Jan 23, 2011

Antara Shuhbah dan Mahaabah

Shuhbah adalah pertemanan.
Sungguh telah menampak dengan jelas shuhbah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan para sahabat. Ini dibuktikan banyak hadits yang di antaranya:

1.Para sahabat tidak malu bertanya sebagaimana ketika Harits bin Hisyam bertanya bagaimana proses Beliau mendapat ilmu (menerima wahyu) yang kemudian dijawab oleh Beliau:
"Pada suatu ketika wahyu datang kepadaku laksana suara lonceng dan itulah yang terberat bagiku…"HR Bukhari.

2. Para sahabat berani mengajukan protes (Muroja'ah). Abu Qilabah berkata: Abu Musa al Asy'ari berkata: Aku bersama sekelompok orang dari Bani Asy'ar datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk meminta agar diangkut (bersama dalam rombongan). Beliau lalu bersabda: "Demi Allah, aku tidak akan mengangkut kalian karena tidak memiliki sesuatu (kendaraan) guna mengangkut kalian" Abu Musa melanjutkan: Kami diam beberapa lama dan kemudian didatangkanlah beberapa unta kepada Beliau. Dan ketika kami berangkat maka sebagian kami berkata kepada sebagian lain: "Kita telah menjadikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melupakan sumpah Beliau. kita tidak akan diberkahi." Abu Musa berkata: Kitapun kembali kepada Beliau dan mengatakan: "Sesungguhnya kami datang kepada anda untuk memohon agar diangkut. Sementara engkau telah bersumpah untuk tidak mengangkut kami tetapi kemudian kamipun diangkut" Beliau lalu bersabda: "Demi Allah, Insya Allah aku tidak bersumpah sesuatu kemudian melihat ada yang lebih baik kecuali aku melakukan yang lebih baik itu dan lalu aku melakukan upaya menghalalkan sumpahku (membayar kafarat) HR Muslim.



3. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bergurau dengan sahabat:

- Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bergurau dengan sahabatnya untuk menyenangkan mereka. Di antaranya adalah ketika seorang lelaki meminta kendaraan. Beliau lalu bersabda: “Aku akan membawamu di atas anak unta” lelaki itu berkata: Apa yang akan saya lakukan dengan anak unta? Beliau bersabda: “Bukankah unta tidak melahirkan kecuali unta? HR Turmudzi Abu Dawud.

Dan Beliau pernah bergurau dengan seorang lelaki badui bernama Zahir. Beliau bersabda: “Zahir adalah orang kampung sedang kita orang kota” HR Turmudzi

Dan Beliau shallallahu alaihi wasallam berlaku lemah lembut kepada anak-anak. Mengucapkan salam dan mengusap kepala mereka. Terkadang Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidullah dan anak-anak Abbas untuk berbaris. Kemudian Beliau bersabda: “Barang siapa yang lebih dahulu datang kepadaku maka baginya ini dan itu”. Anak-anak itupun bersegera datang kepada Beliau hingga ada yang menempel di punggung Beliau dan dada Beliau dan Beliau pun mencium mereka” HRAhmad.

Kendati demikian para sahabat tidak pernah kehilangan rasa ta'zhim kepada Nabi SAW:

Dari Usamah bin syurek disebutkan: Kami duduk di hadapan Nabi SAW seakan-akan di atas kepala kamu ada burung (hinggap) tidak seorangpun dari kami yang berkata hingga ada orang-orang datang dan bertanya kepada Beliau: "Siapakah para hamba yang paling dicintai Allah? Beliau bersabada: "Orang yang paling baik pekertinya"HR Thabarani.

Bahkan kewibawaan Rasulullah SAW menjadikan para sahabat (yang tinggal di Madinah) jarang sekali bertanya kepada Beliau. Ibnu Abbas ra berkata: "Semoga Allah mengasihi para sahabat Muhammad, mereka jarang sekali bertanya (meski banyak pertanyaan) kepada Nabi SAW. Hanya ada sekitar 12 pertanyaan yang semuanya disebutkan dalam Alqur'an. Karena itu kami para sahabat senang jika ada Badui datang kemudian bertanya kepada Beliau dan mereka pun mendapatkan faedah.

Kedekatan bukan berarti hilangnya ke Ta'zhiman: Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Bukan bagian dari kami orang yang tidak memuliakan orang tua, yang tidak mengasihi yang kecil dan tidak mengerti hak orang alim. HR Ahmad-Thabarani "Tempatkanlah manusia pada tempat mereka" HR Abu Dawud.

Lalu bagaimana mewujudkan shuhbah dan mahabah dalam diri kita? Seorang yang memahami arti ukhuwwah mudah baginya melahirkan shuhbah. Cukuplah Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang beriman adalah saudara maka damaikanlah di antara dua saudaramu"
Sementara Mahabah/ Haebah seseorang bisa terwujud dengan kuatnya Aqidah dalam dirinya serta adanya Muru'ah, sikap menjaga diri dari budi pekerti rendah.


والله يتولى الجميع برعايته

Jan 14, 2011

Kata dan Prilaku Syirik Seorang Pemeran

Pertanyaan:

Apakah dapat dikatakan murtad atau musyrik seseorang yang melakukan pemujaan terhadap berhala atau tidak mengakui Alloh dalam sebuah peran drama maupun sejenisnya?

Abdul Aziz, Lamongan

Jawaban:


Seorang yang melakukan tindak ke, syirik, an dengan ucapan atau perbuatan karena terpaksa tidak bisa disebut sebagai seorang musyrik atau kafir, Allah berfirman: “…kecuali orang yang dipaksa sedang hatinya tetap teguh dengan iman…”QS an Nahl: 106. Ayat ini bermula dari kasus yang dialami oleh Amar bin Yasir ketika orang kafir memaksanya agar mencela Nabi Saw dan memuji berhala. Karena terpaksa dan sudah tak kuasa menahan derita maka Ammar menuruti paksaan mereka. Mendapat kabar bahwa Ammar telah kafir, Rosululloh Saw membantah: “Tidak, diri Amar penuh dengan iman dari kepala hingga kakinya, imannya telah melekat dengan daging dan darahnya”. Amar datang kepada Rosul Saw dan mengadu: Celaka, wahai Rosululloh, saya telah mencela anda dan memuji tuhan – tuhan mereka! Nabi Saw bertanya: Bagaimana dengan hatimu? Ammar menjawab: Teguh dengan keimanan. Nabi Saw lalu mengusap kedua mata Ammar, dan Beliau Saw pun bersabda: “Jika mereka kembali memaksamu maka ulangilah ucapanmu kepada mereka!”.


Dari ayat ini para ulama sepakat bahwa siapapun yang dipaksa melakukan kekafiran maka boleh baginya menuruti paksaan tersebut selama hatinya masih setia dengan keimanan. Kendati demikian lebih utama jika dia menolak meski harus menebus penolakan tersebut dengan nyawa seperti yang dilakukan oleh kedua orang tua Ammar yaitu Yasir dan Sumayyah. Imam al Qurthubi seperti juga dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah berkata: Ketika Alloh memaafkan dan tidak memberikan siksaan akan pengingkaran (kufur) terhadapNya ketika dalam keadaan terpaksa, maka para ulama juga memasukkan seluruh cabang syariat dalam prinsip ini. Jadi bila terjadi pemaksaan maka sama sekali tidak ada hukum seperti juga dijelaskan dalam sabda Nabi Saw: “Dihilangkan dari umatku kesalahan, kealpaan dan apa yang dipaksakan atas mereka” HR Ibnul Mundzir.

Termasuk dipaksa kafir adalah dipaksa zina, karena itu jika ada seorang wanita dipaksa berzina maka sama sekali tidak ada hukuman baginya. Pernah pada masa Rasulullah Saw ada seorang wanita yang dipaksa berzina hingga Beliau membebaskan wanita itu dari jerat hukuman. Pada era Umar ra juga demikian, seorang wanita datang dan melaporkan bahwa dirinya meminta air minum kepada seorang penggembala, tetapi penggembala itu menolak kecuali bila wanita itu mau melayani nafsu bejatnya. Karena terpaksa maka wanita itupun tidak bisa menolak. Mendengar laporan ini, Umar bertanya kepada Ali: Bagaimana pendapat anda tentang wanita ini? Ali menjawab: Dia memang terpaksa. Akhirnya Umar memberikan sesuatu (hadiah) dan membiarkan wanita tersebut.

Selain “Terpaksa” ada juga suatu sebab yang menjadikan hukum tidak bisa menyentuh suatu perbuatan, sebab itu adalah al Laghwu. “Alloh tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak disengaja (oleh hatimu)…”QS al Baqarah: 225. Pendapat yang paling masyhur tentang makna al Laghwu adalah ucapan yang terpeleset keluar dari lisan atau sama sekali tidak disengaja. Dalam kasus ini sama sekali tidak ada dosa atau resiko apapun. Dari Abu Huroiroh bahwa Rosululloh Saw bersabda: “Barang siapa yang bersumpah dan mengatakan dalam sumpahnya, Demi Laat dan Uzzaa maka hendaknya dia mengucapkan Tiada Tuhan selain Alloh”Muttafaq Alaihi.

Dalam kasus pemeran sebuah Film atau Drama, asal yang mengucapkan hatinya tetap teguh dengan iman serta melaksanakan semua itu semata terpaksa karena tuntutan sebuah peran atau mengikuti alur cerita maka tidak menjadi masalah, “ … tetapi barang siapa yang terpaksa , sedang dia tidak menginginkan dan juga tidak melampaui batas maka tidak ada dosa baginya…”QS al Baqarah: 173.

Jan 1, 2011

Pelajaran dari Al Hijrah An Nabawiyyah

Tausiyah Abina K.H.M. Ihya' Ulumiddin
Bulan Muharram 1432H / Januari 2011


Alloh tabâraka wata’âla berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Alloh, mereka itu mengharapkan rahmat Alloh, dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Al Baqarah: 218.

Hijrah Nabawiyyah mengukirkan manhaj yang jelas bagi dakwah Islam sekaligus meletakkan pondasi kokoh yang seyogyanya dijadikan pijakan oleh seorang juru dakwah. Hal yang dimaksud adalah:
1. Amal yang ikhlas, jujur dan benar.
2. Menerbitkan Amal.
3. Tanzhim dan Tansiq (manajemen yang rapi).
4. Kehati-hatian yang semestinya.
5. Memusatkan pikiran untuk menyatukan kemauan dan menguatkan tekad.

Di mana amal tersebut sama sekali tidak terkait dengan kekuatan gaib ataupun bantuan Alloh seperti apa yang terjadi dalam peristiwa Isra’ Mi’raj meski yang menyertai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perjalanan hijrah adalah yang bersama beliau juga dalam perjalanan Isro’ Mi’raj yaitu penghulu malaikat, Jibril alaihissalam.

Jadi hijrah nabawiyyah memberikan isyarat penetapan undang-undang alam di hadapan manusia tentang at tajribah wat tathîq (pengalaman dan praktek) sebagaimana dalam firman Alloh “Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah dilaksanakannya. Dan bahwasannya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya).” QS. An Najm: 39-40.

Dan kehendak Alloh telah menjadikan perumpamaan hijrah ini sebagai bukti paling nyata dari hal tersebut.

Maka sebagai buahnya Alloh mengembalikan lagi kepada mereka tanah air (yang sempat hilang) sekaligus memberikan anugerah kepada mereka banyak negeri-negeri lain melalui penaklukan-penaklukan Islam serta menghantarkan mereka ke seluruh belahan negeri.

Seperti pula sunnah Alloh dalam makhluk-Nya telah mengumumkan melalui pengalaman dan praktek ini di hadapan pendengaran generasi-generasi (penerus) bahwa keterikatan dengan iman dan ketundukan diri kepada suluk Islam adalah modal terbaik guna mencapai dan meraih keberhasilan-keberhasilan secara materi sebagaimana dikatakan dalam hikmah, “Barangsiapa memperbaiki urusan akhiratnya niscaya Alloh memperbaiki untuknya urusan dunianya.”

Inilah contoh paling jelas bagi ketetapan Alloh yang menyatakan, “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” Al Qashash: 5.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa…”QS. An Nûr: 55.

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya…”
QS. Yunus: 26

Berikut sungguh wajib bagi kita memahami Islam bukan semata berkonsentrasi pada ritual atau ibadah-ibadah yang dijalankan oleh individu-individu. Sebaliknya Islam merupakan sistem (manhaj) yang saling menyempurnakan untuk cara bagaimana berinteraksi dengan alam dan kehidupan. Jika tidak demikian maka bagaimana mungkin bisa terwujud di tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu anhum sekian banyak pencapaian-pencapaian kemajuan dunia?

Rahmat Alloh semoga menaungi Ibnu Atho’illah As Sakandari yang mengatakan, “Amalan-amalan (tidak lebih hanya) bentuk-bentuk yang berwujud. Sementara nyawanya adalah rahasia ikhlas di dalamnya.” “Jenis-jenis amalan beraneka ragam mengikuti ragam keadaan-keadaan yang datang dari Alloh (sebagai mauhibah).”

Jadi amalan-amalan beraneka ragam sejalan dengan kemampuan-kemampuan manusia, mauhibah mereka serta apa yang diciptakan Alloh dalam diri mereka dan membuat mereka mampu memfokuskan diri untuknya.

=والله يتولى الجميع برعايته=


Versi Audio Stream:



Download:
http://www.4shared.com/audio/Xw1FYe5f/TausiyahJan2011.html

Dec 24, 2010

Shalat Isyraq

Pertanyaan:

Ustadz Pengasuh Fas’alu yang senantiasa berbahagia. Langsung saja ke pertanyaan, adakah yang namanya shalat Isyraq yang dilakukan saat matahari terbit itu? Kalau ada, bagaimana ketentuannya se¬hingga saya dapat mengamalkannya. Atas jawaban Ustadz, sebelumnya terima kasih.


Mardliyah, di bumi Allah Baureno, Bojonegoro, Jatim

Jawaban:

Saat matahari terbit memang ada larangan untuk melakukan shalat sunnah. Ini memang maklum agar tidak menyerupai para penyembah matahari. Namun, saat matahari terbit itu boleh melaku¬kan shalat Isyraq, istilahnya dengan ketentuan-ketentuan yang membedakannya dari shalat-shalat sunnah pada umumnya. Ketentuan pertama, tidak beranjak dari tempat dia melakukan shalat shubuh. Kedua, shalat Shubuhnya dilakukan dengan berjamaah. Ketiga, jeda waktu antara sehabis shalat Shubuh dengan terbit matahari dimanfaatkan untuk berdzikir. Jika memenuhi tiga ketentuan ini maka dianjurkan melakukan shalat Isyraq yang pahalanya laksana pahala haji dan umrah secara sempurna. Ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:

Barangsiapa shalat shubuh berjamaah lalu duduk berdzikir kepada Allah sehingga terbit matahari, kemudian melakukan shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, yang sempurna, yang sempurna, yang sempurna. (Diulangi tiga kali).

(Hadits Hasan Gharib dan diriwayatkan oleh At Tirmidzi. Lihat Syarful Ummah Al Muhammadiyah, karya Sayyid Muhammad ‘Alawi Al Maliki, hal. 90 dan Tuhfatul Ahwadzi, komen¬tarnya Sunan At Tirmidzi, jilid II hal. 472. Hadits ini menunjuk¬kan keutamaan tetap berada di musholla sehabis sholat Shubuh untuk berdzikir).[]

Dec 18, 2010

Dec 16, 2010

Tiga Golongan dan Tanggungjawab Hidup di Masyarakat

Seri: Tafsir Tematik
Q.S. Al A’raaf: 164-165


Alloh subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya:


Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati golongan yang Alloh akan membinasakan mereka atau mengadzab mereka dengan adzab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa (takut dan menghentikan perbuatan buruknya).
Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan yang jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang dzalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.


Analisis Ayat

(ma’dziratan) artinya sama dengan kata udzur (dalih) yaitu lepas tanggung jawab dari dosa.

(yattaqun) maknanya agar mereka bertaqwa. Taqwa di sini berarti tumbuhnya rasa takut atas perbuatan buruk yang dilakukan. Atas dasar rasa takut, perbuatan buruk itu dihentikan.

Makna Ayat
Hari Sabtu bagi bangsa Yahudi adalah hari mulia sebagaimana kedudukan hari Jum’at bagi ummat Islam dan hari Ahad bagi ummat Nasrani. Pada hari yang mulia itu ditetapkan agar Bani Israil menghabiskannya untuk konsentrasi pengabdian kepada Alloh swt. Hari Sabtu ibaratnya sebagai hari ibadah. Namun bangsa Yahudi yang tinggal di kota Eilah (terletak di pantai Laut Merah antara kota Madyan dan bukit Thur) melanggar kemuliaan hari itu secara terang-terangan. Demi materi, mereka meninggalkan aktivitas ibadah, berpindah pergi ke laut mencari ikan, karena justru pada hari Sabtu ini ikan-ikan bermunculan, banyak dan mudah didapatkan. Sedang pada hari-hari lainnya ikan-ikan seperti tidak tampak dan untuk mendapat-kannya dibutuhkan kerja keras. Seakan-akan kehadiran ikan-ikan itu dijadikan tes bagi keteguhan iman mereka.

Dari kejadian ini penduduk kota Eilah ter-bagi menjadi tiga golongan. Pertama, golongan yang melakukan pelanggaran dengan keluar mencari ikan ke laut terang-terangan. Mereka mendahulukan mengejar materi daripada melaksanakan aktivitas ibadah. Kedua, golo-ngan yang memberikan saran dan kritikan keras terhadap para pelaku pelanggaran tersebut. Di-sarankan dan dinasehati agar orang-orang yang pergi mencari ikan pada hari Sabtu itu mengingat kembali larangan Tuhan. Tidak henti-hentinya aktivitas dakwah ini mereka lakukan. ketiga, orang-orang yang diam. Mereka tidak turut pergi mencari ikan dan tidak pula turut memberikan saran dan nasehat.


Golongan ketiga seperti ditegaskan pada ayat pertama melontarkan pertanyaan terhadap golongan kedua: “Ada apa kalian memberikan nasehat pada golongan yang sudah pasti akan diadzab oleh Alloh swt akibat pelanggaran-nya?” Golongan kedua menjawab: “Kami melakukan ini agar kami memiliki dalih kelak ketika ditanya mengapa diam terhadap kemunkaran? Dengan aktivitas nahi munkar ini kami bisa berlepas dari tanggung jawab. Di samping dengan nasehat itu mudah-mudahan mereka teringat dan menghentikan kemunkarannya,” jawab golongan kedua.

Sikap yang ditunjukkan oleh golongan kedua merupakan bentuk tanggung jawab hidup di masyarakat. Manakala kemungkaran kelihatan di depan mata mestinya harus ada sekelompok orang yang mencegahnya. Kemungkaran itu tidak boleh dibiarkan begitu saja berlangsung dan merajalela. Tetapi harus dihentikan. Paling tidak harus diminimalisasi. Ini adalah tanggungjawab bersama baik orang alim maupun orang awam terutama orang-orang yang hidupnya dihabiskan untuk mengemban misi utama para Nabi itu. Aktivitas dakwah amar makruf nahi munkar ini merupakan prinsip utama dari ajaran Islam. Alloh swt berfirman yang artinya:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolo-ngan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran: 104)

Sabda Rasulullah saw: yang artinya

Demi Dzat yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya. Kalian mesti beramar makruf dan nahi mungkar atau kalau tidak maka Allah hampir saja menimpakan kepadamu siksa lalu kamu berdoa kemudian tidak dikabulkan-Nya. (HR Tirmidzi dari Hudzaifah Ibnul Yaman)

Atau setidak-tidaknya, kita memilih diam dengan tetap mencela kemungkaran yang ada di dalam hati. Tidak sekali-kali terbersit dalam jiwa kehendak untuk justru turut melakukan kemunkaran. Bukan diam yang berarti setuju dan mendukung (ridla) atas kemungkaran itu. Namun diam karena kemampuan diri terbatas sedang kekuatan atau power tidak dimiliki. Akan tetapi sikap semacam ini tidak ideal. Idealnya justru apa pun yang terjadi kita berteriak keras terhadap suatu kemungkaran seperti yang selalu dilakukan oleh sahabat Abu Dzar Al Ghifari. Bisa dibayangkan bagaimana bila seluruh komponen masyarakat memilih diam daripada bersuara. Siapa yang bertanggung jawab terhadap menjamurnya kemunkaran? Tetapi sikap diam tetap ditoleransi dalam batas-batasnya sebagai suatu rukshoh (keringanan) dari Allah swt meskipun sikap itu bukti dari kelemahan iman. Dalam hadits disebutkan yang artinya:

Barangsiapa melihat kemungkaran maka hendaklah dia mengubah dengan tangannya. Barangsiapa tidak mampu, maka hendaklah dengan lisannya. Dan bila tidak mampu, maka hendaklah dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman. (HR Muslim dari Abu Said Al Khudri)

Rasulullah saw menggambarkan kepedulian hidup bersama dalam sebuah haditsnya demi-kian. Orang yang menjauhi larangan Allah dan orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang berundi tempat di kapal. Sebagian mereka mendapatkan undian di dek atas dan sebagian yang lain di dek bawah. Orang-orang di dek bawah jika memerlukan air harus melewati dek atas. Mereka lalu berkata: “Lebih baik kami melubangi saja di bagian bawah kami ini, agar tidak mengganggu orang-orang di dek atas.” Maka jika ulah orang-orang tersebut dibiarkan, tidak ada yang peduli, pasti isi perahu binasa semua (tenggelam). Tetapi kalau ulah itu dicegah, niscaya selamatlah isi perahu seluruhnya. (H.R. Bukhari)

Pada ayat selanjutnya diterangkan balasan dan akibat dari sikap masing-masing golongan yang dipilihnya. Golongan yang selalu membe-rikan nasehat untuk menghentikan kemungkaran diselamatkan oleh Alloh swt dari siksa. Adapun golongan yang berbuat kemungkaran dan enggan menghentikan kemungkarannya meski telah dinasehati, mereka mendapatkan adzab atas kedzalimannya. Adzab akhirat rasanya sudah barang tentu (pasti), malah bisa ditambah dengan adzab segera di dunia. Penduduk Eilah ini misalnya akibat pelanggarannya fisik mereka berubah secara tiba-tiba menjadi fisik kera. Dalam tiga hari kemudian mereka sama mati karena rasa duka yang mendalam atas perubahan wujud dirinya yang sangat buruk dan menyeramkan.

Hal yang terpenting dalam hal ini ialah melaksanakan amanah sebagai seorang muslim untuk berdakwah; beramar makruf nahi mun-kar. Untuk soal tabligh kita apakah diterima atau ditolak itu bukan lagi urusan kita. Biarlah itu menjadi tanggung jawab sasaran dakwah (mad’u) bersamaan dengan hidayah atau khidzlan yang diberikan oleh Alloh swt kepada mereka sesuai dengan respon mereka. Dalam mutiara hikmah dikatakan:

Barangsiapa telah memberikan peringatan maka benar-benar ia telah lepas dari tang-gung jawab (memiliki dalih).

Allah swt berfirman yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk (dengan mendakwahi mereka). Hanya kepada Alloh kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. Al Maidah: 105)

Bagaimana dengan golongan yang memilih sikap diam? Ulama ahli tafsir berbeda pendapat. Pertama, golongan yang bersikap diam ini tetap disiksa karena teks ayat hanya menyebutkan golongan yang mau berdakwah yang diselamatkan. Kedua, golongan yang diam ini selamat karena mereka ingkar dan mencela kemunkaran meski dalam hatinya. Mereka tidak memberi-kan nasehat karena dengan kondisi pembangkangan sedemikian rupa, nasehat diyakini akan menjadi percuma, tak berarti dan sia-sia, bahkan malah matri dakwah bisa jadi bahan cemoohan. Sementara mereka memilih metode kalem daripada garis keras karena diyakininya jalan masih panjang.

Dari sini kalau diam dalam arti tidak mem-punyai sikap, masa bodoh, mendukung kemunkaran diam-diam, dan malah mencela da’i yang bersuara lantang, maka diam adalah sikap mental jelek dan akibatnya akan disiksa. Adapun kalau diam setelah berusaha keras menghentikan kemungkaran, maka sikap ini bisa ditoleransi mengingat kemampuan setiap orang tidak sama. Ini merupakan perwujudan dari kelonggaran beban dakwah. Dakwah tidak harus dengan jalan kekerasan, namun mengingat jalan masih panjang bisa dengan cara halus dan bertahap dalam batas-batas tertentu.

Adanya tiga golongan seperti tercermin dari masyarakat Bani Israil yang tinggal di kota Eilah adalah kondisi yang akan terjadi pada setiap masa kapan pun dan di mana pun. Akan ada orang-orang yang bergelimang dosa. Ada orang-orang yang memberikan nasehat. Dan ada orang-orang yang bersikap diam. Dengan menelusuri akibat buruk yang ditimpakan kepada masing-masing golongan, maka idealnya kita bertindak sebagai orang-orang yang turut andil dalam tabligh dan dakwah amar makruf nahi munkar. Paling tidak kita mencela dengan hati kita. Sikap yang harus dihindari ialah justru turut mendukung apalagi mempelopori kemungkaran. Inilah tanggung jawah hidup bersama di masyarakat. Kecuali bila kita menyodorkan diri bersama-sama untuk mendapatkan adzab yang keras dari Allah swt. Dalam hadits disebutkan yang artinya

Sesungguhnya orang banyak bila melihat orang dzalim (bereaksi) lalu mereka tidak menghentikannya, maka hampir saja Allah meratakan adzab pada mereka semua. (HR Tirmidzi dan Nasa’i dari Abu Bakar Ash Shiddiq).[]

Dec 11, 2010

Al Wasathiyyah Manhaj Rabbani

Tausiah Bulan Desember 2010
Tempat: Surabaya: Sentra Dakwah Persyadha Ketintang
Malang: PP. Nurul Haromain Pujon

Waspadalah fitnah-fitnah laksana penggalan-penggalan malam gelap gulita yang tidak bisa dihindarkan dalam seluruh lintasan-lintasan masa. Bahkan telah terjadi dalam sebaik-baik masa. Ini karena Allah telah menyatakan: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya....“ QS. al Mulk: 2.

Aksi terbaik agar selamat dari fitnah tersebut adalah manhaj al wasath (sikap mengambil jalan tengah) yang merupakan manhaj umat ini seperti diisyaratkan dalam firman Allah: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan...“ QS. al Baqarah:143.

Jadi tidak ketimuran juga tidak kebaratan, tidak kebangetan juga tidak kepengkuan, tidak terlalu juga tidak teledor, tidak bersuara keras juga tidak bersuara pelan, tidak berfoya-foya juga tidak mengirit, tidak menggenggam tangan (pelit) juga tidak membentangkannya (blobo), tidak mendito (menjauh dari wanita) juga tidak bergaul bebas dengan wanita, tidak eksklusif juga tidak inklusif dan tidak ini juga tidak itu.

Akan tetapi kita meniti jalan tengah di antara kesemuanya.
Sesungguhnya kedermawanan berada pada posisi di antara foya-foya dan pelit, keberanian di antara ketakutan dan tindakan ngawur, sikap bijak di antara sikap kasar dan acuh tak acuh, senyuman di antara raut wajah cemberut dan gelak tawa, sabar di antara sikap keras dan mengeluh.

Kelas menengah dalam ekonomi adalah yang terbaik. Bukan kekayaan yang memunculkan keangkuhan. Bukan kemiskinan yang melupakan. Akan tetapi sesuatu yang mencukupi, melegakan dan mencukupi keinginan. Sungguh dikatakan: “Ambil dari cinta sesuatu yang jernih. Dan dari penghidupan sesuatu yang mencukupi!”

Inilah jalan hidup (manhaj) tengah-tengah dan keseimbangan dalam menjalani urusan-urusan sebagaimana diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Bermadyalah, bermadyalah maka kalian akan menggapai tujuan...” HR. Bukhari. “Tetapilah oleh kalian petunjuk jalan tengah-tengah” HR. Ahmad. .”Sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah” HR. Ibnu Sam’ani.

=والله يتولى الجميع برعايته=

Versi Audio: