Feb 10, 2009

Buah Iman dan Amal Shaleh

Di antara buah seseorang yang memadukan antara Iman dan Amal Shaleh adalah sebagai berikut:

1. Allah dan Kaum Beriman Mencintainya

Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, untuk mereka Allah Dzat Maha Pengasih akan Menjadikan kecintaan (dihati para hamba”. QS. Maryam: 96.

Dari Abdurahman bin Abi Laila, Ia berkata, “Abu Darda’ ra. Berkirim surat kepada Maslamah bin Mukhallad al Anshari Az Zurqi, wafat tahun 63 H, gubenur Mesir era Muawiyah ra.:

[Salam sejahtera atas Anda. Amma ba’du. Sesungguhnya jika seseorang hamba menjalankan ketaatan kepada Allah maka Allah pasti mencintainya. Ketika Allah telah mencintainya maka Dia akan menjadikan para hamba-Nya menjadi para pecintanya. Sesungguhnya jika seorang hamba melakukan kemaksiatan maka Allah pasti membencinya dan bila Allah membencinya niscaya Dia akan menjadikan para hamba-Nya ikut serta membencinya.] (Disebutkan oleh Imam Baihaqi dalam al Asma ‘wa Shifaat).

Agar buah ini dihasilkan, sebagian ahli makrifat memberikan petunjuk pentingnya seorang muslim yang terbina mewujudkan diri memasuki pintu ini dengan jiwa yang pemurah (Sakhawatnnafsi) hati yang bersih dari penyakit (Salamatus shadri), serta kasih sayang kepada umat (Rahmatul Ummah). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Kalian tidak pernah beriman sehingga kalian saling mengasihi”. Para sahabat bertanya, “Kita semua adalah manusia penyayang”. Beliau bersabda, “Sungguh bukanlah seperti kasih sayang salah seorang dari kalian kepada temannya, melainkan kasih sayang kepada sesama seluruhnya”. HR. Thabarani.


Sebagian ahli makrifat juga menjelaskan bahwa buah ini akan menampak ketika lima hal berikut telah terwujud, 1. setia (wafa’) pada janji, 2. menjaga dan mengindakan batasan-batasan, 3. rela dengan apa yang ada, 4. sabar akan sesuatu yang telah hilang, 5. Menurut pada Dzat yang disembah.

Hal ini karena dengan semua, disertai dengan ikhlas, shidiq, dan raghbah, ia telah berdiri dalam Maqam Ubudiyyah, sebuah maqam yang aktivitas dan tugas (wazhifah) Ahlul Iman. Apalagi jika ia telah sampai pada Maqam Ubuudah, maqam yang merupakan aktivitas dan tugas (wazhifah) Ahlul Ihsan, yaitu ketika ia telah sirna melupakan dirinya serta amal ketaatan yang dilakukannya. Allah berfirman, “Tetapi Allah-lah yang memberikan anugerah atas kalian karena Dia telah menunjukkan kalian kepada keimanan”. QS. Al Hujurat: 17. “Dan tidak-lah kamu melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar”. QS. Al Anfaal: 170.

Di bawah kedua maqam tersebut adalah Maqam Ibadah, yaitu ketaatan berupa menjalankan perintah dan meninggalkan larangan yang merupakan aktivitas dan tugas (wazhifah) Ahlul Islam.


2. Kehidupan yang Baik (al Hayah at Thayyibah)

Allah Ta’ala berfirman, “Barang siapa beramal shaleh baik lelaki atau perempuan dan dia seorang yang beriman maka sungguh niscaya Kami akan memberikannya kehidupan yang baik dan niscaya Kami akan memberikan balasan pahala yang lebih baik daripada yang telah mereka kerjakan”. QS. An Nahl: 97.

Al Hasan Al Basri berkata, “Kehidupan yang baik adalah Qana’ah”, atau dengan bahasa lain kekayaan hati. Said bin Juber dan Atha’ berkata, “Kehidupan yang baik adalah rizki yang halal”. Mujahid dan Qatadah berkata, “Kehidupan yang baik adalah surga karena surga adalah kehidupan tanpa kematian, kekayaan tanpa kemiskinan, sehat tanpa sakit, kekuasaan tidak pernah hancur, dan keberuntungan tanpa kesengsaraan”. Allah berfirman, “Dan Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai Balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan”. QS. As Sajdah: 17.



Maraji:
1. Kasyul Ghummah fi Isthina’il Ma’ruf wa Rahmatil Ummah, Abuya al Walid al Habib Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani.
2. al Manhajus Sawiy Syam Ushul Thariqah as Sâddâh Aali Bâ Alawi. Al Habib Zen bin Ibrahim bin Semith.

[]

Pelopor Kebaikan

Dihadapan sahabat, Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya kalian berada di zaman di mana seseorang meninggalkan sepersepuluh ajaran yang diperintahkan adalah rusak; Kemudian akan tiba suatu zaman di mana seseorang mengerjakan sepersepuluh ajaran yang diperintahkan adalah sukses". (HR. Tirmidzi dari Abi Hurairoh)

Hadits tersebut menunjukkan pada masa Nabi saw. tumbuh semangat tinggi di dalam mengerjakan kebaikan, sehingga disebutkan bahwa meninggalkan sepersepuluh dari ajaran agama sudah termasuk kerusakan. Memang, bagi sahabat mengamalkan 90% ajaran agama sudah termasuk hal yang tidak layak. Sementara di zaman lain, umat mengamalkan 10% sudah termasuk kesuksesan yang luar biasa. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada masa sahabat tumbuh persaingan (yang positif) untuk berlomba-lomba mengamalkan ajaran agama. Dengan adanya persaingan ini mereka terpacu untuk menjadi yang terdepan dalam kebaikan.


Gambaran sahabat yang demikian ini telah disebut di dalam Al Quran sebagai bagian dari umat Nabi Muhammad saw. yang bergelar Sabiqun bil Khairat (manusia yang berlomba-lomba dengan kebaikan). Allah swt. berfirman:

"Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Dhalimun linafsihi, Muqtashid, dan Sabiqun bil Khairat, dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar". (QS. Fathir: 32)

Kebaikan oleh para sahabat diterjemahkan dalam konteks yang sesuai dengan Syariat Islam, yakni menjadikan kebaikanitu sebagai sarana menuju Allah swt., menggapai surga-Nya, serta memperoleh ridha-Nya, sehingga tumbuh kemuliaan berIslam karena ajaran-ajarannya teramalkan. Sementara pada zaman ini konteks kebaikan tidak diamalkan, malah sering diterjemahkan dalam bentuk kegiatan yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Kalaupun sekedar tidak sesuai itu masih lumayan, sekarang yang lebih parah lagi, tumbuh dan berkembang upaya membalut keburukan di balik kegiatan keagamaan.

Dengan demikian, sedikit di zaman ini umat yang menjadi pelopor kebaikan, yang sering dijumpai adalah pelopor keburukan.

Para sahabat benar-benar pelopor kebaikan. Ketika Rasulullah saw. hendak ekspansi dakwah ke Khaibar dan akan menyerahkan kepemimpinan kepada orang yang mencintai Allah Dan Rasul-Nya, para sahabat berebutan. Sayidina Umar tidak pernah berambisi untuk menjadi pemimpin, namun demi untuk tujuan membuktikan Hubbulloh dan Hubburrasul ia siap bersaing dengan sahabat lainnya. Sementara Sayidina Ali Karramallohu Wajhahu yang sedang sakit, ketika ditunjuk mengibarkan bendera dakwah dakwah itu segera bangkit tanpa satu pun alasan tidak setuju keluar dari lisannya. Demikian pula ketika Rasulullah saw. bersabda pada saat perang Uhud: "Siapa yang mau menggunakan pedang ini?" Para sahabat berebutan mengangkat tangannya. "Siapakah yang mau menggunakan pedang ini sesuai dengan haknya?" dengan lincah tampillah Abu Dujanah merebut pedang itu untuk dipakai menebas leher-leher kaum musyrikin. (HR. Muslim)

Rabi'ah bin Ka'ab Al Aslamy sahabat yang selalu mendampingi Rasulullah baik diwaktu berpergian maupun dirumah pada suatu malam bersama Rasulullah. Di malam itu ia sungguh-sungguh melayani beliau dengan menyiapkan segala sesuatunya termasuk menyediakan air wudhu dan batu untuk istinja'. Atas pelayanan sahabatnya itu Rasulullah Sholallohu alahi wassalam merasa senang, sehingga beliau bersabda, "Mintalah kepadaku apa yang kamu suka". Sahabat yang cerdas itu tidak minta apa-apa, hanya mengucapkan: "Aku memohon kelas dapat mendampingi engkau di surga". (HR. Muslim).

Sahabat Handzolah, setelah melangsungkan akad nikah dengan wanita yang dicintainya ia lalu bersenang-senang dengan istrinya itu. Tiba-tiba terdengar pengumuman untuk berjihad, maka segera ia cepat-cepat turun ke medan laga dan akhirnya menjumpai syahid di sana sebelum sempat mandi janabat. Atas kepeloporannya ini ia diberikan karamah; janazah beliau dimandikan janabat oleh malaikat, yang kemudian menjadi julukannya, yakni Handzolah Ghasilul Malaikah (Handzolah yang dimandikan malaikat).

Saat perang Badar, Umair bin Al Hammam sahabat Anshar sedang asyik menikmati kurmanya. Tiba-tiba terdengar suara, "Wahai sahabatku, rebutlah surga yang panjangnya bagaikan langit dan bumi". Sahabat tersebut meloncat menghampiri Nabi, "Benarkah surga panjangnya bagaikan langit dan bumi?" "Benar" "Amboi, andaikan aku mendapatkannya". Ia lalu mati mendapatkan syahid setelah puluhan musuh terbunuh ditangannya. (Muttafaq Alaih)

Perihal berinfak juga menjadi persaingan. Suatu hari Umar bin Khattab menangis tersedu-sedu ketika dirinya kalah dalam perlombaan infaq dengan sahabat Abu Bakar. Waktu itu Umar berkata, "Tiap kali aku bersaingan denganmu wahai Abu Bakar, kamulah pemenangnya". Beda dengan umat lain dimana persaingan berdasar pada materi.

Kepeloporan dalam kebaikan ini juga ditunjukkan dengan tumbuhnya berbagai aktivitas keagamaan. Di masjid Nabawi, sahabat mendirikan halqoh-halqoh untuk kegiatan keagamaan yang digemari. Di antara mereka mendirikan halqoh mudzakaroh, halqoh dzikir dan lainnya. Melihat banyak halqoh itu, Rasulullah Sholallohu Alaihi wassalam besabda, "Apakah yang kamu lakukan?" "Ya Rasulullah, kami berkumpul bersama untuk dzikir kepada Alloh". "Jika begitu, mudah-mudahan Alloh mengampuni dosa-dosamu".

Perihal kebaikan ini, sahabat-sahabat wanita tidak ketinggalan. Menyadari kesempatan dalam menuntut ilmu dari Nabi Sholallohu Alahi wassalam kurang, ibu-ibu lalu meminta waktu sendiri untuk mengaji. (HR. Al Bukhari)

Kepeloporan dalam hal kebaikan yang luar biasa ini tiada lain karena dorongan iman yang kuat bahwa dunia adalah tempat ujian bukan tempat selamanya di samping tauladan yang besar dicontohkan oleh bagindanya. Modal ini mendasari sahabat untuk mempergunakan kesempatan hidup di dunia sebaik-baiknya guna mencapai kesuksesan di akhirat. Kesuksesan di akhirat adalah memperoleh surga setelah di dunia berhasil merebut maghfirah dan mempertahankan ketakwaan.

Karakter yang demikian ini menjadikan sahabat akan terus mendapatkan kiriman pahala sebab sunnah-sunnah kebaikannya, baik berupa ide (teori) maupun praktek dijadikan teladan (manhaj) oleh umat Islam sedunia, sebagaimana hadits:

"Barangsiapa mengukir perbuatan yang baik, maka baginya pahala kebaikan itu ditambah pahala orang yang melaksanakan sunnah itu setelahnya tanpa satupun pahala-pahala itu dikurangi". (HR. Muslim)

Kepeloporan dalam kebaikan ini barangkali juga pengabulan doa para sahabat yang didengarkan siang malam:

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan dan keturunan kami sebagai qurrotu a'yun. Dan jadikanlah kami sebagai pelopor (terdepan) dalam kebaikan bagi orang-orang yang bertakwa". (QS. Al Furqon: 74)

Berangkat dari ayat itu, Sayyidina Abdullah bin Umar, sahabat yang senantiasa menapaktilasi kehidupan Rasulullah sampai hal-hal yang kecil selalu berdoa agar dijadikan sebagai pelopor kebaikan bagi orang lain. Doa beliau adalah

"Ya Alloh. jadikanlah aku termasuk pelopor orang-orang yang bertakwa di dalam mengerjakan kebaikan". (HR. Malik, Tanwirul Hawalik I/220)

[]

Menuju Rumah Idaman

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” QS. Ar Rum ayat 21

Dalam ayat tersebut terkandung adanya proses kholaqo yang berarti bahwa suami-isteri merupakan pasangan yang telah ditakdirkan Alloh dengan bermacam-macam cara Alloh mempertemukannya. Yang jelas, tetap kembali pada proses kholaqo sebagaimana Alloh menciptakan langit, bumi, hidup, dan mati yang semuanya itu merupakan kehendak Alloh tanpa ada campur tangan manusia. Jika kita mengerti bahwa semuanya adalah ketentuan Alloh, maka tidak ada hal-hal di dunia ini yang kita tidak senang kepadanya. Karena itu, jika ada musibah, hendaknya dikembalikan kepada Alloh yang selanjutnya ditanggapi dengan ridho, tawakkal, dan pasrah diri. Kita jangan sampai merasa ngersula (mengeluh, Jawa), nelangsa, dan sebagainya.


Alloh pernah menimpakan ujian berupa isteri kepada Nabi Luth Alaihissalam. Isteri beliau bukanlah sebagai pendamping yang setia dan menyenangkan, tetapi merupakan pendamping yang menyakitkan hati. Ujian itu dihadapinya dengan sabar, dan tawakkal kepada Alloh. Tentu saja, setiap suami tidak mengharapkan ujian seperti yang dialami Nabi Luth Alaihissalam. Para suami tentu mengharapkan isterinya menjadi isteri yang sholihah, menjadi qurrota a'yun (penyejuk mata). Karena itu, kita hendaknya senantiasa berdoa sebagaimana yang diajarkan Alloh dalam QS. Al Furqon: 74 yang artinya :

“Dan orang-orang yang berkata : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Di samping menjadi qurrota a'yun, seorang isteri bisa juga menjadi musuh dan fitnah. Alloh berfirman dalam QS. At Taghobun ayat 14 yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Isteri menjadi fitnah bisa saja karena salah memilih jodoh yang bukan karena dien-nya. Kalau kita memilih jodoh karena harta, kecantikan, atau pangkatnya, maka tunggu saja kalau nantinya malah diuji oleh Alloh. Misalnya, kalau kita memilihnya karena ingin cepat kaya, bisa jadi malah tidak cepat kaya karena hal ini berkaitan dengan syahwat, dan syahwat adalah sebab dari munculnya fitnah. Jadi, apa yang menjadi niatnya, nanti akan bisa berbalik dari tujuannya.

Perjodohan memang sudah menjadi sunnah Alloh. Akan tetapi, hal-hal yang berkaitan dengan tujuan hidup yang mawaddah warahmah Alloh menggunakan lafadz ja'ala yang berbeda prosesnya dengan lafadz kholaqo. Kholaqo berkaitan dengan qodlo' dan qodar, sedang ja'ala berkaitan dengan usaha manusia. Jadi, sebuah keluarga menjadi mawaddah warahmah sebagai pondasi/asas rumah teladan merupakan ikhtiar/usaha manusia (suami-isteri).

Rumah teladan merupakan rumah yang selalu didambakan oleh setiap pasangan suami-isteri. Banyak resep yang selalu dijalankan untuk mencapainya. Tetapi, tentu saja resep itu tidak bisa mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Memang, untuk mencapai rumah idaman dibutuhkan figur teladan, contoh yang telah sukses mencapai keluarga sakinah. Sebagai seorang muslim, figur teladan itu tidak ada yang lain kecuali figur Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam sebagaimana yang difirmankan Alloh dalam QS. Al Ahzab ayat 21 yang artinya :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.”

Hal-hal di bawah ini bisa dijadikan panduan untuk mencapai rumah teladan:

1. Basiitun fii jawaanibihi, mencari yang mudah-mudah saja, tidak perlu repot-repot, baik dari sisi materi maupun dari sisi maknawi. Dari sisi materi berarti jauh dari sifat berlebihan dalam hal makanan, minuman, dan perabot rumah tangga. Hal ini sesuai dengan firman Alloh dalam Al Qur'an surat Al A'rof ayat 31 yang artinya: " Makan dan minumlah kamu semua dan janganlah kamu semua berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." Jadi, dalam masalah ini tidak perlu melihat orang lain. Rezeki tiap orang tidaklah sama. Kebahagiaan hidup kita harus diukur dengan diri sendiri, tidak dengan ukuran orang lain.

Dari sisi maknawi sikap ini tecermin dalam cara perilaku dan berpikir yaitu yang gampang-gampang saja, tidak perlu berpikir yang repot-repot. Sayyidah Aisyah ra. mengatakan bahwa : "Rosululloh saw. tidak diminta untuk memilih di antara dua hal kecuali beliau memilih yang paling gampang."

Hidup ini hanya beribadah kepada Alloh, bukan untuk manusia. Jadi, terserah mereka apakah mau senang atau benci kepada kita. Misalnya, dalam urusan rumah tempat tinggal, mereka mau masuk atau tidak ke rumah kita, itu terserah mereka. Rumah kita diatur sesuai dengan selera kita. Merupakan hal yang tidak mungkin membuat semua orang ridlo kepada kita.

Kita bisa melihat kembali, bagaimana Lukmanul Hakim mengajari anaknya dalam masalah menuruti kemauan manusia. Suatu ketika, Lukmanul Hakim mengajak anaknya sambil membawa seekor himar berkeliling kampung. Ketika itu Lukman dan anaknya tidak menunggangi himar. Orang kampung berkata, "Membawa himar kok tidak dinaiki." Maka, Lukman menaiki himar tersebut dan anaknya yang menuntun. Ketika sampai di kampung kedua, orang kampung berkata, "Ayah itu tidak sayang pada anaknya." Maka ganti anaknya naik himar dan ayahnya yang menuntun. Sampai di kampung berikutnya orang kampung berkata, "Anak itu kurang ajar, bapaknya menuntun himar sementara dia yang naik.” Kemudian Lukman dan anaknya menaiki himar. Pada kampung berikutnya orang kampung berkata, "Himar kecil kok dinaiki dua orang." Akhirnya Lukman berkata pada anaknya, "Tinggal satu lagi Nak, sekarang biar himar itu yang naik di atas kita.” Kemudian orang-orang berkata, "Gila itu." Itulah manusia. Kita tidak mungkin memuaskan semuanya. Jadi, ukuran kebahagian adalah diri kita sendiri. Yang penting kita senang; kita tidak mengganggu, merepotkan orang, dan membebani orang lain.

2. Baitun Thoohirun Wanadhiifun, rumah yang suci dan bersih.
Walaupun rumah itu kecil, tetapi hendaknya bersih dan rapi. Rumah jangan kelihatan kotor. Kita tahu bahwa Alloh mencintai orang-orang yang selalu menjaga kebersihan dan kesucian. Bila kita menjumpai anak-anak kita mencoret-coret tembok maka kita harus segera menghapusnya sebab anak itu juga kadang-kadang sebagai ujian.

3. Dalam membentuk keluarga sakinah mawaddah warohmah kita telah diajarkan agar menghindari suara yang keras dan berteriak. Seperti disebutkan Alloh dalam surat Lukman ayat 19 yang artinya: "Hendaklah kamu rendahkan suaramu karena yang paling tidak disenangi dalam suara ini adalah suara himar." Dengan merendahkan suara bisa membentuk rumah teladan. Jika kita memarahi anak tidak perlu teriak-teriak karena tidak baik didengar tetangga.

Rasululloh saw. suatu waktu memberitahu seluruh umat bahwa di surga nanti Sayyidah Khodijah ra. mempunyai rumah dari bambu yang tenang, tidak ada suara keras dan teriakan-teriakan. Dalam hadits itu disebutkan bambu surga dengan disifati tidak ada suara keras dan teriakan. Mengapa demikian? Ulama memberi komentar bahwa ketika Sayyidah Khodijah diajak masuk Islam, ia tidak pernah membantah sama sekali, tidak pernah bersuara apapun sekaligus mengiyakan dan tanpa komentar. Karena itu, di surga nanti rumah yang paling tenang adalah rumah Sayyidah Khodijah.

Kita sendiri berusaha membuat suasana rumah yang tenang sekalipun kedatangan banyak saudara yang sudah lama tidak berjumpa atau bertemu. Untuk menciptakan mawaddah warohmah diperlukan suatu tadrib (latihan diri). Kecintaan itu akan selalu tumbuh di antara kita kalau kita tidak melakukan hal-hal yang terlarang. Misalnya, jika terjadi su'ut tafahhum (kesalahpahaman) antara suami dan isteri tentang suatu masalah sehingga terjadi pertengkaran maka terapi yang paling mujarab adalah attaghooful (semua dilupakan) seperti tidak terjadi apa-apa dan segera minta maaf.

Sebenarnya sifat orang itu tidak sama. Ada orang yang cepat marah tapi cepat kembali. Yang repot yaitu kalau cepat marah dan lama kembali. Ada juga orang yang tidak bisa marah. Sudah berkali-kali dibuat marah tapi tidak marah juga. Dalam rangka memberikan pelajaran (tadrib), seseorang harus bisa marah. Misalnya, jika suatu saat suami serong maka isteri harus bisa marah. Begitu juga jika isteri bertindak yang tidak baik , suami juga harus bisa marah. Kalau marah hendaknya cepat kembali. Tetapi yang susah kalau sudah menjadi watak (cepat marah), ya hendaknya diterima sebagai ujian, harus sabar. Jangan sampai dijadikan alasan sebagai pertengkaran yang berlanjut sampai pada tingkat menggoyangkan 'arsy.

Hal-hal kecil lainnya yang perlu diperhatikan misalnya masalah makanan. Rasulullah tidak pernah mencela makanan, menanyakan ada makanan atau tidak. Kalau kita belum bisa pada tingkat itu, tetapi yang penting jangan sampai mencela makanan. Karena bisa jadi akhirnya yang masak bisa tersinggung, terutama isteri, sehingga bisa mengundang pertengkaran.

Rasulullah memang pernah menanyakan makanan, tetapi ada hubungannya dengan memberitahu hukumnya pada orang banyak. Dalam sebuah hadits dikatakan, bahwa ketika Rasulullah sedang berada di rumah Bariroh. Pada waktu itu Bariroh memasak bubur. Rasulullah tahu, tetapi kok lama tidak dihidangkan. Akhirnya, Rasullah bertanya, mengapa tidak dikeluarkan? Ternyata, tidak dikeluarkannya makanan tersebut karena bubur tersebut dari daging zakat atau shodaqoh bagi Bariroh. Kemudian Rasulullah bersabda : "Itu shodaqoh bagi Bariroh, tetapi bagi saya hadiah."

Di sini Rasulullah memberi pelajaran pada kita tentang hukum makanan yang semula adalah zakat/shodaqoh tetapi jika diberikan pada orang lain berubah menjadi hadiah.

Ada lagi yang perlu diperhatikan di antaranya dalam rumah tangga janganlah selalu terlihat dalam suasana yang serius. Jadi perlu diselingi dengan canda. Sekian kali Rasulullah terlihat bercanda dengan isteri dan anaknya. Pernah suatu ketika Rasulullah yang pada waktu itu berusia 50 tahun dan Sayyidah Aisya ra. ? 9 tahun, memperhatikan Sayyidah Aisya RA yang masih senang bermain. Kemudian oleh Rasulullah diajak balapan.

Guyon (bercanda) diperbolehkan, asal tidak sampai pada tingkat yang dilarang oleh Alloh. Semuanya demi untuk menghilangkan ’inqimas (rasa 'mbededeg' dalam hati yang akhirnya bisa menimbulkan masalah. Untuk menyenangkan hati perlu diselingi guyon-guyon. "Adalah Rasulullah saw. itu paling banyak guyon diantara manusia dengan istrinya." Tetapi kalau beliau sedang memberi pelajaran (ta'lim), para sahabat tidak ada yang berani mengangkat kepalanya, apalagi melihat, saking haibahnya Rasulullah. Mereka yang menatap langsung gemetar.

4. Memisahkan tempat tidur anak laik-laki dan perempuan dalam kamar terpisah. Sekalipun saudaranya sendiri, tetapi yang namanya ghorizatun nau' asalnya mungkin sahwat tipis, tetapi Rasulullah memberi pelajaran supaya mulai kecil dipisah. Rasulullah saw. bersabda yang artinya : “Perintahkanlah anak-anakmu untuk sholat ketika berusia 7 tahun, pukullah jika meninggalkan sholat ketika berusia 10 tahun (dengan pukulan yang tidak menimbulkan cacat, bersifat sebagai pelajaran) dan pisahlah tidur mereka dalam ranjang-ranjangnya.”

Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki dalam kitabnya Nidhomul Usroh, diantaranya beliau mengatakan : "Sekolahan yang dari kecil berkumpul antara laki-laki dan perempuan (karena dianggap tidak ada syahwat) sebenarnya malah menanamkan bibit ghorizah.” Jadi mulai kecil mulai sudah kenal. Karena mendidik anak diwaktu kecil sama dengan mengukir, sementara mendidik anak diwaktu besar sama dengan melukis di atas air.

5. Tolong-menolong dari setiap anggota keluarga untuk kepentingan rumah tangga.
Pembagian pekerjaan sesuai dengan kecenderungan masing-masing anggota keluarga. Dibiasakan dari yang kecil sampai yang besar, seluruhnya bersama-sama. Adalah Rasulullah saw. membantu keluarganya dalam urusan rumah. Maka Rasulullah juga sempat menjahit sandalnya sendiri. Memeras susu-susu kambing Rasulullah sendiri dan menggendong anaknya. Dan ini adalah perkara yang mulia. Bahkan ketika ke pasar dan beliau membawa tasnya sendiri, kemudian sahabat ingin membawakan tasnya, beliau berkata : "Yang punya berhak untuk membawanya."

Dalam rumah teladan ini juga diajarkan bagaimana kita mengarahkan tarbiyah anak pada 3 hal :
1. Tarbiyah jasadiyah.
2. Tarbiyah aqliyah.
3. Tarbiyah nafsiyah mustaqimah.

Tarbiyah jasadiyah
adalah tarbiyah tentang fisiknya atau jasadnya. Demi untuk kesehatannya harus diperhatikan makanannya, minumannya, vitaminnya, dll. Jangan eman-eman keluar uang. Barokah. Insya Alloh.

Bagaimana dengan pendidikan akalnya supaya cerdas? Usahakan anak itu kreatif. Maka akalnya juga harus dikembangkan. Karena itu dalam masa bermain jangan terlalu dikekang. Tidak boleh ini, itu, harus tidur jam sekian. Semakin punya kreatifitas, maka simpanan kekuatan kreatifitasnya itu menjadi cerdasnya kelak. Memang resiko punya anak kreatif. Minta ini-itu seenaknya. Selama tidak membahayakan dirinya, jangan dilarang. Penting juga diberi mainan yang mengasah otak.

Tetapi juga jangan lupa nafsiyah mustaqimah (pribadi yang mustaqimah). Arahan-arahan seperti mengambil sesuatu dengan tangan kanan, diberi tahu mana tangan bagus, mana tangan jelek. Sehingga nafsiyah terdidik sejak kecil. Supaya nafsiyahnya kuat, usahakan anak untuk mengerti Al Qur'an, paling tidak hafal juz 'amma. Kalau orang Mesir, Yaman, untuk anak pertama selalu ditempa terus dengan Al Qur'an.

Maka kalau bikin TK pun lebih banyak Al Qur'an-nya daripada yang lain. Malah kalau bisa 2-3 tahun hafal juz 'amma. Imam Syafi'i umur 7 tahun hafal Al Qur'an. Hafal Al Qur'an bisa membantu akalnya. Masalahnya Al Qur'an itu mudah lepas. Jadi kalau sejak kecil sudah hafal, insya Alloh hafalannya akan kuat (njangget). Daripada diberi hafalan lagu-lagu lebih baik Al Qur'an atau do'a-do'a.

Tetapi jangan hanya mengandalkan guru di sekolah. Orang tua harus selalu membiasakan mengiringi anak untuk berdo'a dalam setiap aktifitasnya seperti sebelum makan, tidur, pergi, keluar kamar mandi, dsb. Dari pendidikan nafsiyah mustaqimah ini kita bisa mengarahkan anak supaya punya sifat kasih sayang, kecintaan dan punya rasa tanggung jawab.

Inilah diantaranya gambaran-gambaran tentang membina rumah teladan sesuai dengan ajaran Rasulullah Sholallahu alaihi wassalam.

[]

Feb 6, 2009

Khutbah Jum’at: Salah Satu Tanda Akhir Zaman

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Pertama-tama dari atas mimbar ini kami sampaikan wasiat bersama. Wasiat yang terkait dengan kehambaan kita kepada Allah Subhanawata’ala. Sebatas mana kita menghambakan diri kepadaNya. Tundukkah kita akan peraturan-peraturannya? Mengertikah kita bahwa Allah Ta’ala adalah Maha Pengasih tetapi Allah juga raja diraja di hari kiamat? Sudah tentu kita harus takut terhadap apa yang akan terjadi di hari kiamat nanti. Karena masing-masing kita ini nantinya diminta pertanggung jawaban tentang amal kita masing-masing selama hidup di dunia ini.

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Wasiat yang kami sampaikan di atas sangat terkait dengan kehambaan kita, kehambaan yang memberikan konsekuensi yang selalu terikat dengan hukum-hukum Allah Ta’ala. Dalam arti, seorang muslim tidak melakukan perbuatan sekecil apapun kecuali ia mengetahui hukumnya. Boleh atau tidak boleh, haram atau halal, mubah atau makruh, dan hukum-hukum yang terkait dengannya.

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Masih dalam pasca hari raya idul adha. Hari yang di dalamnya tidak lepas dari apa yang dilakukan teman-teman kita yang diberi kesempatan oleh Allah Ta’ala menunaikan ibadah haji. Mereka mencontoh ibadah haji yang dilakukan oleh Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wassalam. Ibadah haji yang dikenal dengan “Hujjatul Wada’” Kita juga mengingat khutbah wukuf yang beliau Saw. sampaikan tepat pada hari Jumat kepada seluruh jamaah haji yang yang hadir di Arofah. Namun bukan itu yang akan kami sampaikan.


Diriwayatkan dari Sayyidina Ibnu Abbas ra. Beliau berkata Rasulullah melaksanakan haji wada’ kemudian ketika Beliau berada di ka’bah, sambil memegang handle pintu ka’bah. Beliau berkhutbah, “Wahai para manusia, maukah kalian saya beritahu tanda-tanda datangnya hari kiamat. Kemudian, Salman berdiri dan menjawab, “Beritakanlah kepada kami ya Rasulullah tentang apa yang akan engaku kabarkan.” Berkata Rasululloh, “Termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah menyia-nyiakan shalat.”

Tanda-tanda ini tentunya diperuntukkan untuk kita kaum muslimin. Shalat, ketika awal generasi yang dibimbing langsung oleh Rasulullah, dikenal dengan khoiruh ummah (sebaik-baik umat) telah mengalami pergeseran nilai sedikit demi sedikit. Pada akhirnya tiba pada satu generasi di mana shalat telah disia-siakan. Hal ini sangat sesuai dengan firman Alloh Ta’ala dalam surat Maryam: 59, yang artinya

"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,"

Datang satu generasi di mana generasi ini bukan generasi yang baik, generasi yang buruk. Generasi ini ditandai dengan menyia-nyiakan shalat. Jika seseorang itu dengan shalatnya menganggap sebagai suatu kewajiban adalah untung besar karena ia menganggap antara ia dan Allah ada suatu kewajiban sebagai seorang hamba dengan khaliknya. Apalagi shalat itu dijadikan sebagai media komunikasi dengan Alloh Ta’ala. Orang tersebut termasuk tidak menyia-nyiakan shalat. Pengertian menyia-nyiakan shalat jika seseorang tidak memiliki perasaan kewajiban shalat apalagi mengganggap shalat bukan sebagai media komunikasi dengan Allah Ta’ala.

Sudah tentu jika shalat ini tidak terurus dengan baik, mereka selalu memperturutkan hawa nafsu. Generasi seperti ini oleh Alloh Ta’ala dikatakan menemukan kesesatan di akhirat nantinya.

Kembali kepada hadits di atas. Ketika Rasululloh mengabarkan tanda-tanda hari kiamat. Rasululloh mengatakan “iba’ah sholah” menyia-nyiakan shalat dan kecenderungan memperturukan hawa nafsu. Hawa nafsu menang atas seseorang mengalahkan hak dan kewajiban atas Alloh Subhana wata’ala. Mereka lebih mengagungkan pemilik harta dan orang-orang berduit ketimbang ulama dan orang-orang shaleh.

Kemudian Salman berkata, “Terjadi seperti ini ya Rasululloh?” Rasululloh menjawab, “Iya, demi Alloh, Dzat yang jiwa raga Muhammad di tangan-Nya.” “Pada waktu itu wahai Salman, ada zakat dihutang-hutangkan, datangnya harta menjadi rebutan di sana sini, dan sang pedusta justru dibenarkan dan dipercaya, orang yang jujur justru didustakan, orang yang berkhianat justru dipercaya, orang yang bisa dipercaya malah dianggap berkhianat dan akan berbicara ar roghiboh.” Berkata para sahabat, “Apakah itu ar roghibo?” Rasulullah berkata, “Apa yang berbicara tentang manusia, apa dan siapa yang tidak bisa berbicara.” Dalam hal ini adalah isyarat adanya teknologi canggih. Yang tidak dapat berbicara, berbicara tentang manusia. Apakah itu radio yang benda mati atau tv yang benda mati, ataukah handphone dan lain sebagainya. Semua ini benda mati yang dapat berbicara dengan jelas tentang keadaan dan perilaku manusia. Saat ini kita memasuki dunia 3G dan suatu ketika kita akan masuk dalam teknologi hologram yang berbicara tentang manusia.

Ada keterangan dari Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wassalam bahwa suatu saat ini ada sandal yang dapat berbicara. Di mana sandal ini akan berbicara tentang keadaan keluarga yang ada dirumahnya. Lepas dari hadits ini menjelaskan hakekat sandal yang berbicara atau isyarat adanya benda-benda mati saat ini yang berbicara. Seperti handphone yang dapat berbicara yang kita bawa kesana kemari seperti halnya sandal yang kita pakai. Pada masa itu banyak orang tidak mengutamakan lagi nilai-nilai yang religius. Demikianlah gambarannya.

Berkata guru kami, as Sayyid Muhammad bin Alwy Al Maliki tentang sandal yang berbicara di akhir zaman. Beliau mengartikan secara hakekat bahwa ada sandal berbicara. Di saat teknologi manusia sedemikian canggih yang mana pencapaiannya diperlukan eksperimen bertahun-tahun terlebih dahulu. Radio, televisi, handphone dan lain sebagainya didapatkan melalui eksperimen yang membutuhkan waktu lama. Alloh cukup berkata ‘kun fa yakun’ tidak butuh waktu bertahun-tahun, sebuah sandal yang tidak ada alat-alat yang menempel padanya dapat berbicara. Hal ini menunjukkan kekuasaan dan kekuatan Allah Subhana wata’ala atas manusia yang lemah itu.

Selanjutnya, Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wassalam berkata, “Pada zaman itu kebenaran Islam diingkari lebih dari 90% manusia. Sirna Islam ini. Islam tinggal namanya saja”. Islam hanya sebagai KTP. Tidak ada pengamalan terhadap ajaran-ajaran Islam.

Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wassalam berkata, “Al Quran ada kecuali tinggal tulisannya”. Hadits ini sangat panjang yang tidak mungkin kami sebutkan seluruhnya di mimbar Jumat yang terbatas waktunya ini.

Seiring denga hadits yang kami bacakan sebelumnya, ada hadits yang diriwayatkan Imam Turmudzi, dari Abu Hurairah ra., Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wassalam berkata, yang artinya

“Wahai sahabat-sahabatku, kalian hidup di suatu zaman, barangkali di antara kalian meninggalkan 10% saja dari agama ini kalian celaka, tetapi akan datang suatu zaman, seseorang mengamalkan 10% agama ini akan selamat”.

Adanya hadits ini membuat kita lebih berhati-hati hidup di zaman ini. Kita hidup di suatu zaman, pendusta dibenarkan, orang yang jujur dikhianati. Aneh, saat ini orang-orang lebih percaya pada mama Loren, Ki Joko Bodo, Gendeng Pamungkas, dan lainnya ketimbang orang-orang shaleh. Apalagi saat ini banyak iklan-iklan di televisi yang meramal masa depan seseorang melalui sms. Aneh. Itulah gambaran kehidupan pada zaman ini. Kita harus lebih berhati-hati. Bisakah kita mengamalkan agama ini 10% nya? Jangan sampai kita mengamalkan agama ini di bawah 10%. Kita akan mengalami kehancuran di akhirat nanti. Dan jangan-jangan kita meninggal dalam keadaan su’ul khotimah bukannya khusnul khotimah. Na’udzubillah.

Di akhir khutbah ini kami sampaikan sebuah hadits Nabi Sholallahu ‘alaihi wassalam yang artinya,

“Barangsiapa berpegang teguh pada sunnahku di saat umat ini rusak, maka bagi dia seratus pahala orang-orang yang mati syahid.”


Harapan kita bersama, semoga jamaah seluruhnya ini dijaga oleh Allah Subhana wata’ala, di jaga agama kita, dan semoga kita mati tetap dalam khusnul khotimah.

[]

Feb 5, 2009

Feb 4, 2009

BAB 4: Rizki Berada di Tangan Allah swt. Semata

Serial Aqidah: Islam, Bagaimana Anda Memahaminya

Rizki tidak bermakna kepemilikan (milkiyah), akan tetapi rizki bermakna pemberian. Rozaqo bermakna a’thoo (memberi). Adapun yang dinamakan kepemilikan (milkiyah) adalah peroleh sesuatu dengan cara tertentu yang diperbolehkan syara’. Rizki dapat berupa rizki halal dan haram. Rezeki yang diperoleh seseorang pekerja sebagai upah kerjanya adalah rizki (yang halal), dan harta yang diperoleh seorang pejudi juga rizki (yang haram). Semuanya itu adalah harta yang diberikan Allah swt. untuk keduanya disaat mereka mengusahakan suatu al haal (keadaan) yang dapat mendatangkan harta (rizki).

Manusia banyak yang menyangka bahwa mereka dapat mendatangkan rizki untuk dirinya sendiri. Seorang pegawai yang menerima (mengambil) gaji tertentu, menyangka ia telah memberi rizki pada dirinya. Dan ketika dia menerima bonus sebagai ganti usahanya, dia menyangka bahwa bonus itu dapat memberi rizki padanya. Seorang pedagang yang mendapatkan keuntungan usahanya menyangka bahwa ia memberikan rizki pada dirinya. Seorang dokter yang menyembuhkan pasiennya mendapat upah, ia menyangka memberikan rizki pada dirinya. Demikian juga tiap-tiap orang yang mengusahakan dan menghasilkan harta, mereka menyangka bahwa mereka telah menghasilkan rizki pada dirinya. Prasangka (dhon) itu muncul pada diri manusia karena mereka tidak memahami hakekat keadaan (al haal) yang datang padanya rizki, tetapi mereka menyangka al haal (keadaan) itu sebagai sebab.


Hakekat yang harus diterima setiap muslim ialah bahwa rizki itu dari Allah swt. semata, bukan dari manusia. Sedangkan al haal hanya suatu perantara datangnya rizki. Ia bukanlah merupakan sebab datangnya rizki. Karena hubungan sebab musabab adalah suatu hubungan yang pasti. Kalau sekiranya al haal itu (dianggap) sebagai sebab, maka tidak akan menghasilkan sesuatu yang berbeda (takholluf). Realitas menunjukkan bahwa al haal menghasilkan sesuatu yang berbeda (meleset). Kadang-kadang ada al haal, namun rizki tidak datang. Kalau sekiranya al haal merupakan sebab maka akan menghasilkan musabab secara pasti yaitu rizki. Dan dengan adanya al haal yang tidak mendatangkan rizki yang pasti, yaitu dengan adanya al haal tersebut kadang-kadang mendatangkan rizki dan kadang-kadang mendatangkan sesuatu yang berbeda (meleset), maka hal ini menunjukkan bahwa al haal bukanlah merupakan sebab (utama), tetapi hanyalah merupakan perantara (bhs. Jawa: jalaran). Di samping itu tidak boleh menganggap, bahwa al haal yang menjadi perantara datangnya rizki sebagai sebab adanya rizki, dan juga bukan orang yang mengusahakan al haal tersebut yang mendatangkan rizki. Karena pengertian ini bertentangan dengan nash-nash Al Quran yang qoth’i baik dilalahnya maupun tsubutnya. Apabila pemikiran atau pemahaman (seseorang) itu bertentangan dengan nash-nash qoth’i dilallah dan qoth’i tsubut maka dimenangkan nash qoth’i dan diambilnya serta menolak (pemahaman) selainnya. Banyak ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan masalah ini dengan keterangan yang jelas dan gamblang, yang tidak mungkin ditakwil lagi, bahwa rizki adalah semata-mata dari Allah swt., bukan dari manusia.

Semua itu memberikan kepastian kepada kita bahwa sesungguhnya apa yang kita saksikan dari sarana-sarana atau cara-cara untuk mendatangkan rizki itu semata-mata adalah al haal, yang menjadi perantara datangnya rizki tersebut. Firman Allah swt. yang artinya:

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu”. (QS. Al Mâidah: 88).

“Alloh Ta’ala yang telah menciptakan kamu kemudian memberi rizki kepadamu (QS. Ar Rum: 44)

“Nafkahkanlah sebagian rizki yang diberikan Alloh Ta’ala kepadamu”. (QS. Yasin: 47)

Sesungguhnya Alloh Ta’ala memberi rizki kepada siapa yang dikehendakinya”. (QS. Ali Imron: 37)

“Alloh Ta’alalah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu”. (QS. Al Ankabut: 60)

“Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka”. (QS. Al An’am: 151)

“Kamilah yang memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu”. (QS. Al Isroo’: 31)

“Benar-benar Alloh Ta’ala akan memberikan rizki kepada mereka”. (QS. Al Hajj: 58)

“Alloh Ta’ala meluaskan rizki kepada siapa yang dikehendaki”. (QS. Al Isroo’: 30)

“Maka mintalah rizki itu dari sisi Alloh Ta’ala”. (QS. Al Ankabuut: 17)

“Dan tak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Alloh Ta’ala yang memberikan rizki”. (QS. Huud: 6)

“Sesungguhnya Alloh Ta’ala. Dialah Maha Pemberi rizki”. (QS. Adz Dzaariyat: 58)

Ayat-ayat tersebut dan ayat-ayat lain yang banyak jumlahnya adalah qoth’i dilalalah, hanya satu makna yang dikandungnya dan tidak menerima takwil apapun. Yakni bahwa rizki itu adalah dari Alloh Ta’ala semata, bukan dari yang lain.

Hanya saja Alloh Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang telah diberi kemampuan berikhtiar untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan dan mengusahakan al haal yang dapat menjadi perantara datangnya rizki. Merekalah yang harus mengusahakan segala bentuk al haal tersebut, tetapi bukanlah mereka yang mendatangkan rizki, sebagaimana penjelasan nash-nash tersebut. Alloh Ta’alalah yang memberikan rizki kepada mereka pada keadaan (al haal) ini, tanpa memandang apakah rizki itu halal atau haram, dan tanpa memandang apa.

[]

Alergi Makanan

Ustadz yang dimuliakan Alloh,
Anak saya sehabis makan pindang selalu diserang gatal-gatal. Sewaktu saya periksakan, dokter menyarankan agar menghindarkan anak dari makan ikan itu. Belakangan saya tidak pernah memberikan ikan pindang itu kepadanya. Apakah yang saya lakukan dan apa yang disarankan itu dibenarkan oleh ajaran agama? Agama itu tidak termasuk bagian dari mengharamkan apa yang dihalalkan Alloh swt., karena ikan pindangkan hukumnya halal?

Abdullah, Surabaya

Jawaban:
Agama Islam bila bicara tentang makanan selalu memberikan tekanan pada aspek kehalalan. Artinya tidak boleh sekali-kali mengkonsumsi makanan yang haram. Namun adakalanya makanan yang memenuhi aspek halal tidak baik atau tidak disenangi seperti halnya thalak. Perceraian ini halal namun dibenci. Contoh lainnya adalah biawak. Ia binatang yang dihalalkan karena Rasulullah saw. membiarkan para sahabat mengkonsumsinya. Akan tetapi beliau sendiri memilih untuk tidak memakannya. Barangkali beliau merasa tidak berselera, tidak suka, tidak cocok, dan lain sebagainya. Peristiwa ini menjadi dalil bahwa ketetapan Nabi saw. termasuk bagian dari sunnah beliau.

Oleh karena dalam hal makanan disamping aspek halal, agama Islam juga menekankan aspek thayyib. Thayyib ialah makanan yang baik menurut penelitian para ahli atau makanan yang bergizi dalam kata lain. Bahkan banyak ditemukan dalam AlQuran ayat-ayat yang menggabungkan antara aspek halal dan thayyib. Firman Alloh swt. yang artinya

"Dan makanlah makanan yang halal lagi thayyib dari apa yang Allah telah rizkikan kepadamu" (QS. Al Maidah: 88, periksa pula QS. Al Baqarah: 168, QS. Al Anfaal: 69, dan QS. An Nahl: 114)

Kaitannya dengan alergi (keadaan tubuh yang sensitif hingga menimbulkan suatu jenis penyakit) terhadap makanan tertentu, mungkin makanan itu tidak baik atau tidak cocok dengan kondisi tubuh seseorang. Artinya bisa tidak memenuhi aspek thayyib. Jadi boleh dihindari, bahkan semestinya dihindari karena membawa efek tidak baik bagi kesehatan. Selama tetap dengan memandang bahwa makanan itu halal karena tidak ada dalil maupun indikasi dalil yang mengharamkannya. Umpamanya seperti daging kambing atau makanan berlemak tentu tidak baik bila dikonsumsi terus orang yang mengidap kolesterol tinggi.

Menghindari makanan yang menjadi tubuh seseorang alergi ini beda dengan perilaku mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Alloh swt. yang kerap dilakukan oleh orang musyrik terdahulu.Perilaku ini melampui batas dan mengada-ada apa yang tidak ada tuntunannya, seperti mengharamkan daging sapi, dan lain sebagainya. Mereka memandang haram terhadap makanan yang dihalalkan atau sebaliknya secara borongan atas dasar meniru nenek moyang. Padahal menghalalkan dan mengharamkan menjadi otoritas Alloh swt. semata. Firman Alloh swt. yang artinya

Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Alloh yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik?" (QS. Al A'raaf: 32)

Firman Alloh swt. yang lain yang artinya

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut lidahmu secara dusta: "Ini halal, ini haram," untuk mengada-ada kebohongan terhadap Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh tiadalah beruntung". (QS. an Nahl: 116)

Menghindari makanan yang menyebabkan alergi tidaklah sampai pada tingkat mengharamkan secara borongan, hanya sekedar menganggap tidak baik bagi diri sendiri karena alasan tidak suka atau tidak cocok, sedang bagi orang lain mungkin beda. Kalau suka dan cocok mengapa harus dihindari, toh makanan itu hukumnya halal.

[]