Apr 29, 2011

Solusi Masalah Kalangan Berharta

Tausiyah Mei 20011
oleh | K.H.M. Ihya' Ulumiddin
Tempat: Sentra Dakwah Ketintang Surabaya


Ikuti Kajian Online-nya langsung dari Ketintang Surabaya, Ahad 1 Mei 2011 pukul 08.00 wib. Don't miss it!

Dalam Alqur'an Allah menyebutkan karakter manusia ketika memiliki kebaikan atau harta benda, yaitu ia menjadi bersikap kikir/emanan (manuu') kecuali orang yang mendermakan harta bendanya itu, maka ia akan menyaksikan kemudahan yang dijanjikan.

Karena bersikap kikir/emanan maka manusia tidak menyalurkan hak harta benda dengan sebaik-baiknya yang merupakan syarat harta benda terbentengi, sehingga harta bendanya dihampiri bencana-bencana dan kerusakan-kerusakan.(akibatnya) iapun bersedih dan mengeluh serta segera bergerak mencari solusi, sementara ia mengerti bahwa tidak ada solusi seperti Taqwa. Lalu jenis Taqwa manakah yang bisa membawanya keluar dari himpitan ini? Di sinilah kemudian Junjungan kita Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menunjukkan solusi tersebut, beliau bersabda: “Haji berturut- turut dan umrah yang beruntun bisa menolak kematian buruk dan sangatnya kemiskinan” (HR Abdurrazzak As Shan'aani dari Amir bin Abdillah bin Zuber ra secara Mursal. Al Jami' As Shaghir 1/146).

Beliau juga bersabda: “Orang-orang yang berhaji dan orang-orang yang berumrah adalah duta Allah; jika meminta maka mereka diberi, jika berdo'a maka mereka dikabulkan, dan jika berinfak maka mereka diberikan ganti...”(HR Baihaqi).

Dan sudah dimaklumi bahwa haji dan umrah berturut-turut tidak bisa dijalankan kecuali oleh orang yang memang memiliki kemampuan berupa melimpahnya sarana harta benda. Maka hal itulah yang menjadi cara menutup cacat yang terjadi dalam harta benda sebagai akibat tidak memenuhi haknya. Begitulah sunnah Allah dalam makhlukNya bahwa segala himpitan mesti ada solusi, dan semua kesusahan mesti ada kesenangan sesuai kehendak alamiahNya karena kebaikanNya yang bertubi-tubi dan tambahan anugerah serta kemurahanNya.

Dan sudah tidak diragukan lagi bahwa solusi yang sama sekali tidak terbersit dalam hati akan menjadi kenyataan apabila berusaha diperoleh dengan memperbaiki tujuan serta meluruskan niat dalam menjalani haji dan umrah; yaitu karena Allah dan ikhlash karenaNya, bukan karena pamer, popularitas dan plesiran, berbeda sama sekali dengan realitas yang diiisyaratkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Akan datang kepada manusia, suatu masa di mana orang-orang kaya berhaji untuk wisata, kalangan ekonomi menengah untuk berdagang, para ulama untuk pamer dan popularitas dan orang-orang miskin untuk meminta-minta”(HR Abu Faraj Ibnul Jauzi dalam Mutsiirul Gharam dengan menyebutkan sanad/ Lihat Al Qiroo Li Qaashidi Ummil Quroo tulisan al Hafizh Muhibbuddin At Thabari hal 31).

Maka dari itulah hendaknya orang yang berhaji atau berumrah secara serius berusaha menjernihkan tujuannya dari segala hal tersebut kalau memang ia benar-benar mencari solusi.

=والله يتولى الجميع برعايته=

Apr 5, 2011

Tidak Memiliki Maka Tidak Memberi

Tausiyah Bulan April 2011
Vol XII Edisi 140
Oleh : K.H M Ihya' Ulumiddin


Allah ta’ala berfirman:
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”QS at Taubah:41.

Termasuk jihad fi sabilillah adalah mendermakan harta benda demi kehidupan dakwah. Mencari harta benda demi kepentingan dakwah, menyokong dan mengokohkannya termasuk dalam kategori hal yang menjadi syarat sempurna suatu kewajiban.
Cukuplah sebagai gambaran bagi kita ketika Allah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang ahli perdagangan sejak sebelum diutus saat usia beliau baru dua puluh tahun.

Setelah diutus, Allah lalu mengokohkannya dengan dukungan isterinya Sayyidah Khadijah al Kubro yang juga seorang pedagang, para khalifah empat dan sepuluh orang yang dijamin masuk surga, serta yang lain di mana kebanyakan adalah para pedagang.

Dan bagaimana kekayaan para sahabat begitu melimpah sejak hijrah mereka masih berjalan tidak lebih dari tujuh tahun. Dan bagaimana pula nenek moyang kita di negeri ini memeluk islam juga melalui tangan-tangan para pedagang yang notabenenya adalah para da’i. Serta bagaimana pula sekarang ini, yahudi yang meski minoritas tetapi menguasai dunia karena kekuatan ekonomi dan perdagangan mereka.

Tuhan kita Allah ta’aala adalah Dzat Maha Kaya dan Maha Memberikan kekayaan. Maka sudah semestinya hambaNya memiliki sifat ini dari sisi memperoleh kekayaan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri adalah figur yang kaya lagi dermawan hingga tidak pernah menyimpan rizki untuk esok harinya. Karena hal-hal tersebut inilah Alqur’an menyinggung tentang pentingnya perdagangan: “...kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya... “QS al Baqarah:282. “ ... mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,... “QS Fathir:29. “ ... perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya... “QS at Taubah:24. “laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah.... “QS an Nuur: 37. Dan tentunya itu semua dengan mengetahui simpul-simpul yang kuat dan kokoh dalam menjalankan perdagangan.

Sudah dimaklumi bahwa jalan dakwah memiliki tahapan-tahapan, maka sudah tibalah saatnya bagi kita dalam tahapan ini untuk menyokong dakwah kita dengan sokongan harta benda melalui apa saja yang mudah dilaksanakan untuk menghimpun harta benda secara berjamaah seraya memurnikan niat mendahulukan kemaslahatan jamaah atas kepentingan pribadi dan menjauhkan diri dari istighlal (menggunakan kesempatan).

Karena inilah rahasia kesuksesan dan keberuntungan dalam urusan ini. Serta didukung dengan langkah cepat sebagaimana firman Allah: “Dan sesungguhnya tidak ada bagi manusia kecuali apa yang ia usahakan. Dan usahanya itu pasti akan terlihat”, kejujuran sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: ”Dia pasti beruntung jika ia jujur“ dan tangan yang terpercaya berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Berikanlah amanat kepada orang yang mempercayaimu “ serta tidak meremehkan dan bersikap santai.

=والله يتولى الجميع برعايته=

Versi Audio


Download:

Mar 9, 2011

Di Antara Jalan Terbesar Menuju Wushul


Tausiyah Abina Muhammad Ihya' Ulumiddin
Bulan Maret 2011

Di antara jalan terbesar untuk bisa sampai, wsuhul kepada Allah adalah menyibukkan diri dengan bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Hal demikian karena berbagai alasan yang di antaranya:

1. Shalawat mengandung tawassul kepada Allah ta’alaa dengan kekasih dan pilihanNya. Sungguh Allah telah berfirman: “...dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya... “QS al Maidah:35. dan kiranya tiada wasilah kepada Allah lebih agung daripada RasulNya yang mulia shallallahu alaihi wasallam.

2. Sesungguhnya Allah memerintahkan dan mendorong kita agar bershalawat demi memuliakan, mengagungkan dan mengunggulkan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Ini berarti shalawat termasuk amalan paling manjur, kondisi paling unggul, pendekatan yang paling tepat serta berkah yang paling merata.

3. Shalawat mengandung ungkapan rasa syukur atas sarana (jalan) nikmat-nikmat Allah kepada kita yang memang diperintahkan untuk disyukuri. Maka tiada nikmat yang telah lewat dan yang akan didapat berupa penciptaan dan uluran anugerah di dunia dan akhirat kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sebab (sarana) sampai dan mengalirnya nikmat itu kepada kita.
Jadi nikmat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada kita adalah mengikuti nikmat-nikmat Allah ta’aalaa yang tidak bisa terhitung. Maka ada hak bagi Beliau atas kita. Dan dalam mensyukuri nikmat beliau, wajib bagi kita untuk tidak kendor bershalawat atasnya.

4. Sesungguhnya beliau shallallahu alaihi wasallam dicintai oleh Allah dan mulia derajat di sisiNya. Karena itulah wajib mencintai orang yang dicintai Allah dan mendekatkan diri kepada Allah dengan mencintai dan mengagungkannya. Dan (tentunya) wajib pula bershalawat atasnya serta mengikuti shalawatNya dan shalawat malaikat atasnya.

5. Segala yang warid tentang keutamaan shalawat dan besarnya pahala yang dijanjikan karenanya serta sebutan yang mulia. Di antaranya adalah sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Barang siapa bershalawat kepadaku sekali shalawat maka Allah bershalawat atasnya sepuluh kali”(HR Muslim Abu Dawud Nasai Turmudzi). Maksudnya Allah menyambutnya dengan sepuluh rahmat, melebur darinya sepuluh kesalahan, dan mengangkatnya sepuluh derajat sebagaimana dalam hadits Anas ra dari riwayat Imam Ahmad di mana ini termasuk kategori tambahan dalam pahala sebab besarnya keutamaan shalawat. Dan karena Allah tidak menjadikan balasan mengingat nabiNya kecuali berupa perhatianNya kepada orang yang mengingat nabiNya. Dan tentu perhatian Allah kepada seorang hamba lebih agung dan lebih mulia serta memiliki keutamaan yang lebih merata dan lebih sempurna (Fathul Qarib al Mujib Lissayyid Alawi al Maliki hal 89)


Dan karena di dalam shalawat ada sekian banyak hikmah tersebut maka shalawat menjadi sarana meraih ridho Allah Maha Penyayang dan sarana mendapatkan keberuntungan. Shalawat menjadikan berkah-berkah menampak, do’a-do’a dikabulkan dan tangga menaiki derajat-derajat tinggi. Dengan shalawat keretakan hati bisa ditutupi dan dosa-dosa bisa diampuni. Hal demikian sebagaimana diajarkan dalam hadits Ubayy bin Ka’ab: “Maka saya menjadikan seluruh shalawatku hanya untukmu” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika demikian maka seluruh kesusahanmu akan diselesaikan dan dosamu akan diampuni”(HR Ahmad Turmudzi dan Hakim. Imam Hakim menshohihkannya. Imam Turmudzi berkata: Ini hadits hasan dan shohih)
Dalam hadits ini ada ada jaminan kecukupan urusan dunia dan akhirat bagi orang yang menjadikan seluruh shalawatnya untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan karena hal demikian termasuk mengahadiahkan pahala amalan ini dalam lembar catatan amal beliau shallallahu alaihi wasallam.

Maka dari itulah hingga diucapkan bahwa sesungguhnya shalawat mencukupi dan menempati posisi seorang guru murobbi di jalan akhirat. Sayyidi al Walid Abuya rahimahullah mengatakan: “Setiap orang membutuhkan pembimbing yang bisa mendidik dan mengarahkan. Ia yang mendidik hatinya, membersihkan akhlaknya dan menuntun tangannya menuju Allah. Dialah figur dimana (berkah) bergaul akrab dengannya, Allah menjaga dia dari keburukan, hawa nafsu dan kemaksiatan. Apabila kita tidak ,menemukannya lantas apa yang kita lakukan? Shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah guru orang yang tidak memiliki guru”

=والله يتولى الجميع برعايته=

Rujukan:

1.Ad Dzakha’ir al Muhammadiyyah Li Sayyidi al Walid Abuya 148-152
2.Sebagian Taushiah beliau di Malaisia
3. Fathul Qarib al Mujib Lissayyid Alawi al Maliki hal 89-91


Versi Audio:


Download:

Feb 11, 2011

Mengqashar Shalat, Waktu Berbuka, dan Bepergian ke Luar Negeri

Pertanyaan:

Melalui surat ini saya ingin mengajukan beberapa saran dan pertanyaan:
1) Untuk kolom Fas’alu terima kasih karena sudah menerbitkan bundelnya dengan judul: “Tanya Jawab Aktual Fas’alu”, tetapi saya merasa janggal dengan kata “Fas’alu” yang memiliki tanda koma setelah huruf “s”, padahal kalau tidak salah kata itu diambil dari fi’il madhi “سأل” atau saala (tidak memakai ‘ain).
2) Perkembangan teknologi membuat kita harus lebih hati-hati dan waspada. Kalau dulu untuk pergi ke suatu kota kita harus berjalan kaki berjam-jam bahkan berhari-hari tapi sekarang cukup beberapa menit saja kita sudah sampai di tempat tujuan. Yang menjadi pertanyaan saya:
a. Apakah dalam masalah sholat kita masih boleh mengqashar atau menjamak, meski jarak yang kita tempuh melebihi 16 farsakh atau sama dengan 81 km dapat ditempuh dalam beberapa jam bahkan menit?
b. Bagaimanakah buka puasa orang yang bepergian dan sholat orang yang bepergian, apakah mengikuti waktu yang dituju?
c. Apabila saya pergi ke suatu negara (luar negeri) dan sebelum berangkat saya melakukan sholat Ashar, tetapi sampai di sana sudah masuk waktu sholat Isya’. Apakah boleh saya melaksanakan sholat Isya’ jamak dan qashar dengan shalat maghrib serta sholat mana yang harus saya dahulukan?
3) Bagaimana hukumnya mengadakan ulang tahun yang di dalamnya ada acara tiup lilin, potong kue, dan kasidahan. Mohon diberi dalil atau alasan yang kuat!

Demikian beberapa pertanyaan dan saran yang dapat saya ajukan. Atas perkenan dan jawaban pertanyaannya, saya mengucapkan terima kasih.

Abdul Azis
Jl. Made Karyo VI/2 Made Lamongan 62251


Jawaban:
Terima kasih kembali atas segala perhatiannya. Mengenai pertanyaan pertama, mengapa kata Fas’alu ditulis Fas’alu, memakai koma, bukan Fasalu (tanpa koma), padahal memakai hamzah bukan ain, saya kira hal ini soal teknis. Kata Fas’alu dipetik dari kata dalam Al-Qur’an: فسئلوا . (Q.S. An-Nahl: 63) Artinya bertanyalah.
Kita memilih menulis Fas’alu (dengan memakai koma) agar tidak rancau yang menyebabkan salah baca. Sementara dalam keseharian kita sering menulis atau menjumpai tulisan kata “Al-Qur’an”, dengan menggunakan koma, bukan “Al-Quran” (tanpa koma), padahal huruf yang dikasih koma itu bukan ain melainkan hamzah. Pilihan ini agaknya dilakukan agar terhindarkan dari salah baca.
Apalagi hingga saat ini kita belum memiliki standar transliterasi Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia yang disepakati semua pihak.

Mengenai pertanyaan kedua (a), masalah jarak diperbolehkan qashar sepanjang 81 km dan bisa ditempuh beberapa menit saja, bolehkah dilakukan qashar. Hal ini kita kembalikan kepada kesepakatan ulama di samping nash-nash hadits nabawi. Kesepakatan ulama berkaitan dengan hal ini menyatakan bahwa standar dari bepergian yang diperbolehkan mengqashar shalat adalah jarak atau yang disebut masafah atau masirah, bukan waktu. Berapa jaraknya, bukan berapa waktunya. Jika jaraknya mencukupi dilakukan qashar, maka tidak mengapa dilakukan qashar, meski untuk menempuh jarak itu bisa dilakukan hanya dalam beberapa jam saja, misalnya kalau naik pesawat terbang.

Bila di dalam teks hadits disebutkan Rasulullah bepergian dari Madinah ke Makkah dan beliau melakukan qashar shalat, itu maknanya adalah jarak yang ditempuh antara Madinah ke Makkah telah mencukupi jarak diperbolehkannya mengqashar shalat. Begitu pula teks hadits ketika Rasulullah saw. melarang mengqashar shalat bila bepergian dari Makkah ke Usfan karena perjalanan ini tidak mencukupi jarak diperbolehkannya mengqashar shalat.

Bila Al-Auzai berpendapat diperbolehkan mengqashar shalat dalam perjalanan sehari, atau dalam perjalanan dua hari dua malam menurut Asy-Syafii dan Ahmad, atau dalam perjalanan tiga hari tiga malam menurut Abu Hanifah dan Ats-Tsauri, hal ini semua berkaitan dengan jarak (masafah). Jarak perjalanan sehari misalnya adalah diperkirakan sejauh 37,5 km. Jarak perjalanan dua hari dua malam adalah diperkirakan sejauh 81-90 km. Dan jarak perjalanan tiga hari tiga malam diperkirakan sejauh 121,5 km. Dan sebagainya. Dalam jarak itu artinya orang yang bepergian diperkenankan melakukan qashar.

Qashar shalat (dari empat rakaat diringkas menjadi dua rakaat) merupakan keringanan dari Allah swt. lantaran melakukan bepergian (safar). Sedang bepergian lazimnya menjadikan orang capek, letih, dan lelah. Di saat itu dia diperkenankan menerima keringanan, mengqashar shalat, walaupun boleh-boleh saja, dia melakukan shalat secara sempurna, tidak melaksanakan keringanan itu, karena dia merasa misalnya perjalanan perginya tidak melelahkan.
Untuk ihwal menjamak shalat, ketentuannya lebih longgar dibanding dengan ketentuan mengqashar shalat.

Soal pertanyaan kedua (b), kaitannya dengan buka puasa dan shalat, mengikuti waktu manakah orang yang bepergian, agaknya setiap orang hanya menjalani satu waktu saja, yaitu waktu di mana ia berada dan mengetahuinya. Maka, waktu yang tengah dialaminya di mana ia berada itulah waktu yang dibuat ukuran. Secara mudah, kalau berada di Amerika, berarti ia memakai waktu Amerika, dan kalau berada di Jakarta, ia memakai waktu Jakarta.

Tentang pertanyaan kedua (c), hal ini sudah kami singgung di poin (a). Pada dasarnya, kalau jarak bepergian yang ditempuh memenuhi ukuran diperkenankannya qashar (baik bepergian di dalam negeri maupun ke luar negeri), maka tidak mengapa dilakukan qashar. Mengenai shalat mana yang didahulukan, bila telah masuk waktu Isya’ dan Anda mendahulukan shalat Maghrib disusul kemudian shalat Isya’, maknanya Anda melakukan tertib shalat. Sedang bila Anda mendahulukan shalat Isya’ baru kemudian shalat Maghrib, maknanya Anda “menghormati” waktu di mana shalat dilakukan. Jadi pada dasarnya kedua-duanya boleh. Tinggal pilih.

Berkaitan dengan pertanyaan ketiga, yaitu soal mengadakan acara ulang tahun dengan tiup lilin, potong kue, dan kasidahan. Acara ulang tahun pada dasarnya tidak ada nash yang jelas-jelas memerintahkan dan juga tidak ada nash yang jelas-jelas melarang. Sekarang mari diurai acara ini dari dalil-dali nash yang ada.
Usia merupakan karunia Allah swt. Semakin usia bertambah semakin banyak karunia Allah swt. yang kita terima, apakah itu kesehatan, kemampuan, kesempatan, kematangan fisik-mental, dan sebagainya. Hal ini patut untuk disyukuri. Bila acara ulang tahun dimaksudkan sebagai sarana untuk bersyukur kepada Allah swt. atas nikmat-nikmat-Nya, mengundang tetangga dan relasi untuk memberikan doa seraya memberikan jamuan, di samping untuk membuat segar suasana, agaknya tidak ada masalah. Suatu tradisi yang baik. Sekian banyak ayat-ayat Al-Qur’an menyeru kita mengungkapkan syukur kepada Allah swt.

Persoalannya adalah apakah eskpresi syukur yang dimanifestasikan dalam acara ulang tahun itu benar-benar sesuai dengan sikap mensyukuri nikmat yang diajarkan oleh syariat Islam? Apakah di dalam acara itu tidak ada kegiatan-kegiatan yang menjurus kepada kebatilan? Hal ini yang menjadi masalah. Bila ada pandangan mengadakan ulang tahun adalah suatu kewajiban ini adalah suatu kesalahan, karena syariat Islam ternyata tidak mewajibkannya. Bila ada acara tiup lilin, ini kayaknya menyerupai kalangan penyembah api. Bila tiup lilin dimaksudkan sebagai ungkapan mematikan marabahaya, ini termasuk bagian dari ungkapan tasyaum (merasa mendapatkan sial). Sementara tasyaum tidak dibenarkan oleh syariat Islam. Apakah dalam acara ulang tahun tidak ada pemborosan, ini juga persoalan. Sementara Islam mengajarkan menjauhi pemborosan.

Bila ada kebatilan dalam praktik mensyukuri nikmat jangan-jangan hal itu termasuk bagian dari sikap menukar nikmat Allah swt. dengan perilaku pembangkangan.
Sebaiknya acara ulang tahun itu dimodifikasi hingga tidak melanggar prinsip-prinsip syariat, misalnya dengan mengundang tetangga dan relasi, meminta doa dari mereka, serta menjamunya di samping menyegarkan suasana dengan hiburan-hiburan yang baik, tanpa banyak acara yang hanya bersifat seremonial, atau dengan mengundang kalangan dhuafa’, meminta doa, menjamunya, menggembirakanya, dan memberi bingkisan kepada mereka.

Usia di samping karunia hakikatnya adalah hujjah dari Allah swt. Bila usia tidak dipergunakan dengan sebaik-baiknya, ia adalah suatu kerawanan. Di sinilah perlunya kita mawas diri. Semakin bertambah usia seyogyanya semakin meningkat kewaspadaan diri kita, dengan menghindari hal-hal yang tidak berguna, memfokuskan kepada hal-hal yang bermanfaat dan berdimensi ketaatan kepada Allah swt. Wallahu a’lam bis shawab.

Feb 7, 2011

Kala Nurani Menginsafi dan Lidah Mengingkari

Q.S. An-Naml: 14

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَجَحَدُوْا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan mereka, padahal hati mereka meyakini kebenarannya.

Makna dan Penjelasan Ayat
Ayat ini berkaitan dengan kepribadian rezim Fir’aun. Fir’aun amat resah begitu juru ramal istana memprediksi akan ada bayi laki-laki Bani Israil kini yang akan menghancurkannya kelak. Keresahan itu lalu dilampiaskannya dengan membunuhi setiap bayi yang lahir laki-laki dari kalangan Bani Israil secara membabi-buta. Keresahan itu kemudian berubah menjadi kekesalan dan duka mendalam begitu dia sadar, bayi yang diramalkan itu bukan orang lain, melainkan anak angkatnya sendiri yang diasuhnya semenjak kecil, lebih dari 18 tahun.

Bayi itu adalah Nabi Musa as. Namun, Nabi Musa as kini bukanlah Musa as kecil, karena sekarang beliau telah diangkat menjadi nabi dan rasul. Dia diperintah menyeru ayah angkatnya yang super arogan hingga mengaku tuhan itu sadar dan kembali kepada tauhid, dengan hanya mengesakan Allah swt, di samping diutus kepada bangsa Egipt (Qibthi, Mesir) dan Bani Israil.

Untuk kepentingan misi itu Allah swt telah menyokongnya dengan mukjizat berupa tongkat yang bisa berubah menjadi seekor ular besar dan tangan dapat mengeluarkan cahaya putih terang benderang. Beliau mendemonstrasikan dua mukjizat itu di hadapan Fir’aun dan para pembesar istana demi memperkuat seruan tauhidnya. Mereka berdecak kagum menyaksikannya. Namun, sekadar itu. Karena lambang-lambang kebenaran yang jelas terpampang di hadapannya itu tidak membuatnya insaf, malah menjadikannya bertambah arogan dan durhaka.


Bentuk arogansi dan kedurhakaan itu Fir’aun menuduh keajaiban yang ditunjukkan Nabi Musa as sebagai sekadar sihir, sihir tingkat tinggi dan sempurna untuk mengusir rakyat dari negeri Egipt, negeri yang didiami Fir’an. Tuduhan ini adalah bentuk agitasi dan provokasi kepada rakyat untuk tetap menyudutkan duta Allah swt itu. Bentuk lainnya adalah usaha Fir’aun mengumpulkan pakar-pakar sihir sedunia untuk menandingi “sihir” Nabi Musa as.

Fir’aun lalu menyebarkan bala tentara, intel, dan bawahannya mencari dan mengundang pakar sihir dari seluruh dunia untuk mengalahkan Nabi Musa as di samping melalui brosur dan pamflet.

Konon saat itu menurut Ikrimah (tokoh tabiin) hadir dan terkumpul 70.000 pakar sihir. Menurut Kaab, sebanyak 12.000 pakar sihir. Sementara menurut Ibnu Ishaq, pakar sihir yang hadir dan berkumpul waktu itu sebanyak 15.000 orang dari berbagai belahan dunia. Disepakati waktu itu, bila mereka menang, Fir’aun akan memberikan upah yang sangat besar. Fir’aun menambahkan bila menang mereka akan mendapat posisi terhormat di istananya. Sebuah support yang amat besar demi memenangkan harga diri atas Nabi Musa as. Dan dari awal, para pakar sihir itu datang dengan kelewat percaya diri bahwa mereka pasti menang.

Ditetapkanlah hari pertunjukan besar itu di sebuah lapangan terbuka di Iskandaria. Bersama itu, para punggawa Fir’aun melakukan ekspos besar-besaran pertunjukan itu kepada rakyat agar mereka hadir menyaksikan kemenangan para pakar sihir atas Musa as. Rakyat pun sama berduyun-duyun menyaksikan pertunjukan besar itu.
Dengan amat congkak, para pakar sihir bilang: “Wahai Musa, kamu yang mulai melemparkan lebih dahulu atau kita?!” Nabi Musa as dengan rendah mengatakan: “Lemparkanlah lebih dahulu.” Puluhan bahkan ratusan ribu pakar sihir itu lalu sama melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka seraya membaca mantra seperti diabadikan Al-Qur’an:

وَقَالُوْا بِعِزَّةِ فِرْعَوْنَ إِنَّا لَنَحْنُ الْغَالِبُوْنَ
Mereka berkata: “Demi kekuasaan Fir’aun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang.” (Q.S. Asy-Syuaraa’: 44)

Kala dilemparkan, tali temali dan tongkat-tongkat itu menyulap mata orang yang menyaksikan. Ribuan bahkan ratusan ribu tali temali dan tongkat-tongkat itu tampak seakan-akan berubah menjadi ular-ular kecil yang banyak sekali. Namun sekadar ilusi bukan hakiki. Sekadar sulap. Tetapi itu cukup membuat decak kagum hadirin. Para pakar sihir itu benar-benar mendatangkan sihir yang menakjubkan.

Kini giliran Nabi Musa as di saat para pakar sihir telah merasa di atas angin. Beliau melemparkan tongkat mukjizatnya dan berubahlah tongkat itu menjadi seekor ular raksasa yang menghebohkan. Ular raksasa itu menelan ular-ular ilusi para pakar sihir satu per satu hingga habis dan hendak menelan juga manusia di sekitarnya. Ini lebih menakjubkan lagi. Hadirin ribut. Nabi Musa as lalu memberi isyarat dan kembalilah ia menjadi tongkat seperti sedia kala. Hadirin tiada henti-hentinya berdecak kagum. Keajaiban ini menjadi bibit-bibit keimanan yang bersemi pada diri Asiah, istri Fir’aun sendiri.

Ribuan bahkan ratusan ribu pakar sihir menyaksikan kenyataan itu terpana. Mereka yakin, yang ditunjukkan Musa as bukanlah sihir, karena mereka memahami seluk-beluk dan berbagai jenis sihir namun tidak mendapati sihir semacam yang ditunjukkan Musa as. Mereka yakin itu adalah mukjizat dari Allah swt. Maka insaflah mereka. Mereka sadar. Menyesal.

Keinsafan akal yang dipadu dengan fitrah tauhid menggerakkan 15.000 pakar sihir tersebut tersungkur bersujud kepada Allah swt di lapangan terbuka itu sekaligus mendeklarasikan keimanannya. Dinyatakan dalam Al-Qur’an:

قَالُوْا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ رَبِّ مُوْسَى وَهرُوْنَ
Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, Tuhan Musa dan Harun.” (Q.S. Al-A’raaf: 121-122)

Fir’aun murka dengan kekalahan memalukan ini. Tapi lebih murka lagi begitu disaksikan 15.000 pakar sihir yang didatangkannya justru beriman kepada Nabi Musa as, musuh besarnya, dan mendeklarasikan tauhid kepada Allah swt. Dia spontan keluar alasan untuk mendiskreditkan pakar sihir yang beriman itu. Katanya seraya geram: “Apakah kalian beriman kepadanya sebelum aku memberi izin? Sesungguhnya tragedi ini adalah muslihat yang kalian rencanakan bersama Musa di dalam kota ini untuk mengeluarkan penduduk darinya. Maka kamu akan mengetahui akibat perbuatan kalian ini.”

Fir’aun memutuskan para pakar sihir itu seluruhnya dipotong tangan dan kakinya secara bersilang untuk kemudian disalib di tiang gantungan. Keputusan berat dan kejam ini ternyata tidak menyurutkan keimanan mereka. Mereka tetap kokoh dengan tauhidnya. Mereka merespon keputusan itu dengan tabah dan tawakkal. “Silakan hukum kami; tidak ada kemudharatan bagi kami; sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali,” kata mereka. “Dan kamu tidak membalas dendam dengan menyiksa kami melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami,” lanjut mereka kepada Fir’aun.

Para pakar sihir kemudian tidak lagi menggubris Fir’aun dengan keputusannya. Mereka berkonsentrasi menghadapkan diri kepada Allah swt semoga dikaruniai kesabaran dan mati dalam keadaan muslim. Bagi mereka, inilah resiko keimanan di samping sebagai penebus dosa-dosa mereka sebelumnya. Doa mereka:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ
Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (muslim). (Q.S. Al-A’raaf: 126)

Inilah kisah keinsafan umat manusia yang luar biasa. Nurani fitrah yang dipadu dengan akal menumbuhkan rasa keimanan yang kokoh. Mereka rela dipotong tangan dan kakinya bersilang serta disalib demi mempertahankan nurani fitrahnya bertauhid kepada Allah swt. Berkaitan dengan keteguhan iman para pakar sihir ini, Qotadah (tokoh tabiin) berkata:

كَانُوْا فِى أَوَّلِ النَّهَارِ سَحَرَةً كَفَرَةً وَفِى آخِرِ النَّهَارِ شُهَدَاءَ بَرَرَةً
Mereka di pagi hari pakar sihir yang kafir, sementara di sore hari mereka syuhada yang mulia-mulia.

Sementara Fir’aun dan bala tentaranya, sebagaimana disebutkan oleh ayat tema di atas, tetap tidak beriman, karena fitrah tauhidnya tertutup oleh arogansi kekuasaan dan sikap kesewenang-wenangan.

Pelajaran dari Ayat
Dari sini umat manusia pada dasarnya mengakui hakikat kebenaran bahwa hakikat kebenaran itu adalah tauhid atau agama Islam. Iblis, Fir’aun, Abu Lahab, dan orang-orang kafir pun nurani mereka bahkan mengakui tauhid (Q.S. Al-Mu’minun: 84-89 dan Q.S. Al-Ankabuut: 61 dan 63). Namun atas dasar cara berpikir mereka yang keliru, ditambah arogansi dan kedengkian yang meluap-luap, mereka menentang suara hatinya sendiri. Dan untuk merevolusi hati nurani, mengalihkannya dari fitrah, tentulah dibutuhkan rekayasa yang luar biasa.
Maka berbahagialah umat manusia yang hati kecilnya menyadari hakikat kebenaran sementara lidahnya dapat mengekspresikan hakikat kebenaran itu dengan baik. Wallahu subhanahu wata’ala a’lam.

Jan 27, 2011

Makar Musuh-Musuh Islam Terus Berlangsung

وَاِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ اَوْ يَقْتُلُوكَ اَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ وَاِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُوا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَذَا اِنْ هَذَا اِلاَّ اَسَاطِيرُ اْلاَوَّلِينَ

"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: "Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala". (QS. Al Anfaal : 30-31)

Analisis Ayat
يَمْكُرُ بِكَ (memikirkan tipu daya terhadapmu) bentuk fi'il mudlari' atau kata kerja yang menunjukkan perbuatan sedang (hal) dan akan datang (istiqbal) memiliki fungsi makna penunjukan atas berlakunya perbuatan tersebut secara terus menerus. Dalam hal ini maksudnya adalah perbuatan orang-orang kafir dalam memikirkan tipu daya terhadap kaum muslimin untuk menangkap dan memenjarakan, membunuh, dan mengusir mereka tidak hanya terjadi antara kafir Quraisy dan pengikut Rosululloh saw. di kala itu saja. Sikap dan perbuatan mereka di dalam memusuhi kaum muslimin, siasat dan makar yang mereka lakukan akan terus berlangsung sampai kapanpun, sepanjang masa.

Makna dan Penjelasan Ayat
Makar adalah siasat atau rencana yang dilakukan secara terselubung untuk menyampaikan suatu akibat buruk, kecelakaan, keteraniayaan, atau penderitaan kepada seseorang yang dituju (al mamkur bihi) tanpa terduga sebelumnya.


Dalam ayat ini Alloh Swt. menyebutkan anugerah yang telah diberikan kepada Rosululloh saw. secara pribadi. Dimana Alloh Swt. telah mengingatkan Rosululloh saw. pada masa yang relatif singkat, di saat orang-orang kafir melakukan makar yang dilakukannya secara terselubung melalui beberapa insiden yang membahayakan diri beliau. Namun siasat dan rencana buruk mereka semuanya dapat digagalkan. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi tersebut sebenarnya merupakan penunjukan yang dilakukan Alloh Swt. kepada orang-orang kafir dan kaum muslimin di masa Nabi saw. dan masa sesudahnya sebagai argumen terkuat atas kebenaran dakwah yang dibawa oleh beliau, dan kebenaran janji Alloh untuk senantiasa memberi pertolongan kepadanya. Makar, siasat, atau rencana yang dilakukan orang-orang kafir terhadap kaum muslimin sepanjang masa hampir tidak terlepas dari tiga cara. (1) Memenjara dan mengisolir mereka dari berinteraksi dengan masyarakat luas. (2) Membunuh secara massal. (3) Mengeluarkan kaum muslimin dari negerinya. Hanya Alloh Swt. saja yang dapat menahan setiap rekayasa buruk mereka, rekayasa yang telah dilakukan terhadap Nabi saw. dan para sahabatnya, karena Dialah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Sedangkan rekayasa orang-orang kafir terhadap agama Islam dan kitab suci Al Qur'an adalah memberikan komentar bahwa. "kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini." Demikian mereka mengatakannya dengan kebodohan, pembangkangan, permusuhan, kedunguan, dan penuh kesombongan. Padahal dalam kenyataannya tidak ada satupun dari mereka yang mampu menandingi keindahan sastra dan bahasa yang terkandung di dalam Al Qur'an. Dahulu pernah muncul seorang yang mengaku nabi, Musailimah Al Kadzdzab dengan Al Qur'an tandingannya yang lucu, kekanak-kanakan, dan jauh dari pesan kebenaran. Di zaman ini muncul juga seperti Salman Rusydi dengan ayat-ayat syetannya yang menggemparkan, subjektif, penuh antagonisme, dan sinisme terhadap kesamaan hak asasi manusia.

Dari penjelasan ini kita disadarkan, bahwa bagi setiap aktivis Islam, pembela kemurnian ajrannya, penyelaras keteladanan yang dibawa Rosululloh saw. dalam berdakwah, bermujahadah membela kemuliaan Islam dan kaum muslimin akan selalu berhadapan dengan teror, mendapatkan tekanan, pemboikotan, pengucilan (terisolir), penculikan, penahanan, penyiksaan, bahkan sampai pada tingkat pembunuhan dan pembantaian yang dilakukan secara massal, dengan perang misalnya, bom nuklir, atau senjata pemusnah massa lainnya. Akan tetapi kita juga perlu menyimpan kuat ingatan, bahwa pembelaan Alloh Swt. dan pertolongan-Nya terus ada bersama kita.

Makar Musuh Islam Kini
Keberlangsungan makar yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap kaum muslimin terus bergulir dari masa ke masa. Dan ketika kita masih berpijak di abad ini, di saat banyak orang mendengungkan perdamaian, kesetaraan gender, kebebasan hak, dan persamaannya. Di tempat yang tak sama, di negeri yang berbeda, akan tetapi masih di bumi yang satu. Sebuah negara adidaya, Amerika Serikat, dan beberapa sekutunya sesama pecundang perang, melancarkan serangan terhadap kota Baghdad, Irak, negeri seribu satu malam. Dimana tersimpan di dalamnya sejarah-sejarah agung peradaban Islam, lahir di tanahnya juga ribuan sarjana muslim terkenal, dan yang tak pernah terlupakan, kekhilafahan Islam pernah berkuasa beberapa abad lamanya disana di bawah kedaulatan Dinasti Abbasiyah (133-656 H/750-1258 M) .
Tepat pada hari selasa, 18 Maret 2003 yang lalu. George W. Bush berbicara di depan publik, disiarkan oleh ratusan televisi, dan diberitakan oleh ribuan media pers, bahwa hari itu adalah dimulainya rencana penyerangan AS dan sekutu-sekutunya terhadap rezim yang berkuasa di bawah pemerintahan Saddam Husen secara khusus. Namun suatu kemustahilan bila peperangan ini nantinya tanpa sedikitpun mengenai rakyat Irak secara umum.

Terlepas bahwa Saddam Husen dan motor penggerak kekuasaannya, Partai Ba'ath, adalah rezim yang tidak terlalu bersimpati terhadap pergerakan Islam, sedangkan yang lebih terlihat disana adalah nilai nasionalisme kerakyatannya yang kuat. Namun dari jumlah penduduk diatas 20 juta yang menganut agama Islam (95,8%), Kristen dan Yahudi (3,5%), maka bagaimanapun republik di bagian barat daya Asia ini tetap merupakan negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Dan setiap kecemasan, ancaman penganiayaan, serta penderitaan mereka yang dilakukan oleh kekuatan musuh-musuh Islam adalah juga sama bagian dari keprihatinan kita, saudara seagamanya di negeri yang lain. Mungkin, bagi mereka nazilah ini merupakan fitnah yang menimpa akibat ulah orang-orang dzalim yang berkuasa. Alloh Swt. berfirman,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا اَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (QS. Al Anfaal : 25)

Dalam keprihatinan ini kita berharap doa kaum muslimin Irak yang didukung oleh doa kaum muslimin di seluruh dunia menjadi "batu" bagi tergelincirnya negara adidaya Amerika Serikat yang saat ini masih berdiri dengan kecongkakan, kebiadaban, dan kedunguannya dari kebenaran dan kemurnian agama Alloh Swt. yang hanif. Sehingga ketergelinciran itu berakibat pada jatuh ambruknya kekuasaan mereka di segala bidang. Baik secara politik, sosial, maupun ekonomi. Harapan ini semoga semakin menunjukkan kejelasan hasilnya dengan melihat reaksi buruk dunia internasional terhadap pemerintah Amerika, bahkan oleh rakyatnya sendiri. Gelombang kecaman atas ulah George W. Bush semakin besar, dan kita menginginkannya lebih besar lagi. Karena bagaimanapun juga doa orang-orang yang teraniaya adalah mustajabah (mudah terkabulkan). Alloh Swt. berfriman,

اَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ اْلاَرْضِ اَئِلَهٌ مَعَ اللهِ قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ

"Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)." (QS. An Naml : 62) Wallohu A'lam.

Jan 23, 2011

Antara Shuhbah dan Mahaabah

Shuhbah adalah pertemanan.
Sungguh telah menampak dengan jelas shuhbah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan para sahabat. Ini dibuktikan banyak hadits yang di antaranya:

1.Para sahabat tidak malu bertanya sebagaimana ketika Harits bin Hisyam bertanya bagaimana proses Beliau mendapat ilmu (menerima wahyu) yang kemudian dijawab oleh Beliau:
"Pada suatu ketika wahyu datang kepadaku laksana suara lonceng dan itulah yang terberat bagiku…"HR Bukhari.

2. Para sahabat berani mengajukan protes (Muroja'ah). Abu Qilabah berkata: Abu Musa al Asy'ari berkata: Aku bersama sekelompok orang dari Bani Asy'ar datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk meminta agar diangkut (bersama dalam rombongan). Beliau lalu bersabda: "Demi Allah, aku tidak akan mengangkut kalian karena tidak memiliki sesuatu (kendaraan) guna mengangkut kalian" Abu Musa melanjutkan: Kami diam beberapa lama dan kemudian didatangkanlah beberapa unta kepada Beliau. Dan ketika kami berangkat maka sebagian kami berkata kepada sebagian lain: "Kita telah menjadikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melupakan sumpah Beliau. kita tidak akan diberkahi." Abu Musa berkata: Kitapun kembali kepada Beliau dan mengatakan: "Sesungguhnya kami datang kepada anda untuk memohon agar diangkut. Sementara engkau telah bersumpah untuk tidak mengangkut kami tetapi kemudian kamipun diangkut" Beliau lalu bersabda: "Demi Allah, Insya Allah aku tidak bersumpah sesuatu kemudian melihat ada yang lebih baik kecuali aku melakukan yang lebih baik itu dan lalu aku melakukan upaya menghalalkan sumpahku (membayar kafarat) HR Muslim.



3. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bergurau dengan sahabat:

- Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bergurau dengan sahabatnya untuk menyenangkan mereka. Di antaranya adalah ketika seorang lelaki meminta kendaraan. Beliau lalu bersabda: “Aku akan membawamu di atas anak unta” lelaki itu berkata: Apa yang akan saya lakukan dengan anak unta? Beliau bersabda: “Bukankah unta tidak melahirkan kecuali unta? HR Turmudzi Abu Dawud.

Dan Beliau pernah bergurau dengan seorang lelaki badui bernama Zahir. Beliau bersabda: “Zahir adalah orang kampung sedang kita orang kota” HR Turmudzi

Dan Beliau shallallahu alaihi wasallam berlaku lemah lembut kepada anak-anak. Mengucapkan salam dan mengusap kepala mereka. Terkadang Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidullah dan anak-anak Abbas untuk berbaris. Kemudian Beliau bersabda: “Barang siapa yang lebih dahulu datang kepadaku maka baginya ini dan itu”. Anak-anak itupun bersegera datang kepada Beliau hingga ada yang menempel di punggung Beliau dan dada Beliau dan Beliau pun mencium mereka” HRAhmad.

Kendati demikian para sahabat tidak pernah kehilangan rasa ta'zhim kepada Nabi SAW:

Dari Usamah bin syurek disebutkan: Kami duduk di hadapan Nabi SAW seakan-akan di atas kepala kamu ada burung (hinggap) tidak seorangpun dari kami yang berkata hingga ada orang-orang datang dan bertanya kepada Beliau: "Siapakah para hamba yang paling dicintai Allah? Beliau bersabada: "Orang yang paling baik pekertinya"HR Thabarani.

Bahkan kewibawaan Rasulullah SAW menjadikan para sahabat (yang tinggal di Madinah) jarang sekali bertanya kepada Beliau. Ibnu Abbas ra berkata: "Semoga Allah mengasihi para sahabat Muhammad, mereka jarang sekali bertanya (meski banyak pertanyaan) kepada Nabi SAW. Hanya ada sekitar 12 pertanyaan yang semuanya disebutkan dalam Alqur'an. Karena itu kami para sahabat senang jika ada Badui datang kemudian bertanya kepada Beliau dan mereka pun mendapatkan faedah.

Kedekatan bukan berarti hilangnya ke Ta'zhiman: Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Bukan bagian dari kami orang yang tidak memuliakan orang tua, yang tidak mengasihi yang kecil dan tidak mengerti hak orang alim. HR Ahmad-Thabarani "Tempatkanlah manusia pada tempat mereka" HR Abu Dawud.

Lalu bagaimana mewujudkan shuhbah dan mahabah dalam diri kita? Seorang yang memahami arti ukhuwwah mudah baginya melahirkan shuhbah. Cukuplah Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang beriman adalah saudara maka damaikanlah di antara dua saudaramu"
Sementara Mahabah/ Haebah seseorang bisa terwujud dengan kuatnya Aqidah dalam dirinya serta adanya Muru'ah, sikap menjaga diri dari budi pekerti rendah.


والله يتولى الجميع برعايته