Nov 30, 2011

[...تَكُنْ مُهَاجِرًا] Anda Harus Berhijrah!

Tausiah Bulan Desember 2011 / Muharram 1433 H

بسم الله الرحمن الرحيم


[...تَكُنْ مُهَاجِرًا]

يَرَى الْمُسْلِمُ الْوَاعِى دُرُوْسًا وَافِرَةً مِنَ الْهِجْرَةِ النَّّبَوِيَّةِ يَعْتَبِرُهَا بِإِضَافَةِ مَا لَهَا مِنْ ثَمَرَاتٍ ِلأَنَّ الْهِجْرَةَ فِى الْحَقِيْقَةِ هِيَ مِنْ مَدْرَسَةِ اْلإِيْمَانِ وَمِنْ تِلْكَ الثَّمَرَاتِ أَنْ عَمَّرَ اللهُ تَعَالَى لِخَلِيْلِهِ إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ أَشْرَفَ بُقْعَةٍ بِأَشْرَفِ ذُرِّيَّةٍ وَأَحْيَا أَفْضَلَ وَادٍ غَيْرَ ذِي زَرْعٍ بِأَفْضَلِ مَاءٍ وَأَقَامَ أَعْظَمَ شَعَائِرِهِ وَهِيَ الصَّلاَةُ فِى أَجَلِّ مَشَاعِرِهِ وَرَفَعَ قَوَاعِدَ أَوَّلِ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ وَجَعَلَهُ لِسَانَ صِدْقٍ فِى اْلآخِرِيْنَ وَأَظْهَرَهُ عَلَى مَنَاسِكِ الْحَجِّ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَغَيْرَ ذَلِكَ .

وَهَكَذَا كَانَتِ الْهِجْرَةُ النَّبَوِيَّةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ الَّتِي كَانَتْ مِنْ ثَمَرَاتِهَا الطَّيِّبَةِ كُلُّ خَيْرٍ أَصَابَهُ الْمُسْلِمُوْنَ وَكُلُّ عِـزٍّ أَدْرَكُوْهُ وَكُلُّ سَعْدٍ نَالُوْهُ عَلَى مَرِّ الْعُصُوْرِ , فَلَقَدِ انْتَشَرَ نُوْرُ اْلإِسْلاَمِ – الَّذِى بِهِ صَلاَحُ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ – وَقَامَتْ دَوْلَـتُهُ الَّتِى فَتَحَ اللهُ بِهَا مَكَّةَ وَانْتَشَرَ تَعَالِيْمُهُ فِى الْعَالَمِ بَعْدُ بِالْفُتُوْحَاتِ اْلإِسْلاَمِيَّةِ وَهِيَ بِلاَ شَكٍّ تَخْتَلِفُ فِى مَظْهَرِهَا وَنَتَائِجِهَا عَنْ هِجْرَةِ إِخْوَانِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ السَّابِقِيْنَ وِفْقَ رِسَالَتِهِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ .
ثُمَّ وَسَّعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَفْهُوْمَ الْهِجْرَةِ حَيْثُ يَشْمَلُ الْهِجْرَةَ عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ بِتَرْكِ الْمَعَاصِى وَالْمُخَالَفَاتِ قَائِلاً لِفُدَيْكٍ أَحَدُ الصَّحَابَةِ (( يَافُدَيْكُ أَقِمِ الصَّلاَةَ وَآتِ الزَّكَاةَ وَاهْجُرِ السُّوْءَ وَاسْكُنْ مِنْ أَرْضِ قَوْمِكَ حَيْثُ شِئْتَ تَكُنْ مُهَاجِرًا)) رَوَاهُ الْبَغَوِى وَابْنُ مَنْدَهْ وَأَبُوْ نُعَيْمٍ . (كَنْـزُ الْعُمَّالِ 8/3031, الْقُدْوَةُ الْحَسَنَةُ لأبوي ص 42)
لِمَاذَا؟ لِمَا قِيْلَ : (زَمَانٌ كَأَهْلِهِ وَأَهْلُهُ كَمَا تَرَي) وَأَهْلُ هَذَا الزَّمَانِ قَدْ تَحَقَّقَ مَا وَقَعَ بِهِمْ مَا أَشَارَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ تَغَيُّرِهِمْ عَنْ طَرِيْقَتِهِمِ الْجَادَّةِ لِفِتْـنَةٍ دَاهَمَتْهُمْ كَمَا جَاءَ ذَلِكَ فِى عِدَّةٍ مِنْ أَحَادِيْثِهِ الشَّرِيْفَةِ كَمَا يَلِيْ:
1. حَدِيْثُ رَفْعِ اْلأَمَانَةِ عِنْدَ التِّرْمِذِى رَقْمُ 2270 إِلَى أَنْ قَالَ : ((...فَيُصْبِحُ النَّاسُ يَتَبَايَعُوْنَ لاَ يَكَادُ أَحَدُهُمْ يُؤَدِّي اْلأَمَانَةَ حَتَّى يُقَالَ إِنَّ فِى بَنِي فُلاَنٍ رَجُلاً أَمِيْنًا وَحَتَّى يُقَالَ لِلرَّجُلِ مَا أَجْلَدَهُ وَأَظْرَفَهُ وَأَعْقَلَهُ وَمَا فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ _ الحديث))
وَحَاصِلُهُ : أَنَّهُمْ يَمْدَحُوْنَهُ بِكَثْرَةِ الْعَقْلِ وَالظَّرَافَةِ وَالْجَلاَدَةِ وَيَتَعَجَّبُوْنَ مِنْهُ وَلاَ يَمْدَحُوْنَ أَحَدًا بِكَثْرَةِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ .
2. ("لَتَـتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ" قَالُوْا : الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ : فمن؟ ) رَوَاهُ الْبُخَارِى عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه . وَرَوَاهُ الْحَاكِمُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَفِى آخِرِهِ "وَحَتَّى لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ جَامَعَ امْرَأَتَهُ فِى الطَّرِيْقِ لَفَعَلْتُمُوْهُ " قَالَ الْمُنَاوِي : إِسْنَادُهُ صَحِيْحٌ . وَقَالَ النَّوَوِى:الْمُرَادُ الْمُوَافَقَةُ فِى الْمَعَاصِى وَالْمُخَالَفَاتِ لاَ فِى الْكُفْرِ .(تحفة الأحوذى 6/408)
3. ("لَتَنْقُضُنَّ عُرَى اْلإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيْهَا فَأَوَّلُهُنَّ الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ") رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ حِبَّان وَالْحَاكِمُ (الجامع الصغير 2/123) .
4. ("يَكُوْنُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنٌ كَقِطَعِ اللَيْلِ الْمُظْلِمِ") رَوَاهُ ابْنُ مَاجَة (كنوز الحقائق للمناوى هامش الجامع الصغير2/203)
5.("يُوْشِكُ اْلإِسْلاَمُ أَنْ يَدْرُسَ فَلاَ يَبْقَى إِلا َّاسْمُهُ ") رواه الديلمي فى الفردوس/ كنوز الحقائق للمناوى هامش الجامع الصغير2/203)
قَالَ الله تَعَالَى مُحَذِّرًا عَنِ الْوُقُوْعِ فِى هَذِهِ الْفِتَنِ بِقَوْلِهِ (...وَيُحَذِّرُكُمُ الله نَفْسَهُ وَاللهُ رَؤُوْفٌ بِالْعِبَادِ) آل عمران:30, مُوْصِيًا بِطَلَبِ الْمَخْرَجِ عَنْ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ (يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْا وَاتَّقُوا الله لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ) آل عمران آخر السورة:200.

=الله يتولى الجميع برعايته=

Anda Harus Berhijrah!

Seorang muslim yang terbina melihat ada banyak sekali pelajaran dari hijrah nabawiyyah selain memang dalam hijrah terdapat sekian banyak buah (manfaat) karena sebenarnya hijrah adalah madrasah keimanan. Di antara buahnya ialah Allah menyemarakkan untuk kekasihNya Nabi Ibrahim alaihissalam, tanah suci dengan anak keturunan yang mulia (Rasulullah Saw), dan Dia menghidupkan lembah paling utama yang tidak ada tanaman (sama sekali) dengan air yang paling utama (Zam-zam), serta menegakkan syiar utamaNya yaitu shalat di tempat syiarnya yang paling mulia sekaligus meninggikan pilar-pilar rumah pertama yang diletakkan untuk manusia. Allah juga menjadikan Nabi Ibrahim sebagai orang yang selalu disebut dengan kebaikan (lisan shidiq) oleh generasi setelahnya (hingga sekarang) dan menampakkannya dalam manasik haji untuk kaum muslimin dll.

Begitulah hijrah nabawiyyah muhammadiyyah yang di antara buah indahnya adalah seluruh kebaikan yang didapatkan kaum muslimin dan seluruh kemuliaan yang mereka peroleh serta seluruh keberuntungan yang mereka capai sepanjang masa. Sungguh cahaya Islam – sebagai kunci kebaikan dunia dan akhirat - telah tersebar dan pemerintahannya telah beridiri sehingga Makkah bisa ditaklukkan dan sesudah itu ajaran-ajaran Islam tersebar luas di seluruh alam melalui penaklukkan-penaklukkan yang dilakukan Islam. Jadi sudah dipastikan bahwa hijrah nabawiyyah berbeda dengan hijrah saudara-saudara Beliau shallallahu alaihi wasallam yaitu para nabi yang lain yang terdahulu alaihimussalaam sesuai dengan risalah beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperluas pemahaman hijrah sehingga mencakup berhijrah dari sesuatu yang dilarang oleh Allah dengan meninggalkan maksiat dan sikap melawan kepada Allah. Beliau bersabda kepada salah seorang sahabat bernama Fudek: “Wahai Fudek, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, jauhilah keburukan dan tinggal-lah di manapun dari tanah kaum-mu, tentu kamu tetap menjadi seorang yang berhijrah!”” (HR Baghawi Ibnu Mandah Abu Nuaim/Kanzul Ummal 8/3031, al Qudwah al Hasanah hal 42)

Kenapa? Karena dikatakan: “Masa itu seperti pelakunya. Sedang pelakunya seperti anda saksikan”Ia, pelaku masa sekarang ini telah berada dalam kondisi seperti disabdakan Nabi shallallahu alaihi wasallam yaitu kondisi berubah dari jalur yang benar akibat terpaan badai fitnah yang begitu dahsyat sebagaimana diberitakan dalam hadits-hadits beliau di bawah ini;

1.Hadits hilangnya Amanah seperti dalam riwayat Imam Turmudzi;2270; ((....sehingga manusia lalu saling melakukan transaksi perdagangan di mana hampir tak ada seorangpun yang menunaikan amanat, sampai dikatakan “bahwa sesungguhnya di suku ini ada seorang yang bisa dipercaya” hingga mereka mengatakan; “Betapa teguh orang ini, betapa cerdas dan betapa berakal dirinya” padahal dalam hatinya tak ada sebiji sawipun keimanan...)) Artinya mereka memujinya sebagai banyak memiliki akal, kecerdasan dan keteguhan serta mengidolakannya. Sementara mereka sama sekali tidak memuji seorangpun karena banyak memiliki ilmu yang bermanfaat dan melakukan amal shaleh.
2. “Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sehingga seandainya mereka memasuki lubang biawak niscaya kalian mengikuti mereka” Kami (para sahabat) bertanya; “Orang yahudi dan nashrani (yang anda maksudkan)?” Nabi Saw bersabda; “Lalu siapa (lagi)?”(HR Bukhari dari Abu Said al Khudri ra. Sedangkan Imam Hakim meriwayatkan hadits ini Ibnu Abbas ra di mana dalam akhir teks hadits terdapat riwayat; “...dan sampai andaikan salah seorang mereka mengumpuli isteri di jalan niscaya kalian juga melakukannya” Imam al Munawi mengatakan bahwa hadits riwayat Hakim ini bersanad shahih. Imam Nawawi mengatakan:[Maksudnya adalah menyamai mereka dalam hal kemaksiatan dan pelanggaran, bukan dalam kekafiran]( Tuhfatul Ahwadzi 6/408)

3.”Sungguh kalian akan melepaskan kancing-kancing islam satu persatu. Setiap kali satu kancing terlepas maka manusia beralih kepada kancing berikutnya; pertama dari kancing (yang dilepaskan) itu adalah hukum (daulah islamiyyah) dan yang akhir adalah shalat” (HR Ahmad Ibnu Hibban Hakim/ al jami’ as shaghir 2:203)

4.”Akan ada sebelum kiamat, fitnah-fitnah seperti potongan-potongan gelap malam”(HR Ibnu Majah/ Kunuzul Haqaiq Lil Munawi((Hamisy al jami’ ash shaghir2/203))

5. “Hampir saja Islam musnah sehingga tidak tersisa kecuali namanya” (HR Dailami falam Musnadul Firdaus/ Kunuzul Haqaiq Lil Munawi((Hamisy al jami’ ash shaghir2/203))

Allah ta’alaa memberikan peringatan agar tidak terjatuh dalam fitnah-fitnah ini dengan firmanNya; “Dan Allah memperingatkan kalian akan siksaNya. Dan Allah sangat sayang kepada para hambaNya “QS Ali Imran:30, seraya berwasiat supaya mencari jalan keluar dari hal tersebut; “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, tabahkanlah diri (bergaul dengan sesama), masuklah dalam jaringan (jamaah) dan bertaqwalah supaya meraih keberuntungan “QS Ali Imran (akhir surat):200)


=الله يتولى الجميع برعايته=

NB:
Format Audio menyusul.

Nov 12, 2011

Dengan Cara Apa Anda Ber-shuhbah?

Tausiyah Bulan Oktober 2011

Dzunnun Al Mishri berkata: [Jangan berteman akrab menuju Allah kecuali dengan pandangan yang sama. Jangan berteman dengan akran (bershuhbah) dengan makhluk kecuali dengan saling menasehati. Jangan bershuhbah dengan nafsu kecuali dengan perlawanan. Jangan bershuhbah dengan setan kecuali dengan permusuhan] tanwiirul Adzhaan:1/271.

1) Bershuhbah Bersama Menuju Allah

Allah ta’alaa berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.“QS Ali Imran:118.
Sungguh telah dikatakan: “Jangan tertipu performa manusia sebelum kamu mengerti hakikat dirinya”.
Juga dikatakan: “Sesungguhnya orang-orang itu laksana kotak-kotak terkunci. Dan tiada kunci-kuncinya kecuali sekian banyak uji coba”

2) Bershuhbah dengan Manusia dengan
Saling Menasehati dan Menabahkan Diri

Allah ta’alaa berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.“QS al Ashr:1-3.
Allah ta’alaa berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan berjejaringlah serta bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.“QS Ali Imran:200.

Dikatakan:
Bersabarlah atas kepedihan karena orang yang iri hati, karena kesabaranmu pasti akan membunuhnya.
Sungguh api akan memakan dirinya sendiri apabila tidak menemukan sesuatu yang dimakannya.


3) Bershuhbah dengan Nafsu dengan Perlawanan (Sehingga menjadi Lawwamah lalu Muthmainnah)

Allah ta’alaa berfirman: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.“QS Yusuf:53.
Yang selalu menyuruh kepada kejahatan adalah salah satu jenis nafsu. Di antara jenis yang lain ialah al lawwaamah, yaitu yang senantiasa dan seringkali mengkritisi dirinya ketika terjatuh dalam kemaksiatan.
Di antara jenis nafsu lainnya adalah al muthma’innah yang disebutkan Allah dalam firmanNya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku. masuklah ke dalam syurga-Ku” QS al Fajr: 27-30. Nafsu jenis ini merasa tentram dengan keimanan dan pembenaran sepenuhnya akan janji Allah ta’alaa. Nafsu jenis selamanya mendapatkan pertolongan menuju ketaatan dan membenarkan pertemuan dengan Allah ta’aalaa.

Dalam Burdah-nya, Imam al Bushiri mengatakan:

= Nafsu itu seperti anak kecil yang jika kamu membiarkannya maka ia akan tumbuh dewasa dengan tetap suka menyusu (kepada ibunya). Tetapi jika kamu menyapihnya maka iapun bisa tersapih.

= Maka alihkanlah keinginan nafsu dan waspadalah jangan sampai memberinya kuasa, sebab sungguh selama hawa nafsu berkuasa niscaya ia bisa mematikan atau membuat kerusakan(menimbulkan kecacatan)
Nafsu lebih berbahaya daripada setan karena ia musuh dalam rupa seorang teman. Sementara manusia tidak pernah mewaspadai rekayasa teman sendiri. Jadi nafsu adalah musuh dalam selimut.

4)Bershuhbah dengan Setan dengan Permusuhan

Allah ta’alaa berfirman: ” Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala“QS Fathir:6.
Lihatlah apa yang dilakukan setan terhadap ayah kita Nabi Adam alaihissalaam dan isterinya Hawwa’.Ia telah bersumpah sesungguhnya ia bermaksud baik kepada keduanya sebagaimana difirmankan Allah: “Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua",QS al A’raaf:21. lalu bagaimana terhadap kita? padahal terhadap kita ia telah bersumpah, seperti difirmankan Allah: “Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". “QS al Hijr:39-40.

Karena itulah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam memberikan peringatan kepada kita akan rekayasa setan dalam khutbah beliau ketika hajjatul wada’. Beliau bersabda:
“Ingat, sesungguhnya setan telah berputus asa untuk bisa disembah di negeri-negeri kalian ini selamanya. Tetapi akan ada ketaatan kepadanya dalam amal-amal yang kalian anggap remeh sampai akhirnya setan pun rela dengan hal itu”(HR Turmudzi/2248)

Dalam riwayat lain:
“Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk bisa disembah oleh orang-orang yang shalat, tetapi (ia masih berharap) membenturkan di antara mereka”(HR Ahmad Muslim Turmudzi dari Jabir ra/al Jami’ As Shaghiir:1/82)

Dalam kitabnya, Bustanul Waa’izhiin Wa Riyadhus Saami’iin hal 13, Ibnul Jauzi menyebutkan riwayat dari Nabi Muhammad Saw bahwa sesungguhnya beliau saat hajjatul wada’ berkhutbah:

“Wahai manusia, sesungguhnya aku mengharapkan kebaikan untuk kalian dan lagi bisa dipercaya. Ingat sesungguhnya Iblis telah berputus asa dari kalian. Akan tetapi demi Dzat yang mengutusku dengan hak, Iblis, semoga Allah melaknatnya, pasti akan menjadikan kalian menyembah seribu tuhan. Seseorang menyembah untanya, orang lain menyembah isterinya, orang lain menyembah kambingnya, orang lain menyembah tanaman pertaniannya, orang lain menyembah perdagangan (bisnisnya), orang lain menyembah hasil karyanya, orang lain menyembah kendaraannya, dan orang lain menyembah temannya. Seseorang bertanya kepada yang lain: “Bagaimana keadaanmu?” maka temannya menjawab: “Jika bukan karena perdaganganku maka tak ada keadaan (menyenangkan) bagiku”. Ia berkata: “Andai bukan karena pertanianku” orang lain berkata: “Andai bukan karena isteriku” orang lain berkata: “Andai bukan karena kendaraanku” orang lain berkata: “Andai bukan karena temanku” sehingga setan melalaikannya dari mengingat Tuhannya dan membuatnya kepayahan dalam urusan dunianya serta memutuskannya dari Akhiratnya_....”

Hadits tersebut sejalan dengan firman Allah: “...dan tidaklah melupakan aku untuk melakukan hal itu kecuali setan... “QS al Kahfi:63.

Benar, Allah ta’aalaa berfirman: “...dan sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan lemah”QS An Nisa’: 28. Dalam ayat lain: “...sesungguhnya rekayasa setan itu lemah “QS An Nisa’:76. Adalah dua hal yang lemah jika bertarung maka masing-masing keduanya tidak memiliki penolong untuk bisa mengalahkan lawannya. Lalu Allah memerintahkan manusia yang lemah agar memohon pertolongan kepada Tuhannya yang Maha Lembut dari rekayasa musuhnya yang lemah agar Dia Memberinya perlindungan dan pertolongan untuk bisa mengalahkan musuh dengan selalu berdzikir kepadaNya sebagaimana dikatakan:

=Seorang hamba senantiasa dalam lindungan dan penjagaan Allah
dari setiap setan yang sesat dan lalai

=Jika ia memohon perlindungan kepada Sang Maha Pengasih di waktu paginya dan begitu pula di waktu sorenya dengan berdzikir kepada Allah.

والله يتولى الجميع برعايته==

NB:
Format Audio Tausiyah Bulan Oktober 2011 segera menyusul. Admin.

Oct 8, 2011

E-book Panduan Praktis Haji Tamattu'

Bagi pembaca yang akan melaksanakan ibadah haji, ada baiknya membaca dan memiliki buku kecil ini "PANDUAN PRAKTIS HAJI TAMATTU'" karya Abina K.H.M. Ihya' Ulumiddin. Biar pun buku ini kecil, namun isinya lengkap dan dapat dipakai sebagai panduan hajhdan umroh. Buku ini di susun berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits Nabi saw sehingga tidak terlalu tebal, bila dibanding dengan buku panduan haji dan umroh yang dikeluarkan oleh Depag.

Buku ini juga dilengkapi dengan tambahan doa-doa yang didapat dipakai ketika pulang ibadah haji. Semoga buku kecil ini bermanfaat.

Admin.

Download

Sep 28, 2011

Sep 27, 2011

Haid Membaca Alqur’an

Pertanyaan:

Setiap kali saya mendampingi adik-adik program TQQ (Ta’lim Qira’ah Al Qur’an) di kampus kami selalu ada pertanyaan klasik seputar boleh dan tidak bolehnya saat haid memegang dan membaca Al Qur’an. Yang saya tanyakan:

1. Bagaimana hukumnya orang yang memegang dan membaca Al Qur’an dalam keadaan haid?
2. Jika tidak boleh, apa alasan-alasan (dalil) yang menjadi dasarnya?
3. Jika boleh, apa pula alasan-alasan (dalil) yang menjadi dasarnya?

Atas jawaban pengasuh Fas’alu, saya ucapkan jazakumullah khairan katsira

Anna Rofiatin, Ketintang Baru XI/10A Surabaya

Jawaban:

1. Demi kemuliaan Al Qur’an, Ijma’/konsensus ulama menyatakan haid menjadi penghalang wanita menyentuh atau memegang mushaf Al Qur’an. Dalil atas konsensus tersebut adalah firman Allah Ta’ala:
لاَ يَمَسُّهُ اِلاَّ اْلمُطَهَّرُوْنَ
Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang suci (QS Al Waqiah: 79)

Dan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

لاَ يَمَسُّ اْلقُرْأَنَ اِلاَّ طَاهِرٌ
Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci (HR Nasa’i, Abu Dawud, Malik, Thobarani, dan Al Hakim)

Haid menurut mereka juga menjadi penghalang wanita membaca AlQur’an, berdasarkan pada nash:

لاَ تَقْرَأُ اْلحَائِضُ وَلاَ اْلجُنُوْبُ شَيْـأً مِنَ اْلقُرْأَنِ
Wanita yang haid tidak boleh membaca sesuatupun dari Al Qur’an, tidak pula orang yang junub (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi).

2. Lain dari itu, Imam Bukhari berkecenderungan memperbolehkan wanita yang haid membaca Al Qur’an, seraya mengutip pendapat Ibrahim An Nakho’i, “Tidak berdosa wanita haid membaca ayat AlQur’an.” Hal ini didasarkan pada nash:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ فِى كُلِّ اَحْيَانِهِ
Rasulullah senantiasa berdzikir kepada Allah di setiap waktu-waktunya (Lihat Shohih Al Bukhori, Sindy I/65)

Kecenderungan Imam Al Bukhari ini, menurut Imam Al Munawi dan Al Hafidz Ibnu Hajar, di samping karena hadits-hadits dalam masalah ini tidak tampak satupun yang shahih, hadits-hadits tersebut juga masih memungkinkan munculnya interpretasi yang lain. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi I:412 dan Fiqih As Sunnah I:59)
3. Imam Malik diceritakan pernah mengatakan bahwa wanita haid boleh membaca AlQur’an karena jika tidak membaca dia bisa terlupakan, sementara masa haid bisa berlangsung lama (menurut penelitian Imam Asy Syafi’i masa haid bisa mencapai setengah bulan). (Lihat Aunul Ma’bud, Syarah Sunan Abu Dawud I:384 dan Tuhfatul Ahwadzi I:410)
4. Pada waktu-waktu tertentu yang terbilang darurat dan atau hajat, wanita yang haid diperbolehkan membaca AlQur’an, umpamanya pada waktu berdo’a, berdzikir, berniat ta’lim, mengawali sesuatu, dan sebagainya. (Lihat Al Fiqhul Islami I:384)

Status Darah sebelum Melahirkan

Pertanyaan:

Sebelum melahirkan wanita biasanya mengeluarkan darah. Apakah status darah tersebut?

Akhowat, Pujon Malang

Jawaban:

Semua ulama sepakat bahwa darah yang keluar setelah melahirkan (Wiladah) adalah darah Nifas. Sementara darah yang keluar beserta melahirkan atau saat merasakan sakit akan melahirkan (Tholq) maka menurut Madzhab Syafi’i dan sebagian Hanafi bukan termasuk darah haid dan juga bukan termasuk darah nifas. Imam Syarqowi dalam Hasyiyah Tahrir menyebut bahwa darah ini termasuk darah Fasad. Dalam Bughyatul Mustarsyidin/32 disebutkan: “Darah yang keluar dari wanita hamil sebab melahirkan sebelum bayi terlahir disebut Tholq dan hukumnya adalah seperti darah Istihadhoh yang berarti wajib dibalut, bersuci dan melakukan shalat dan tidak haram baginya segala hal yang diharamkan bagi wanita haid meskipun itu bersenggama (Hasyiyah Syarqowi 1/158). Sedang madzhab Maliki dan Hambali menganggap bahwa darah tersebut termasuk darah Nifas, artinya ketika seorang wanita yang akan melahirkan telah mengeluarkan darah maka saat itulah ia tidak berkewajiban shalat dll.

Sep 14, 2011

Haram Memberikan Loyalitas Kepada Orang-Orang Kafir

Seri Tafsir Tematik:

لاَ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكاَفِرِيْنَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ. وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ الله فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَنْ تَتَّقُوْا مِنْهُمْ تُقَاةً, وَيُحَذِّرُكُمُ الله نَفْسَهُ. وَإِلَى الله الْمَصِيْرُ (سورة أل عمران :28)

“Janganlah orang-orang mukmin mengangkat orang-orang kafir sebagai wali (teman setia, pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin; dan barangsiapa berbuat demikian, berarti lepaslah dia dari (pertolongan )Alloh, kecuali kamu (bersiasat) memelihara diri (terhadap) sesuatu yang ditakuti dari mereka; dan Alloh memperingatkan kamu (dengan siksaan) dan dari diri-Nya; dan kepada Alloh-lah tempat kembali.” (QS Ali Imran :28)


Analisis Ayat:

Lafadz أولياء , adalah bentuk jamak dari lafadz وَلِيٌّ menurut bahasa berarti an-Naashir ( penolong) dan al-Mu’iin ( yang menolong). (Lihat Ayatul Ahkam I:397). Juga berarti al-muhibb (yang mencintai), atau ash-shadiiq ( teman karib atau sahabat setia), atau al-jaar ( tetangga dekat), atau al-haliif ( sekutu), atau at-taabi’ ( pengikut setia).

Lafadz تقاة bentuk jamak dari تُقًى yang berarti bertakwa atau takut. Sedangkan maksudnya di sini adalah at-Taqiyyah yang berarti pura-pura bersikap luwes/supel kepada manusia karena takut dari kejahatannya. Menurut Ibnu Abbas, at-Taqiyyah adalah bersikap luwes/supel (al-mudaarah) secara dhahiriyyah tanpa meninggalkan prinsip. Kadang-kadang umat Islam yang berada di tengah-tengah orang-orang kafir, mereka menjaga dirinya dari kejahatan orang-orang kafir dengan lisannya, sementara dalam hatinya tidak ada kasih-sayang atau cenderung kepada mereka.(Lihat Ayatul Ahkam I:398).

Berkaitan dengan firman Alloh swt:إلا أن تتقوا منهم تقاة “Kecuali karena siasat memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka”, maksudnya, kecuali bagi orang-orang yang berada di suatu negeri dan pada waktu tertentu, merasa takut terhadap kejahatan orang-orang kafir, maka baginya diperbolehkan bersiasat kepada mereka secara lahirnya saja, bukan secara batin dan niatnya. Sebagaimana Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Darda’ ra, ia berkata:”sesungguhnya kami menampakkan wajah cerah kepada beberapa orang kafir, sedang hati kami melaknat mereka.” (Ibnu Katsir I:365). Sedangkan menurut Ats-Tsauri dari Ibnu Abbas berkata:”Taqiyyah (bersiasat dalam usaha melindungi diri) itu bukan dengan amal, melainkan dengan lisan.” Demikian juga menurut al-Aufi dari Ibnu Abbas ra bahwa taqiyyah itu dengan lisan. Hal yang sama juga dikatakan oleh Abul ‘Aliyah, Abu Sya’tsa’, Ad-Dhahhak dan Ar-Rabi’ bin Anas.

Pendapat mereka diperkuat dengan firman-Nya:
من كفر بالله من بعد إيمانه إلاّ من أكْرِهَ وقلبه مطمئنّ بالايمان

“Barangsiapa kafir kepada Alloh swt sesudah ia beriman (ia mendapat kemurkaan Alloh), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (dia tidak berdosa).” (QS An-Nisa’:106)

Imam Bukhari berkata dari al-Hasan berkata:”Taqiyyah itu berlaku sampai Hari Kiamat kelak.” Jadi taqiyyah dilakukan semata-mata untuk menyelamatkan gangguan fisik dan jiwa dari orang-orang kafir, sementara hati tetap beriman kepada Alloh swt. Hal ini juga pernah dilakukan oleh sahabat Amr bin Yasir ra ketika disiksa oleh orang-orang musyrik Mekkah untuk mengakui tuhan-tuhan mereka dan keluar dari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Akibat keras dan beratnya siksaan orang-orang musyrik Mekkah, terpaksa Amr bin Yasir ra mengucapkan kata-kata kufur, sementara hatinya tetap beriman kepada Alloh swt dan Rasul-Nya.

Asbabun Nuzul:

Ayat ini diturunkan berkaitan dengan orang-orang beriman yang mempunyai sahabat/teman dekat dari kalangan orang-orang Yahudi, maka berkata sebagian sahabat Nabi saw kepada mereka:”Jauhilah mereka orang-orang Yahudi dan berhati-hatilah menjalin persahabatan dengan mereka agar mereka tidak menimpakan fitnah terhadap agama kamu dan tidak menyesatkan kamu setelah kamu beriman kepada Alloh swt.” Tetapi mereka ( beberapa kaum muslimin) menolak nasehat tersebut dan mereka tetap bersahabat dengan orang-orang Yahudi.Maka turunlah ayat tersebut di atas.( Jaami’ul Bayan Li-Thabary III:228, yang dinukil oleh Ali Ash-Shabuni I:399). Menurut Al-Qurthubi di dalam kitab tafsirnya dari Ibnu Abbas ra bahwa ayat ini turun berkaitan dengan sahabat Ubadah bin Shamit ra-shahabat Anshar yang ikut perang Badar-yang kebetulan mempunyai beberapa sahabat dari kalangan orang-orang Yahudi. Pada saat perang al-Ahzab, Nabi saw keluar dan Ubadah berkata kepada beliau saw:”Ya Nabi Alloh! Sesungguhnya beserta saya lima ratus orang Yahudi. Dan aku menganggap perlu kalau mereka itu keluar bersamaku untuk menghadapi musuh.” Maka Alloh swt menurunkan ayat tersebut di atas.


Sedangkan menurut Ibnu Jarir dari Sa’ad atau Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas dikatakan bahwa al-Hajjaj bin ‘Amr yang mewakili Ka’ab bin al-Asyraf dan Ibnu Abil Haqiq serta Qais bin Zaid (tokoh-tokoh Yahudi) telah memikat segolongan kaum muslimin dari kalangan Anshar untuk memalingkan mereka dari agama Islam. Rifa’ah bin al-Mundzir, Abdullah bin Jubair serta Sa’ad bin Hatsamah memperingatkan orang-orang Anshar tersebut dengan berkata:”Berhati-hatilah kalian dari pikatan mereka, dan janganlah terpalingkan dari agama kalian”. Mereka menolak peringatan itu. Maka Alloh menurunkan ayat tersebut di atas sebagai peringatan untuk tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung orang-orang beriman.

Penjelasan Ayat:

Berkaitan dengan ayat tersebut di atas, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya berkata:” Alloh swt melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengangkat orang-orang kafir sebagai wali (penolong, teman setia, pemimpin) dengan mengabaikan orang-orang yang beriman. Selanjutnya Alloh swt mengancam perbuatan seperti itu, yaitu barangsiapa yang melanggar larangan tersebut, maka ia benar-benar terlepas dari (pertolongan) Alloh swt.”(Ibnu Katsir I:365).

Sedangkan Sayyid Qutub dalam kitab tafsirnya berkata:”Sesungguhnya tidak akan berkumpul dalam hati seorang manusia suatu iman yang sebenar-benarnya kepada Alloh swt apabila mereka menjadikan musuh-musuh Alloh sebagai wali (pemimpin, teman setia). Padahal musuh-musuh Alloh itu telah berpaling dari atau membelakangi seruan untuk berhukum kepada kitab Alloh swt. Oleh karena itu, datanglah ancaman keras ini sekaligus sebagai ketetapan yang pasti bahwa seorang muslim telah keluar dari Islam jika dia menjadikan orang yang tidak ridha menjadikan kitab Alloh sebagai pengatur dalam kehidupan sebagai wali, baik kewalian itu dengan kecintaan hati dan dengan membantunya, ataupun meminta pertolongan kepadanya.” Lebih lanjut Sayyid Qutub berkata:”Ia lepas dari pertolongan Alloh, tidak ada dalam perhitungan Alloh sedikitpun, tidak ada hubungan dan penisbatan, baik agama maupun akidah, tidak ada ikatan dan kewalian. Ia telah jauh dari Alloh dan terputus hubungannya secara total dalam segala sesuatu.”

Berdasarkan ayat tersebut di atas, Allah hanya memberikan kemurahan jika mereka melakukan itu karena siasat memelihara diri terhadap orang yang ditakutinya dalam suatu negeri atau waktu tertentu. Akan tetapi, itu hanya pemeliharaan diri dalam bentuk ucapan lisan, bukan perwalian dalam hati dan amal perbuatan. Sebagaimana Ibnu Abbas ra pernah berkata:

لَيْسَ التَّقِيَّةُ بِالْعَمَلِ, إِنَّمَا التَّقِيَّةَ بِاللِّسَانِ
“Tidak ada taqiyyah (siasat pemeliharaan diri) dengan amal, sesungguhnya taqiyyah itu adalah dengan lisan.”


Taqiyyah yang diperkenankan itu bukan dengan menjalin kasih sayang antara orang-orang mukmin dengan orang kafir. Karena orang kafir itu tidak ridha kalau kitab Alloh dijadikan pemutus perkara atau pedoman dalam kehidupan. Taqiyyah, yang diperbolehkan juga bukan dengan membantu orang kafir dengan amalan nyata dalam suatu bentuk tertentu atas nama taqiyyah. Jadi taqiyyah hanya diperbolehkan, ketika kondisi sangat memaksa hingga mengancam keselamatan jiwa. Dan itupun dilakukan dengan ucapan lisan, sementara hati tetap mengimani Alloh swt dan Rasul-Nya serta mengingkari ajaran orang-orang kafir.

Yang perlu diketahui bahwa taqiyyah itu hanya merupakan rukhshah (keringanan/kemurahan/dispensasi) dari Alloh swt, bukan kewajiban. Bahkan orang mukmin yang meninggalkan cara seperti itu lebih afdhal. Dan taqiyyah itupun boleh dilakukan oleh seorang muslim jika kondisinya benar-benar mengancam keselamatan jiwa dan raga. Sementara jika kondisinya dalam keadaan normal, tidak ada tekanan dari orang-orang kafir secara fisik, maka melakukan taqiyyah diharamkan oleh agama.

Adapun orang-orang kafir menurut pandangan Islam adalah setiap orang yang tidak memeluk agama Islam, tidak mengimani Alloh swt sebagai satu-satunya Dzat yang disembah, ditaati dan ditunduki segala aturan dan hukum-hukum-Nya, membuat sekutu bagi-Nya, mengingkari adanya berita-berita ghaib yang telah dikabarkan oleh Alloh swt dalam Al-Qur’an, tidak mengakui Muhammad saw sebagai hamba dan utusan-Nya yang terakhir, tidak mengimani ayat-ayat Al-Qur’an secara menyeluruh dan menolak Sunnah Rasul. Dan menurut pandangan Islam, kafir meliputi dua golongan, yaitu Ahlul-Kitab (Yahudi dan Nashara) serta orang-orang musyrik ( agama yang konsep tauhidnya mengandung kesyirikan), misalnya Hindu, Budha, Kong Hu Chu. Alloh swt berfirman:

إن الذين كفروا من أهل الكتاب والمشركين في نار جهنم خالدين فيها.
أولئك هم شر البرية ( البينة :6)
“Sesungguhnya orang-orang kafir yaitu dari kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” (QS Al-Bayyinat: 6)

Sedangkan kalangan Ahli Kitab menurut Ibnu Katsir dalam mengomentari Surat Ali Imran ayat 64 adalah orang-orang Yahudi dan Nashara serta orang-orang yang mengikuti jalan mereka.(Ibnu Katsir I:379). Hal ini juga berdasarkan Surat Nabi saw yang dikirimkan kepada Raja Heraqlius, Romawi dengan panggilan “ Yaa Ahlal-Kitab” yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas , dari Abu Sufyan. Begitu juga ketika beliau saw mengirim surat dakwah kepada Gubernur Mesir, Muqauqis dengan panggilan “ Yaa Ahlal-Kitab”. Begitu juga ketika Ibnu Katsir mengomentari Surat Ali Imran ayat 65, bahwa lafadz “ Ahlul Kitab” adalah orang-orang Yahudi dan Nashara. Sedangkan kekufuran dalam bentuk ideologi, misalnya Kapitalis-Liberalisme dan Sosialis-Komunis. Orang-orang yang berpegang teguh kepada prinsip-prinsip tersebut termasuk dalam kategori kafir.

Berkaitan dengan haramnya mengangkat orang-orang Yahudi dan Nashara sebagai pemimpin, teman setia dan penolong bagi umat Islam ditegaskan oleh Alloh swt dalam ayat yang lain:

يا أيها الذين أمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض. ومن يتولهم منكم فإنه منهم ( المائدة :51)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nashara sebagai pemimpin. Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lainnya. Barangsiapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.”(QS Al-Maidah:51)

Menurut As-Suddi berkata:”Bahwa ayat itu turun berkenaan dengan dua orang yang salah satunya berkata kepada yang lain, yaitu setelah Perang Uhud:’Adapun aku, sesungguhnya akan pergi kepada orang-orang Yahudi dan berlindung kepadanya serta memeluk agama Yahudi bersamanya, mudah-mudahan akan bermanfaat bagiku jika terjadi sesuatu. Sedangkan yang lain berkata:’Adapun aku, akan pergi kepada si Fulan yang beragama Nashara di Syam, lalu aku berlindung kepadanya dan memeluk agama Nasrani bersamanya’. Lalu turunlah ayat tersebut. Sedangkan menurut Muhammad bin Ishaq bahwa ayat tersebut berkaitan dengan Ubadah bin Shamit ketika terjadi peperangan dengan Yahudi Bani Qainuqa, sementara Abdullah bin Ubay berpihak kepada orang-orang Yahudi. Sedangkan Ubadah bin Shamit ketika masih terikat perjanjian dengan orang-orang Yahudi. Lalu Ubadah bin Shamit menyuruh Bani Auf menghadap Rasulullah saw dan melepaskan diri dari sumpah orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk selanjutnya menuju kepada Alloh swt dan Rasul-Nya.(Ibnu Katsir II:71)

Berkaitan dengan ayat tersebut, Ibnu Katsir berkata:”Alloh swt melarang hamba-hamba-Nya yang beriman mengangkat orang-orang Yahudi dan Nashara sebagai pemimpin mereka, karena mereka itu adalah musuh-musuh Islam dan musuh para pemeluknya.” (Ibnu Katsir II:70). Dan Alloh swt menjanjikan bagi mereka yang melakukan perbuatan itu dengan ancaman siksaan yang pedih, akan terjadinya fitnah bagi agama dan umatnya serta kerusakan di muka bumi.

بشر المنافقين بأنّ لهم عذابا أليما. الذين يتخذون الكافرين أولياء من دون المؤمنين. أيبتغون عندهم العزة فإن العزة لله جميعا
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. Yaitu orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kemuliaan kepunyaan Alloh swt.”(QS An-Nisa’:138-139)

والذين كفروا بعضهم أولياء بعض إلا تفعلوه تكن فتنة في الارض وفساد كبير

“Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu ( kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Alloh swt itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS Al-Anfal:73)

يا أيها الذين أمنوا لا تتخذوا عدوى وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بماجاء كم من الحق ( الممتحنة:1)
“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil wali (pemimpin) dari musuh-Ku dan musuhmu, yang kamu menjatuhkan rasa kasih sayang kepada mereka itu; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu” (QS Al-Mumtahanah:1)

يا أيها الذين أمنوا لا تتخذوا بطانة من دونكم لا يألونكم خبالا ودّزا ما عنتّم قد بدت البغضاء من أفواههم وما تخفى صدورهم أكبر
“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu, karena mereka itu tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemadharatan bagi kamu.Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi” (QS Ali Imran:118).

Lafadz بطانة berarti orang dekat yang dapat mengetahui urusan dalam, atau pembantu terdekat atau tangan kanan. Dalam ayat ini, Alloh swt melarang orang-orang mukmin menjadikan orang-orang munafik, orang-orang kafir sebagai pembantu dekat/tangan kanan atau orang kepercayaan. Hal itu disebabkan karena mereka lebih banyak menimbulkan madharat dan menjerumuskan orang-orang Islam dalam bahaya dan kehancuran. Imam Bukhari dan An-Nasaiy meriwayatkan dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah saw bersabda:
مَا بَعَثَ الله مِنْ نَبِيٍّ وَلاَ اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيْفَةٍ إِلاَّ كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ: بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْخَيْرِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ , وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالسُّوْءِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ, وَالْمَعْصُوْمُ مَنْ عَصَمَهُ الله

“Alloh tidak mengutus seorang Nabi dan tidak juga mengangkat seorang khalifah pun melainkan ia memiliki dua orang pembantu kepercayaan (orang terdekat/tangan kanan); yang pertama menyuruh dan menekankan untuk berbuat baik. Dan yang kedua menyuruh untuk berbuat kejahatan. Hanya orang yang dipelihara oleh Alloh sajalah yang selalu terhindar dari kesalahan dan dosa”
(HR Bukhari dan An-Nasaiy).

Dalam mengomentari ayat tersebut, Ibnu Katsir berkata:”Alloh swt melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menjadikan orang-orang munafik sebagai teman kepercayaan. Yakni karena mereka akan membuka rahasia dan segala yang tersembunyi untuk memusuhi orang-orang Islam. Dan orang-orang munafik itu dengan segenap daya dan kekuatannya tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagi orang-orang yang beriman. Yakni selalu berusaha keras untuk menjerumuskan umat Islam ke dalam bahaya dengan segala cara, serta melakukan berbagai tipu muslihat yang dapat dilakukan.”( Ibnu Katsir I: 406)

لا تجدوا قوما يؤمنون بالله واليوم الاخر يوادّون من حادّ الله ورسوله
“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Alloh dan Hari Kiamat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rasul-Nya.” (QS Al-Mujadalah:22)

يا أيها الذين أمنوا لا تتخذوا الذين اتخذوا دينكم هزوا ولعبا من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم والكفار أولياء. واتقوا الله إن كنتم مؤمنين
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpin kamu, orang-orang yang membuat agamamu menjadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Al-Kitab sebelum kamu, dan orang-orang kafir .Dan bertakwalah kepada Alloh jika kamu benar-benar beriman.”(QS Al-Maidah :57)

Yang demikian itu merupakan peringatan agar kaum muslimin tidak berlindung kepada musuh-musuh Islam dan sekutunya dari kalangan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kaum musyrikin yang menjadikan syariat Islam yang suci sebagai bahan ejekan dan permainan menurut keyakinan dan pandangan mereka yang rusak dan fikiran mereka yang beku.

Adapun meminta bantuan kepada orang kafir dalam peperangan, dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Madzhab Maliki berpendapat bahwa minta bantuan orang kafir dalam peperangan tidak boleh, dengan mengambil dhahirnya ayat.Beliau beristidlal dari hadits Aisyah ra :Bahwa ada seorang pria dari kaum musyrikin yang cukup berani, datang kepada Nabi saw pada Perang Badar untuk minta idzin berperang bersama beliau, lalu Nabi saw bersabda:Kembalilah, aku tidak akan minta bantuan kepada orang musyrik. Sedangkan menurut Jumhur Ulama (Syafi’iyyah, Hanabilah dan Hanafiyah) berpendapat bahwa minta bantuan kepada orang kafir dalam peperangan itu dibolehkan dengan du syarat, yaitu (1).Jika sangat dibutuhkan, (2) Orang tersebut harus dapat dipercaya. Mereka mengambil dalil dari perbuatan Nabi saw yang pernah meminta bantuan kepada Yahudi Bani Qainuqa dan memberi bagian ghanimah kepada mereka. Nabi saw juga pernah minta bantuan kepada Shafwan bin Umayah dalam peperangan Hawazin. ( Ayatul Ahkam I:402)

Sedangkan meminta bantuan kepada orang-orang kafir untuk menjadi tenaga administrasi bagi kepentingan umat islam, sebagian ulama membolehkan selama tidak membahayakan umat Islam. Syekh Ali Ash-Shabuni berkata:”Jika mengangkat orang kafir untuk urusan yang tidak membawa madharat bagi kaum muslimin, sebagaimana tidak menyalahi prinsip-prinsip agama, maka yang demikian itu dibolehkan. Tetapi jika membawa madharat, maka sama sekali tidak diperbolehkan”.

لَنَبُشُّ فِي وُجُوْهِ قَوْمٍ وَقُلُوْبُنَا تَلْعَنُهُمْ
“Sungguh kami akan senyum di hadapan wajah suatu kaum, sedangkan hati kami melaknatnya.”


Berdasarkan beberapa ayat di atas, diharamkannya orang-orang yang beriman mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang kafir, baik dari kalangan Ahlul Kitab atau orang-orang musyrik, disebabkan oleh beberapa alasan;(1). Mereka ( orang-orang kafir itu) menjadikan syariat Islam sebagai bahan ejekan dan permainan. (2). Mereka adalah orang-orang yang menentang Alloh swt dan Rasul-Nya. (3).Mereka tidak henti-hentinya menimbulkan mudharat dan kerusakan bagi umat Islam, kebencian yang ada dalam hati mereka, yang menyebabkan mereka senantiasa menjerumuskan umat Islam dalam kehancuran. Mereka senang jika umat Islam menemui bahaya dan kehancuran, sebaliknya sedih jika umat Islam menemukan kejayaan. (4). Mereka ingkar terhadap kebenaran yang datangnya dari Alloh swt mengenai akan datangnya Nabi dan Rasul akhir zaman yang diterangkan melalui kitab-kitab-Nya. (5). Agar umat Islam tidak berada dibawah kendali kekuasaan orang-orang kafir yang menentang dan tidak mengimani Alloh swt dan Rasul-Nya.
ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا
“Dan sekali-kali Alloh tidak menjadikan jalan orang-orang kafir menguasai orang-orang yang beriman." (QS An-Nisa’:140)[]