May 17, 2020

Ketakwaan Membuahkan Kemuliaan.


يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَآمَنُوْا إِنْ تَتَّقُوْا اللهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ ذُوْ الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Alloh, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Alloh mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Anfaal:29)

 Makna dan Penjelasan Ayat

Al-Qur’an menjelaskan bahwa Alloh Swt. akan menganugerahkan kepada orang-orang yang beriman bakat furqaan bila mereka bertakwa kepada-Nya dengan makna takwa yang sebenarnya. Takwa yang bermakna menjaga diri dari siksa Alloh Swt., tidak mendurhakai-Nya dengan tindakan maksiat dan melaksanakan perintah-Nya. Dengan takwa seseorang akan mengendalikan dorongan emosinya dan penguasaan kecenderungan hawa nafsunya, yang berarti ia memenuhi dorongan-dorongan itu dalam batas yang diperkenankan oleh ajaran agama. Selain itu terkandung perintah kepada manusia agar ia melakukan tindakan yang baik, berlaku benar, adil, memegang amanat, dapat dipercaya, dapat menyesuaikan diri dan bergaul dengan orang lain, dan menghindari permusuhan serta berlaku aniaya.

Furqaan adalah bakat perwatakan manusia yang dengannya ia dapat mengetahui dan membedakan antara hak dan batil, memilah antara petunjuk dan kesesatan, serta yang manfaat dan yang mudlarat. Dengannya pula ia dapat menghapuskan noda-noda dosa dari jiwa, membersihkannya, dan menjaga jiwa agar tidak kembali terkotori olehnya. Alloh Swt. dengan sifat Maha Pengasih dan Penyayang telah menganugerahkan nikmat tersebut kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Karunia tersebut diberikan sebagai fadlol dan ihsan dari Alloh Swt. tanpa perantara dan perwakilan oleh siapapun. Itulah cahaya ilmu pengetahuan yang setiap pencarinya tidak akan menemukan kecuali dengan takwa. Itulah hikmah yang telah disebutkan-Nya dalam Al-Qur’an.

وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُو الأَلْبَابِ

“Dan barangsiapa yang dianugerahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Alloh).” (QS. Al Baqarah:169)  

 

            Dari ketakwaan itu kemudian berbuahlah bakat perwatakan furqaan yang pemiliknya dapat membedakan sesuatu dengan sumber kesadaran ilmu, hikmah, dan amal perbuatannya. Hidup orang yang bertakwa diberkahi dengan kemuliaan, dan kemuliaan hasil dari ketakwaan.

 

Pengertian Kemuliaan

            Kemuliaan yang dalam bahasa Arab disebut dengan al ‘izzah bermakna al syarof wa al man’ah (kemuliaan dan kekuatan). Kemuliaan merupakan hasil dari sebuah proses yang bertahap dan berkesinambungan. Demikian halnya dengan ‘izzu al Islam wa al muslimin (kemuliaan dan kekuatan Islam dan kaum muslimin) bukanlah suatu hal yang mudah diraih. Semudah orang mengatakannya, semudah orang membolak-balikkan lidah dan nama itu sudah terucapkan. Namun ‘izzu al Islam wa al muslimin sebagai kata kerja merupakan proses panjang dan berkesinambungan yang memerlukan banyak tahapan dan kesepakatan. Alloh Swt. telah berfirman,“Padahal kekuatan itu hanya bagi Alloh, bagi Rosul-Nya dan bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al Munaafiquun:8)

            Dari pengertian ini kita hendaknya sepakat, menyatukan persepsi, yang semula mungkin tidak seluruhnya sama, tentang apa dan bagaimana ‘izzu al Islam wa al muslimin. Bahwa kemuliaan dan kekuatan itu hanyalah bagi Alloh Swt., bagi Rosululloh saw. dan kaum muslimin. Maka kembalikanlah makna kemuliaan dan kekuatan itu juga pada ajaran Alloh Swt. yang disampaikan melalui Rosu-Nya dan menjadi prinsip yang dipegang teguh oleh kaum muslimin.

 

Manhaj Individu dan Masyarakat

            Langkah awal kenabian adalah dakwah yang menyentuh manhaj (metode) pembinaan individu. Dimana baginda Nabi saw. memulai mendakwahkan ajarannya kepada istri, keponakan, sahabat karib, dan kemudian kepada beberapa sanak keluarga serta sahabat beliau yang lain. Ketika setiap individu dengan kelengkapan hidup yang meliputi raga, ras, rasio dan rukun tersebut mulai bergerak ke satu titik, membentuk pola pikir dan prilaku yang sama sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam (tawhid al fikroh), Maka rukun atau hidup sosial yang dilakukan dengan sesama individu secara harmonis, damai dan saling melengkapi (al shuhbah) itupun berjalan sebagai fungsi perangkat (al tathbiq) yang dapat mempengaruhi individu lain untuk membentuk suatu kelompok sosial dengan harapan dan tujuan (al hadf) yang telah menyesuaikan diri dalam norma dan tata nilai kelompok tersebut (tatsqif al jama’ah). Disinilah kemudian terbangunnya masyarakat Islam yang memiliki kemuliaan dan kekuatan mempesona.  

Prinsip-prinsip ajaran yang dibawa oleh Rosululloh saw. tak lepas dari tiga hal sebagaimana telah dijelaskan Al Qur’an,“Sungguh Alloh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Alloh mengutus diantara mereka seorang Rosul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Alloh, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatanag Rosul) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imron : 164)

Abdulloh bin ‘Abbas ra., bercerita, ketika suatu hari ia berada di belakang Nabi saw. bersama para sahabat yang lain, beliau bersabda, “Wahai anak muda, aku hendak mengajarimu beberapa kata; jagalah Alloh, makaDia akan menjagamu; jagalah Alloh, maka kamu akan menjumpai-Nya memberi jalan terang padamu; jika ingin meminta (sesuatu), mintalah kepada Alloh; dan jika ingin memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Alloh…” (HR. Tirmidzi)

Kata demi kata, pelan dan mantap disampaikan oleh Nabi saw. sebagai nasihat. Bila kita mengikatnya menjadi suatu keyakinan, pengertian, dan kesadaran diri, maka ini akan menjadi aqidah yang kokoh tersimpan di balik dada seorang muslim.

Ketika aqidah dijalani dengan baik, teratur, sebagaimana sabda Nabi saw., “ihfadhilllaha yahfadhka,” (jagalah Alloh, maka Dia akan menjagamu), menjaga segala perintah Alloh, larangan-Nya, dan batasan-batasan serta setiap hak-Nya. Maka sebenarnya kita telah melaksanakan syariat-Nya.

Menjaga segala perintah artinya melaksanakan segala perintah Alloh dan Rosul-Nya, seperti sholat yang lima waktu, puasa di bulan Romadlon, membayar zakat, berhaji ke baitulloh, dan lain sebagainya. Menjaga segala larangan artinya menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh Alloh dan Rosul-Nya, seperti kufur, membunuh, berzina, mencuri, berjudi, dan seterusnya. Siapa yang mampu menjalaninya dengan penuh keyakinan dan kesungguhan, maka Alloh Swt. membanggakan dan memuji, serta menempatkannya sebagai golongan awwabin (orang-orang yang selalu kembali kepada Alloh) dan hafidzin (orang-orang yang selalu memelihara syariat). Dimana isinilah letak keimanan itu berada.

Dengan bahasa pendekatan tersebut, hubungan interpersonal yang terbangun dalam satu kebersamaan akan lebih berfungsi sebagai model peranan. Selanjutnya, dengan model itu setiap orang harus melakukan perannya sesuai dengan pola dasar pembinaan (mabda’ al tau’iyah) yang menjadi norma dan tata nilai bagi sebuah masyarakat idaman. Hubungan interpersonal yang dipraktekkan Nabi saw. bersama para sahabat dapat berkembang baik, karena setiap individu di masa yang penuh keteladanan itu bertindak sesuai dengan ekspedisi peranan dan tuntutan peranan, memiliki keterampilan peranan dan terhindar dari konflik peranan serta kerancuan peranan. Kita tahu, begitu tepat dan bijaknya Rosululloh saw. di dalam memberi setiap pesan perintah kepada para sahabat sesuai dengan karakter individu yang dimiliki mereka. Hubungan interpersonal yang terbangun tidak bersifat statis dan kaku, tetapi selalu berubah, dinamis dan penuh kreatifitas. Dipelihara dan diperteguh dengan perubahan (al tajdid) yang memberikan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan (al ta’adul). Ada empat faktor yang amat penting dalam memelihara keseimbangan itu. Pertama keakraban (al tawadud), kedua kontrol (al ta’awun), ketiga respons yang tepat (al talathuf), dan keempat nada emosional yang tepat (al tarahum). Dari keselarasan yang dihasilkan empat faktor tersebut, setiap konflik yang muncul akan diselesaikan dengan baik dan bijaksana, tanpa harus mengalahkan kepentingan bersama, apalagi sampai memutus rasa persaudaraan sesama muslim.

            Dengan ‘aqidah yang membangun kesatuan pemikiran (tawhid al fikroh), pembinaan umatpun dimulai. Sejak awal umat telah dikenalkan kepada Alloh Swt. dan ditanamkan pula kebenaran syariat Islam sebagai satu-satunya ajaran yang layak untuk dipergunakan. Berangkat dari ‘aqidah yang menancap kuat (‘aqidah rosikhoh) inilah akan muncul kemudian pribadi-pribdai yang tangguh, yang bertingkah laku sesuai dengan akhlak Islam, dan dihiasi dengan tutur kata yang baik serta amal saleh sebagai hasil dari bentuk pembinaan tazkiyah. Kemudian dari dua pembinaan tersebut disempurnakan lagi dengan sistem pembinaan yang ketiga, yaitu tsaqofah. Pembinaan yang menambah wawasan keilmuan dalam upaya pengejewantahan Islam totalitas (kaffah) sesuai manhaj Al Kitab dan As Sunnah. Mengajarkan isi kandungannya sebagai disiplin ilmu, baik keagamaan maupun iptek, seperti tafsir, hadits, ushul fiqhi, bahasa (lughoh), ekonomi (iqtishodi), politik (siyasah) dan lain sebagainya.         

Kemuliaan dan kekuatan yang kita cita-citakan bukanlah dinilai dari sisi besarnya jumlah (kuantitas) semata, atau dari sisi kekuatan dan kestabilan ekonomi saja. Namun kemulian dan kekuatan Islam yang menjadi milik kaum muslimin itu ‘dilahirkan’ dari sekian banyak ‘keringat’ yang berbentuk ikhtiar melalui perkataan-perkataan baik dan amal saleh. Maka pendidikan yang berorientasikan pembinaan terhadap generasi-generasi berikut (takwin al rijal) dengan mengedepankan hasil terbaik (kualitas) merupakan kunci dari pintu bangunan Islam nan mulia ini. Jangan sampai kita memahaminya dari manhaj selain Al Kitab dan As Sunnah, karena kebenaran yang diperoleh darinya masih akan menjadi tanda tanya besar di balik dada kita. Alloh Swt. berfirman, “Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Alloh.” (QS. An Nisaa’:139). []

 


May 13, 2020

Pemahaman Ikhlash dari Madrasah Ramadhan


بسم الله الرحمن الرحيم

Pemahaman Ikhlash

dari Madrasah Ramadhan

 

Firman Allah ta’alaa: “agar kalian bertaqwa” di akhir ayat tentang kewajiban puasa (QS al Baqarah:183) memberikan gambaran kepada kita bahwa puasa adalah madrasah taqwa. Setiap madrasah memiliki manhaj dan tentunya setiap manhaj memiliki landasan. Adalah sesuatu yang sudah dimaklumi bahwa taqwa adalah manhaj kehidupan untuk meraih keridhoan Allah ta’alaa.

 

Taqwa mempunyai landasan yaitu Ikhlash seperti difirmankan Allah: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama....“QS al Bayyinah:5, dan merupakan hal yang menjadikan setan berputus asa dari menyesatkan orang-orang yang ikhlash seperti difirmankan Allah: “Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka"QS al Hijr:39-40.

Dan dari sudut pandang bahwa puasa –seperti diriwayatkan- sebagai pintu ibadah yang menjadikan orang yang sedang berpuasa merasa ringan menjalankan ibadah-ibadah yang lain seperti shalat, zakat, haji dll karena puasa terasa lebih berat bagi nafsu dan lebih terkait dengan penjernihannya, maka Rasulullah Saw menekankan tentang Ihklash dalam puasa dengan sabda beliau: “Barang siapa berpuasa ramadhan karena iman dan mencari pahala dari Allah maka diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Ahmad Bukhari Muslim dan Imam empat. Ini shahih). Imam al Khathib al Baghdadi menambahkan riwayat: “...dan dosa-dosa yang akan berlaku”, tetapi ini (dha’if)[1].

Bahasa karena iman memberikan isyarat  kewajiban ikhlash dalam beramal karena Allah, yakni bermaksud mendekatkan diri kepada Allah, mengagungkan perintahNya[2] dan memenuhi seruanNya[3] karena Dialah satu-satunya Dzat Pemberi anugerah[4]. Sebaliknya adalah nifaq.

Bahasa Ihtisab atau mencari pahala dari Allah  memberikan isyarat keharusan ikhlash dalam mencari pahala dari Allah, yaitu keinginan mendapatkan manfaat akhirat dengan amal kebaikan. Sebaliknya adalah riya’ atau pamer, yaitu keinginan memperoleh manfaat dunia dengan amalan akhirat. Baik berharap secara langsung dari Allah atau dari manusia. Jadi ikhlash ada dua sebagaimana disebutkan.

 

Kemudian Rasulullah Saw menjelaskan janji Allah terkait balasan ikhlash yang terdorong oleh puasa dengan firman Allah dalam hadits qudsi: “Seluruh amal anak Adam adalah miliknya kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa itu milikKu dan Aku akan memberikan balasannya” (Diriwayatkan oleh al Khamsah/lima perowi hadits).

 

Ungkapan ini (  وأنا أجزي به ) menunjukkan kiranya tiada balasan yang lebih baik daripada balasan Allah kepada hambaNya yang berpuasa. Karena inilah dikatakan: “Barang siapa yang ikhlash karena Allah maka pasti menampak berkah jejak langkahnya”.

Memang demikian halnya, akan tetapi ikhlash sudah pasti memerlukan dalil (bukti) berupa senantiasa mau berkorban dalam segala jenis amalan disertai totalitas sabar, mushabarah, murabathah, ketabahan, ridho dengan pembagian dan kepastian sekaligus sekuat tenaga menjaga diri dari sepuluh hal:

 

1.                  Nifaq,  : Sebaliknya beramal karena Allah

2.        Riya’         : Sebaliknya Ikhlash mencari pahala

3.         Takhlith/Mencampur aduk : Sebaliknya Taqwa

4.        al Mann/Mengungkit-ungkit :

 Sebaliknya menyerahkan amal kepada Allah

5.        al Adzaa/Menyakiti :

 Sebaliknya membentengi   amal

6.        An Nadamah/Menyesali :

Sebaliknya meneguhkan hati

7.        al Ujub/Rumongso :

Sebaliknya mengingat anugerah hanya kepada Allah

8.     al Hasrah/Nelongso:

Sebaliknya mencari kebaikan

9.    At Tahawun/Meremehkan :

Sebaliknya mengagungkan taufiq

10.              Takut dicela manusia :

 Sebaliknya takut kepada Allah

 

Buah ikhlash adalah kelanggengan dan kesinambungan amal sebagai berkah penjagaan dan perawatan dari Allah sebagaimana dikatakan: “Segala sesuatu karena Allah pasti langgeng dan bersambung. Dan segala sesuatu yang bukan karena Allah maka akan terputus dan terpisah”. Allah berfirman: “...Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”QS Ar Ra’d:17.

 

Begitulah madrasah ramadhan yang memberikan bimbingan agar seluruh amalan kita, metode dan jalan yang ditempuh, berdiri di atas landasan ini. Inilah roh ketaqwaan yang menjadi syarat diterimanya ketaatan.Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa”QS al Maidah:27.

 

 

 

 

Ramadhan telah datang. Selamat atas kedatangannya

Sungguh beruntung orang yang berharap keberuntungan dan mengejarnya

Ramadhan madrasah petunjuk, ketaqwaan

dan kemuliaan. Segala kebaikan bisa didapatkan

Ya Allah, selamatkanlah kami untuk ramadhan dan selamatkanlah ramadhan untuk kami. Serahkanlah ia pada kami dengan diterima (sebagai amal sholeh). Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berpuasa dan menjalankan hak-haknya.

Walhamdu Lillaahi rabbil aalamiin

والله يتولى الجميع برعايته==

 

Referensi;

 

  1. Dzikroyaat wa Munaasabaat. Abuya As Sayyid al Walid
  2. Bustanul Waa’izhiin wa riyaadhussaami’in. Imam Ibnul Jauzi
  3. Raudhatuth thalibin wa umdatussalikin. Imam Ghazali.

 



[1] Al Jami’ As Shaghir 2/174

[2] QS al Hajj:32

[3] QS al Anfaal:24

[4] QS Yunus:58


Mar 7, 2017

Lemah Lembut




Keutamaan Shohabat Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Al-Khotthob

"Beliau memiliki sifat halus (lemah-lembut) yang di dalamnya terdapat kekuatan"

Salah satu sifat yang ditemukan dalam diri Sayyidina Abu Bakar. Seorang shohabat Rosul yang dikenal sebagai orang yang paling menjaga sunnah-sunnah Rosul. Seorang istimewa yang "persahabatannya" dengan Rosululloh Alloh firmankan dalam Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 40,

"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Alloh telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Alloh beserta kita"."

Dalam riwayat Imam Bukhori, disebutkan bahwa Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
"(beliau bermimpi) Ketika aku berada di sebuah sumur menarik ember, tiba-tiba Abu Bakar dan Umar datang, kemudian Abu Bakar menarik seember atau dua ember dan dalam tarikannya terdapat kelemahan, Alloh pun mengampuninya. Kemudian Umar bin Khotthob mengambil ember dari tangan Abu Bakar, tiba-tiba embernya berubah menjadi besar, tidak pernah aku melihat seorang kuat yang beramal gigih seperti kegigihannya, sehingga orang banyak yang bisa minum dengan puas dan mereka bisa membuat kandang untuk unta (yang banyak)"

Para ulama ahli hadits, menjelaskan bahwa hadits tentang mimpi Rosululloh tersebut merupakan sebuah isyarat akan datangnya kepemimpinan Islam yang dipimpin Sayyidina Abu Bakar setelah kewafatan beliau, dan dalam kepemimpinannya terdapat kelemahan. Maksud dari kelemahan tersebut, bukanlah kelemahan pribadi beliau (Abu Bakar), namun lebih pada keadaan yang terjadi pada kaum Muslimin saat itu yang banyak murtad dan menentang ajaran Islam.

Hingga bisa kita dapati dalam sejarah Islam, bahwa di masa kepemimpinan Sayyidina Abu Bakar, beliau banyak memerangi kaum murtaddin yang merongrong dan merusak pemerintahan Islam saat itu.

Kemudian Sayyidina Umar bin Khottob mengambil ember dari tangan Sayyidina Abu Bakar, hal tersebut diisyaratkan bahwa setelah masa kepemimpinan Sayyidina Abu Bakar, maka Sayyidina Umar akan naik menggantikan posisi beliau dalam memimpin kaum Muslimin. Adapun maksud dari kalimat Rosul yang berbunyi, "tiba-tiba embernya berubah menjadi besar..." mengisyaratkan bahwa dalam kepemimpinan Sayyidina Umar, Islam menjadi mulia dan mengalami banyak perkembangan dan futuhat di berbagai tempat. Penyebaran Islam mengalami kemajuan pesat, dan kekuatan serta kesejahteraan kaum Muslimin pada masa itu mengalami puncak keemasaannya.

Inilah maksud dan penjelasan para ulama' terkait dengan hadits yang disabdakan oleh Rosululloh.Dan sebagaimana kita telah ketahui akan sejarah yang tertulis, bahwa mimpi yang dialami oleh Rosululloh tersebut benar-benar terjadi dan terealisasi di masa berikutnya.

Cukuplah jikalau kita menjadikan profil shohabat-shohabat dekat Rosululloh sebagai teladan dalam kehidupan keseharian kita. Entah itu teladan dalam membina rumah tangga, dalam hidup bermasyarakat, dalam kepemimpinan umat, bahkan dalam melakukan pembelaan pada Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam.

Sebagaimana sebuah pembelaan Sayyidina Abu Bakar terhadap Rosululloh yang diriwayatkan pula oleh Imam Bukhori dalam sebuah haditsnya. Dimana saat Rosululloh tengah sholat, dengan sebuah selendang yang beliau lilitkan di leher, tiba-tiba Uqbah bin Mu'ith datang dan menarik selendang beliau dengan keras hingga mencekiknya.

Melihat hal tersebut, Sayyidina Abu Bakar datang melindungi Rosululloh dengan penuh keberanian dan berkata, "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhanku ialah Alloh, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu"." (Surat Ghofir ayat 28)

Dan dalam kepemimpinan umat, dimana kita ketahui dalam berbagai tulisan ahli sejarah, bahwa Khulafaur-Rosyidin, para shohabat terkemuka yang memimpin umat Muslim setelah kewafatan Rosululloh telah memberikan sebuah contoh kepemimpinan yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang setelahnya. Kepemimpinan sejati yang penuh dengan ketulusan, mengesampingkan kepentingan pribadi demi menjaga amanah yang dibebankan dan demi memajukan agama dan ajaran yang dicintai, dijadikan pedoman dalam setiap langkah hidupnya.

Mudah-mudahan kita bisa menjadikan beliau semua (shohabat dekat Rosul) sebagai teladan dan panduan bagi perjalanan kehidupan kita di dunia yang fana dan penuh akan ujian dan godaan. Dengan harapan, kita bisa bertemu dan berkumpul dengan beliau semua di surgaNya kelak. Amiin

Ringkasan Taklim Kitab Shohih Bukhori, 8 Maret 2017.


Oct 5, 2016

Betapa Indahnya Surga

#TaklimShahihMuslim

Seorang sahabat Nabi, Abu Hurairah pernah bilang: “Ya Rasulullah, Dikala kami bersama engkau, tiada yang kami rasakan kecuali hati kami merasa lembut, zuhud dengan dunia, dan kami merasa sebagai ahli akhirat. Lalu ketika kami keluar meninggalkan engkau lantas kami bergaul dengan istri kami, menciumi anak-anak kami, kami ingkar dengan diri kami sendiri."

Lantas Rasulullah menjawab: ”Jika kalian dikala keluar meninggalkanku kondisi kalian seperti ketika bersamaku, maka malaikat akan menziarahi rumahmu. Jika kalian tiada berbuat dosa, Allah ta'ala akan mendatangkan makhluk baru agar mereka melakukan dosa lalu Allah mengampuninya.”

Abu Hurairah bertanya lagi: “Ya Rasulallah, dari apa makhluk diciptakan?”

“Dari air”, jawab Nabi

“Kalau surga itu dibangun dari apa?”

“Batu bata dari perak, batu bata dari emas, semennya dari misik terwangi, kerikilnya dari mutiara dan yaqut, debunya dari za'faron, sesiapa yang memasuki akan merasakan kenikmatan tiada diazab, terus hidup tiada mati, pakaiannya tiada kusam, masa muda tiada pernah sirna.”

Lantas Rasulullah melanjutkan, “Tiga orang yang tiada ditolak doanya: Imam yang adil, seorang yang berpuasa dikala berbuka, dan doa orang yang teraniaya terangkat menembus langit, baginya dibuka pintu-pintu langit. Allah berfirman: Demi kemulyaanku, Aku sungguh akan benar-benar menolongmu meskipun nanti. (Tirmidzi: 2526)

Dalam hadits di atas, Rasulullah mengilustrasikan keindahan kondisi surga. Sebuah ilustrasi yang tentunya hanya bisa dibayangkan dengan amat terbatas. Sebab keindahan itu adalah keindahan yang kedua mata tak pernah melihat dan menyaksikan, telinga belum pernah mendengar, dan tak pernah sama sekali terbersit di hati.

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa, di Surga ada sebuah Pohon, menurut Ibnul Jauzi pohon yang dimaksud adalah pohon Thuba (طوبى). Sebuah pohon yang besar dan tinggi menjulang. Seorang pengendara kuda yang lihai dan dengan kecepatan maksimal ketika berjalan di naungannya meski menghabiskan waktu selama 100 tahun, ia tiada akan berhasil menempuhnya. (Lihat Tirmidzi: 2524)

Menurut Nabi itulah yang di maksud dengan “wazhillin mamdud” naungan yang terbentang, dalam surat Al Waqiah.

وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِين ٢٧
27. dan golongan kanan, Alangkah bahagianya golongan kanan itu.

فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ ٢٨
28. berada di antara pohon bidara yang tak berduri,

وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ ٢٩
29. dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya,

وَظِلٍّ مَمْدُودٍ ٣٠
30. dan naungan yang terbentang luas,

وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ ٣٢
32. dan buah-buahan yang banyak,

لا مَقْطُوعَةٍ وَلا مَمْنُوعَةٍ ٣٣
33. yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya.

وَفُرُشٍ مَرْفُوعَةٍ ٣٤
34. dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.

إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً ٣٥
35. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka Bidadari-bidadari dengan langsung (tanpa melalui kelahiran dan langsung menjadi gadis).

فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا ٣٦
36. dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.

عُرُبًا أَتْرَابًا ٣٧
37. penuh cinta lagi sebaya umurnya.

لأصْحَابِ الْيَمِينِ ٣٨
38. kami ciptakan mereka untuk golongan kanan,

Secara prinsip bahwa masing-masing penghuni Surga mendapatkan luas wilayah tidak kurang dari luas kabupaten. Sebab lebar surga layaknya langit dan bumi.

Sementara di lain kesempatan para penghuni Surga bisa juga berekreasi. Di pohon besar itulah mereka akan berekreasi. Disana disediakan hiburan yang demikian menggiurkan. Jika ada yang ingin mendengarkan alunan musik. Allah ta'ala akan mengirimkan angin untuk menyenandungkan nada-nada indah hasil paduan suara dengan pohon-pohon disana. Pohon-pohon yang batang-batangnya terbuat dari emas murni.

Kenikmatan-kenikmatan yang menggiurkan itu, tentu saja seperti yang disabdakan Nabi, dalam meraihnya ketika didunia, semua itu dipenuhi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Huffat bil makarih. Dikelilingi dengan sekian hal yang tidak menyenangkan.

Semoga Allah memberi kekuatan kita untuk terus berusaha meraih surga dengan terus menjalankan ketaatan meski banyak hal yang tak menyenangkan hadir mengusik kehidupan kita. Amin.

Wallahu ta'ala a'lam.

(Diresume oleh: Ust Sabieq)

Oct 3, 2016

Doa Seorang Guru Dambaan Setiap Santri

Syabib Ibn Al Ghorqodah berkata: Aku mendengar banyak orang dari Bani al Bariqy menceritakan, dari Urwah bin al Ja'd al Bariqy, seorang Qodhi perdana di negeri Kufah. Bahwa Rasulullah memberinya satu dinar, agar ia membelikan seekor kambing untuk beliau. Maka ia pun membelikan dua ekor kambing untuk beliau. Lalu ia berinisiatif untuk menjual salah satu kambing itu dengan harga satu dinar. Sehingga ia datang menemui Rasulullah dengan membawa seekor kambing dan plus uang satu dinar. Tersebab merasa senang dengan apa yang ia kerjakan, Rasulullah seketika mendoakan keberkahan dalam jual belinya. Dan konon setelah itu, jika ia semisal menjual debu saja, ia pasti akan mendapatkan laba. 3642
Bagaimana kita melihat seorang Urwah mendapatkan doa Rasulullah tanpa meminta terlebih dahulu. Dan kemudian ia merasakan betapa memang doakan keberkahan beliau benar-benar diijabah oleh Allah. Dalam satu kesempatan, Urwah pernah bercerita, “Aku masuk pasar Kufah untuk berdagang, maka aku mendapatkan laba 40.000 dirham.” Padahal pada waktu itu uang 8 dirham sudah sangat cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Maka sebagai seorang santri, kita harus berusaha menyuguhkan khidmah terbaik sehingga bisa membuat guru atau orang yang kita khidmahi merasa senang. Munculkan ide-ide cemerlang yang bisa membuat senang. Dan jangan hanya menunggu perintah.
Abi Ihya’ ketika masih menjadi santri, di kala Abuya al Maliki di Thoif, Abuya ingin untuk qodlil hajah. Maka beliau bergegas mengecek WC terlebih dahulu, ternyata WC yang ada dipenuhi dengan kotoran. Tanpa pikir panjang beliau langsung membersihkannya memakai tangan. Selepas selesai, ternyata Abuya tahu tentang apa yang dikerjakan santrinya itu. Sehingga beliau langsung mendoakan: “Barokallohu fik, Barokallohu fik, barokallohu fik.”
Seharusnya seseorang dikala mendapatkan hal yang menyenangkan dari orang lain, ia menyambutnya dengan mendoakan orang itu dengan kebaikan. Barokallohu fik.
Selain itu, doa adalah sebuah hal yang selayaknya dimintakan kepada seorang shalih. Sebab hanya doa sebuah hal yang paling layak dan pas untuk dimintakan kepada mereka. Meski barangkali mereka menawarkan kepada kita untuk meminta kebutuhan apa saja. Akan tetapi doa mereka lebih penting untuk kita mintakan daripada harta benda atau yang lainnya.
Abi Ihya’ memiliki tugas khidmah menjaga telefon dari Abuya disetiap malam sabtu di kantor As-Shofwah Surabaya. Di setiap akhir percakapan dengan Abuya, Abuya pasti menawarkan kepada Abi: “Isy lak hajah?”, “Kau pengin apa?”. Dan disetiap itu pula Abi selalu menjawab: “Ad-da'awat Abuya”, “Cukup doa Abuya”.
Sayyidina Anas juga mendapatkan doa Rasulullah yang berupa tiga hal, panjang umur, keberkahan rizqi, dan banyak anak. Dan lihat ia diberi umur panjang lebih dari seratus tahun, rizqi yang ia dapat dari ladang sukses besar bahkan bisa dipanen lebih banyak dari kebanyakan orang, dan anak turunnya beliau lebih dari 500 anak cucu.
Dalam hadits di atas. Urwah memang menjual sebuah kambing yang bukan miliknya. Akan tetapi karena tujuannya tiada lain adalah untuk menyenangkan Rasulullah, menurut Qoul Qadim hal ini diperbolehkan. Namun menurut Qoul jadid hal ini tidak diperbolehkan sebab ada hadits Hakim bin Hazm yang menyatakan: “La tabi' ma laisa ‘indak!”, Jangan kau jual apa yang bukan milikmu.
Imam Rifa'i seorang Penggagas Thoriqoh Rifaiyyah pernah menghidupkan tanah tak bertuan (Ihya' al Mawat) di Mesir. Sehingga tempat itu menjadi ramai dengan kegiatan keagamaan. Di suatu hari ia didatangi seorang yang mengaku sebagai pemilik tanah. Tanpa pikir lagi, beliau langsung mempersilahkan orang itu jika ingin mengambil alih kepemilikan tempat tersebut.
Hal ini memberikan pelajaran yang teramat besar. Jika suatu saat ada hak yang kita miliki dirampas oleh orang, kita harus belajar untuk bersikap legawa. Yakinkan dalam diri bahwa Allah akan mendatangkan sebuah ganti yang lebih besar dan agung untuk kita. Sebuah hal yang mudah sekali diucapkan, tidak demikian dalam ranah pengamalan.
Wallahu ta'ala a'lam.

(Peresume: Ust. Shabieq)

Al Ayman Fal Ayman


#NgajiShohihMuslim

Dikala kita sedang bersama hendak menikmati minuman, ada sebuah hal yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Sebuah cara yang akan menciptakan kebersamaan yang demikian indah, bahkan sampai pada tingkat “ngalap barokah”.

Caranya yakni dengan memutarkan minuman itu kepada orang ke arah kanan. Meskipun ada orang yang lebih tua di sisi kirinya. Hal ini juga amat berkaitan dengan kesunnahan mendahulukan segala hal yang baik dengan memakai anggota bagian kanan (tayamun).

ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ، ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺗﻲ ﺑﻠﺒﻦ ﻗﺪ ﺷﻴﺐ ﺑﻤﺎء، ﻭﻋﻦ ﻳﻤﻴﻨﻪ ﺃﻋﺮاﺑﻲ، ﻭﻋﻦ ﻳﺴﺎﺭﻩ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ، ﻓﺸﺮﺏ ﺛﻢ ﺃﻋﻄﻰ اﻷﻋﺮاﺑﻲ، ﻭﻗﺎﻝ: «اﻷﻳﻤﻦ ﻓﺎﻷﻳﻤﻦ»

Dari Anas bin Malik, bahwa sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberi susu yang telah dicampur dengan air. Di sisi kanan beliau ada seorang A'roby, sementara di sisi kiri beliau adalah Abu Bakar. Beliaupun meminumnya lantas memberikannya kepada A'roby, dan bersabda: “Sisi kanan (lebih berhak) lalu sisi kanannya lagi.” 124 - (2029)

Di hadits yang lain disebutkan bahwa: Sayyidina Anas pernah bercerita: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, saat itu usiaku 10 tahun, dan Nabi meninggal dunia saat aku berusia 20 tahun. Bahwa ibu-ibuku mendorong aku untuk berkhidmah kepada Rasulullah. Maka suatu saat Rasulullah berkunjung ke rumahku. Maka aku memerahkan susu kambing untuk beliau. Lantas dicampurlah susu itu dengan air sumur di rumah. Rasulullah pun lalu meminumnya. Sayyidina Umar berkata kepada beliau sementara Abu Bakar berada di sisi kiri beliau: “Rasulullah, berilah Abu Bakar”. Maka Beliau justru memberikannya kepada seorang A'roby yang berada di sisi kanan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Sisi kanan (lebih berhak) lalu sisi kanannya lagi.” 125 - (2029)

Ada hadits yang lain yang sampai menyebutkan bahwa: Suatu saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diberi minuman, lantas beliau meminumnya, di sisi kanan Nabi ada seorang anak kecil, dan disisi kiri ada orang-orang tua. Maka beliau bersabda kepada anak kecil itu: “Apakah kau kasih izin supaya aku memberi mereka?”. Anak kecil itu menjawab: “Tidak demi Allah, aku takkan mendahulukan orang lain dengan jatahku yang dari engkau.” Maka Rasulullah pun menurunkan minuman itu pada tangan anak kecil tadi. 127 - (2030)

Memang demikian adanya bahwa Rasulullah mendahulukan A'roby daripada Abu Bakar sebab beliau hendak berusaha menghargai dan “ngewongno” A'roby. Juga mengharuskan Rasulullah meminta izin terlebih dahulu kepada anak kecil barangkali ia mau mendahulukan orang-orang tua meski ternyata ia tidak mau. Tentu saja, pada prinsipnya sebetulnya mendahulukan orang lain dalam urusan selain ibadah adalah hal yang lebih utama.

Kadang ada saja seseorang yang menganggap jijik dengan hal semacam ini. Padahal ada hadits yang menyebutkan bahwa sisa seorang mukmin adalah obat. Su'rul Mukmin syifa'. Meski hadits ini dloif akan tetapi seharusnya bisa dijadikan sebuah motivasi dalam hal ini. Jangan meniru seseorang yang justru bangga ketika ia suatu saat memesan sekian ragam makanan lantas ia tidak menghabiskannya.

Terlebih bahwa makan dan minum bersama mempunyai efek dan fungsi yang luar biasa bagi tumbuhnya kebersamaan, pertautan hati yang kuat, dan cinta.

“Al-Muthoamah tuqi'u al Ulfah wal Mahabbah fil Qulub”. Saling memberi makanan menyebabkan pertautan hati dan kecintaan di hati.

Demikianlah salah satu bentuk kesunahan ringan yang seharusnya terus kita lestarikan. Jangan menganggap tidak penting apalagi sampai meremehkan. Sebab Syetan juga amat hobi menghembuskan godaannya kepada seseorang agar ia suka meremehkan sebuah hal yang kecil.

Wallahu ta'ala a'lam.

(Diresume oleh: Ust Sabiq)

Oct 1, 2016

Bacaan “Amin “ Bersama


Pertanyaan:

Belakangan ini ada sebagian kelompok Islam yang mengklaim sebagai penerus generasi salaf, akan tetapi ada banyak hal aneh dari mereka yang berbeda dengan kebiasaan yang sudah berlaku di kalangan kaum muslimin dunia khususnya Indonesia. Di antara keanehan kelompok tersebut adalah tidak mau membaca “Amin “ bersama - sama untuk mengamini do’a salah seorang ustadz atau kiyai. Menurut mereka, kebiasaan tersebut tidak ada dalil dan tidak pernah pula diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Menurut Pak Kiyai, apakah benar pendapat mereka tersebut?

Haryono, Batu Malang 

Jawaban:

Klaim bahwa bacaan “ Amin “ bersama - sama tidak ada dalilnya adalah salah. Sebab dalil - dalil terkait dengan ini banyak sekali. Di antaranya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang artinya:


“Sebuah kelompok tidak berkumpul lalu sebagian berdo’a dan sebagian lain mengamini kecuali Allah pasti mengabulkan mereka “ HR Hakim.

Hadits ini secara jelas menegaskan bahwa pembaca  “Amin “, orang yang mengamini do’a orang lain dianggap ikut serta bedo’a dan berharap dari Allah Swt yang berarti ia juga berhak mendapatkan apa yang didapatkan oleh orang yang berdo’a.

Sungguh memasyarakatkan bacaan “Amin “ dalam setiap kesempatan - selain dalam shalat - adalah upaya menunjukkan identitas dan nilai lebih ajaran Islam disamping juga membuat musuh - musuh Islam gigit jari karena iri dan dengki seperti diriwayatkan oleh Sayyidatuna Aisyah ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya:

“Yahudi tidak iri kepada kalian seperti mereka iri akan (ucapan) Salam dan (bacaan) Amin “ HR Ibnu Majah–Ibnu Khuzaimah.