Jan 25, 2014

Menyimpan, Jalan Keberhasilan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:
“Jadikan menyimpan sebagai penolong mendapatkan kebutuhan–kebutuhan kalian” (HR Thabarani)

Banyak jalan yang harus dilalui oleh manusia untuk mendapatkan maksud keinginan. Di antara cara yang mungkin sering dilupakan adalah Menyimpan (Kitmaan) dalam arti tidak membeberkan maksud keinginan kepada orang lain sebelum keinginan itu tercapai. Hal ini karena setiap nikmat pasti diikuti oleh perasaan iri dari orang lain yang akibatnya sebelum nikmat itu didapatkan maka sangat mungkin orang.

Dalam riwayat Ibnu Abbas ra dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berbunyi:

“Sesungguhnya bagi pemilik nikmat ada orang – orang yang iri hati maka waspadailah mereka” lain akan melakukan upaya penggagalan. Inilah yang melatarbelakangi mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berpesan demikian seperti disebut dalam lanjutan hadits di atas:
“...karena sungguh setiap pemilik nikmat itu dihasudi (ada orang yang iri kepadanya)”

Anjuran menyimpan ini sama sekali tidak bertentangan dengan  hadits–hadits yang menganjurkan supaya nikmat diceritakan kepada orang lain (Tahadduts Binni’mah),  sebab menceritakan nikmat adalah ketika nikmat sudah didapat sementara menyimpan adalah ketika nikmat itu masih dalam harapan dan pencarian (belum didapatkan). Dari hadits ini orang–orang berakal (Uqala’) mengambil pelajaran bahwa barang siapa hendak bermusywarah maka semestinya ia berusaha menyimpan dan melipat dengan baik rahasianya.

Imam Syafi’i berkata, “Barang siapa menyimpan rahasianya maka kebaikan berpihak kepadanya” Sebagian ahli Hikmah berkata, “Barang siapa menyimpan rahasianya maka pilihan ada padanya. Betapa banyak membocorkan rahasia menjadi sebab darah pemiliknya mengalir dan mencegah maksud keinginan” sebagian lagi berkata, “Rahasiamu adalah darahmu, jika kamu ceritakan berarti kamu telah mengalirkan darahmu”.

Anu Syirwan berkata, “Ada dua keuntungan yang diperoleh dari menyimpan rahasia; mendapatkan maksud keinginan dan selamat dari bahaya yang mengancam” . Dalam tebaran hikmah juga dikatakan, “Milikilah sendiri rahasiamu, jangan titipkan kepada orang yang teguh yang bisa mengakibatkan dia runtuh. Atau orang bodoh yang menjadikan ia berulah” Kendati demikian ada sebagian rahasia yang mesti harus diketahui oleh teman dekat atau orang yang dimintai pendapat. Dalam kasus ini seorang harus berhati– hati dan meneliti sipakah orang yang layak ia percaya. Sebab tidak setiap orang yang dapat dipercaya memegang harta bisa dipercaya bisa menyimpan rahasia. 

Sungguh menjaga diri dari harta  (Iffah) lebih mudah daripada menghindarkan diri dari membocorkan rahasia. Ar Raghib berkata, “Menyebarkan rahasia pertanda minusnya kesabaran dan dada yang sempit di mana hal ini menjadi ciri lelaki lemah dan para wanita. Menyimpan rahasia menjadi hal yang sulit dilakukan karena manusia memiliki dua kekutan mengambil  (Aakhidzah) dan kekuatan memberikan  (Mu’thiyah) di mana keduanya sangat ingin mendapat aktivitas yang istimewa. Andai saja Allah tidak menentukan  Mu’thiyah agar menampakkan isinya niscaya anda tidak akan mendapat kabar apapun dari orang yang tidak anda dorong (untuk memberikan kabar kepada anda). Karena itulah wajib bagi manusia untuk menahan kekuatan Mu’thiyah dan tidak melepaskannya kecuali jika wajib dilepaskan.


[]

Di Atas Jalan Petunjuk

oleh | K.H. M. Ihya' Ulumiddin

Tausiah Vol XVI Edisi 164
Ahad, 4 Robiul Awwal 1435 / 5 Januari 2014

Alloh tabaaraka wata’ala berfirman:
“Katakanlah: Inilah jalan (dakwahku), aku senantiasa menyeru kepada Alloh, dan (sungguh) diriku dan orang yang mengikuti (benar-benar) berada di atas petunjuk (hujjah yang kuat). Maha Suci Alloh, dan tiadalah aku termasuk orang-orang yang menyekutukan.” QS. Yusuf: 108.

Sesungguhnya agama kita adalah agama yang lurus dan jalan terang yang dakwahnya berlandaskan pada dalil serta berdiri di atas hujjah. Karena inilah agama kita menyeru pada perenungan akan ciptaan Alloh di mana segala sesuatu (sekecil apapun) pasti di dalamnya terkandung sekian hikmah, banyak rahasia, dalil-dalil dan pertanda. Sebaliknya agama kita mencela perilaku mengekor begitu saja (taklid buta) yang hanya berdasar pada kemauan hati (wijdan) dan menilainya sebagai tingkat rendah dari hewan.

Makna ini dikuatkan oleh firman Alloh, “Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Quran).” QS. An-Nisa: 174.
Dan “...katakanlah: Tunjukkanlah bukti kebenaran kalian jika memang kalian adalah orang yang benar.” QS. Al-Baqarah: 111.  

Serta “Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya.” QS. Muhammad: 14.

Akan tetapi, di hadapan semua petunjuk ini (ternyata) manusia di antara beriman dan mengkufuri. Bahkan dalam  setiap masa dan tempat, yang kedua (mengkufuri) justru itulah yang lebih banyak sebagaimana firman Alloh, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” QS. Al-An’am: 116.

Karena itulah kebenaran ini harus memiliki kekuatan yang bisa selalu meneguhkan dan memberinya pengawalan. Orang-orang beriman wajib mengambil posisi di jalan perjuangan sebagai usaha membela agama dan menjaga aqidah mereka seperti difirmankan Alloh, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi...”

Agar mereka mendapatkan pembelaan dari Alloh ta’ala, “Sesungguhnya Alloh membela orang-orang beriman. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” QS. Al Hajj: 38.

Kekuatan yang harus dimiliki seperti ilmu dan berbagai ragam bekal merupakan senjata kita untuk membela agama sehingga kita bisa menghadapi setiap kondisi dengan hal yang sesuai. Barang siapa meminta hujjah (dalil) maka kita menghadapinya dengan hujjah. Dan barangsiapa menolak kecuali kekuatan fisik maka kita menggunakan kekuatan untuk menghadapinya, sebagaimana firman Alloh, “...dan bantalah mereka dengan cara yang baik...” QS. An Nahl: 25.

“Dan perangilah di jalan Alloh orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampui batas, karena sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” QS. Al Baqarah: 190.

Abuya As Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani dalam bukunya Sabilul Huda war Rasyad hal. 79 mengatakan:
Sesungguhnya Islam itu agama yang lapang dadanya, luas hatinya, murah hingga mencapai puncak garis kemurahan, dan mudah sampai batas terjauh kemudahan. Sesungguhnya Islam tidak suka memantik permasalahan dan tidak pula rela akan munculnya kekacauan di jalan kehidupan yang tentram sejahtera. Sesungguhnya Islam tidak menyerukan agar api peperangan dikobarkan dan tidak pula rela menyakiti orang non Islam selama mereka berlaku damai.

Demikianlah dan sungguh Alloh ta’ala berfirman, “Alloh tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena Agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berlaku adil.” QS. Al Mumtahanah: 8.

Sebagaimana Islam menjadikan salam sebagai syiar baginya dalam segala situasi dan setiap kesempatan sehingga andai dalam situasi perang sedang berlangsung dan musuh meminta perdamaian maka dalam pandangan Al-Quran tak ada alasan untuk menolaknya karena lebih memenangan prinsip menciptakan perdamaian. “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkal lah kepada Alloh. Sesungguhnya Dia-lah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS. Al Anfal: 61.

Dan di antara hadits-hadits yang memberikan bimbingan supaya kekuatan demi membela kebenaran adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
  1. Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Alloh daripada seorang mukmin yang lemah. Dan dalam masing-masing ada kebaikan. Bersemangatlah atas hal yang bermanfaat bagimu. Dan memohonlah pertolongan kepada Alloh. Dan jangan rapuh, jika pun sesuatu menimpamu maka jangan katakan, “Andai aku melakukan seperti ini maka akan terjadi seperti ini”, tetapi ucapkanlah, “Keputusan Alloh, apa yang Dia Kehendaki maka Dia Melakukannya”, karena sesungguhnya kata andai (lau) membuka peluang bagi setan. HR. Muslim no: 2664
  2. Barangsiapa keluar mencari ilmu maka dia berada di jalan Alloh sampai ia kembali. HR. Turmudzi no: 2785
  3. Perangilah orang-orang musyrik dengan harta benda, jiwa-jiwa dan lisan-lisan kalian. HR. Abu Dawud no: 2504
Bahasa lisan memberikan isyarat bahwa sebelum perang di medan laga berkobar maka terlebih dahulu perang itu terjadi dalam rupa makna-makna di dalam hati, letupan dalam fikiran, ucapan dalam lisan serta promosi-promosi dalam tulisan. Demikian seperti yang dikatakan Abuya As Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani.

“Ya Alloh, jadikanlah kami termasuk orang yang dengan seksama mendengarkan ungkapan dan lalu mengikuti yang terbaik darinya.” Aamiin.


Wallahu yatawalil jami’a birro’aayatih.

Jan 18, 2014

Mengusap Dahi dan Muka setelah Shalat dan Berdo’a

Pertanyaan:

Banyak orang mengusap muka setelah melakukan shalat ataupun berdo’a. Apakah hal demikian pernah dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?

Ikhwan, dari Sekaran Lamongan

Jawaban:

Mengusap wajah setelah berdo’a merupakan sesuatu yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  seperti hadits dari az Zuhri:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ عِنْدَ صَدْرِهِ فِى الدُّعَاءِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ

“Nabi shallallahu alaihi wasallam mengangkat kedua tangan sejajar dengan dadanya dalam berdo’a kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangan itu” (HR Abdurrozzaq dalam al Mushonnaf dari Ma’mar)

Hadits ini juga dikuatkan oleh riwayat dari Umar ra bahwa, “Nabi shallallahu alaihi wasallam  ketika mengangkat kedua tangan dalam berdo’a maka Beliau tak akan menurunkan keduanya sehingga mengusapkan  keduanya ke wajahnya” HR Turmudzi.

Beliau juga pernah bersabda kepada Abdullah bin Abbas ra yang artinya, “Jika kamu berdo’a kepada Allah maka berdo’alah dengan bagian dalam kedua tangan, jangan kamu berdo’a dengan bagian luarnya. Dan ketika selesai berdo’a maka usapkan kedua tanganmu ke wajahmu” HR Ibnu Majah.
Ibnul Mulk mengatakan bahwa mengusap wajah memiliki hikmah Tafaa’ul yaitu seakan–akan kedua tangannya telah penuh dengan berkah dan anugerah dari Allah karena itu sangat pantas jika berkah dan anugerah ini diluberkan kepada anggota tubuh yang lain utamanya wajah selaku anggota tubuh yang sangat layak dimuliakan. (Lihat Manhajus Salaf fi Fahmin Nushsush  321–322/Abuya Sayyid Muhammad al Hasani)

Sementara sesudah salam, yang warid dalam Sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  adalah mengusap Dahi (Jabhah). Anas ra meriwayatkan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَضَى صَلاَتَهُ مَسَحَ جَبْهَـتَهُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ...

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setiap kali selesai shalat maka Beliau mengusap dahinya dengan tangan kanan...” HR Ibnu Sunni.

Dari dasar hadits ini, yang sunnah setelah salam adalah mengusap dahi, tidak mengusap muka. Ini bukan berarti mengusap muka tidak boleh, karena shalat secara bahasa bermakna do’a, sedang syariat mengusap wajah setelah berdo’a telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana keterangan di atas. []


Dec 5, 2013

Hukum Membaca ”Sayyidinaa”

Pertanyaan:

Kali ini, ana menanyakan hukum membaca sayyidina sebelum mengucap Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sekaligus mohon disertai dalilnya. Ini ana tanyakan, mengingat di lingkungan ana perihal membaca sayyidina dan tidak, khususnya di dalam shalat telah menjadi sumber perselisihan antara sesama muslim yang tidak baik dipandang. Atas jawaban Al Mu'tashim ana ucapkan syukron.

Syamsul Maarif, Jl Raya Maule KM 7 Cadas Sepatan Tangerang Jabar

Jawaban:

Mengenai bacaan sayyidina (pemimpin kami) dalam shalawat shalat yakni ketika tasyahud akhir terdapat dua pendapat di kalangan ulama. Pendapat pertama diungkapkan oleh ulama ahli hadits yang berpegang pada riwayat Basyir bin Sa'ad takkala ia bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, Allah telah memerintahkan kami untuk bersholawat atasmu, lalu bagaimana kami bersholawat?" Beliau tidak segera menjawab sehingga para sahabat berharap Basyir bin Sa'ad tadi tidak bertanya. Kemudian Beliau bersabda:

قُوْلُوْا : اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

"Ucapkanlah: Ya Allah, berilah rahmat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahman atasa Ibrahim; dan berikanlah keberkehan atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan atas keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Memuji lagi Maha Agung". (HR Muslim)

Menurut ahli hadits, sebaiknya mengamalkan sholawat sesuai dengan apa yang tersebut dalam teks riwayat dalam arti tidak perlu menambahkan bacaan sayyidina karena bacaan yang diucapkan Rasulullah di dalam shalat juga tanpa menyebut bacaan sayyidina, sedang Beliau bersabda :

صَلُّوْا كَمَا رَاَيْتُمُوْنِى اُصَلِّى

"Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat" (HR Al Bukhari)

Ahli hadits berpendapat bahwa melaksanakan perintah dengan mencontoh ibadah shalat yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi aasallam lebih utama daripada melakukan adab (yakni membaca sayyidina).
Pendapat kedua dikemukakan oleh ulama tasawuf dan ahli adab. Mereka memilih menambah bacaan sayyidina dalam shalat karena berangkat dari perasaan hormat yang tinggi terhadap Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam. Mereka berpendapat bahwa suatu saat melaksanakan adab lebih utama daripada melaksanakan perintah. Hal ini diqiyaskan pada apa yang telah dilakukan Abu Bakar ra ketika beliau menjadi imam menggantikan Rasulullah yang sedang sakit waktu itu. Pada saat sedang berlangsungnya shalat Rasulullah datang dan memerintahkan Abu Bakar untuk tetap menjadi imam. Namun, Abu Bakar memilih mundur, tidak melaksanakan perintahnya karena rasa hormatnya kepada Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam.

Mengenai hadits yang berbunyi :

لاَ تُسَوِّدُوْنِى فِى الصَّلاَةِ

"Jangan kamu membaca sayyidina di dalam shalat"

Hadits ini dikatakan oleh para ahli hadits tidak ada sumber yang jelas. Sebagian mengatakan bahwa hal itu termasuk kedustaan yang dibuat-buat. (Kasyful Khafa' Wa Muziilul Ilbaas, Jilid II hal 354)

Dengan demikian, masing-masing pendapat, baik yang menambahkan bacaan sayyidina maupun yang tidak, keduanya mempunyai pedoman sendiri-sendiri. Oleh karena itu, silakan masing-masing beramal sesuai dengan pedomannya. Yang diperlukan umat Islam di dalam perbedaan ini adalah sikap tasamuh (tepa selira) antar sesama.[]

Dec 4, 2013

Berburu Pertolongan Allah

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Allah senantiasa menolong hamba selama hamba itu selalu menolong saudaranya”  (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban  Hakim, Ibnu Asakir dan Abu Bakar bin Syaibah)

Maksud menolong di sini adalah dengan hati, tubuh, harta dan kedudukan. Dikatakan bahwa hadits ini global dan penjelasan mengenainya tidak akan termuat oleh lembaran–lembaran kertas (Thurus). Sebab pertolongan ini mutlak ada dalam semua kondisi dan situasi. Tidak terbatasi oleh garis masa dan tempat. Karena itu jika seorang berniat menolong saudaranya maka hendaknya dia memantapkan hati dan tidak usah ragu untuk melaksanakan keinginannya. Sungguh Nabi Shallallahu alaihi wasallam tidak membatasi lading pertolongan itu dengan keadaan tertentu, tetapi Beliau Shallallahu alaihi wasallam  menyatakan bahwa pertolongan itu senantiasa ada selama hamba mau menolong saudaranya.

Nabi Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:
“Barang siapa dalam kebutuhan saudaranya maka Allah ada dalam kebutuhannya”  (HR Ahmad).

Karena tidak terbatas oleh apapun maka bentuk pertolongan yang bisa dilakukan juga penuh warna dan macam yang menjadikan setiap orang mudah mendapat peluang. Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang artinya:
“Amal yang paling utama adalah memasukkan kebahagian (Idkhal Surur) dalam hati orang beriman; kamu berikan pakaian untuk (menutup) auratnya, kamu kenyangkan laparnya, atau kamu penuhi kebutuhannya” (HR Thabarani).

Bahkan kemurahan Allah menyiapkan ampunan bagi siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya baik kebutuhan tersebut terpenuhi maupun tidak. Dalam hadits yang artinya:

“Barang siapa yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, baik terpenuhi atau tidak, maka diampuni dosa –dosanya yang telah lalu dan yang akan datang dan ditulis baginya kebebasan dari neraka dan Kebebasan dari nifaq” (Lihat Kitab Muntahas Suul.Abdullah bin Sa’id Muhammad Abbaadi al Lahji / 3 / 317)

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Khabbab bin al Aratt termasuk dalam ekspedisi militer (Sariyyah) yang dikirim oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.  Nabi Shallallahu alaihi wasallam kemudian menggantikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh Khabbab yaitu memerah susu kambing untuk keluarga Khabbab. Pada saat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebagai pemerah maka susu kambing itu begitu deras mengalir hingga bejana yang biasa dipakai tidak muat. Ketika Khabbab datang maka susu itupun kembali seperti semula. Abu Bakar ra juga demikian halnya, sebelum menjadi khalifah, Beliau biasa memerah susu domba–domba orang satu kampung. Dan ketika menjabat Khalifah maka orang–orang berkata: “Sekarang Abu Bakar tak akan melakukan halitu lagi”. Menjawab ini Abu Bakar ra berkata: “Ia, aku tetap akan melakukannya. Aku tidak ingin aktivitas baruku ini merubahku dari hal–hal yang sebelumnya telah aku kerjakan” Hal ini karena orang Arab menganggap saru bila seorang wanita memerah susu.

Umar ra. memiliki kebiasaan mencari para janda dan mengasuh air untuk mereka di malam hari. Suatu malam Thalhah melihat Umar memasuki rumah seorang wanita. Pada siang harinya Thalhah datang ke rumah itu dan ternyata penghuninya adalah seorang wanita tua yang buta lagi tidak bisa berjalan. Menyaksikan ini Thalhah bertanya, “Apa yang dilakukan oleh lelaki itu (Umar) di sini? Wanita tua itu menjawab, “Sejak lama lelaki itu datang dan mengurus keperluanku, membuang kotoranku dan menyapu rumahku” Mendengar ini Thalhah berkata dalam hati, “Ibumu meratapimu, apakah kamu meneliti kesalahan–kesalahan Umar?”.

Dalam sebuah kesempatan Hasan al Bashri memerintahkan Tsabit al Bunani untuk suatu keperluan, tetapi Tsabit mengelak dan beralasan, “Saya sedang beri’tikaf” Mendengar ini Hasan berkata, “Apakah kamu tidak mengerti bahwa langkahmu dalam kebutuhan saudaramu lebih baik bagimu daripada haji sunnah?”.
Seorang hamba yang kuat iman tentu menjadikan hadits ini sebagai motivasi kuat untuk senantiasa menolong orang lain selagi ada kemampuan dan kesempatan. Sungguh jika pertolongan itu ikhlas ia berikan kepada saudaranya maka suatu saat Allah pasti memberinya pertolongan jika ia membutuhkan meski tidak melalui tangan orang yang pernah ia tolong.

Akhirnya bisa disimpulkan bahwa menolong orang lain pada hakikatnya adalah menolong diri sendiri, peduli orang lain adalah peduli terhadap diri sendiri, dan merawat orang lain adalah merawat diri sendiri. Sebaliknya tidak menolong dan tidak peduli dengan orang lain merupakan ketidak peduliaan terhadap diri sendiri. Allah  Subhaanahu wata’aalaa berfirman:

“ Jika kalian berbuat baik maka kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri. (Sebaliknya) jika kalian berbuat buruk maka untuk diri kalian sendiri “ QS al Isra’: 7.

[]

Tidak Ada Alasan Merasa Aman

oleh | K.H. M. Ihya' Ulumiddin

Tausiah Vol XV Edisi 163
Ahad, 28 Muharram 1435 / 1 Desember 2013

Alloh tabaaraka wata’ala berfirman:

“Dan bacakanlah kepada mereka tentang agama yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda). Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya...” (QS. Al A’raf: 175-176)

Sesungguhnya doa pertama yang diajarkan Alloh kepada para hamba-Nya yang berserah diri (kaum muslimin), yaitu orang-orang yang Alloh telah Memilih mereka di antara makhluk-Nya, adalah firman Alloh yang artinya, “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”, maksudnya teguhkan kami di atas jalan itu dan langgengkan ia untuk kami. Akan tetapi nikmat memang terkadang dihilangkan dari orang yang tidak bisa menghargai dan tidak pula menjaganya. Karena itulah Alloh ta’ala berfirman, “...nanti Kami akan memberikan kepada mereka lanjuran nikmat  yang lupa tersyukuri dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al A’raf: 182)

Maksudnya kami menyempurnakan nikmat-nikmat atas mereka sekaligus juga melalaikan mereka dari bersyukur, juga sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:

Kamu berbaik sangka kepada hari-hari kala ia (terus memberikan) kebaikan
Sementara kamu tidak pernah mengkhawatirkan hal yang datang bersama takdir
Malam-malam berlalu dengan keselamatan sehingga kamu pun terbuai
Sehingga pada suatu malam terjadilah kekisruhan itu

Dan seperti dikatakan dalam hikmat:

Tidaklah burung itu terbang dan meninggi kecuali juga terbang dan (lalu) terjatuh

Bila demikian halnya maka tidak ada alasan apapun untuk merasa aman, melupakan kesyukuran, dan membiarkan diri untuk tidak memelas memohon perlindungan (Alloh).
Bagaimana mungkin kita aman sedangkan:

-          Al Khalil Ibrahim as. saja masih memohon kepada Alloh:  “...dan jauhkan diriku dan anak keturunanku dari menyembah berhala.” QS. Ibrahim: 35.
-          Yusuf As Shiddiq saja memohon kepada Alloh: “...wafatkanlah daku dalam keadaan berserah diri (kepadaMu) dan gabungkanlah diriku dengan orang-orang shaleh.”

Jadi, betapa kita begitu membutuhkan, benar-benar sangat membutuhkan akan keteguhan dalam agama pada situasi masa yang genting ini. Dan sungguh dikatakan dalam kata hikmah:

Pasti ada pengganti segala sesuatu yang anda tinggalkan
Tetapi tidak ada pengganti bagi Alloh, jika kamu meninggalkan-Nya
Jika dunia masih menyisakan agama bagi seseorang
maka segala sesuatu yang terlepas darinya sama sekali tidaklah membahayakan

Adalah Sufyan at Tsauri rahimahullah mengatakan:

Tidaklah seorang merasa aman dari bahaya agama kecuali agama itu tercabut (darinya).

Dan tidak ada pilihan bagi seorang muslim yang terbina kecuali harus meneguhkan hatinya atas Islam, sesuatu yang telah ditetapinya pada saat ini dengan menjalankan hal-hal yang telah direkomendasikan pada tausiah kami terdahulu sehingga ia memiliki dua simpanan besar yang mahal harganya berupa ISTIQOMAH dan ISTIZADAH (terus mencari tambahan) agar nikmat-nikmat itu langgeng baginya, tidak merasa takut akan kehilangan sekaligus diberikan tambahan nikmat-nikmat yang belum pernah diberikan sehingga iapun tidak perlu khawatir tidak akan bisa mendapatkannya, serta datang pula dari Alloh sesuatu yang sama sekali tidak terlintas dalam hatinya, disertai permohonan yang terus menerus kepada Alloh dalam suasana sendiri atau bersama orang lain, berupa:

“Ya Tuhan kami, jangan sesatkan hati kami setelah Engkau Memberikan petunjuk kepada kami. Dan anugerahkan kepada kami rahmat hanya dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi rahmat.”

“Ya Alloh, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan, tekad bulat dalam kebenaran. Saya memohon kepada-Mu bisa mensyukuri nikmat-Mu. Saya memohon kebaikan ibadah kepada-Mu. Saya memohon kepada-Mu hati yang selamat. Saya memohon kepada-Mu lidah yang jujur. Saya memohon kepada-Mu kebaikan segala sesuatu yang Engkau mengetahuinya. Saya memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan segala sesuatu yang Engkau mengetahuinya. Dan saya memohon ampunan atas dosa (ku) yang Engkau mengetahuinya.  Sesungguhnya Engkaulah Maha Mengetahui hal-hal yang gaib.”

“Wahai Dzat yang meneguhkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”


Wallahu yatawalil jami’a birro’aayatih.

Nov 23, 2013

Sorotan Terhadap Cara Pandang Semua Agama Benar

Firman Alloh Subhanahu Wata'ala:

قُلْ اِنَّنِي هَدَانِي رَبّي اِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ اِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنْ الْمُشْرِكِينَ

Katankanlah, "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang hanif; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. (- QS Al An'aam: 61)

Analisis Ayat
- دِيْنًاقِيَمًا (diinan qiyaman) artinya bisa jadi pertama, agama yang tegak dan lurus, tidak ada bengkok di dalamnya. Kedua, agama yang menangani urusan dan aturan manusia secara komplit dunia dan akhirat.
- حَنِيْفًا (haniifan) hanif artinya cenderung kepada kekonsistenan, menyimpang dari kesesatan. Hanif dimaksudkan menyimpang dari agama-agama yang tidak benar menuju kepada agama Islam. 

Penjelasan Ayat
Ayat ini merupakan bantahan mematikan terhadap para pemeluk agama selain Islam yang menyebut agamanya adalah agama yang lurus. Mereka menduga bahwa keyakinannya masing-masing, apakah itu Yahudisme, Nasranisme, Budhisme, Hinduisme, serta Konghucu sebagai agama yang tidak menyimpang dan tidak pernah mengalami perubahan. Padahal, pandangan ini penuh absurditas (kebohongan) karena dari semula agama yang dipeluknya sudah terjamah ulah tangan-tangan kotor manusia sehingga tak lagi asli, melainkan imitasi. 

Disebutkan pada ayat ini shirothol mustaqim (jalan yang lurus), asli dan murni hanya pantas disandang oleh sebuah agama yang mengurus dan mengatur urusan umat manusia secara lengkap menuju kebahagiaan mereka dunia akhirat. Shirothol mustaqim itu ialah agama Ibrahim kholilulloh yang konsisten yang tidak cenderung kepada agama-agama yang tidak shahih. Di sinilah hikmahnya kita berdoa membaca ayat keenam dari surat Al Fatihah setiap hari setidak-tidaknya tujuh belas kali agar kita senantiasa diberikan sikap teguh dalam meniti jalan yang lurus ini.

Ciri khas agama (millah) Ibrahim 'Alaihissalam yang membedakan dengan agama-agama lainnya ialah sifatnya yang hanif. Sahabat Ibnu Abbas menceritakan bahwa pernah ditanyakan kepada Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam soal agama apakah yang dicintai oleh Alloh Ta'ala. Beliau memberikan jawaban singkat dan tegas, agama yang dicintai oleh Alloh Ta'ala ialah agama yang hanif yang samhah (mudah dipraktikkan). Yakni agama ini lurus, tidak bengkok, tidak menyimpang, dan tidak cenderung kepada kesesatan. Millah Ibrahim 'Alaihissalam dengan ciri khas ini dalam realitasnya hanya terdapat pada agama yang diridloi, yaitu agama Islam. Alloh berfirman:

وَمَنْ اَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللهُ اِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Alloh Ta'ala, sedang diapun mengerjakan kebaikan sampai ke tingkat ihsan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang hanif? Dan Alloh Ta'ala mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya." (Q.S. An Nisaa: 125) 

Atas dasar kebesaran ini kholilulloh Ibrahim dari dulu sampai pada masa jahiliyah bahkan sampai masa kini, keberadaannya senantiasa menjadi rebutan para pemeluk agama sedunia. Agama anu menyebut Ibrahim pendiri agamanya sementara agama lainnya menjustifikasi Ibrahim hanya miliknya. Ma-nakah yang benar? Agaknya harus dikemuka-kan syair Arab yang intinya menyebutkan banyak orang mengaku menjalin hubungan asmara dengan Laila (nama wanita jelita) sedang Laila tidak mengakuinya. 

كُلٌّ يَدَّعِىوَصْلاً بِلَيْلَى # وَلَيْلَى لاَيُقِرُّذَاكَ
Seluruhnya mengaku-aku mempunyai hubungan asmara dengan Laila sementara Laila tidak mengakui hubungan itu.

Ayat di muka secara tersirat menyebutkan millah Ibrahim hanya terdapat pada nilai-nilai agama Islam. 

Sholawat Ibrahimiyah
Sebagai bentuk penghargaan terhadap Nabi Ibrahim 'Alaihissalam berikut terhadap kehanifan millahnya, maka dianjurkanlah kepada umat manusia pada saat ini untuk menyebarluaskan bacaan Sholawat Ibrahimiyah. Dalam bentuk yang lain diajarkan pula bacaan rutin di pagi hari yang berbunyi:

أَصْبَحْنَاعَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَىكَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صلىالله عليه وسلم وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَاكَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Kami pagi-pagi dalam keadaan memegang teguh kefitrahan agama Islam, berada pada kalimat ikhlas, dan terikat pada agama nabi kami Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wasallam dan millah bapak kami Ibrahim yang hanif, dan dia bukanlah termasuk orang- orang musyrik.

Penghargaan ini bukan berarti indikasi bahwa Nabi Ibrahim 'Alaihissalam yang mendapat gelar kholilulloh dengan segala keistimewaannya lebih tinggi kedudukannya dibanding Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wasallam. Dalam kenyataannya Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wasallam adalah penyempurna ajaran-ajaran para nabi dahulu. Dan nabi terakhir ini sukses dalam tugasnya secara gemilang. Atas dasar kesuksesan ini beliau dikatakan tuannya anak keturunan Nabi Adam 'Alaihissalam dan empunya maqom mahmud (posisi terpuji) yang menjadi cita-cita setiap orang termasuk menjadi cita-cita-nya Nabi Ibrahim 'Alaihissalam. Dalam bahasa singkat dikatakan ada banyak murid yang di kemudian hari melebihi kapasitas para gurunya.
Dari ayat ini nyatalah hanya pada agama Islam tecermin kehanifan millah Ibrahim 'Alaihissalam yang konsisten. Artinya, agama-agama selain Islam sudah mengalami perubahan yang cukup mendasar untuk bisa dikatakan asli dan murni. Maka, tetaplah bersama agama Islam. Dan jangan sekali-kali berpandangan salah kaprah bahwa semua agama itu benar, termasuk juga jangan terjebak mempraktikkan agama secara campur-aduk (sinkretisme). 

Wallohu a'lam.