Feb 14, 2012
Feb 6, 2012
Membanggakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam Berkonsekwensi Menyenangkannya
Tausiyah Vol XIV Edisi 148
Ahad, 5 February 2012 / 12 Rabiul Awwal 1433
حَامِدًا ِللهِ وَمُصَلِّـيًا عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ
Seperti diketahui bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dilahirkan pada bulan Rabiul Awwal, hari senin tanggal dua belas.Terkait hari dan bulan maka sudah disepakati oleh mayoritas ulama kaum muslimin. Adapun tanggal maka ada pendapat tanggal delapan dan ada pula yang mengatakan tanggal sepuluh.
Terlepas dari hal ini, ada hal yang lebih penting untuk direnungkan mengapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dilahirkan tidak pada hari jumat sebagai hari paling mulia atau pada bulan-bulan mulia seperti al asyhurul hurum? Jawabannya agar tidak ada kemungkinan untuk menuduh bahwa kemuliaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditopang oleh hari dan bulan mulia di mana beliau dilahirkan.
Justru yang terjadi adalah sebaliknya, adanya fenomena Insihaab, keagungan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mampu menyeret hari Senin dan bulan Rabiul Awwal sebagai hari dan bulan mulia setelah sebelumnya hari dan bulan tersebut sama sekali tidak diperhatikan oleh umat manusia. Sejak saat itu dan hingga kini ketikaSenin dan Rabiul Awwal disebutkan maka segera teringat hari dan bulan kelahiran Rasulullah Saw.
Jadi kemuliaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah mandiri (Istiqlali) dan sama sekali bukan karena Nisbat, reaksi dari figur, komunitas atau fenomena apapun. Justru, semuanya ini tersaput sinar kemuliaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai anugerah Allah kepada Beliau. Termasuk kita semua kaum muslimin yang menjadi umat termulia daripada umat-umat terdahulu yang pernah hidup di alam ini. Ini karena, seperti dikatakan Imam al Bushiri dalam Qashidah Burdah;
لَمَّا دَعَى اللهُ دَاعِيْنَا لِطَاعَـتِهِ بِأَكْرَمِ الرُّسُلِ كُـنَّا أَكْرَمَ اْلأُمَمِ
“Ketika Allah menjuluk Da’i kita ini (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) sebagai rasul termulia karena ketaatannya (kepada Allah), maka kita menjadi umat yang termulia”
Inilah salah satu alasan bagi kita agar berusaha mendidik hati untuk merasa senang setiap kali hari Senin dan bulan Rabiul Awwal hadir. Tentu saja rasa senang itu harus diwujudkan lewat aksi nyata dengan berpuasa pada hari senin dan mengadakan peringatan-peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam di bulan Rabiul awwal ini.
Rasa senang dalam bentuk seperti inilah yang dulu pernah dilakukan oleh Abu Lahab. Ia bukan hanya sekedar senang mendengar berita kelahiran sang keponakan yang yatim, akan tetapi melengkapi rasa senangnya dengan memerdekakan si pembawa berita, sahayanya bernama Tsuwaibah yang kemudian tercatat pernah menyusui bayi Rasulullah Saw bersama anaknya sendiri yang bernama Masruh serta bayi Hamzah paman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan bayi Abu Salamah, suami Ummu Salamah yang kemudian menjadi isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Rasa senang seperti inilah yang hingga kini dan selamanya dirasakan manfaatnya oleh Abu Lahab yang kafir dan sangat memusuhi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Tentunya kita manusia beriman pasti mendapat manfaat yang sangat jauh lebih besar lagi jika mampu bergembira seperti kegembiraan Abu Lahab. Al Hafidh Nashiruddin Ad Dimasyqi, salah seorang murid Imam al Hafidh Ibnu Katsir melagukan Syair yang artinya:
إِذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُّهُ بِتَـبَّتْ يَدَاهُ فِى الْجَحِيْمِ مُخَلَّـدًا
أَتَى أَنَّهُ فِى يَوْمِ ْالإِثْنَيْنِ دَائِمًا يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسًُّرُوْرِ بَأَحْمَدَ
فَمَا الظَّنُّ بِالْعَبْدِ الَّذِى طُوْلَ عُمْرِهِ بِأَحْمَدَ مَسْرُوْرًا وَكَانَ مُوَحِّدًا
Jika ini saja, seorang kafir yang dicela dengan ayat Tabbat Yadaah, dan langgeng di neraka
Disebutkan bahwa selamanya setiap senin ia diringankan siksanya karena gembira akan kelahiran Nabi Ahmad
Maka bagaimana dengan seorang hamba beriman yang sepanjang hayat bergembira akan Nabi Ahmad
Bergembira dan membanggakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah wajib. Kendati demikian tidak cukup hanya sampai di situ. Seorang beriman harus memasang dan mengejar target bisa menyenangkan dan membuat bangga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Langkah dan usaha yang bisa dilakukan agar mencapai target ini, di antara yang pokok sebagai berikut:
1. Menghidupkan Sunnah-nya
Seorang Yahudi pernah berkata kepada Sayyidina Umar ra; “Teman anda (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) mengajarkan semuanya hingga perilaku di kakus” maknanya kita harus mengetahui detail kehidupan Rasulullah Saw untuk selanjutnya berusaha meniru baik dalam cara beribadah maupun kehidupan sehari-hari. Dari hal yang remeh hingga hal yang penting. Bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat, cara berbaris dalam shalat, masuk dan keluar masjid dan seterusnya. Bagaimana Rasulullah makan,minum, tidur, masuk kakus dll. Dengan berusaha menghidupkan sunnah berarti secara langsung kita memupuk kecintaan kepada Beliau sebagaimana hadits riwayat Anas ra
مَنْ أَحْيَا سُنَّـتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِى الْجَّنةِ
“Barang siapa menghidupkan sunnahku maka sungguh ia telah mencintaiku. Barang siapa mencintaiku maka ia pasti bersamaku di surga” (HR Thabarani)
Kegemaran menghidupkan sunnah juga menunjukkan kesempurnaan iman seseorang.
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ
“Tidak sempurna Iman seseorang sebeluَm kesenangan dirinya mengikuti segala yang aku ajarkan “(HR Dailami).
2. Mencintai Ahlul Bait- nya
Ahlul Bait, menurut Imam Qadhi Iyadh dalam As Syifa’ berdasarkan riwayat dari Zaid bin Arqam adalah keluarga dan keturunan Ali ra, Ja’far, Aqil dan Abbas. Allah berfirman;
قُلْ لاَ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبَي
“Katakanlah,aku tidak meminta atas hal ini kecuali kecintaan kepada para kerabat (ku)”QS As Syuro:23.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;
إِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَمْ تَضِلُّوْا كِتَابُ اللهِ وَعِتْرَتِيْ ...
“Sesungguhnya aku meninggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan pernah tersesat; Kitab Allah dan keluargaku”(HR Turmudzi/3788).
Kepada Abbas ra, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;
وَالَّذِى نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَدْخُلُ قَلْبَ رَجُلٍ اْلإِيْمَانُ حَتَّى يُحِبَّكُمْ ِللهِ وَرَسُوْلِهِ ...
“Demi Dzat yang diriku berada di tanganNya,keimanan tidak memasuki hati seseorang sebelum mencintai kalian karena Allah dan RasulNya…”(HR Baihaqi)
3. Mencintai Sahabat-nya
Sahabat adalah orang yang beriman dan pernah bertemu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Meski beriman tetapi tidak pernah bertemu maka tidak termasuk sahabat seperti halnya Uweis Al Qarani yang kemudian menjadi tokoh terkemuka generasi Tabiin. Dan seperti raja Najasyi yang bernama asli Ashamah yang ketika meninggal bahkan sempat dishalati ghaib oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat.
Mencintai sahabat memiliki sekian banyak konsekwensi yang di antaranya tidak diperbolehkan dengan alasan apapun mencaci mereka seperti yang dilakukan oleh kelompok Syiah yang mengaku mencintai ahlul bait tetapi justru membenci, mencaci dan bahkan mengkafirkan di antara para sahabat yang pernah terjadi konflik antara mereka dengan ahlul bait. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;
لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ
“Jangan mencaci maki para sahabatku,karena sesungguhnya andaikan salah seorang kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka tidak bisa menyamai satu mud atau bahkan separuh infak salah seorang mereka (sahabat)(HR Bukhari)
4. Mencintai Pewaris-nya (Ulama’ Amilin)
Ulama adalah pewaris para nabi. Dari merekalah umat mengenal dan meneladani ajaran-ajaran para nabi. Karena itulah ulama memiliki jasa besar menyambung umat dengan nabi mereka. Atas dasar ini, Rasulullah Saw kemudian mengajarkan kepada umatnya supaya memperhatikan hak-hak para ulama. Di antara hak itu adalah ulama harus dimuliakan. Jika berbuat salah maka tidak boleh diklaim dan dilecehkan. Inilah ajaran dan pesan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Betapapun seorang ulama berbuat salah maka sekali lagi tidak boleh dijatuhkan martabatnya, apalagi jika belum jelas kesalahannya atau bahkan nyata-nyata tidak bersalah,maka melecehkan dan mencaci ulama kezaliman yang balasannya adalah kematian hati. Imam Syafii berkata:
إِنْ لَمْ يَكُنِ الْعُلَمَاءُ أَوْلِيَاءَ اللهِ فَلَيْسَ ِللهِ وَلِيٌّ
[Jika ulama bukan para wali Allah maka Allah sama sekali tidak memiliki wali]
Ibnu Asakir mengatakan:
[Ingatlah wahai saudaraku bahwa daging ulama itu beracun, dan sesungguhnya barang siapa lidahnya mencela mereka maka Allah mengujinya dengan kematian hati sebelum kematiannya]
5. Memperbanyak Shalawat kepada-nya
Membaca dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah perintah Allah dan bukan hanya menyenangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi juga menyenangkan Allah Azza wajalla. Bukti kesenangan Allah akan bacaan shalawat umat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam; “Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah bershalawat atasya sepuluh kali dan mengangkatnya sepuluh derajat”(HR Nasai)
Demikianlah hal-hal pokok yang harus kita pelajari untuk bisa dipraktekkan dalam keberagamaan kita yang memang di samping sebagai usaha membuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbangga dan berbahagia, juga sekaligus langkah memenuhi di antara sekian banyak hak Beliau atas umatnya.
=والله يتولى الجميع برعايته=
Jan 30, 2012
Format Barisan Shalat
Pertanyaan:
Bagaimanakah format barisan shalat dalam jamaah yang hanya ada Imam dan seorang Ma’mum?
Ikhwan, dari Demak
Jawaban:
Apabila jamaah terdiri dari Imam dan seorang ma’mum laki–laki maka ma’mum berdiri di sebelah kanan Imam. Menurut madzhab Syafii, ma’mum sedikit mundur. Hal ini atas dasar Ihtiyath/berhati– ati karena ma’mum selayaknya mengetahui dan mengikuti gerakan Imam.
Menurut para Ahli Hadits, syarat tersebut tidak ada. Sebab dalam hadits tidak dijelaskan adanya syarat mundur, tetapi syaratnya hanya berdiri di sebelah kanan. Inilah dasar diperbolehkannya posisi ma’mum sejajar dengan imam. Jabir ra bercerita:
قَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّيَ فَجِئْتُ فَقُمْتُ عَلَى يَسَارِهِ فَأَخَذَ بِيَدِى فَأَدَارَنِى حَتَّى أَقَامَنِىْ عَنْ يَمِيْنِهِ ...
“Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berdiri untuk melakukan shalat. Aku datang dan lalu berdiri di sebelah kiri Beliau. Kemudian Beliau memegang tanganku dan lalu memutarku ke sebelah kanannya...” HR. Muslim (Lihat Fiqhus Sunnah/1–205)
Apabila jama’ah terdiri atas imam dan dua ma’mum atau lebih maka ma’mum langsung berdiri di shof belakang imam. Samurah bin Jundub ra bercerita, “Rasulullah shallallohu alaihi wasallam memerintahkan kami apabila kami berjamaah terdiri dari tiga orang agar salah satu dari kami maju menjadi imam” HR Turmudzi. Dalam hadits ini tidak diterangkan tentang ma’mum yang berdiri di sebelah kanan dan kiri imam.
Bagaimanakah format barisan shalat dalam jamaah yang hanya ada Imam dan seorang Ma’mum?
Ikhwan, dari Demak
Jawaban:
Apabila jamaah terdiri dari Imam dan seorang ma’mum laki–laki maka ma’mum berdiri di sebelah kanan Imam. Menurut madzhab Syafii, ma’mum sedikit mundur. Hal ini atas dasar Ihtiyath/berhati– ati karena ma’mum selayaknya mengetahui dan mengikuti gerakan Imam.
Menurut para Ahli Hadits, syarat tersebut tidak ada. Sebab dalam hadits tidak dijelaskan adanya syarat mundur, tetapi syaratnya hanya berdiri di sebelah kanan. Inilah dasar diperbolehkannya posisi ma’mum sejajar dengan imam. Jabir ra bercerita:
قَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّيَ فَجِئْتُ فَقُمْتُ عَلَى يَسَارِهِ فَأَخَذَ بِيَدِى فَأَدَارَنِى حَتَّى أَقَامَنِىْ عَنْ يَمِيْنِهِ ...
“Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berdiri untuk melakukan shalat. Aku datang dan lalu berdiri di sebelah kiri Beliau. Kemudian Beliau memegang tanganku dan lalu memutarku ke sebelah kanannya...” HR. Muslim (Lihat Fiqhus Sunnah/1–205)
Apabila jama’ah terdiri atas imam dan dua ma’mum atau lebih maka ma’mum langsung berdiri di shof belakang imam. Samurah bin Jundub ra bercerita, “Rasulullah shallallohu alaihi wasallam memerintahkan kami apabila kami berjamaah terdiri dari tiga orang agar salah satu dari kami maju menjadi imam” HR Turmudzi. Dalam hadits ini tidak diterangkan tentang ma’mum yang berdiri di sebelah kanan dan kiri imam.
Jan 17, 2012
Menjadi Manusia Cerdas
Tausiah Bulan Januari 2012 / Muharram 1433
بسم الله الرحمن الرحيم
(إِنَّ ِللهِ عِبَادًا فُطَـنًا)
وَ ِللهِ دَرُّ الْقَائِلِ :
إِنَّ ِللهِ عِبَـادًا فُطَـنَا # َطلَّقُوا الدُّنْيَا وَخَافُوا الْفِتَـنَا
نَظَرُوْا فِيْهَا فَلَمَّا عَلِمُوْا# أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ سَـكَنَا
جَعَلُوْهَا لُجَّةً وَاتَّخَذُوْا # صَالِحَ الْلأَعْمَالِ فِيْهَا سُفُـنَا
الدُّنْيَا دَارُ الْمِحَنِ والْفِتَنِ قَالَبًا وَقَلْبًا وَإِنَّ الْفِتْنَةَ لَكَبِيْرَةٌ إِذَا كَانَتْ مِمَّنْ يَعِيْشُ مَعَـنَا مِنَ اْلأَزْوَاجِ وَاْلأَوْلاَدِ وَلِذلِكَ حَذَّرَنَا اللهُ تَعَالَى عَنِ الْوُقُوْعِ فِيْهَا وَخَصَّهَا بِالذِّكْرِ حَيْثُ يَقُوْلُ : [يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْا...] التغابن:14.
ذُكِرَ أَنَّ هَذِهَ اْلآيَةَ نَزَلَتْ فِى قَوْمٍ أَسْلَمُوْا بِمَكَّةَ فَأَرَادُوا الْهِجْرَةَ فَمَنَعَهُمْ أَزْوَاجُهُمْ وَأَوْلاَدُهُمْ وثَبَّطُوْهُمْ عَنْهَا قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ . قَالَ الْقَاضِى أَبُوْ بَكْر بْنِ الْعَرَبِي: هَذَا يُبَيِّنُ وَجْهَ الْعَدَاوَةِ فَإِنَّ الْعَدُوَّ لَمْ يَكُنْ عَدُوًّا لِذَاتِهِ وَإِنَّمَا عَدُوًّا بِفِعْلِهِ فَإِذَا فَعَلَ الزَّوْجُ وَالْوَلَدُ فِعْلَ الْعَدُوِّ كَانَ عَدُوًّا وَلاَ فِعْلَ أَقْبَحُ مِنَ الْحَيْلُوْلَةِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الطَّاعَةِ وَقَالَ الْحَسَنُ : أُدْخِلَ "مِنْ" لِلتَّبْعِيْضِ ِلأَنَّ كُلَّهُمْ لَيْسُوْا بِأَعْدَاءَ بِمَعْنَى أَنَّ مِنْهُمْ مَنْ هُوَ مُخَالِفٌ لِلدِّيْنِ فَصَارَ بِمُخَالَفَةِ الدِّيْنِ عَدُوًّا كَيْ نَكُوْنَ عَلَى حَذَرٍ مِنْهُمْ وَلاَ نَأْمَنَ عَلَى غَوَائِلِهِمْ وَشَرِّهِمْ .
وَأَخْطَرُ مَا أَثَّرَ فِى الْمُخَالَفَةِ فِى هَذَا الزَّمَانِ وُقُوْعُ مَا أَخْبَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ : (...ثُمَّ فِتْنَةٌ لاَ يَبْقَى بَيْتٌ مِنَ الْعَرَبِ إِلاَّ دَخَلَـتْهُ) رواه البخارى (مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَكُوْنَ الْوَلَدُ غَيْظًا...الحديث) رواه الطبراني .(سَتَكُوْنُ الْفِتَنُ حَتَّى يَكُوْنَ الْحَلِيْمُ فِيْهَا حَيْرَانَ) أَوْ كَمَا قَالَ.
وَلاَ نَظُنُّ فِتْنَةً اتَّصَفَتْ بِهَذَا إِلاَّ الْفِتْنَةَ الْحَدِيْثةَ التِّلْفِزِيُوْن وَالْكُومْبُوترْ وَاْلإِرْتَنِيتْ وَالْفِزْبُوكْ وَالتُّوِيْترْ وَالْجَوَّالْ وَغَيْرَ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يُمَيِّـزْ طَيِّبَهَا عَنْ خَبِيْثِهَا وَاْلأَغَانِي وَالْقِيْنَاتُ وَالْمَعَازِفُ فَقَدْ عَمَّتْ بِهَا الْبَلْوَى وَشَهِدَ بِذَلِكَ الْجَمِيْعُ حَتَّى يَكُوْنَ الْفَسَادُ يَصِيْرُ بِكَثْرَةِ الْمُبَاشَرَةِ هَيِّـنًا عَلَى الطَّبَعِ وَسَقَطَ وَقْعُهُ وَاسْتِعْظَامُهُ فِى الْقَلْبِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ . قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ)) رواه البخارى ومسلم . وَفَسَادُ الْقَلْبِ مَرَضُهُ وَمَرَضُهُ ظُلْمَـتُهُ وَمَرَضُ الْقَلْبِ يَضُرُّ بِصَاحِبِهِ فِى دِيْنِهِ الَّذِى هُوَ رَأْسُ مَالِ سَعَادَتِهِ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَيَضُرُّهُ فِى آخِرَتِهِ الَّتِي هِيَ دَارُ بَقَائِهِ وَخُلُوْدِهِ وَيُعْرَفُ بِاْلأَمَارَاتِ الظَّاهِرَةِ وَمِنْ أَظْهَرِهَا التَّكَاسُلُ عَنِ الطَّاعَاتِ وَالتَّثَاقُلُ عَنِ فِعْلِ الْخَيْرَاتِ وَالْحِرْصُ عَلَى شَهَوَاتِ الدُّنْيَا وَلَذَّاتِهَا بَعِيْدًا عَنِ اسْتِخْدَامِهَا مَزْرَعَةً ِلآخِرَتِهِ . فَإِذَا ظَهَرَ لَهُ مِنْ أَمْثَالِ هَذِهِ اْلأَمَارَاتِ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يَسْعَى فِى مُدَاوَاتِهِ وَمُعَالَجَتِهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى : [يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا ِللهِ وَالرَّسُوْلِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْ – اي يُحْيِي قُلُوْبَكُمْ – وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ]الأنفال:24.
تُشِيْرُ هَذِهِ اْلآيَةُ إِلَى أَنَّ مُعَالَجَتَهُ بِالسَّعْيِ عَلَى إِحْيَائِهِ بِشَتىَّ سُبُلٍ أَقْرَبُهَا إِلَى حُصُوْلِ الْقَصْدِ أَنْ يَطْلُبَ لَهُ شَيْخًا مُرَبِّيًا مُرْشِدًا قَائِدًا الَّذِى يُرَبِّى قَلْبَهُ وَيُهَذِّبُ أَخْلاَقَهُ وَيَأْتِي بِيَدِهِ إِلَى اللهِ وَالَّذِى بِصُحْبَتِهِ اللهُ يَحْفَظُهُ مِنَ الشَّرِّ وَالْهَوَى وَالْمَعَاصِى فَإِنْ لَمْ يَجِدْهُ فَأَخًا صَالِحًا نَاصِحًا يَسْتَعِيْنُ بِرَأْيِهِ وَإِشَارَتِهِ فِى تَعَرُّفِ مَرَضِ قَلْبِهِ وَعِلاَجِهِ أَوْ جَمَاعَةً صَالِحَةً يَنْضَمُّ إِلَيْهَا لِيَتَشَارَكَ بِغَيْرِهِ فِيْهَا ِلإِصْلاَحِ قَلْبِهِ , فَإِنْ لَمْ يَظْفَرْ بِذَلِكَ كَمَا هُوَ الْغَالِبُ مِنْ أَحْوَالِ أَهْلِ الزَّمَانِ مِنْ قِلَّةِ الْمُعَاوِنِيْنَ عَلَى الْحَقِّ وَالْخَيْرِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَلْتَزِمَ بِالْتِزَامَاتٍ يُوَاظِبُ عَلَيْهَا مِثْلَ مَا يَأْتِي :
أ- أَدَاءُ الصَّلَوَاتِ مَعَ لَوَازِمِهَا الْمَشْرُوْعَةِ مِنْ إِقَامَتِهَا وَالْمُحَافَظَةِ عَلَيْهَا وَالْخُشُوْعِ وَالْحُضُوْرِ فِيْهَا وَالدَّوَامِ عَلَيْهَا فَإِنَّهَا تُزِيْلُ دَرَنَ الْقُلُوْبِ
ب- كَثْرَةُ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فإنها تَجْبُرُ صَدَعَ الْقُلُوْبِ
ج - تِلاَوَةُ الْقُرْآنِ فَإِنَّهَا تَجْلُوْ صَدَأَ الْقُلُوْبِ
د - الْمُلاَزَمَةُ عَلَى اْلأَوْرَادِ وَاْلأَذْكَارِ وَحُضُوْرِ مَجَالِسِ الذِّكْرِ الَّتِي مِنْهَا مَجْلِسُ الْعِلْمِ
هـ - الْمُلاَزَمَةُ عَلَى اْلإِسْتِغْفَارِ . قَالَ اْلإِمَامُ عَلِيّ ابْنُ أَبِي طَالِبٍ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ : ابْحَثْ عَنْ قَلْبِكَ فِى ثَلاَثَةِ مَوَاطِنَ : عِنْدَ سَمَاعِ اْلقُرْآنِ وَفِى مَجَالِسِ الذِّكْرِ وَفِى أَوْقَاتِ الْخَلْوَةِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْهُ فِى هَذِهِ الْمَوَاطِنِ فَسَلِ اللهَ تَعَالَى أَنْ يَمُنَّ عَلَيْكَ بِقَلْبٍ فَإِنَّهُ لاَ قَلْبَ لَكَ .
وَهُنَاكَ أَدْعِيَةٌ مَأْثُوْرَةٌ تَدُلُّ عَلَى إِمْكَانِ تَغْيِيْرِ اْلأَخْلاَقِ الذَّمِيْمَةِ كَالتَّالِى :
1.أَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دَابَّةٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ
2. أَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ اْلأَخْلاَقِ وَاْلأَهْوَاءِ وَاْلأَدْوَاءِ
3.أَللَّهُمَّ اهْدِنِي لِصَالِحِ اْلأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لِصَالِحِهَا إِلاَّ أَنْتَ . وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّـئَها لاَيَصْرِفُ عَنِّي سَيِّـئَهَا إِلاَّ أَنْتَ .
=والله يتولى الجميع برعايته=
Menjadi Manusia Cerdas
Begitu indah orang berkata:
Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang cerdas
yang tidak terpesona oleh dunia dan bahkan mengkhawatirkan fitnah-fitnahnya
Mereka mengamati dunia, lalu ketika mengetahui bahwa ia bukanlah tempat tinggal bagi orang yang hidup
Maka mereka menganggapnya sebagai samudera yang harus dilalui dengan perahu-perahu amal keshalehan
Dunia adalah tempat ujian dan fitnah secara fisik maupun psikis. Fitnah dunia sungguh semakin berat jika datang dari orang-orang yang hidup bersama kita; isteri-isteri dan anak-anak kita. Karena itu Allah memperingatkan agar kita tidak terjebak dalam fitnah ini yang secara khusus disebutkan oleh Allah dalam firmanNya: “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya sebagian dari isteri-isterimu dan anak-anakmu adalah musuh bagimu maka waspadalah...”QS At Taghabun:14.
Disebutkan bahwa ayat ini diturunkan terkait orang-orang yang telah masuk islam semenjak di Makkah dan bermaksud hijrah (ke Madinah) akan tetapi langkah mereka surut dan tertahan oleh isteri-isteri dan anak-anak mereka. Demikian seperti dikatakan oleh Ibnu Abbas ra. Al Qadhi Abu Bakar bin Al Arabi mengatakan: [Ini menjelaskan sisi permusuhan (yang dimaksudkan) karena musuh bukanlah dianggap musuh kecuali sebab perbuatannya. Jadi apabila isteri dan anak berbuat seperti perbuatan musuh maka mereka berdua adalah musuh karena tidak ada perbuatan yang paling buruk daripada menghalangi antara seorang hamba dengan ketaatan]
Al Hasan (al Bashri) mengatakan:
[Digunakan huruf Jarr “Min” untuk menunjukkan arti sebagian karena tidak keseluruhan mereka berubah menjadi musuh dalam arti sebagian mereka ada yang melakukan perbuatan melawan agama sehingga dengan perbuatan melawan ini mereka dianggap sebagai musuh yang perlu diwaspadai dan tidak boleh diremehkan akan bahaya dan keburukan mereka]
Hal paling berbahaya yang bisa memberikan pengaruh kepada perbuatan melawan agama pada sekarang ini adalah terjadinya apa yang sudah beritakan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam sabda Beliau; “...kemudian akan ada fitnah yang memasuki seluruh rumah orang Arab (penduduk muslimin) tanpa terkecuali” HR Bukhari. “Termasuk tanda-tanda kiamat adalah anak-anak menjadi sumber kemarahan( orang tua)...”HR Thabarani. “Akan terjadi fitnah-fitnah yang membuat orang bijak pun merasa kebingungan di dalamnya”
Fitnah semacam ini dalam penilaian kita tidak lain adalah fitnah yang berkembang saat ini berupa TV, Komputer, Internet, Face Book, Twitter dan HP dll bagi siapa saja yang tidak bisa mengambil manfaat positifnya, lagu-lagu, para selebritis dan konser-konser musik. Sungguh semuanya sudah mewabah dan disaksikan oleh seluruh orang. Karena seringkali bersentuhan sehingga hati menganggapnya biasa dan merasa kerusakan ini bukanlah hal yang serius serta tidak perlu dipermasalahkan. Laa haula walaa quwwata illaa billaah al aliiy al azhiim.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda; “Ingat, sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging; jika daging itu baik maka seluruh tubuh juga baik dan jika daging itu rusak maka seluruh tubuh menjadi rusak”HR Bukhari Muslim.
Hati yang rusak adalah hati yang sakit. Hati yang sakit adalah hati yang diliputi kegelapan. Hati yang sakit berbahaya bagi pemiliknya; dalam agamanya sebagai modal meraih keberuntangan dunia akhirat, juga dalam akhiratnya sebagai rumah yang langgeng dan abadi baginya.
Hati yang sakit bisa diidentifikasi melalui gejala-gejala yang muncul di mana yang paling dominan adalah bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan, merasa berat melakukan kebaikan-kebaikan, serta sikap rakus terhadap kesenangan dan kelezatan dunia, sama sekali jauh dari memperlakukan dunia sebagai ladang akhirat.
Jika gejala-gejala tersebut muncul maka seseorang wajib berusaha melakukan terapi pengobatan. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman! penuhilah Allah jika Dia Memanggilmu menuju hal yang bisa membuatmu selalu hidup –menghidupkan hatimu – dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Menghalangi antara seseorang dan hatinya dan sesungguhnya kepadaNya-lah kalian dikumpulkan”QS Al Anfaal:24.
Ayat ini memberikan arahan untuk melakukan pengobatan hati dan berusaha selalu menghidupkannya dengan berbagai macam cara di mana yang paling memudahkan mencapai tujuan adalah dengan mencari seorang Guru Murabbi yang akan selalu membimbing dan mengarahkan, yang bisa melihat hati dan membersihkan akhlak, yang akan memegang tangannya menuju Allah, dan yang karena bershuhbah dengan guru itu Allah menjaga dirinya dari keburukan, hawa nafsu dan kemaksiatan.
Apabila tidak menemukan guru seperti itu maka mencari teman yang shaleh yang selalu memberi nasehat. Saran dan pendapat teman seperti ini bisa membantu mengenali penyakit hati dan pengobatannya.
Atau mencari Jamaah yang patut untuk bergabung di dalamnya agar bisa turut serta bersama yang lain dalam memperbaiki hati.
Jika semuanya tidak ditemukan - sebagaimana kondisi mayoritas masyarakat sekarang ini yang susah mencari orang-orang yang bisa saling membantu dalam kebaikan dan kebenaran – maka harus melakukan secara rutin iltizamat berikut ini:
a. Menjalankan shalat dan keharusan-keharusannya yang berupa; mendirikannya, menjaganya, khusyu’, khudhur dan melanggengkannya. Sungguh shalat bisa menghilangkan kotoran-kotoran hati.
b. Memperbanyak bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam karena shalawat bisa menambal keretakan hati.
c. Membaca Alqur’an karena membaca Alqur’an bisa membersihkan karat-karat hati
d. Merutinkan wirid-wirid dan dzikir-dzikir serta menghadiri majlis-majlis dzikir yang di antaranya adalah majlis ilmu.
e. Menetapi Istighfar. Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah mengatakan: [Carilah hatimu dalam tiga suasana; ketika mendengarkan Alqur’an, dalam majlis-majlis dzikir dan dalam waktu-waktu khalwah. Jika kamu tidak menemukkannya dalam suasana-suasana ini maka memohonlah kepada Allah agar menganugerahkan hati kepadamu karena kamu sama sekali tidak memiliki hati]
Ada do’a-do’a ma’tsur yang menjadi dalil adanya peluang merubah akhlak yang tercela seperti berikut:
1. “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon perlindunganMu dari kejahatan diriku dan dari kejahatan seluruh binatang melata yang ubun-ubunya ada dalam genggamanMu . sesungguhnya Tuhanku berada pada jalan yang lurus”
2. “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon perlindunganMu dari akhlak yang mungkar, menuruti keinginan nafsu dan dari berbagai penyakit”http://www.blogger.com/img/blank.gif
3. “Ya Allah, tunjukkanlah diriku akan akhlak yang baik karena tidak ada yang menunjukkan akan akhlak yang baik kecuali Engkau. Hindarkanlah keburukan akhlak dariku. Karena tak ada yang menghindarkannya dariku kecuali Engkau”
=والله يتولى الجميع برعايته=
Audio Offline Tausiah 8 Januari 2012 / Muharram 1433
Download Tausiah 8 Januari 2012 / Muharram 1433
بسم الله الرحمن الرحيم
(إِنَّ ِللهِ عِبَادًا فُطَـنًا)
وَ ِللهِ دَرُّ الْقَائِلِ :
إِنَّ ِللهِ عِبَـادًا فُطَـنَا # َطلَّقُوا الدُّنْيَا وَخَافُوا الْفِتَـنَا
نَظَرُوْا فِيْهَا فَلَمَّا عَلِمُوْا# أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ سَـكَنَا
جَعَلُوْهَا لُجَّةً وَاتَّخَذُوْا # صَالِحَ الْلأَعْمَالِ فِيْهَا سُفُـنَا
الدُّنْيَا دَارُ الْمِحَنِ والْفِتَنِ قَالَبًا وَقَلْبًا وَإِنَّ الْفِتْنَةَ لَكَبِيْرَةٌ إِذَا كَانَتْ مِمَّنْ يَعِيْشُ مَعَـنَا مِنَ اْلأَزْوَاجِ وَاْلأَوْلاَدِ وَلِذلِكَ حَذَّرَنَا اللهُ تَعَالَى عَنِ الْوُقُوْعِ فِيْهَا وَخَصَّهَا بِالذِّكْرِ حَيْثُ يَقُوْلُ : [يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْا...] التغابن:14.
ذُكِرَ أَنَّ هَذِهَ اْلآيَةَ نَزَلَتْ فِى قَوْمٍ أَسْلَمُوْا بِمَكَّةَ فَأَرَادُوا الْهِجْرَةَ فَمَنَعَهُمْ أَزْوَاجُهُمْ وَأَوْلاَدُهُمْ وثَبَّطُوْهُمْ عَنْهَا قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ . قَالَ الْقَاضِى أَبُوْ بَكْر بْنِ الْعَرَبِي: هَذَا يُبَيِّنُ وَجْهَ الْعَدَاوَةِ فَإِنَّ الْعَدُوَّ لَمْ يَكُنْ عَدُوًّا لِذَاتِهِ وَإِنَّمَا عَدُوًّا بِفِعْلِهِ فَإِذَا فَعَلَ الزَّوْجُ وَالْوَلَدُ فِعْلَ الْعَدُوِّ كَانَ عَدُوًّا وَلاَ فِعْلَ أَقْبَحُ مِنَ الْحَيْلُوْلَةِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الطَّاعَةِ وَقَالَ الْحَسَنُ : أُدْخِلَ "مِنْ" لِلتَّبْعِيْضِ ِلأَنَّ كُلَّهُمْ لَيْسُوْا بِأَعْدَاءَ بِمَعْنَى أَنَّ مِنْهُمْ مَنْ هُوَ مُخَالِفٌ لِلدِّيْنِ فَصَارَ بِمُخَالَفَةِ الدِّيْنِ عَدُوًّا كَيْ نَكُوْنَ عَلَى حَذَرٍ مِنْهُمْ وَلاَ نَأْمَنَ عَلَى غَوَائِلِهِمْ وَشَرِّهِمْ .
وَأَخْطَرُ مَا أَثَّرَ فِى الْمُخَالَفَةِ فِى هَذَا الزَّمَانِ وُقُوْعُ مَا أَخْبَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ : (...ثُمَّ فِتْنَةٌ لاَ يَبْقَى بَيْتٌ مِنَ الْعَرَبِ إِلاَّ دَخَلَـتْهُ) رواه البخارى (مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَكُوْنَ الْوَلَدُ غَيْظًا...الحديث) رواه الطبراني .(سَتَكُوْنُ الْفِتَنُ حَتَّى يَكُوْنَ الْحَلِيْمُ فِيْهَا حَيْرَانَ) أَوْ كَمَا قَالَ.
وَلاَ نَظُنُّ فِتْنَةً اتَّصَفَتْ بِهَذَا إِلاَّ الْفِتْنَةَ الْحَدِيْثةَ التِّلْفِزِيُوْن وَالْكُومْبُوترْ وَاْلإِرْتَنِيتْ وَالْفِزْبُوكْ وَالتُّوِيْترْ وَالْجَوَّالْ وَغَيْرَ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يُمَيِّـزْ طَيِّبَهَا عَنْ خَبِيْثِهَا وَاْلأَغَانِي وَالْقِيْنَاتُ وَالْمَعَازِفُ فَقَدْ عَمَّتْ بِهَا الْبَلْوَى وَشَهِدَ بِذَلِكَ الْجَمِيْعُ حَتَّى يَكُوْنَ الْفَسَادُ يَصِيْرُ بِكَثْرَةِ الْمُبَاشَرَةِ هَيِّـنًا عَلَى الطَّبَعِ وَسَقَطَ وَقْعُهُ وَاسْتِعْظَامُهُ فِى الْقَلْبِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ . قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ)) رواه البخارى ومسلم . وَفَسَادُ الْقَلْبِ مَرَضُهُ وَمَرَضُهُ ظُلْمَـتُهُ وَمَرَضُ الْقَلْبِ يَضُرُّ بِصَاحِبِهِ فِى دِيْنِهِ الَّذِى هُوَ رَأْسُ مَالِ سَعَادَتِهِ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَيَضُرُّهُ فِى آخِرَتِهِ الَّتِي هِيَ دَارُ بَقَائِهِ وَخُلُوْدِهِ وَيُعْرَفُ بِاْلأَمَارَاتِ الظَّاهِرَةِ وَمِنْ أَظْهَرِهَا التَّكَاسُلُ عَنِ الطَّاعَاتِ وَالتَّثَاقُلُ عَنِ فِعْلِ الْخَيْرَاتِ وَالْحِرْصُ عَلَى شَهَوَاتِ الدُّنْيَا وَلَذَّاتِهَا بَعِيْدًا عَنِ اسْتِخْدَامِهَا مَزْرَعَةً ِلآخِرَتِهِ . فَإِذَا ظَهَرَ لَهُ مِنْ أَمْثَالِ هَذِهِ اْلأَمَارَاتِ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يَسْعَى فِى مُدَاوَاتِهِ وَمُعَالَجَتِهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى : [يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا ِللهِ وَالرَّسُوْلِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْ – اي يُحْيِي قُلُوْبَكُمْ – وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ]الأنفال:24.
تُشِيْرُ هَذِهِ اْلآيَةُ إِلَى أَنَّ مُعَالَجَتَهُ بِالسَّعْيِ عَلَى إِحْيَائِهِ بِشَتىَّ سُبُلٍ أَقْرَبُهَا إِلَى حُصُوْلِ الْقَصْدِ أَنْ يَطْلُبَ لَهُ شَيْخًا مُرَبِّيًا مُرْشِدًا قَائِدًا الَّذِى يُرَبِّى قَلْبَهُ وَيُهَذِّبُ أَخْلاَقَهُ وَيَأْتِي بِيَدِهِ إِلَى اللهِ وَالَّذِى بِصُحْبَتِهِ اللهُ يَحْفَظُهُ مِنَ الشَّرِّ وَالْهَوَى وَالْمَعَاصِى فَإِنْ لَمْ يَجِدْهُ فَأَخًا صَالِحًا نَاصِحًا يَسْتَعِيْنُ بِرَأْيِهِ وَإِشَارَتِهِ فِى تَعَرُّفِ مَرَضِ قَلْبِهِ وَعِلاَجِهِ أَوْ جَمَاعَةً صَالِحَةً يَنْضَمُّ إِلَيْهَا لِيَتَشَارَكَ بِغَيْرِهِ فِيْهَا ِلإِصْلاَحِ قَلْبِهِ , فَإِنْ لَمْ يَظْفَرْ بِذَلِكَ كَمَا هُوَ الْغَالِبُ مِنْ أَحْوَالِ أَهْلِ الزَّمَانِ مِنْ قِلَّةِ الْمُعَاوِنِيْنَ عَلَى الْحَقِّ وَالْخَيْرِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَلْتَزِمَ بِالْتِزَامَاتٍ يُوَاظِبُ عَلَيْهَا مِثْلَ مَا يَأْتِي :
أ- أَدَاءُ الصَّلَوَاتِ مَعَ لَوَازِمِهَا الْمَشْرُوْعَةِ مِنْ إِقَامَتِهَا وَالْمُحَافَظَةِ عَلَيْهَا وَالْخُشُوْعِ وَالْحُضُوْرِ فِيْهَا وَالدَّوَامِ عَلَيْهَا فَإِنَّهَا تُزِيْلُ دَرَنَ الْقُلُوْبِ
ب- كَثْرَةُ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فإنها تَجْبُرُ صَدَعَ الْقُلُوْبِ
ج - تِلاَوَةُ الْقُرْآنِ فَإِنَّهَا تَجْلُوْ صَدَأَ الْقُلُوْبِ
د - الْمُلاَزَمَةُ عَلَى اْلأَوْرَادِ وَاْلأَذْكَارِ وَحُضُوْرِ مَجَالِسِ الذِّكْرِ الَّتِي مِنْهَا مَجْلِسُ الْعِلْمِ
هـ - الْمُلاَزَمَةُ عَلَى اْلإِسْتِغْفَارِ . قَالَ اْلإِمَامُ عَلِيّ ابْنُ أَبِي طَالِبٍ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ : ابْحَثْ عَنْ قَلْبِكَ فِى ثَلاَثَةِ مَوَاطِنَ : عِنْدَ سَمَاعِ اْلقُرْآنِ وَفِى مَجَالِسِ الذِّكْرِ وَفِى أَوْقَاتِ الْخَلْوَةِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْهُ فِى هَذِهِ الْمَوَاطِنِ فَسَلِ اللهَ تَعَالَى أَنْ يَمُنَّ عَلَيْكَ بِقَلْبٍ فَإِنَّهُ لاَ قَلْبَ لَكَ .
وَهُنَاكَ أَدْعِيَةٌ مَأْثُوْرَةٌ تَدُلُّ عَلَى إِمْكَانِ تَغْيِيْرِ اْلأَخْلاَقِ الذَّمِيْمَةِ كَالتَّالِى :
1.أَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دَابَّةٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ
2. أَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ اْلأَخْلاَقِ وَاْلأَهْوَاءِ وَاْلأَدْوَاءِ
3.أَللَّهُمَّ اهْدِنِي لِصَالِحِ اْلأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لِصَالِحِهَا إِلاَّ أَنْتَ . وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّـئَها لاَيَصْرِفُ عَنِّي سَيِّـئَهَا إِلاَّ أَنْتَ .
=والله يتولى الجميع برعايته=
Menjadi Manusia Cerdas
Begitu indah orang berkata:
Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang cerdas
yang tidak terpesona oleh dunia dan bahkan mengkhawatirkan fitnah-fitnahnya
Mereka mengamati dunia, lalu ketika mengetahui bahwa ia bukanlah tempat tinggal bagi orang yang hidup
Maka mereka menganggapnya sebagai samudera yang harus dilalui dengan perahu-perahu amal keshalehan
Dunia adalah tempat ujian dan fitnah secara fisik maupun psikis. Fitnah dunia sungguh semakin berat jika datang dari orang-orang yang hidup bersama kita; isteri-isteri dan anak-anak kita. Karena itu Allah memperingatkan agar kita tidak terjebak dalam fitnah ini yang secara khusus disebutkan oleh Allah dalam firmanNya: “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya sebagian dari isteri-isterimu dan anak-anakmu adalah musuh bagimu maka waspadalah...”QS At Taghabun:14.
Disebutkan bahwa ayat ini diturunkan terkait orang-orang yang telah masuk islam semenjak di Makkah dan bermaksud hijrah (ke Madinah) akan tetapi langkah mereka surut dan tertahan oleh isteri-isteri dan anak-anak mereka. Demikian seperti dikatakan oleh Ibnu Abbas ra. Al Qadhi Abu Bakar bin Al Arabi mengatakan: [Ini menjelaskan sisi permusuhan (yang dimaksudkan) karena musuh bukanlah dianggap musuh kecuali sebab perbuatannya. Jadi apabila isteri dan anak berbuat seperti perbuatan musuh maka mereka berdua adalah musuh karena tidak ada perbuatan yang paling buruk daripada menghalangi antara seorang hamba dengan ketaatan]
Al Hasan (al Bashri) mengatakan:
[Digunakan huruf Jarr “Min” untuk menunjukkan arti sebagian karena tidak keseluruhan mereka berubah menjadi musuh dalam arti sebagian mereka ada yang melakukan perbuatan melawan agama sehingga dengan perbuatan melawan ini mereka dianggap sebagai musuh yang perlu diwaspadai dan tidak boleh diremehkan akan bahaya dan keburukan mereka]
Hal paling berbahaya yang bisa memberikan pengaruh kepada perbuatan melawan agama pada sekarang ini adalah terjadinya apa yang sudah beritakan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam sabda Beliau; “...kemudian akan ada fitnah yang memasuki seluruh rumah orang Arab (penduduk muslimin) tanpa terkecuali” HR Bukhari. “Termasuk tanda-tanda kiamat adalah anak-anak menjadi sumber kemarahan( orang tua)...”HR Thabarani. “Akan terjadi fitnah-fitnah yang membuat orang bijak pun merasa kebingungan di dalamnya”
Fitnah semacam ini dalam penilaian kita tidak lain adalah fitnah yang berkembang saat ini berupa TV, Komputer, Internet, Face Book, Twitter dan HP dll bagi siapa saja yang tidak bisa mengambil manfaat positifnya, lagu-lagu, para selebritis dan konser-konser musik. Sungguh semuanya sudah mewabah dan disaksikan oleh seluruh orang. Karena seringkali bersentuhan sehingga hati menganggapnya biasa dan merasa kerusakan ini bukanlah hal yang serius serta tidak perlu dipermasalahkan. Laa haula walaa quwwata illaa billaah al aliiy al azhiim.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda; “Ingat, sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging; jika daging itu baik maka seluruh tubuh juga baik dan jika daging itu rusak maka seluruh tubuh menjadi rusak”HR Bukhari Muslim.
Hati yang rusak adalah hati yang sakit. Hati yang sakit adalah hati yang diliputi kegelapan. Hati yang sakit berbahaya bagi pemiliknya; dalam agamanya sebagai modal meraih keberuntangan dunia akhirat, juga dalam akhiratnya sebagai rumah yang langgeng dan abadi baginya.
Hati yang sakit bisa diidentifikasi melalui gejala-gejala yang muncul di mana yang paling dominan adalah bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan, merasa berat melakukan kebaikan-kebaikan, serta sikap rakus terhadap kesenangan dan kelezatan dunia, sama sekali jauh dari memperlakukan dunia sebagai ladang akhirat.
Jika gejala-gejala tersebut muncul maka seseorang wajib berusaha melakukan terapi pengobatan. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman! penuhilah Allah jika Dia Memanggilmu menuju hal yang bisa membuatmu selalu hidup –menghidupkan hatimu – dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Menghalangi antara seseorang dan hatinya dan sesungguhnya kepadaNya-lah kalian dikumpulkan”QS Al Anfaal:24.
Ayat ini memberikan arahan untuk melakukan pengobatan hati dan berusaha selalu menghidupkannya dengan berbagai macam cara di mana yang paling memudahkan mencapai tujuan adalah dengan mencari seorang Guru Murabbi yang akan selalu membimbing dan mengarahkan, yang bisa melihat hati dan membersihkan akhlak, yang akan memegang tangannya menuju Allah, dan yang karena bershuhbah dengan guru itu Allah menjaga dirinya dari keburukan, hawa nafsu dan kemaksiatan.
Apabila tidak menemukan guru seperti itu maka mencari teman yang shaleh yang selalu memberi nasehat. Saran dan pendapat teman seperti ini bisa membantu mengenali penyakit hati dan pengobatannya.
Atau mencari Jamaah yang patut untuk bergabung di dalamnya agar bisa turut serta bersama yang lain dalam memperbaiki hati.
Jika semuanya tidak ditemukan - sebagaimana kondisi mayoritas masyarakat sekarang ini yang susah mencari orang-orang yang bisa saling membantu dalam kebaikan dan kebenaran – maka harus melakukan secara rutin iltizamat berikut ini:
a. Menjalankan shalat dan keharusan-keharusannya yang berupa; mendirikannya, menjaganya, khusyu’, khudhur dan melanggengkannya. Sungguh shalat bisa menghilangkan kotoran-kotoran hati.
b. Memperbanyak bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam karena shalawat bisa menambal keretakan hati.
c. Membaca Alqur’an karena membaca Alqur’an bisa membersihkan karat-karat hati
d. Merutinkan wirid-wirid dan dzikir-dzikir serta menghadiri majlis-majlis dzikir yang di antaranya adalah majlis ilmu.
e. Menetapi Istighfar. Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah mengatakan: [Carilah hatimu dalam tiga suasana; ketika mendengarkan Alqur’an, dalam majlis-majlis dzikir dan dalam waktu-waktu khalwah. Jika kamu tidak menemukkannya dalam suasana-suasana ini maka memohonlah kepada Allah agar menganugerahkan hati kepadamu karena kamu sama sekali tidak memiliki hati]
Ada do’a-do’a ma’tsur yang menjadi dalil adanya peluang merubah akhlak yang tercela seperti berikut:
1. “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon perlindunganMu dari kejahatan diriku dan dari kejahatan seluruh binatang melata yang ubun-ubunya ada dalam genggamanMu . sesungguhnya Tuhanku berada pada jalan yang lurus”
2. “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon perlindunganMu dari akhlak yang mungkar, menuruti keinginan nafsu dan dari berbagai penyakit”http://www.blogger.com/img/blank.gif
3. “Ya Allah, tunjukkanlah diriku akan akhlak yang baik karena tidak ada yang menunjukkan akan akhlak yang baik kecuali Engkau. Hindarkanlah keburukan akhlak dariku. Karena tak ada yang menghindarkannya dariku kecuali Engkau”
=والله يتولى الجميع برعايته=
Audio Offline Tausiah 8 Januari 2012 / Muharram 1433
Download Tausiah 8 Januari 2012 / Muharram 1433
Nov 30, 2011
[...تَكُنْ مُهَاجِرًا] Anda Harus Berhijrah!
Tausiah Bulan Desember 2011 / Muharram 1433 H
بسم الله الرحمن الرحيم
[...تَكُنْ مُهَاجِرًا]
يَرَى الْمُسْلِمُ الْوَاعِى دُرُوْسًا وَافِرَةً مِنَ الْهِجْرَةِ النَّّبَوِيَّةِ يَعْتَبِرُهَا بِإِضَافَةِ مَا لَهَا مِنْ ثَمَرَاتٍ ِلأَنَّ الْهِجْرَةَ فِى الْحَقِيْقَةِ هِيَ مِنْ مَدْرَسَةِ اْلإِيْمَانِ وَمِنْ تِلْكَ الثَّمَرَاتِ أَنْ عَمَّرَ اللهُ تَعَالَى لِخَلِيْلِهِ إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ أَشْرَفَ بُقْعَةٍ بِأَشْرَفِ ذُرِّيَّةٍ وَأَحْيَا أَفْضَلَ وَادٍ غَيْرَ ذِي زَرْعٍ بِأَفْضَلِ مَاءٍ وَأَقَامَ أَعْظَمَ شَعَائِرِهِ وَهِيَ الصَّلاَةُ فِى أَجَلِّ مَشَاعِرِهِ وَرَفَعَ قَوَاعِدَ أَوَّلِ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ وَجَعَلَهُ لِسَانَ صِدْقٍ فِى اْلآخِرِيْنَ وَأَظْهَرَهُ عَلَى مَنَاسِكِ الْحَجِّ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَغَيْرَ ذَلِكَ .
وَهَكَذَا كَانَتِ الْهِجْرَةُ النَّبَوِيَّةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ الَّتِي كَانَتْ مِنْ ثَمَرَاتِهَا الطَّيِّبَةِ كُلُّ خَيْرٍ أَصَابَهُ الْمُسْلِمُوْنَ وَكُلُّ عِـزٍّ أَدْرَكُوْهُ وَكُلُّ سَعْدٍ نَالُوْهُ عَلَى مَرِّ الْعُصُوْرِ , فَلَقَدِ انْتَشَرَ نُوْرُ اْلإِسْلاَمِ – الَّذِى بِهِ صَلاَحُ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ – وَقَامَتْ دَوْلَـتُهُ الَّتِى فَتَحَ اللهُ بِهَا مَكَّةَ وَانْتَشَرَ تَعَالِيْمُهُ فِى الْعَالَمِ بَعْدُ بِالْفُتُوْحَاتِ اْلإِسْلاَمِيَّةِ وَهِيَ بِلاَ شَكٍّ تَخْتَلِفُ فِى مَظْهَرِهَا وَنَتَائِجِهَا عَنْ هِجْرَةِ إِخْوَانِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ السَّابِقِيْنَ وِفْقَ رِسَالَتِهِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ .
ثُمَّ وَسَّعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَفْهُوْمَ الْهِجْرَةِ حَيْثُ يَشْمَلُ الْهِجْرَةَ عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ بِتَرْكِ الْمَعَاصِى وَالْمُخَالَفَاتِ قَائِلاً لِفُدَيْكٍ أَحَدُ الصَّحَابَةِ (( يَافُدَيْكُ أَقِمِ الصَّلاَةَ وَآتِ الزَّكَاةَ وَاهْجُرِ السُّوْءَ وَاسْكُنْ مِنْ أَرْضِ قَوْمِكَ حَيْثُ شِئْتَ تَكُنْ مُهَاجِرًا)) رَوَاهُ الْبَغَوِى وَابْنُ مَنْدَهْ وَأَبُوْ نُعَيْمٍ . (كَنْـزُ الْعُمَّالِ 8/3031, الْقُدْوَةُ الْحَسَنَةُ لأبوي ص 42)
لِمَاذَا؟ لِمَا قِيْلَ : (زَمَانٌ كَأَهْلِهِ وَأَهْلُهُ كَمَا تَرَي) وَأَهْلُ هَذَا الزَّمَانِ قَدْ تَحَقَّقَ مَا وَقَعَ بِهِمْ مَا أَشَارَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ تَغَيُّرِهِمْ عَنْ طَرِيْقَتِهِمِ الْجَادَّةِ لِفِتْـنَةٍ دَاهَمَتْهُمْ كَمَا جَاءَ ذَلِكَ فِى عِدَّةٍ مِنْ أَحَادِيْثِهِ الشَّرِيْفَةِ كَمَا يَلِيْ:
1. حَدِيْثُ رَفْعِ اْلأَمَانَةِ عِنْدَ التِّرْمِذِى رَقْمُ 2270 إِلَى أَنْ قَالَ : ((...فَيُصْبِحُ النَّاسُ يَتَبَايَعُوْنَ لاَ يَكَادُ أَحَدُهُمْ يُؤَدِّي اْلأَمَانَةَ حَتَّى يُقَالَ إِنَّ فِى بَنِي فُلاَنٍ رَجُلاً أَمِيْنًا وَحَتَّى يُقَالَ لِلرَّجُلِ مَا أَجْلَدَهُ وَأَظْرَفَهُ وَأَعْقَلَهُ وَمَا فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ _ الحديث))
وَحَاصِلُهُ : أَنَّهُمْ يَمْدَحُوْنَهُ بِكَثْرَةِ الْعَقْلِ وَالظَّرَافَةِ وَالْجَلاَدَةِ وَيَتَعَجَّبُوْنَ مِنْهُ وَلاَ يَمْدَحُوْنَ أَحَدًا بِكَثْرَةِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ .
2. ("لَتَـتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ" قَالُوْا : الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ : فمن؟ ) رَوَاهُ الْبُخَارِى عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه . وَرَوَاهُ الْحَاكِمُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَفِى آخِرِهِ "وَحَتَّى لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ جَامَعَ امْرَأَتَهُ فِى الطَّرِيْقِ لَفَعَلْتُمُوْهُ " قَالَ الْمُنَاوِي : إِسْنَادُهُ صَحِيْحٌ . وَقَالَ النَّوَوِى:الْمُرَادُ الْمُوَافَقَةُ فِى الْمَعَاصِى وَالْمُخَالَفَاتِ لاَ فِى الْكُفْرِ .(تحفة الأحوذى 6/408)
3. ("لَتَنْقُضُنَّ عُرَى اْلإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيْهَا فَأَوَّلُهُنَّ الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ") رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ حِبَّان وَالْحَاكِمُ (الجامع الصغير 2/123) .
4. ("يَكُوْنُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنٌ كَقِطَعِ اللَيْلِ الْمُظْلِمِ") رَوَاهُ ابْنُ مَاجَة (كنوز الحقائق للمناوى هامش الجامع الصغير2/203)
5.("يُوْشِكُ اْلإِسْلاَمُ أَنْ يَدْرُسَ فَلاَ يَبْقَى إِلا َّاسْمُهُ ") رواه الديلمي فى الفردوس/ كنوز الحقائق للمناوى هامش الجامع الصغير2/203)
قَالَ الله تَعَالَى مُحَذِّرًا عَنِ الْوُقُوْعِ فِى هَذِهِ الْفِتَنِ بِقَوْلِهِ (...وَيُحَذِّرُكُمُ الله نَفْسَهُ وَاللهُ رَؤُوْفٌ بِالْعِبَادِ) آل عمران:30, مُوْصِيًا بِطَلَبِ الْمَخْرَجِ عَنْ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ (يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْا وَاتَّقُوا الله لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ) آل عمران آخر السورة:200.
=الله يتولى الجميع برعايته=
Anda Harus Berhijrah!
Seorang muslim yang terbina melihat ada banyak sekali pelajaran dari hijrah nabawiyyah selain memang dalam hijrah terdapat sekian banyak buah (manfaat) karena sebenarnya hijrah adalah madrasah keimanan. Di antara buahnya ialah Allah menyemarakkan untuk kekasihNya Nabi Ibrahim alaihissalam, tanah suci dengan anak keturunan yang mulia (Rasulullah Saw), dan Dia menghidupkan lembah paling utama yang tidak ada tanaman (sama sekali) dengan air yang paling utama (Zam-zam), serta menegakkan syiar utamaNya yaitu shalat di tempat syiarnya yang paling mulia sekaligus meninggikan pilar-pilar rumah pertama yang diletakkan untuk manusia. Allah juga menjadikan Nabi Ibrahim sebagai orang yang selalu disebut dengan kebaikan (lisan shidiq) oleh generasi setelahnya (hingga sekarang) dan menampakkannya dalam manasik haji untuk kaum muslimin dll.
Begitulah hijrah nabawiyyah muhammadiyyah yang di antara buah indahnya adalah seluruh kebaikan yang didapatkan kaum muslimin dan seluruh kemuliaan yang mereka peroleh serta seluruh keberuntungan yang mereka capai sepanjang masa. Sungguh cahaya Islam – sebagai kunci kebaikan dunia dan akhirat - telah tersebar dan pemerintahannya telah beridiri sehingga Makkah bisa ditaklukkan dan sesudah itu ajaran-ajaran Islam tersebar luas di seluruh alam melalui penaklukkan-penaklukkan yang dilakukan Islam. Jadi sudah dipastikan bahwa hijrah nabawiyyah berbeda dengan hijrah saudara-saudara Beliau shallallahu alaihi wasallam yaitu para nabi yang lain yang terdahulu alaihimussalaam sesuai dengan risalah beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperluas pemahaman hijrah sehingga mencakup berhijrah dari sesuatu yang dilarang oleh Allah dengan meninggalkan maksiat dan sikap melawan kepada Allah. Beliau bersabda kepada salah seorang sahabat bernama Fudek: “Wahai Fudek, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, jauhilah keburukan dan tinggal-lah di manapun dari tanah kaum-mu, tentu kamu tetap menjadi seorang yang berhijrah!”” (HR Baghawi Ibnu Mandah Abu Nuaim/Kanzul Ummal 8/3031, al Qudwah al Hasanah hal 42)
Kenapa? Karena dikatakan: “Masa itu seperti pelakunya. Sedang pelakunya seperti anda saksikan”Ia, pelaku masa sekarang ini telah berada dalam kondisi seperti disabdakan Nabi shallallahu alaihi wasallam yaitu kondisi berubah dari jalur yang benar akibat terpaan badai fitnah yang begitu dahsyat sebagaimana diberitakan dalam hadits-hadits beliau di bawah ini;
1.Hadits hilangnya Amanah seperti dalam riwayat Imam Turmudzi;2270; ((....sehingga manusia lalu saling melakukan transaksi perdagangan di mana hampir tak ada seorangpun yang menunaikan amanat, sampai dikatakan “bahwa sesungguhnya di suku ini ada seorang yang bisa dipercaya” hingga mereka mengatakan; “Betapa teguh orang ini, betapa cerdas dan betapa berakal dirinya” padahal dalam hatinya tak ada sebiji sawipun keimanan...)) Artinya mereka memujinya sebagai banyak memiliki akal, kecerdasan dan keteguhan serta mengidolakannya. Sementara mereka sama sekali tidak memuji seorangpun karena banyak memiliki ilmu yang bermanfaat dan melakukan amal shaleh.
2. “Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sehingga seandainya mereka memasuki lubang biawak niscaya kalian mengikuti mereka” Kami (para sahabat) bertanya; “Orang yahudi dan nashrani (yang anda maksudkan)?” Nabi Saw bersabda; “Lalu siapa (lagi)?”(HR Bukhari dari Abu Said al Khudri ra. Sedangkan Imam Hakim meriwayatkan hadits ini Ibnu Abbas ra di mana dalam akhir teks hadits terdapat riwayat; “...dan sampai andaikan salah seorang mereka mengumpuli isteri di jalan niscaya kalian juga melakukannya” Imam al Munawi mengatakan bahwa hadits riwayat Hakim ini bersanad shahih. Imam Nawawi mengatakan:[Maksudnya adalah menyamai mereka dalam hal kemaksiatan dan pelanggaran, bukan dalam kekafiran]( Tuhfatul Ahwadzi 6/408)
3.”Sungguh kalian akan melepaskan kancing-kancing islam satu persatu. Setiap kali satu kancing terlepas maka manusia beralih kepada kancing berikutnya; pertama dari kancing (yang dilepaskan) itu adalah hukum (daulah islamiyyah) dan yang akhir adalah shalat” (HR Ahmad Ibnu Hibban Hakim/ al jami’ as shaghir 2:203)
4.”Akan ada sebelum kiamat, fitnah-fitnah seperti potongan-potongan gelap malam”(HR Ibnu Majah/ Kunuzul Haqaiq Lil Munawi((Hamisy al jami’ ash shaghir2/203))
5. “Hampir saja Islam musnah sehingga tidak tersisa kecuali namanya” (HR Dailami falam Musnadul Firdaus/ Kunuzul Haqaiq Lil Munawi((Hamisy al jami’ ash shaghir2/203))
Allah ta’alaa memberikan peringatan agar tidak terjatuh dalam fitnah-fitnah ini dengan firmanNya; “Dan Allah memperingatkan kalian akan siksaNya. Dan Allah sangat sayang kepada para hambaNya “QS Ali Imran:30, seraya berwasiat supaya mencari jalan keluar dari hal tersebut; “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, tabahkanlah diri (bergaul dengan sesama), masuklah dalam jaringan (jamaah) dan bertaqwalah supaya meraih keberuntungan “QS Ali Imran (akhir surat):200)
=الله يتولى الجميع برعايته=
NB:
Format Audio menyusul.
بسم الله الرحمن الرحيم
[...تَكُنْ مُهَاجِرًا]
يَرَى الْمُسْلِمُ الْوَاعِى دُرُوْسًا وَافِرَةً مِنَ الْهِجْرَةِ النَّّبَوِيَّةِ يَعْتَبِرُهَا بِإِضَافَةِ مَا لَهَا مِنْ ثَمَرَاتٍ ِلأَنَّ الْهِجْرَةَ فِى الْحَقِيْقَةِ هِيَ مِنْ مَدْرَسَةِ اْلإِيْمَانِ وَمِنْ تِلْكَ الثَّمَرَاتِ أَنْ عَمَّرَ اللهُ تَعَالَى لِخَلِيْلِهِ إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ أَشْرَفَ بُقْعَةٍ بِأَشْرَفِ ذُرِّيَّةٍ وَأَحْيَا أَفْضَلَ وَادٍ غَيْرَ ذِي زَرْعٍ بِأَفْضَلِ مَاءٍ وَأَقَامَ أَعْظَمَ شَعَائِرِهِ وَهِيَ الصَّلاَةُ فِى أَجَلِّ مَشَاعِرِهِ وَرَفَعَ قَوَاعِدَ أَوَّلِ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ وَجَعَلَهُ لِسَانَ صِدْقٍ فِى اْلآخِرِيْنَ وَأَظْهَرَهُ عَلَى مَنَاسِكِ الْحَجِّ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَغَيْرَ ذَلِكَ .
وَهَكَذَا كَانَتِ الْهِجْرَةُ النَّبَوِيَّةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ الَّتِي كَانَتْ مِنْ ثَمَرَاتِهَا الطَّيِّبَةِ كُلُّ خَيْرٍ أَصَابَهُ الْمُسْلِمُوْنَ وَكُلُّ عِـزٍّ أَدْرَكُوْهُ وَكُلُّ سَعْدٍ نَالُوْهُ عَلَى مَرِّ الْعُصُوْرِ , فَلَقَدِ انْتَشَرَ نُوْرُ اْلإِسْلاَمِ – الَّذِى بِهِ صَلاَحُ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ – وَقَامَتْ دَوْلَـتُهُ الَّتِى فَتَحَ اللهُ بِهَا مَكَّةَ وَانْتَشَرَ تَعَالِيْمُهُ فِى الْعَالَمِ بَعْدُ بِالْفُتُوْحَاتِ اْلإِسْلاَمِيَّةِ وَهِيَ بِلاَ شَكٍّ تَخْتَلِفُ فِى مَظْهَرِهَا وَنَتَائِجِهَا عَنْ هِجْرَةِ إِخْوَانِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ السَّابِقِيْنَ وِفْقَ رِسَالَتِهِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ .
ثُمَّ وَسَّعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَفْهُوْمَ الْهِجْرَةِ حَيْثُ يَشْمَلُ الْهِجْرَةَ عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ بِتَرْكِ الْمَعَاصِى وَالْمُخَالَفَاتِ قَائِلاً لِفُدَيْكٍ أَحَدُ الصَّحَابَةِ (( يَافُدَيْكُ أَقِمِ الصَّلاَةَ وَآتِ الزَّكَاةَ وَاهْجُرِ السُّوْءَ وَاسْكُنْ مِنْ أَرْضِ قَوْمِكَ حَيْثُ شِئْتَ تَكُنْ مُهَاجِرًا)) رَوَاهُ الْبَغَوِى وَابْنُ مَنْدَهْ وَأَبُوْ نُعَيْمٍ . (كَنْـزُ الْعُمَّالِ 8/3031, الْقُدْوَةُ الْحَسَنَةُ لأبوي ص 42)
لِمَاذَا؟ لِمَا قِيْلَ : (زَمَانٌ كَأَهْلِهِ وَأَهْلُهُ كَمَا تَرَي) وَأَهْلُ هَذَا الزَّمَانِ قَدْ تَحَقَّقَ مَا وَقَعَ بِهِمْ مَا أَشَارَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ تَغَيُّرِهِمْ عَنْ طَرِيْقَتِهِمِ الْجَادَّةِ لِفِتْـنَةٍ دَاهَمَتْهُمْ كَمَا جَاءَ ذَلِكَ فِى عِدَّةٍ مِنْ أَحَادِيْثِهِ الشَّرِيْفَةِ كَمَا يَلِيْ:
1. حَدِيْثُ رَفْعِ اْلأَمَانَةِ عِنْدَ التِّرْمِذِى رَقْمُ 2270 إِلَى أَنْ قَالَ : ((...فَيُصْبِحُ النَّاسُ يَتَبَايَعُوْنَ لاَ يَكَادُ أَحَدُهُمْ يُؤَدِّي اْلأَمَانَةَ حَتَّى يُقَالَ إِنَّ فِى بَنِي فُلاَنٍ رَجُلاً أَمِيْنًا وَحَتَّى يُقَالَ لِلرَّجُلِ مَا أَجْلَدَهُ وَأَظْرَفَهُ وَأَعْقَلَهُ وَمَا فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ _ الحديث))
وَحَاصِلُهُ : أَنَّهُمْ يَمْدَحُوْنَهُ بِكَثْرَةِ الْعَقْلِ وَالظَّرَافَةِ وَالْجَلاَدَةِ وَيَتَعَجَّبُوْنَ مِنْهُ وَلاَ يَمْدَحُوْنَ أَحَدًا بِكَثْرَةِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ .
2. ("لَتَـتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ" قَالُوْا : الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ : فمن؟ ) رَوَاهُ الْبُخَارِى عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه . وَرَوَاهُ الْحَاكِمُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَفِى آخِرِهِ "وَحَتَّى لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ جَامَعَ امْرَأَتَهُ فِى الطَّرِيْقِ لَفَعَلْتُمُوْهُ " قَالَ الْمُنَاوِي : إِسْنَادُهُ صَحِيْحٌ . وَقَالَ النَّوَوِى:الْمُرَادُ الْمُوَافَقَةُ فِى الْمَعَاصِى وَالْمُخَالَفَاتِ لاَ فِى الْكُفْرِ .(تحفة الأحوذى 6/408)
3. ("لَتَنْقُضُنَّ عُرَى اْلإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيْهَا فَأَوَّلُهُنَّ الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ") رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ حِبَّان وَالْحَاكِمُ (الجامع الصغير 2/123) .
4. ("يَكُوْنُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنٌ كَقِطَعِ اللَيْلِ الْمُظْلِمِ") رَوَاهُ ابْنُ مَاجَة (كنوز الحقائق للمناوى هامش الجامع الصغير2/203)
5.("يُوْشِكُ اْلإِسْلاَمُ أَنْ يَدْرُسَ فَلاَ يَبْقَى إِلا َّاسْمُهُ ") رواه الديلمي فى الفردوس/ كنوز الحقائق للمناوى هامش الجامع الصغير2/203)
قَالَ الله تَعَالَى مُحَذِّرًا عَنِ الْوُقُوْعِ فِى هَذِهِ الْفِتَنِ بِقَوْلِهِ (...وَيُحَذِّرُكُمُ الله نَفْسَهُ وَاللهُ رَؤُوْفٌ بِالْعِبَادِ) آل عمران:30, مُوْصِيًا بِطَلَبِ الْمَخْرَجِ عَنْ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ (يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْا وَاتَّقُوا الله لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ) آل عمران آخر السورة:200.
=الله يتولى الجميع برعايته=
Anda Harus Berhijrah!
Seorang muslim yang terbina melihat ada banyak sekali pelajaran dari hijrah nabawiyyah selain memang dalam hijrah terdapat sekian banyak buah (manfaat) karena sebenarnya hijrah adalah madrasah keimanan. Di antara buahnya ialah Allah menyemarakkan untuk kekasihNya Nabi Ibrahim alaihissalam, tanah suci dengan anak keturunan yang mulia (Rasulullah Saw), dan Dia menghidupkan lembah paling utama yang tidak ada tanaman (sama sekali) dengan air yang paling utama (Zam-zam), serta menegakkan syiar utamaNya yaitu shalat di tempat syiarnya yang paling mulia sekaligus meninggikan pilar-pilar rumah pertama yang diletakkan untuk manusia. Allah juga menjadikan Nabi Ibrahim sebagai orang yang selalu disebut dengan kebaikan (lisan shidiq) oleh generasi setelahnya (hingga sekarang) dan menampakkannya dalam manasik haji untuk kaum muslimin dll.
Begitulah hijrah nabawiyyah muhammadiyyah yang di antara buah indahnya adalah seluruh kebaikan yang didapatkan kaum muslimin dan seluruh kemuliaan yang mereka peroleh serta seluruh keberuntungan yang mereka capai sepanjang masa. Sungguh cahaya Islam – sebagai kunci kebaikan dunia dan akhirat - telah tersebar dan pemerintahannya telah beridiri sehingga Makkah bisa ditaklukkan dan sesudah itu ajaran-ajaran Islam tersebar luas di seluruh alam melalui penaklukkan-penaklukkan yang dilakukan Islam. Jadi sudah dipastikan bahwa hijrah nabawiyyah berbeda dengan hijrah saudara-saudara Beliau shallallahu alaihi wasallam yaitu para nabi yang lain yang terdahulu alaihimussalaam sesuai dengan risalah beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperluas pemahaman hijrah sehingga mencakup berhijrah dari sesuatu yang dilarang oleh Allah dengan meninggalkan maksiat dan sikap melawan kepada Allah. Beliau bersabda kepada salah seorang sahabat bernama Fudek: “Wahai Fudek, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, jauhilah keburukan dan tinggal-lah di manapun dari tanah kaum-mu, tentu kamu tetap menjadi seorang yang berhijrah!”” (HR Baghawi Ibnu Mandah Abu Nuaim/Kanzul Ummal 8/3031, al Qudwah al Hasanah hal 42)
Kenapa? Karena dikatakan: “Masa itu seperti pelakunya. Sedang pelakunya seperti anda saksikan”Ia, pelaku masa sekarang ini telah berada dalam kondisi seperti disabdakan Nabi shallallahu alaihi wasallam yaitu kondisi berubah dari jalur yang benar akibat terpaan badai fitnah yang begitu dahsyat sebagaimana diberitakan dalam hadits-hadits beliau di bawah ini;
1.Hadits hilangnya Amanah seperti dalam riwayat Imam Turmudzi;2270; ((....sehingga manusia lalu saling melakukan transaksi perdagangan di mana hampir tak ada seorangpun yang menunaikan amanat, sampai dikatakan “bahwa sesungguhnya di suku ini ada seorang yang bisa dipercaya” hingga mereka mengatakan; “Betapa teguh orang ini, betapa cerdas dan betapa berakal dirinya” padahal dalam hatinya tak ada sebiji sawipun keimanan...)) Artinya mereka memujinya sebagai banyak memiliki akal, kecerdasan dan keteguhan serta mengidolakannya. Sementara mereka sama sekali tidak memuji seorangpun karena banyak memiliki ilmu yang bermanfaat dan melakukan amal shaleh.
2. “Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sehingga seandainya mereka memasuki lubang biawak niscaya kalian mengikuti mereka” Kami (para sahabat) bertanya; “Orang yahudi dan nashrani (yang anda maksudkan)?” Nabi Saw bersabda; “Lalu siapa (lagi)?”(HR Bukhari dari Abu Said al Khudri ra. Sedangkan Imam Hakim meriwayatkan hadits ini Ibnu Abbas ra di mana dalam akhir teks hadits terdapat riwayat; “...dan sampai andaikan salah seorang mereka mengumpuli isteri di jalan niscaya kalian juga melakukannya” Imam al Munawi mengatakan bahwa hadits riwayat Hakim ini bersanad shahih. Imam Nawawi mengatakan:[Maksudnya adalah menyamai mereka dalam hal kemaksiatan dan pelanggaran, bukan dalam kekafiran]( Tuhfatul Ahwadzi 6/408)
3.”Sungguh kalian akan melepaskan kancing-kancing islam satu persatu. Setiap kali satu kancing terlepas maka manusia beralih kepada kancing berikutnya; pertama dari kancing (yang dilepaskan) itu adalah hukum (daulah islamiyyah) dan yang akhir adalah shalat” (HR Ahmad Ibnu Hibban Hakim/ al jami’ as shaghir 2:203)
4.”Akan ada sebelum kiamat, fitnah-fitnah seperti potongan-potongan gelap malam”(HR Ibnu Majah/ Kunuzul Haqaiq Lil Munawi((Hamisy al jami’ ash shaghir2/203))
5. “Hampir saja Islam musnah sehingga tidak tersisa kecuali namanya” (HR Dailami falam Musnadul Firdaus/ Kunuzul Haqaiq Lil Munawi((Hamisy al jami’ ash shaghir2/203))
Allah ta’alaa memberikan peringatan agar tidak terjatuh dalam fitnah-fitnah ini dengan firmanNya; “Dan Allah memperingatkan kalian akan siksaNya. Dan Allah sangat sayang kepada para hambaNya “QS Ali Imran:30, seraya berwasiat supaya mencari jalan keluar dari hal tersebut; “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, tabahkanlah diri (bergaul dengan sesama), masuklah dalam jaringan (jamaah) dan bertaqwalah supaya meraih keberuntungan “QS Ali Imran (akhir surat):200)
=الله يتولى الجميع برعايته=
NB:
Format Audio menyusul.
Nov 12, 2011
Dengan Cara Apa Anda Ber-shuhbah?
Tausiyah Bulan Oktober 2011
Dzunnun Al Mishri berkata: [Jangan berteman akrab menuju Allah kecuali dengan pandangan yang sama. Jangan berteman dengan akran (bershuhbah) dengan makhluk kecuali dengan saling menasehati. Jangan bershuhbah dengan nafsu kecuali dengan perlawanan. Jangan bershuhbah dengan setan kecuali dengan permusuhan] tanwiirul Adzhaan:1/271.
1) Bershuhbah Bersama Menuju Allah
Allah ta’alaa berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.“QS Ali Imran:118.
Sungguh telah dikatakan: “Jangan tertipu performa manusia sebelum kamu mengerti hakikat dirinya”.
Juga dikatakan: “Sesungguhnya orang-orang itu laksana kotak-kotak terkunci. Dan tiada kunci-kuncinya kecuali sekian banyak uji coba”
2) Bershuhbah dengan Manusia dengan
Saling Menasehati dan Menabahkan Diri
Allah ta’alaa berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.“QS al Ashr:1-3.
Allah ta’alaa berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan berjejaringlah serta bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.“QS Ali Imran:200.
Dikatakan:
Bersabarlah atas kepedihan karena orang yang iri hati, karena kesabaranmu pasti akan membunuhnya.
Sungguh api akan memakan dirinya sendiri apabila tidak menemukan sesuatu yang dimakannya.
3) Bershuhbah dengan Nafsu dengan Perlawanan (Sehingga menjadi Lawwamah lalu Muthmainnah)
Allah ta’alaa berfirman: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.“QS Yusuf:53.
Yang selalu menyuruh kepada kejahatan adalah salah satu jenis nafsu. Di antara jenis yang lain ialah al lawwaamah, yaitu yang senantiasa dan seringkali mengkritisi dirinya ketika terjatuh dalam kemaksiatan.
Di antara jenis nafsu lainnya adalah al muthma’innah yang disebutkan Allah dalam firmanNya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku. masuklah ke dalam syurga-Ku” QS al Fajr: 27-30. Nafsu jenis ini merasa tentram dengan keimanan dan pembenaran sepenuhnya akan janji Allah ta’alaa. Nafsu jenis selamanya mendapatkan pertolongan menuju ketaatan dan membenarkan pertemuan dengan Allah ta’aalaa.
Dalam Burdah-nya, Imam al Bushiri mengatakan:
= Nafsu itu seperti anak kecil yang jika kamu membiarkannya maka ia akan tumbuh dewasa dengan tetap suka menyusu (kepada ibunya). Tetapi jika kamu menyapihnya maka iapun bisa tersapih.
= Maka alihkanlah keinginan nafsu dan waspadalah jangan sampai memberinya kuasa, sebab sungguh selama hawa nafsu berkuasa niscaya ia bisa mematikan atau membuat kerusakan(menimbulkan kecacatan)
Nafsu lebih berbahaya daripada setan karena ia musuh dalam rupa seorang teman. Sementara manusia tidak pernah mewaspadai rekayasa teman sendiri. Jadi nafsu adalah musuh dalam selimut.
4)Bershuhbah dengan Setan dengan Permusuhan
Allah ta’alaa berfirman: ” Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala“QS Fathir:6.
Lihatlah apa yang dilakukan setan terhadap ayah kita Nabi Adam alaihissalaam dan isterinya Hawwa’.Ia telah bersumpah sesungguhnya ia bermaksud baik kepada keduanya sebagaimana difirmankan Allah: “Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua",QS al A’raaf:21. lalu bagaimana terhadap kita? padahal terhadap kita ia telah bersumpah, seperti difirmankan Allah: “Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". “QS al Hijr:39-40.
Karena itulah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam memberikan peringatan kepada kita akan rekayasa setan dalam khutbah beliau ketika hajjatul wada’. Beliau bersabda:
“Ingat, sesungguhnya setan telah berputus asa untuk bisa disembah di negeri-negeri kalian ini selamanya. Tetapi akan ada ketaatan kepadanya dalam amal-amal yang kalian anggap remeh sampai akhirnya setan pun rela dengan hal itu”(HR Turmudzi/2248)
Dalam riwayat lain:
“Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk bisa disembah oleh orang-orang yang shalat, tetapi (ia masih berharap) membenturkan di antara mereka”(HR Ahmad Muslim Turmudzi dari Jabir ra/al Jami’ As Shaghiir:1/82)
Dalam kitabnya, Bustanul Waa’izhiin Wa Riyadhus Saami’iin hal 13, Ibnul Jauzi menyebutkan riwayat dari Nabi Muhammad Saw bahwa sesungguhnya beliau saat hajjatul wada’ berkhutbah:
“Wahai manusia, sesungguhnya aku mengharapkan kebaikan untuk kalian dan lagi bisa dipercaya. Ingat sesungguhnya Iblis telah berputus asa dari kalian. Akan tetapi demi Dzat yang mengutusku dengan hak, Iblis, semoga Allah melaknatnya, pasti akan menjadikan kalian menyembah seribu tuhan. Seseorang menyembah untanya, orang lain menyembah isterinya, orang lain menyembah kambingnya, orang lain menyembah tanaman pertaniannya, orang lain menyembah perdagangan (bisnisnya), orang lain menyembah hasil karyanya, orang lain menyembah kendaraannya, dan orang lain menyembah temannya. Seseorang bertanya kepada yang lain: “Bagaimana keadaanmu?” maka temannya menjawab: “Jika bukan karena perdaganganku maka tak ada keadaan (menyenangkan) bagiku”. Ia berkata: “Andai bukan karena pertanianku” orang lain berkata: “Andai bukan karena isteriku” orang lain berkata: “Andai bukan karena kendaraanku” orang lain berkata: “Andai bukan karena temanku” sehingga setan melalaikannya dari mengingat Tuhannya dan membuatnya kepayahan dalam urusan dunianya serta memutuskannya dari Akhiratnya_....”
Hadits tersebut sejalan dengan firman Allah: “...dan tidaklah melupakan aku untuk melakukan hal itu kecuali setan... “QS al Kahfi:63.
Benar, Allah ta’aalaa berfirman: “...dan sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan lemah”QS An Nisa’: 28. Dalam ayat lain: “...sesungguhnya rekayasa setan itu lemah “QS An Nisa’:76. Adalah dua hal yang lemah jika bertarung maka masing-masing keduanya tidak memiliki penolong untuk bisa mengalahkan lawannya. Lalu Allah memerintahkan manusia yang lemah agar memohon pertolongan kepada Tuhannya yang Maha Lembut dari rekayasa musuhnya yang lemah agar Dia Memberinya perlindungan dan pertolongan untuk bisa mengalahkan musuh dengan selalu berdzikir kepadaNya sebagaimana dikatakan:
=Seorang hamba senantiasa dalam lindungan dan penjagaan Allah
dari setiap setan yang sesat dan lalai
=Jika ia memohon perlindungan kepada Sang Maha Pengasih di waktu paginya dan begitu pula di waktu sorenya dengan berdzikir kepada Allah.
والله يتولى الجميع برعايته==
NB:
Format Audio Tausiyah Bulan Oktober 2011 segera menyusul. Admin.
Dzunnun Al Mishri berkata: [Jangan berteman akrab menuju Allah kecuali dengan pandangan yang sama. Jangan berteman dengan akran (bershuhbah) dengan makhluk kecuali dengan saling menasehati. Jangan bershuhbah dengan nafsu kecuali dengan perlawanan. Jangan bershuhbah dengan setan kecuali dengan permusuhan] tanwiirul Adzhaan:1/271.
1) Bershuhbah Bersama Menuju Allah
Allah ta’alaa berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.“QS Ali Imran:118.
Sungguh telah dikatakan: “Jangan tertipu performa manusia sebelum kamu mengerti hakikat dirinya”.
Juga dikatakan: “Sesungguhnya orang-orang itu laksana kotak-kotak terkunci. Dan tiada kunci-kuncinya kecuali sekian banyak uji coba”
2) Bershuhbah dengan Manusia dengan
Saling Menasehati dan Menabahkan Diri
Allah ta’alaa berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.“QS al Ashr:1-3.
Allah ta’alaa berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan berjejaringlah serta bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.“QS Ali Imran:200.
Dikatakan:
Bersabarlah atas kepedihan karena orang yang iri hati, karena kesabaranmu pasti akan membunuhnya.
Sungguh api akan memakan dirinya sendiri apabila tidak menemukan sesuatu yang dimakannya.
3) Bershuhbah dengan Nafsu dengan Perlawanan (Sehingga menjadi Lawwamah lalu Muthmainnah)
Allah ta’alaa berfirman: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.“QS Yusuf:53.
Yang selalu menyuruh kepada kejahatan adalah salah satu jenis nafsu. Di antara jenis yang lain ialah al lawwaamah, yaitu yang senantiasa dan seringkali mengkritisi dirinya ketika terjatuh dalam kemaksiatan.
Di antara jenis nafsu lainnya adalah al muthma’innah yang disebutkan Allah dalam firmanNya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku. masuklah ke dalam syurga-Ku” QS al Fajr: 27-30. Nafsu jenis ini merasa tentram dengan keimanan dan pembenaran sepenuhnya akan janji Allah ta’alaa. Nafsu jenis selamanya mendapatkan pertolongan menuju ketaatan dan membenarkan pertemuan dengan Allah ta’aalaa.
Dalam Burdah-nya, Imam al Bushiri mengatakan:
= Nafsu itu seperti anak kecil yang jika kamu membiarkannya maka ia akan tumbuh dewasa dengan tetap suka menyusu (kepada ibunya). Tetapi jika kamu menyapihnya maka iapun bisa tersapih.
= Maka alihkanlah keinginan nafsu dan waspadalah jangan sampai memberinya kuasa, sebab sungguh selama hawa nafsu berkuasa niscaya ia bisa mematikan atau membuat kerusakan(menimbulkan kecacatan)
Nafsu lebih berbahaya daripada setan karena ia musuh dalam rupa seorang teman. Sementara manusia tidak pernah mewaspadai rekayasa teman sendiri. Jadi nafsu adalah musuh dalam selimut.
4)Bershuhbah dengan Setan dengan Permusuhan
Allah ta’alaa berfirman: ” Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala“QS Fathir:6.
Lihatlah apa yang dilakukan setan terhadap ayah kita Nabi Adam alaihissalaam dan isterinya Hawwa’.Ia telah bersumpah sesungguhnya ia bermaksud baik kepada keduanya sebagaimana difirmankan Allah: “Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua",QS al A’raaf:21. lalu bagaimana terhadap kita? padahal terhadap kita ia telah bersumpah, seperti difirmankan Allah: “Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". “QS al Hijr:39-40.
Karena itulah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam memberikan peringatan kepada kita akan rekayasa setan dalam khutbah beliau ketika hajjatul wada’. Beliau bersabda:
“Ingat, sesungguhnya setan telah berputus asa untuk bisa disembah di negeri-negeri kalian ini selamanya. Tetapi akan ada ketaatan kepadanya dalam amal-amal yang kalian anggap remeh sampai akhirnya setan pun rela dengan hal itu”(HR Turmudzi/2248)
Dalam riwayat lain:
“Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk bisa disembah oleh orang-orang yang shalat, tetapi (ia masih berharap) membenturkan di antara mereka”(HR Ahmad Muslim Turmudzi dari Jabir ra/al Jami’ As Shaghiir:1/82)
Dalam kitabnya, Bustanul Waa’izhiin Wa Riyadhus Saami’iin hal 13, Ibnul Jauzi menyebutkan riwayat dari Nabi Muhammad Saw bahwa sesungguhnya beliau saat hajjatul wada’ berkhutbah:
“Wahai manusia, sesungguhnya aku mengharapkan kebaikan untuk kalian dan lagi bisa dipercaya. Ingat sesungguhnya Iblis telah berputus asa dari kalian. Akan tetapi demi Dzat yang mengutusku dengan hak, Iblis, semoga Allah melaknatnya, pasti akan menjadikan kalian menyembah seribu tuhan. Seseorang menyembah untanya, orang lain menyembah isterinya, orang lain menyembah kambingnya, orang lain menyembah tanaman pertaniannya, orang lain menyembah perdagangan (bisnisnya), orang lain menyembah hasil karyanya, orang lain menyembah kendaraannya, dan orang lain menyembah temannya. Seseorang bertanya kepada yang lain: “Bagaimana keadaanmu?” maka temannya menjawab: “Jika bukan karena perdaganganku maka tak ada keadaan (menyenangkan) bagiku”. Ia berkata: “Andai bukan karena pertanianku” orang lain berkata: “Andai bukan karena isteriku” orang lain berkata: “Andai bukan karena kendaraanku” orang lain berkata: “Andai bukan karena temanku” sehingga setan melalaikannya dari mengingat Tuhannya dan membuatnya kepayahan dalam urusan dunianya serta memutuskannya dari Akhiratnya_....”
Hadits tersebut sejalan dengan firman Allah: “...dan tidaklah melupakan aku untuk melakukan hal itu kecuali setan... “QS al Kahfi:63.
Benar, Allah ta’aalaa berfirman: “...dan sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan lemah”QS An Nisa’: 28. Dalam ayat lain: “...sesungguhnya rekayasa setan itu lemah “QS An Nisa’:76. Adalah dua hal yang lemah jika bertarung maka masing-masing keduanya tidak memiliki penolong untuk bisa mengalahkan lawannya. Lalu Allah memerintahkan manusia yang lemah agar memohon pertolongan kepada Tuhannya yang Maha Lembut dari rekayasa musuhnya yang lemah agar Dia Memberinya perlindungan dan pertolongan untuk bisa mengalahkan musuh dengan selalu berdzikir kepadaNya sebagaimana dikatakan:
=Seorang hamba senantiasa dalam lindungan dan penjagaan Allah
dari setiap setan yang sesat dan lalai
=Jika ia memohon perlindungan kepada Sang Maha Pengasih di waktu paginya dan begitu pula di waktu sorenya dengan berdzikir kepada Allah.
والله يتولى الجميع برعايته==
NB:
Format Audio Tausiyah Bulan Oktober 2011 segera menyusul. Admin.
Oct 8, 2011
E-book Panduan Praktis Haji Tamattu'
Bagi pembaca yang akan melaksanakan ibadah haji, ada baiknya membaca dan memiliki buku kecil ini "PANDUAN PRAKTIS HAJI TAMATTU'" karya Abina K.H.M. Ihya' Ulumiddin. Biar pun buku ini kecil, namun isinya lengkap dan dapat dipakai sebagai panduan hajhdan umroh. Buku ini di susun berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits Nabi saw sehingga tidak terlalu tebal, bila dibanding dengan buku panduan haji dan umroh yang dikeluarkan oleh Depag.
Buku ini juga dilengkapi dengan tambahan doa-doa yang didapat dipakai ketika pulang ibadah haji. Semoga buku kecil ini bermanfaat.
Admin.
Download
Buku ini juga dilengkapi dengan tambahan doa-doa yang didapat dipakai ketika pulang ibadah haji. Semoga buku kecil ini bermanfaat.
Admin.
Download
Subscribe to:
Posts (Atom)