi 164
Ahad, 4 Robiul Awwal 1435 / 5 Januari 2014

Alloh tabaaraka wata’ala berfirman:
“Katakanlah: Inilah jalan (dakwahku), aku senantiasa menyeru kepada Alloh, dan (sungguh) diriku dan orang yang mengikuti (benar-benar) berada di atas petunjuk (hujjah yang kuat). Maha Suci Alloh, dan tiadalah aku termasuk orang-orang yang menyekutukan.” QS. Yusuf: 108.

Sesungguhnya agama kita adalah agama yang lurus dan jalan terang yang dakwahnya berlandaskan pada dalil serta berdiri di atas hujjah. Karena inilah agama kita menyeru pada perenungan akan ciptaan Alloh di mana segala sesuatu (sekecil apapun) pasti di dalamnya terkandung sekian hikmah, banyak rahasia, dalil-dalil dan pertanda. Sebaliknya agama kita mencela perilaku mengekor begitu saja (taklid buta) yang hanya berdasar pada kemauan hati (wijdan) dan menilainya sebagai tingkat rendah dari hewan.

Makna ini dikuatkan oleh firman Alloh, “Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Quran).” QS. An-Nisa: 174.
Dan “...katakanlah: Tunjukkanlah bukti kebenaran kalian jika memang kalian adalah orang yang benar.” QS. Al-Baqarah: 111.  

Serta “Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya.” QS. Muhammad: 14.

Akan tetapi, di hadapan semua petunjuk ini (ternyata) manusia di antara beriman dan mengkufuri. Bahkan dalam  setiap masa dan tempat, yang kedua (mengkufuri) justru itulah yang lebih banyak sebagaimana firman Alloh, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” QS. Al-An’am: 116.

Karena itulah kebenaran ini harus memiliki kekuatan yang bisa selalu meneguhkan dan memberinya pengawalan. Orang-orang beriman wajib mengambil posisi di jalan perjuangan sebagai usaha membela agama dan menjaga aqidah mereka seperti difirmankan Alloh, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi...”

Agar mereka mendapatkan pembelaan dari Alloh ta’ala, “Sesungguhnya Alloh membela orang-orang beriman. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” QS. Al Hajj: 38.

Kekuatan yang harus dimiliki seperti ilmu dan berbagai ragam bekal merupakan senjata kita untuk membela agama sehingga kita bisa menghadapi setiap kondisi dengan hal yang sesuai. Barang siapa meminta hujjah (dalil) maka kita menghadapinya dengan hujjah. Dan barangsiapa menolak kecuali kekuatan fisik maka kita menggunakan kekuatan untuk menghadapinya, sebagaimana firman Alloh, “...dan bantalah mereka dengan cara yang baik...” QS. An Nahl: 25.

“Dan perangilah di jalan Alloh orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampui batas, karena sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” QS. Al Baqarah: 190.

Abuya As Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani dalam bukunya Sabilul Huda war Rasyad hal. 79 mengatakan:
Sesungguhnya Islam itu agama yang lapang dadanya, luas hatinya, murah hingga mencapai puncak garis kemurahan, dan mudah sampai batas terjauh kemudahan. Sesungguhnya Islam tidak suka memantik permasalahan dan tidak pula rela akan munculnya kekacauan di jalan kehidupan yang tentram sejahtera. Sesungguhnya Islam tidak menyerukan agar api peperangan dikobarkan dan tidak pula rela menyakiti orang non Islam selama mereka berlaku damai.

Demikianlah dan sungguh Alloh ta’ala berfirman, “Alloh tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena Agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berlaku adil.” QS. Al Mumtahanah: 8.

Sebagaimana Islam menjadikan salam sebagai syiar baginya dalam segala situasi dan setiap kesempatan sehingga andai dalam situasi perang sedang berlangsung dan musuh meminta perdamaian maka dalam pandangan Al-Quran tak ada alasan untuk menolaknya karena lebih memenangan prinsip menciptakan perdamaian. “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkal lah kepada Alloh. Sesungguhnya Dia-lah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS. Al Anfal: 61.

Dan di antara hadits-hadits yang memberikan bimbingan supaya kekuatan demi membela kebenaran adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
  1. Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Alloh daripada seorang mukmin yang lemah. Dan dalam masing-masing ada kebaikan. Bersemangatlah atas hal yang bermanfaat bagimu. Dan memohonlah pertolongan kepada Alloh. Dan jangan rapuh, jika pun sesuatu menimpamu maka jangan katakan, “Andai aku melakukan seperti ini maka akan terjadi seperti ini”, tetapi ucapkanlah, “Keputusan Alloh, apa yang Dia Kehendaki maka Dia Melakukannya”, karena sesungguhnya kata andai (lau) membuka peluang bagi setan. HR. Muslim no: 2664
  2. Barangsiapa keluar mencari ilmu maka dia berada di jalan Alloh sampai ia kembali. HR. Turmudzi no: 2785
  3. Perangilah orang-orang musyrik dengan harta benda, jiwa-jiwa dan lisan-lisan kalian. HR. Abu Dawud no: 2504
Bahasa lisan memberikan isyarat bahwa sebelum perang di medan laga berkobar maka terlebih dahulu perang itu terjadi dalam rupa makna-makna di dalam hati, letupan dalam fikiran, ucapan dalam lisan serta promosi-promosi dalam tulisan. Demikian seperti yang dikatakan Abuya As Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani.

“Ya Alloh, jadikanlah kami termasuk orang yang dengan seksama mendengarkan ungkapan dan lalu mengikuti yang terbaik darinya.” Aamiin.


Wallahu yatawalil jami’a birro’aayatih.

Jan 18, 2014

Mengusap Dahi dan Muka setelah Shalat dan Berdo’a

Pertanyaan:

Banyak orang mengusap muka setelah melakukan shalat ataupun berdo’a. Apakah hal demikian pernah dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?

Ikhwan, dari Sekaran Lamongan

Jawaban:

Mengusap wajah setelah berdo’a merupakan sesuatu yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  seperti hadits dari az Zuhri:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ عِنْدَ صَدْرِهِ فِى الدُّعَاءِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ

“Nabi shallallahu alaihi wasallam mengangkat kedua tangan sejajar dengan dadanya dalam berdo’a kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangan itu” (HR Abdurrozzaq dalam al Mushonnaf dari Ma’mar)

Hadits ini juga dikuatkan oleh riwayat dari Umar ra bahwa, “Nabi shallallahu alaihi wasallam  ketika mengangkat kedua tangan dalam berdo’a maka Beliau tak akan menurunkan keduanya sehingga mengusapkan  keduanya ke wajahnya” HR Turmudzi.

Beliau juga pernah bersabda kepada Abdullah bin Abbas ra yang artinya, “Jika kamu berdo’a kepada Allah maka berdo’alah dengan bagian dalam kedua tangan, jangan kamu berdo’a dengan bagian luarnya. Dan ketika selesai berdo’a maka usapkan kedua tanganmu ke wajahmu” HR Ibnu Majah.
Ibnul Mulk mengatakan bahwa mengusap wajah memiliki hikmah Tafaa’ul yaitu seakan–akan kedua tangannya telah penuh dengan berkah dan anugerah dari Allah karena itu sangat pantas jika berkah dan anugerah ini diluberkan kepada anggota tubuh yang lain utamanya wajah selaku anggota tubuh yang sangat layak dimuliakan. (Lihat Manhajus Salaf fi Fahmin Nushsush  321–322/Abuya Sayyid Muhammad al Hasani)

Sementara sesudah salam, yang warid dalam Sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  adalah mengusap Dahi (Jabhah). Anas ra meriwayatkan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَضَى صَلاَتَهُ مَسَحَ جَبْهَـتَهُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ...

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setiap kali selesai shalat maka Beliau mengusap dahinya dengan tangan kanan...” HR Ibnu Sunni.

Dari dasar hadits ini, yang sunnah setelah salam adalah mengusap dahi, tidak mengusap muka. Ini bukan berarti mengusap muka tidak boleh, karena shalat secara bahasa bermakna do’a, sedang syariat mengusap wajah setelah berdo’a telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana keterangan di atas. []


Dec 5, 2013

Hukum Membaca ”Sayyidinaa”

Pertanyaan:

Kali ini, ana menanyakan hukum membaca sayyidina sebelum mengucap Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sekaligus mohon disertai dalilnya. Ini ana tanyakan, mengingat di lingkungan ana perihal membaca sayyidina dan tidak, khususnya di dalam shalat telah menjadi sumber perselisihan antara sesama muslim yang tidak baik dipandang. Atas jawaban Al Mu'tashim ana ucapkan syukron.

Syamsul Maarif, Jl Raya Maule KM 7 Cadas Sepatan Tangerang Jabar

Jawaban:

Mengenai bacaan sayyidina (pemimpin kami) dalam shalawat shalat yakni ketika tasyahud akhir terdapat dua pendapat di kalangan ulama. Pendapat pertama diungkapkan oleh ulama ahli hadits yang berpegang pada riwayat Basyir bin Sa'ad takkala ia bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, Allah telah memerintahkan kami untuk bersholawat atasmu, lalu bagaimana kami bersholawat?" Beliau tidak segera menjawab sehingga para sahabat berharap Basyir bin Sa'ad tadi tidak bertanya. Kemudian Beliau bersabda:

قُوْلُوْا : اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

"Ucapkanlah: Ya Allah, berilah rahmat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahman atasa Ibrahim; dan berikanlah keberkehan atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan atas keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Memuji lagi Maha Agung". (HR Muslim)

Menurut ahli hadits, sebaiknya mengamalkan sholawat sesuai dengan apa yang tersebut dalam teks riwayat dalam arti tidak perlu menambahkan bacaan sayyidina karena bacaan yang diucapkan Rasulullah di dalam shalat juga tanpa menyebut bacaan sayyidina, sedang Beliau bersabda :

صَلُّوْا كَمَا رَاَيْتُمُوْنِى اُصَلِّى

"Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat" (HR Al Bukhari)

Ahli hadits berpendapat bahwa melaksanakan perintah dengan mencontoh ibadah shalat yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi aasallam lebih utama daripada melakukan adab (yakni membaca sayyidina).
Pendapat kedua dikemukakan oleh ulama tasawuf dan ahli adab. Mereka memilih menambah bacaan sayyidina dalam shalat karena berangkat dari perasaan hormat yang tinggi terhadap Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam. Mereka berpendapat bahwa suatu saat melaksanakan adab lebih utama daripada melaksanakan perintah. Hal ini diqiyaskan pada apa yang telah dilakukan Abu Bakar ra ketika beliau menjadi imam menggantikan Rasulullah yang sedang sakit waktu itu. Pada saat sedang berlangsungnya shalat Rasulullah datang dan memerintahkan Abu Bakar untuk tetap menjadi imam. Namun, Abu Bakar memilih mundur, tidak melaksanakan perintahnya karena rasa hormatnya kepada Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam.

Mengenai hadits yang berbunyi :

لاَ تُسَوِّدُوْنِى فِى الصَّلاَةِ

"Jangan kamu membaca sayyidina di dalam shalat"

Hadits ini dikatakan oleh para ahli hadits tidak ada sumber yang jelas. Sebagian mengatakan bahwa hal itu termasuk kedustaan yang dibuat-buat. (Kasyful Khafa' Wa Muziilul Ilbaas, Jilid II hal 354)

Dengan demikian, masing-masing pendapat, baik yang menambahkan bacaan sayyidina maupun yang tidak, keduanya mempunyai pedoman sendiri-sendiri. Oleh karena itu, silakan masing-masing beramal sesuai dengan pedomannya. Yang diperlukan umat Islam di dalam perbedaan ini adalah sikap tasamuh (tepa selira) antar sesama.[]

Dec 4, 2013

Berburu Pertolongan Allah

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Allah senantiasa menolong hamba selama hamba itu selalu menolong saudaranya”  (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban  Hakim, Ibnu Asakir dan Abu Bakar bin Syaibah)

Maksud menolong di sini adalah dengan hati, tubuh, harta dan kedudukan. Dikatakan bahwa hadits ini global dan penjelasan mengenainya tidak akan termuat oleh lembaran–lembaran kertas (Thurus). Sebab pertolongan ini mutlak ada dalam semua kondisi dan situasi. Tidak terbatasi oleh garis masa dan tempat. Karena itu jika seorang berniat menolong saudaranya maka hendaknya dia memantapkan hati dan tidak usah ragu untuk melaksanakan keinginannya. Sungguh Nabi Shallallahu alaihi wasallam tidak membatasi lading pertolongan itu dengan keadaan tertentu, tetapi Beliau Shallallahu alaihi wasallam  menyatakan bahwa pertolongan itu senantiasa ada selama hamba mau menolong saudaranya.

Nabi Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:
“Barang siapa dalam kebutuhan saudaranya maka Allah ada dalam kebutuhannya”  (HR Ahmad).

Karena tidak terbatas oleh apapun maka bentuk pertolongan yang bisa dilakukan juga penuh warna dan macam yang menjadikan setiap orang mudah mendapat peluang. Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang artinya:
“Amal yang paling utama adalah memasukkan kebahagian (Idkhal Surur) dalam hati orang beriman; kamu berikan pakaian untuk (menutup) auratnya, kamu kenyangkan laparnya, atau kamu penuhi kebutuhannya” (HR Thabarani).

Bahkan kemurahan Allah menyiapkan ampunan bagi siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya baik kebutuhan tersebut terpenuhi maupun tidak. Dalam hadits yang artinya:

“Barang siapa yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, baik terpenuhi atau tidak, maka diampuni dosa –dosanya yang telah lalu dan yang akan datang dan ditulis baginya kebebasan dari neraka dan Kebebasan dari nifaq” (Lihat Kitab Muntahas Suul.Abdullah bin Sa’id Muhammad Abbaadi al Lahji / 3 / 317)

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Khabbab bin al Aratt termasuk dalam ekspedisi militer (Sariyyah) yang dikirim oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.  Nabi Shallallahu alaihi wasallam kemudian menggantikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh Khabbab yaitu memerah susu kambing untuk keluarga Khabbab. Pada saat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebagai pemerah maka susu kambing itu begitu deras mengalir hingga bejana yang biasa dipakai tidak muat. Ketika Khabbab datang maka susu itupun kembali seperti semula. Abu Bakar ra juga demikian halnya, sebelum menjadi khalifah, Beliau biasa memerah susu domba–domba orang satu kampung. Dan ketika menjabat Khalifah maka orang–orang berkata: “Sekarang Abu Bakar tak akan melakukan halitu lagi”. Menjawab ini Abu Bakar ra berkata: “Ia, aku tetap akan melakukannya. Aku tidak ingin aktivitas baruku ini merubahku dari hal–hal yang sebelumnya telah aku kerjakan” Hal ini karena orang Arab menganggap saru bila seorang wanita memerah susu.

Umar ra. memiliki kebiasaan mencari para janda dan mengasuh air untuk mereka di malam hari. Suatu malam Thalhah melihat Umar memasuki rumah seorang wanita. Pada siang harinya Thalhah datang ke rumah itu dan ternyata penghuninya adalah seorang wanita tua yang buta lagi tidak bisa berjalan. Menyaksikan ini Thalhah bertanya, “Apa yang dilakukan oleh lelaki itu (Umar) di sini? Wanita tua itu menjawab, “Sejak lama lelaki itu datang dan mengurus keperluanku, membuang kotoranku dan menyapu rumahku” Mendengar ini Thalhah berkata dalam hati, “Ibumu meratapimu, apakah kamu meneliti kesalahan–kesalahan Umar?”.

Dalam sebuah kesempatan Hasan al Bashri memerintahkan Tsabit al Bunani untuk suatu keperluan, tetapi Tsabit mengelak dan beralasan, “Saya sedang beri’tikaf” Mendengar ini Hasan berkata, “Apakah kamu tidak mengerti bahwa langkahmu dalam kebutuhan saudaramu lebih baik bagimu daripada haji sunnah?”.
Seorang hamba yang kuat iman tentu menjadikan hadits ini sebagai motivasi kuat untuk senantiasa menolong orang lain selagi ada kemampuan dan kesempatan. Sungguh jika pertolongan itu ikhlas ia berikan kepada saudaranya maka suatu saat Allah pasti memberinya pertolongan jika ia membutuhkan meski tidak melalui tangan orang yang pernah ia tolong.

Akhirnya bisa disimpulkan bahwa menolong orang lain pada hakikatnya adalah menolong diri sendiri, peduli orang lain adalah peduli terhadap diri sendiri, dan merawat orang lain adalah merawat diri sendiri. Sebaliknya tidak menolong dan tidak peduli dengan orang lain merupakan ketidak peduliaan terhadap diri sendiri. Allah  Subhaanahu wata’aalaa berfirman:

“ Jika kalian berbuat baik maka kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri. (Sebaliknya) jika kalian berbuat buruk maka untuk diri kalian sendiri “ QS al Isra’: 7.

[]