<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422</id><updated>2012-02-14T17:00:47.595-08:00</updated><category term='Fas&apos;alu'/><category term='Streaming'/><category term='Khutbah Jumat'/><category term='Aqidah'/><category term='Download'/><category term='Tausiyah'/><category term='Tafsir Tematik'/><category term='Taman Wisata Hati'/><category term='Resensi'/><category term='Siroh'/><category term='Bina Usrah Sakinah'/><category term='Breaking News'/><category term='Tasawuf'/><category term='Fiqh Qunut'/><category term='Tsaqofah'/><title type='text'>al-Wasath</title><subtitle type='html'>"Blog tidak resmi dari Abi Ihya' Ulumiddin. Dikelola atas ijin Beliau"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>164</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-1422187186051727276</id><published>2012-02-14T16:39:00.000-08:00</published><updated>2012-02-14T17:00:47.610-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqofah'/><title type='text'>Al-Qolbu</title><content type='html'>Seri ke-2 Kajian Khusus "Menuju Titik Nol". Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Streaming Offline:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.4shared.com/embed/1136463529/b71b67d4" width="320" height="150" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/9vxKQs9z/Al-qolbu-26_jan_2012.html"&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Admin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-1422187186051727276?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/1422187186051727276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=1422187186051727276' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1422187186051727276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1422187186051727276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2012/02/al-qolbu.html' title='Al-Qolbu'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-8407901689742669758</id><published>2012-02-08T20:44:00.000-08:00</published><updated>2012-02-08T20:50:26.027-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Taman Wisata Hati'/><title type='text'>Abadi Bersama Allah</title><content type='html'>Mata air meleleh begitu deras. Tubuh lunglai, lemas tidak berdaya. Wajah–wajah merunduk khusyuk. Tak ada suara kecuali desahan nafas panjang dan isak tangisan. Di tengah suasana mencekam tersebut, seorang lelaki datang dan dengan suara lantang menggambarkan keteguhan, berkhutbah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barang siapa  menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. dan barang siapa menyembah Allah maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tak akan pernah meninggal”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang tidak lain adalah Abu Bakar As Shiddiq ra itu kemudian membacakan firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Muhammad itu tidak lain adalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang?...”  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;QS Ali Imran: 144.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ini semua orang-orang mulai tersadar dari keterlenaan duka dan rasa seolah tidak percaya bahwa Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, manusia yang paling mereka cintai melebihi diri sendiri  telah meninggal dunia. Umar ra yang tadi bahkan mengacungkan pedang mengancam akan membunuh setiap orang yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam telah wafat kini mulai sadar dan mengatakan, “Sepertinya aku tidak pernah membaca ayat ini saja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Dzat yang abadi, sementara siapapun selainNya pasti akan sirna. Barang siapa yang memeluk Islam karena Allah maka ia akan terus memeluk Islam. Dan barang siapa memeluk Islam karena selain Allah, termasuk karena Rasulullah Muhammad SAW maka ia akan melepas Islam sejalan dengan hilangnya sesuatu tersebut. Inilah kondisi yang terjadi pada orang–orang yang murtad setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang perlu kita ambil pelajaran dari pidato Abu Bakar ra. di atas, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“ …Allah Dzat Maha Hidup dan tak akan pernah meninggal “&lt;/span&gt;  artinya Allah Dzat yang abadi maka segala sesuatu yang disandarkan atau bersama dengan Allah juga akan tersaput oleh sinar keabadian Allah. Suatu aktivitas yang tercipta karena Allah, dipastikan sesuatu itu akan langgeng serta tidak terputus di tengah jalan. Suatu usaha yang dilakukan karena Allah maka usaha itu terus akan berjalan hingga sampai pada tujuan dan memberikan buah yang bisa dirasakan oleh  banyak orang. Gerak langkah yang termotivasi karena Allah akan terus terayun sampai penghujung jalan meski banyak kerikil dan bebatuan menghalang. Langkah  tetap akan ringan meski duri–duri telah banyak menancap. Suatu amal perbuatan yang dilandasi ketulusan karena Allah adalah laksana pepohonan yang berakar kuat menghujam ke dalam tanah sehingga tidak mudah goyah atau roboh meski terpaan angin topan.  Sebuah kalam hikmah mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesuatu karena Allah akan bersambung dan sesuatu &lt;br /&gt;karena selain Allah pasti akan terpisah”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hikmah lain juga disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barang siapa yang ikhlas karena Allah &lt;br /&gt;maka berkah upayanya pasti kelihatan”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua menjadi pelajaran bahwa jika menginginkan hasil maksimal dan &lt;br /&gt;berkesinambungan dari amal usaha yang dilakukan maka seseorang wajib menjadikan Ikhlas karena Allah sebagai pondasi amal  usaha tersebut. Sebuah kitab dasar&lt;br /&gt;dalam ilmu Nahwu yaitu Matan Jurumiyyah bisa menjadi pelajaran sangat berharga. Disebutkan bahwa selesai menulis kitab kecil tersebut, penulis tidak mendapatkan pujian dari siapapun. Bahkan sebaliknya banyak cibiran dan pelecehan diterima. Akhirnya untuk menguji keikhlasannya dalam menulis, sang penulis kemudian melemparkan dan menghanyutkan tulisan ke lautan. Hati kecil Beliau berkata, “Jika saya menulis ini karena Allah tentu Allah akan menjaganya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kitab tersebut sama sekali tidak basah oleh air sampai akhirnya ditemukan oleh seorang nelayan dan kemudian diajarkan hingga kitab tersebut kemudian menyebar ke seluruh dunia. Hampir tidak ditemukan sebuah institusi pengajaran agama Islam kecuali di sana mesti menjadikan kitab tersebut sebagai salah satu kurikulum pelajaran.  Ini semua adalah berkah ketulusan karena Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kita mendapatkan banyak pesantren–pesantren atau lembaga pendidikan yang telah berusia ratusan tahun dan sudah melewati beberepa periode kepemimpinan serta telah banyak sekali menelorkan tokoh–tokoh yang menjadi pahlawan agama dan bangsa.  Ini tidak lain adalah berkah keikhlasan para perintis. Sementara di sisi lain banyak pula pesantren–pesantren atau suatu institusi pendidikan yang gulung tikar. Lepas apakah latar belakang dari fenomena ini, yang pasti niat para perintis perlu dipertanyakan. Semua abadi jika bersama dengan Allah, prinsip ini juga berlaku dalam berbagai aktivitas kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tali persahabatan yang terjalin oleh keinginan mendapatkan harta benda akan segera terlepas seiring sirnanya harta benda. Jalinan pertemanan yang termotivasi oleh kekuasaan juga demikan, akan segera terputus begitu kekuasaan telah lepas. Kenyataan ini bisa disaksikan dalam percaturan politik. Hari ini A berteman dengan B maka esok lusa sangat mungkin A akan menendang B dan begitu pula sebaliknya. Sikap akrab, senyum tawa yang senantiasa menghias wajah teman kita saat berada di hadapan kita akan senantiasa mengembang jika memang ia benar–benar tulus memberikan keakaraban dan senyum tawa. Akan tetapi jika semua itu dilakukan atas maksud–maskud tertentu dan ada tendensi di balik semuanya maka keramahan  akan segera menghilang jika maksud–maksud tersebut tidak terpenuhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para pemuda, jika engkau senantiasa disambut oleh senyuman saat berjumpa dengan para wanita (ibu–ibu atau para gadis ), kemudian senyuman itu hilang ketika engkau telah menikah maka sadarlah bahwa senyuman tersebut tidak karena Allah, tetapi karena mereka ingin menarik simpati darimu hingga kamu mau diambil sebagai menantu atau suami mereka. Dan begitu pula sebaliknya. Akhirnya semua kebaikan, keramahan dan perhatian yang diberikan oleh kita kepada orang lain atau kita yang memberikan hal tersebut kepada orang lain, kemudian hal tersebut hilang begitu saja maka sangat mungkin bahwa hal tersebut tidak dilakukan karena Allah,  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sungguh akhirat itu lebih baik daripada dunia“&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;QS Adh Dhuha : 4.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-8407901689742669758?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/8407901689742669758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=8407901689742669758' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8407901689742669758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8407901689742669758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2012/02/abadi-bersama-allah.html' title='Abadi Bersama Allah'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-5412614678223975810</id><published>2012-02-06T17:14:00.000-08:00</published><updated>2012-02-06T17:18:42.275-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Membanggakan Rasulullah Saw  Berkonsekwensi Menyenangkannya</title><content type='html'>Tausiyah Vol XIV Edisi 148&lt;br /&gt;Ahad, 5 February 2012 / 12 Rabiul Awwal 1433&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حَامِدًا ِللهِ وَمُصَلِّـيًا عَلَى رَسُوْلِ اللهِ  وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui  bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dilahirkan pada bulan Rabiul Awwal, hari senin tanggal dua belas.Terkait hari dan bulan maka sudah disepakati oleh mayoritas ulama kaum muslimin. Adapun tanggal maka ada pendapat tanggal delapan dan ada pula yang mengatakan tanggal sepuluh. Terlepas dari hal ini, ada hal yang lebih penting untuk direnungkan mengapa Rasulullah Saw dilahirkan tidak pada hari jumat sebagai hari paling mulia atau pada bulan-bulan mulia seperti al asyhurul hurum? Jawabannya agar tidak ada kemungkinan untuk menuduh bahwa kemuliaan Rasulullah Saw ditopang oleh hari dan bulan mulia di mana beliau dilahirkan. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, adanya fenomena Insihaab, keagungan Rasulullah Saw mampu menyeret hari Senin dan bulan Rabiul Awwal sebagai hari dan bulan mulia setelah sebelumnya hari dan bulan tersebut sama sekali tidak diperhatikan oleh umat manusia. Sejak saat itu dan hingga kini ketikaSenin dan Rabiul Awwal disebutkan maka segera teringat hari dan bulan kelahiran Rasulullah Saw. Jadi kemuliaan RasulullahSaw adalah mandiri (Istiqlali) dan sama sekali bukan karena Nisbat, reaksi dari figur, komunitas atau fenomena apapun. Justru, semuanya ini tersaput sinar kemuliaan Rasulullah Saw sebagai anugerah Allah kepada Beliau. Termasuk kita semua kaum muslimin yang menjadi umat termulia daripada umat-umat terdahulu yang pernah hidup di alam ini. Ini karena, seperti dikatakan Imam al Bushiri dalam Qashidah Burdah; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَمَّا دَعَى اللهُ دَاعِيْنَا لِطَاعَـتِهِ  بِأَكْرَمِ الرُّسُلِ كُـنَّا أَكْرَمَ اْلأُمَمِ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ketika Allah menjuluk Da’i kita ini (Rasulullah Saw) sebagai rasul termulia karena ketaatannya (kepada Allah), maka kita menjadi umat yang termulia” &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Inilah salah satu alasan bagi kita agar berusaha mendidik hati untuk merasa senang  setiap kali hari Senin dan bulan RabiulAwwal hadir. Tentu saja rasa senang itu harus diwujudkan lewat aksi nyata dengan berpuasa pada hari senin dan mengadakan peringatan-peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di bulan Rabiul awwal ini. Rasa senang dalam bentuk seperti inilah yang dulu pernah dilakukan oleh Abu Lahab. Ia bukan hanya sekedar senang mendengar berita kelahiran sang keponakan yang yatim, akan tetapi melengkapi rasa senangnya dengan memerdekakan si pembawa berita, sahayanya bernama Tsuwaibah yang kemudian tercatat pernah menyusui bayi Rasulullah Saw bersama anaknya sendiri  yang bernama Masruh serta bayi Hamzah paman Nabi Saw dan bayi Abu Salamah, suami Ummu Salamah yang kemudian menjadi isteri Nabi Saw.&lt;br /&gt;Rasa senang seperti inilah yang hingga kini dan selamanya dirasakan manfaatnya oleh Abu Lahab yang kafir dan sangat memusuhi Rasulullah Saw. Tentunya kita manusia beriman pasti mendapat manfaat yang sangat jauh lebih besar lagi jika mampu bergembira seperti kegembiraan Abu Lahab.  Al Hafidh Nashiruddin Ad Dimasyqi, salah seorang murid Imam al Hafidh Ibnu Katsir melagukan Syair yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُّهُ   بِتَـبَّتْ يَدَاهُ فِى الْجَحِيْمِ مُخَلَّـدًا&lt;br /&gt;أَتَى أَنَّهُ فِى يَوْمِ ْالإِثْنَيْنِ دَائِمًا   يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسًُّرُوْرِ بَأَحْمَدَ&lt;br /&gt;فَمَا الظَّنُّ بِالْعَبْدِ الَّذِى طُوْلَ عُمْرِهِ  بِأَحْمَدَ مَسْرُوْرًا وَكَانَ مُوَحِّدًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jika ini saja, seorang kafir yang dicela dengan ayat Tabbat Yadaah, dan langgeng di neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan bahwa selamanya setiap senin ia diringankan siksanya karena gembira akan kelahiran Nabi  Ahmad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bagaimana dengan seorang hamba beriman yang sepanjang hayat bergembira akan Nabi Ahmad&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bergembira dan membanggakan Rasulullah Saw adalah wajib. Kendati demikian tidak cukup hanya sampai di situ. Seorang beriman harus memasang dan mengejar target bisa menyenangkan dan membuat bangga Rasulullah Saw. Langkah dan usaha yang bisa dilakukan agar mencapai target ini, di antara yang pokok sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menghidupkan Sunnah-nya&lt;br /&gt;Seorang Yahudi pernah berkata kepada Sayyidina Umar ra; “Teman anda (Rasulullah Saw) mengajarkan semuanya hingga perilaku di kakus” maknanya kita harus mengetahui detail kehidupan Rasulullah Saw untuk selanjutnya berusaha meniru baik dalam cara beribadah maupun kehidupan sehari-hari. Dari hal yang remeh hingga hal yang penting. Bagaimana Rasulullah Saw shalat, cara berbaris dalam shalat, masuk dan keluar masjid dan seterusnya. Bagaimana Rasulullah makan,minum, tidur, masuk kakus dll. Dengan berusaha menghidupkan sunnah berarti secara langsung kita memupuk kecintaan kepada Beliau sebagaimana hadits riwayat Anas ra&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;مَنْ أَحْيَا سُنَّـتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِى الْجَّنةِ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barang siapa menghidupkan sunnahku maka sungguh ia telah mencintaiku. Barang siapa mencintaiku maka ia pasti bersamaku di surga” &lt;/span&gt;(HR Thabarani)&lt;br /&gt;Kegemaran menghidupkan sunnah juga menunjukkan kesempurnaan iman seseorang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tidak sempurna Iman seseorang sebeluَm kesenangan dirinya mengikuti segala yang aku ajarkan “&lt;/span&gt;(HR Dailami).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;2. Mencintai Ahlul Bait- nya&lt;br /&gt;Ahlul Bait, menurut Imam Qadhi Iyadh dalam As Syifa’ berdasarkan riwayat dari Zaid bin Arqam adalah keluarga dan keturunan Ali ra, Ja’far, Aqil dan Abbas.  Allah berfirman;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;قُلْ لاَ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبَي&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Katakanlah,aku tidak meminta atas hal ini kecuali kecintaan kepada para kerabat (ku)”QS As Syuro:23. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw bersabda;&lt;br /&gt;إِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَمْ تَضِلُّوْا كِتَابُ اللهِ وَعِتْرَتِيْ ...&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt; “Sesungguhnya aku meninggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan pernah tersesat; Kitab Allah dan keluargaku”&lt;/span&gt;(HR Turmudzi/3788). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Abbas ra, Nabi Saw bersabda;&lt;br /&gt;وَالَّذِى نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَدْخُلُ قَلْبَ رَجُلٍ اْلإِيْمَانُ حَتَّى يُحِبَّكُمْ ِللهِ وَرَسُوْلِهِ ...&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt; “Demi Dzat yang diriku berada di tanganNya,keimanan tidak memasuki hati seseorang sebelum mencintai kalian karena Allah dan RasulNya…”&lt;/span&gt;(HR Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mencintai Sahabat-nya&lt;br /&gt;Sahabat adalah orang yang beriman dan pernah bertemu Rasulullah Saw. Meski beriman tetapi tidak pernah bertemu maka tidak termasuk sahabat seperti halnya Uweis Al Qarani yang kemudian menjadi tokoh terkemuka generasi Tabiin. Dan seperti raja Najasyi yang bernama asli Ashamah yang ketika meninggal bahkan sempat dishalati ghaib oleh Rasulullah Saw dan para sahabat. Mencintai sahabat memiliki sekian banyak konsekwensi yang di antaranya tidak diperbolehkan dengan alasan apapun mencaci mereka seperti yang dilakukan oleh kelompok Syiah yang mengaku mencintai ahlul bait tetapi justru membenci, mencaci dan bahkan mengkafirkan di antara para sahabat yang pernah terjadi konflik antara mereka dengan ahlul bait. Rasulullah Saw bersabda;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt; “Jangan mencaci maki para sahabatku,karena sesungguhnya andaikan salah seorang kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka tidak bisa menyamai  satu mud atau bahkan separuh infak salah seorang mereka (sahabat)&lt;/span&gt;(HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mencintai Pewaris-nya (Ulama’ Amilin)&lt;br /&gt;Ulama adalah pewaris para nabi. Dari merekalah umat mengenal dan meneladani ajaran-ajaran para nabi. Karena itulah ulama memiliki jasa besar menyambung umat dengan nabi mereka. Atas dasar ini, Rasulullah Saw kemudian mengajarkan kepada umatnya supaya memperhatikan hak-hak para ulama. Di antara hak itu adalah ulama harus dimuliakan. Jika berbuat salah maka tidak boleh diklaim dan dilecehkan. Inilah ajaran dan pesan Rasulullah Saw. Betapapun seorang ulama berbuat salah maka sekali lagi tidak boleh dijatuhkan martabatnya, apalagi jika belum jelas kesalahannya atau bahkan nyata-nyata tidak bersalah,maka melecehkan dan mencaci ulama kezaliman yang balasannya adalah kematian hati. Imam Syafii berkata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنْ لَمْ يَكُنِ الْعُلَمَاءُ أَوْلِيَاءَ اللهِ فَلَيْسَ ِللهِ وَلِيٌّ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;[Jika ulama bukan para wali Allah maka Allah sama sekali tidak memiliki wali]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Asakir mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;[Ingatlah wahai saudaraku bahwa daging ulama itu beracun, dan sesungguhnya barang siapa lidahnya mencela mereka maka Allah mengujinya dengan kematian hati sebelum kematiannya&lt;/span&gt;] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Memperbanyak Shalawat kepada-nya&lt;br /&gt;Membaca dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Saw adalah perintah Allah dan bukan hanya menyenangkan Rasulullah Saw, tetapi juga menyenangkan Allah Azza wajalla. Bukti kesenangan Allah akan bacaan shalawat umat kepada Nabi Muhammad Saw adalah sabda Rasulullah Saw; “Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah bershalawat  atasya sepuluh kali dan mengangkatnya sepuluh derajat”(HR Nasai)&lt;br /&gt;Demikianlah hal-hal pokok yang harus kita pelajari untuk bisa dipraktekkan dalam keberagamaan kita yang memang di samping sebagai usaha membuat Rasulullah Saw berbangga dan berbahagia, juga sekaligus langkah memenuhi di antara sekian banyak hak Beliau atas umatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=والله يتولى الجميع برعايته=&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-5412614678223975810?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/5412614678223975810/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=5412614678223975810' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5412614678223975810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5412614678223975810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2012/02/membanggakan-rasulullah-saw.html' title='Membanggakan Rasulullah Saw  Berkonsekwensi Menyenangkannya'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-6809542261628936432</id><published>2012-01-30T13:23:00.000-08:00</published><updated>2012-01-30T13:24:51.158-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Format Barisan Shalat</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah format barisan shalat dalam jamaah yang hanya ada Imam dan seorang Ma’mum?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan,&lt;/span&gt; dari Demak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apabila jamaah terdiri dari Imam dan seorang ma’mum laki–laki maka ma’mum berdiri di sebelah kanan Imam. Menurut madzhab Syafii, ma’mum sedikit mundur. Hal ini atas dasar Ihtiyath/berhati– ati karena ma’mum selayaknya mengetahui dan mengikuti gerakan Imam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para Ahli Hadits, syarat tersebut tidak ada. Sebab dalam hadits tidak dijelaskan adanya syarat mundur, tetapi syaratnya hanya berdiri di sebelah kanan. Inilah dasar diperbolehkannya posisi ma’mum sejajar dengan imam. Jabir ra bercerita: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  لِيُصَلِّيَ فَجِئْتُ فَقُمْتُ عَلَى يَسَارِهِ فَأَخَذَ بِيَدِى فَأَدَارَنِى حَتَّى أَقَامَنِىْ عَنْ يَمِيْنِهِ ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berdiri untuk melakukan shalat. Aku datang dan lalu berdiri di sebelah kiri Beliau. Kemudian Beliau memegang tanganku dan lalu memutarku ke sebelah kanannya...” HR. Muslim (Lihat Fiqhus Sunnah/1–205)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila jama’ah terdiri atas imam dan dua ma’mum atau lebih maka ma’mum langsung berdiri di shof belakang imam. Samurah bin Jundub ra bercerita, “Rasulullah shallallohu alaihi wasallam memerintahkan kami apabila kami berjamaah terdiri dari tiga orang agar salah satu dari kami maju menjadi imam” HR Turmudzi. Dalam hadits ini tidak diterangkan tentang ma’mum yang berdiri di sebelah kanan dan kiri imam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-6809542261628936432?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/6809542261628936432/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=6809542261628936432' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/6809542261628936432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/6809542261628936432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2012/01/format-barisan-shalat.html' title='Format Barisan Shalat'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-1120512888571933429</id><published>2012-01-17T13:20:00.000-08:00</published><updated>2012-01-17T14:23:57.240-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Menjadi Manusia Cerdas</title><content type='html'>Tausiah Bulan Januari 2012 / Muharram 1433&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;(إِنَّ ِللهِ عِبَادًا فُطَـنًا)&lt;br /&gt;وَ ِللهِ دَرُّ الْقَائِلِ :&lt;br /&gt;إِنَّ ِللهِ عِبَـادًا فُطَـنَا # َطلَّقُوا الدُّنْيَا وَخَافُوا الْفِتَـنَا&lt;br /&gt;نَظَرُوْا فِيْهَا فَلَمَّا عَلِمُوْا# أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ سَـكَنَا&lt;br /&gt;جَعَلُوْهَا لُجَّةً وَاتَّخَذُوْا # صَالِحَ الْلأَعْمَالِ فِيْهَا سُفُـنَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الدُّنْيَا دَارُ الْمِحَنِ والْفِتَنِ قَالَبًا وَقَلْبًا وَإِنَّ الْفِتْنَةَ لَكَبِيْرَةٌ إِذَا كَانَتْ مِمَّنْ يَعِيْشُ مَعَـنَا مِنَ اْلأَزْوَاجِ وَاْلأَوْلاَدِ وَلِذلِكَ حَذَّرَنَا اللهُ تَعَالَى عَنِ الْوُقُوْعِ فِيْهَا وَخَصَّهَا بِالذِّكْرِ حَيْثُ يَقُوْلُ : [يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْا...] التغابن:14. &lt;br /&gt;ذُكِرَ أَنَّ هَذِهَ اْلآيَةَ نَزَلَتْ فِى قَوْمٍ أَسْلَمُوْا بِمَكَّةَ فَأَرَادُوا الْهِجْرَةَ فَمَنَعَهُمْ أَزْوَاجُهُمْ وَأَوْلاَدُهُمْ وثَبَّطُوْهُمْ عَنْهَا قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ . قَالَ الْقَاضِى أَبُوْ بَكْر بْنِ الْعَرَبِي: هَذَا يُبَيِّنُ وَجْهَ الْعَدَاوَةِ فَإِنَّ الْعَدُوَّ لَمْ يَكُنْ عَدُوًّا لِذَاتِهِ وَإِنَّمَا عَدُوًّا بِفِعْلِهِ  فَإِذَا فَعَلَ الزَّوْجُ وَالْوَلَدُ فِعْلَ الْعَدُوِّ كَانَ عَدُوًّا وَلاَ فِعْلَ أَقْبَحُ مِنَ الْحَيْلُوْلَةِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الطَّاعَةِ وَقَالَ الْحَسَنُ : أُدْخِلَ "مِنْ" لِلتَّبْعِيْضِ  ِلأَنَّ كُلَّهُمْ لَيْسُوْا بِأَعْدَاءَ بِمَعْنَى أَنَّ مِنْهُمْ مَنْ هُوَ مُخَالِفٌ لِلدِّيْنِ فَصَارَ بِمُخَالَفَةِ الدِّيْنِ عَدُوًّا كَيْ نَكُوْنَ عَلَى حَذَرٍ مِنْهُمْ وَلاَ نَأْمَنَ عَلَى غَوَائِلِهِمْ وَشَرِّهِمْ . &lt;br /&gt;وَأَخْطَرُ مَا أَثَّرَ فِى الْمُخَالَفَةِ فِى هَذَا الزَّمَانِ وُقُوْعُ مَا أَخْبَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ : (...ثُمَّ فِتْنَةٌ لاَ يَبْقَى بَيْتٌ مِنَ الْعَرَبِ إِلاَّ دَخَلَـتْهُ) رواه البخارى (مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَكُوْنَ الْوَلَدُ غَيْظًا...الحديث) رواه الطبراني .(سَتَكُوْنُ الْفِتَنُ حَتَّى يَكُوْنَ الْحَلِيْمُ فِيْهَا حَيْرَانَ) أَوْ كَمَا قَالَ. &lt;br /&gt;وَلاَ نَظُنُّ فِتْنَةً اتَّصَفَتْ بِهَذَا إِلاَّ الْفِتْنَةَ الْحَدِيْثةَ التِّلْفِزِيُوْن وَالْكُومْبُوترْ وَاْلإِرْتَنِيتْ وَالْفِزْبُوكْ وَالتُّوِيْترْ وَالْجَوَّالْ وَغَيْرَ ذَلِكَ  لِمَنْ لَمْ يُمَيِّـزْ طَيِّبَهَا عَنْ خَبِيْثِهَا وَاْلأَغَانِي وَالْقِيْنَاتُ وَالْمَعَازِفُ فَقَدْ عَمَّتْ بِهَا الْبَلْوَى وَشَهِدَ بِذَلِكَ الْجَمِيْعُ حَتَّى يَكُوْنَ الْفَسَادُ يَصِيْرُ بِكَثْرَةِ الْمُبَاشَرَةِ هَيِّـنًا عَلَى الطَّبَعِ وَسَقَطَ وَقْعُهُ وَاسْتِعْظَامُهُ فِى الْقَلْبِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ . قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ)) رواه البخارى ومسلم . وَفَسَادُ الْقَلْبِ مَرَضُهُ وَمَرَضُهُ ظُلْمَـتُهُ وَمَرَضُ الْقَلْبِ يَضُرُّ بِصَاحِبِهِ فِى دِيْنِهِ الَّذِى هُوَ رَأْسُ مَالِ سَعَادَتِهِ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَيَضُرُّهُ فِى آخِرَتِهِ الَّتِي هِيَ دَارُ بَقَائِهِ وَخُلُوْدِهِ وَيُعْرَفُ بِاْلأَمَارَاتِ الظَّاهِرَةِ وَمِنْ أَظْهَرِهَا التَّكَاسُلُ عَنِ الطَّاعَاتِ وَالتَّثَاقُلُ عَنِ فِعْلِ الْخَيْرَاتِ وَالْحِرْصُ عَلَى شَهَوَاتِ الدُّنْيَا وَلَذَّاتِهَا بَعِيْدًا عَنِ اسْتِخْدَامِهَا مَزْرَعَةً ِلآخِرَتِهِ . فَإِذَا ظَهَرَ لَهُ مِنْ أَمْثَالِ هَذِهِ اْلأَمَارَاتِ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يَسْعَى فِى مُدَاوَاتِهِ وَمُعَالَجَتِهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى : [يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا ِللهِ وَالرَّسُوْلِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْ – اي يُحْيِي قُلُوْبَكُمْ – وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ]الأنفال:24.&lt;br /&gt;تُشِيْرُ هَذِهِ اْلآيَةُ إِلَى أَنَّ مُعَالَجَتَهُ بِالسَّعْيِ عَلَى إِحْيَائِهِ بِشَتىَّ سُبُلٍ أَقْرَبُهَا إِلَى حُصُوْلِ الْقَصْدِ أَنْ يَطْلُبَ لَهُ شَيْخًا مُرَبِّيًا مُرْشِدًا قَائِدًا الَّذِى يُرَبِّى قَلْبَهُ وَيُهَذِّبُ أَخْلاَقَهُ وَيَأْتِي بِيَدِهِ إِلَى اللهِ وَالَّذِى بِصُحْبَتِهِ اللهُ يَحْفَظُهُ مِنَ الشَّرِّ وَالْهَوَى وَالْمَعَاصِى فَإِنْ لَمْ يَجِدْهُ فَأَخًا صَالِحًا نَاصِحًا يَسْتَعِيْنُ بِرَأْيِهِ وَإِشَارَتِهِ فِى تَعَرُّفِ مَرَضِ قَلْبِهِ وَعِلاَجِهِ أَوْ جَمَاعَةً صَالِحَةً يَنْضَمُّ إِلَيْهَا لِيَتَشَارَكَ بِغَيْرِهِ فِيْهَا ِلإِصْلاَحِ قَلْبِهِ , فَإِنْ لَمْ يَظْفَرْ بِذَلِكَ كَمَا هُوَ الْغَالِبُ  مِنْ أَحْوَالِ أَهْلِ الزَّمَانِ مِنْ قِلَّةِ الْمُعَاوِنِيْنَ عَلَى الْحَقِّ وَالْخَيْرِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَلْتَزِمَ بِالْتِزَامَاتٍ يُوَاظِبُ عَلَيْهَا مِثْلَ مَا يَأْتِي : &lt;br /&gt;أ‌- أَدَاءُ الصَّلَوَاتِ مَعَ لَوَازِمِهَا الْمَشْرُوْعَةِ مِنْ إِقَامَتِهَا وَالْمُحَافَظَةِ عَلَيْهَا وَالْخُشُوْعِ وَالْحُضُوْرِ فِيْهَا وَالدَّوَامِ عَلَيْهَا فَإِنَّهَا تُزِيْلُ دَرَنَ الْقُلُوْبِ &lt;br /&gt;ب‌- كَثْرَةُ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فإنها تَجْبُرُ صَدَعَ الْقُلُوْبِ &lt;br /&gt;ج -  تِلاَوَةُ الْقُرْآنِ فَإِنَّهَا تَجْلُوْ صَدَأَ الْقُلُوْبِ &lt;br /&gt;د -   الْمُلاَزَمَةُ عَلَى اْلأَوْرَادِ وَاْلأَذْكَارِ وَحُضُوْرِ مَجَالِسِ الذِّكْرِ الَّتِي مِنْهَا مَجْلِسُ الْعِلْمِ&lt;br /&gt;هـ - الْمُلاَزَمَةُ عَلَى اْلإِسْتِغْفَارِ . قَالَ اْلإِمَامُ عَلِيّ ابْنُ أَبِي طَالِبٍ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ : ابْحَثْ عَنْ قَلْبِكَ فِى ثَلاَثَةِ مَوَاطِنَ : عِنْدَ سَمَاعِ اْلقُرْآنِ وَفِى مَجَالِسِ الذِّكْرِ وَفِى أَوْقَاتِ الْخَلْوَةِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْهُ فِى هَذِهِ الْمَوَاطِنِ فَسَلِ اللهَ تَعَالَى أَنْ يَمُنَّ عَلَيْكَ بِقَلْبٍ فَإِنَّهُ لاَ قَلْبَ لَكَ . &lt;br /&gt;وَهُنَاكَ أَدْعِيَةٌ مَأْثُوْرَةٌ تَدُلُّ عَلَى إِمْكَانِ تَغْيِيْرِ اْلأَخْلاَقِ الذَّمِيْمَةِ كَالتَّالِى :&lt;br /&gt;1.أَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دَابَّةٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ&lt;br /&gt;2. أَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ اْلأَخْلاَقِ وَاْلأَهْوَاءِ وَاْلأَدْوَاءِ&lt;br /&gt;3.أَللَّهُمَّ اهْدِنِي لِصَالِحِ اْلأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لِصَالِحِهَا إِلاَّ أَنْتَ . وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّـئَها لاَيَصْرِفُ عَنِّي سَيِّـئَهَا إِلاَّ أَنْتَ .&lt;br /&gt;=والله يتولى الجميع برعايته=&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menjadi Manusia Cerdas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu indah orang berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang cerdas &lt;br /&gt;yang tidak terpesona oleh dunia dan bahkan mengkhawatirkan fitnah-fitnahnya&lt;br /&gt;Mereka mengamati dunia, lalu ketika mengetahui bahwa ia bukanlah tempat tinggal bagi orang yang hidup&lt;br /&gt;Maka mereka menganggapnya sebagai samudera yang harus dilalui dengan perahu-perahu amal keshalehan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia adalah tempat ujian dan fitnah secara fisik maupun psikis. Fitnah dunia sungguh semakin berat jika datang dari orang-orang yang hidup bersama kita; isteri-isteri dan anak-anak kita. Karena itu Allah memperingatkan agar kita tidak terjebak dalam fitnah ini yang secara khusus disebutkan oleh Allah dalam firmanNya: “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya sebagian dari isteri-isterimu dan anak-anakmu adalah musuh bagimu maka waspadalah...”QS At Taghabun:14. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan bahwa ayat ini diturunkan terkait orang-orang yang telah masuk islam semenjak di Makkah dan bermaksud hijrah (ke Madinah) akan tetapi langkah mereka surut dan tertahan oleh isteri-isteri dan anak-anak mereka. Demikian seperti dikatakan oleh Ibnu Abbas ra.  Al Qadhi Abu Bakar bin Al Arabi mengatakan: [Ini menjelaskan sisi permusuhan (yang dimaksudkan) karena musuh bukanlah dianggap musuh kecuali sebab perbuatannya. Jadi apabila isteri dan anak berbuat seperti perbuatan musuh maka mereka berdua adalah musuh karena tidak ada perbuatan yang paling buruk daripada menghalangi antara seorang hamba dengan ketaatan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hasan (al Bashri) mengatakan: &lt;br /&gt;[Digunakan huruf Jarr “Min” untuk menunjukkan arti sebagian karena tidak keseluruhan mereka berubah menjadi musuh dalam arti sebagian mereka ada yang melakukan perbuatan melawan agama sehingga dengan perbuatan melawan ini mereka dianggap sebagai musuh yang perlu diwaspadai dan tidak boleh diremehkan akan bahaya dan keburukan mereka]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal paling berbahaya yang bisa memberikan pengaruh kepada perbuatan melawan agama pada sekarang ini adalah terjadinya apa yang sudah beritakan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam sabda Beliau; “...kemudian akan ada fitnah yang memasuki seluruh rumah orang Arab (penduduk muslimin) tanpa terkecuali” HR Bukhari. “Termasuk tanda-tanda kiamat adalah anak-anak menjadi sumber kemarahan( orang tua)...”HR Thabarani. “Akan terjadi fitnah-fitnah yang membuat orang bijak pun merasa kebingungan di dalamnya” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitnah semacam ini dalam penilaian kita tidak lain adalah fitnah yang berkembang saat ini berupa TV, Komputer, Internet, Face Book, Twitter dan HP dll bagi siapa saja yang tidak bisa mengambil manfaat positifnya, lagu-lagu, para selebritis dan konser-konser musik. Sungguh semuanya sudah mewabah dan disaksikan oleh seluruh orang. Karena seringkali bersentuhan sehingga hati menganggapnya biasa dan merasa kerusakan ini bukanlah hal yang serius serta tidak perlu dipermasalahkan. Laa haula walaa quwwata illaa billaah al aliiy al azhiim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda; “Ingat, sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging; jika daging itu baik maka seluruh tubuh juga baik dan jika daging itu rusak maka seluruh tubuh menjadi rusak”HR Bukhari Muslim.&lt;br /&gt;Hati yang rusak adalah hati yang sakit. Hati yang sakit adalah hati yang diliputi kegelapan. Hati yang sakit berbahaya bagi pemiliknya; dalam agamanya sebagai modal meraih keberuntangan dunia akhirat, juga dalam akhiratnya sebagai rumah yang langgeng dan abadi baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang sakit bisa diidentifikasi melalui gejala-gejala yang muncul di mana yang paling dominan adalah bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan, merasa berat melakukan kebaikan-kebaikan, serta sikap rakus terhadap kesenangan dan kelezatan dunia, sama sekali jauh dari memperlakukan dunia sebagai ladang akhirat.&lt;br /&gt;Jika gejala-gejala tersebut muncul maka seseorang wajib berusaha melakukan terapi  pengobatan. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman!  penuhilah Allah jika Dia Memanggilmu menuju hal yang bisa membuatmu selalu hidup –menghidupkan hatimu – dan ketahuilah bahwa  sesungguhnya Allah Menghalangi antara seseorang dan hatinya dan sesungguhnya kepadaNya-lah kalian dikumpulkan”QS Al Anfaal:24.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini memberikan arahan untuk melakukan pengobatan hati dan berusaha selalu menghidupkannya dengan berbagai macam cara di mana yang paling memudahkan mencapai tujuan adalah dengan mencari seorang Guru Murabbi yang akan selalu membimbing dan mengarahkan, yang bisa melihat hati dan membersihkan akhlak,  yang akan memegang tangannya menuju Allah,  dan yang karena bershuhbah dengan guru itu Allah menjaga dirinya dari keburukan, hawa nafsu dan kemaksiatan.&lt;br /&gt;Apabila tidak menemukan guru seperti itu maka mencari teman yang shaleh yang selalu memberi nasehat. Saran dan pendapat  teman seperti ini bisa membantu mengenali penyakit hati dan pengobatannya.&lt;br /&gt;Atau mencari Jamaah yang patut untuk bergabung di dalamnya agar bisa turut serta bersama yang lain dalam memperbaiki hati.&lt;br /&gt;Jika semuanya tidak ditemukan - sebagaimana kondisi mayoritas masyarakat sekarang ini yang susah mencari orang-orang yang bisa saling membantu dalam kebaikan dan kebenaran – maka harus melakukan secara rutin iltizamat berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menjalankan shalat dan keharusan-keharusannya yang berupa; mendirikannya, menjaganya, khusyu’, khudhur dan melanggengkannya. Sungguh shalat bisa menghilangkan kotoran-kotoran hati.&lt;br /&gt;b. Memperbanyak bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam karena shalawat bisa menambal keretakan hati.&lt;br /&gt;c. Membaca Alqur’an karena membaca Alqur’an bisa membersihkan karat-karat hati&lt;br /&gt;d. Merutinkan wirid-wirid dan dzikir-dzikir serta menghadiri majlis-majlis dzikir yang di antaranya adalah majlis ilmu.&lt;br /&gt;e. Menetapi Istighfar. Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah mengatakan: [Carilah hatimu dalam tiga suasana; ketika mendengarkan Alqur’an, dalam majlis-majlis dzikir dan dalam waktu-waktu khalwah. Jika kamu tidak menemukkannya dalam suasana-suasana ini maka memohonlah kepada Allah agar menganugerahkan hati kepadamu karena kamu sama sekali tidak memiliki hati]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada do’a-do’a ma’tsur yang menjadi dalil adanya peluang merubah akhlak yang tercela seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon perlindunganMu dari kejahatan diriku dan dari kejahatan seluruh binatang melata yang ubun-ubunya ada dalam genggamanMu . sesungguhnya Tuhanku berada pada jalan yang lurus”&lt;br /&gt;2. “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon perlindunganMu dari akhlak yang mungkar, menuruti keinginan nafsu dan dari berbagai penyakit”http://www.blogger.com/img/blank.gif&lt;br /&gt;3. “Ya Allah, tunjukkanlah diriku akan akhlak yang baik karena tidak ada yang menunjukkan akan  akhlak yang baik kecuali Engkau. Hindarkanlah keburukan akhlak dariku. Karena tak  ada yang menghindarkannya dariku kecuali Engkau”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=والله يتولى الجميع برعايته=&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Audio Offline Tausiah 8 Januari 2012 / Muharram 1433&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;embed src="http://www.4shared.com/embed/1084354795/44214db7" width="420" height="250" allowfullscreen="false" allowscriptaccess="always"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/I2dwnEBt/taushiah_8_januari_2012.html"&gt;Download&lt;/a&gt; Tausiah 8 Januari 2012 / Muharram 1433&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-1120512888571933429?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/1120512888571933429/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=1120512888571933429' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1120512888571933429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1120512888571933429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2012/01/menjadi-manusia-cerdas.html' title='Menjadi Manusia Cerdas'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-751299488166605689</id><published>2011-11-30T20:28:00.000-08:00</published><updated>2011-11-30T20:31:48.184-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>[...تَكُنْ مُهَاجِرًا]  Anda Harus Berhijrah!</title><content type='html'>Tausiah Bulan Desember 2011 / Muharram 1433 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[...تَكُنْ مُهَاجِرًا]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَرَى الْمُسْلِمُ الْوَاعِى دُرُوْسًا وَافِرَةً مِنَ الْهِجْرَةِ النَّّبَوِيَّةِ يَعْتَبِرُهَا بِإِضَافَةِ مَا لَهَا مِنْ ثَمَرَاتٍ ِلأَنَّ الْهِجْرَةَ فِى الْحَقِيْقَةِ هِيَ مِنْ مَدْرَسَةِ اْلإِيْمَانِ وَمِنْ تِلْكَ الثَّمَرَاتِ أَنْ عَمَّرَ اللهُ تَعَالَى لِخَلِيْلِهِ إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ أَشْرَفَ بُقْعَةٍ بِأَشْرَفِ ذُرِّيَّةٍ وَأَحْيَا أَفْضَلَ وَادٍ غَيْرَ ذِي زَرْعٍ بِأَفْضَلِ مَاءٍ وَأَقَامَ أَعْظَمَ شَعَائِرِهِ وَهِيَ الصَّلاَةُ فِى أَجَلِّ مَشَاعِرِهِ وَرَفَعَ قَوَاعِدَ أَوَّلِ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ وَجَعَلَهُ لِسَانَ صِدْقٍ فِى اْلآخِرِيْنَ وَأَظْهَرَهُ عَلَى مَنَاسِكِ الْحَجِّ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَغَيْرَ ذَلِكَ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَهَكَذَا كَانَتِ الْهِجْرَةُ النَّبَوِيَّةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ الَّتِي كَانَتْ مِنْ ثَمَرَاتِهَا الطَّيِّبَةِ كُلُّ خَيْرٍ أَصَابَهُ الْمُسْلِمُوْنَ وَكُلُّ عِـزٍّ أَدْرَكُوْهُ وَكُلُّ سَعْدٍ نَالُوْهُ  عَلَى مَرِّ الْعُصُوْرِ , فَلَقَدِ انْتَشَرَ نُوْرُ اْلإِسْلاَمِ – الَّذِى بِهِ صَلاَحُ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ – وَقَامَتْ دَوْلَـتُهُ الَّتِى فَتَحَ اللهُ بِهَا مَكَّةَ وَانْتَشَرَ تَعَالِيْمُهُ فِى الْعَالَمِ بَعْدُ بِالْفُتُوْحَاتِ اْلإِسْلاَمِيَّةِ وَهِيَ بِلاَ شَكٍّ تَخْتَلِفُ فِى مَظْهَرِهَا وَنَتَائِجِهَا عَنْ هِجْرَةِ إِخْوَانِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ السَّابِقِيْنَ وِفْقَ رِسَالَتِهِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ .&lt;br /&gt;ثُمَّ وَسَّعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَفْهُوْمَ الْهِجْرَةِ حَيْثُ يَشْمَلُ الْهِجْرَةَ عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ بِتَرْكِ الْمَعَاصِى وَالْمُخَالَفَاتِ قَائِلاً لِفُدَيْكٍ أَحَدُ الصَّحَابَةِ (( يَافُدَيْكُ أَقِمِ الصَّلاَةَ وَآتِ الزَّكَاةَ وَاهْجُرِ السُّوْءَ وَاسْكُنْ مِنْ أَرْضِ قَوْمِكَ حَيْثُ شِئْتَ تَكُنْ مُهَاجِرًا)) رَوَاهُ الْبَغَوِى وَابْنُ مَنْدَهْ وَأَبُوْ نُعَيْمٍ . (كَنْـزُ الْعُمَّالِ 8/3031, الْقُدْوَةُ الْحَسَنَةُ لأبوي ص 42)&lt;br /&gt;لِمَاذَا؟ لِمَا قِيْلَ : (زَمَانٌ كَأَهْلِهِ وَأَهْلُهُ كَمَا تَرَي) وَأَهْلُ هَذَا الزَّمَانِ قَدْ تَحَقَّقَ مَا وَقَعَ بِهِمْ مَا أَشَارَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ تَغَيُّرِهِمْ عَنْ طَرِيْقَتِهِمِ الْجَادَّةِ لِفِتْـنَةٍ دَاهَمَتْهُمْ كَمَا جَاءَ ذَلِكَ فِى عِدَّةٍ مِنْ أَحَادِيْثِهِ الشَّرِيْفَةِ كَمَا يَلِيْ:&lt;br /&gt;1. حَدِيْثُ رَفْعِ اْلأَمَانَةِ عِنْدَ التِّرْمِذِى رَقْمُ 2270 إِلَى أَنْ قَالَ :  ((...فَيُصْبِحُ النَّاسُ يَتَبَايَعُوْنَ لاَ يَكَادُ أَحَدُهُمْ يُؤَدِّي اْلأَمَانَةَ حَتَّى يُقَالَ إِنَّ فِى بَنِي فُلاَنٍ رَجُلاً أَمِيْنًا وَحَتَّى يُقَالَ لِلرَّجُلِ مَا أَجْلَدَهُ وَأَظْرَفَهُ وَأَعْقَلَهُ وَمَا فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ _ الحديث)) &lt;br /&gt;وَحَاصِلُهُ : أَنَّهُمْ يَمْدَحُوْنَهُ بِكَثْرَةِ الْعَقْلِ وَالظَّرَافَةِ وَالْجَلاَدَةِ وَيَتَعَجَّبُوْنَ مِنْهُ وَلاَ يَمْدَحُوْنَ أَحَدًا بِكَثْرَةِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ .&lt;br /&gt;2. ("لَتَـتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ" قَالُوْا : الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ : فمن؟ ) رَوَاهُ الْبُخَارِى عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه . وَرَوَاهُ الْحَاكِمُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَفِى آخِرِهِ "وَحَتَّى  لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ  جَامَعَ امْرَأَتَهُ فِى الطَّرِيْقِ لَفَعَلْتُمُوْهُ " قَالَ الْمُنَاوِي : إِسْنَادُهُ صَحِيْحٌ . وَقَالَ النَّوَوِى:الْمُرَادُ الْمُوَافَقَةُ فِى الْمَعَاصِى وَالْمُخَالَفَاتِ لاَ فِى الْكُفْرِ .(تحفة الأحوذى  6/408)&lt;br /&gt;3. ("لَتَنْقُضُنَّ عُرَى اْلإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيْهَا  فَأَوَّلُهُنَّ الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ") رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ حِبَّان وَالْحَاكِمُ (الجامع الصغير 2/123) .&lt;br /&gt;4. ("يَكُوْنُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنٌ كَقِطَعِ اللَيْلِ الْمُظْلِمِ") رَوَاهُ ابْنُ مَاجَة (كنوز الحقائق للمناوى هامش الجامع الصغير2/203) &lt;br /&gt;5.("يُوْشِكُ اْلإِسْلاَمُ  أَنْ يَدْرُسَ فَلاَ يَبْقَى إِلا َّاسْمُهُ ") رواه الديلمي فى الفردوس/ كنوز الحقائق للمناوى هامش الجامع الصغير2/203)&lt;br /&gt;قَالَ الله تَعَالَى مُحَذِّرًا عَنِ الْوُقُوْعِ فِى هَذِهِ الْفِتَنِ بِقَوْلِهِ (...وَيُحَذِّرُكُمُ الله نَفْسَهُ وَاللهُ رَؤُوْفٌ بِالْعِبَادِ) آل عمران:30, مُوْصِيًا بِطَلَبِ الْمَخْرَجِ عَنْ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ (يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْا وَاتَّقُوا الله لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ) آل عمران آخر السورة:200.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=الله يتولى الجميع برعايته=&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anda Harus Berhijrah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim yang terbina melihat ada banyak sekali pelajaran dari hijrah nabawiyyah selain memang dalam hijrah terdapat sekian banyak buah (manfaat) karena sebenarnya  hijrah adalah madrasah keimanan. Di antara buahnya ialah Allah menyemarakkan untuk kekasihNya Nabi Ibrahim alaihissalam, tanah suci dengan anak keturunan yang mulia (Rasulullah Saw), dan Dia menghidupkan lembah paling utama yang tidak ada tanaman (sama sekali) dengan air yang paling utama (Zam-zam), serta menegakkan syiar utamaNya yaitu shalat di tempat syiarnya yang paling mulia sekaligus meninggikan pilar-pilar rumah pertama yang diletakkan untuk manusia. Allah juga menjadikan Nabi Ibrahim sebagai orang yang selalu disebut dengan kebaikan (lisan shidiq) oleh generasi setelahnya (hingga sekarang) dan menampakkannya dalam manasik haji untuk kaum muslimin dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah hijrah nabawiyyah muhammadiyyah yang di antara buah indahnya adalah seluruh kebaikan yang didapatkan kaum muslimin dan seluruh kemuliaan yang mereka peroleh serta seluruh keberuntungan yang mereka capai sepanjang masa. Sungguh cahaya Islam – sebagai kunci kebaikan dunia dan akhirat - telah tersebar dan pemerintahannya telah beridiri sehingga Makkah bisa ditaklukkan dan sesudah itu ajaran-ajaran Islam tersebar luas di seluruh alam melalui penaklukkan-penaklukkan yang dilakukan Islam. Jadi sudah dipastikan bahwa hijrah nabawiyyah berbeda dengan hijrah saudara-saudara Beliau shallallahu alaihi wasallam  yaitu para nabi yang lain yang terdahulu alaihimussalaam sesuai dengan risalah beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperluas pemahaman hijrah sehingga mencakup berhijrah dari sesuatu yang dilarang oleh Allah dengan meninggalkan maksiat dan sikap melawan kepada Allah. Beliau bersabda kepada salah seorang sahabat bernama Fudek: “Wahai Fudek, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, jauhilah keburukan dan tinggal-lah di manapun dari tanah kaum-mu, tentu kamu tetap menjadi seorang yang berhijrah!”” (HR Baghawi Ibnu Mandah Abu Nuaim/Kanzul Ummal 8/3031, al Qudwah al Hasanah hal 42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? Karena dikatakan: “Masa itu seperti pelakunya. Sedang pelakunya seperti anda saksikan”Ia, pelaku masa sekarang ini telah berada dalam kondisi seperti disabdakan Nabi shallallahu alaihi wasallam yaitu kondisi berubah dari jalur yang benar akibat terpaan badai fitnah yang begitu dahsyat sebagaimana diberitakan dalam hadits-hadits beliau di bawah ini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Hadits hilangnya Amanah seperti dalam riwayat Imam Turmudzi;2270; ((....sehingga manusia lalu saling melakukan transaksi perdagangan di mana hampir tak ada seorangpun yang menunaikan amanat, sampai dikatakan “bahwa sesungguhnya di suku ini ada seorang yang bisa dipercaya” hingga mereka mengatakan; “Betapa teguh orang ini, betapa cerdas dan betapa berakal dirinya” padahal dalam hatinya tak ada sebiji sawipun keimanan...)) Artinya mereka memujinya sebagai banyak memiliki akal, kecerdasan dan keteguhan serta mengidolakannya. Sementara mereka sama sekali tidak memuji seorangpun karena banyak memiliki ilmu yang bermanfaat dan melakukan amal shaleh.&lt;br /&gt;2. “Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sehingga seandainya mereka memasuki lubang biawak niscaya kalian mengikuti mereka” Kami (para sahabat) bertanya; “Orang yahudi dan nashrani (yang anda maksudkan)?” Nabi Saw bersabda; “Lalu siapa (lagi)?”(HR Bukhari dari Abu Said al Khudri ra. Sedangkan Imam Hakim meriwayatkan hadits ini Ibnu Abbas ra di mana dalam akhir teks hadits terdapat riwayat; “...dan sampai andaikan salah seorang mereka mengumpuli isteri di jalan niscaya kalian juga melakukannya” Imam al Munawi mengatakan bahwa hadits riwayat Hakim ini bersanad shahih. Imam Nawawi mengatakan:[Maksudnya adalah menyamai mereka dalam hal kemaksiatan dan pelanggaran, bukan dalam kekafiran]( Tuhfatul Ahwadzi 6/408)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.”Sungguh kalian akan melepaskan kancing-kancing islam satu persatu. Setiap kali satu kancing terlepas maka manusia beralih kepada kancing berikutnya; pertama dari kancing (yang dilepaskan) itu adalah hukum (daulah islamiyyah) dan yang akhir adalah shalat” (HR Ahmad Ibnu Hibban Hakim/ al jami’ as shaghir 2:203)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.”Akan ada sebelum kiamat,  fitnah-fitnah seperti potongan-potongan gelap malam”(HR Ibnu Majah/ Kunuzul Haqaiq Lil Munawi((Hamisy al jami’ ash shaghir2/203))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. “Hampir saja Islam musnah sehingga tidak tersisa kecuali namanya” (HR Dailami falam Musnadul Firdaus/ Kunuzul Haqaiq Lil Munawi((Hamisy al jami’ ash shaghir2/203))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’alaa memberikan peringatan agar tidak terjatuh dalam fitnah-fitnah ini dengan firmanNya; “Dan Allah memperingatkan kalian akan siksaNya. Dan Allah sangat sayang kepada para hambaNya “QS Ali Imran:30, seraya berwasiat supaya mencari jalan keluar dari hal tersebut; “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, tabahkanlah diri (bergaul dengan sesama), masuklah dalam jaringan (jamaah) dan bertaqwalah supaya meraih keberuntungan “QS Ali Imran (akhir surat):200)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=الله يتولى الجميع برعايته=&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;NB:&lt;br /&gt;Format Audio menyusul.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-751299488166605689?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/751299488166605689/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=751299488166605689' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/751299488166605689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/751299488166605689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/11/anda-harus-berhijrah.html' title='[...تَكُنْ مُهَاجِرًا]  Anda Harus Berhijrah!'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-8415242839697310302</id><published>2011-11-12T20:22:00.000-08:00</published><updated>2011-11-12T20:27:08.517-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Dengan Cara Apa Anda Ber-shuhbah?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tausiyah Bulan Oktober 2011&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dzunnun Al Mishri berkata: [Jangan berteman akrab menuju Allah kecuali dengan pandangan yang sama. Jangan berteman dengan akran (bershuhbah) dengan makhluk kecuali dengan saling menasehati. Jangan bershuhbah dengan nafsu kecuali dengan perlawanan. Jangan bershuhbah dengan setan kecuali dengan permusuhan] tanwiirul Adzhaan:1/271.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1) Bershuhbah Bersama Menuju Allah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah ta’alaa berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.“QS Ali Imran:118.&lt;br /&gt;Sungguh telah dikatakan: “Jangan tertipu performa manusia sebelum kamu mengerti hakikat dirinya”.&lt;br /&gt;Juga dikatakan: “Sesungguhnya orang-orang itu laksana kotak-kotak terkunci. Dan tiada kunci-kuncinya kecuali sekian banyak uji coba”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2) Bershuhbah dengan Manusia dengan &lt;br /&gt;Saling Menasehati dan Menabahkan Diri&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah ta’alaa berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.“QS al Ashr:1-3.&lt;br /&gt;Allah ta’alaa berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan berjejaringlah serta bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.“QS Ali Imran:200.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dikatakan:&lt;br /&gt;Bersabarlah atas kepedihan karena orang yang iri hati, karena kesabaranmu pasti akan membunuhnya.&lt;br /&gt;Sungguh api akan memakan dirinya sendiri apabila tidak menemukan sesuatu yang dimakannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;3) Bershuhbah dengan Nafsu dengan Perlawanan (Sehingga menjadi Lawwamah lalu Muthmainnah)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah ta’alaa berfirman: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.“QS Yusuf:53.&lt;br /&gt;Yang selalu menyuruh kepada kejahatan adalah salah satu jenis nafsu. Di antara jenis yang lain ialah al lawwaamah, yaitu yang senantiasa dan seringkali mengkritisi dirinya ketika terjatuh dalam kemaksiatan.&lt;br /&gt;Di antara jenis nafsu lainnya adalah al muthma’innah yang disebutkan Allah dalam firmanNya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku. masuklah ke dalam syurga-Ku” QS al Fajr: 27-30. Nafsu jenis ini merasa tentram dengan keimanan dan pembenaran sepenuhnya akan janji Allah ta’alaa. Nafsu jenis selamanya mendapatkan pertolongan menuju ketaatan dan membenarkan pertemuan dengan Allah ta’aalaa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Burdah-nya, Imam al Bushiri mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Nafsu itu seperti anak kecil yang jika kamu membiarkannya maka ia akan tumbuh dewasa dengan tetap suka menyusu (kepada ibunya). Tetapi jika kamu menyapihnya maka iapun bisa tersapih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Maka alihkanlah keinginan nafsu dan waspadalah jangan sampai memberinya kuasa, sebab sungguh selama hawa nafsu berkuasa niscaya ia bisa mematikan atau membuat kerusakan(menimbulkan kecacatan)&lt;br /&gt;Nafsu lebih berbahaya daripada setan karena ia musuh dalam rupa seorang teman. Sementara manusia tidak pernah mewaspadai rekayasa teman sendiri. Jadi nafsu adalah musuh dalam selimut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4)Bershuhbah dengan Setan dengan Permusuhan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah ta’alaa berfirman: ” Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala“QS Fathir:6.&lt;br /&gt;Lihatlah apa yang dilakukan setan terhadap ayah kita Nabi Adam alaihissalaam dan isterinya Hawwa’.Ia telah bersumpah sesungguhnya ia bermaksud baik kepada keduanya sebagaimana difirmankan Allah: “Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua",QS al A’raaf:21. lalu bagaimana terhadap kita? padahal terhadap kita ia telah bersumpah, seperti difirmankan Allah: “Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka".  “QS al Hijr:39-40.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena itulah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam memberikan peringatan kepada kita akan rekayasa setan dalam khutbah beliau ketika hajjatul wada’. Beliau bersabda:&lt;br /&gt;“Ingat, sesungguhnya setan telah berputus asa untuk bisa disembah di negeri-negeri kalian ini selamanya. Tetapi akan ada ketaatan kepadanya dalam amal-amal yang kalian anggap remeh sampai akhirnya setan pun rela dengan hal itu”(HR Turmudzi/2248)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk bisa disembah oleh orang-orang yang shalat, tetapi (ia masih berharap) membenturkan di antara mereka”(HR Ahmad Muslim Turmudzi dari Jabir ra/al Jami’ As Shaghiir:1/82)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam kitabnya, Bustanul Waa’izhiin Wa Riyadhus Saami’iin hal 13, Ibnul Jauzi menyebutkan riwayat dari Nabi Muhammad Saw bahwa sesungguhnya beliau saat hajjatul wada’ berkhutbah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai manusia, sesungguhnya aku mengharapkan kebaikan untuk kalian dan lagi bisa dipercaya. Ingat sesungguhnya Iblis telah berputus asa dari kalian. Akan tetapi demi Dzat yang mengutusku dengan hak, Iblis, semoga Allah melaknatnya,  pasti akan menjadikan kalian menyembah seribu tuhan. Seseorang menyembah untanya, orang lain menyembah isterinya, orang lain menyembah kambingnya, orang lain menyembah tanaman pertaniannya, orang lain menyembah perdagangan (bisnisnya), orang lain menyembah hasil karyanya, orang lain menyembah kendaraannya, dan orang lain menyembah temannya. Seseorang bertanya kepada yang lain: “Bagaimana keadaanmu?” maka temannya menjawab: “Jika bukan karena perdaganganku maka tak ada keadaan (menyenangkan) bagiku”. Ia berkata: “Andai bukan karena pertanianku” orang lain berkata: “Andai bukan karena isteriku” orang lain berkata: “Andai bukan karena kendaraanku” orang lain berkata: “Andai bukan karena temanku” sehingga setan melalaikannya dari mengingat Tuhannya dan membuatnya kepayahan dalam urusan dunianya serta memutuskannya dari Akhiratnya_....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits tersebut sejalan dengan firman Allah: “...dan tidaklah melupakan aku untuk melakukan hal itu kecuali setan... “QS al Kahfi:63.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, Allah ta’aalaa berfirman: “...dan sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan lemah”QS An Nisa’: 28. Dalam ayat lain: “...sesungguhnya rekayasa setan itu lemah “QS An Nisa’:76. Adalah dua hal yang lemah jika bertarung maka masing-masing keduanya tidak memiliki penolong untuk bisa mengalahkan lawannya. Lalu Allah memerintahkan manusia yang lemah agar memohon pertolongan kepada Tuhannya yang Maha Lembut dari rekayasa musuhnya yang lemah agar Dia Memberinya perlindungan dan pertolongan untuk bisa mengalahkan musuh dengan selalu berdzikir kepadaNya sebagaimana dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=Seorang hamba senantiasa dalam lindungan dan penjagaan Allah&lt;br /&gt;dari setiap setan yang sesat dan lalai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=Jika ia memohon perlindungan kepada Sang Maha Pengasih di waktu paginya dan begitu pula di waktu sorenya dengan berdzikir kepada Allah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;والله يتولى الجميع برعايته==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB:&lt;br /&gt;Format Audio Tausiyah Bulan Oktober 2011 segera menyusul. Admin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-8415242839697310302?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/8415242839697310302/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=8415242839697310302' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8415242839697310302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8415242839697310302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/11/dengan-cara-apa-anda-ber-shuhbah.html' title='Dengan Cara Apa Anda Ber-shuhbah?'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-8069889522459354897</id><published>2011-10-08T20:18:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T20:29:23.462-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><title type='text'>E-book Panduan Praktis Haji Tamattu'</title><content type='html'>Bagi pembaca yang akan melaksanakan ibadah haji, ada baiknya membaca dan memiliki buku kecil ini &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"PANDUAN PRAKTIS HAJI TAMATTU'"&lt;/span&gt; karya Abina K.H.M. Ihya' Ulumiddin. Biar pun buku ini kecil, namun isinya lengkap dan dapat dipakai sebagai panduan hajhdan umroh. Buku ini di susun berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits Nabi saw sehingga tidak terlalu tebal, bila dibanding dengan buku panduan haji dan umroh yang dikeluarkan oleh Depag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini juga dilengkapi dengan tambahan doa-doa yang didapat dipakai ketika pulang ibadah haji. Semoga buku kecil ini bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Admin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/_A7B-4Dd/PanduanSingkatHajiTamttu.html"&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-8069889522459354897?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/8069889522459354897/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=8069889522459354897' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8069889522459354897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8069889522459354897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/10/e-book-panduan-praktis-haji-tamattu.html' title='E-book Panduan Praktis Haji Tamattu&apos;'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-9089422619647385174</id><published>2011-09-28T17:08:00.000-07:00</published><updated>2011-11-12T20:30:52.797-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Streaming'/><title type='text'>Menuju Titik Nol</title><content type='html'>Bagaimana meletakkan kepasrahan total ke hadirat Alloh swt? Ikuti kajian streaming offline bersama K.H.M. Ihya' Ulumiddin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.4shared.com/embed/808137208/40a681ff" width="420" height="250" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/audio/3lRkX-FG/MenujuTitikNol.html"&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-9089422619647385174?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/9089422619647385174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=9089422619647385174' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/9089422619647385174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/9089422619647385174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/09/menuju-titik-nol.html' title='Menuju Titik Nol'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-5321184104739329474</id><published>2011-09-27T02:33:00.000-07:00</published><updated>2011-09-27T02:34:48.081-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Haid Membaca Alqur’an</title><content type='html'>Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Setiap kali saya mendampingi adik-adik program TQQ (Ta’lim Qira’ah Al Qur’an) di kampus kami selalu ada pertanyaan klasik seputar boleh dan tidak bolehnya saat haid memegang dan membaca Al Qur’an. Yang saya tanyakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bagaimana hukumnya orang yang memegang dan membaca Al Qur’an dalam keadaan haid?&lt;br /&gt;2. Jika tidak boleh, apa alasan-alasan (dalil) yang menjadi dasarnya?&lt;br /&gt;3. Jika boleh, apa pula alasan-alasan (dalil) yang menjadi dasarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas jawaban pengasuh Fas’alu, saya ucapkan jazakumullah khairan katsira&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anna Rofiatin&lt;/span&gt;, Ketintang Baru XI/10A Surabaya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Demi kemuliaan Al Qur’an, Ijma’/konsensus ulama menyatakan haid menjadi penghalang wanita menyentuh atau memegang mushaf Al Qur’an. Dalil atas konsensus tersebut adalah firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;لاَ يَمَسُّهُ اِلاَّ اْلمُطَهَّرُوْنَ&lt;br /&gt;Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang suci (QS Al Waqiah: 79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يَمَسُّ اْلقُرْأَنَ اِلاَّ طَاهِرٌ&lt;br /&gt;Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci (HR Nasa’i, Abu Dawud, Malik, Thobarani, dan Al Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haid menurut mereka juga menjadi penghalang wanita membaca  AlQur’an, berdasarkan pada nash:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تَقْرَأُ اْلحَائِضُ وَلاَ اْلجُنُوْبُ شَيْـأً مِنَ اْلقُرْأَنِ&lt;br /&gt;Wanita yang haid tidak boleh membaca sesuatupun dari Al Qur’an, tidak pula orang yang junub (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lain dari itu, Imam Bukhari berkecenderungan memperbolehkan wanita yang haid membaca Al Qur’an, seraya mengutip pendapat Ibrahim An Nakho’i, “Tidak berdosa wanita haid membaca ayat AlQur’an.” Hal ini didasarkan pada nash:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ فِى كُلِّ اَحْيَانِهِ&lt;br /&gt;Rasulullah senantiasa berdzikir kepada Allah di setiap waktu-waktunya (Lihat Shohih Al Bukhori, Sindy I/65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan Imam Al Bukhari ini, menurut Imam Al Munawi dan Al Hafidz Ibnu Hajar, di samping karena hadits-hadits dalam masalah ini tidak tampak satupun yang shahih, hadits-hadits tersebut juga masih memungkinkan munculnya interpretasi yang lain. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi I:412 dan Fiqih As Sunnah I:59)&lt;br /&gt;3. Imam Malik diceritakan pernah mengatakan bahwa wanita haid boleh membaca AlQur’an karena jika tidak membaca dia bisa terlupakan, sementara masa haid bisa berlangsung lama (menurut penelitian Imam Asy Syafi’i masa haid bisa mencapai setengah bulan). (Lihat Aunul Ma’bud, Syarah Sunan Abu Dawud I:384 dan Tuhfatul Ahwadzi I:410)&lt;br /&gt;4. Pada waktu-waktu tertentu yang terbilang darurat dan atau hajat, wanita yang haid diperbolehkan membaca AlQur’an, umpamanya pada waktu berdo’a, berdzikir, berniat ta’lim, mengawali sesuatu, dan sebagainya. (Lihat Al Fiqhul Islami I:384)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-5321184104739329474?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/5321184104739329474/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=5321184104739329474' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5321184104739329474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5321184104739329474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/09/haid-membaca-alquran.html' title='Haid Membaca Alqur’an'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-4598938688495863121</id><published>2011-09-27T02:32:00.001-07:00</published><updated>2011-09-27T02:32:58.712-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Status Darah sebelum Melahirkan</title><content type='html'>Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebelum melahirkan wanita biasanya mengeluarkan darah. Apakah status darah tersebut? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akhowat,&lt;/span&gt; Pujon Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ulama sepakat bahwa darah yang keluar setelah melahirkan (Wiladah) adalah darah Nifas. Sementara darah yang keluar beserta melahirkan atau saat merasakan sakit akan melahirkan (Tholq) maka menurut Madzhab Syafi’i dan sebagian Hanafi bukan termasuk darah haid dan juga bukan termasuk darah nifas. Imam Syarqowi dalam Hasyiyah Tahrir menyebut bahwa darah ini termasuk darah Fasad. Dalam Bughyatul Mustarsyidin/32 disebutkan: “Darah yang keluar dari wanita hamil sebab melahirkan sebelum bayi terlahir disebut Tholq dan hukumnya adalah seperti darah Istihadhoh yang berarti wajib dibalut, bersuci dan melakukan shalat dan tidak haram baginya segala hal yang diharamkan bagi wanita haid meskipun itu bersenggama (Hasyiyah Syarqowi  1/158). Sedang madzhab Maliki dan Hambali menganggap bahwa darah tersebut termasuk darah Nifas, artinya ketika seorang wanita yang akan melahirkan telah mengeluarkan darah maka saat itulah ia tidak berkewajiban shalat dll.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-4598938688495863121?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/4598938688495863121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=4598938688495863121' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/4598938688495863121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/4598938688495863121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/09/status-darah-sebelum-melahirkan.html' title='Status Darah sebelum Melahirkan'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-421549614989265785</id><published>2011-09-14T14:37:00.000-07:00</published><updated>2011-09-14T15:24:02.623-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafsir Tematik'/><title type='text'>Haram Memberikan Loyalitas Kepada Orang-Orang Kafir</title><content type='html'>Seri Tafsir Tematik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; لاَ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكاَفِرِيْنَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ. وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ الله فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَنْ تَتَّقُوْا مِنْهُمْ تُقَاةً, وَيُحَذِّرُكُمُ الله نَفْسَهُ. وَإِلَى الله الْمَصِيْرُ (سورة أل عمران :28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Janganlah orang-orang mukmin mengangkat orang-orang kafir sebagai wali (teman setia, pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin; dan barangsiapa berbuat demikian, berarti lepaslah dia dari (pertolongan )Alloh, kecuali kamu (bersiasat) memelihara diri (terhadap) sesuatu yang ditakuti dari mereka; dan Alloh memperingatkan kamu (dengan siksaan) dan dari diri-Nya; dan kepada Alloh-lah tempat kembali.” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS Ali Imran :28)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafadz أولياء  , adalah bentuk jamak dari lafadz   وَلِيٌّ menurut bahasa berarti an-Naashir ( penolong) dan al-Mu’iin ( yang menolong). (Lihat Ayatul Ahkam I:397). Juga berarti al-muhibb (yang mencintai), atau ash-shadiiq ( teman karib atau sahabat setia), atau  al-jaar ( tetangga dekat), atau al-haliif ( sekutu), atau at-taabi’ ( pengikut setia).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lafadz  تقاة  bentuk jamak dari    تُقًى  yang berarti bertakwa atau takut. Sedangkan maksudnya di sini adalah at-Taqiyyah yang berarti pura-pura bersikap luwes/supel kepada manusia karena takut dari kejahatannya. Menurut Ibnu Abbas, at-Taqiyyah adalah bersikap luwes/supel (al-mudaarah) secara dhahiriyyah tanpa meninggalkan prinsip. Kadang-kadang umat Islam yang berada di tengah-tengah orang-orang kafir, mereka menjaga dirinya dari kejahatan orang-orang kafir dengan lisannya, sementara dalam hatinya tidak ada kasih-sayang atau cenderung kepada mereka.(Lihat Ayatul Ahkam I:398).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Berkaitan dengan firman  Alloh swt:إلا أن تتقوا منهم تقاة  “Kecuali karena siasat memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka”, maksudnya, kecuali bagi orang-orang yang berada di suatu negeri dan pada waktu tertentu, merasa takut terhadap kejahatan orang-orang kafir, maka baginya diperbolehkan bersiasat kepada mereka secara lahirnya saja, bukan secara batin dan niatnya. Sebagaimana Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Darda’ ra, ia berkata:”sesungguhnya kami menampakkan wajah cerah kepada beberapa orang kafir, sedang hati kami melaknat mereka.” (Ibnu Katsir I:365). Sedangkan menurut Ats-Tsauri dari Ibnu Abbas berkata:”Taqiyyah (bersiasat dalam usaha melindungi diri) itu bukan dengan amal, melainkan dengan lisan.” Demikian juga menurut al-Aufi dari Ibnu Abbas ra bahwa taqiyyah itu dengan lisan. Hal yang sama juga dikatakan oleh Abul ‘Aliyah, Abu Sya’tsa’, Ad-Dhahhak dan Ar-Rabi’ bin Anas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat mereka diperkuat dengan firman-Nya:&lt;br /&gt; من كفر بالله من بعد إيمانه إلاّ من أكْرِهَ وقلبه مطمئنّ بالايمان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barangsiapa kafir kepada Alloh swt sesudah ia beriman (ia mendapat kemurkaan Alloh), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (dia tidak berdosa).”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS An-Nisa’:106)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Imam Bukhari berkata dari al-Hasan berkata:”Taqiyyah itu berlaku sampai Hari Kiamat kelak.” Jadi taqiyyah dilakukan semata-mata untuk menyelamatkan gangguan fisik dan jiwa dari orang-orang kafir, sementara hati tetap beriman kepada Alloh swt. Hal ini juga pernah dilakukan oleh sahabat Amr bin Yasir ra ketika disiksa oleh orang-orang musyrik Mekkah untuk mengakui tuhan-tuhan mereka dan keluar dari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Akibat keras dan beratnya siksaan orang-orang musyrik Mekkah, terpaksa Amr bin Yasir ra mengucapkan kata-kata kufur, sementara hatinya tetap beriman kepada Alloh swt dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asbabun Nuzul:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini diturunkan berkaitan dengan orang-orang beriman yang mempunyai sahabat/teman dekat dari kalangan orang-orang Yahudi, maka berkata sebagian sahabat Nabi saw kepada mereka:”Jauhilah mereka orang-orang Yahudi dan berhati-hatilah menjalin persahabatan dengan mereka agar mereka tidak menimpakan fitnah terhadap agama kamu dan tidak menyesatkan kamu setelah kamu beriman kepada Alloh swt.” Tetapi mereka ( beberapa kaum muslimin) menolak nasehat tersebut dan mereka tetap bersahabat dengan orang-orang Yahudi.Maka turunlah ayat tersebut di atas.( Jaami’ul Bayan Li-Thabary III:228, yang dinukil oleh Ali Ash-Shabuni I:399).  Menurut Al-Qurthubi di dalam kitab tafsirnya dari Ibnu Abbas ra bahwa ayat ini  turun berkaitan dengan sahabat Ubadah bin Shamit ra-shahabat Anshar yang ikut perang Badar-yang kebetulan mempunyai beberapa sahabat dari kalangan orang-orang Yahudi. Pada saat perang al-Ahzab, Nabi saw keluar dan Ubadah berkata kepada beliau saw:”Ya Nabi Alloh! Sesungguhnya beserta saya lima ratus orang Yahudi. Dan aku menganggap perlu kalau mereka itu keluar bersamaku untuk menghadapi musuh.” Maka Alloh swt menurunkan ayat tersebut di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Sedangkan menurut Ibnu Jarir dari Sa’ad atau Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas dikatakan bahwa al-Hajjaj bin ‘Amr yang mewakili Ka’ab bin al-Asyraf dan Ibnu Abil Haqiq serta Qais bin Zaid (tokoh-tokoh Yahudi) telah memikat segolongan kaum muslimin dari kalangan Anshar untuk memalingkan mereka dari agama Islam. Rifa’ah bin al-Mundzir, Abdullah bin Jubair serta Sa’ad bin Hatsamah memperingatkan orang-orang Anshar tersebut dengan berkata:”Berhati-hatilah kalian dari pikatan mereka, dan janganlah terpalingkan dari agama kalian”. Mereka menolak peringatan itu. Maka Alloh menurunkan ayat tersebut di atas sebagai peringatan untuk tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung orang-orang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan Ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan ayat tersebut di atas, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya berkata:” Alloh swt melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengangkat orang-orang kafir sebagai wali (penolong, teman setia, pemimpin) dengan mengabaikan orang-orang yang beriman. Selanjutnya Alloh swt mengancam perbuatan seperti itu, yaitu barangsiapa yang melanggar larangan tersebut, maka ia benar-benar terlepas dari (pertolongan) Alloh swt.”(Ibnu Katsir I:365).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Sayyid Qutub dalam kitab tafsirnya berkata:”Sesungguhnya tidak akan berkumpul dalam hati seorang manusia suatu iman yang sebenar-benarnya kepada Alloh swt apabila mereka menjadikan musuh-musuh Alloh sebagai wali (pemimpin, teman setia). Padahal  musuh-musuh Alloh itu telah berpaling dari atau membelakangi seruan untuk berhukum kepada kitab Alloh swt. Oleh karena itu, datanglah ancaman keras ini sekaligus sebagai ketetapan yang pasti bahwa seorang muslim telah keluar dari Islam jika dia menjadikan orang yang tidak ridha menjadikan kitab Alloh sebagai pengatur dalam kehidupan sebagai wali, baik kewalian itu dengan kecintaan hati dan dengan membantunya, ataupun meminta pertolongan kepadanya.” Lebih lanjut Sayyid Qutub berkata:”Ia lepas dari pertolongan Alloh, tidak ada dalam perhitungan Alloh sedikitpun, tidak ada hubungan dan penisbatan, baik agama maupun akidah, tidak ada ikatan dan kewalian. Ia telah jauh dari Alloh dan terputus hubungannya secara total dalam segala sesuatu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ayat tersebut di atas, Allah hanya memberikan kemurahan jika mereka melakukan itu karena siasat memelihara diri terhadap orang yang ditakutinya dalam suatu negeri atau waktu tertentu. Akan tetapi, itu hanya pemeliharaan diri dalam bentuk ucapan lisan, bukan perwalian dalam hati dan amal perbuatan. Sebagaimana Ibnu Abbas ra pernah berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; لَيْسَ التَّقِيَّةُ بِالْعَمَلِ, إِنَّمَا التَّقِيَّةَ بِاللِّسَانِ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tidak ada taqiyyah (siasat pemeliharaan diri) dengan amal, sesungguhnya taqiyyah itu adalah dengan lisan.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Taqiyyah yang diperkenankan itu bukan dengan menjalin kasih sayang antara orang-orang mukmin dengan orang kafir. Karena orang kafir itu tidak ridha kalau kitab Alloh dijadikan pemutus perkara atau pedoman dalam kehidupan. Taqiyyah, yang diperbolehkan juga bukan dengan membantu orang kafir dengan amalan nyata dalam suatu bentuk tertentu atas nama taqiyyah. Jadi taqiyyah hanya diperbolehkan, ketika kondisi sangat memaksa hingga mengancam keselamatan jiwa. Dan itupun dilakukan dengan ucapan lisan, sementara hati tetap mengimani Alloh swt dan Rasul-Nya serta mengingkari ajaran orang-orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diketahui bahwa taqiyyah itu hanya merupakan rukhshah (keringanan/kemurahan/dispensasi) dari Alloh swt, bukan kewajiban. Bahkan orang mukmin yang meninggalkan cara seperti itu lebih afdhal. Dan taqiyyah itupun boleh dilakukan oleh seorang muslim jika kondisinya benar-benar mengancam keselamatan jiwa dan raga. Sementara jika kondisinya dalam keadaan normal, tidak ada tekanan dari orang-orang kafir secara fisik, maka melakukan taqiyyah diharamkan oleh agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang-orang kafir menurut pandangan Islam adalah setiap orang yang tidak memeluk agama Islam, tidak mengimani Alloh swt sebagai satu-satunya Dzat yang disembah, ditaati dan ditunduki segala aturan dan hukum-hukum-Nya, membuat sekutu bagi-Nya, mengingkari adanya berita-berita ghaib yang telah dikabarkan oleh Alloh swt dalam Al-Qur’an, tidak mengakui Muhammad saw sebagai hamba dan utusan-Nya yang terakhir, tidak mengimani ayat-ayat Al-Qur’an secara menyeluruh dan menolak Sunnah Rasul. Dan menurut pandangan Islam, kafir meliputi dua golongan, yaitu Ahlul-Kitab (Yahudi dan Nashara) serta orang-orang musyrik ( agama yang konsep tauhidnya mengandung kesyirikan), misalnya Hindu, Budha, Kong Hu Chu. Alloh swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; إن الذين كفروا من أهل الكتاب والمشركين في نار جهنم خالدين فيها.&lt;br /&gt; أولئك هم شر البرية ( البينة :6)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya orang-orang kafir yaitu dari kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke  neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS Al-Bayyinat: 6)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedangkan kalangan Ahli Kitab menurut Ibnu Katsir dalam mengomentari Surat Ali Imran ayat 64 adalah orang-orang Yahudi dan Nashara serta orang-orang yang mengikuti jalan mereka.(Ibnu Katsir I:379). Hal ini juga berdasarkan Surat Nabi saw yang dikirimkan kepada Raja Heraqlius, Romawi dengan panggilan “ Yaa Ahlal-Kitab” yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas , dari Abu Sufyan. Begitu juga ketika beliau saw mengirim surat dakwah kepada Gubernur Mesir, Muqauqis dengan panggilan “ Yaa Ahlal-Kitab”. Begitu juga ketika Ibnu Katsir mengomentari Surat Ali Imran ayat 65, bahwa lafadz “ Ahlul Kitab” adalah orang-orang Yahudi dan Nashara. Sedangkan kekufuran dalam bentuk ideologi, misalnya Kapitalis-Liberalisme dan Sosialis-Komunis. Orang-orang yang berpegang teguh kepada prinsip-prinsip tersebut termasuk dalam kategori kafir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan haramnya mengangkat orang-orang Yahudi dan Nashara sebagai pemimpin, teman setia dan penolong bagi umat Islam ditegaskan oleh Alloh swt dalam ayat yang lain:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; يا أيها الذين أمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض. ومن يتولهم منكم فإنه منهم ( المائدة :51)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nashara sebagai pemimpin. Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lainnya. Barangsiapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS Al-Maidah:51)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut As-Suddi berkata:”Bahwa ayat itu turun berkenaan dengan dua orang yang salah satunya berkata kepada yang lain, yaitu setelah Perang Uhud:’Adapun aku, sesungguhnya akan pergi kepada orang-orang Yahudi dan berlindung kepadanya serta memeluk agama Yahudi bersamanya, mudah-mudahan akan bermanfaat bagiku jika terjadi sesuatu. Sedangkan yang lain berkata:’Adapun aku, akan pergi kepada si Fulan yang beragama Nashara di Syam, lalu aku berlindung kepadanya dan memeluk agama Nasrani bersamanya’. Lalu turunlah ayat tersebut. Sedangkan menurut Muhammad bin Ishaq bahwa ayat tersebut berkaitan dengan Ubadah bin Shamit ketika terjadi peperangan dengan Yahudi Bani Qainuqa, sementara Abdullah bin Ubay berpihak kepada orang-orang Yahudi. Sedangkan Ubadah bin Shamit ketika masih terikat perjanjian dengan orang-orang Yahudi. Lalu Ubadah bin Shamit menyuruh Bani Auf menghadap Rasulullah saw dan melepaskan diri dari sumpah orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk selanjutnya menuju kepada Alloh swt dan Rasul-Nya.(Ibnu Katsir II:71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan ayat tersebut, Ibnu Katsir berkata:”Alloh swt melarang hamba-hamba-Nya yang beriman mengangkat orang-orang Yahudi dan Nashara sebagai pemimpin mereka, karena mereka itu adalah musuh-musuh Islam dan musuh para pemeluknya.” (Ibnu Katsir II:70). Dan Alloh swt menjanjikan bagi mereka yang melakukan perbuatan itu dengan ancaman siksaan yang pedih, akan terjadinya fitnah bagi agama dan umatnya serta kerusakan di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; بشر المنافقين بأنّ لهم عذابا أليما. الذين يتخذون الكافرين أولياء من دون المؤمنين. أيبتغون عندهم العزة فإن العزة لله جميعا&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. Yaitu orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kemuliaan kepunyaan Alloh swt.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(QS An-Nisa’:138-139)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; والذين كفروا بعضهم أولياء بعض إلا تفعلوه تكن فتنة في الارض وفساد كبير&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu ( kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Alloh swt itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS Al-Anfal:73)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; يا أيها الذين أمنوا لا تتخذوا عدوى وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بماجاء كم من الحق ( الممتحنة:1)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil wali (pemimpin) dari musuh-Ku dan musuhmu, yang kamu menjatuhkan rasa kasih sayang kepada mereka itu; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS Al-Mumtahanah:1)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; يا أيها الذين أمنوا لا تتخذوا بطانة من دونكم لا يألونكم خبالا ودّزا ما عنتّم قد بدت البغضاء من أفواههم وما تخفى صدورهم أكبر&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu, karena mereka itu tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemadharatan bagi kamu.Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS Ali Imran:118).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lafadz  بطانة berarti orang dekat yang dapat mengetahui urusan dalam, atau pembantu terdekat atau tangan kanan. Dalam ayat ini, Alloh swt melarang orang-orang mukmin menjadikan orang-orang munafik, orang-orang kafir sebagai pembantu dekat/tangan kanan atau orang kepercayaan. Hal itu disebabkan karena mereka lebih banyak menimbulkan madharat dan menjerumuskan orang-orang Islam dalam bahaya dan kehancuran. Imam Bukhari dan An-Nasaiy meriwayatkan dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt; مَا بَعَثَ الله مِنْ نَبِيٍّ وَلاَ اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيْفَةٍ إِلاَّ كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ: بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْخَيْرِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ , وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالسُّوْءِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ, وَالْمَعْصُوْمُ مَنْ عَصَمَهُ الله&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Alloh tidak mengutus seorang Nabi dan tidak juga mengangkat seorang khalifah pun melainkan ia memiliki dua orang pembantu kepercayaan (orang terdekat/tangan kanan); yang pertama menyuruh dan menekankan untuk berbuat baik. Dan yang kedua menyuruh untuk berbuat kejahatan. Hanya orang yang dipelihara oleh Alloh sajalah yang selalu terhindar dari kesalahan dan dosa”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(HR Bukhari dan An-Nasaiy).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam mengomentari ayat tersebut, Ibnu Katsir berkata:”Alloh swt melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menjadikan orang-orang munafik sebagai teman kepercayaan. Yakni karena mereka akan membuka rahasia dan segala yang tersembunyi untuk memusuhi orang-orang Islam. Dan orang-orang munafik itu dengan segenap daya dan kekuatannya tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagi orang-orang yang beriman. Yakni selalu berusaha keras untuk menjerumuskan umat Islam ke dalam bahaya dengan segala cara, serta melakukan berbagai tipu muslihat yang dapat dilakukan.”( Ibnu Katsir I: 406)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; لا تجدوا قوما يؤمنون بالله واليوم الاخر يوادّون من حادّ الله ورسوله&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Alloh dan Hari Kiamat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rasul-Nya.”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS Al-Mujadalah:22)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; يا أيها الذين أمنوا لا تتخذوا الذين اتخذوا دينكم هزوا ولعبا من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم والكفار أولياء. واتقوا الله إن كنتم مؤمنين&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpin kamu, orang-orang yang membuat agamamu menjadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Al-Kitab sebelum kamu, dan orang-orang kafir .Dan bertakwalah kepada Alloh jika kamu benar-benar beriman.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(QS Al-Maidah :57)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang demikian itu merupakan peringatan agar kaum muslimin tidak berlindung kepada musuh-musuh Islam dan sekutunya dari kalangan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kaum musyrikin yang menjadikan syariat Islam yang suci sebagai bahan ejekan dan permainan menurut keyakinan dan pandangan mereka yang rusak dan fikiran mereka yang beku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun meminta bantuan kepada orang kafir dalam peperangan, dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Madzhab Maliki berpendapat bahwa minta bantuan orang kafir dalam peperangan tidak boleh, dengan mengambil dhahirnya ayat.Beliau beristidlal dari hadits Aisyah ra :Bahwa ada seorang pria dari kaum musyrikin yang cukup berani, datang kepada Nabi saw pada Perang Badar untuk minta idzin berperang bersama beliau, lalu Nabi saw bersabda:Kembalilah, aku tidak akan minta bantuan kepada orang musyrik. Sedangkan menurut Jumhur Ulama (Syafi’iyyah, Hanabilah dan Hanafiyah) berpendapat bahwa minta bantuan kepada orang kafir dalam peperangan itu dibolehkan dengan du syarat, yaitu (1).Jika sangat dibutuhkan, (2) Orang tersebut harus dapat dipercaya. Mereka mengambil dalil dari perbuatan Nabi saw yang pernah meminta bantuan kepada Yahudi Bani Qainuqa dan memberi bagian ghanimah kepada mereka. Nabi saw juga pernah minta bantuan kepada Shafwan bin Umayah dalam peperangan Hawazin. ( Ayatul Ahkam I:402)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan meminta bantuan kepada orang-orang kafir untuk menjadi tenaga administrasi bagi kepentingan umat islam, sebagian ulama membolehkan selama tidak membahayakan umat Islam. Syekh Ali Ash-Shabuni berkata:”Jika mengangkat orang kafir untuk urusan yang tidak membawa madharat bagi kaum muslimin, sebagaimana tidak menyalahi prinsip-prinsip agama, maka yang demikian itu dibolehkan. Tetapi jika membawa madharat, maka sama sekali tidak diperbolehkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; لَنَبُشُّ فِي وُجُوْهِ قَوْمٍ وَقُلُوْبُنَا تَلْعَنُهُمْ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sungguh kami akan senyum di hadapan wajah suatu kaum, sedangkan hati kami melaknatnya.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa ayat di atas, diharamkannya orang-orang yang beriman mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang kafir, baik dari kalangan Ahlul Kitab atau orang-orang musyrik, disebabkan oleh beberapa alasan;(1). Mereka ( orang-orang kafir itu) menjadikan syariat Islam sebagai bahan ejekan dan permainan. (2). Mereka adalah orang-orang yang menentang Alloh swt dan Rasul-Nya. (3).Mereka tidak henti-hentinya menimbulkan mudharat dan kerusakan bagi umat Islam, kebencian yang ada dalam hati mereka, yang menyebabkan mereka senantiasa menjerumuskan umat Islam dalam kehancuran. Mereka senang jika umat Islam menemui bahaya dan kehancuran, sebaliknya sedih jika umat Islam menemukan kejayaan. (4). Mereka ingkar terhadap kebenaran yang datangnya dari Alloh swt mengenai akan datangnya Nabi dan Rasul akhir zaman yang diterangkan melalui kitab-kitab-Nya. (5). Agar umat Islam tidak berada dibawah kendali kekuasaan orang-orang kafir yang menentang dan tidak mengimani Alloh swt dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt; ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan sekali-kali Alloh tidak menjadikan jalan orang-orang kafir menguasai orang-orang yang beriman." &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS An-Nisa’:140)&lt;/span&gt;[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-421549614989265785?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/421549614989265785/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=421549614989265785' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/421549614989265785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/421549614989265785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/09/haram-memberikan-loyalitas-kepada-orang.html' title='Haram Memberikan Loyalitas Kepada Orang-Orang Kafir'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-2800717749448816944</id><published>2011-08-28T07:02:00.000-07:00</published><updated>2011-08-28T07:03:26.544-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Zakat Fithrah dengan Uang</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di lingkungan saya ada puluhan orang yang telah menjadi pelanggan al-Mu’tashim. Para pelanggan itu menanyakan soal keabsahan zakat fitrah dengan nilai uang, bukan seperti biasanya yakni berupa makanan pokok. Lalu bagaimana sebenarnya zakat fitrah itu jika dibayar dengan uang?.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Abu Tamam,&lt;/span&gt; Kamulyan Kawunganten Cilacap.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Malik, zakat fitrah harus berupa makanan pokok. Makanan pokok itu tidak boleh digantikan dengan harga uang atau lainnya. Imam Ibnu Hazm berpendapat lebih keras lagi. Menurut Beliau, sama sekali zakat fitrah dengan harga uang itu tidak tepat sebab hal itu mengubah apa yang telah difardlukan  oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  tentang zakat fitrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama yang lain, semisal Sufyan Tsauri, Imam Abu Hanifah dan pengikutnya (yang antisipasi ijtihadnya ke depan) berpendapat diperbolehkannya membayar zakat fitrah dengan nilai harga. Berdasarkan pernyataan Umar bin Abdul Aziz saat menjadi khalifah. Imam Hasan Basri berkata:”Tidak apa-apa memberikan zakat fitrah dengan dirham (uang).” Abu Ishaq berkata:”Aku menjumpai mereka (ulama) memberikan dirham sebagai ganti makanan di dalam zakat fitrah.” Imam Atho’ pun berkata:” Dalam zakat fitrah aku memberikan perak (uang dinar) sebagai ganti makanan.” (Ahkam Siyam;Ahmad Muhammad  Quhuji Rifa’I :137).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-2800717749448816944?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/2800717749448816944/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=2800717749448816944' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2800717749448816944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2800717749448816944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/08/zakat-fithrah-dengan-uang.html' title='Zakat Fithrah dengan Uang'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-1075300487878019111</id><published>2011-08-28T06:55:00.000-07:00</published><updated>2011-08-28T07:02:33.733-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Zakat Fithrah setelah Shalat Id</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Batas terakhir mengeluarkan zakat fithrah pada umumnya adalah sebelum shalat Id. Kalau dikeluarkan setelahnya maka status zakat fithrah itu berubah menjadi shadaqah biasa. Nah apakah benar demikan itu? Tidak adakah kebolehan mengeluarkannya hingga hari raya? Apa pula makna dari shadaqah biasa itu? Mohon dijelaskan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fulan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat fithrah fungsi utamanya adalah membantu kalangan fakir miskin agar bisa turut serta berbahagia pada hari raya selain untuk melengkapi kesempurnaan puasa seseorang. Atas dasar ini waktu idealnya zakat sebesar atau senilai satu mud ini ialah diberikan sebelum shalat Id karena ada waktu yang cukup longgar bagi fakir miskin untuk memasak dan mengelolanya saat hari raya. Dalam hadits, Ibnu Abbas berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَرَضَ رَسُوْلُ الله صلَّي الله علَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِطُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ، فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌمَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَالصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu alaihi wasalam mewajibkan zakat fithrah sebagai pembersih orang berpuasa dari perbuatannya yang tidak berguna dan dari ucapannya yang buruk serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa menunaikannya sebelum shalat (Id) maka dia adalah zakat yang diterima. Barangsiapa menunaikannya setelah shalat  maka dia ada-lah shadaqah seperti shadaqah pada umum-nya. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah. Shahih menurut Al Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau selambat-lambatnya adalah zakat fithrah itu dikeluarkan sebelum matahari terbenam pada hari raya Idul Fitri. Sementara mengeluarkannya setelah itu, setelah hari Id adalah haram bila tanpa udzur yang dibenarkan. Hal ini berdasarkan hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَغْنُـوْهُمْ عَنِ الطَّلَبِ هَذَاالْيَوْمَ&lt;br /&gt;Cukupilah mereka dari meminta-minta pada hari ini. (H.R. Daraquthni)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toleransi atau diperkenankannya mengeluarkan zakat fithrah sampai dengan terbenamnya matahari pada hari Id merupakan pendapat Syafi’iyah, Hanabilah, dan Malikiyah. Hanya saja idealnya atau waktu yang sangat dianjurkan adalah sebelum shalat Id mengingat hikmah dimuka. Menurut Imam Asy Syaukani, mengeluarkan zakat fithrah sebelum shalat Id adalah wajib sedang mengeluarkannya setelah shalat Id dikategorikan shadaqah biasa, artinya pahala mengeluarkannya sebelum shalat Id jauh lebih besar dibandingkan dengan mengeluarkan setelah shalat Id. Mengeluarkan zakat fithrah setelah shalat Id nilainya lebih kecil. Tetapi bukan berarti tidak diterima. (Ahkamus Shiyam, Al Qahuji, hal. 136 dan Al Fiqh Al Islami II, Az Zuhaili, hal. 908)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-1075300487878019111?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/1075300487878019111/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=1075300487878019111' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1075300487878019111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1075300487878019111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/08/zakat-fithrah-setelah-shalat-id.html' title='Zakat Fithrah setelah Shalat Id'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-5708390235528752074</id><published>2011-08-12T18:44:00.000-07:00</published><updated>2011-08-12T18:47:48.098-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Pemahaman Ikhlash dari Madrasah Ramadhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tausiyah Bulan Agustus 2011 / Ramadhan 1432H&lt;br /&gt;Sentra Dakwah Ketintang Surabaya&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah ta’alaa: “agar kalian bertaqwa” di akhir ayat tentang kewajiban puasa (QS al Baqarah:183) memberikan gambaran kepada kita bahwa puasa adalah madrasah taqwa. Setiap madrasah memiliki manhaj dan tentunya setiap manhaj memiliki landasan. Adalah sesuatu yang sudah dimaklumi bahwa taqwa adalah manhaj kehidupan untuk meraih keridhoan Allah ta’alaa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqwa mempunyai landasan yaitu Ikhlash seperti difirmankan Allah: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama....“QS al Bayyinah:5, dan merupakan hal yang menjadikan setan berputus asa dari menyesatkan orang-orang yang ikhlash seperti difirmankan Allah: “Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka"QS al Hijr:39-40.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari sudut pandang bahwa puasa –seperti diriwayatkan- sebagai pintu ibadah yang menjadikan orang yang sedang berpuasa merasa ringan menjalankan ibadah-ibadah yang lain seperti shalat, zakat, haji dll karena puasa terasa lebih berat bagi nafsu dan lebih terkait dengan penjernihannya, maka Rasulullah Saw menekankan tentang Ihklash dalam puasa dengan sabda beliau: “Barang siapa berpuasa ramadhan karena iman dan mencari pahala dari Allah maka diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Ahmad Bukhari Muslim dan Imam empat. Ini shahih). Imam al Khathib al Baghdadi menambahkan riwayat: “...dan dosa-dosa yang akan berlaku”, tetapi ini (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dha’if&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa karena iman memberikan isyarat kewajiban ikhlash dalam beramal karena Allah, yakni bermaksud mendekatkan diri kepada Allah, mengagungkan perintahNya dan memenuhi seruanNya karena Dialah satu-satunya Dzat Pemberi anugerah . Sebaliknya adalah nifaq.&lt;br /&gt;Bahasa Ihtisab atau mencari pahala dari Allah memberikan isyarat keharusan ikhlash dalam mencari pahala dari Allah, yaitu keinginan mendapatkan manfaat akhirat dengan amal kebaikan. Sebaliknya adalah riya’ atau pamer, yaitu keinginan memperoleh manfaat dunia dengan amalan akhirat. Baik berharap secara langsung dari Allah atau dari manusia. Jadi ikhlash ada dua sebagaimana disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah Saw menjelaskan janji Allah terkait balasan ikhlash yang terdorong oleh puasa dengan firman Allah dalam hadits qudsi: “Seluruh amal anak Adam adalah miliknya kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa itu milikKu dan Aku akan memberikan balasannya” (Diriwayatkan oleh al Khamsah/lima perowi hadits).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan ini ( وأنا أجزي به ) menunjukkan kiranya tiada balasan yang lebih baik daripada balasan Allah kepada hambaNya yang berpuasa. Karena inilah dikatakan: “Barang siapa yang ikhlash karena Allah maka pasti menampak berkah jejak langkahnya”.&lt;br /&gt;Memang demikian halnya, akan tetapi ikhlash sudah pasti memerlukan dalil (bukti) berupa senantiasa mau berkorban dalam segala jenis amalan disertai totalitas sabar, mushabarah, murabathah, ketabahan, ridho dengan pembagian dan kepastian sekaligus sekuat tenaga menjaga diri dari sepuluh hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nifaq, : Sebaliknya beramal karena Allah&lt;br /&gt;2. Riya’ : Sebaliknya Ikhlash mencari pahala&lt;br /&gt;3. Takhlith/Mencampur aduk : Sebaliknya Taqwa&lt;br /&gt;4. al Mann/Mengungkit-ungkit : Sebaliknya menyerahkan amal kepada Allah&lt;br /&gt;5. al Adzaa/Menyakiti : Sebaliknya membentengi amal&lt;br /&gt;6. An Nadamah/Menyesali :Sebaliknya meneguhkan hati&lt;br /&gt;7. al Ujub/Rumongso : Sebaliknya mengingat anugerah hanya kepada Allah&lt;br /&gt;8. al Hasrah/Nelongso:Sebaliknya mencari kebaikan&lt;br /&gt;9. At Tahawun/Meremehkan :Sebaliknya mengagungkan taufiq&lt;br /&gt;10. Takut dicela manusia : Sebaliknya takut kepada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah ikhlash adalah kelanggengan dan kesinambungan amal sebagai berkah penjagaan dan perawatan dari Allah sebagaimana dikatakan: “Segala sesuatu karena Allah pasti langgeng dan bersambung. Dan segala sesuatu yang bukan karena Allah maka akan terputus dan terpisah”. Allah berfirman: “...Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”QS Ar Ra’d:17.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah madrasah ramadhan yang memberikan bimbingan agar seluruh amalan kita, metode dan jalan yang ditempuh, berdiri di atas landasan ini. Inilah roh ketaqwaan yang menjadi syarat diterimanya ketaatan.Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa”QS al Maidah:27.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ramadhan telah datang. Selamat atas kedatangannya&lt;br /&gt;Sungguh beruntung orang yang berharap keberuntungan dan mengejarnya&lt;br /&gt;Ramadhan madrasah petunjuk, ketaqwaan&lt;br /&gt;dan kemuliaan. Segala kebaikan bisa didapatkan&lt;br /&gt;Ya Allah, selamatkanlah kami untuk ramadhan dan selamatkanlah ramadhan untuk kami. Serahkanlah ia pada kami dengan diterima (sebagai amal sholeh). Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berpuasa dan menjalankan hak-haknya.&lt;br /&gt;Walhamdu Lillaahi rabbil aalamiin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والله يتولى الجميع برعايته==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dzikroyaat wa Munaasabaat. Abuya As Sayyid al Walid&lt;br /&gt;2. Bustanul Waa’izhiin wa riyaadhussaami’in. Imam Ibnul Jauzi&lt;br /&gt;3. Raudhatuth thalibin wa umdatussalikin. Imam Ghazali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-5708390235528752074?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/5708390235528752074/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=5708390235528752074' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5708390235528752074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5708390235528752074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/08/pemahaman-ikhlash-dari-madrasah.html' title='Pemahaman Ikhlash dari Madrasah Ramadhan'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-5229704412373857167</id><published>2011-05-18T17:01:00.000-07:00</published><updated>2011-05-18T17:09:31.899-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafsir Tematik'/><title type='text'>Kesiapan Umat Islam  Menghadapi Musuh-Musuh Alloh</title><content type='html'>وَأَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَمِن رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهِى عَدُوَّ اللهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْ لاَ تَعْلَمُوْنَهُمُ اللهُ يَعْلَمُهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Alloh, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. Al Anfaal : 60) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Analisis Ayat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; رِبَاطِ الْخَيْلِ artinya kuda yang ditambatkan untuk berperang fi sabilillah.&lt;br /&gt; تُرْهِبُوْنَ artinya تُخِيْفُوْنَ (kamu menggentarkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Makna dan Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang mulia di atas memotivasi umat Islam untuk mempersiapkan kekuatan apapun yang dimilikinya sesuai dengan zaman dan keadaan dalam menghadapi setiap ancaman musuh Alloh, musuh Islam dan kaum muslimin. Disebutkan juga kuda pada zaman dahulu, karena binatang tersebut merupakan bagian dari jenis perlengkapan yang dipersiapkan untuk berperang, hingga kini pun perannya tetap menjadi penting dalam setiap keadaan. Hal itu semua merupakan kelengkapan kolektif. Kemudian zaman mengubah pedang, tombak dan panah yang semula sebagai senjata utama berkembang lebih canggih lagi dengan sentuhan teknologi mutakhir menjadi tank, pesawat tempur, bom nuklir, senjata kimia dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Seluruh elemen Islam termasuk dalam seruan Ilahi, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” Gambaran kenyataan ini ditampilkan oleh Al Qur’an untuk menjelaskan kepada kita bahwa konsep mempersiapkan kekuatan dengan apapun yang dimiliki terus berlangsung sampai detik ini, tak lekang oleh waktu, dan tetap sesuai sampai kapanpun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan disini maknanya meliputi seluruh bentuk kekuatan yang ada. Ketika bencana penyakit jiwa telah tersebar dan kerusakan moral merajalela di mana-mana, kekuasaan dunia berada di tangan kaum kafir, dan kesesatan menjadi musuh kita secara nyata maupun maya. Maka menjadi jelaslah bahwa umat ini, umat Islam, umat yang menjadi penengah, umat pilihan, harus mempersiapkan segenap kekuatannya untuk menghadapi musuh-musuh Alloh. Kekuatan yang terbangun dari moral, materi, administrasi, kekayaan dan harta, dengan memotivasi semuanya menjadi pahala dan anugerah Alloh Swt. Mungkin inilah yang dimaksud sabda Rosululloh saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَلآ انَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ – قَالَهَا ثَلاَثاً- اخرجه مسلم        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah anak panah.”&lt;/span&gt; (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah gambaran anak panah yang dilepas dari busurnya mengarah tepat pada sasarannya menjadi isyarat bagi kita akan keharusan terarahnya kekuatan yang kita miliki, baik moral, material, administrasi, kekayaan maupun harta kepada tujuan yang dihadapi sebagai penyerangan. Kekuatan yang terdiri dari kesiapan lahir berupa harta kekayaan yang diinfakkan fi sabilillah juga harus didukung dengan kesiapan batin berupa kekuatan ruhani yang menjadi motivator utama terhadap semua perbuatan kita. Tanpa kekuatan ruhani tak terbayangkan semua persiapan yang dimiliki akan menjadi berguna. Sebaliknya, kekuatan ruhani tanpa ada dukungan lahir tak akan sempurna. Oleh karena itu Alloh Swt. berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِى سَبِيْلِ اللهِ يُوَفَّ اِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Alloh niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” &lt;/span&gt;(QS. Al Anfaal : 60) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ghozwul Fikri, Anak Panah Yang Dilepas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga agenda utama dalam perang pemikiran yang gencar dilepaskan oleh kalangan Barat (kafir) untuk menyerang jantung kekuatan umat Islam. Yaitu pemisahan agama dari kehidupan mereka (fashlud din ‘anil hayat), penyebaran paham materialis (an naf’iyah ad dunyawiyah), dan penggunaan logika tanpa batas (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;taskhirul ‘aqli fi ghoiri majaalihi&lt;/span&gt;). Padahal bila kita kembali kepada ajaran Islam yang indah dan mulia, akan dijelaskan di dalamnya bahwa sesungguhnya Alloh Swt. mencipatakan kehidupan ini sekaligus dengan menundukkannya pada suatu aturan tertentu yang tak boleh diubah. Firman Alloh Swt. di dalam Al Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللهِ تَبْدِيْلاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunah Alloh.” &lt;/span&gt;(QS. Al Ahzab : 62) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di dalam aturan kehidupan itu Alloh menjadikan antara kebenaran dan kebatilan saling bertentangan, yang satu dan lainnya harus terpisah. Maka tak ada kebatilan yang mentolerir kebenaran, dan sebaliknya tak ada kebenaran yang mentolerir kebatilan, seperti siang dan malam, seperti putih dan hitam, keduanya berbeda. Pertentangan ini terus berlangsung, suatu saat berupa pemikiran, di saat yang lain berupa politik, dan bisa jadi menjadi tindakan militer yang siap memenggal setiap leher manusia. Hal itu bisa kita lihat pada lembaran-lembaran sejarah Rosululloh saw. Dimana beliau menentang kebatilan dengan dakwah Islam secara pemikiran, politik, dan juga materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertentangan ini terus berlangsung sampai zaman setelah Rosululloh saw. wafat. Dan sedang akan terus berlangsung hingga akhir zaman. Bagaimana pertentangan ini akan bisa terhenti, bagaimana sunatulloh juga akan bisa terhenti? padahal umat Islam di masa lalu telah melakukan pertentangan terhadap musuh-musuh Alloh, musuh-musuh Islam dan kaum muslimin. Tentu pertentangan ini akan terus berlangsung selama musuh-musuh kebenaran masih berdiri menantang. Dan kini tantangan itu berdiri di depan kita, umat Islam. Tantangan yang datangnya dari Barat dengan senjata kapitalisme dan sekulerisme mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Arah Serangan Harus Tepat Sasaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka, para penentang kebenaran menyerang umat Islam dengan konsep pemisahan agama dari kehidupannya. Kita sebelumnya harus paham bahwa pemikiran itu berasal dari kebudayaan Barat dan merupakan bagian dari cara pandang mereka terhadap kehidupan ini. Mereka beranggapan bahwa agama hanya ritual saja, simbol-simbol tertentu, ditujukan kepada individu dan bukan untuk masyarakat umum apalagi negara. Oleh karenanya kita melihat agama menurut pandangan Barat hanya menangani masalah-masalah tertentu seperti pernikahan, talak, peribadatan, dan beberapa urusan moralitas serta pegangan hidup pribadi saja, tidak ada hubungannya dengan sistem ekonomi, hukum, politik luar negeri, politik penegakan hukum (penguasa) dan sebagainya. Ini adalah pemahaman yang disodorkan kepada kaum muslimin tanpa harus melalui perantara orang-orang sekuler yang diselundupkan, tapi sedihnya justru ditawarkan dengan propaganda menipu serta retorika yang manis oleh sebagian da’i-da’i Islam, tokoh-tokoh di kalangan kita, sampai pada sebagian komunitas kaum muslimin sendiri yang ada di dalamnya. Seringkali kita mendengar perkataan mereka, “Uruslah diri kita sendiri, tinggalkan politik dan perbaiki saja iman kita. Umat ini tidak diperuntukkan berbicara tentang penegakan hukum syariat, tapi hanya perbaikan individu saja.” Atau, “Para generasi muda tidak usah menyibukkan diri dengan urusan ini, cukuplah mereka mencari ilmu saja,” demikian mereka menyebarluaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membalas serangan itu, kita harus mempertajam ‘anak panah’ pemikiran kita dan melepasnya dari ‘busur’ wawasan yang lentur dan luas. Langkah berikutnya kita harus mengarahkan umat ini, masyarakat Islam, dan para da’i yang termasuk di dalamnya kepada pemikiran Islam yang mencakupi semua masalah tersebut. Maka saudara kita yang menyeru kepada penegakan hukum secara individu saja, dan meninggalkan hukum-hukum yang berhubungan dengan umat dan masyarakat luas harus diingatkan kepada pemahaman bahwa Islam adalah agama yang meliputi seluruh aspek kehidupan. Alloh memerintahkan kita agar mengambilnya secara sempurna. Firman Alloh Swt., &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syetan.”&lt;/span&gt; (QS. Al Baqarah : 208)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh Swt. juga melarang kita meniggalkan sebagian hukum-hukum-Nya, dan memisahkan antara perintah dan larangan-Nya. Firman Alloh Swt., “Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (adzab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Alloh), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Qur’an itu terbagi-bagi. Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua.” (QS. Al Hijr : 90-93) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat ini kita tahu bahwa tidak ada dasar yang melegalisasi pemisahan hukum-hukum Islam dan pengunggulan satu hukum atas hukum lainnya, serta penilaian rendah terhadap urgensitas suatu hukum yang ada kecuali terdapat dalil syar’i yang mengatakan demikian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu kita tidak boleh menilai bahwa tiga poros pemikiran tersebut di atas hanya berlalu begitu saja di dalam pikiran kita, tanpa pengaruh yang signifikan. Sebab tiga konsep pemikiran itu telah ditanam dan ditebar dalam pelupuk mata umat. Dan bila dibiarkan yang akan terjadi adalah umat Islam akan mengikuti cara pandang mereka, sehingga tidak kembali kepada ajarannya yang mulia, namun terhanyut arus budaya kehidupan masyarakat Barat (kafir). Identitas umat Islam menjadi buram (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;mublawwaroh&lt;/span&gt;), tidak lagi murni karena bercampur dengan lainnya. Maka kewajiban kaum muslimin yang tidak boleh ditinggal adalah menghancurkan pemikiran musuh-musuh mereka dengan sekuat tenaga dan menggantinya dengan pemikiran dan hukum Islam yang mulia.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِئُوا نُوْرَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُوْرِهِى وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Alloh dengan mulut (ucapan-ucapan mereka, dan Alloh tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.”&lt;/span&gt; (QS. Ash Shaff : 8)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-5229704412373857167?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/5229704412373857167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=5229704412373857167' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5229704412373857167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5229704412373857167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/05/kesiapan-umat-islam-menghadapi-musuh.html' title='Kesiapan Umat Islam  Menghadapi Musuh-Musuh Alloh'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-1817675432869371992</id><published>2011-05-18T16:48:00.000-07:00</published><updated>2011-05-18T16:52:54.021-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Berdo'a dan Makanan Haram</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana status doa orang yang makan barang haram. Diterima atau tidak. Dan bagaimana jika orang itu pergi haji dan berdoa di Multazam, apakah doanya diterima?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lailatul Badriyah,&lt;/span&gt; Ds Jombok No 35 Ngantang Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan makanan haram atau pun melakukan praktik kehidupan yang haram menjadi penghalang antara doa seseorang dengan Alloh subhanahu wata’ala, Dzat yang mengabulkan doa. Kecuali kalau usai makan haram itu sesegera bertaubat; mohon ampun dan menyesal, tampak penghalang itu terhapus kalau tidak hancur. Dengan begitu, doanya kepada Alloh subhanahu wata’ala akan menyusuri jalur yang lancar. Allah subhanahu wata’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا اَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرْ اللهَ يَجِدْ اللهَ غَفُورًا رَحِيمًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Alloh, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. &lt;/span&gt;(QS An Nisaa: 110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, memakan makanan yang halal di samping bertaubat merupakan tata krama sebelum berdoa, termasuk sebelum berdoa di tempat-tempat yang mustajabah sekali pun seperti Multazam. Terle¬pas bahwa doa mujarab atau tidak menjadi hak prerogatif Alloh subhanahu wata’ala, tetapi hendaknya kala berdoa memperhatikan makanan yang dimakannya. Orang yang senantiasa memperhatikan makanan halal tampak nuraninya bersih, untaian kata-kata yang keluar dari lisannya tulus dan lembut, dan pada akhirnya tidak ada penghalang antara doanya dengan Tuhan seperti dipraktikkan oleh sahabat Saad bin Abi Waqqash dan Ukkasyah. Di dalam hadits disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَيَقْبَلُ إِلاَّطَيِّبًاوَإِنَّ اللهَ أَمَرَالْمُؤْمِنِيْنَ بِمَاأَمَرَبِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ: يَااَيُّهَاالرُّسُلُ كُلُوْامِنْ الطَيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْاصَالِحًااِنِّىبِمَاتَعْمَلُونَ عَلِيْمً وَقَالَ تَعَالَى: يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُواكُلُوامِنْ طَيِّبَاتِ مَارَزَقْنَاكُمْ. ثُمَّ ذَكَرَالرَّجُلَ: يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَتَ، أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَىالسَّمَاءِ: يَارَبِّ يَارَبِّ يَارَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَبِالْحَرَامِ: فَأَ نَّىيُسْتَجَابُ لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak menerima kecuali yang baik. Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman sebagai¬mana Dia memerintahkan kepada para Rasul: “Hai para Rasul, makan¬lah sesuatu yang baik dan berusahalah dengan baik. Wahai orang-orang yang beriman, makanlah sesuatu yang baik yang telah diriz-kikan kepadamu.” Ada seorang laki-laki yang berjalan jauh. Ram¬butnya kusut penuh dengan debu. Ia menengadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata: “Ya Rabbi... ya Rabbi...,” sedang maka¬nannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyang-kan dengan barang haram, maka bagaimana ia diterima doanya?&lt;/span&gt; (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-1817675432869371992?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/1817675432869371992/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=1817675432869371992' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1817675432869371992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1817675432869371992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/05/berdoa-dan-makanan-haram.html' title='Berdo&apos;a dan Makanan Haram'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-590995338738952944</id><published>2011-04-29T19:55:00.000-07:00</published><updated>2011-04-29T19:58:55.985-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Solusi Masalah Kalangan Berharta</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tausiyah Mei 20011&lt;br /&gt;oleh | K.H.M. Ihya' Ulumiddin&lt;br /&gt;Tempat: Sentra Dakwah Ketintang Surabaya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikuti Kajian Online-nya langsung dari Ketintang Surabaya, Ahad 1 Mei 2011 pukul 08.00 wib. Don't miss it!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Alqur'an Allah menyebutkan karakter manusia ketika memiliki kebaikan atau harta benda, yaitu ia menjadi bersikap kikir/emanan (manuu') kecuali orang yang mendermakan harta bendanya itu, maka ia akan menyaksikan kemudahan yang dijanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bersikap kikir/emanan maka manusia tidak menyalurkan hak harta benda dengan sebaik-baiknya yang merupakan syarat harta benda terbentengi, sehingga harta bendanya dihampiri bencana-bencana dan kerusakan-kerusakan.(akibatnya) iapun bersedih dan mengeluh serta segera bergerak mencari solusi, sementara ia mengerti bahwa tidak ada solusi seperti Taqwa. Lalu jenis Taqwa manakah yang bisa membawanya keluar dari himpitan ini? Di sinilah kemudian Junjungan kita Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menunjukkan solusi tersebut, beliau bersabda: “Haji berturut- turut dan umrah yang beruntun bisa menolak kematian buruk dan sangatnya kemiskinan” (HR Abdurrazzak As Shan'aani dari Amir bin Abdillah bin Zuber ra secara Mursal. Al Jami' As Shaghir 1/146).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga bersabda: “Orang-orang  yang berhaji dan orang-orang yang berumrah adalah duta Allah; jika meminta maka mereka diberi, jika berdo'a maka mereka dikabulkan, dan jika berinfak maka mereka diberikan ganti...”(HR Baihaqi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sudah dimaklumi bahwa haji dan umrah berturut-turut tidak bisa dijalankan kecuali oleh orang yang memang memiliki kemampuan berupa melimpahnya sarana harta benda. Maka hal itulah yang menjadi cara menutup cacat yang terjadi dalam harta benda sebagai akibat tidak memenuhi haknya. Begitulah sunnah Allah dalam makhlukNya bahwa segala himpitan mesti ada solusi, dan semua kesusahan mesti ada kesenangan sesuai kehendak alamiahNya karena kebaikanNya yang bertubi-tubi dan tambahan anugerah serta kemurahanNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sudah tidak diragukan lagi bahwa solusi yang sama sekali tidak terbersit dalam hati akan menjadi kenyataan apabila berusaha diperoleh dengan memperbaiki tujuan serta meluruskan niat dalam menjalani haji dan umrah; yaitu karena Allah dan ikhlash karenaNya, bukan karena pamer, popularitas dan plesiran, berbeda sama sekali dengan realitas yang diiisyaratkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Akan datang kepada manusia, suatu masa di mana orang-orang kaya berhaji untuk wisata, kalangan ekonomi menengah untuk berdagang, para ulama untuk pamer dan popularitas dan orang-orang miskin untuk meminta-minta”(HR Abu Faraj Ibnul Jauzi dalam Mutsiirul Gharam dengan menyebutkan sanad/ Lihat Al Qiroo Li Qaashidi Ummil Quroo tulisan al Hafizh Muhibbuddin At Thabari hal 31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itulah hendaknya orang yang berhaji atau berumrah secara serius berusaha menjernihkan tujuannya dari segala hal tersebut kalau memang ia benar-benar mencari solusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=والله يتولى الجميع برعايته=&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-590995338738952944?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/590995338738952944/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=590995338738952944' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/590995338738952944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/590995338738952944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/04/solusi-masalah-kalangan-berharta.html' title='Solusi Masalah Kalangan Berharta'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-2157091104798417899</id><published>2011-04-05T19:54:00.000-07:00</published><updated>2011-04-06T08:27:38.437-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Tidak Memiliki Maka Tidak Memberi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tausiyah Bulan April 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Vol XII Edisi 140&lt;br /&gt;Oleh :&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; K.H M Ihya' Ulumiddin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”QS at Taubah:41.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk jihad fi sabilillah adalah mendermakan harta benda demi kehidupan dakwah. Mencari harta benda demi kepentingan dakwah, menyokong dan mengokohkannya termasuk dalam kategori hal yang menjadi syarat sempurna suatu kewajiban. &lt;br /&gt;Cukuplah sebagai gambaran bagi kita ketika Allah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang ahli perdagangan sejak sebelum diutus saat usia beliau baru dua puluh tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diutus, Allah lalu mengokohkannya dengan dukungan isterinya Sayyidah Khadijah al Kubro yang juga seorang pedagang, para khalifah empat dan sepuluh orang yang dijamin masuk surga, serta yang lain di mana kebanyakan adalah para pedagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagaimana kekayaan para sahabat begitu melimpah sejak hijrah mereka masih berjalan tidak lebih dari tujuh tahun. Dan bagaimana pula nenek moyang kita di negeri ini memeluk islam juga melalui tangan-tangan para pedagang yang notabenenya adalah para da’i. Serta bagaimana pula sekarang ini, yahudi yang meski minoritas tetapi menguasai dunia karena kekuatan ekonomi dan perdagangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan kita Allah ta’aala adalah Dzat Maha Kaya dan Maha Memberikan kekayaan. Maka sudah semestinya hambaNya memiliki sifat ini dari sisi memperoleh kekayaan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri adalah figur yang kaya lagi dermawan hingga tidak pernah menyimpan rizki untuk esok harinya. Karena hal-hal tersebut inilah Alqur’an menyinggung tentang pentingnya perdagangan: “...kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya... “QS al Baqarah:282. “ ... mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,... “QS Fathir:29. “ ... perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya... “QS at Taubah:24. “laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah.... “QS an Nuur: 37. Dan tentunya itu semua dengan mengetahui simpul-simpul yang kuat dan kokoh dalam menjalankan perdagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dimaklumi bahwa jalan dakwah memiliki tahapan-tahapan, maka sudah tibalah saatnya bagi kita dalam tahapan ini untuk menyokong dakwah kita dengan sokongan harta benda melalui apa saja yang mudah dilaksanakan untuk menghimpun harta benda secara berjamaah seraya memurnikan niat mendahulukan kemaslahatan jamaah atas kepentingan pribadi dan menjauhkan diri dari istighlal (menggunakan kesempatan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena inilah rahasia kesuksesan dan keberuntungan dalam urusan ini. Serta didukung dengan langkah cepat sebagaimana firman Allah: “Dan sesungguhnya tidak ada bagi manusia kecuali apa yang ia usahakan. Dan usahanya itu pasti akan terlihat”, kejujuran sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: ”Dia pasti beruntung jika ia jujur“ dan tangan yang terpercaya berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Berikanlah amanat kepada orang yang mempercayaimu “ serta tidak meremehkan dan bersikap santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=والله يتولى الجميع برعايته=&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi Audio&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.4shared.com/embed/561352554/66c6208e" width="320" height="200" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/audio/4_6ab5ii/Taushiah_3_April_2011.html"&gt;Download:&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-2157091104798417899?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/2157091104798417899/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=2157091104798417899' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2157091104798417899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2157091104798417899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/04/tidak-memiliki-maka-tidak-memberi.html' title='Tidak Memiliki Maka Tidak Memberi'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-3706855920187326230</id><published>2011-03-09T01:49:00.001-08:00</published><updated>2011-03-09T02:05:06.157-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Di Antara Jalan Terbesar Menuju Wushul</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-sp3v6wkfzwQ/TXdOvSy-nPI/AAAAAAAAAws/yPc8G2QNSsE/s1600/abi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 158px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-sp3v6wkfzwQ/TXdOvSy-nPI/AAAAAAAAAws/yPc8G2QNSsE/s200/abi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5582016837555494130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tausiyah Abina Muhammad Ihya' Ulumiddin&lt;br /&gt;Bulan Maret 2011&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di antara jalan terbesar untuk bisa sampai, wsuhul kepada Allah adalah menyibukkan diri dengan bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Hal demikian karena berbagai alasan yang di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Shalawat mengandung tawassul kepada Allah ta’alaa dengan kekasih dan pilihanNya. Sungguh Allah telah berfirman: “...dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya...  “QS al Maidah:35. dan kiranya tiada wasilah kepada Allah lebih agung daripada RasulNya yang mulia shallallahu alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sesungguhnya Allah memerintahkan dan mendorong kita agar bershalawat demi memuliakan, mengagungkan dan mengunggulkan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Ini berarti shalawat termasuk amalan paling manjur, kondisi paling unggul, pendekatan yang paling tepat serta berkah yang paling merata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Shalawat mengandung ungkapan rasa syukur atas sarana (jalan) nikmat-nikmat Allah kepada kita yang memang diperintahkan untuk disyukuri.  Maka tiada nikmat yang telah lewat dan yang akan didapat berupa penciptaan dan uluran anugerah di dunia dan akhirat kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sebab (sarana) sampai dan mengalirnya nikmat itu kepada kita. &lt;br /&gt;Jadi nikmat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada kita adalah mengikuti nikmat-nikmat Allah ta’aalaa yang tidak bisa terhitung. Maka ada hak bagi Beliau atas kita.  Dan dalam mensyukuri nikmat beliau, wajib bagi kita untuk tidak kendor bershalawat atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sesungguhnya beliau shallallahu alaihi wasallam dicintai oleh Allah dan mulia derajat di sisiNya. Karena itulah wajib mencintai orang yang dicintai Allah dan mendekatkan diri kepada Allah dengan mencintai dan mengagungkannya. Dan (tentunya) wajib pula bershalawat atasnya serta mengikuti shalawatNya dan shalawat malaikat atasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Segala yang warid tentang keutamaan shalawat dan besarnya pahala yang dijanjikan karenanya serta sebutan yang mulia. Di antaranya adalah sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Barang siapa bershalawat kepadaku sekali shalawat maka Allah bershalawat atasnya sepuluh kali”(HR Muslim Abu Dawud Nasai Turmudzi). Maksudnya Allah menyambutnya dengan sepuluh rahmat, melebur darinya sepuluh kesalahan, dan mengangkatnya sepuluh derajat sebagaimana dalam hadits Anas ra dari riwayat Imam Ahmad di mana ini termasuk kategori tambahan dalam pahala sebab besarnya keutamaan shalawat. Dan karena Allah tidak menjadikan balasan mengingat nabiNya kecuali berupa perhatianNya kepada orang yang mengingat nabiNya. Dan tentu perhatian Allah kepada seorang hamba lebih agung dan lebih mulia serta memiliki keutamaan yang lebih merata dan lebih sempurna (Fathul Qarib al Mujib Lissayyid Alawi al Maliki hal 89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dan karena di dalam shalawat ada sekian banyak hikmah tersebut maka shalawat menjadi sarana meraih ridho Allah Maha Penyayang dan sarana mendapatkan keberuntungan. Shalawat menjadikan berkah-berkah menampak, do’a-do’a dikabulkan dan tangga menaiki derajat-derajat tinggi. Dengan shalawat keretakan hati bisa ditutupi dan dosa-dosa bisa diampuni. Hal demikian sebagaimana diajarkan dalam hadits Ubayy bin Ka’ab: “Maka saya menjadikan seluruh shalawatku hanya untukmu” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika demikian maka seluruh kesusahanmu akan diselesaikan dan dosamu akan diampuni”(HR Ahmad Turmudzi dan Hakim. Imam Hakim menshohihkannya. Imam Turmudzi berkata: Ini hadits hasan dan shohih)   &lt;br /&gt;Dalam hadits ini ada ada jaminan kecukupan urusan dunia dan akhirat bagi orang yang menjadikan seluruh shalawatnya untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan karena hal demikian termasuk mengahadiahkan pahala amalan ini dalam lembar catatan amal beliau shallallahu alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itulah hingga diucapkan bahwa sesungguhnya shalawat mencukupi dan menempati posisi seorang guru murobbi di jalan akhirat. Sayyidi al Walid Abuya rahimahullah mengatakan: “Setiap orang membutuhkan pembimbing yang bisa mendidik dan mengarahkan. Ia yang mendidik hatinya, membersihkan akhlaknya dan menuntun tangannya menuju Allah. Dialah figur dimana (berkah) bergaul akrab dengannya, Allah menjaga dia dari keburukan, hawa nafsu dan kemaksiatan. Apabila kita tidak ,menemukannya lantas apa yang kita lakukan? Shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah guru orang yang tidak memiliki guru”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=والله يتولى الجميع برعايته=&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Ad Dzakha’ir al Muhammadiyyah Li Sayyidi al Walid Abuya 148-152&lt;br /&gt;2.Sebagian Taushiah beliau di Malaisia&lt;br /&gt;3. Fathul Qarib al Mujib Lissayyid Alawi al Maliki hal 89-91&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Versi Audio:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.4shared.com/embed/534177445/131668f4" width="320" height="200" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/audio/z6KYhspA/D-PH-TAUHSIYAH_6_Maret_2011.html"&gt;Download:&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-3706855920187326230?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/3706855920187326230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=3706855920187326230' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/3706855920187326230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/3706855920187326230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/03/di-antara-jalan-terbesar-menuju-wushul.html' title='Di Antara Jalan Terbesar Menuju Wushul'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-sp3v6wkfzwQ/TXdOvSy-nPI/AAAAAAAAAws/yPc8G2QNSsE/s72-c/abi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-3175881422044219295</id><published>2011-02-11T15:02:00.000-08:00</published><updated>2011-02-11T15:09:11.503-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Mengqashar Shalat, Waktu Berbuka, dan Bepergian ke Luar Negeri</title><content type='html'>Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui surat ini saya ingin mengajukan beberapa saran dan pertanyaan:&lt;br /&gt;1) Untuk kolom Fas’alu terima kasih karena sudah menerbitkan bundelnya dengan judul: “Tanya Jawab Aktual Fas’alu”, tetapi saya merasa janggal dengan kata “Fas’alu” yang memiliki tanda koma setelah huruf “s”, padahal kalau tidak salah kata itu diambil dari fi’il madhi “سأل” atau saala (tidak memakai ‘ain).&lt;br /&gt;2) Perkembangan teknologi membuat kita harus lebih hati-hati dan waspada. Kalau dulu untuk pergi ke suatu kota kita harus berjalan kaki berjam-jam bahkan berhari-hari tapi sekarang cukup beberapa menit saja kita sudah sampai di tempat tujuan. Yang menjadi pertanyaan saya: &lt;br /&gt;a. Apakah dalam masalah sholat kita masih boleh mengqashar atau menjamak, meski jarak yang kita tempuh melebihi 16 farsakh atau sama dengan 81 km dapat ditempuh dalam beberapa jam bahkan menit?&lt;br /&gt;b. Bagaimanakah buka puasa orang yang bepergian dan sholat orang yang bepergian, apakah mengikuti waktu yang dituju?&lt;br /&gt;c. Apabila saya pergi ke suatu negara (luar negeri) dan sebelum berangkat saya melakukan sholat Ashar, tetapi sampai di sana sudah masuk waktu sholat Isya’. Apakah boleh saya melaksanakan sholat Isya’ jamak dan qashar dengan shalat maghrib serta sholat mana yang harus saya dahulukan?&lt;br /&gt;3) Bagaimana hukumnya mengadakan ulang tahun yang di dalamnya ada acara tiup lilin, potong kue, dan kasidahan. Mohon diberi dalil atau alasan yang kuat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian beberapa pertanyaan dan saran yang dapat saya ajukan. Atas perkenan dan jawaban pertanyaannya, saya mengucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Azis&lt;br /&gt;Jl. Made Karyo VI/2 Made Lamongan 62251&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;Terima kasih kembali atas segala perhatiannya. Mengenai pertanyaan pertama, mengapa kata Fas’alu ditulis Fas’alu, memakai koma, bukan Fasalu (tanpa koma), padahal memakai hamzah bukan ain, saya kira hal ini soal teknis. Kata Fas’alu dipetik dari kata dalam Al-Qur’an: فسئلوا . (Q.S. An-Nahl: 63) Artinya bertanyalah.&lt;br /&gt;Kita memilih menulis Fas’alu (dengan memakai koma) agar tidak rancau yang menyebabkan salah baca. Sementara dalam keseharian kita sering menulis atau menjumpai tulisan kata “Al-Qur’an”, dengan menggunakan koma, bukan “Al-Quran” (tanpa koma), padahal huruf yang dikasih koma itu bukan ain melainkan hamzah. Pilihan ini agaknya dilakukan agar terhindarkan dari salah baca. &lt;br /&gt;Apalagi hingga saat ini kita belum memiliki standar transliterasi Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia yang disepakati semua pihak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pertanyaan kedua (a), masalah jarak diperbolehkan qashar sepanjang 81 km dan bisa ditempuh beberapa menit saja, bolehkah dilakukan qashar. Hal ini kita kembalikan kepada kesepakatan ulama di samping nash-nash hadits nabawi. Kesepakatan ulama berkaitan dengan hal ini menyatakan bahwa standar dari bepergian yang diperbolehkan mengqashar shalat adalah jarak atau yang disebut masafah atau masirah, bukan waktu. Berapa jaraknya, bukan berapa waktunya. Jika jaraknya mencukupi dilakukan qashar, maka tidak mengapa dilakukan qashar, meski untuk menempuh jarak itu bisa dilakukan hanya dalam beberapa jam saja, misalnya kalau naik pesawat terbang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila di dalam teks hadits disebutkan Rasulullah bepergian dari Madinah ke Makkah dan beliau melakukan qashar shalat, itu maknanya adalah jarak yang ditempuh antara Madinah ke Makkah telah mencukupi jarak diperbolehkannya mengqashar shalat. Begitu pula teks hadits ketika Rasulullah saw. melarang mengqashar shalat bila bepergian dari Makkah ke Usfan karena perjalanan ini tidak mencukupi jarak diperbolehkannya mengqashar shalat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Al-Auzai berpendapat diperbolehkan mengqashar shalat dalam perjalanan sehari, atau dalam perjalanan dua hari dua malam menurut Asy-Syafii dan Ahmad, atau dalam perjalanan tiga hari tiga malam menurut Abu Hanifah dan Ats-Tsauri, hal ini semua berkaitan dengan jarak (masafah). Jarak perjalanan sehari misalnya adalah diperkirakan sejauh 37,5 km. Jarak perjalanan dua hari dua malam adalah diperkirakan sejauh 81-90 km. Dan jarak perjalanan tiga hari tiga malam diperkirakan sejauh 121,5 km. Dan sebagainya. Dalam jarak itu artinya orang yang bepergian diperkenankan melakukan qashar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qashar shalat (dari empat rakaat diringkas menjadi dua rakaat) merupakan keringanan dari Allah swt. lantaran melakukan bepergian (safar). Sedang bepergian lazimnya menjadikan orang capek, letih, dan lelah. Di saat itu dia diperkenankan menerima keringanan, mengqashar shalat, walaupun boleh-boleh saja, dia melakukan shalat secara sempurna, tidak melaksanakan keringanan itu, karena dia merasa misalnya perjalanan perginya tidak melelahkan. &lt;br /&gt;Untuk ihwal menjamak shalat, ketentuannya lebih longgar dibanding dengan ketentuan mengqashar shalat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pertanyaan kedua (b), kaitannya dengan buka puasa dan shalat, mengikuti waktu manakah orang yang bepergian, agaknya setiap orang hanya menjalani satu waktu saja, yaitu waktu di mana ia berada dan mengetahuinya. Maka, waktu yang tengah dialaminya di mana ia berada itulah waktu yang dibuat ukuran. Secara mudah, kalau berada di Amerika, berarti ia memakai waktu Amerika, dan kalau berada di Jakarta, ia memakai waktu Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang pertanyaan kedua (c), hal ini sudah kami singgung di poin (a). Pada dasarnya, kalau jarak bepergian yang ditempuh memenuhi ukuran diperkenankannya qashar (baik bepergian di dalam negeri maupun ke luar negeri), maka tidak mengapa dilakukan qashar. Mengenai shalat mana yang didahulukan, bila telah masuk waktu Isya’ dan Anda mendahulukan shalat Maghrib disusul kemudian shalat Isya’, maknanya Anda melakukan tertib shalat. Sedang bila Anda mendahulukan shalat Isya’ baru kemudian shalat Maghrib, maknanya Anda “menghormati” waktu di mana shalat dilakukan. Jadi pada dasarnya kedua-duanya boleh. Tinggal pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan pertanyaan ketiga, yaitu soal mengadakan acara ulang tahun dengan tiup lilin, potong kue, dan kasidahan. Acara ulang tahun pada dasarnya tidak ada nash yang jelas-jelas memerintahkan  dan juga tidak ada nash yang jelas-jelas melarang. Sekarang mari diurai acara ini dari dalil-dali nash yang ada.&lt;br /&gt;Usia merupakan karunia Allah swt. Semakin usia bertambah semakin banyak karunia Allah swt. yang kita terima, apakah itu kesehatan, kemampuan, kesempatan, kematangan fisik-mental, dan sebagainya. Hal ini patut untuk disyukuri. Bila acara ulang tahun dimaksudkan sebagai sarana untuk bersyukur kepada Allah swt. atas nikmat-nikmat-Nya, mengundang tetangga dan relasi untuk memberikan doa seraya memberikan jamuan, di samping untuk membuat segar suasana, agaknya tidak ada masalah. Suatu tradisi yang baik. Sekian banyak ayat-ayat Al-Qur’an menyeru kita mengungkapkan syukur kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya adalah apakah eskpresi syukur yang dimanifestasikan dalam acara ulang tahun itu benar-benar sesuai dengan sikap mensyukuri nikmat yang diajarkan oleh syariat Islam? Apakah di dalam acara itu tidak ada kegiatan-kegiatan yang menjurus kepada kebatilan? Hal ini yang menjadi masalah. Bila ada pandangan mengadakan ulang tahun adalah suatu kewajiban ini adalah suatu kesalahan, karena syariat Islam ternyata tidak mewajibkannya. Bila ada acara tiup lilin, ini kayaknya menyerupai kalangan penyembah api. Bila tiup lilin dimaksudkan sebagai ungkapan mematikan marabahaya, ini termasuk bagian dari ungkapan tasyaum (merasa mendapatkan sial). Sementara tasyaum tidak dibenarkan oleh syariat Islam. Apakah dalam acara ulang tahun tidak ada pemborosan, ini juga persoalan. Sementara Islam mengajarkan menjauhi pemborosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ada kebatilan dalam praktik mensyukuri nikmat jangan-jangan hal itu termasuk bagian dari sikap menukar nikmat Allah swt. dengan perilaku pembangkangan. &lt;br /&gt;Sebaiknya acara ulang tahun itu dimodifikasi hingga tidak melanggar prinsip-prinsip syariat, misalnya dengan mengundang tetangga dan relasi, meminta doa dari mereka, serta menjamunya di samping menyegarkan suasana dengan hiburan-hiburan yang baik, tanpa banyak acara yang hanya bersifat seremonial, atau dengan mengundang kalangan dhuafa’, meminta doa, menjamunya, menggembirakanya, dan memberi bingkisan kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia di samping karunia hakikatnya adalah hujjah dari Allah swt. Bila usia tidak dipergunakan dengan sebaik-baiknya, ia adalah suatu kerawanan. Di sinilah perlunya kita mawas diri. Semakin bertambah usia seyogyanya semakin meningkat kewaspadaan diri kita, dengan menghindari hal-hal yang tidak berguna, memfokuskan kepada hal-hal yang bermanfaat dan berdimensi ketaatan kepada Allah swt. Wallahu a’lam bis shawab.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-3175881422044219295?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/3175881422044219295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=3175881422044219295' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/3175881422044219295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/3175881422044219295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/02/mengqashar-shalat-waktu-berbuka-dan.html' title='Mengqashar Shalat, Waktu Berbuka, dan Bepergian ke Luar Negeri'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-6389748159665560229</id><published>2011-02-07T18:23:00.000-08:00</published><updated>2011-02-07T18:27:03.852-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafsir Tematik'/><title type='text'>Kala Nurani Menginsafi dan Lidah Mengingkari</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Q.S. An-Naml: 14&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَجَحَدُوْا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا&lt;br /&gt;Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan mereka, padahal hati mereka meyakini kebenarannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Makna dan Penjelasan Ayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini berkaitan dengan kepribadian rezim Fir’aun. Fir’aun amat resah begitu juru ramal istana memprediksi akan ada bayi laki-laki Bani Israil kini yang akan menghancurkannya kelak. Keresahan itu lalu dilampiaskannya dengan membunuhi setiap bayi yang lahir laki-laki dari kalangan Bani Israil secara membabi-buta. Keresahan itu kemudian berubah menjadi kekesalan dan duka mendalam begitu dia sadar, bayi yang diramalkan itu bukan orang lain, melainkan anak angkatnya sendiri yang diasuhnya semenjak kecil, lebih dari 18 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi itu adalah Nabi Musa as. Namun, Nabi Musa as kini bukanlah Musa as kecil, karena sekarang beliau telah diangkat menjadi nabi dan rasul. Dia diperintah menyeru ayah angkatnya yang super arogan hingga mengaku tuhan itu sadar dan kembali kepada tauhid, dengan hanya mengesakan Allah swt, di samping diutus kepada bangsa Egipt (Qibthi, Mesir) dan Bani Israil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kepentingan misi itu Allah swt telah menyokongnya dengan mukjizat berupa tongkat yang bisa berubah menjadi seekor ular besar dan tangan dapat mengeluarkan cahaya putih terang benderang. Beliau mendemonstrasikan dua mukjizat itu di hadapan Fir’aun dan para pembesar istana demi memperkuat seruan tauhidnya. Mereka berdecak kagum menyaksikannya. Namun, sekadar itu. Karena lambang-lambang kebenaran yang jelas terpampang di hadapannya itu tidak membuatnya insaf, malah menjadikannya bertambah arogan dan durhaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bentuk arogansi dan kedurhakaan itu Fir’aun menuduh keajaiban yang ditunjukkan Nabi Musa as sebagai sekadar sihir, sihir tingkat tinggi dan sempurna untuk mengusir rakyat dari negeri Egipt, negeri yang didiami Fir’an. Tuduhan ini adalah bentuk agitasi dan provokasi kepada rakyat untuk tetap menyudutkan duta Allah swt itu. Bentuk lainnya adalah usaha Fir’aun mengumpulkan pakar-pakar sihir sedunia untuk menandingi “sihir” Nabi Musa as.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fir’aun lalu menyebarkan bala tentara, intel, dan bawahannya mencari dan mengundang pakar sihir dari seluruh dunia untuk mengalahkan Nabi Musa as di samping melalui brosur dan pamflet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon saat itu menurut Ikrimah (tokoh tabiin) hadir dan terkumpul 70.000 pakar sihir. Menurut Kaab, sebanyak 12.000 pakar sihir. Sementara menurut Ibnu Ishaq, pakar sihir yang hadir dan berkumpul waktu itu sebanyak 15.000 orang dari berbagai belahan dunia. Disepakati waktu itu, bila mereka menang, Fir’aun akan memberikan upah yang sangat besar. Fir’aun menambahkan bila menang mereka akan mendapat posisi terhormat di istananya. Sebuah support yang amat besar demi memenangkan harga diri atas Nabi Musa as. Dan dari awal, para pakar sihir itu datang dengan kelewat percaya diri bahwa mereka pasti menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditetapkanlah hari pertunjukan besar itu di sebuah lapangan terbuka di Iskandaria. Bersama itu, para punggawa Fir’aun melakukan ekspos besar-besaran pertunjukan itu kepada rakyat agar mereka hadir menyaksikan kemenangan para pakar sihir atas Musa as. Rakyat pun sama berduyun-duyun menyaksikan pertunjukan besar itu.&lt;br /&gt;Dengan amat congkak, para pakar sihir bilang: “Wahai Musa, kamu yang mulai melemparkan lebih dahulu atau kita?!” Nabi Musa as dengan rendah mengatakan: “Lemparkanlah lebih dahulu.” Puluhan bahkan ratusan ribu pakar sihir itu lalu sama melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka seraya membaca mantra seperti diabadikan Al-Qur’an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَالُوْا بِعِزَّةِ فِرْعَوْنَ إِنَّا لَنَحْنُ الْغَالِبُوْنَ&lt;br /&gt;Mereka berkata: “Demi kekuasaan Fir’aun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang.” (Q.S. Asy-Syuaraa’: 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala dilemparkan, tali temali dan tongkat-tongkat itu menyulap mata orang yang menyaksikan. Ribuan bahkan ratusan ribu tali temali dan tongkat-tongkat itu tampak seakan-akan berubah menjadi ular-ular kecil yang banyak sekali. Namun sekadar ilusi bukan hakiki. Sekadar sulap. Tetapi itu cukup membuat decak kagum hadirin. Para pakar sihir itu benar-benar mendatangkan sihir yang menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini giliran Nabi Musa as di saat para pakar sihir telah merasa di atas angin. Beliau melemparkan tongkat mukjizatnya dan berubahlah tongkat itu menjadi seekor ular raksasa yang menghebohkan. Ular raksasa itu menelan ular-ular ilusi para pakar sihir satu per satu hingga habis dan hendak menelan juga manusia di sekitarnya. Ini lebih menakjubkan lagi. Hadirin ribut. Nabi Musa as lalu memberi isyarat dan kembalilah ia menjadi tongkat seperti sedia kala. Hadirin tiada henti-hentinya berdecak kagum. Keajaiban ini menjadi bibit-bibit keimanan yang bersemi pada diri Asiah, istri Fir’aun sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan bahkan ratusan ribu pakar sihir menyaksikan kenyataan itu terpana. Mereka yakin, yang ditunjukkan Musa as bukanlah sihir, karena mereka memahami seluk-beluk dan berbagai jenis sihir namun tidak mendapati sihir semacam yang ditunjukkan Musa as. Mereka yakin itu adalah mukjizat dari Allah swt. Maka insaflah mereka. Mereka sadar. Menyesal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinsafan akal yang dipadu dengan fitrah tauhid menggerakkan 15.000 pakar sihir tersebut tersungkur bersujud kepada Allah swt di lapangan terbuka itu sekaligus mendeklarasikan keimanannya. Dinyatakan dalam Al-Qur’an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالُوْا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ رَبِّ مُوْسَى وَهرُوْنَ    &lt;br /&gt;Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, Tuhan Musa dan Harun.” (Q.S. Al-A’raaf: 121-122)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fir’aun murka dengan kekalahan memalukan ini. Tapi lebih murka lagi begitu disaksikan 15.000 pakar sihir yang didatangkannya justru beriman kepada Nabi Musa as, musuh besarnya, dan mendeklarasikan tauhid kepada Allah swt. Dia spontan keluar alasan untuk mendiskreditkan pakar sihir yang beriman itu. Katanya seraya geram: “Apakah kalian beriman kepadanya sebelum aku memberi izin? Sesungguhnya tragedi ini adalah muslihat yang kalian rencanakan bersama Musa di dalam kota ini untuk mengeluarkan penduduk darinya. Maka kamu akan mengetahui akibat perbuatan kalian ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fir’aun memutuskan para pakar sihir itu seluruhnya dipotong tangan dan kakinya secara bersilang untuk kemudian disalib di tiang gantungan. Keputusan berat dan kejam ini ternyata tidak menyurutkan keimanan mereka. Mereka tetap kokoh dengan tauhidnya. Mereka merespon keputusan itu dengan tabah dan tawakkal. “Silakan hukum kami; tidak ada kemudharatan bagi kami; sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali,” kata mereka. “Dan kamu tidak membalas dendam dengan menyiksa kami melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami,” lanjut mereka kepada Fir’aun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pakar sihir kemudian tidak lagi menggubris Fir’aun dengan keputusannya. Mereka berkonsentrasi menghadapkan diri kepada Allah swt semoga dikaruniai kesabaran dan mati dalam keadaan muslim. Bagi mereka, inilah resiko keimanan di samping sebagai penebus dosa-dosa mereka sebelumnya. Doa mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ&lt;br /&gt;Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (muslim). (Q.S. Al-A’raaf: 126)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kisah keinsafan umat manusia yang luar biasa. Nurani fitrah yang dipadu dengan akal menumbuhkan rasa keimanan yang kokoh. Mereka rela dipotong tangan dan kakinya bersilang serta disalib demi mempertahankan nurani fitrahnya bertauhid kepada Allah swt. Berkaitan dengan keteguhan iman para pakar sihir ini, Qotadah (tokoh tabiin) berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانُوْا فِى أَوَّلِ النَّهَارِ سَحَرَةً كَفَرَةً وَفِى آخِرِ النَّهَارِ شُهَدَاءَ بَرَرَةً&lt;br /&gt;Mereka di pagi hari pakar sihir yang kafir, sementara di sore hari mereka syuhada yang mulia-mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Fir’aun dan bala tentaranya, sebagaimana disebutkan oleh ayat tema di atas, tetap tidak beriman, karena fitrah tauhidnya tertutup oleh arogansi kekuasaan dan sikap kesewenang-wenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelajaran dari Ayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari sini umat manusia pada dasarnya mengakui hakikat kebenaran bahwa hakikat kebenaran itu adalah tauhid atau agama Islam. Iblis, Fir’aun, Abu Lahab, dan orang-orang kafir pun nurani mereka bahkan mengakui tauhid (Q.S. Al-Mu’minun: 84-89 dan Q.S. Al-Ankabuut:  61 dan 63). Namun atas dasar cara berpikir mereka yang keliru, ditambah arogansi dan kedengkian yang meluap-luap, mereka menentang suara hatinya sendiri. Dan untuk merevolusi hati nurani, mengalihkannya dari fitrah, tentulah dibutuhkan rekayasa yang luar biasa. &lt;br /&gt;Maka berbahagialah umat manusia yang hati kecilnya menyadari hakikat kebenaran sementara lidahnya dapat mengekspresikan hakikat  kebenaran itu dengan baik. Wallahu subhanahu wata’ala a’lam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-6389748159665560229?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/6389748159665560229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=6389748159665560229' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/6389748159665560229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/6389748159665560229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/02/kala-nurani-menginsafi-dan-lidah.html' title='Kala Nurani Menginsafi dan Lidah Mengingkari'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-8687253228002441710</id><published>2011-01-27T19:59:00.000-08:00</published><updated>2011-01-27T20:03:01.639-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafsir Tematik'/><title type='text'>Makar Musuh-Musuh Islam Terus Berlangsung</title><content type='html'>وَاِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ اَوْ يَقْتُلُوكَ اَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ وَاِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُوا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَذَا اِنْ هَذَا اِلاَّ اَسَاطِيرُ اْلاَوَّلِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: "Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala". &lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS. Al Anfaal : 30-31)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Analisis Ayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;يَمْكُرُ بِكَ  (memikirkan tipu daya terhadapmu) bentuk fi'il mudlari' atau kata kerja yang menunjukkan perbuatan sedang (hal) dan akan datang (istiqbal) memiliki fungsi makna penunjukan atas berlakunya perbuatan tersebut secara terus menerus. Dalam hal ini maksudnya adalah perbuatan orang-orang kafir dalam memikirkan tipu daya terhadap kaum muslimin untuk menangkap dan memenjarakan, membunuh, dan mengusir mereka tidak hanya terjadi antara kafir Quraisy dan pengikut Rosululloh saw. di kala itu saja. Sikap dan perbuatan mereka di dalam memusuhi kaum muslimin, siasat dan makar yang mereka lakukan akan terus berlangsung sampai kapanpun, sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Makna dan Penjelasan Ayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Makar adalah siasat atau rencana yang dilakukan secara terselubung untuk menyampaikan suatu akibat buruk, kecelakaan, keteraniayaan, atau penderitaan kepada seseorang yang dituju (al mamkur bihi) tanpa terduga sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini Alloh Swt. menyebutkan anugerah yang telah diberikan kepada Rosululloh saw. secara pribadi. Dimana Alloh Swt. telah mengingatkan Rosululloh saw. pada masa yang relatif singkat, di saat orang-orang kafir melakukan makar yang dilakukannya secara terselubung melalui beberapa insiden yang membahayakan diri beliau. Namun siasat dan rencana buruk mereka semuanya dapat digagalkan. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi tersebut sebenarnya merupakan penunjukan yang dilakukan Alloh Swt. kepada orang-orang kafir dan kaum muslimin di masa Nabi saw. dan masa sesudahnya sebagai argumen terkuat atas kebenaran dakwah yang dibawa oleh beliau, dan kebenaran janji Alloh untuk senantiasa memberi pertolongan kepadanya. Makar, siasat, atau rencana yang dilakukan orang-orang kafir terhadap kaum muslimin sepanjang masa hampir tidak terlepas dari tiga cara. (1)   Memenjara dan mengisolir mereka dari berinteraksi dengan masyarakat luas. (2) Membunuh secara massal. (3) Mengeluarkan kaum muslimin dari negerinya. Hanya Alloh Swt. saja yang dapat menahan setiap rekayasa buruk mereka, rekayasa yang telah dilakukan terhadap Nabi saw. dan para sahabatnya, karena Dialah sebaik-baik pembalas tipu daya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan rekayasa orang-orang kafir terhadap agama Islam dan kitab suci Al Qur'an adalah memberikan komentar bahwa. "kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini." Demikian mereka mengatakannya dengan kebodohan, pembangkangan, permusuhan, kedunguan, dan penuh kesombongan. Padahal dalam kenyataannya tidak ada satupun dari mereka yang mampu menandingi keindahan sastra dan bahasa yang terkandung di dalam Al Qur'an. Dahulu pernah muncul seorang yang mengaku nabi, Musailimah Al Kadzdzab dengan Al Qur'an tandingannya yang lucu, kekanak-kanakan, dan jauh dari pesan kebenaran. Di zaman ini muncul juga seperti Salman Rusydi dengan ayat-ayat syetannya yang menggemparkan, subjektif, penuh antagonisme, dan sinisme terhadap kesamaan hak asasi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan ini kita disadarkan, bahwa bagi setiap aktivis Islam, pembela kemurnian ajrannya, penyelaras keteladanan yang dibawa Rosululloh saw. dalam berdakwah, bermujahadah membela kemuliaan Islam dan kaum muslimin akan selalu berhadapan dengan teror, mendapatkan tekanan, pemboikotan, pengucilan (terisolir), penculikan, penahanan, penyiksaan, bahkan sampai pada tingkat pembunuhan dan pembantaian yang dilakukan secara massal, dengan perang misalnya, bom nuklir, atau senjata pemusnah massa lainnya. Akan tetapi kita juga perlu menyimpan kuat ingatan, bahwa pembelaan Alloh Swt. dan pertolongan-Nya terus ada bersama kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Makar Musuh Islam Kini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keberlangsungan makar yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap kaum muslimin terus bergulir dari masa ke masa. Dan ketika kita masih berpijak di abad ini, di saat banyak orang mendengungkan perdamaian, kesetaraan gender, kebebasan hak, dan persamaannya. Di tempat yang tak sama, di negeri yang berbeda, akan tetapi masih di bumi yang satu. Sebuah negara adidaya, Amerika Serikat, dan beberapa sekutunya sesama pecundang perang, melancarkan serangan terhadap kota Baghdad, Irak, negeri seribu satu malam. Dimana tersimpan di dalamnya sejarah-sejarah agung peradaban Islam, lahir di tanahnya juga ribuan sarjana muslim terkenal, dan yang tak pernah terlupakan, kekhilafahan Islam pernah berkuasa beberapa abad lamanya disana di bawah kedaulatan Dinasti Abbasiyah (133-656 H/750-1258 M) . &lt;br /&gt;Tepat pada hari selasa, 18 Maret 2003 yang lalu. George W. Bush berbicara di depan publik, disiarkan oleh ratusan televisi, dan diberitakan oleh ribuan media pers, bahwa hari itu adalah dimulainya rencana penyerangan AS dan sekutu-sekutunya terhadap rezim yang berkuasa di bawah  pemerintahan Saddam Husen secara khusus. Namun suatu kemustahilan bila peperangan ini nantinya tanpa sedikitpun mengenai rakyat Irak secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas bahwa Saddam Husen dan motor penggerak kekuasaannya, Partai Ba'ath, adalah rezim yang tidak terlalu bersimpati terhadap pergerakan Islam, sedangkan yang lebih terlihat disana adalah nilai nasionalisme kerakyatannya yang kuat. Namun dari jumlah penduduk diatas 20 juta yang menganut agama Islam (95,8%), Kristen dan Yahudi (3,5%), maka bagaimanapun republik di bagian barat daya Asia ini tetap merupakan negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Dan setiap kecemasan, ancaman penganiayaan, serta penderitaan mereka yang dilakukan oleh kekuatan musuh-musuh Islam adalah juga sama bagian dari keprihatinan kita, saudara seagamanya di negeri yang lain. Mungkin, bagi mereka nazilah ini merupakan fitnah yang menimpa akibat ulah orang-orang dzalim yang berkuasa. Alloh Swt. berfirman,&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا اَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya."&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS. Al Anfaal : 25)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keprihatinan ini kita berharap doa kaum muslimin Irak yang didukung oleh doa kaum muslimin di seluruh dunia menjadi "batu" bagi tergelincirnya negara adidaya Amerika Serikat yang saat ini masih berdiri dengan kecongkakan, kebiadaban, dan kedunguannya dari kebenaran dan kemurnian agama Alloh Swt. yang hanif. Sehingga ketergelinciran itu berakibat pada jatuh ambruknya kekuasaan mereka di segala bidang. Baik secara politik, sosial, maupun ekonomi. Harapan ini semoga semakin menunjukkan kejelasan hasilnya dengan melihat reaksi buruk dunia internasional terhadap pemerintah Amerika, bahkan oleh rakyatnya sendiri. Gelombang kecaman atas ulah George W. Bush semakin besar, dan kita menginginkannya lebih besar lagi. Karena bagaimanapun juga doa orang-orang yang teraniaya adalah mustajabah (mudah terkabulkan). Alloh Swt. berfriman,&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;اَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ اْلاَرْضِ اَئِلَهٌ مَعَ اللهِ قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)."&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS. An Naml : 62)&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wallohu A'lam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-8687253228002441710?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/8687253228002441710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=8687253228002441710' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8687253228002441710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8687253228002441710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/01/makar-musuh-musuh-islam-terus.html' title='Makar Musuh-Musuh Islam Terus Berlangsung'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-3811228573607527626</id><published>2011-01-23T13:02:00.000-08:00</published><updated>2011-01-23T13:04:08.916-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Antara Shuhbah dan Mahaabah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shuhbah&lt;/span&gt; adalah pertemanan.&lt;br /&gt;Sungguh telah menampak dengan jelas shuhbah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan para sahabat. Ini dibuktikan banyak hadits yang di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Para sahabat tidak malu bertanya sebagaimana ketika Harits bin Hisyam bertanya bagaimana proses Beliau mendapat ilmu (menerima wahyu) yang kemudian dijawab oleh Beliau:&lt;br /&gt;"Pada suatu ketika wahyu datang kepadaku laksana suara lonceng dan itulah yang terberat bagiku…"HR Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Para sahabat berani mengajukan protes (Muroja'ah).  Abu Qilabah berkata: Abu Musa al Asy'ari berkata: Aku bersama sekelompok orang dari Bani Asy'ar datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  untuk meminta agar diangkut (bersama dalam rombongan). Beliau lalu bersabda: "Demi Allah, aku tidak akan mengangkut kalian karena tidak memiliki sesuatu (kendaraan) guna mengangkut kalian" Abu Musa melanjutkan: Kami diam beberapa lama dan kemudian didatangkanlah beberapa unta kepada Beliau. Dan ketika kami berangkat maka sebagian kami berkata kepada sebagian lain: "Kita telah menjadikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melupakan sumpah Beliau. kita tidak akan diberkahi." Abu Musa berkata: Kitapun kembali kepada Beliau dan mengatakan: "Sesungguhnya kami datang kepada anda untuk  memohon agar diangkut. Sementara engkau telah bersumpah untuk tidak mengangkut kami tetapi kemudian kamipun diangkut" Beliau lalu bersabda: "Demi Allah, Insya Allah aku tidak bersumpah sesuatu kemudian melihat ada yang lebih baik kecuali aku melakukan yang lebih baik itu dan lalu aku melakukan upaya menghalalkan sumpahku (membayar kafarat) HR Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bergurau dengan sahabat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bergurau dengan sahabatnya untuk menyenangkan mereka. Di antaranya adalah ketika seorang lelaki meminta kendaraan. Beliau lalu bersabda: “Aku akan membawamu di atas anak unta” lelaki itu berkata: Apa yang akan saya lakukan dengan anak unta? Beliau bersabda: “Bukankah unta tidak melahirkan kecuali unta? HR Turmudzi Abu Dawud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Beliau pernah bergurau dengan seorang lelaki badui bernama Zahir. Beliau bersabda: “Zahir adalah orang kampung sedang kita orang kota” HR Turmudzi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Beliau shallallahu alaihi wasallam berlaku lemah lembut kepada anak-anak. Mengucapkan salam dan mengusap kepala mereka. Terkadang Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidullah dan anak-anak Abbas untuk berbaris. Kemudian Beliau bersabda: “Barang siapa yang lebih dahulu datang kepadaku maka baginya ini dan itu”. Anak-anak itupun bersegera datang kepada Beliau hingga ada yang menempel di punggung Beliau dan dada Beliau dan Beliau pun mencium mereka” HRAhmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian para sahabat tidak pernah kehilangan rasa ta'zhim kepada Nabi SAW:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Usamah bin syurek disebutkan: Kami duduk di hadapan Nabi SAW seakan-akan di atas kepala kamu ada burung (hinggap) tidak seorangpun dari kami yang berkata hingga ada orang-orang datang dan bertanya kepada Beliau: "Siapakah para hamba yang paling dicintai Allah? Beliau bersabada: "Orang yang paling baik pekertinya"HR Thabarani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kewibawaan Rasulullah SAW menjadikan para sahabat (yang tinggal di Madinah) jarang sekali bertanya kepada Beliau. Ibnu Abbas ra berkata: "Semoga Allah mengasihi para sahabat Muhammad, mereka jarang sekali bertanya (meski banyak pertanyaan) kepada Nabi SAW. Hanya ada sekitar 12 pertanyaan yang semuanya disebutkan dalam Alqur'an. Karena itu kami para sahabat senang jika ada Badui datang kemudian bertanya kepada Beliau dan mereka pun mendapatkan faedah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan bukan berarti hilangnya ke Ta'zhiman: Beliau shallallahu alaihi wasallam  bersabda: "Bukan bagian dari kami orang yang tidak memuliakan orang tua, yang tidak mengasihi yang kecil dan tidak mengerti hak orang alim. HR Ahmad-Thabarani "Tempatkanlah manusia pada tempat mereka" HR Abu Dawud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana mewujudkan shuhbah dan mahabah dalam diri kita? Seorang yang memahami arti ukhuwwah mudah baginya melahirkan shuhbah. Cukuplah Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang beriman adalah saudara maka damaikanlah di antara dua saudaramu"&lt;br /&gt;Sementara Mahabah/ Haebah seseorang bisa terwujud dengan kuatnya Aqidah dalam dirinya serta adanya Muru'ah, sikap menjaga diri dari budi pekerti rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والله يتولى الجميع برعايته&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-3811228573607527626?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/3811228573607527626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=3811228573607527626' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/3811228573607527626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/3811228573607527626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/01/antara-shuhbah-dan-mahaabah.html' title='Antara Shuhbah dan Mahaabah'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-1953093648113878031</id><published>2011-01-14T03:12:00.000-08:00</published><updated>2011-01-14T03:15:01.375-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Kata dan Prilaku Syirik Seorang Pemeran</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah dapat dikatakan murtad atau musyrik seseorang yang melakukan pemujaan terhadap berhala atau tidak mengakui Alloh dalam sebuah peran drama maupun sejenisnya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Abdul Aziz,&lt;/span&gt; Lamongan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang melakukan tindak ke, syirik, an dengan ucapan atau perbuatan karena terpaksa tidak bisa disebut sebagai seorang musyrik atau kafir, Allah berfirman: “…kecuali orang yang dipaksa sedang hatinya tetap teguh dengan iman…”QS  an Nahl: 106. Ayat ini bermula dari kasus yang dialami oleh Amar bin Yasir ketika orang kafir memaksanya agar mencela Nabi Saw dan memuji berhala. Karena terpaksa dan sudah tak kuasa menahan derita maka Ammar menuruti paksaan mereka. Mendapat kabar  bahwa Ammar telah kafir, Rosululloh Saw membantah: “Tidak, diri Amar penuh dengan iman dari kepala hingga kakinya, imannya telah melekat dengan daging dan darahnya”. Amar datang kepada Rosul Saw dan mengadu: Celaka, wahai Rosululloh, saya telah mencela anda dan memuji tuhan – tuhan mereka! Nabi Saw bertanya: Bagaimana dengan hatimu? Ammar menjawab: Teguh dengan keimanan. Nabi Saw lalu mengusap kedua mata Ammar, dan Beliau Saw pun bersabda: “Jika mereka kembali memaksamu maka ulangilah ucapanmu kepada mereka!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat ini para ulama sepakat bahwa siapapun yang dipaksa melakukan kekafiran maka boleh baginya menuruti paksaan tersebut selama hatinya masih setia dengan keimanan. Kendati demikian lebih utama jika dia menolak meski harus menebus penolakan tersebut dengan nyawa seperti yang dilakukan oleh kedua orang tua Ammar yaitu Yasir dan Sumayyah.  Imam al Qurthubi seperti juga dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah berkata:  Ketika Alloh memaafkan dan tidak memberikan siksaan akan pengingkaran (kufur) terhadapNya ketika dalam keadaan terpaksa, maka para ulama juga memasukkan seluruh cabang syariat dalam prinsip ini. Jadi bila terjadi pemaksaan maka sama sekali tidak ada hukum seperti juga dijelaskan dalam sabda Nabi Saw: “Dihilangkan dari umatku kesalahan, kealpaan dan apa yang dipaksakan atas mereka” HR Ibnul Mundzir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk dipaksa kafir adalah dipaksa zina, karena itu jika ada seorang wanita dipaksa berzina maka sama sekali tidak ada hukuman baginya. Pernah pada masa Rasulullah Saw ada seorang wanita yang dipaksa berzina hingga Beliau membebaskan wanita itu dari jerat hukuman. Pada era Umar ra juga demikian, seorang wanita datang dan melaporkan bahwa dirinya meminta air minum kepada seorang penggembala, tetapi penggembala itu menolak kecuali bila wanita itu mau melayani nafsu bejatnya. Karena terpaksa maka wanita itupun tidak bisa menolak. Mendengar laporan ini, Umar bertanya kepada Ali: Bagaimana pendapat anda tentang wanita ini? Ali menjawab: Dia memang terpaksa. Akhirnya Umar  memberikan sesuatu (hadiah) dan membiarkan wanita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain “Terpaksa” ada juga suatu sebab yang menjadikan hukum tidak bisa menyentuh suatu perbuatan, sebab itu adalah  al Laghwu. “Alloh tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak disengaja (oleh hatimu)…”QS al Baqarah: 225. Pendapat yang paling masyhur tentang makna al Laghwu adalah ucapan yang terpeleset keluar dari lisan atau sama sekali tidak disengaja. Dalam kasus ini sama sekali tidak ada dosa atau resiko apapun. Dari Abu Huroiroh bahwa Rosululloh Saw bersabda: “Barang siapa yang bersumpah dan mengatakan dalam sumpahnya, Demi Laat dan Uzzaa maka hendaknya dia mengucapkan Tiada Tuhan selain Alloh”Muttafaq Alaihi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus pemeran sebuah Film atau Drama, asal yang mengucapkan hatinya tetap teguh dengan iman serta melaksanakan semua itu semata terpaksa karena tuntutan sebuah peran atau mengikuti alur cerita maka tidak menjadi masalah, “ … tetapi barang siapa yang terpaksa , sedang dia tidak menginginkan  dan juga tidak melampaui batas maka tidak ada dosa baginya…”QS al Baqarah: 173.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-1953093648113878031?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/1953093648113878031/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=1953093648113878031' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1953093648113878031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1953093648113878031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/01/kata-dan-prilaku-syirik-seorang-pemeran.html' title='Kata dan Prilaku Syirik Seorang Pemeran'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-8556190785373568028</id><published>2011-01-01T21:57:00.000-08:00</published><updated>2011-01-02T03:10:27.906-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Pelajaran dari Al Hijrah An Nabawiyyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TQOQAnBYgmI/AAAAAAAAAv8/an7HfigEX-0/s1600/abi-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 162px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TQOQAnBYgmI/AAAAAAAAAv8/an7HfigEX-0/s200/abi-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549437505999766114" /&gt;&lt;/a&gt;Tausiyah Abina K.H.M. Ihya' Ulumiddin &lt;br /&gt;Bulan Muharram 1432H / Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tabâraka wata’âla&lt;/span&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Alloh, mereka itu mengharapkan rahmat Alloh, dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;QS. Al Baqarah: 218.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah Nabawiyyah mengukirkan manhaj yang jelas bagi dakwah Islam sekaligus meletakkan pondasi kokoh yang seyogyanya dijadikan pijakan oleh seorang juru dakwah. Hal yang dimaksud adalah:&lt;br /&gt;1. Amal yang ikhlas, jujur dan benar.&lt;br /&gt;2. Menerbitkan Amal.&lt;br /&gt;3. Tanzhim dan Tansiq (manajemen yang rapi).&lt;br /&gt;4. Kehati-hatian yang semestinya.&lt;br /&gt;5. Memusatkan pikiran untuk menyatukan kemauan dan menguatkan tekad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana amal tersebut sama sekali tidak terkait dengan kekuatan gaib ataupun bantuan Alloh seperti apa yang terjadi dalam peristiwa Isra’ Mi’raj meski yang menyertai Rasulullah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shallallahu alaihi wasallam &lt;/span&gt;dalam perjalanan hijrah adalah yang bersama beliau juga dalam perjalanan Isro’ Mi’raj yaitu penghulu malaikat, Jibril &lt;span style="font-style:italic;"&gt;alaihissalam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi hijrah nabawiyyah memberikan isyarat penetapan undang-undang alam di hadapan manusia tentang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;at tajribah wat tathîq&lt;/span&gt; (pengalaman dan praktek) sebagaimana dalam firman Alloh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah dilaksanakannya. Dan bahwasannya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya).”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;QS. An Najm: 39-40.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kehendak Alloh telah menjadikan perumpamaan hijrah ini sebagai bukti paling nyata dari hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sebagai buahnya Alloh mengembalikan lagi kepada mereka tanah air (yang sempat hilang) sekaligus memberikan anugerah kepada mereka banyak negeri-negeri lain melalui penaklukan-penaklukan Islam serta menghantarkan mereka ke seluruh belahan negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pula sunnah Alloh dalam makhluk-Nya telah mengumumkan melalui pengalaman dan praktek ini di hadapan pendengaran generasi-generasi (penerus) bahwa keterikatan dengan iman dan ketundukan diri kepada suluk Islam adalah modal terbaik guna mencapai dan meraih keberhasilan-keberhasilan secara materi sebagaimana dikatakan dalam hikmah, “Barangsiapa memperbaiki urusan akhiratnya niscaya Alloh memperbaiki untuknya urusan dunianya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah contoh paling jelas bagi ketetapan Alloh yang menyatakan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Al Qashash: 5.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa…”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;QS. An Nûr: 55.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya…”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;QS. Yunus: 26&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut sungguh wajib bagi kita memahami Islam bukan semata berkonsentrasi pada ritual atau ibadah-ibadah yang dijalankan oleh individu-individu. Sebaliknya Islam merupakan sistem (manhaj) yang saling menyempurnakan untuk cara bagaimana berinteraksi dengan alam dan kehidupan. Jika tidak demikian maka bagaimana mungkin bisa terwujud di tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu anhum sekian banyak pencapaian-pencapaian kemajuan dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat Alloh semoga menaungi Ibnu Atho’illah As Sakandari yang mengatakan, “Amalan-amalan (tidak lebih hanya) bentuk-bentuk yang berwujud. Sementara nyawanya adalah rahasia ikhlas di dalamnya.” “Jenis-jenis amalan beraneka ragam mengikuti ragam keadaan-keadaan yang datang dari Alloh (sebagai mauhibah).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi amalan-amalan beraneka ragam sejalan dengan kemampuan-kemampuan manusia, mauhibah mereka serta apa yang diciptakan Alloh dalam diri mereka dan membuat mereka mampu memfokuskan diri untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=والله يتولى الجميع برعايته=&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Versi Audio Stream:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.4shared.com/embed/468598304/e1cb1791" width="320" height="150" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Download:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;http://www.4shared.com/audio/Xw1FYe5f/TausiyahJan2011.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-8556190785373568028?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/8556190785373568028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=8556190785373568028' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8556190785373568028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8556190785373568028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2011/01/tausiyah-bulan-januari-2011.html' title='Pelajaran dari Al Hijrah An Nabawiyyah'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TQOQAnBYgmI/AAAAAAAAAv8/an7HfigEX-0/s72-c/abi-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-2881198332894559322</id><published>2010-12-24T01:02:00.000-08:00</published><updated>2010-12-24T01:05:58.399-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Shalat Isyraq</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Pengasuh Fas’alu yang senantiasa berbahagia. Langsung saja ke pertanyaan, adakah yang namanya shalat Isyraq yang dilakukan saat matahari terbit itu? Kalau ada, bagaimana ketentuannya se¬hingga saya dapat mengamalkannya. Atas jawaban Ustadz, sebelumnya terima kasih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mardliyah,&lt;/span&gt; di bumi Allah Baureno, Bojonegoro, Jatim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawaban: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat matahari terbit memang ada larangan untuk melakukan shalat sunnah. Ini memang maklum agar tidak menyerupai para penyembah matahari. Namun, saat matahari terbit itu boleh melaku¬kan shalat Isyraq, istilahnya dengan ketentuan-ketentuan yang membedakannya dari shalat-shalat sunnah pada umumnya. Ketentuan pertama, tidak beranjak dari tempat dia melakukan shalat shubuh. Kedua, shalat Shubuhnya dilakukan dengan berjamaah. Ketiga, jeda waktu antara sehabis shalat Shubuh dengan terbit matahari dimanfaatkan untuk berdzikir. Jika memenuhi tiga ketentuan ini maka dianjurkan melakukan shalat Isyraq yang pahalanya laksana pahala haji dan umrah secara sempurna. Ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barangsiapa shalat shubuh berjamaah lalu duduk berdzikir kepada Allah sehingga terbit matahari, kemudian melakukan shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, yang sempurna, yang sempurna, yang sempurna. (Diulangi tiga kali).&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hadits Hasan Gharib dan diriwayatkan oleh At Tirmidzi. Lihat Syarful Ummah Al Muhammadiyah, karya Sayyid Muhammad ‘Alawi Al Maliki, hal. 90 dan Tuhfatul Ahwadzi, komen¬tarnya Sunan At Tirmidzi, jilid II hal. 472. Hadits ini menunjuk¬kan keutamaan tetap berada di musholla sehabis sholat Shubuh untuk berdzikir).[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-2881198332894559322?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/2881198332894559322/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=2881198332894559322' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2881198332894559322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2881198332894559322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/12/shalat-isyraq.html' title='Shalat Isyraq'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-7106058051725132154</id><published>2010-12-18T13:52:00.000-08:00</published><updated>2011-08-12T19:46:48.441-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Streaming'/><title type='text'>Kajian Streaming Offline "Wanita Idaman"</title><content type='html'>Kajian Ummahat "Wanita Idaman" &lt;br /&gt;Disampaikan oleh K.H.M. Ihya' Ulumiddin &lt;br /&gt;Di Ma'had Nurul Haromain Pujon Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Streming Audio Offline:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagian 1 &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;embed src="http://www.4shared.com/embed/455660214/d73ae754" width=http://www.blogger.com/img/blank.gif"320" height="150" allowfullscrhttp://www.blogger.com/img/blank.gifeen="true" http://www.blogger.com/img/blank.gifallowscriptaccess="always"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagian 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.4shared.com/embed/461111544/c25bada9" width="320" height="150" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagian 3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.4shared.com/embed/464110505/3bb410f9" width="320" height="150" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Download:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/audio/kKlFcq15/D-PH-wanita_idaman_01.html"&gt;Bagian 1 &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/audio/H2AjiNAR/D-PH-wanita_idaman_2.html"&gt;Bagian 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/audio/IoTORKpe/Wanita_Idaman_Bagian_3.html"&gt;Bagian 3&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-7106058051725132154?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/7106058051725132154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=7106058051725132154' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/7106058051725132154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/7106058051725132154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/12/wanita-sholehah.html' title='Kajian Streaming Offline &quot;Wanita Idaman&quot;'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-2980192551752908159</id><published>2010-12-16T17:24:00.000-08:00</published><updated>2010-12-16T17:42:29.159-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafsir Tematik'/><title type='text'>Tiga Golongan dan Tanggungjawab Hidup di Masyarakat</title><content type='html'>Seri: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tafsir Tematik&lt;br /&gt;Q.S. Al A’raaf: 164-165&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TQq_ZRxSzLI/AAAAAAAAAwE/qWAx1uuk-6Y/s1600/alaraf164165.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 70px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TQq_ZRxSzLI/AAAAAAAAAwE/qWAx1uuk-6Y/s320/alaraf164165.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5551459931675348146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati golongan yang Alloh akan membinasakan mereka atau mengadzab mereka dengan adzab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa (takut dan menghentikan perbuatan buruknya).&lt;br /&gt;Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan yang jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang dzalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Analisis Ayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ma’dziratan) artinya sama dengan kata udzur (dalih) yaitu lepas tanggung jawab dari dosa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(yattaqun) maknanya agar mereka bertaqwa. Taqwa di sini berarti tumbuhnya rasa takut atas perbuatan buruk yang dilakukan. Atas dasar rasa takut, perbuatan buruk itu dihentikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Makna Ayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu bagi bangsa Yahudi adalah hari mulia sebagaimana kedudukan hari Jum’at bagi ummat Islam dan hari Ahad bagi ummat Nasrani. Pada hari yang mulia itu ditetapkan agar Bani Israil menghabiskannya untuk konsentrasi pengabdian kepada Alloh swt. Hari Sabtu ibaratnya sebagai hari ibadah. Namun bangsa Yahudi yang tinggal di kota Eilah (terletak di pantai Laut Merah antara kota Madyan dan bukit Thur) melanggar kemuliaan hari itu secara terang-terangan. Demi materi, mereka meninggalkan aktivitas ibadah, berpindah pergi ke laut mencari ikan, karena justru pada hari Sabtu ini ikan-ikan bermunculan, banyak dan mudah didapatkan. Sedang pada hari-hari lainnya ikan-ikan seperti tidak tampak  dan untuk mendapat-kannya dibutuhkan kerja keras. Seakan-akan kehadiran ikan-ikan itu dijadikan tes bagi keteguhan iman mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejadian ini penduduk kota Eilah ter-bagi menjadi tiga golongan. Pertama, golongan yang melakukan pelanggaran dengan keluar mencari ikan ke laut terang-terangan. Mereka mendahulukan mengejar materi daripada melaksanakan aktivitas ibadah. Kedua, golo-ngan yang memberikan saran dan kritikan keras terhadap para pelaku pelanggaran tersebut. Di-sarankan dan dinasehati agar orang-orang yang pergi mencari ikan pada hari Sabtu itu mengingat kembali larangan Tuhan. Tidak henti-hentinya aktivitas dakwah ini mereka lakukan. ketiga, orang-orang yang diam. Mereka tidak turut pergi mencari ikan dan tidak pula turut memberikan saran dan nasehat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Golongan ketiga seperti ditegaskan pada ayat pertama melontarkan pertanyaan terhadap golongan kedua: “Ada apa kalian memberikan nasehat pada golongan yang sudah pasti akan diadzab oleh Alloh swt akibat pelanggaran-nya?” Golongan kedua menjawab: “Kami melakukan ini agar kami memiliki dalih kelak ketika ditanya mengapa diam terhadap kemunkaran? Dengan aktivitas nahi munkar ini kami bisa berlepas dari tanggung jawab. Di samping dengan nasehat itu mudah-mudahan mereka teringat dan menghentikan kemunkarannya,” jawab golongan kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap yang ditunjukkan oleh golongan kedua merupakan bentuk tanggung jawab hidup di masyarakat. Manakala kemungkaran kelihatan di depan mata mestinya harus ada sekelompok orang yang mencegahnya. Kemungkaran itu tidak boleh dibiarkan begitu saja berlangsung dan merajalela. Tetapi harus dihentikan. Paling tidak harus diminimalisasi. Ini adalah tanggungjawab bersama baik orang alim maupun orang awam terutama orang-orang yang hidupnya dihabiskan untuk mengemban misi utama para Nabi itu. Aktivitas dakwah amar makruf nahi munkar ini merupakan prinsip utama dari ajaran Islam. Alloh swt berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan hendaklah ada di antara kamu segolo-ngan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.&lt;/span&gt; (QS Ali Imran: 104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah saw: yang artinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Demi Dzat yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya. Kalian mesti beramar makruf dan nahi mungkar atau kalau tidak maka Allah hampir saja menimpakan kepadamu siksa lalu kamu berdoa kemudian tidak dikabulkan-Nya.&lt;/span&gt; (HR Tirmidzi dari Hudzaifah Ibnul Yaman)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atau setidak-tidaknya, kita memilih diam dengan tetap mencela kemungkaran yang ada di dalam hati. Tidak sekali-kali terbersit dalam jiwa kehendak untuk justru turut melakukan kemunkaran. Bukan diam yang berarti setuju dan mendukung (ridla) atas kemungkaran itu. Namun diam karena kemampuan diri terbatas sedang kekuatan atau power tidak dimiliki. Akan tetapi sikap semacam ini tidak ideal. Idealnya justru apa pun yang terjadi kita berteriak keras terhadap suatu kemungkaran seperti yang selalu dilakukan oleh sahabat Abu Dzar Al Ghifari. Bisa dibayangkan bagaimana bila seluruh komponen masyarakat memilih diam daripada bersuara. Siapa yang bertanggung jawab terhadap menjamurnya kemunkaran? Tetapi sikap diam tetap ditoleransi dalam batas-batasnya sebagai suatu rukshoh (keringanan) dari Allah swt meskipun sikap itu bukti dari kelemahan iman. Dalam hadits disebutkan yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barangsiapa melihat kemungkaran maka hendaklah dia mengubah dengan tangannya. Barangsiapa tidak mampu, maka hendaklah dengan lisannya. Dan bila tidak mampu, maka hendaklah dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.&lt;/span&gt; (HR Muslim dari Abu Said Al Khudri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw menggambarkan kepedulian hidup bersama dalam sebuah haditsnya demi-kian. Orang yang menjauhi larangan Allah dan orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang berundi tempat di kapal. Sebagian mereka mendapatkan undian di dek atas dan sebagian yang lain di dek bawah. Orang-orang di dek bawah jika memerlukan air harus melewati dek atas. Mereka lalu berkata: “Lebih baik kami melubangi saja di bagian bawah kami ini, agar tidak mengganggu orang-orang di dek atas.” Maka jika ulah orang-orang tersebut dibiarkan, tidak ada yang peduli, pasti isi perahu binasa semua (tenggelam). Tetapi kalau ulah itu dicegah, niscaya selamatlah isi perahu seluruhnya. (H.R. Bukhari) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat selanjutnya diterangkan balasan dan akibat dari sikap masing-masing golongan yang dipilihnya. Golongan yang selalu membe-rikan nasehat untuk menghentikan kemungkaran diselamatkan oleh Alloh swt dari siksa. Adapun golongan yang berbuat kemungkaran dan enggan menghentikan kemungkarannya meski telah dinasehati, mereka mendapatkan adzab atas kedzalimannya. Adzab akhirat rasanya sudah barang tentu (pasti), malah bisa ditambah dengan adzab segera di dunia. Penduduk Eilah ini misalnya akibat pelanggarannya fisik mereka berubah secara tiba-tiba menjadi fisik kera. Dalam tiga hari kemudian mereka sama mati karena rasa duka yang mendalam atas perubahan wujud dirinya yang sangat buruk dan menyeramkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang terpenting dalam hal ini ialah melaksanakan amanah sebagai seorang muslim untuk berdakwah; beramar makruf nahi mun-kar. Untuk soal tabligh kita apakah diterima atau ditolak itu bukan lagi urusan kita. Biarlah itu menjadi tanggung jawab sasaran dakwah (mad’u) bersamaan dengan hidayah atau khidzlan yang diberikan oleh Alloh swt kepada mereka sesuai dengan respon mereka. Dalam mutiara hikmah dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barangsiapa telah memberikan peringatan maka benar-benar ia telah lepas dari tang-gung jawab (memiliki dalih).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk (dengan mendakwahi mereka). Hanya kepada Alloh kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.&lt;/span&gt; (Q.S. Al Maidah: 105)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan golongan yang memilih sikap diam? Ulama ahli tafsir berbeda pendapat. Pertama, golongan yang bersikap diam ini tetap disiksa karena teks ayat hanya menyebutkan golongan yang mau berdakwah yang diselamatkan. Kedua, golongan yang diam ini selamat karena mereka ingkar dan mencela kemunkaran meski dalam hatinya. Mereka tidak memberi-kan nasehat karena dengan kondisi pembangkangan sedemikian rupa, nasehat diyakini akan menjadi percuma, tak berarti dan sia-sia, bahkan malah matri dakwah bisa jadi bahan cemoohan. Sementara mereka memilih metode kalem daripada garis keras karena diyakininya jalan masih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kalau diam dalam arti tidak mem-punyai sikap, masa bodoh, mendukung kemunkaran diam-diam, dan malah mencela da’i yang bersuara lantang, maka diam adalah sikap mental jelek dan akibatnya akan disiksa. Adapun kalau diam setelah berusaha keras menghentikan kemungkaran, maka sikap ini bisa ditoleransi mengingat kemampuan setiap orang tidak sama. Ini merupakan perwujudan dari kelonggaran beban dakwah. Dakwah tidak harus dengan jalan kekerasan, namun mengingat jalan masih panjang bisa dengan cara halus dan bertahap dalam batas-batas tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya tiga golongan seperti tercermin dari masyarakat Bani Israil yang tinggal di kota Eilah adalah kondisi yang akan terjadi pada setiap masa kapan pun dan di mana pun. Akan ada orang-orang yang bergelimang dosa. Ada orang-orang yang memberikan nasehat. Dan ada orang-orang yang bersikap diam. Dengan menelusuri akibat buruk yang ditimpakan kepada masing-masing golongan, maka idealnya kita bertindak sebagai orang-orang yang turut andil dalam tabligh dan dakwah amar makruf nahi munkar. Paling tidak kita mencela dengan hati kita. Sikap yang harus dihindari ialah justru turut mendukung apalagi mempelopori kemungkaran. Inilah tanggung jawah hidup bersama di masyarakat. Kecuali bila kita menyodorkan diri bersama-sama untuk mendapatkan adzab yang keras dari Allah swt. Dalam hadits disebutkan yang artinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya orang banyak bila melihat orang dzalim (bereaksi) lalu mereka tidak menghentikannya, maka hampir saja Allah meratakan adzab pada mereka semua&lt;/span&gt;. (HR Tirmidzi dan Nasa’i dari Abu Bakar Ash Shiddiq).[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-2980192551752908159?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/2980192551752908159/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=2980192551752908159' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2980192551752908159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2980192551752908159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/12/tiga-golongan-dan-tanggungjawab-hidup.html' title='Tiga Golongan dan Tanggungjawab Hidup di Masyarakat'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TQq_ZRxSzLI/AAAAAAAAAwE/qWAx1uuk-6Y/s72-c/alaraf164165.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-2767334194164743468</id><published>2010-12-11T06:22:00.000-08:00</published><updated>2010-12-11T08:03:32.016-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Al Wasathiyyah Manhaj Rabbani</title><content type='html'>Tausiah Bulan Desember 2010&lt;br /&gt;Tempat: Surabaya: Sentra Dakwah Persyadha Ketintang&lt;br /&gt;        Malang: PP. Nurul Haromain Pujon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TQOQAnBYgmI/AAAAAAAAAv8/an7HfigEX-0/s1600/abi-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 162px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TQOQAnBYgmI/AAAAAAAAAv8/an7HfigEX-0/s200/abi-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549437505999766114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Waspadalah&lt;/span&gt; fitnah-fitnah laksana penggalan-penggalan malam gelap gulita yang tidak bisa dihindarkan dalam seluruh lintasan-lintasan masa. Bahkan telah terjadi dalam sebaik-baik masa. Ini karena Allah telah menyatakan: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya....“ QS. al Mulk: 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi terbaik agar selamat dari fitnah tersebut adalah manhaj al wasath (sikap mengambil jalan tengah) yang merupakan manhaj umat ini seperti diisyaratkan dalam firman Allah: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan...“ QS. al Baqarah:143.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tidak ketimuran juga tidak kebaratan, tidak kebangetan juga tidak kepengkuan, tidak terlalu juga tidak teledor, tidak bersuara keras juga tidak bersuara pelan, tidak berfoya-foya juga tidak mengirit, tidak menggenggam tangan (pelit) juga tidak membentangkannya (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;blobo&lt;/span&gt;), tidak mendito (menjauh dari wanita) juga tidak bergaul bebas dengan wanita, tidak eksklusif juga tidak inklusif dan tidak ini juga tidak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi kita meniti jalan tengah di antara kesemuanya.&lt;br /&gt;Sesungguhnya kedermawanan berada pada posisi di antara foya-foya dan pelit, keberanian di antara ketakutan dan tindakan ngawur, sikap bijak di antara sikap kasar dan acuh tak acuh, senyuman di antara raut wajah cemberut dan gelak tawa, sabar di antara sikap keras dan mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas menengah dalam ekonomi adalah yang terbaik. Bukan kekayaan yang memunculkan keangkuhan. Bukan kemiskinan yang melupakan. Akan tetapi sesuatu yang mencukupi, melegakan dan mencukupi keinginan. Sungguh dikatakan: “Ambil dari cinta sesuatu yang jernih. Dan dari penghidupan sesuatu yang mencukupi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah jalan hidup (manhaj) tengah-tengah dan keseimbangan dalam menjalani urusan-urusan sebagaimana diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Bermadyalah, bermadyalah maka kalian akan menggapai tujuan...” HR. Bukhari. “Tetapilah oleh kalian petunjuk jalan tengah-tengah” HR. Ahmad. .”Sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah” HR. Ibnu Sam’ani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=والله يتولى الجميع برعايته=&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Versi Audio:&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.4shared.com/embed/450111804/8617f7a9" width="320" height="150" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-2767334194164743468?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/2767334194164743468/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=2767334194164743468' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2767334194164743468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2767334194164743468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/12/al-wasathiyyah-manhaj-rabbani.html' title='Al Wasathiyyah Manhaj Rabbani'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TQOQAnBYgmI/AAAAAAAAAv8/an7HfigEX-0/s72-c/abi-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-5002006331505691811</id><published>2010-12-04T06:19:00.000-08:00</published><updated>2010-12-04T06:29:51.676-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Kuis Berhadiah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Akhir-akhir ini, semakin marak acara-acara kuis berhadiah, baik di media cetak maupun elektronik. Pertanyaan maupun cara yang ditawarkan sangat mudah dibanding dengan hadiah yang sedemikian besar. Bagaimana kita menyikapinya? Apakah hukumnya sama dengan judi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuis-kuis berhadiah itu barangkali ada manfaatnya, yakni bagi pemenang (dapat hadiah meriah tanpa bersusah payah). Sisi lain ada madlorotnya yakni bagi sekian ribu peserta yang kalah sementara mereka telah berkorban waktu, pikiran, pulsa dan sebagainya. Belum lagi madlorot dari sisi mentalitas spiritual. Lazimnya orang yang terobsesi dengan harapan yang muluk-muluk dan terlena dengan permainan yang mengasyikkan akan cenderung lalai dari melakukan kewajiban-kewajiabnn hidupnya bahkan kewajiban kepada Rabbnya semacam sholat, mengaji, dan berdzikir. Jadi, apakah kuis-kuis itu hukumnya sama dengan maisir (judi) ?Marilah kita renungkan dua buah ayat berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka bertanya kepadamu tentang khomr dan maisir. Katakanlah, “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya” (QS Al Baqarah: 219)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran khomr dan maisir itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Alloh dan sholat; maka berhentilah kamu (dari mengerjalan pekerjaan itu)” (QS Al Maidah: 91)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar As Shiddiq (dari generasi tabi’in), termasuk kategori maisir adalah setiap sesuatu yang melalaikan dari dzikir kepada Allah dan melalaikan dari shalat. (Mukhtasar Tafsir Ibnu Katsir I/544). Dengan demikian, semestinya seorang muslim menghindar dari terbuai oleh kuis-kuis berhadiah diatas, terlebih terhadap soal budaya kapitalistik yang didorong oleh ghozwul fikri hendaknya seorang muslim melakukan upaya tawattur fil alaqot, yaitu gerakan pemutusan hubungan.[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-5002006331505691811?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/5002006331505691811/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=5002006331505691811' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5002006331505691811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5002006331505691811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/12/kuis-berhadiah.html' title='Kuis Berhadiah'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-8623511342568539405</id><published>2010-11-28T15:01:00.000-08:00</published><updated>2010-11-28T15:13:23.530-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Taman Wisata Hati'/><title type='text'>Ubuudiyyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TPLhzLmEHbI/AAAAAAAAAvs/HLAdzhz1SZw/s1600/sholat1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 160px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TPLhzLmEHbI/AAAAAAAAAvs/HLAdzhz1SZw/s200/sholat1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5544742360648523186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ada hal&lt;/span&gt; yang patut dicermati dari kata Ibadah dan Ubudiyyah. Kedua kata ini berbeda meski berasal dari sumber yang sama. Dan sebagai seorang yang menginginkan kesempurnaan menjadi hamba maka dia harus memadukan keduanya. Ibadah, artinya melakukan segala sesuatu demi meraih ridha Allah, sedang Ubudiyyah adalah menerima&lt;br /&gt;perlakuan Allah terhadap diri kita. Dalam kesempatan ini pembahasan akan terfokus pada masalah Ubudiyyah, sebab dari sedikit orang yang menuhankan Allah (sepertiga dari penduduk dunia), hanya sedikit orang yang benar-benar berusaha maksimal untuk melakukan sesuatu guna meraih ridhaNya (Ibadah), sementara dari orang yang telah melakukan Ibadah masih banyak pula yang belum mampu melahirkan Ubudiyyah dalam dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubudiyyah, seperti dalam pengertian di atas sangat terkait erat dengan keimanan kepada Qodho’ dan Qodar Allah, artinya kita wajib menerima dengan rela hati kepastian dan perlakuan Allah dalam diri ini. Jadi sebagai seorang Mukallaf (orang yang terbebani), kita harus menyadari bahwa bentuk pembebanan (Takliif) tidak hanya berupa membasuh anggota tubuh dengan air saat berwudhu atau mandi, tetapi ada bentuk lain yang mungkin lebih berat. Abul Faraj Ibnul Jauzi dalam Shoedul Khothir menuturkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah seseorang menyangka bahwa Takliif, hanya berupa wudhu, mandi atau berdiri di Mihrob dan melakukan shalat?, sungguh ini semua adalah bentuk Takliif yang paling ringan. Sangat jauh lebih berat dari ini adalah bentuk Takliif yang berupa saat akal harus merespon sesuatu di luar batas kemampuannya. Kenapa anak kecil yang tidak berdosa harus menderita sakit parah dsb.  Takliif dalam masalah ini adalah apakah akal menolak atau menerima (Tasliim)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain dari ini adalah kenapa seseorang harus kehilangan orang-orang yang dicintainya, kenapa dia harus bertemu dan bergaul dekat dengan orang yang tidak disukainya dan lain sebagainya. Sungguh hal-hal tersebut merupakan bentuk Takliif yang sangat berat yang jika ini mampu kita jalani dengan baik maka pahala besar menanti kita. Inilah isi dari Ubudiyyah. Bencana Tsunami di Aceh, meluapnya lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo dan bencana-bencana lain yang menelan puluhan ribu bahkan ratusan ribu jiwa menguji kekuatan Ubudiyyah kita. Sulit dan berat sekali rasanya menerima semua ini, kenapa Aceh yang mayoritas penduduknya umat islam harus mengalami bencana yang sebesar itu. Bencana ini dan keharusan menerimanya mengingatkan kita akan tragedi Mesopotamia (Baghdad) masa  lampau. Saat itu umat Islam menjadi korban kekejaman dan keganasan tentara kaum sipit Tartar, ribuan umat islam terbantai, tidak hanya kaum lelaki, tetapi wanita, anak-anak dan orang tua juga menjadi korban. Lebih dari itu mushaf Alqur’an dikalungkan di leher-leher anjing dan semua bukubuku Islam di buang di sungai Dajlah (Tigris sekarang) hingga tumpukan buku-buku di sungai itu bisa dilalui oleh kuda. Air sungai itupun menjadi berwarna tinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seorang ulama Mesir, Syekh Afifuddin yang mendengar berita ini merasa sangat sedih, Beliau lalu mengadu dan mengajukan protes: “Ya Allah, kenapa semua ini terjadi, bukankan di sana banyak anak-anak dan orang-orang tidak berdosa?”. Akhirnya pada suatu malam, dalam mimpi, Syekh Afif kedatangan seseorang yang menyodorkan kepadanya selembar kertas bertuliskan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tinggalkan perlawanan (I’tirodh), karena semua pergerakan alam ini bukan menjadi wewenang dan urusanmu. &lt;br /&gt;Dan jangan kamu bertanya kepada Allah tentang perlakuanNya, sebab barang siapa yang masuk ke dasar lautan maka dia akan mati tenggelam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hal yang mungkin bisa membantu dan menuntun hati untuk mudah menerima perlakuan Allah adalah dengan membangun kepercayaan penuh kepadaNya, dan tentu saja kepercayaan ini baru bisa terlaksana jika sudah terjadi hubungan erat dengan Allah. Selain itu harus pula menyadari&lt;br /&gt;dan meyakini bahwa apa yang dilakukan oleh Allah adalah yang terbaik bagi diri ini, meski sebenarnya Allah tidak wajib berbuat yang terbaik untuk hambaNya. Ingatlah firman Allah dalam sebuah Hadits Qudsi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya ada dari para hambaKu, seorang yang tidak baik baginya kecuali kekayaan, andai ia Aku jadikan miskin maka keadaannya akan hancur. Dan sesungguhnya sebagian dari para hambaKu, seorang yang tidak baik baginya kecuali kemiskinan, andai ia aku berikan kekayaan maka keadaannya akan berantakan”. &lt;/span&gt;(HR Baghowi)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-8623511342568539405?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/8623511342568539405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=8623511342568539405' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8623511342568539405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8623511342568539405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/11/ubuudiyyah.html' title='Ubuudiyyah'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TPLhzLmEHbI/AAAAAAAAAvs/HLAdzhz1SZw/s72-c/sholat1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-7094667480358544716</id><published>2010-11-20T00:12:00.000-08:00</published><updated>2010-11-20T00:17:43.146-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Bacaan  “Amin “ Bersama</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Belakangan ini ada sebagian kelompok Islam yang mengklaim sebagai penerus generasi salaf, akan tetapi ada banyak hal aneh dari mereka yang berbeda dengan kebiasaan yang sudah berlaku di kalangan kaum muslimin dunia khususnya Indonesia. Di antara keanehan kelompok tersebut adalah tidak mau membaca “Amin “ bersama - sama untuk mengamini do’a salah seorang ustadz atau kiyai. Menurut mereka, kebiasaan tersebut tidak ada dalil dan tidak pernah pula diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Menurut Pak Kiyai, apakah benar pendapat mereka tersebut?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Haryono,&lt;/span&gt; Batu Malang  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim bahwa bacaan “ Amin “ bersama - sama tidak ada dalilnya adalah salah. Sebab dalil - dalil terkait dengan ini banyak sekali. Di antaranya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang artinya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebuah kelompok tidak berkumpul lalu sebagian berdo’a dan sebagian lain mengamini kecuali Allah pasti mengabulkan mereka “ HR Hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini secara jelas menegaskan bahwa pembaca  “Amin “, orang yang mengamini do’a orang lain dianggap ikut serta bedo’a dan berharap dari Allah Swt yang berarti ia juga berhak mendapatkan apa yang didapatkan oleh orang yang berdo’a.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh memasyarakatkan bacaan “Amin “ dalam setiap kesempatan - selain dalam shalat - adalah upaya menunjukkan identitas dan nilai lebih ajaran Islam disamping juga membuat musuh - musuh Islam gigit jari karena iri dan dengki seperti diriwayatkan oleh Sayyidatuna Aisyah ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yahudi tidak iri kepada kalian seperti mereka iri akan (ucapan) Salam dan (bacaan) Amin “ HR Ibnu Majah–Ibnu Khuzaimah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-7094667480358544716?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/7094667480358544716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=7094667480358544716' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/7094667480358544716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/7094667480358544716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/11/bacaan-amin-bersama.html' title='Bacaan  “Amin “ Bersama'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-4028409180400722568</id><published>2010-11-06T17:27:00.000-07:00</published><updated>2010-11-06T17:30:21.162-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Breaking News'/><title type='text'>Breaking News</title><content type='html'>Mohon maaf kepada para pengakese blog alwasath. Rencananya hari ini jam 08.00 Tausiyah Abi Ihya' Bulan Nopember 2010 disiarkan secara langsung, dibatalkan karena ada kendala teknis. Semoga ke depan tidak terulang, dan semoga dapat dimaklumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-admin alwasath-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-4028409180400722568?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/4028409180400722568/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=4028409180400722568' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/4028409180400722568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/4028409180400722568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/11/breaking-news.html' title='Breaking News'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-615854262903720421</id><published>2010-11-06T17:19:00.000-07:00</published><updated>2010-11-06T17:26:57.055-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Dakwah Kita dengan  Gerakannya Agar difahami</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tausiyah Bulan Nopember 2010.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dimaklumi bahwa dakwah kepada kebaikan dalam pemahaman kita berlandaskan pada firman Allah: “dan hendaklah ada dari kalian (sebagian) kelompok yang menyeru kepada kebaikan... “QS Ali Imran:104.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama; &lt;/span&gt;dalam arti mendakwahkan Islam kepada non muslim dan sesungguhnya ikatan yang mengikat kita dengan mereka adalah ikatan Dakwah kepada Islam sebagai sebuah kewajiban islam dengan berbagai sarana dakwah yang telah ditetapkan secara syara’ demi ber-jihad untuk membebaskan seluruh alam dari kekafiran, kefasikan, kemaksiatan dan agar tidak terjadi fitnah di atas bumi yang diwariskan kepada kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti yang pertama ini tidak bisa dicampur adukkan dengan arti kedua ayat tersebut (seperti berikut ini) karena tindakan mencampur adukkan ini justru menggiring sebuah gerakan (dakwah) menuju terbunuh sendiri, akan membuka luas pintu silang pendapat (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;khilaf&lt;/span&gt;) dan perselisihan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ihkhtilaf&lt;/span&gt;), menjadikan gerakan (dakwah) dinilai tidak jelas artinya bagi khalayak ramai serta memberikan ruang bebas kepada pihak-pihak yang ingin mengambil kesempatan untuk melemparkan berbagai macam tuduhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua;&lt;/span&gt; dalam arti menyampaikan (mentransformasikan) kebaikan kepada saudara-saudara kita kaum muslimin sendiri ketika mereka sedang dalam kondisi kemunduran budaya, terpecah-belah, (terjebak dalam) kenegatifan, tercerai berai dan tercabik-cabik secara politik, ekonomi dan sosial dengan cara menyelamatkan mereka dari keberadaan mereka yang ibarat buih, membangkitkan semangat mereka, mendorong mereka kepada segala hal yang baik dan bermanfaat bagi mereka, (dan memfokuskan mereka dalam) menghadapi tantangan-tantangan serta menjauhkan mereka dari hal-hal negatif. Dan sesungguhnya ikatan yang mengikat kita dengan mereka adalah ikatan aqidah yang kita yakini lebih suci daripada ikatan tanah dan tumpah darah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekalah pihak tujuan kita. Kita beramal di jalan mereka. Kita membela kehormatan mereka. Dan kita menebus mereka dengan jiwa dan harta benda. Sungguh mereka begitu kuat merespon orang yang menyeru agar mereka beramal demi kebangkitan islam. Dan sesungguhnya semua orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah muslim dengan syarat ia tidak mengucapkan kalimat kekafiran, tidak mengingkari hal yang secara pasti dimaklumi sebagai bagian dari agama, tidak mendustakan hal yang jelas-jelas ditegaskan Alqur’an atau tidak menafsirkannya dengan cara yang sama sekali tidak sesuai dengan uslub-uslub bahasa arab atau ia tidak melakukan suatu perbuatan yang tidak memiliki kemungkinan lain selain perbuatan kekafiran. &lt;br /&gt;Dan sesungguhnya wajib bagi kita untuk tidak menuduh atau menyebut kafir siapapun yang telah berikrar dengan dua syahadat sekaligus juga menjalankan tuntutannya. Karena islam selalu baik dan hidup dalam relung jiwa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kewajiban gerakan (dakwah) adalah hanya memindahkan perasaan tersebut ke dalam (bentuk nyata berupa) tindakan yang islami dan (tentunya) gerakan kita ini hanyalah sekedar pemandu bagi umat demi kebutuhan mendesak mereka akan penyelamatan, motivasi dan dorongan untuk menghadapi sekian banyak tantangan dan menjauhi segala bentuk hal negatif. Karena itulah gerakan dakwah tidak seharusnya merasa benar sendiri dan bahwa selain mereka salah.Gerakan dakwah kita semestinya selalu bersama kebenaran di manapun berada. Ia mencintai persatuan dan kerukunan serta membenci hal-hal yang menyimpang/&lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyelneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sungguh ujian terbesar kaum muslimin adalah perselisihan dan perpecahan. Sementara asas untuk mereka meraih kemenangan adalah persatuan, cinta dan kasih sayang. Generasi akhir umat ini tidak akan pernah menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang menjadikan baik generasi umat terdahulu. Inilah pemikiran dasar, keyakinan yang tertanam dalam jiwa dan tujuan yang dimaklumi oleh kita semua agar kita berfokus ke sana sekaligus menyerukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ini semua kita juga meyakini bahwa perbedaan dalam masalah cabang-cabang agama adalah hal yang pasti dan tidak bisa ditawar. Tidak mungkin kita bersatu dalam cabang-cabang ini karena beberapa sebab yang di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Perbedaan akal dalam kekuatan atau kelemahan menggali hukum (istinbath) dan memahami dalil-dalil atau tidak mengetahuinya&lt;br /&gt;2) Pemahaman akan kedalaman makna-makna dan hubungan hakikat-hakikat satu dengan yang lainnya&lt;br /&gt;3) Keluasan dan kedangkalan ilmu &lt;br /&gt;4) Sesungguhnya figur ini mendapatkan informasi yang tidak didapatkan oleh figur lain. Dan begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;5) Perbedaan lingkungan sehingga praktekpun berbeda disebabkan perbedaan masing-masing lingkungan.&lt;br /&gt;6) Perbedaan kemantapan hati dalam menerima riwayat yang ada&lt;br /&gt;7) Perbedaan menafsirkan petunjuk-petunjuk dalil. Dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan agama adalah ayat-ayat Alqur’an, hadits-hadits dan nash-nash yang ditafsirkan oleh akal dan pendapat dalam standart bahasa arab dan kaidah-kaidahnya. Sementara sudah pasti dan disepakati bahwa dalam hal ini manusia memiliki kemampuan yang tidak sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini menjadikan kita meyakini bahwa sepakat akan satu hal dalam cabang-cabang agama adalah keinginan yang mustahil terwujud dan bahkan bertentangan dengan karakter agama itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam masalah-masalah cabang yang paling jelas nashnya seperti Adzan yang dikumandangkan lima kali dalam sehari saja masih terjadi perbedaan maka bagaimanakah menurut anda dalam masalah-masalah kecil/sepeleh yang hanya berdasar pada pendapat dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;istinbath?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sungguh Allah berkehendak agar agama ini tetap abadi, langgeng, bisa berjalan mengikuti perkembangan serta selaras dengan zaman. Jadi untuk tujuan ini, agama islam menjadi agama yang mudah, fleksibel, gampang dan lunak serta sama sekali tidak kaku dan tidak keras. Kita harus meyakini ini semua dan dengan sendirinya menerima semua alasan orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah furu’. Kita juga perlu melihat bahwa perbedaan ini selamanya tidak boleh dijadikan penghalang bagi pertautan hati, saling memberi cinta dan saling tolong menolong dalam kebaikan diiringi rasa senang dan gembira akan setiap pihak yang berbuat baik demi kebangkitan islam di dunia secara umum, dan  di Indonesia secara khusus. &lt;br /&gt;Atas dasar inilah tidak ada halangan apapun bagi kita untuk ikut serta dengan gerakan positif manapun demi tujuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh kita bergembira atas pertolongan Allah kepada seluruh pelaku kebaikan dan demi kebaikan dan sesungguhnya lapangan dakwah begitu luas terpampang bagi siapapun di mana masing-masing mendapatkan bagiannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;=والله يتولى الجميع برعايته=&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-615854262903720421?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/615854262903720421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=615854262903720421' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/615854262903720421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/615854262903720421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/11/dakwah-kita-dengan-gerakannya-agar.html' title='Dakwah Kita dengan  Gerakannya Agar difahami'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-6350433753893313276</id><published>2010-10-31T02:40:00.000-07:00</published><updated>2010-10-31T02:51:27.954-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bina Usrah Sakinah'/><title type='text'>Merawat Cinta Kasih dalam Berumah Tangga</title><content type='html'>Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هُوَ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Makna dan Penjelasan Ayat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Melalui sepenggal ayat 189 surat Al A’raaf tersebut di atas Allah swt memberikan informasi bahwa Dia menjadikan manusia seluruhnya berasal dari diri yang satu (nafsin wahidah), yaitu diri Nabi Adam as. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi dari Allah swt bahwa umat manusia seluruhnya berasal dari keturunan Nabi Adam as terasa lebih menenteramkan dan memuaskan daripada informasi yang dikemukakan belakangan oleh Charles Darwin (1804-1872) dengan teori evolusinya yang menyatakan umat manusia berasal dari sejenis makhluk yang disebut anthropoides (kera). Diri manusia seluruhnya secara naluri akan mengingkari informasi belakangan itu, tanpa harus susah-susah membatalkan teori itu dengan dasar-dasar Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari diri Nabi Adam as, Allah swt lalu menciptakan isterinya, yaitu Ibu Hawwa’. Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa ibu Hawwa’ diciptakan dari tulang rusuk sebelah kiri Nabi Adam as saat beliau tengah tidur. Beliau lalu merasa cinta dan tenteram denga ibu Hawwa’ dan begitu pula sebaliknya ibu Hawwa’ merasa cinta dan tenteram dengan Nabi Adam as.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertautan pasangan ini lahir dan tersebarlah umat manusia laki-laki dan perempuan ke berbagai pelosok bumi lengkap dengan perbedaan kelompok, karakter, warna kulit, bahasa, dialek, dsb. Hal ini sesuai dengan firman Allah pada ayat lain: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَااَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا &lt;br /&gt;وَنِسَاءً &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. (Q.S. An Nisaa’: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sunnatullah, setiap manusia secara fithrah merasa cinta, tenteram, sayang, senang, dan suka dengan lawan jenisnya. Laki-laki cenderung cinta dan tenteram terhadap perempuan dan sebaliknya perempuan cenderung cinta dan tenteram dengan laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam diri manusia terdapat naluri berkeinginan terhadap lawan jenis (gharizah nau’). Jenis laki-laki dilengkapi dengan spermatozoa (sel kelamin jantan) sedang jenis perempuan dilengkapi dengan ovum (sel telur betina) yang antara satu dengan lainnya saling butuh-membutuhkan karena didorong oleh libido (naluri seksual) yang merupakan instink terkuat dalam tubuh manusia. Naluri tersebut menuntut pemenuhan, pelampiasan, dan pemuasan dengan hidup berumah tangga atau berpasangan, utamanya bila ada stimulus (perangsang, pembangkit). Jika tidak, maka manusia akan dilanda resah, gelisah, dan gangguan kejiwaan (psikosomatik) yang bisa memicu tumbuhnya gangguan-gangguan fisik. Kita saksikan laki-laki yang belum berumah tangga, ia tampak gundah gulana. Sebaliknya laki-laki yang telah mendapatkan pasangan dia tampak lebih tenteram dan tenang. Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمِنْ آيَاتِهِ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ اَنفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً اِنَّ فِي ذَلِكَ لاَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Q.S. Ar Ruum: 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup berpasangan ini memiliki sekian banyak fungsi. Namun di antara sekian banyak fungsi itu ada dua fungsi yang penting, yaitu fungsi hidup berpasangan sebagai rekreasi (mencari kesenangan dan ketenteraman) dan fungsi prokreasi (fungsi menghasilkan keturunan) sebagai sarana melanjutkan populasi manusia.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan berumah tangga Allah swt menjanjikan mawaddah wa rahmah yang berarti cinta yang tulus dan murni dari kedua belah pihak yang berpasangan. Cinta yang tulus dan murni merupakan tiang penyangga tegaknya kehidupan berumah tangga yang harus diusahakan. Dan karenanya tidak ada perpaduan dan pertautan yang lebih kokoh daripada ikatan pernikahan. Firman Allah swt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (Q.S. An Nisaa’: 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertautan hati antara dua pasangan berbeda jenis kelamin ini jauh lebih kuat daripada sekadar ikatan anak dengan orangtua, ikatan antara guru dengan murid, ikatan antara majikan dengan bawahan, dan ikatan-ikatan yang lain. Dua pasangan yang hatinya dipertautkan itu bisa hidup serumah, sekamar, seranjang, bahkan satu tubuh (satu badan). Apalagi dalam proses awalnya pertautan ini dirajut dengan menggunakat kalimat Allah swt. Ini di dunia. Di akhirat, pertautan hati dua pasangan demikian pula menjadi ikatan yang paling kokoh. Murid dengan guru betapa pun kuat ikatannya di surga keduanya tidak akan berkumpul serumah, seranjang, dan satu tubuh. Berbeda dengan ikatan pernikahan. Selama keduanya pasangan yang sholeh dan masuk surga bersama-sama. Tidak ada keindahan melebihi indahnya kedua pasangan suami isteri yang sama-sama masuk surga dan masuk surga bersama-sama. Firman Allah swt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ادْخُلُوا الْجَنَّةَ اَنْتُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuklah kamu dan isteri-isterimu ke dalam surga, kamu sekalian akan diberikan nikmat yang banyak (digembirakan). (Q.S. Az Zukhruf: 70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar ini rumah tangga perlu terus dibina secara langgeng dan harmonis dunia hingga akhirat. Dalam proses perjalanan pembinaan ini memang akan didapati sekian banyak rintangan dan kendala. Ujian keluarga. Badai. Aral melintang. Problematika kehidupan. Akan banyak ditemui hal-hal yang tidak disukai kaitannya dengan watak maupun perilaku masing-masing. Wajar. Ibarat piring-piring kaca yang ditata akan ada suara-suara benturan, namun dengan penataan, piring-piring itu akan tampak rapi dan indah. Di sinilah perlunya mensiasati problem rumah tangga dengan sebaik-baiknya. Harus ada kesabaran dan tahan derita (tahammul). Ada yang mengalah kalau perlu. Dan saling memaklumi serta maaf-memaafkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem rumah tangga tidak sepatutnya buru-buru diatasi dengan thalaq atau proses perceraian lainnya. Ini bentuk kerugian karena berarti hubungan dan ikatan terputus. Padahal di masa depan adakah yang lebih indah daripada pertautan hati suami isteri dan pertautan hati itu berlanjut hingga di surga bersama-sama?! Kalau setiap problem harus diatasi dengan perceraian, tentulah Nabi Luth as lebih layak untuk menthalaq isterinya. Nyatanya itu tidak beliau lakukan. Allah swt mengingatkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَاِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى اَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pergauli mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Q.S. An Nisaa’: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sering suami mendapati dari isterinya satu perangai buruk yang menjengkelkan, misalnya cemburu buta dan mutungan (baca: mbegog). Namun perlu disadari bahwa di balik satu perangai buruk itu ada sekian banyak perangai yang menjadikan suami suka rela terhadap isterinya, seperti isteri suka membantu dan melayani suaminya (khidmah) bahkan menghabiskan waktunya untuk itu. Mencuci. Memasak. Menyeterika. Memijiti. Menyiapkan dan menghidangkan makanan atau sekedar teh manis. Jasa yang luar biasa. Tak ternilai bila diukur dengan materi. Maka Rasulullah saw memperingatkan para suami menyadari ini, tidak menstigmatisasi perangai isteri  seluruhnya buruk, dan tidak buru-buru mengatasinya dengan thalaq. Sabda Rasulullah saw: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يَفْرَكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً ، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang beriman laki-laki (suami) tidak boleh membenci orang beriman perempuan (isteri). Jika suami membenci satu perangai (buruk) dari isterinya, dia bisa rela (suka, menerima, cinta) terhadap perangainya yang lain (yang baik). (H.R. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri demikian pula kadang mendapati pada diri suaminya sesuatu yang tidak disukainya seperti membentak (berkata kasar) dan main tangan. Namun di balik itu patut disadari bahwa ada tanggung jawab besar yang diberikan suami kepada isterinya. Masing-masing pihak suami isteri sama-sama menyadari kekurangannya dan bersama itu keduanya memadukan kelebihan masing-masing demi terbinanya keluarga yang harmonis kini dan esok serta akan datang saat-saat terindah ketika keduanya masuk surga bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khattab adalah teladan dalam hal ini. Dia tipe laki-laki yang keras. Namun di depan isterinya, dia sayang dan lemah lembut di satu sisi dan di sisi lain dia sabar dan tahan derita karena mengingat jasa besar yang ditunaikan sang isteri kepadanya. Suatu hari dia berkata: “Seorang suami di dalam keluarganya selayaknya menjadi laksana anak-anak (lembut dan kasih sayang). Namun di hadapan masyarakat ia keluar laksana orang dewasa (tokoh dan orang besar yang berwibawa).” (Az Zawaj Al Islami Al Mubakkir, Ash Shabuni, 130)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang mengeluh kepada Umar bin Khattab bahwa cintanya kepada isterinya telah memudar dan ia bermaksud menceraikannya. Umar menasihati: “Sungguh jelek (niatmu). Apakah semua rumah tangga (hanya dapat) terbina dengan cinta? Di mana taqwamu dan janjimu kepada Allah? Di mana pula rasa malumu kepada-Nya? Bukankah kamu sebagai sepasang suami-isteri telah saling bercampur (menyampaikan rahasia) dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betatapun demikian syara’ (hukum Islam) memberikan jalan keluar dari problem-problem rumah tangga. Jika problem itu besar dan tidak dapat diatasi, disediakan jalan keluar berupa misalnya thalaq. Tapi thalaq itupun seyogyanya dijatuhkan secara bertahap mengingat ketergantungan yang sangat besar isteri terhadap suaminya. Jika problem itu berupa nusyuz (durhaka) pertama-tama diperingatkan, tidak diberikan nafkah, tidak tidur bersama, hingga dipukul dengan pukulan yang tidak melukai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Allah swt menyerukan kita menjalani kehidupan berumah tangga secara harmonis, merawat cinta kasih, mawaddah wa rahmah, cocok, serasi, selaras, sehati, dunia dan akhirat.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-6350433753893313276?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/6350433753893313276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=6350433753893313276' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/6350433753893313276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/6350433753893313276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/10/merawat-cinta-kasih-dalam-berumah.html' title='Merawat Cinta Kasih dalam Berumah Tangga'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-5333528768355304207</id><published>2010-10-29T17:32:00.000-07:00</published><updated>2010-10-29T17:40:17.371-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Sholat Menghadap ke Ka’bah Secara Tepat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ada banyak masjid yang membuat shaf agak miring/serong  ke arah barat. Jadi tidak tepat ke arah barat. Sebenarnya bagaimana hukum mengarahkan secara tepat ke arah ka’bah bagi orang yang sedang sholat? Mohon penjelasannya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Karim&lt;/span&gt;, Yogya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadap kiblat adalah syarat sahnya sholat, sehingga tidak sah orang yang sholat tanpa menghadap kiblat (ke ka’bah), kecuali sholat khauf, sholat di atas kendaraan atau perahu yang diperbolehkan menghadap ke arah mana saja kendaraan itu menghadap. Sebagaimana hadits Nabi SAW:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كاَنَ يُصَلِّى عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُمَا تَوَجَّهَتْ بِهِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahwa sesungguhnya Nabi SAW pernah sholat di atas kendaraannya (menghadap ke arah ) di mana kendaraannya itu menghadap.” (HR Imam Ahmad, Imam Muslim dan Tirmidzi).&lt;br /&gt;Juga berdasarkan ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلله الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ الله .إنَّ الله وَاسِعٌ عَلِيْمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kepunyaan Alloh-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqoroh :115)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, orang sholat harus menghadap ke kiblat, bukan  ke arah barat. Tentang hal ini tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama mujtahid. Perbedaan mereka adalah apakah harus menghadap ke tubuh /badan ka’bah ataukah cukup dengan perkiraan mengarahkan badan ke arah kiblat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Golongan Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat wajib menghadap ke tubuh Ka’bah itu (‘ainul ka’bah).Bagi yang melihatnya wajib tepat menghadap ke ‘ainul ka’bah (tubuh ka’bah), sedangkan bagi yang tidak melihatnya harus menepatkan badannya ke arah ka’bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan ini berpegang kepada dhahirnya Surat Al-Baqoroh ayat 144 yang artinya:”Maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Harom”. Menurut mereka, yang dimaksud dengan “syathr” adalah arah yang tepat bagi orang yang sedang sholat dan mengena secara tepat dalam menghadapkannya. Jadi menghadap ke ‘ainul ka’bah adalah wajib. Mereka juga beralasan dengan Hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid ra, bahwa ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَمَّا دَخَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْبَيْتُ دَعَافِى نَوَاحِيْهِ كُلِّهَا وَلَمْ يُصَلِّ حَتَّى خَرَجَ مِنْهُ , فَلَمَّا خَرَجَ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ فِى قِبَلِ الْكَعْبَةِ وَقَالَ :هَذِهِ الْقِبْلَةُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika Nabi SAW masuk ke dalam Baitullah (ka’bah), beliau berdo’a di sekeliling seluruhnya, dan beliau tidak sholat sebelum berada di luarnya, maka ketika beliau sudah keluar, beliau sholat dua roka’at menghadap Ka’bah seraya bersabda:”Inilah kiblat.” (HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan golongan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa yang wajib adalah menghadapkan badan ke arah Ka’bah (jihatul ka’bah). Ketentuan ini berlaku bagi orang sholat yang tidak melihat secara langsung ka’bah, yaitu cukup dengan menghadap ke arahnya saja (dengan perkiraan).Tetapi bagi yang melihatnya maka wajib menghadapkan ke tubuh ka’bah (‘ainul ka’bah) secara tepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga menggunakan dalil Surat Al-Baqoroh ayat 144 tersebut. Menurut mereka, barangsiapa telah menghadap sebuah sisi dari Masjidil Harom , berarti ia telah melaksanakan apa yang diperintahkan, baik persis menghadap ka’bah atau tidak. Kemudian mereka juga mendasarkan kepada Hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَابَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Antara timur dan barat itulah kiblat.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْكَعْبَةُ قِبْلَةٌ لأَهْلِ الْمَسْجِدِ, وَالْمَسْجِدُ قِبْلَةٌ لأَهْلِ الْحَرَمِ وَالْحَرَمُ قِبْلَةٌ لأَهْلِ الأَرْضِ فِى مَشَارِقِهَا وَمَغَارِبِهَا مِنْ أمَّتِى (رواه البيهاقى)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baitullah (ka’bah) itu kiblat bagi ahli masjid (orang yang sholat di dalam Masjidil Harom), dan masjid (Masjidil Harom) adalah kiblat bagi penduduk Harom (Mekkah dan sekitarnya), sedangkan tanah haram adalah kiblat bagi penduduk bumi di Timur dan Barat dari kalangan umatku.”(HR Al-Baihaqy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi seandainya kaum muslimin diharuskan menghadap ka’bah secara tepat, maka sungguh sangat sulit untuk mengarahkan hal itu bagi orang-orang yang tinggal jauh dari tanah Harom. Padahal, Alloh SWT tidak membebani kewajiban di luar batas kemampuan manusia. Dan Islam tidak mempersulit dalam melaksanakan ajarannya. Oleh karena itu, sudah dianggap sah orang yang sholat dengan mengarahkan tubuhnya ke arah kiblat, sekalipun tidak tepat persis.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-5333528768355304207?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/5333528768355304207/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=5333528768355304207' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5333528768355304207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5333528768355304207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/10/sholat-menghadap-ke-kabah-secara-tepat.html' title='Sholat Menghadap ke Ka’bah Secara Tepat'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-5256406051184151565</id><published>2010-10-29T02:07:00.000-07:00</published><updated>2010-10-29T02:11:43.136-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Mengusap Dahi dan Muka setelah Shalat dan Berdo’a</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Banyak orang mengusap muka setelah melakukan shalat ataupun berdo’a. Apakah hal demikian pernah dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwan,&lt;/span&gt; dari Sekaran Lamongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengusap wajah setelah berdo’a merupakan sesuatu yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  seperti hadits dari az Zuhri: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ عِنْدَ صَدْرِهِ فِى الدُّعَاءِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu alaihi wasallam mengangkat kedua tangan sejajar dengan dadanya dalam berdo’a kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangan itu” (HR Abdurrozzaq dalam al Mushonnaf dari Ma’mar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini juga dikuatkan oleh riwayat dari Umar ra bahwa, “Nabi shallallahu alaihi wasallam  ketika mengangkat kedua tangan dalam berdo’a maka Beliau tak akan menurunkan keduanya sehingga mengusapkan  keduanya ke wajahnya” HR Turmudzi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga pernah bersabda kepada Abdullah bin Abbas ra yang artinya, “Jika kamu berdo’a kepada Allah maka berdo’alah dengan bagian dalam kedua tangan, jangan kamu berdo’a dengan bagian luarnya. Dan ketika selesai berdo’a maka usapkan kedua tanganmu ke wajahmu” HR Ibnu Majah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Mulk mengatakan bahwa mengusap wajah memiliki hikmah Tafaa’ul yaitu seakan–akan kedua tangannya telah penuh dengan berkah dan anugerah dari Allah karena itu sangat pantas jika berkah dan anugerah ini diluberkan kepada anggota tubuh yang lain utamanya wajah selaku anggota tubuh yang sangat layak dimuliakan. (Lihat Manhajus Salaf fi Fahmin Nushsush  321–322/Abuya Sayyid Muhammad al Hasani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara sesudah salam, yang warid dalam Sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  adalah mengusap Dahi (Jabhah). Anas ra meriwayatkan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَضَى صَلاَتَهُ مَسَحَ جَبْهَـتَهُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setiap kali selesai shalat maka Beliau mengusap dahinya dengan tangan kanan...” HR Ibnu Sunni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dasar hadits ini, yang sunnah setelah salam adalah mengusap dahi, tidak mengusap muka. Ini bukan berarti mengusap muka tidak boleh, karena shalat secara bahasa bermakna do’a, sedang syariat mengusap wajah setelah berdo’a telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana keterangan di atas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-5256406051184151565?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/5256406051184151565/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=5256406051184151565' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5256406051184151565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5256406051184151565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/10/mengusap-dahi-dan-muka-setelah-shalat.html' title='Mengusap Dahi dan Muka setelah Shalat dan Berdo’a'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-832828184406553156</id><published>2010-10-19T22:05:00.001-07:00</published><updated>2010-10-19T22:09:51.585-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Kemuliaan Hanya  Milik Allah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tausiyah Ramadhan 1431 H / 26 Agustus 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah tabaaraka wata’aalaa berfirman: “....Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”QS An Nisa’:139. &lt;br /&gt;Perang Badar al Kubra terjadi pada bulan ramadhan al mubarak. Peperangan ini mengandung sekian pelajaran seperti halnya juga mengandung banyak mukjizat ketika Allah menguatkan dan memberikan pertolongan kepada kaum muslimin pada kondisi saat mereka sedang lemah sehingga bisa mengalahkan kaum kafir. Allah berfirman: “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” QS Ali Imran:123. ”... yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui” QS al Maidah:54. “...Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar."QS al Baqarah:249.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berjihad di jalan Allah dengan satu keyakinan sesungguhnya kemuliaan hanya milik Allah, bukan berasal dari diri mereka sendiri. Mereka tidak merasa takut cercaan orang yang mencerca dengan dasar keyakinan bahwa kerendahan hanya boleh karena Allah dan bukan karena selainNya. Maka tiada kemuliaan kecuali milik Allah dan tiada kerendahan kecuali karena Allah. Adapun kerendahan karena selain Allah maka hal inilah yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memohon perlindungan darinya: “Saya memohon perlindungan dari kehinaan kecuali karenaMu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan kaum beriman mempersembahkan pengorbanan mereka di jalan Allah demi kemuliaan yang hanya ada di sisiNya maka Allah menyebut mereka dengan firmanNya: “dan adalah kemuliaan itu hanya milik Allah, milik utusanNya dan kaum beriman “QS al Munafiqun:8. Di sini ada peringatan untuk selalu memurnikan niat yang baik di jalan mencari kemuliaan tersebut. Dan dari sinilah selaras apa yang menjadi semboyan kita yang selalu diulang-ulang oleh lidah kita di jalan dakwah (demi kemuliaan islam dan kaum muslimin) sebagai bentuk kewaspadaan agar tidak terjatuh dalam hal yang akhirnya tidak terpuji dalam perjalanan dakwah itu sendiri sebagai akibat peristiwa-peristiwa yang memang memberikan pengaruh di dalamnya. Sungguh telah dikatakan: “Barang siapa cemerlang di permulaannya maka akan cemerlang di puncaknya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerendahan karena Allah adalah pokok ibadah yang menjadi dasar keberuntungan manusia beriman seperti diisyaratkan dalam firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan”QS al Hajj:77. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud ruku’ dan sujud adalah shalat. Dan secara khusus keduanya disebutkan di antara sekian banyak model aktivitas shalat karena keduanya adalah yang termulia di antara rukun-rukun shalat sebab keduanya benar-benar menampakkan ketundukan dan kerendahan. Penyebutan shalat secara khusus sebelum perintah ibadah-ibadah yang lain seperti puasa, haji, dzikir, bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dll serta sebelum perintah meluberkan kebaikan kepada sesama dengan berzakat, pergaulan yang baik dan sekian budi pekerti mulia sebagai ibadah dalam bentuk berakhlaq dengan akhlak-akhlak Allah ta’aalaa,dalam ini semua ada penegasan bahwa sesungguhnya shalat adalah tiang agama. Dan kondisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia sedang bersujud. Ketika ia meletakkan wajah, selaku anggota tubuh paling mulia, di tanah sejajar dengan tangan,lutut dan telapak kaki. Dan lebih tinggi darinya adalah anggota tubuh yang menjadi jalan keluar angin dan tinja dari duburnya serta urin dari jalan depannya, (ini semua) semata karena kerendahan kepada Allah dan kemulianNya. Jadi barang siapa merendahkan diri kepada Tuhannya dan tunduk kepadaNya maka sudah menjadi hak atasNya untuk memberikan kemuliaan kepadanya di dunia dan akhirat. Jadi kerendahan karena Allah sebenarnya adalah kemuliaan itu sendiri. Adakah kemuliaan lebih agung dan lebih besar daripada kerendahan diri seorang hamba di hadapan Tuhannya. Sungguh anda menyaksikan seseorang mulia dalam penampilannya meski sebenarnya ia hina di sisi Allah. Sebaliknya juga ada seorang yang tampil begitu hina padahal ia begitu mulia di sisi Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, Allah telah memberikan pertolongan kepada mereka di hari perang Badar. Pada hari perang Hunain ketika mereka berbangga dengan jumlah yang banyak dan menyangka bahwa kemuliaan berasal dari diri mereka sendiri lantas salah seorang dari mereka berkata: “Pada hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit” maka merekapun dikalahkan. Tentang mereka Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.”QS At Taubah:25.Padahal orang yang berkata demikian bukanlah pembesar sahabat, tetapi bencanapun merata agar kejadian ini bisa menjadi pelajaran yang berharga. &lt;br /&gt;=ألله يتولى الجميع برعايته=&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-832828184406553156?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/832828184406553156/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=832828184406553156' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/832828184406553156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/832828184406553156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/10/kemuliaan-hanya-milik-allah.html' title='Kemuliaan Hanya  Milik Allah'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-7399603185241258675</id><published>2010-10-17T21:07:00.000-07:00</published><updated>2010-10-17T21:13:15.983-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Interaksi Guru dengan Anak Didik</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dalam proses belajar mengajar diperlukan interaksi fisik antara guru (laki-laki) dengan murid sekolah dasar yang berbeda jenis kelamin, siswi, mengingat guru ditekankan untuk berperan laksana ayah dan ibu mereka. Contohnya seperti berjabat tangan, membelai kepala, punggung,  dan bentuk-bentuk sentuhan sayang lainnya. Mohon dijelaskan batas maksimum usia di mana guru dapat berinteraksi dengan murid perempuan di sekolah dasar. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Imaduddin Abdul Rachim,&lt;/span&gt; Guru MIS di Malang&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata’ala mengingatkan kita semua untuk tidak dekat-dekat dengan zina, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلاً &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. Al-Isra’: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan untuk tidak dekat-dekat dengan zina maknanya berarti tuntutan tegas untuk tidak mendekati sarana-sarana yang dapat menjurus kepada perzinaan. Sarana-sarana itu termasuk ikhtilath (campur baur laki perempuan di satu tempat), khalwat (berdua-duaan), membuka aurat, memandang berbeda jenis kelamin secara “tajam”,  dan sebagainya. Nah apakah interaksi fisik guru laki-laki dengan siswi sekolah dasar itu termasuk bagian dari sarana yang menjurus kepada perzinaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abuya Assayyid Muhammad Alawi Al-Maliki mengemukakan bahwa termasuk propaganda yang busuk adalah propaganda toleransi mencampur-baurkan siswa laki-laki dan siswa perempuan di sekolah-sekolah dasar dengan mengambil alasan mereka masih kecil. Karena propaganda itu akan memicu lahirnya generasi yang mati hatinya, musnah semangat keagamaannya, dan membuka peluang perilaku-perilaku tidak terpuji. (Adabul Islam fi Nidzhamul Usrah: 71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Umur anak-anak perempuan tingkat sekolah dasar standarnya adalah 6/7 hingga 12 tahun. Umur-umur ini untuk ukuran zaman sekarang kiranya sudah tampak cukup “dewasa”. Mereka mengenal apa yang juga dikenal oleh orang dewasa. Maka lebih hati-hatinya, kelas mereka dengan anak laki-laki harus mulai sudah dipisahkan (ada hijab), diserukan menutup aurat, dicarikan guru yang sama jenis kelaminnya (ustadzah)  karena idealnya guru yang mendidik anak-anak perempuan adalah guru perempuan, atau kalaupun mendesak harus guru laki-laki (karena hajat) maka berjabatan tangan dengan murid harus mulai dihindari. Sentuhan kasih sayang tidak harus dikejawantahkan atau diterjemahkan lewat sentuhan fisik namun bisa lewat sentuhan batin, seperti doa, mengajarkan prinsip, dan motivasi. Anak-anak didik itu adalah kader yang pendidikan di masa kecilnya memiliki bekas yang dominan di masa dewasanya kelak. Jika mereka dididik dengan penuh kelonggaran maka dewasanya kelak mereka akan berprinsip permisifisme (serba boleh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi saat ini kita saksikan fenomena buruk melalui media massa yang cukup mencengangkan, yaitu kerapnya terjadi kasus perkosaan justru dilakukan oleh remaja laki-laki terhadap anak-anak perempuan berumur 5-7 tahun. Persoalan yang rawan. Dan untuk menghindari kerawanan ini, sebaiknya semua pihak menjaga diri, waspada, dan berhati-hati sejak dini. Perlu kiranya diciptakan satu kondisi yang mendukung bagi kebaikan kader-kader itu di kemudian hari dan juga bagi kebaikan masyarakat saat ini (teladan). &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-7399603185241258675?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/7399603185241258675/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=7399603185241258675' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/7399603185241258675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/7399603185241258675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/10/interaksi-guru-dengan-anak-didik.html' title='Interaksi Guru dengan Anak Didik'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-516043205149774006</id><published>2010-10-17T21:01:00.000-07:00</published><updated>2010-10-17T21:05:14.660-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafsir Tematik'/><title type='text'>Islam, di antara Ifroth dan Tafrith</title><content type='html'>QS al Baqoroh :  143&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكذَلِكَ جَعَلْنـَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dan begitulah Kami menjadikan kalian sebagai umat Wasath, agar kalian menjadi saksi atas semua manusia dan Rosul ( Nabi Muhammad Saw) menjadi saksi atas kalian ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Analisa Bahasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أمة :   Kata ini secara Etimologi berarti segolongan manusia, akan tetapi ia juga terpakai sebagai ungkapan dari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a – Manusia dan Risalah, seperti dalam firman Alloh yang artinya: “Sesungguhnya sebelumnya Ibrohim adalah seorang Ummat yang tunduk kepada Alloh…dan dia tidak pernah menjadi manusia yang menyekutukan Alloh “ QS an Nahl : 130. Bahasa Ummat yang terpakai untuk menyebut seseorang juga bisa ditemukan dalam sabda Nabi Saw tentang Zaid bin Amar bin Nufel: “ Dia ( Zaid ) akan dibangkitkan sebagai satu umat, karena dia tidak pernah menyekutukan Alloh” (Lihat al Qurthubi 2 / 127). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b _  Ummah juga diartikan sebagai jalan hidup (Minhaajul Hayat) yang berupa keyakinan, nilai – nilai, tradisi dan budaya serta aktifitas bekerja, seperti bantahan orang 0- orang kafir yang dikisahkan oleh Alloh dalam firmanNya:  “Sesungguhnya Kami menemukan para orang tua kami menetapi suatu Ummah (cara hidup) dan kami hanya mengikuti jejak langkah mereka” QS az Zukhruf: 22.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وسطا : Garis tengah atau jalan yang lurus, artinya jauh dari dua pinggir Ifroth (Terlalu) dan Tafrith (Teledor).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شهداء : Bentuk Jamak dari kata Syahiid, artinya umat Nabi Saw akan menjadi saksi bagi para nabi bahwa mereka telah menyampaikan Risalah kepada umat mereka, sementara Rosululloh Saw menjadi saksi bagi umat Beliau Saw sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Uraian Ayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini secara jelas menyebut salah satu ciri khas umat islam (Umat Nabi Muhammad Saw) yang menjadikan mereka berbeda dengan umat – umat terdahulu. Hal ini karena kelak pada hari kiamat nanti umat ini akan menjadi saksi bagi para nabi. Hal ini terjadi saat umat – umat terdahulu membantah bahwa para nabi telah datang kepada mereka. Akhirnya  para nabi dituntut agar mendatangkan saksi yang menguatkan bahwa mereka telah menyampaikan Risalah. Dalam kondisi itulah umat Nabi Muhammad Saw didatangkan untuk memberikan kesaksian. Tentu saja hal ini membuat umat terdahulu terkejut dan bertanya: Bagaimana bisa kalian menjadi saksi atas kami, padahal kita tidak pernah berjumpa? Umat Nabi Muhammad Saw menjawab: Kami bersaksi karena kabar dari Alloh melalui RosulNya. Ketika inilah Nabi Saw datang dan menguatkan kesaksian umatnya. Dalam sebuah hadits yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يُدْعَى نُوْحٌ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُوْلُ : لَبَّـيْكَ وَسَعْدَيْكَ يَا رَبُّ . فَيَقُوْلُ : هَلْ بَلَّغْـتَ ؟ فَيَقُوْلُ نَعَمْ : . فَيُقَالُ ِلأُمَّـتِهِ : هَلَ بَلَّـغَكُمْ ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : مَا جَاءَنَا مِنْ نَذِيْرٍ !! فَيَقُوْلُ : مَنْ شَهِدَ لَكَ ؟ فَيَقُوْلُ : مُحَمَّدٌ وَ أُمَّتُهُ . فَيَشْهَدُوْنَ  أَنَّهُ قَدْ بَلَغَ  . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Pada hari kiamat, Nuh dipanggil, dia berkata: Saya penuhi panggilanMu wahai Tuhanku. Alloh berfirman: “Apakah kamu telah menyampaikan (Risalah)?” Nuh menjawab: Ia. Lalu ditanyakan kepada umatnya: Apakah (benar) bahwa Nuh telah menyampaikan kepada kalian? Mereka menjawab: Tak ada pembawa peringatan yang pernah datang kepada kami.  Alloh berfirman: “Siapa yang akan bersaksi untukmu?” Nuh menjawab: Muhammad dan umatnya. Umat Muhammad lalu memberi kesaksian bahwa Nuh telah menyampaikan Risalah” HR Bukhori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari sini bisa dimengerti salah satu hikmah kenapa umat ini menjadi umat yang paling akhir. Sebab umat ini dipersiapkan oleh Alloh menjadi umat terbaik yang kelak akan menjadi saksi atas umat yang lain. Dan sebagai saksi tentunya harus mengerti betul apa yang dulu pernah dilakukan oleh umat terdahulu. Dan umat ini bisa mencapai hal itu berkat kabar valid yang dibawa oleh Nabi Saw al Amiin. Selain itu posisi sebagai saksi juga sangat layak ditempati umat ini karena keberadaan umat ini yang memang dipersiapkan secara khusus oleh Alloh menjadi umat terbaik sebagai pendamping Rosul Alloh terbaik, “Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia…”QS Ali Imron : 11. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menjadi saksi, nilai  Ter  umat ini juga didapatkan dari Moderasi (Wasathiyyah) yang menjadi karakter utama dalam segala lini; baik Aqidah, Ibadah maupun Mu’amalah. Jadi umat ini berada di tengah antara sikap Ifroth (Terlalu) dan Tafrith (Teledor) yang dilakukan oleh Yahudi dan Nashroni sebagaimana rincian berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Aqidah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam meyakini Alloh sebagai Dzat Pencipta, Dia tidak beranak juga tidak diperanakkan (al Ikhlash: 3). Hal ini berbeda dengan kaum Nashroni yang meyakini Alloh tetapi juga meyakini bahwa Isa adalah anakNya, atau Yahudi yang meyakini Alloh tetapi juga meyakini Uzair sebagai anak Alloh, “Orang Yahudi berkata: “Uzair putera Alloh” dan orang Nashroni berkata: “Isa itu putera Maryam…”QS at Taubah : 30. Tentang Nabi Isa as, umat islam mempercayai bahwa Beliau dan ibundanya adalah manusia biasa yang dipilih Alloh, akan tetapi Nashroni bertindak terlalu dengan mengangkat mereka sebagai Tuhan selain Alloh dalam konsep Trinitas mereka. Sebaliknya Yahudi  La’anahumulloh sama sekali tidak mempercayai Isa sebagai utusan Alloh, sangat merendahkan dan menghinakan Maryam al Batuul dengan mengatakan bahwa Beliau adalah wanita pezina, “Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) serta tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan yang besar (Zina) “ QS an Nisa’: 156, bahkan Yahudi pernah bertindak lebih jauh dari itu, mereka juga melakukan pembunuhan terhadap para utusan  Alloh yang tidak mereka sukai, “… apakah setiap datang kepadamu rosul yang membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh, lalu beberapa orang dari mereka kamu dustakan dan beberapa yang lain kamu bunuh?”QS al Baqoroh : 87. dalam sejarah Yahudi tercatat telah membunuh Nabi Zakariyya dan Yahya, bahkan mereka beberapa kali melakukan percobaan pembunuhan terhadap Rosululloh Muhammad Saw. Dan sampai sekarang pun mereka tetap aktif melakukan berbagai usaha untuk melakukan pembunuhan kepada para pewaris Nabi (ulama) yang getol memperjuangkan agama Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam juga beraqidah bahwa Alloh memiliki otoritas yang mutlak dan sempurna, ini berbeda dengan Yahudi yang mengatakan bahwa Alloh miskin. Abu Bakar ra pernah datang ke suatu perkumpulan Yahudi yang sedang asyik mendengarkan cerama pendeta mereka yang bernama Fanhash. Abu Bakar lalu berkata: “ Celakalah kamu wahai Fanhash, takutlah kepada Alloh dan peluklah islam. Demi Alloh kamu telah mengerti bahwa Muhammad adalah utusan Alloh yang datang dariNya dengan membawa kebenaran dan kalian sungguh telah menemukan hal ini dalam kitab Taurot dan Injil”  Fanhash menjawab: Demi Alloh wahai Abu Bakar, kami sama sekali tidak butuh kepada Alloh, justru Dia butuh kepada kami…”, mendengar ini Abu Bakar sangat marah dan memukul Fanhash dengan keras. Selanjutnya Abu Bakar berkata: “Andai saja antara kita tak ada perjanjian aman maka aku pasti memenggal lehermu”. Fanhash kemudian datang kepada Nabi Saw dan mengadukan perlakuan Abu Bakar, di hadapan Beliau, Fanhash  sama sekali  tidak mengakui apa yang dia ucapkan mengenai Alloh hingga turunlah firmanNya: “Sungguh Alloh telah mendengar ucapan orang – orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya Alloh fakir dan kami ini orang – orang yang kaya…” QS Ali Imron : 181. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan dan ucapan yang berangkat dari keyakinan salah kaum Nashroni dan Yahudi ini mendapat respon sangat keras dari Alloh Swt dalam firmanNya: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan jangan kalian mengucapkan kepada Alloh selain yang benar…”QS an Nisa’: 171. “ Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih – lebihan dengan cara tidak benar dalam agama kalian…”QS al Ma’idah : 77. Imam Ibnu Jarir berkata:  Sesungguhnya kaum muslimin tidak terlalu seperti Yahudi yang membunuh para nabi dan merubah kitab Alloh dan syariatNya, dan juga tidak seperti Nashroni yang tersesat dengan menuhankan Isa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Ibadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal beribadah, islam menempatkannya dalam posisi yang sangat tepat dan sesuai dengan fitroh asli manusia. Islam mencela orang yang melupakan tujuan Esensial dia diciptakan yaitu untuk beribadah kepada Alloh. Di sisi lain islam juga memperingatkan sangat keras kepada orang yang berlaku terlalu dalam menjalankan ibadah sehingga melalaikan fitroh aslinya yang lain yang berupa keinginan menikmati makanan dan indahnya bersama pasangan. Islam menyebut prilaku terlalu dalam hal ibadah ini sebagai sebuah prilaku Tanatthu’ atau Tasyaddud  seperti disinggung dalam sabda Nabi Saw:&lt;br /&gt;هَلَكَ الْمُتَـنِّطعُوْنَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Rusaklah orang – orang yang berbuat terlalu ” HR Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena Tanatthu’ atau terlalu memaksakan diri dalam beribadah sempat muncul pada masa Rosululloh Saw seperti diriwayatkan oleh Bukhori dari Anas bin Malik ra bahwa ada tiga orang yang datang ke rumah Aisyah ra dan bertanya tentang ibadah Nabi Saw. Setelah mendapat jawaban mereka seolah menganggapnya sedikit, tetapi mereka memaklumi karena Nabi Saw telah diampuni segala yang telah dan akan dilakukan oleh Beliau Saw. Dari sini akhirnya masing – masing dari mereka berjanji; yang pertama berjanji selamanya akan Qiyamullail semalam suntuk, yang kedua berjanji akan berpuasa setahun penuh, dan yang ketiga berjanji tak akan menikah selamanya. Rosululloh Saw datang dan bersabda: “Apakah kalian yang berkata begini begitu? Ingat aku adalah yang paling takut dan yang paling bertaqwa kepada Alloh, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku sholat dan tidur dan aku juga menikah dengan wanita…” Imam Hasan al Bashri mengatakan bahwa agama ini berada di tengah – tengah antara orang yang menjauh darinya (al Jaafii) dan orang yang terlalu di dalamnya (al Ghoolii). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan prinsip  berada di tengah ini (Tawassuth),  sama sekali tidak dimiliki oleh Yahudi ataupun Nashroni. Yahudi misalnya, mereka tidak sah melakukan ibadah kecuali di dalam Sinagog dan bila terkena najis maka air tak bisa mensucikan. Sementara Nashroni justru sebaliknya, mereka sama sekali tidak mengenal najis serta tak ada apapun yang haram bagi mereka. Mereka juga memunculkan konsep Rohbaaniyyah (mengharamkan perkawinan) seperti disebutkan oleh Alqur’an:&lt;br /&gt; ...وَرَهْبَانِيَّةَ نِابْـتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْـنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلاَّ ابْـتِغَاءَ رِضْوَانِ اللهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَـتِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… dan mereka mengada – adakan Rohbaaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, (tetapi mereka sendirilah yang mengada – adakannya) untuk mencari keridhoan Alloh, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya” QS al Hadid : 27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Mu’malah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di medan pergaulan dan bersikap, Islam juga menunjukkan prinsip Tawassuthnya.  Dalam hal memperlakukan wanita yang sedang menstruasi misalnya, Islam tetap memperbolehkan suami tinggal serumah dan tidur serangjang dengan isteri. Mereka berdua juga tetap diperbolehkan bercumbu rayu asal jangan sampai melakukan Coitus. Ini berbeda dengan Yahudi yang begitu ekstrim dalam memperlakukan wanita yang sedang datang bulan dengan menjauhkan mereka dari keluarga serta menempatkan mereka di tempat khusus. Di lain pihak kaum Nashroni justru sebaliknya, mereka tidak peduli apakah wanita sedang haid atau tidak, yang jelas kapanpun mereka mau maka hubungan suami isteri bisa dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mencari harta benda juga demikian halnya; islam memberi dorongan supaya harta benda itu dicari, tetapi islam juga tidak lupa memberikan pendidikan agar dalam mencari harta benda tidak terlalu sehingga menghalalkan segala cara seperti yang dilakukan oleh Yahudi yang menghalalkan Riba dan bahkan menyulap Riba dengan berbagai macam bentuk. Dalam bersikap dengan harta benda juga demikian, islam mengarahkan supaya harta benda tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi hendaknya juga ditularkan kepada orang lain yang membutuhkan. Meski demikian, islam juga berpesan agar jangan seluruhnya ditularkan kepada orang lain, firman Alloh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً إِلىَ عُنُـقِكَ وَلاَ تَبْـسُطْهَا كُلَّ الْبَسْـطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَحْسُـوْرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dan jangan jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula kamu terlalu menjulurkannya karena hal itu akan membuatmu tercela dan menyesal “QS al isro’ : 29.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, jika diteliti maka pasti ditemukan sebuah kesimpulan bahwa seluruh ajaran islam dari yang paling besar sampai yang terkecil seluruhnya berintikan prinsip Tawassuth sebagaimana dalam hikmah disebutkan: Khoirul Umuur Ausathuhaa / sebaik – baik perkata adalah yang tengah. – tengah.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-516043205149774006?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/516043205149774006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=516043205149774006' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/516043205149774006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/516043205149774006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/10/islam-di-antara-ifroth-dan-tafrith.html' title='Islam, di antara Ifroth dan Tafrith'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-6898942685516162556</id><published>2010-10-05T16:15:00.000-07:00</published><updated>2010-10-05T16:19:29.579-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Taman Wisata Hati'/><title type='text'>Bangga menjadi Tuhan, Mulia sebagai Hamba</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Ya Allah, cukup rasanya jika Engkau menjadi Tuhan saya, cukup sudah rasa mulia bila saya sebagai abdiMu yang setia”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjuta-juta dan berlaksa-laksa anugerahNya telah diterima oleh umat manusia. Tiada kekuatan dan kemampuan bagi mereka untuk menghitung. Akan tetapi yang paling agung di antara yang tak terhitung itu adalah anugerah mendapat hidayah mengakuiNya sebagai Tuhan yang Esa, Yang mencipta dan Yang layak disembah. Segala keindahan nikmatNya yang terlihat, semua pemberianNya yang dirasakan sama sekali tak ada arti jika semua itu tidak dibarengi dengan keimanan dan kepercayaan akan otoritas tunggalNya. Dia menyatakan dalam kitabNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan kepada orang-orang yang kafirpun Aku berikan kesenangan sedikit (dan sementara), kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”&lt;/span&gt; QS Al Baqarah:126.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada kemewahan dan keindahan jika setelahnya adalah siksaan neraka, dan sebaliknya bukan lagi namanya kesengsaraan, kesedihan, dan kepahitan bila semuanya menjadi harga untuk membeli keluasan dan kemewahan  surga. Dari sinilah rasa bangga dan bahagia segera menebarkan harum wanginya ketika menyadari tanaman bunga keimanan telah tertanam dalam sanubari. Rasa putus asa, merasa hina dan rendah segera akan sirna kendati diri sedang berada dalam dasar sumur kemiskinan, kekalahan dan kerendahan derajat dalam percaturan hidup di antara makhluk. Ingatlah salah satu firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Janganlah bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman”&lt;/span&gt; QS Ali Imran: 139.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seorang bawahan yang baik tentu akan menurut dan menghormati nasehat–nasehat atasannya. Seseorang yang mengaku sebagai pelayan setia sangat tidak dipercaya jika ia tidak memberikan pelayanan dan servis memuaskan kepada sang majikan. Manusia yang mengaku bangga bertuhan Allah juga demikian, dia harus mewujudkan pengakuan dan rasa bangganya itu dengan tindakan menjauhi semua larangan–larangan Allah, pohon kebanggaannya itu harus ia rawat dengan baik hingga banyak membuahkan nilai-nilai peribadatan kepadaNya. Bukan malah sebaliknya, pengakuan bangga menuhankan Allah diikuti oleh tiada rasa malu kala melakukan sesuatu yang tabu (baca:kemaksiatan), tak ada beban dan merasa bersalah bila enggan atau ogah-ogahan menjalankan anjuran beribadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realita yang ada ialah anugerah Allah yang terus menerus dan setiap saat dinikmati tetapi tidak disadari, ibadah kepadaNya yang tak pernah luput dari hitungan serta kemaksiatan bagai deras hujan yang luput dari pengawasan dan kontrol pengendalian. Maha benar Allah dalam firmanNya, sebuah hadits Qudsi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai anak Adam, kamu tidak berbuat adil kepadaKu. Aku berusaha mendapatkan cintamu dengan memberikan banyak sekali nikmat,sementara kamu perlihatkan kebencianmu kepadaKu dengan berbagai maksiat. KebaikanKu senantiasa turun kepadamu dan keburukanmu selalu naik kepadaKu”&lt;/span&gt; (Disebut oleh Imam Mawardi dalam kitabnya Adab Dun’ya Wad Diin dan Syekh Abdul Qadir dalam Al Fathur Rabbaani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan bangga dan mulia ini dapat kita teladani dari seorang tokoh yang hidup pada empat belas abad silam, di mana dalam salah satu munajatnya di tengah malam selalu tak terlupakan sebuah ungkapan “Ya Allah, cukup rasanya jika Engkau menjadi Tuhan saya, cukup sudah rasa mulia bila saya sebagai abdiMu yang setia” tokoh tersebut adalah sepupuh sekaligus menantu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, mertua Umar dari putrinya yang bernama Ummu Kultsum yang dinikah oleh Umar saat masih gadis belia, ayah Al Hasan dan Al Husen serta penghulu para orang yang mengedepankan asketisme (kezuhudan) dalam dunia kehidupan, dialah Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhu panglima pasukan islam kala menaklukkan Yahudi tanah Khaibar.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-6898942685516162556?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/6898942685516162556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=6898942685516162556' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/6898942685516162556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/6898942685516162556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/10/bangga-menjadi-tuhan-mulia-sebagai.html' title='Bangga menjadi Tuhan, Mulia sebagai Hamba'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-2454509632363923446</id><published>2010-10-05T15:46:00.000-07:00</published><updated>2010-10-05T15:56:20.060-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Hukum Mendoakan orangtua yang kafir.</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bersama surat ini, saya ingin memohon jawaban dari Ustadz pengasuh fas’alu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Bagaimana hukumnya mendoakan saudara/orang tua yang menganut agama selain Islam?&lt;br /&gt;b). Bagaimana hukumnya orang kafir memasuki masjid/mushola?&lt;br /&gt;c). Bagaimana hukumnya seorang suami yang jika dalam suatu pertengkaran selalu berkata’ Kupulangkan kamu ke orang tuamu’, padahal saya tidak tahu isi hati suami, apakah bisa dikatakan jatuh talak?&lt;br /&gt;d). Saya sekarang bingung untuk menabung. Sebaiknya dimana ya, yang sesuai dengan syariah. Lalu bagaimana dengan bunga tabungan yang diperoleh, atau hadiah/bonus berupa barang dari hasil tabungan tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lilis/Kholishoh, &lt;/span&gt;Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawab:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Para ulama sepakat bahwa hukum mendoakan orang kafir, sekalipun kepada orang tua atau kerabat adalah haram, kecuali mendoakan agar mereka diberikan hidayah oleh Alloh swt untuk masuk Islam. Hal ini berdasarkan dalil Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 113 dan 114:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ماكان للنبي والذين أمنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا ألى قربى من بعد ماتبين لهم أنهم أصحاب الجحيم. وماكان استغفار إبراهيم لأبيه إلا عن موعدة وعدها إياه فلما تبين له أنه عدو لله تبرأ منه. إن إبراهيم لأواه حليم (سورة التوبة:113-114)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Alloh swt) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Alloh swt) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Alloh, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”&lt;/span&gt; (QS At-Taubah :113-114)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan ayat tersebut, Imam Bukhari , Imam Muslim dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnul Musayyib dari ayahnya, ia berkata:”Ketika Abu Thalib menjelang wafat, Nabi saw menemuinya, dan ketika itu Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah sedang berada di sisinya, lalu beliau saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَيْ عَمَّ, قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله كَلِمَةٌ أُحَاجٌ لَكَ عِنْدَ الله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai pamanku, ucapkan ‘Laa Ilaaha Illallah, sebagai kalima yang aku akan membelamu di sisi Alloh swt.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat hal itu, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata:”Hai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama ‘Abdul Muthalib?’ Maka Abu Thalib menjawab:” Aku tetap memeluk agama Abdul Muthalib”. Selanjutnya Nabi saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَالَمْ أَنَّهُ عَنْكَ &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sungguh aku akan memintakan ampun untukmu selama aku tidak dilarang.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Maka turunlah Surat At-Taubah ayat 113 di atas. Dan pada saat itu turun juga ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّكَ لاَ تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ الله يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, akan tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang Alloh kehendaki.”&lt;/span&gt;(QS Al-Qashash:56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mengenai ayat ke-114, Imam Qatadah mengatakan bahwa diceritakan kepada kami bahwasayany ada beberapa orang sahabat Nabi saw berkata:”Wahai Nabi Alloh, sesungguhnya di antara orang tua kami terdapat orang yang berbuat baik kepada tetangga, menyambung silaturahim, membantu orang yang dalam kesusahan dan memenuhi jaminan. Apakah kami boleh memintakan ampun bagi mereka?” Maka Nabi saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بَلَى, وَالله إِنِّى لأَسْتَغْفَرَ لأَبِى كَمَا اسْتَغْفَرَ إِبْرَاهِيْمُ لأَبِيْهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Boleh, demi Alloh, sesungguhnya aku pun memintakan ampun untuk ayahku, sebagaimana Ibrahim juga memintakan ampun untuk ayahnya.”&lt;/span&gt; Kemudian turunlah Surat At-Taubah ayat 114 tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atha’ bin Abi Rabah berkata:”Aku tidak meninggalkan sholat (jenazah) atas orang dari ahlul-kiblat ( orang Islam), meskipun atas seorang wanita Habasyah yang hamil akibat perbuatan zina, karena aku tidak pernah mendengar Alloh swt menghalang-halangi sholat, kecuali dari orang-orang musyrik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan ayat di atas, Ibnu Abbas juga berkata:”Ibrahim masih terus memintakan ampun untuk ayahnya, sehingga ayahnya itu meninggal dunia. Dan ketika tampak jelas bahwa ayahnya itu adalah musuh Alloh swt (kafir), maka Ibrahim pun berlepas diri darinya.” Dalam sebuah riwayat, ketika ayahnya meninggal dunia, ia melihat dengan jelas bahwasanya ayahnya itu adalah musuh Alloh swt. Hal senada juga dikemukakan oleh Mujahid, Ad-Dhahhak, dan Imam Qatadah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Untuk membahas apakah orang kafir itu boleh masuk masjid atau tidak, lihat Surat At-Taubah ayat 28:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا أيهاالذين أمنوا إنما المشركون نجس فلا يقربوا المسجد الحرام بعد عامهم هذا.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hai orang-orang yang beriman! sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis. Oleh karena itu janganlah mereka itu mendekatai masjidil haram sesudah tahun ini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Al-Qur’an menyebutkan orang-orang musyrik itu najis, dengan menggunakan bentuk masdar adalah untuk menunjukkan arti yang sangat (mubalaghah) yang seolah-olah mereka itu betul-betul badannya najis. Adapun najis yang dimaksud oleh ayat di atas menurut Jumhur Ulama adalah najis maknawi, yaitu karena kesyirikan mereka yang menyebabkan hati dan pikiran mereka najis. Sedangkan badan mereka tetap suci menurut kalangan Ahli Tafsir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Ibnu Abbas dan Hasan Al-Basri menganggap najis badan orang-orang musyrik itu. Dari Ibnu Jarir meriwayatkan dari Imam Hasan Basri berkata:’Barangsiapa bersalaman dengan orang-orang musyrik hendaklah berwudlu’. Sedangkan Pengarang Tafsir al-Kasysyaf meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa jasad orang-orang musyrik itu najis, tidak ubahnya seperti anjing dan babi, dengan berpegang pada dhahirnya ayat. (Lihat Tafsir Ayatul Ahkam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang dimaksud orang-orang musyrik menurut ayat di atas ,sebagian ulama menyatakan khusus para penyembah patung. Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat orang musyrik itu meliputi semua orang kafir, baik penyembah berhala , maupun kalangan Ahlul Kitab. Menurut Syekh Ali Ash-Shabuni yang dimaksud musyrikin adalah meliputi seluruh orang kafir dan larangan masuk Masjid itupun berlaku untuk setiap orang kafir baik mereka itu animisme, Yahudi dan Nashara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan firman Alloh swt yang artinya :”Maka janganlah mereka itu mendekati Masjidil Haram”, jelas menunjukkan bahwa mereka dilarang memasuki Masjidil Haram. Tetapi soal lafadz “Masjidil Haram”, para ulama berbeda pendapat:&lt;br /&gt;1. Menurut ulama Syafi’iyyah (pengikut Imam Syafi’I), bahwa hal itu khusus Masjidil Haram berdasarkan dhahirnya ayat. Dalilnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلاَ يَقْرَبُوْا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Maka janganlah mereka itu mendekati Masjidil Haram.” &lt;/span&gt;(QS At-Taubah:28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat tersebut khusus untuk Masjidil Haram, tetapi umum untuk semua orang kafir. Jadi semua orang kafir ( penyembah berhala atau Ahlul Kitab) boleh masuk  Masjid,kecuali Masjidil Haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menurut Atha’ dan para ulama Hambali berpendapat bahwa kata itu maksudnya adalah Mekkah dan tanah haram pada umumnya. Dalilnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Mereka itu adalah orang-orang kafir dan menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram.”&lt;/span&gt;(QS Al-Fath:25)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di mana sudah jelas bahwa mereka (kaum kuffar) itu menghalangi umat Islam memasuki Mekkah. Lalu Alloh swt memberitahu bahwa umat Islam akan masuk Mekkah dengan aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menurut pendapat para ulama Malikiyah bahwa yang dimaksud adalah semua masjid. Karena Masjidil Haram adalah yang sudah jelas berdasarkan nash, sedangkan masjidl-masjid lainnya adalah diqiyaskan. Menurut Imam Malik dan pengikutnya, bahwa faktor ‘ najis’ itulah yang menyebabkan dilarangnya orang-orang musyrik masuk masjid, sedangkan najis itu tetap ada pada orang-orang musyrik/kafir. Karena itulah larangan masuk itu akan selalu ada (terhadap semua orang kafir) untuk masuk masjid, baik Masjidil Haram atau masjid-masjid yang lain. Imam Malik mengqiyaskan semua orang kafir dengan Ahlul Kitab dan mengqiyaskan semua masjid dengan Masjidil Haram.&lt;br /&gt;Imam Abu ‘Amr al-Auza’I berkata:”Umar bin Abdul Aziz memutuskan bahwa orang-orang Yahudi dan Nashara dilarang memasuki masjid-masjid kaum muslimin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menurut Imam Hanafi dan pengikutnya berpendapat bahwa larangan masuk Masjidil Haram itu hanya larangan ibadah Haji dan Umrah. Dalilnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*.Lafadz “Sesudah tahun ini” menunjukkan khusus, yaitu untuk melakukan Haji dan Umrah saja.&lt;br /&gt;**.Perkataan Ali bin Abi Thalib, ketika diutus Rasulullah saw untuk menyampaikan surat Al-Baqarah kepada khalayak, lalu ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; أَلاَ يَحُجَّ بَعْدَ هَذَا الْعَامِ مُشْرِكٌ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesudah tahun ini tidak boleh seorang musyrik pun menunaikan ibadah haji.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;***.Kaum muslimin sepakat atas dilarangnya orang-orang musyrik menunaikan ibadah haji, wukuf di Arofah, dan tinggal di Mudzalifah dan semua amalan haji, sekalipun amalan-amalan itu dilakukan di luar Masjidil Haram.************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). Mengenai kata-kata sindiran yang diucapkan oleh seorang suami kepada isterinya, ada perbedaan di kalangan ulama madzhab: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*.Imam Malik mengatakan:”Pada saat seorang suami menyerahkan isterinya kembali kepada orang tuanya, jika ia(suami) telah berhubungan badan dengan isterinya, maka dianggap sudah menthalak tiga (talak ba’in), baik keluarganya itu menerima atau menolaknya. Akan tetapi, jika belum berhubungan badan dengannya, maka dianggap sebagai thalak satu, baik keluarganya menerima atau menolaknya.”&lt;br /&gt;Sedangkan Imam Asy-Syafi’I mengatakan:”Bahwa kesemuanya itu bergantung kepada niatnya. Jika ia mengatakan (dengan kata sindiran itu) bahwa ia tidak berniat untuk menthalaknya, maka niatnya itulah yang berlaku.”&lt;br /&gt;Menurut Imam Abu Hanifah mengatakan:”Jika seorang suami menyatakan kepada isterinya’Aku serahkan kamu kepada orang tuamu’ atau ‘ Kepada ayahmu’ atau ‘Kepada ibumu’, maka hal itu dikatakan dalam keadaan marah atau sebagai jawaban atas isterinya yang meminta thalak, lalu si suami tidak berniat untuk menthalaknya, maka niatnya itulah yang berlaku. Akan tetapi jika si suami dengan perkataannya itu berniat menthalak isterinya, maka hukum thalak itulah yang berlaku baginya. Sedangkan jika si suami menyerahkan isterinya kepada bibi atau kerabat yang lain selain orang tuanya, maka hal itu tidak dianggap thalak, baik ia berniat untuk thalak tiga, dua atau satu. Baik hal itu dilakukan pada saat marah atau tidak atau sebagai jawaban atas permintaan thalak isterinya.”&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan:”Jika keluarga si isteri tersebut mau menerimanya, maka yang demikian itu sudah termnasuk thalak. Akan tetapi , si suami masih berhak menerimanya kembali. Sedangkan apabila jika mereka menolaknya, maka tidak dianggap sebagai thalak.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan jika si suami tidak mengucapkan kata ‘thalak’ baik secara terang-terangan atau sindiran, akan tetapi baru terlintas dalam hati keinginan untuk menthalak isterinya, maka thalak belum jatuh.Berdasarkan hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الله تَجَاوَزَ لأُمَّتِى مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَالَمْ يَتَكَلَّمُوْا أَوْ يَعْلَمُوْابِهِ (متفق عليه)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya Alloh memberikan ampunan bagi umatku apa-apa yang terdetik di dalam hati mereka, selama tidak mereka ucapkan atau kerjakan.”(&lt;/span&gt;HR Bukhari dan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu 'alam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-2454509632363923446?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/2454509632363923446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=2454509632363923446' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2454509632363923446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2454509632363923446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/10/hukum-mendoakan-orangtua-yang-kafir.html' title='Hukum Mendoakan orangtua yang kafir.'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-4287048817917243736</id><published>2010-08-27T22:19:00.000-07:00</published><updated>2010-08-27T22:27:14.965-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafsir Tematik'/><title type='text'>Puasa dan Buah-buah Takwa</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Q.S. Al Baqarah: 183&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Makna dan Penjelasan Ayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sikap bertakwa kepada Allah swt memiliki sekian banyak tingkatan. Namun bila dikelompokkan, tingkatan itu bisa dibagi menjadi tiga. Pertama, tingkatan takwa tertinggi (maksimal), yaitu “bertakwa dengan sebenar-benarnya” yang hanya bisa dicapai oleh para nabi, syuhada, dan orang-orang shaleh. Kedua, tingkatan terendah (minimal), yang tersirat dari ungkapan: “jangan sekali-kali mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. Dalam tingkatan ini seseorang tidak menyisakan takwa kecuali mati dalam keadaan bertauhid, sekadar berbekal syahadat belaka. Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.&lt;/span&gt; (Q.S. Ali Imran: 102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara dua tingkatan itu ada tingkatan takwa ketiga, yang merupakan tingkatan standar, yang hendaknya diupayakan oleh orang-orang beriman jika tidak mampu mencapai tingkatan yang tertinggi. Dalam tingkatan standar ini takwa bermakna menjalankan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini terkait dengan adanya rasa takut, malu, kewaspadaan, kehati-hatian, disiplin, mawas diri, amanat (tanggung jawab), jujur, dan akhlak mulia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang bertakwa sebagai buah dari ketaatan dan kepatuhan menjalankan perintah dan menjauhi larangan akan selalu berkata benar, kata yang menyejukkan, bertindak jujur dan adil, bertanggung jawab, sabar, rendah hati, santun, memelihara diri, dermawan, memenuhi janji, tidak mendendam, berkasih sayang, dan sebagainya. &lt;br /&gt;Berbagai bentuk akhlak mulia itulah indikasi takwa yang bisa terlihat karena hakikat takwa tempatnya tersembunyi, yaitu di dalam hati nurani yang tidak tampak kecuali oleh Allah swt. Bukan pada bentuk lahir dan aksesoris seperti gamis, tasbih, sarung, kopiah, dan sebagainya. Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim bersabda: “Attaqwa hahuna” (takwa itu di sini) seraya menunjuk dadanya tiga kali.&lt;br /&gt;Takwa adalah bekal hidup yang paling istimewa. Karena itu takwa menjadi nasehat utama yang dipesankan oleh para nabi dan rasul dulu, saat ini, dan kelak. Allah swt berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوْا اللهَ &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu: bertakwalah kepada Allah. &lt;/span&gt;(Q.S. An Nisaa’: 131)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa di bulan Ramadhan dalam hal ini akan bisa mengantar manusia kepada ketakwaan yang lebih baik daripada sebelumnya. Puasa melatih manusia ikhlas hati, disiplin, mawas diri, amanat, jujur, bekerja tanpa pamrih, takut, dan malu semata-mata karena merasa berada dalam pengawasan Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat dalam tema di muka menyebutkan bahwa takwa merupakan target yang hendak dicapai dari aktivitas puasa, bukan lapar, haus, atau mengekang seks semata, seperti pada agama-agama lain yang berarti semakin menderita maka nilai puasa semakin baik. Nabi saw menjelaskan bahwa ada sekian banyak orang berpuasa tidak memperoleh hasil dari puasanya kecuali lapar dan dahaga. Hal ini karena dia dalam berpuasa tidak berupaya meningkatkan kadar ketakwaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat dalam tema tersebut menjelaskan hikmah puasa yaitu “laallakum tattaqun” (agar bertakwa). Maksud dari hikmah ini adalah pertama, dengan puasa kita menjadi takut (takwa) menjalankan kemaksiatan-kemaksiatan. Atau kedua, dengan puasa, kita menjadi orang-orang yang bertakwa (mencapai derajat atau kedudukan muttaqin).&lt;br /&gt;Makna pertama cocok bagi orang-orang yang menjalankan puasa sedang pada dirinya telah melekat kemaksiatan. Dengan puasa insya’allah kemaksiatan yang dahulu dilakukannya menjadi berhenti. Sarana puasa sangat tepat baginya untuk membakar segala kesalahannya itu apalagi segala perangkat untuk itu telah disediakan di bulan Ramadhan seperti tarawih, tadarus, i’tikaf, dan sedekah lengkap dengan suasana yang mendukung di mana setan dibelenggu dan pintu neraka ditutup. Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصِّيَامُ جُنَّةٌ – رواه البخارى ومسلم&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Puasa itu perisai.&lt;/span&gt; (H.R. Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna kedua pas bagi orang yang menjalankan puasa sedang kualitas keimanannya telah stabil. Baginya sarana puasa dimanfaatkan untuk meningkatkan amaliah sehingga menjadi lebih tinggi. Dari sini dikenal istilah puasa khusus dan puasa khususul khusus yang khas dilakukan orang-orang dalam kelas yang tinggi. Puasanya di samping menahan larangan fisik juga menahan larangan psikis seperti menjaga keikhlasan hati. Sabda Rasulullah saw:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ – رواه البخارى ومسلم&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar keimanan dan keikhlasan maka diampunilah dosanya yang telah lalu. &lt;/span&gt;(H.R. Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pada ayat tersebut digunakan perangkat kata: “laalla”. Menurut tata bahasa Arab, kata “laalla” bermakna tarajji yaitu pengharapan (barangkali) yang mungkin terjadi (optimisme). Namun bila kata “laalla” itu disebutkan di dalam Al Qur’an dan datangnya dari Allah swt maka dia tidak berarti pengharapan lagi tetapi berarti kepastian dan kenyataan (hakikat dan yakin). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kalau puasa dijalankan dengan baik dan benar target takwa pasti bisa dicapai. Kalau target takwa ini bisa diraih, maka dialah orang yang beruntung jasmani dan rohaninya di dunia maupun di akhirat. Karena orang yang bertakwa dijanjikan jaminan kemuliaan dan keistimewaan yang luar biasa. Di antara janji dan jaminan itu adalah:&lt;br /&gt;Pertama, mendapatkan pujian. Firman Allah swt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُوْرِ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.&lt;/span&gt; (Q.S. Ali Imran: 186)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, penjagaan dari musuh. Firman Allah swt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; وَإِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لاَيَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْأً &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. &lt;/span&gt;(Q.S. Ali Imran: 120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, diberikan jalan keluar dan rizki yang halal tak diduga. Firman Allah swt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.&lt;/span&gt; (Q.S. Ath Thalaq: 2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, amal diperbaiki dan dosa diampuni. Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لِكُمْ ذُنُوْبَكُمْ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai orang-orang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu.&lt;/span&gt; (Q.S. Al Ahzab: 70-71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, meraih dua bagian rahmat dan diberikan nur. Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَآمِنُوْا بِرَسُوْلِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu.&lt;/span&gt; (Q.S. Al Hadid: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, diterima amalnya. Firman Allah swt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya Allah hanya menerima (pengabdian) dari orang-orang yang bertakwa.&lt;/span&gt; (Q.S. Al Maidah: 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, meraih kemuliaan. Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.&lt;/span&gt; (Q.S. Al Hujurat: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan, diselamatkan dari neraka. Firman Allah swt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثُمَّ نُنَجِّى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa.&lt;/span&gt; (Q.S. Maryam: 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesembilan, dicintai dan dikasihi Allah. Di dalam Al Qur’an disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. &lt;/span&gt;(Q.S. At Taubat: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepuluh, dihilangkan gelisah dan sedihnya di dunia dan akhirat. Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka itu bertakwa.&lt;/span&gt; (Q.S. Yunus: 62-63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesebelas, diberikan ilmu laduni (perenial, otodidak). Firman Allah swt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاتَّقُوْا اللهَ وَيُعَلِّمْكُمُ اللهُ &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan bertakwalah kepada Allah niscaya Allah mengajarmu.&lt;/span&gt; (Q.S. Al Baqarah: 282)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-4287048817917243736?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/4287048817917243736/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=4287048817917243736' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/4287048817917243736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/4287048817917243736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/08/puasa-dan-buah-buah-takwa.html' title='Puasa dan Buah-buah Takwa'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-3849719595568949962</id><published>2010-08-26T00:01:00.000-07:00</published><updated>2010-08-26T00:06:06.553-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Sholat Berlepotan Najis</title><content type='html'>Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al Hamdulillah saya dan keluarga dalam keadaan sehat wal afiat, semoga Ustadz senantiasa bertabur rahmat dan hidayah Allah serta selalu dalam karuniaNya yang berupa keteguhan Iman dan Islam, Amiin. Dalam kesempatan ini saya ingin bertanya: Bagaimana hukum shalat orang yang sedang dipasang selang kateter?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kholishoh Diana,&lt;/span&gt;  Tuban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumhur Ulama menyebutkan bahwa orang yang shalat wajib mensucikan badan, pakaian dan tempat dari najis. Ingat sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Hendaknya kalian membersihkan diri dari kencing, sebab kebanyakan siksa kubur berasal darinya”HR Daru Quthni. Ali ra berkata: Aku adalah seorang yang mudah mengeluarkan air madzi (Madzdza’), karena malu bertanya sendiri maka akupun menyuruh seseorang supaya bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu Beliau bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berwudhu dan basuhlah kemaluanmu” HR Bukhori. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesucian pakaian ditegaskan dalam firman Allah: “Dan baju–bajumu maka sucikanlah”QS al Muddatstsir: 4, Jabir bin Samurah bercerita: Aku mendengar seorang bertanya: Saya melakukan shalat dengan pakaian yang juga saya pakai saat berkumpul dengan isteri? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Ia, (tidak masalah) kecuali kalau memang kamu menemukan najis, maka basuhlah!” HR Ahmad – Ibnu Majah. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu kesucian tempat shalat diambil dari Hadits riwayat Abu Hurairah ra tentang Badui yang kencing di Masjid, ketika para sahabat hendak mengambil tindakan maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Biarkanlah dia, dan siramlah air kencingnya dengan setimba air,…” HR Jam’ah, kecuali Imam Muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini bisa dimengerti bahwa shalatnya orang yang terpasang selang kateter tidak sah karena dia selalu membawa najis. Dan itu berarti dia hanya shalat untuk menghormati waktu saja, dan nanti setelah bisa terlepas dari najis maka dia harus mengulangi lagi shalatnya. Tetapi menurut pendapat Masyhur dalam Madzhab Malik, mensucikan diri, pakaian dan tempat dari najis hanyalah aktivitas penyempurna shalat saja, artinya hukumnya tidak wajib, cuma sebatas Sunnah Muakkadah. Jadi menurut ini, shalat orang yang tubuh, pakaian atau tempat shalatnya najis hukumnya tetap sah. Dalam sebagian pendapat (masih dalam lingkup Madzhab Malik), ada rincian; jika lupa atau tidak bisa menghindarkan diri dari najis maka shalatnya tetap sah, tetapi jika ingat dan bisa menghindarkan diri dari Najis maka seseorang wajib mensucikan badan, pakaian dan tempat shalat dari najis. (Lihat! Al Fiqhul Islami 1 / 571 / Wahbah Zuhaili).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-3849719595568949962?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/3849719595568949962/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=3849719595568949962' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/3849719595568949962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/3849719595568949962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/08/sholat-berlepotan-najis.html' title='Sholat Berlepotan Najis'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-3975572742065289819</id><published>2010-08-20T14:53:00.000-07:00</published><updated>2010-08-20T14:59:39.808-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqofah'/><title type='text'>Takwinur Rijal</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tulisan ini disampaikan pada pembinaan Kepala Sekolah dan Direktur LPI, 6 September 2003 di Yayasan Al Haromain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebingungan sistem pendidikan nasional telah melahirkan ketidakmapanan output pendidikan baik di jenjang terendah hingga jenjang tertinggi. Generasi yang dihasilkan tidak memiliki kematangan dan kemandirian. Bahkan generasi tersebut sangat lemah baik secara akhlaq, akal, kepribadian, etos kerja dan upaya pembaharuan (ijtihad). Karena itu sosok generasi yang muncul adalah generasi bandel, demoralisasi, korupsi, penipu, manipulasi, konsumtif, materialis dan tidak memilki kemandirian. Hal ini sangat berbeda dengan genersai yang dididik mengikuti tahaban dan metode tarbiyah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok generasi yang dihasilkan tahabapn dan metode tarbiyah Islam adalah generasi yang kuat dan amanat (al qowiyyul amin). Sosok generasi ini pernah terbentuk di zaman Rosululloh Sholallah Alaihi Wassalam dan para sahabatnya. Mereka sangat kuat dalam mengemban tugas-tugas agama, berdakwah beramar ma’ruf dan bernahi munkar. Generasi yang kuat termasuk di dalamnya adalah tahan bantingan menghadapi ujian kehidupan, dan tidak mudah putus asa. Generasi amanah adalah yang dapat dipercaya baik sikap, ucapan, maupun suluknya. Bila mereka menerima tugas dakwah, tugas itu akan dilaksanakan sampai sempurna dengan penuh tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanah sebagai bagian asas pendidikan Islam, karena melalui proses amanah akan terbentuk generasi yang berbudi pekerti luhur, yang mampu mengemban segala beban yang dipikulnya. Amanah merupakan sikap internal yang menunjukkan intregrasi kepribadian sehingga generasi amanah menjadi pribadi utuh, penuh tanggung jawab, dan dapat mengembangkan dirinya untuk kehidupan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Islam tidak menghendaki umatnya menjadi umat yang lemah. Bahkan, Al Qur’an sejak lama telah memberikan warning (peringatan) kepada kaum muslimin agar tidak meninggalkan sosok generasi yang lemah. Alloh berfirman dalam surat An Nisa’: 9&lt;br /&gt;“Dan hendaklah takut kepada Alloh (cemas) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir (terhadap kesejahteraan mereka). Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuat lemahnya suatu generasi ternyata banyak ditentukan oleh faktor pendidikan. Pendidikan yang baik, yang dikelola secara benar akan mampu melahirkan generasi pilihan, generasi unggul, generasi yang cerdas secara intelektual juga generasi yang berakhlak mulia. Islam sangat memperhatikan masalah pendidikan. Islam sejak lama mewajibkan umatnya untuk giat mencari ilmu sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abdil Barr:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur segala sesuatu dari masalah yang paling kecil sampai masalah yang paling besar, dari masalah yang paling remeh sampai masalah yang paling berat, tidak terkecuali masalah ilmu. Alangkah indahnya pandangan Islam tentang ilmu yang dengan pandangan brilian itu mampu mencetak generasi berilmu tinggi, generasi peletak dasar-dasar ilmu modern sekarang ini.&lt;br /&gt;Korelasi (hubungan) antara konsep ilmu dalam Islam dan generasi yang dihasilkan dapat diumpamakan seperti segitiga. Dua garis vertikal bertemu dalam satu titik, titik Allah SWT. Sementara garis horizontal yang menghubungkan kedua garis vertikal tadi menunjukkan generasi yang beremosi stabil, rendah hati, tidak sombong. Ibarat ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Hal ini didasari oleh kesadaran bahwa amatlah terbatas ilmu Allah yang berhasil dikuasai manusia, dan teramat banyak ilmu Allah yang belum dikuasai manusia. Masih banyak hal di alam ini yang masih misterius yang belum mampu diungkap oleh keterbatasan manusia. Inilah generasi dambaan umat. Dari tipe generasi ini umat Islam akan kembali mendapatkan predikat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;khairu ummah &lt;/span&gt;dari Allah SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Semua Ilmu dari Allah SWT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan yang dikuasai manusia semuanya dari Allah SWT, bersumber dari Dzat yang satu. Allah adalah guru manusia. Dia mengajarkan apa saja yang tidak diketahui manusia. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah: 31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, “Sebutkankah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat ini, semestinya harus mulai dihilangkan paradigma yang membagi ilmu menjadi dua dikotomi, yaitu ilmu umum dan ilmu agama. Pembagian itu mengesankan bahwa ilmu umum itu tidak bernilai relegi/agama. Padahal, semua ilmu itu diajarkan oleh Allah. Semestinya segala yang dikuasai manusia akhirnya harus sampai pada kesimpulan bahwa Allah berada di balik semua ilmu. Bukankah ilmu itu awalnya dari sebuah pengamatan terhadap gejala-gejala alam/ayat-ayat kauniyah/sunnatullah. Dari situ manusia mulai memformulasikan teori-teori yang akhirnya terdokumentasi menjadi ilmu pengetahuan. Jadi, tidak ada ilmu yang bebas dari nilai-nilai ketuhanan/keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap muslim harus berupaya sekuat tenaga untuk menyerap ilmu sebanyak-banyak dengan segala jenisnya tanpa terpengaruh adanya dua dikotomi di atas. Generasi Islam di abad pertengahan tercatat dalam sejarah sebagai peletak dasar segala ilmu modern sekarang ini. Kita harus mencontoh jejak-jejak emas mereka. Penemuan mereka terbukti telah mendatangkan banyak kemaslahatan umat sekarang ini. Bukankah ini sebagai amal jariahnya yang pahalanya tidak terputus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menyebut tiga ilmu pokok yang harus dikuasi manusia/umat Islam, yaitu ayatul muhkamat (ilmu Al Qur’an), sunnah rasul (ilmu hadits), dan faroidl (ilmu waris). Selain ketiga ilmu itu, maka termasuk kelebihan (fadhlun). Banyak sekali ilmu-ilmu yang termasuk kelebihan tersebut. Dalam kaitan ini, umat Islam harus selektif dalam mempelajarinya sebab ilmu-ilmu kelebihan tersebut bisa mengantarkan manusia ke arah kebaikan, juga bisa mengantarkan manusia ke arah kejahatan, orang menyebutnya sebagai ilmu hitam, ilmu yang dapat mencelakakan orang lain dan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Pengajaran ilmu pokok tersebut sebaiknya dimulai dari usia dini dalam pendidikan prasekolah (PG/TK). Lalu dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Menurut penelitian ditemukan bahwa perkembangan otak manusia itu 80 % terjadi dalam usia 0 – 8 tahun, sedang yang 20 % berkembang di atas usia tersebut Semakin dini mengenalkan tiga ilmu pokok tersebut akan menghasil kualitas lulusan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bacalah ilmu dengan bismillah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman dalam surat Al Alaq:1&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Bacalah dengan menyebut asma tuhanmu yang menciptakan!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam membaca ayat-ayat qouliyah maupun ayat-ayat kauniyah jangan sampai lupa menyebut nama Allah SWT. Apapun yang kita baca hendaknya selalu menghadirkan Allah di dalamnya. Allah yang berfirman dalam ayat-ayat qouliyah, juga Allah yang menciptakan ayat-ayat kauniyah. Membaca bismillah berarti mengharapkan bantuan Allah untuk memahami bahan bacaan. Membaca bismillah berarti membuka tabir keberkahan ilmu pengetahuan. Membaca bismillah seolah-olah kita minta izin pada Allah sebagai pemilik segala ilmu pengetahuan. Dengan bismillah akan mengantarkan manusia ke puncak pengetahuan tentang Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki konsep ini harus menjadikan keterikatan pada pencipta ilmu. Ketika berada dalam ilmu yang dapat dikembangkan melalui metodologi penelitian, maka harus tetap mengembalikan kekuasaan tertinggi pada Allah Ta’ala. Dan di setiap mengembangkan ilmu harus dilandasi dengan penyebutan kekuasaan Allah Ta’ala. Akhirnya ilmu yang digeluti akan menghantarkan kepada kesempurnaan keimanan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-3975572742065289819?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/3975572742065289819/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=3975572742065289819' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/3975572742065289819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/3975572742065289819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/08/takwinur-rijal.html' title='Takwinur Rijal'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-8374232590870039167</id><published>2010-08-11T15:30:00.000-07:00</published><updated>2010-08-11T15:32:59.483-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Hukum Memakan Ikan yang Diberi Makan Barang Najis</title><content type='html'>Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ustadz pengasuh Fas'alu yang saya hormati , bagaimana hukumnya memakan ikan lele yang dimasukkan dalam kolam yang setiap harinya kolam tersebut diberi kotoran-kotoran ayam, atau hewan atau barang najis lainnya?. Hal ini saya tanyakan karena di daerah kami banyak para petani lele dombo yang biasa memberi makan lelenya dengan kotoran ayam atau kotoran yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Muhid, &lt;/span&gt;Tulungagung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam studi fiqih islam dikenal istilah Jallaalah, yang diperuntukkan bagi hewan ternak seperti unta, sapi, kambing, ayam dst yang memakan kotoran atau benda najis jenis apapun dengan syarat mayoritas makanannya adalah barang najis. Sedang jika kebanyakan makanannya dari barang yang suci maka tidak bisa masuk dalam kategori Jallaalah. Versi lain menurut Jumhur mengatakan bahwa standar utama apakah binatang itu termasuk Jallaalah atau tidak, bergantung kepada perubahan bau pada hewan tersebut. Jika baunya masih normal maka tidak termasuk kategori Jallaalah meski kebanyakan makananannya dari barang najis. Sebaliknya jika bau berubah meski hanya sedikit memakan barang najis maka masuk dalam kategori Jallaalah. Demikian Imam Nawawi dalam Al Majmu' menjelaskan. Dalam Al Muhadzab 1/348 juga disebutkan bahwa jika binatang ternak yang biasa diberi makanan najis hendak disembelih maka agar status Jallaalah hilang hendaknya terlebih dahulu diberi makanan suci hingga pengaruh makanan najis selama ini hilang. Pendapat ini didukung oleh Ibnu Umar, bahkan beliau memberikan standar waktu untuk unta selama empat puluh hari, untuk kambing tujuh hari dan untuk ayam tiga hari sebelum menyembelih. Menurut Ash'hab Syafii tidak ada batasan waktu, yang terpenting diberi makanan suci sebelum disembelih entah berapa hari hingga bau dari pengaruh makanan najis hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang memakan hewan Jallaalah, maka dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas ra. disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَي عَنْ لُحُوْمِ الْجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Sesungguhnya Nabi saw melarang dari daging dan susu Jallaalah".&lt;/span&gt; HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari hadits ini Imam Syafii seperti tersebut dalam Bidayatul Mujatahid 2/5 menghukumi haram memakan daging hewan Jallaalah. Sementara Jumhur Ulama mengatakan Makruh Tanzih dan sebagian kelompok yang di dalamnya termasuk Abu Ishaq Al Marwazi, Al Ghozali, Imam Qoffal dan Al Baghowi menyatakan bahwa hukum memakan Jallaalah adalah Makruh Tahrim. Perlu digaris bawahi perbedaan hukum ini terjadi jika memang bau najis sangat kentara dan jelas tercium. Sementara jika bau itu tidak begitu kentara dan hanya sedikit terasa maka jelas bahwa binatang tersebut halal seratus persen. (Al Majmu' : 9 / 28 - 29 Cet : Idaaroh Lith Thiba'ah Al Muniiriyyah Mesir).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-8374232590870039167?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/8374232590870039167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=8374232590870039167' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8374232590870039167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8374232590870039167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/08/hukum-memakan-ikan-yang-diberi-makan.html' title='Hukum Memakan Ikan yang Diberi Makan Barang Najis'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-1940329595840537993</id><published>2010-08-11T15:19:00.000-07:00</published><updated>2010-08-11T15:23:38.997-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafsir Tematik'/><title type='text'>Antisipasi Ledakan Bahaya dari Kaum Minoritas</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;QS At Taubah : 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;كَيْفَ وَإِنْ يَظْهَرُوْا عَلَيْكُمْ لاَ يَرْقُبُوْا فِيْكُمْ إِلاًّ وَّلاَ ذِمَّةً , يُرْضُوْنَكُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ وَتَأْبَي قُلُوْبُهُمْ وَأَكْثَرُهُمْ فَاسِقُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Alloh dan RosulNya dengan orang-orang musyrikin) padahal jika mereka memperoleh kemenangan atas kalian (orang islam) maka sama sekali mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan dan tidak pula mengindahkan perjanjian. Dengan mulut (manis) mereka berusaha menyenangkan kalian padahal hati mereka menolak. Dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang fasiq(yang gemar melanggar janji)".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Analisis Ayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِلا   : Kata  "illan" ini menurut Imam Al Azhari adalah salah satu nama Alloh dalam bahasa Ibraaniyyah dan berasal dari akar kata Al Aliil yang artinya cemerlang. Ada sebuah ungkapan Alla, Ya'ullu, Allan launuhu yang artinya cemerlang warnanya. Ada pula yang mengatakan bahwa arti Alla adalah tajam seperti ada ucapan Udzunun Mu'allalah, telinga yang tajam pendengarannya. Dari sini jika kata illan dipakai untuk ungkapan perjanjian berarti telinga diajak untuk secara seksama mendengar perjanjian. Atau karena perjanjian itu jelas dan bersih maka untuk mengungkapkannya dipakailah kata illan yang juga memiliki arti cerah dan cemerlang. Demikian tercatat dalam tafsir Al Qurthubi. Jadi bila kata illan diartikan perjanjian maka fungsi mengulang kata Dzimmah dalam ayat di atas adalah sebagai penguat atau Taukid seperti ungkapan, benar dan betul. Kata illan yang berarti perjanjian juga tersebut dalam sebuah syair:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;وَجَدْنَاهُمْ   كَاذِبًا   إِلَّهُمْ   وَذُو اْلإِلِّ وَالْعَهْدِ لاَ يَكْذِبُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Kami menemukan mereka mengingkari perjanjian, mestinya pemilik ikatan perjanjian tidak melepas dan mengingkari".&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata "illan" juga bisa diartikan sanak famili atau Qoroobah. Seperti dalam syair:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفْسَدُ النَّاسِ خَلُوْفٌ خَلَفُوْا &lt;br /&gt;  قَطَعُوااْلإِلَّ وَأَعْرَاقَ الرَّحِمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Manusia yang paling rusak adalah para pengingkar yang suka ingkar (janji) serta memutus sanak famili serta ikatan-ikatan  kekeluargaan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Makna dan Penjelasan Ayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah percaya dan teguh memegang janji, inilah salah satu ciri khas keimanan yang telah tertancap kuat dalam hati.Inilah karakteristik seorang mukmin sejati. Karena itu meski terus dimusuhi dan telah berulang kali dikhianati seorang mukmin tak pernah bosan menerima ajakan perdamain, tak pernah ragu menorehkan tanda tangan sebagai bukti perjanjian. Bahkan kecenderungan melihat betapa islam sangat menekankan masalah perjanjian (Al Wafa' Bil Uhud) membuat kaum beriman merasa berdosa jika ajakan menuju perjanjian diabaikan. Satu hal yang harus diingat bahwa perjanjian untuk perdamaian memang harus selalu diusahakan, akan tetapi islam juga mengajarkan agar keamanan dalam beriman juga mendapat perhatian. Dari sinilah meski pada satu sisi islam mengajarkan perjanjian damai, pada sisi lain islam juga melarang kaum beriman melakukan perjanjian dengan kaum kafir jika pada akhirnya justru perjanjian itu membahayakan keselamatan kaum beriman. Larangan melakukan perjanjian tersebut dapat kita fahami dari ayat di atas yang menggunakan bahasa bertanya "Kaifa/Bagaimana(bisa)" yang bernada mendustakan atau tidak mengizinkan. Istifham atau pertanyaan seperti ini biasa disebut dengan Istifham Inkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum larangan melakukan perjanjian damai diberlakukan jika memang situasi aman yang diharapkan dari perjanjian justru memberikan kesempatan kepada kaum kafir - yang dalam posisi lemah mereka begitu indah berkata, penuh senyum persahabatan, padahal hati dan fikiran mereka membenci dan mencaci kaum beriman - untuk menyusun kekuatan demi menghancurkan islam. Kasus inilah yang terjadi dan mengilhami turunnya ayat di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertama kali datang dan mendapat tempat subur di Madinah, telah beberapa kali umat islam mengalami kerugian dan hampir jatuh dalam kebinasaan karena perjanjian damai yang ternyata tak lebih dari sebuah trik musuh untuk menumbangkan kekuatan islam. Selain mendapat masalah dari orang-orang munafiq, umat islam juga memperoleh kesulitan dari tiga komunitas Yahudi yaitu Bani Qoinuqo', Bani Nadhir dan Bani Quroizhoh yang telah lebih dahulu bercokol di Madinah dan menyatakan bahwa mereka tidak menerima dengan kenabian Muhammad. Untuk mengantisipasi agar pertumpahan darah  tidak sampai terjadi dan kedua belah pihak bisa menikmati hidup dalam keamanan maka Rosululloh saw mengadakan perjanjian damai dengan tiga komunitas Yahudi tersebut. Ternyata perjalanan waktu akhirnya membuktikan bahwa mereka manusia-manusia terlaknat yang mudah mengingkari janji atau bahkan perjanjian bagi mereka tak lebih dari salah satu cara memenangkan sebuah persaingan untuk mempertahankan dan mendominasi sebuah eksistensi serta memberangus dan membunuh eksistensi orang lain yang tidak sejalan dengan mereka. Sejarah menulis betapa tiga komunitas Yahudi tersebut masing-masing melakukan makar untuk menghentikan dan menumpas pergerakan islam. Mereka adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- Bani Qoinuqo'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kemenangan umat islam dalam perang Badar, Yahudi Bani Qoinuqo' sudah tidak mampu lagi menyembunyikan kebencian  mereka terhadap umat islam. Kebencian mereka mencapai puncak saat mereka dengan sengaja melecehkan dan berusaha memperkosa seorang wanita Anshor. Kejadian ini menjadikan kaum muslimin sadar untuk berwaspada terhadap mereka. Kendati demikian Rosululloh saw tetap memberikan peringatan kepada mereka tentang akibat dari ulah melanggar janji. Akan tetapi mereka yang memang terkenal dengan kehebatan dalam pertempuran justru menantang. Mereka berkata: Jangan kamu bangga bisa mengalahkan orang Makkah, maklum mereka orang-orang bodoh yang tak mengerti peperangan. Jika nanti kamu berhadapan dengan kami, barulah kamu mengerti kamilah manusia terhebat. Setelah memproklamirkan permusuhan, Bani Qoinuqo' segera  masuk dan melakukan pertahanan dalam benteng mereka. Setelah dikepung oleh pasukan islam selama lima belas hari, mereka akhirnya menyerah dan meminta supaya dibiarkan pergi meninggalkan Madinah bersama istri dan budak-budak mereka. Sementara harta mereka harus mereka tinggalkan untuk menjadi milik umat islam. Dalam hal ini umat islam berprinsip: "Dan bila kamu mengkhawatirkan pengkhianatan dari satu kelompok maka lemparkanlah kepada mereka (janji yang telah dibuat), sungguh Alloh tidak menyukai orang-orang yang berkhianat" QS Al Anfal:85.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- Bani Nadhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Yahudi ini mengingkari janji dengan mengadakan pertemuan untuk menyusun rencana pembunuhan terhadap Rosululloh saw yang akan berkunjung ke perkampungan mereka. Mereka berencana menjatuhkan batu dari atas bangunan jika Rosululloh saw melintas di jalan depan bangunan tersebut. Mengetahui hal ini Rosululloh saw segera mengurungkan niat berkunjung dan selanjutnya menyuruh Muhammad bin Maslamah agar datang dan mengabarkan kepada Yahudi supaya segera meninggalkan Madinah. Sebenarnya Bani Nadhir sudah akan pergi meninggalkan Madinah, tetapi karena mendapat jaminan bantuan dan pembelaan dari kaum munafiq mereka dengan berani tidak menggubris tuntutan pergi tersebut. Akhirnya Rosululloh saw mengerahkan pasukan dan mengepung mereka yang bertahan di dalam benteng hingga setelah enam hari terkepung dan tidak mendapat bantuan yang dijanjikan kaum munafiq, komunitas Yahudi itu akhirnya menyerah dan meminta diperbolehkan keluar dari Madinah tanpa senjata dengan membawa sepenuh muatan unta. Sebelum pergi mereka merobohkan rumah-rumah mereka agar tidak ditempati oleh orang islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3- Bani Quroizhoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perang Ahzab, lagi-lagi umat islam harus menerima pil pahit pengingkaran janji yang dilakukan oleh Bani Quroizhoh. Mereka ikut serta memberi bantuan kepada suku Quresy dan Ghothofan untuk menghancurkan islam dalam perang Khondaq. Selesai perang Khondaq Rosululloh segera memerintahkan pasukan islam agar bertolak ke Bani Quroizhoh. Setelah dua puluh lima hari dikepung, mereka akhirnya menyerah dan mengajukan permintaan supaya diperbolehkan keluar dari Madinah seperti halnya Bani Qoinuqo' dan Bani Nadhir.  Akan tetapi ini ditolak oleh Rosululloh saw hingga sampailah masalah ini kepada menyerahkan semua masalah kepada keputusan Sa'ad bin Muadz pemuka suku Aus yang terikat perjanjian damai dengan Yahudi Bani Qoinuqo'. Tanpa ragu-ragu, Sa'ad memutuskan agar para lelaki dibunuh dan para wanita diboyong sebagai bagian dari rampasan perang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjanjian damai yang telah terikat antara umat islam dan kaum kafir Makkah dalam perjanjian Hudaibiyyah juga mengalami nasib yang sama denga perjanjian yang terikat dengan tiga komunitas Yahudi di atas. Itu bermula ketika kafir Makkah memberi bantuan kepada Bani Bakar yang berada di blok mereka dan sedang terlibat konflik dengan Bani Khuza'ah yang berada di blok umat islam Madinah. Dari kasus inilah umat islam segera bangkit dan bersiap-siap pergi ke Makkah hingga terjadilah peristiwa sangat penting dan bersejarah yaitu penaklukan Makkah (Fathu Makkah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perjanjian Damai Demokrasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kaum muslimin tempo dulu pernah melakukan perjanjian damai dengan non islam baik Yahudi Madinah maupun kafir Makkah maka kini umat islam Indonesia secara tidak langsung juga telah membuat perjanjian damai dengan kaum non islam ketika umat islam telah sepakat hidup bersama mereka dalam negara yang berazaskan demokrasi di mana salah satu misinya adalah kebebasan bagi setiap orang untuk memeluk agama yang diyakininya serta adanya saling menghormati serta saling menjaga kerukunan di antara pemeluk agama yang berbeda. Sampai di mana efektifitas perjanjian ini adalah sangat tergantung keteguhan pemeluk agama masing-masing dalam menjaga dan menepati janji perdamaian. Yang jelas sebagai seorang muslim yang diwajibkan memiliki kecemburuan terhadap agamanya, kita harus bertanya, kenapa di daerah seperti Maluku, Sambas (Kalbar) dan daerah lain di mana perbandingan jumlah umat non islam (kristen) dan umat islam tidak terpaut terlalu jauh atau hampir seimbang, kerusuhan dan pertikaian yang berbau SARA kerap kali terjadi? Kecemburuan dan rasa sayang terhadap islam yang diyakini tak ada kebenaran di luar islam menjawab: Meski tidak bisa begitu saja diklaim karena perbedaan agama, kerusuhan itu diakibatkan oleh jumlah non islam (kristen) yang tidak bisa dikatakatan minoritas di daerah konflik tersebut. Artinya toleransi dan kerukunan hanya mereka gemborkan kala mereka menjadi minoritas. Sedang jika jumlah mereka banyak atau bahkan mayoritas maka yang terjadi adalah tindakan kekejaman, penindasan dan segala bentuk ketidak adilan yang intinya mengekang kebebasan  ekspresi, kreasi dan aksi umat islam. Benarlah jika salah seorang cendikiawan kita mengatakan bahwa kerukunan umat beragama di Indonesia bukan karena adanya toleransi dan tenggang rasa di antara pemeluk agama, tetapi lebih diakibatkan oleh jumlah umat islam yang mayoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari sini, umat islam harus waspada, sebab jika sampai kaum minoritas (baca : kafir ) mendapat kesempatan maka mereka akan memanfaatkannya untuk menghabiskan kita umat islam. Umat islam sudah saatnya sadar bahwa bahaya laten yang mengancam bukanlah komunisme atau apapun, tetapi bahaya itu adalah jika kebijakan kaum kafir mengendalikan negeri ini. Agar hal ini tidak sampai terjadi maka perlu diperhatikan firman Alloh berikut yang artinya: "Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Karena itu jangan kalian menjadikan mereka sebagai penolong-penolongmu (pimpinan-pimpinanmu) ".  QS Annisa' : 89. "Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menuruti orang-orang kafir, niscaya mereka akan mengembalikanmu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi" QS Ali Imron : 149. "Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang beriman. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Alloh (untuk menurunkan siksa)" QS Annisa' : 144.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-1940329595840537993?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/1940329595840537993/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=1940329595840537993' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1940329595840537993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1940329595840537993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/08/antisipasi-ledakan-bahaya-dari-kaum.html' title='Antisipasi Ledakan Bahaya dari Kaum Minoritas'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-4160281420695746046</id><published>2010-08-05T01:17:00.000-07:00</published><updated>2010-08-11T15:25:28.272-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Perumpamaan dan Faedah Kedatangan Ramadhan</title><content type='html'>Oleh: Abi Ihya' Ulumiddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tausiyah Bulan Agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tabaaraka wata’alaa&lt;/span&gt; berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu...”QS al Baqarah: 183-184. Bulan itu ada dua belas seperti putera-putera Nabi Ya’qub &lt;span style="font-style:italic;"&gt;alaihissalaam&lt;/span&gt;. Sedang bulan Ramadhan di antara bulan-bulan lain adalah laksana Nabi Yusuf &lt;span style="font-style:italic;"&gt;alaihissalaam&lt;/span&gt; di antara para saudaranya. Seperti halnya Nabi Yusuf alaihissalaam sebagai putera yang paling dicintai Nabi Ya’qub &lt;span style="font-style:italic;"&gt;alaihissalaam&lt;/span&gt; maka demikian pula dengan bulan Ramdhan. Ia adalah bulan yang paling dicintai oleh Dzat Maha Mengetahui hal-hal gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dalam diri Nabi Yusuf &lt;span style="font-style:italic;"&gt;alaihissalaam&lt;/span&gt; ada sikap santun dan pemaaf yang menyirami kenakalan para saudaranya ketika dia berkata: “Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang."QS Yusuf: 9, maka seperti itulah bulan Ramadhan yang di dalamnya terdapat rahmat, ampunan dan kemerdekaan dari neraka, hal yang mengalahkan seluruh bulan serta segala salah dan dosa yang kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya seorang diri yang mampu menutup celah sebelas orang dengan memperbaiki kondisi mereka, memberikan makanan dalam kelaparan serta memberikan izin untuk kembali lagi, maka seperti itulah Ramadhan, hanya sebulan. Sementara bulan-bulan lain ada sebelas bulan sekaligus berisi cela, kesalahan dan keteledoran dalam menjalankan amal-amal kesalehan. Di bulan Ramadhan ini kita berharap bisa memperoleh kembali apa yang telah kita teledorkan di bulan-bulan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di bulan Ramadhan ini kita perbaiki kerusakan segala urusan dan menutupnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan.Sebagaimana di sana ada isyarat lain, realitas Nabi Ya’qub &lt;span style="font-style:italic;"&gt;alaihissalaam &lt;/span&gt;yang memiliki sebelas putera. Beliau selalu melihat, memandang dan mengawasi kondisi serta gerak gerik mereka. Meski begitu penglihatannya yang rabun akibat banyak menangis dan melubernya air mata tidak juga kembali normal dengan sepotong baju dari baju-baju mereka. Justru penglihatannya kembali normal dengan sepotong baju Nabi Yusuf &lt;span style="font-style:italic;"&gt;alaihissalaam&lt;/span&gt;. Bahkan Beliau menjadi kuat setelah sebelumnya lemah. Begitulah para pendosa dan pelaku maksiat, ketika mencium bau Ramadhan dan duduk bersama orang-orang yang teguh akan batasan-batasannya maka Insya Allah ia akan mendapatkan ampunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia akan bisa kembali melihat dengan hatinya setelah mengalami kebutaan. Ia kembali mendapatkan keberuntungan dekat denganNya setelah kecelakaan (jauh dariNya) dan iapun diterima dengan kasih sayang setelah kemarahan serta selalu mendapatkan pertolongan selama hidupnya. Allah pun mencintai dan meridhoinya.&lt;br /&gt;Maka marilah menjarah bulan berkah ini. Marilah berusaha serius menyambutnya. Inilah pesan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya bagi Tuhanmu di hari-hari setahunmu ada hembusan-hembusan rahmat. Ingat, maka sambutlah nafahaat itu!”HR Thabarani. “Sesungguhnya bagi Allah di hari-hari setahun ada hembusan-hembusan rahmat maka sambutlah! sangat mungkin salah seorang kalian mendapatkan satu hembusan rahmat hingga setelah itu selamanya ia tidak akan celaka”HR Thabarani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ramadhan, penghulu bulan-bulan telah datang kepada kalian, maka selamat datang. Bulan puasa telah datang membawa berkah-berkah. Betapa mulia peziarah yang datang itu!”HR Thabarani. Allah berfirman: “Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." QS Yunus:58.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan telah menjelang. Selamat atas kedatangannya&lt;br /&gt;Betapa beruntung orang yang berhasil dan bersemangat di dalamnya&lt;br /&gt;Ramadhan madrasah petunjuk, taqwa dan kemuliaan-kemuliaan.&lt;br /&gt;Segala kebaikan bisa dicari (di dalamnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hendaknya kita berdo’a ketika melihat hilal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, tampakkanlah hilal itu atas kami dengan membawa ketentraman dan keselamatan serta kepasrahan. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah. Tanggal kebenaran dan kebaikan”HR Turmudzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk orang yang berpuasa dan berqiyam di dalamnya dengan menjalankan batasan-batasannya. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kesungguhan, keseriusan, kekuatan dan semangat di dalamnya. Semoga Dia Melindungi kita dan kalian dari keteledoran dan tidak memperhatikan haknya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wal hamdu lillaahirabbil aalamiin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=والله يتولى الجميع برعايته=&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-4160281420695746046?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/4160281420695746046/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=4160281420695746046' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/4160281420695746046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/4160281420695746046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/08/perumpamaan-dan-faedah-kedatangan.html' title='Perumpamaan dan Faedah Kedatangan Ramadhan'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-8771769880328973002</id><published>2010-05-02T15:23:00.000-07:00</published><updated>2010-05-02T15:27:55.480-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Tetap Terus Berjalan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Abina K.H.M Ihya' Ulumiddin&lt;br /&gt;Tausiyah Bulan Mei 2001&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara upaya yang bisa membantu agar aktivitas seorang berjalan terus adalah melakukan relaksasi. Sungguh Alloh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ta’alaa &lt;/span&gt;telah menyebut Rasulullah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/span&gt; dengan firman-Nya: “Dan bahwasannya dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,” QS. An Najm: 43. Adalah Rasulullah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/span&gt; kadang beliau membuat orang tertawa sekaligus juga ikut tertawa. Meski begitu pun selalu memperhatikan dan mencari moment yang tepat untuk  memberikan nasihat kepada para sahabat karena tidak menginginkan ada rasa bosan menyergap mereka. Beliau senantiasa melarang kata dan perbuatan yang keterlaluan, memaksakan diri dan cenderung memberatkan. Dan Beliau juga berlomba balap lari dengan Aisyah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ra.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu karena semua orang yang memaksakan diri (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;mutakallif&lt;/span&gt;) pasti suatu saat akan terputus (dari amalan/aktivitas) apabila melihat persoala kekiniannya dan melupakan segala yang mungkin terjadi, masa yang panjang dan datangnya kebosanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang berakal harus memiliki standar minimal dalam melakukan aktivitas yang ia rutinkan. Jika sedang bersemangat maka ia bisa menambah dan saat dalam kondisi lemah maka ia berusaha mempertahankan apa yang telah biasa dilakukannya. Rasulullah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shallallahu alaihi wasallam &lt;/span&gt;bersabda, “Sesungguhnya agama ini kokoh maka masukilah dengan kelembutan karena sesungguhnya orang yang memaksakan diri tidak akan sampai pada tujuan dan tak akan bisa menetapkan punggungnya (tetap utuh tidak patah).” HR. Bazzar (Jami’ As Shagir I/100).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam atsar sebagian sahabat berkata, “Sungguh nafsu terkadang menghadap dan berpaling. Maka gunakan kesempatan saat ia sedang menghadap. Dan tinggalkanlah ia saat sedang berpaling. Sungguh Alloh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ta’alaa&lt;/span&gt; mencela ahli kitab dengan firman-Nya, “…dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhoan Alloh, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya…” QS. Al Hadid: 27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim yang terbina juga harus menjauh dari pergaulan yang tidak berguna dengan sesama manusia karena hal itu menyibukkan hati dan menyia-nyiakan waktu sehingga melalaikan hal-hal yang semestinya lebih penting. Akan lebih baik jika seorang muslim terbina menjadikan bergaul dengan manusia seperti layaknya kebutuhan makan siang dan makan malam. Artinya bergaul dengan manusia cukup dilakukan sekedar kebutuhan. Hal ini tentu saja akan lebih mengenakkan tubuh dan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa mengerti kadar kecukupan dirinya terkait penghidupan dan penjagaan agamanya maka lebih utama baginya mengambil sekedar kebutuhan akan pergaulan dengan tetap memelihara iltizamat individu dan jamaah serta hak-hak kaum muslimin seperti mengucap dan menjawab salam, menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, mengajarkan kepada mereka apa yang mereka butuhkan dan memberikan manfaat kepada mereka sesuatu yang diharapkan bisa menjadikan mereka semakin baik dan lain-lain. Alloh berfirman, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalanNya.” QS. Al Isro: 84.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wallahu yatawalal jamii’u biro’aayatih&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-8771769880328973002?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/8771769880328973002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=8771769880328973002' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8771769880328973002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8771769880328973002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/05/tetap-terus-berjalan.html' title='Tetap Terus Berjalan'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-5862633774674522481</id><published>2010-04-04T18:53:00.001-07:00</published><updated>2010-04-06T19:15:08.757-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Ahlussunnah Menjawab Terorisme, Radikalisme dan Fundamentalisme</title><content type='html'>Oleh: Abina K.H.M Ihya' Ulumiddin&lt;br /&gt;Tausyiah Bulan April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah, Islam juga sekaligus memperoleh fasilitas khusus berupa penjagaan dariNya secara terus menerus dan tidak pernah terputus. Satu penjagaan terhenti segera diganti dengan penjagaan berikutnya semenjak dimulainya kehidupan manusia di bumi ini sampai kelak datangnya hari kiamat. Model penjagaan Allah tersebut terbagi dalam beberapa periode:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Periode Para Nabi alaihimusshalaatu wassalaam dari Nabi Adam hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.. &lt;br /&gt;b) Otensitas Alqur’an dan Hadits yang senantiasa terjaga dan terpelihara&lt;br /&gt;c) Para Ulama sebagai Pewaris Para Nabi. Dalam periode inipun setiap seratus tahun sekali Allah senantiasa memunculkan seorang ulama yang mampu tampil sebagai tokoh pembaharu dan menggairahkan kembali kehidupan Islam. Inilah statement yang pernah dilontarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah senantiasa akan membangkitkan untuk umat ini setiap penghujung seratus tahun seorang yang memperbaruhi agama mereka”(HR Abu Dawud:4291)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam Suyuthi para tokoh pembaharu (mujaddid/reformis) seperti yang dimaksud dalam hadits ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra sebagai mujaddid seratus tahun pertama&lt;br /&gt;2) Imam Syafii ra (150 H-205 H) sebagai mujaddid abad kedua&lt;br /&gt;3) Imam Ibnu Suraij&amp; Al Asy’ari (260 H-324 H) sebagai mujaddid abad ketiga&lt;br /&gt;4) Imam al Baqilani/Sahl/al Isfirayini sebagai mujaddid abad keempat&lt;br /&gt;5) Imam Abu Hamid al Ghazali sebagai mujaddid abad kelima&lt;br /&gt;6) Dan selanjutnya (yang tidak bisa disebutkan di sini satu persatu) serta janji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan kelahiran gerakan tajdid secara kolektif dan berkesinambungan. Beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّي يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segolongan dari umatku senantiasa akan tampil sebagai pembela kebenaran. Orang-orang yang menghinakan tak akan bisa membahayakan mereka sampai datanglah urusan Allah”(HR. Turmudzi: 2330)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus kehadiran Imam Al Asy’ari dan Al Maturidi di abad ketiga adalah jawaban dari Allah atas kemunculan kelompok menyimpang bernama al Muktazilah dan sekte-sekte yang lain yang menyerang umat Islam dari sisi paling vital yaitu Aqidah sebagai kaidah berfikir (Kaidah Fikriyyah); standar pemikiran yang selanjutnya sebagai alat pengukur siapa yang dianggap menyimpang dari jalan lurus yang telah digariskan oleh para pendahulu yang sholeh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Imam al Asy’ari dan al Maturidi -yang tampil ke permukaan dan akhirnya bisa mematahkan serangan pemikiran-pemikiran kaum muktazilah dan sekte-sekte yang lain mendapatkan dukungan seluruh ulama kaum muslimin dari seluruh disipilin ilmu; baik para ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih dan termasuk para ulama sufi. Jadi Imam al Asy’ari dan Al Maturidi serta seluruh ulama pendukung Beliau berdua adalah termasuk generasi yang dimaksud dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ilmu ini akan selalu dipikul oleh setiap orang adil dari seluruh generasi penerus (khalaf). Mereka akan menafikan darinya penyelewengan orang-orang yang bertindak ekstrim, pemutarbalikkan yang dilakukan para pelaku kebatilan dan ta’wilan orang-orang bodoh”HR Baihaqi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan dan kesepakatan mayoritas ulama kepada Imam al Asy’ari dan Imam al Maturidi inilah yang kemudian memunculkan istilah Ahlussunnah wal Jamaah, sebuah istilah bagi pemikiran dan pemahaman yang dianut oleh sembilan puluh persen komunitas kaum muslimin (as Sawaad al A’zham) di seluruh dunia waktu itu hingga masa sekarang ini dan sudah barang tentu realitas ini termasuk dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ أَجَارَكُمْ مِنْ ثَلاَثِ خِلاَلٍ : أَنْ لاَ يَدْعُوَ عَلَيْكُمْ نَبِيُّكُمْ فَتَهْلِكُوْا جَمِيْعًا وَأَنْ لاَ يَظْهَرَ أَهْلُ الْبَاطِلِ عَلَى أَهْلِ الْحَقِّ وَأَنْ لاَ تَجْتَمِعُوْا عَلَى ضَلاَلَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menyelamatkan kalian dari tiga hal; nabi kalian tidak berdo’a atas kalian sehingga kalian seluruhnya bisa mengalami kehancuran, pembela kebatilan tak akan pernah bisa mengalahkan pembela kebaikan, dan kalian tidak akan bersepakat atas kesesatan”(HR Abu Dawud/4253 dari Abu Malik al Asy’ari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abuya As Sayyid Muhammad Alawi al Maliki al Hasani mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Banyak dari putera-putera kaum muslimin yang tidak mengerti hakikat madzhab al Asy’ari. Tidak mengerti siapa mereka yang termasuk bermadzhab al Asya’ari. Tidak mengerti thariqah al Asy’ari dalam Aqidah. Dan akhirnya sebagian dari mereka mengklaim sesat madzhab al Asy’ari dan menuduhnya telah keluar dari agama…&lt;br /&gt;Kebodohan akan madzhab al Asy’ari menyebabkan terpecah belahnya persatuan ahlu sunnah sehingga sebagian orang bodoh memasukkan penganut al Asy’ari dalam daftar kelompok sesat. Aku sendiri tidak mengerti bagaimana bisa ahli iman disamakan dengan ahli kesesatan. Bagaimana mungkin seorang ahli sunnah disejajarkan dengan para ekstrimis syiah dan jahmiyyah, “Apakah kami akan menjadikan orang-orang islam sama halnya dengan para pendosa?” QS. Al Qalam:35.&lt;br /&gt;Para pengikut madzhab al Asy’ari adalah bendera petunjuk, para ulama kaum muslimin yang ilmunya memenuhi penjuru timur dan barat bumi dan seluruh manusia muslim telah sepakat akan keutamaan, ilmu dan agama mereka. Mereka adalah para tokoh ulama ahlu sunnah yang terdepan dalam melawan al muktzilah. Mereka adalah figur yang dikatakan oleh Imam Ibnu Taimiyyah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْعُلَمَاءُ أَنْصَارُ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَاْلأَشَاعِرَةُ أَنْصَارُ أُصُوْلِ الدِّيْنِ&lt;br /&gt;“Ulama adalah para penolong ilmu-ilmu agama. Dan para pengikut al Asy’ari (al Asyaa’irah) adalah penolong dasar-dasar agama". ....Mereka adalah kelompok ahli haditsm para ahli fiqih, ahli tafsir dll seperti halnya Imam Ahmad bin Hajar al Asqalani yang tak ada yang menyangkan adalah guru para ahli hadits, penulis kitab Fathul Baari Syarah Shohih Bukhari. Beliau bermadzhab al Asy’ari sementara tak ada alasan bagi seorangpun ulama untuk tidak menggunakan kitabnya sebagai rujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru ulama ahlu sunnah Imam Nawawi, penulis syarah shahih Muslim dan kitab-kitab lain yang terkenal, juga seorang yang bermadzhab al Asy’ari.&lt;br /&gt;Imam al Qurthubi, penulis tafsir al Jami’ li Ahkaamil Qur’aan, Syekh Ibnu Hajar al Haitami penulis kitab Az Zawaajir an Iqtiroofil Kabaa’ir,Syekh Zakariyya al Anshori guru Fiqih dan Hadits, Imam Abu Bakar al Baqilani, Imam al Qasthalani, Imam An Nasafi, Imam As Syarbini, Imam Abu Hayyan penulis tafsir al Bahr al Muhith dll, semua ulama ini bermadzhab al Asy’ari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian halnya apakah kita masih menuduh al Asyaa’irah sebagai kelompok sesat? sementara di lain pihak kita sangat membutuhkan ilmu-ilmu mereka. Bagaimana kita mengambil ilmu dari mereka yang tersesat?...] (Mafaahiim Yajibu An Tushahhah hal 119-120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mainstream (arus besar) keyakinan umat Islam, Ahlussunnah wal Jamaah tentu saja memiliki ciri khas yang sejalan dengan karakter Islam yaitu tawassuth, berdiri di antara dua kutub Ifrath/ekstrim dan Tafrith/teledor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكَذَلِكَ جَعَلْـنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا&lt;br /&gt;“Dan begitulah Kami Menjadikan kalian sebagai umat wasath, agar kalian menjadi saksi atas semua manusia dan Rasul (Nabi Muhammad SAW) menjadi saksi atas kalian”QS al Baqarah:143. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahlu sunnah wal jamaah inilah yang kemudian berfungsi sebagai sistem yang secara kontinyu bisa menjadi filterisasi yang efektif dan cukup akurat untuk menentukan arah jalan yang benar pada saat berada di persimpangan banyak jalan dan sekian banyak aliran pemikiran yang muncul dewasa ini. Inilah shirathal mustaqim yang dimaksud dalam firman Allah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَنَّ هذَا صِرَاطِيْ مُسْتَـقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya inilah jalanKu maka ikutilah oleh kalian. Jangan kalian mengikuti banyak jalan yang akhirnya menjadikan kalian terpisah dari jalanNya…”QS al An’aam:153.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya menjauh dari sikap tawassuth pasti akan memunculkan salah satu dari Ifrath atau tafrith. Khusus sikap Ifrath atau dalam bahasa lain Ghuluww, sikap inilah yang melatarbelakangi kemunculan fenomena terorisme, radikalisme dan fundamentalisme. Inilah akibat langsung dari sistem tabanni (doktrin), bukan tatsqiif. Ya, sistem doktrin memang hanya akan menghasilkan kedangkalan tsaqofah, wawasan tentang agama dalam wujud pengetahuan tentang agama yang sempit atau belajar tanpa adanya guru pembimbing. As Sayyid Alawi al Maliki mengatakan: [Sesungguhnya pencari ilmu; semakin luas cakrawala berfikirnya dan dalam pengetahuan agamanya maka semakin sedikit mengingkari masalah-masalah dan topik-topik aktual yang masih termasuk dalam wilayah perbedaan pendapat para pemikir] (al Ghuluww hal 46). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu sikap Ifrath juga memunculkan sekian banyak performa dan di antaranya yang terpenting adalah: 1)Tasyannuj atau eksklusif. 2) Ittibaul Hawaa. 3) al Inad dan 4) Sikap Fanatik dalam Pendapat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...حَتَّي إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًي مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِيْ رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِنَفْسِكَ ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Jika kamu menyaksikan kikir yang diikuti, hawa nafsu yang dituruti, dunia yang dipilih dan rasa bangga pemilik pendapat dengan pendapatnya maka jagalah dirimu!...”(HR Abu Dawud dari Abu Tsa’labah: 4341). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak lanjutan dari performa-performa semacam di atas adalah sikap antipati dan caci maki yang diarahkan kepada generasi sholeh salaf terdahulu yang telah begitu berjasa menjaga kemurnian islam seperti Imam al Asya’ari sendiri serta para ulama pendukungnya sebagaimana Imam al Ghazali, Imam Nawawi dan Ibnu Hajar al Asqalani. Bahkan Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya pun juga tidak selamat dari caci maki dan antipati. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...وَلَعَنَ آخِرُ هَذِهِ اْلأُمَّة أَوَّلَهَا...&lt;br /&gt;“.......dan generasi akhir umat ini melaknat generasi pertamanya....”(HR Turmudzi:2307) &lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Betapapun terorisme, radikalisme dan fundamentalisme di luar prinsip ajaran Islam bukan berarti Islam membiarkan pemeluknya pasif dan tidak peduli ketika menyaksikan ada kemungkaran. Sungguh sikap cemburu dan tegas terhadap kemungkaran adalah sesuatu yang terpuji dan menjadi pertanda nyala iman yang membara di dalam dada. Dalam sebuah hadits disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْمُؤْمِنُ يَغَارُ وَاللهُ أَشَدُّ غَيْرًا&lt;br /&gt;“Seorang mukmin itu selalu cemburu. Dan Allah lebih cemburu”(HR Muslim dari Abu Hurairah ra/ lihat al Jami’ As Shaghir:9148&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحِدَّةُ تَعْتَرِي خِيَارَ أُمَّتِي&lt;br /&gt;“Sikap keras&amp;tegas selalu datang (dimiliki) oleh orang-orang pilihan umatku”(HR Thabarani dari Ibnu Abbas ra/lihat al Jami’ As Shaghir:3807).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh adalah Abu Musa al Asy’ari ra. Ia terlebih dahulu diutus Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ke Yaman. Selanjutnya Mu’adz ra pun menyusul. Sesampai di Yaman, Muadz disambut dengan hangat oleh Abu Musa. “Turunlah (dari kendaraanmu!)” seraya melemparkan bantal kepada Muadz. Ternyata di samping Abu Musa ada seorang lelaki yang sedang diikat. Muadz yang masih di atas kendaraan bertanya: “Siapa lelaki ini?” Abu Musa menjelaskan: “Ia seorang yahudi yang masuk islam tetapi kemudian kembali kepada agamanya, agama yang buruk” mendengar hal ini Muadz dengan tegas mengatakan: “Aku tidak akan turun sebelum lelaki ini dibunuh. Ini adalah keputusan Allah keputusan RasulNya” Abu Musa berkata: “Turunlah!ia, dia akan segera dibunuh” Muadz tetap tidak mau turun meski Abu Musa telah memintanya tiga kali sehingga Abu Musa pun mengalah dan segera lelaki itu dieksekusi. Setelah itu barulah Muadz mau turun dari hewan kendaraannya.(Lihat Sunan Abu Dawud:4354)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain serangan Aqidah, umat islam juga diuji dengan adanya perpecahan dan pertikaian yang tidak kunjung ditemukan benang merahnya sejak generasi awal umat sampai hari ini.Inilah yang memiliki efek besar pada kelemahan umat dalam menghadapi tantangan zaman.Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...وَلاَ تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ....&lt;br /&gt;“...dan janganlah kalian saling berselisih sehingga kalian menjadi lemah dan kehilangan wibawa...”QS Al Anfaal : 46. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ إِبْلِيْسَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّوْنَ وَلكِنْ فِى التَّحْرِيْشِ بَيْنَهُمْ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya setan telah berputus asa memperbudak orang-orang yang shalat. Akan tetapi (ia masih berharap) membenturkan di antara mereka”(HR Muslim:2116. Turmudzi abwaabul birri 4/330)[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wallahu yatawalla jamii’a biro’ayatihi&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-5862633774674522481?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/5862633774674522481/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=5862633774674522481' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5862633774674522481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/5862633774674522481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/04/ahlussunnah-menjawab-terorisme_04.html' title='Ahlussunnah Menjawab Terorisme, Radikalisme dan Fundamentalisme'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-1319194192761329225</id><published>2010-02-25T00:36:00.000-08:00</published><updated>2010-02-25T00:42:31.923-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Perlindungan Alloh</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/S4Y3c9wVhtI/AAAAAAAAAs4/GjDSHZ3Xdyo/s1600-h/abi+haji.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 159px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/S4Y3c9wVhtI/AAAAAAAAAs4/GjDSHZ3Xdyo/s200/abi+haji.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442098170476988114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Alloh &lt;em&gt;tabaaraka wa ta’aalaa &lt;/em&gt;berfirman:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Sesungguhnya pelindungku adalah Alloh Dzat yang menurunkan al kitab secara bertahap dan Dia senantiasa melindungi orang-orang shaleh.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;QS. al A’raaf: 196&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini terdapat berita gembira bagi orang-orang shaleh dari kaum muslimin. Berita gembira berupa sesuatu yang bernama &lt;em&gt;tawalli&lt;/em&gt;, perlindungan dari Alloh. Perlindungan dan pertolongan Alloh kepada orang-orang shaleh sebagaimana Alloh melakukan hal ini kepada para nabi dan rasul &lt;em&gt;alaihimusshalaatu wassalaam&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawan dari tawalli adalah takhalli, dibiarkan oleh Alloh. Orang-orang shaleh adalah figur yang memiliki kebaikan diri dengan menampilkan dua hal;&lt;br /&gt;1. Keimanan yang berbuat tauhidullah, meng-Esakan Alloh dalam Dzat, Sifat, danAf’aal-Nya serta berpasrah penuh kepada-Nya.&lt;br /&gt;2. Amal shaleh yang membuahkan kebaikan individu dan segala urusan jamaah dengan kemampuan dan mauhibah yang telah disiapkan oleh Alloh agar masing-masing orang beraktivitas sesuai potensi masing-masing yang dimiliki agar bisa memberi manfaat kepada orang lain. Atau amal shaleh yang dilakukan secara kontinyu sebagai usaha melanggengkan hubungan manusia dengan Tuhannya dan sudah tentu amalan yang menular (bermanfaat bagi orang lain) lebih utama daripada amalan yang tidak menular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlindungan bagi orang-orang shaleh ini terus menerus berlangsung sebagaimana tersirat dari firman Alloh &lt;em&gt;”wa huwa yatawallaa shaalihiin”&lt;/em&gt; yang menggunakan bentuk &lt;em&gt;fiil mudhorik &lt;/em&gt;di mana hal ini sudah menjadi sunnah ilahiyyah. Karena inilah sebagian ahli makrifat mengatakan:&lt;br /&gt;”Posisikan dirimu bersama Alloh dan jangan pedulikan apapun” ”Jika Allah bersamamu maka tak ada apapun membahayakanmu. Jika Allah marah kepadamu maka siapakah yang bisa jadi pembelamu?”, seperti halnya Alloh juga memberikan penegasan bagi orang yang tidak memiliki keshalehan dengan ancaman takhalli, dibiarkan dan bahkan dihilangkan berkah (&lt;em&gt;al mahq&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mencintai orang-orang shaleh dengan harapan bisa tergabung dalam kelompok  mereka sebagaimana dijanjikan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu alaihi wasallam &lt;/em&gt;dengan sabda Beliau: ”Seseorang bersama orang yang dicintainya.” HR. Muslim. Artinya barang siapa mencintai suatu kaum dengan tulus maka kelak ia akan berada dalam kelompok mereka meski tidak mampu beramal seperti mereka karena adanya kedekatan di antara hati mereka. Dan bahkan dengan anugerah Allah barangkali kecintaan tersebut membawa kepada kesamaan dengan mereka sebagaimana dikatakan:&lt;br /&gt;”Aku mencintai orang-orang shaleh meski aku bukan termasuk dari mereka. Tetapi semoga Allah memberiku anugerah keshalehan”&lt;br /&gt;Imam Turmudzi meriwayatkan dari Abu Darda’ ra. Yang berkata: Termasuk doa Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu alaihi wasallam &lt;/em&gt;adalah: ”Ya Alloh berikanlah kepadaku kecintaan kepada-Mu dan kecintaan kepada seseorang di mana cinta kepadanya bisa mendatangkan manfaat kepadaku di sisi-Mu.” sebagaimana para nabi, syuhada’, shiddiqiin, ulama dan shalihiin. Merekalah teman-teman terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu yatawalla jamii’a biro’ayatihi.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-1319194192761329225?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/1319194192761329225/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=1319194192761329225' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1319194192761329225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1319194192761329225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/02/perlindungan-alloh.html' title='Perlindungan Alloh'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/S4Y3c9wVhtI/AAAAAAAAAs4/GjDSHZ3Xdyo/s72-c/abi+haji.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-6007656186823326858</id><published>2010-01-24T14:53:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T15:09:22.083-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Harta Warisan</title><content type='html'>Pertanyaan&lt;br /&gt;a) Apakah seseorang yang meninggal dengan meninggalkan harta warisan, kemudian harta itu tidak dibagi dengan adil sesuai hukum waris Islam, kelak di akhirat masih diadili karena tidak adil?&lt;br /&gt;b) Bagaimana cara pembagian  harta waris jika berupa tanah?apakah harus dikurs dahulu dengan uang, mengingat harga tanah di surabaya dan di daerah tidak sama? Jika demikian, berapa bagian untuk anak laki–laki dan berapa bagian untuk anak perempuan? Ada yang menyatakan jika dikurs dengan uang  maka pasti terjadi piutang antar sesama saudara. Benarkah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Imiana M, &lt;/span&gt;Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawaban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a. Setelah dipastikan meninggal dunia, maka ada lima hak yang harus ditunaikan secara berurut (Murottabah)  yang berhubungan dengan harta peninggalan (Tirkah) Mayyit; 1) Mengeluarkan hak yang berhubungan dengan harta secara langsung seperti Zakat, Jinayat dan Gadai, 2) Biaya lumrah pengurusan jenazah, 3) Hutang–hutang kepada Allah seperti Haji bagi yang mampu atau hutang kepada sesama manusia, 4) Wasiat kepada selain ahli waris dalam batas tidak lebih dari sepertiga (Tsuluts) harta tinggalan, dan 5) warisan secara adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima hal tersebut menjadi kewajiban ahli waris untuk menunaikannya. Jadi mereka tidak diperbolehkan langsung begitu saja membagi harta peninggalan sebelum menjalani proses demi proses. Atau sudah menjalankan proses tersebut secara berurutan tetapi pada endingnya yaitu pada masalah pembagian harta warisan mereka berbuat tidak adil maka sungguh di sini Mayyit sama sekali tidak mendapatkan dosa. Ingatlah firman Alloh, “...seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain...” QS. al An’aam: 164.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Dalam masalah Warisan, Islam memiliki satu standar baku bahwa Bagian laki–laki adalah dua kali lipat bagian perempuan, firman Allah SWT:  “Allah mewasiatkan bagi kalian  (tentang pembagian pusaka untuk) anak – anak kalian Yaitu: Bagian seorang anak laki–laki sama dengan bagian dua anak perempuan...” QS an Nisa’: 11. artinya wasiat Alloh adalah penekanan agar harta warisan dibagi seadil–adilnya sesuai dengan ketentuan Syara’. Para ahli waris harus menerima hak mereka sesuai dengan bagian yang ditentukan oleh Syara’ untuk mereka. Berangkat dari sinilah kemudian studi ilmu Faro’idh memunculkan satu teori pasti yang berbunyi, “Tirkah dibagi asal masalah kemudian dikalikan Siham “. Dibagi  dan dikalikan tentunya sudah ada kejelasan berapa jumlah total Tirkah yang itu berarti jika dari Tirkah ada yang berupa benda atau tanah maka harus diperkirakan berapa harganya. Tentu hal ini sesuai dengan kesepakatan para ahli waris.[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-6007656186823326858?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/6007656186823326858/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=6007656186823326858' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/6007656186823326858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/6007656186823326858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/01/harta-warisan.html' title='Harta Warisan'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-1323795388431999733</id><published>2010-01-06T00:38:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T00:43:23.328-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Mencium Tangan Orang Alim</title><content type='html'>Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tolong jelaskan dasar–dasar hubungan antara anak dan orang tua, murid dengan gurunya atau seorang murid dengan orang alim. Kenapa setiap berjabat tangan kok mencium tangannya? &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mahfuzh Ali&lt;/strong&gt;, Wates Kediri &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum dasar yang harus dipegang bagi keberlangsungan serta keharmonisan hubungan antara seorang muda dengan yang lebih tua (khususnya antara anak dan kedua orang tuanya) adalah saling menyayangi dan menghormati. Orang tua harus menyayangi orang muda, sementara orang muda harus menghormati orang yang lebih tua. Prinsip ini dijelaskan oleh Nabi Saw dalam sabda Beliau: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيْرِنَا فَلَيْسَ مِنَّا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Barang siapa yang tidak mengasihi orang kecil kami dan tidak mengeri orang besar kami maka dia bukan golongan kami” &lt;/em&gt;HR Abu Dawud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara wujud kasih sayang terhadap orang kecil adalah dengan memberikan ciuman, yaitu ciuman kasih sayang, bukan ciuman gairah kenakalan. Abu Huroiroh menceritakan bahwa suatu ketika Nabi Saw mencium Hasan bin Ali dan kebetulan Aqro’ bin Habis ada di situ. Aqro’ lalu berkata: Sesungguhnya saya memiliki sepuluh anak, tetapi tidak seorang pun dari mereka yang pernah saya cium. Mendengar hal ini, Rosululloh Saw bersabda: “Barang siapa yang tidak mengasihi maka dia juga tidak dikasihi” HR Bukhari. Kasih sayang kepada anak kecil juga pernah ditegaskan oleh Nabi Saw: “Sesungguhnya aku masuk di dalam sholat dan berniat memanjangkannya, lalu aku mendengar  tangisan anak kecil hingga aku pun memperingan (memperpendek) karena kesedihan ibunya” HR Muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, menghormati orang yang lebih tua juga pernah diwasiatkan oleh Nabi Saw kepada Anas bin Malik ra: “Wahai Anas, agungkanlah orang tua, sayangilah orang muda maka engkau akan menemaniku di surga”HR Baihaqi. Ibnu Umar ra juga meriwayatkan sabda Nabi Saw: “ Sesungguhnya termasuk mengagungkan Alloh adalah memuliakan orang muslim yang beruban…” HR Baihaqi. Syekh As’ad Muhammad Said as Shoghorji dalam Syu’abul Iman mengatakan: Wujud memuliakan orang yang lebih tua adalah dengan memberikan tempat kepadanya, memperhatikan ucapannya, mendahulukannya, menjadikannya imam sholat kalau memang dia memiliki kapasitas untuk hal itu serta berbagai macam bentuk memuliakan yang lain (seperti jangan memanggilnya langsung dengan namanya (&lt;em&gt;Njambal&lt;/em&gt;. Jawa). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai menghormati orang alim maka sungguh banyak sekali hal yang harus diketahui, banyak sekali hak–hak orang alim yang harus dipenuhi. Ali bin Abi Thalib ra berkata:” Sesungguhnya hak orang alim adalah anda tidak banyak bertanya kepadanya, tidak memaksanya supaya menjawab pertanyaan anda, tidak memaksanya bila kelihatan agak malas, tidak menyebarkan rahasianya, tidak meneliti keburukannya, jika bersalah maka terimalah alasannya, muliakanlah dia selama dia menjaga perintah Allah, dan jika dia memiliki kebutuhan maka segeralah beri pelayanan”. Dalam at Tibyan, Imam Nawawi menuliskan peringatan : ” Ketahuilah bahwa daging–daging ulama itu beracun, dan sudah diketahui akan kebiasaan Allah dalam membongkar tirai orang–orang yang meremehkan mereka, dan sesungguhnya barang siapa siapa yang melepaskan mulutnya untuk mencela ulama maka Allah akan mengujinya dengan kematian hati sebelum ia mati. Dan di antara bentuk memuliakan orang alim adalah dengan mencium tangannya. Hal ini lumrah dilakukan oleh para sahabat kepada Rosululloh Saw atau para sahabat kepada sahabat yang lain. Ummu Abban menceritakan bahwa kakeknya (Zuro’) yang termasuk dalam duta Abdul Qoes bercerita: “Ketika sampai di Madinah kami bergegas turun dari kendaraan untuk mencium tangan dan kaki Rosululloh Saw “ HR Abu Dawud.  Kisah Zaid bin Tsabit dan Ibnu Abbas yang saling berebut untuk mencium tangan temannya juga menjadi dalil bahwa mencium tangan orang alim memang ada tuntunan dan dalilnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyayangi orang muda, menghormati yang lebih tua serta memuliakan orang alim juga disebut dalam sabda Nabi Saw:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَيْسَ مِنْ أُمَّتِيْ مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Bukan termasuk umatku orang yang tidak mengagungkan yang tua, menyayangi yang muda dan tidak mengerti hak orang alim kami” &lt;/em&gt;(Majma’uz Zawaaid 8 / 14).[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-1323795388431999733?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/1323795388431999733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=1323795388431999733' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1323795388431999733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1323795388431999733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/01/mencium-tangan-orang-alim.html' title='Mencium Tangan Orang Alim'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-1078033392443779589</id><published>2010-01-03T16:09:00.000-08:00</published><updated>2010-01-03T16:12:03.908-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Di antara Pelajaran Hijrah Nabi shallallahu alaihi wasallam</title><content type='html'>Tausyiah Abi Ihya' Ulumiddin Bulan Januari 2010&lt;br /&gt;Tempat: Sentra Dakwah Al Haromain Ketintang Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah Nabi kita Sayyidina Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu anhum adalah kepanjangan dari apa yang telah dilakukan para nabi terdahulu alahimussalam yang berupa hijrah dan jihad dalam aktivitas dakwah mereka. Hijrah ini tak lain adalah kelanjutan silsilah penuh berkah di jalan dakwah yang sesungguhnya tersebut. Dan bahkan bisa dibilang bahwa hijrah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah pokok ikatan, hiasan jejak ang penuh berkah dan makhota model yang berhias sulaman emas. Hijrah Nabawiyyah Muhammadiyyah yang menjadi titk tolak kalender Islam sebagaimana telah disepakati para sahabat pada masa khalifah Umar radhiyallahu anhum. Kala itu Umar radhiyallahu anhum. mengumpulkan para sahabat untuk bertukar pendapat terkait perangkat yang bisa mereka gunakan dalam menentukan kalender. Dalam kesempatan itulah Umar radhiyallahu anhum. berkata, “Hijrah telah memisahkan antara yang hak dan bathil, karena itulah gunakanlah ia sebagai kalender!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran ini disetujui para sahabat radhiyallahu anhum. Dan menurut riwayat Abu Nuaim dan al Hakim hal ini dilatarbelakangi surat Abu Musa al Asy’ari radhiyallahu anhum. yang berkirim surat kepada Umar radhiyallahu anhum., “Sesungguhnya saya telah menerima surat-surat tak tertanggal dari anda hingga kami tidak bisa membedakan manakah surat yang terdahulu dan yang belakangan!” surat dari Abu Musa radhiyallahu anhum. inilah yang kemudian mendorong Umar radhiyallahu anhum. untuk segera mengadakan pertemuan tersebut. (Dzikrayaat wa Munaasabaat/40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah azza wajalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muharijin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah…” QS. Al Anfaal: 72&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh para sahabat Muhajirin adalah tipikal manusia yang loyat kepada agamanya dalam menghadapi ujian yang menghadang di depannya. Mereka menghadapi bencana dan ujian dengan kesabaran dan ketabahan hingga ketika akhirnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan instruksi agar berhijrah maka merekapun fokus menjalankannya tanpa menoleh ke belakang, kepada harta benda dan aset-aset kekayaan yang dimiliki. Ini semua demi menyelamatkan agama. Inilah teladan sesungguhnya bagi siapa saja yang memurnikan agama hanya untuk Allah; tidak lagi mempedulikan tanah kelahiran dan harta kekayaan di jalan menyelamatkan agama mereka dan membawanya lari dari fitnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Adapun kaum Anshar yang telah menampung, memberikan santunan dan pertolongan maka sungguh mereka telah mempersembahkan teladan yang sesuai bagi ukhuwwah Islamiyyah dan kecintaan karena Allah azza wajalla. Sungguh sebuah upaya yang tidak ternilai harganya. Dari disyariatkannya hijrah ini ada dua hukum syara’ yang bisa diambil;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kewajiban berhijrah dari negeri kafir (Daarul harbi) menuju negeri Islam (Daarul Islam). Imam al Qurthubi meriwayatkan dari Ibnul Arabi bahwa berhijrah seperti inn diwajibkan di masa-masa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan masih terus diwajibkan sampai hari kiamat. Sementara hijrah yang telah terputus dengan penaklukan Makkah* hanyalah hijrah menuju Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihukumi seperti halnya Daarul harbi adalah semua tempat di mana seorang muslim tidak memiliki kesempatan mengemandangkan syiar-syiar yang berupa shalat, puasa, jamaah, adzan dan berbagai hukum-hukum zhahari Islam yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kewajiban adanya saling memberikan pertolongan antara sesama muslim; satu dengan yang lain harus memberikan pertolongan betapapun daerah dan negeri mereka berbeda selama hal demikian bisa dilakukan. Dan sudah tidak disangsikan lagi bahwa merealisasikan ajaran-ajaran ilahiyyah seperti ini adalah dasar kemenangan umat Islam sepanjang zaman sepanjang masa seperti halnya mengabaikan ajaran ini dan justru berpaling kepada apa yang bertentangan dengannya sebagai sumber kondisi seperti yang sekarang anda saksikan ini di mana umat Islam lemah, berpecah belah dan menjadi rebutan musuh dari segala arah. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” QS. Anfaal: 73.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dari hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada hijrah setelah penaklukan (Makkah), tetapi masih ada jihad dan niat.” HR. Abu Dawud/2477.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-1078033392443779589?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/1078033392443779589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=1078033392443779589' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1078033392443779589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/1078033392443779589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2010/01/di-antara-pelajaran-hijrah-nabi.html' title='Di antara Pelajaran Hijrah Nabi shallallahu alaihi wasallam'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-4055350223453789651</id><published>2009-12-08T16:28:00.000-08:00</published><updated>2009-12-08T16:33:50.544-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Generasi Rabbani Darimana Memulainya?</title><content type='html'>Tausiyah Bulanan Desember 2009&lt;br /&gt;Tempat: Sentra Dakwah Ketintang Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Al-Qur’an al Karim adalah firman Alloh ta’alaa:&lt;br /&gt;1. “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa: 9).&lt;br /&gt;a. Dalam Iman dan Ilmu mereka selaku sarana yang mengantar pada ketinggian derajat mereka (QS. Al-Mujadilah: 11)&lt;br /&gt;b. Sebab mereka menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan syahwat. (QS. Maryam: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. “…Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran: 79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbani bahasa ini dinisbatkan kepada bahasa Ar Rabb di luar qiyasnya sebab orang tersebut mengenal Tuhannya (Ar Rabb) sekaligus selalu taat kepada-Nya.&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa Rabbani adalah seorang yang mentarbiyah (mendidik) manusia ilmu, amal, semangat dan mencontohkan kepribadiannya. Hal-hal tersebut berdiri di atas dua dasar:&lt;br /&gt;a. Mengajarkan Al-Qur’an (karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab). Karena inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memiliki perhatian besar terhadap pengajaran Al-Qur’an khususnya bagi anak-anak kecil. Ini adalah tingkatan bagi pemula (al Mubtadi).&lt;br /&gt;b. Mengkaji Al-Qur’an (dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya) artinya menghafal atau merenungi maknanya. Dari sini bisa dimengerti bahwa bahasa mempelajari (Ad Dars) lebih spesifik daripada bahasa yang pertama (ta’lim). Bahasa Ad Dars juga menuntut adanya kondisi betul-betul memahami dengan kuat (tamakkun). Ini adalah tingkatan bagi seorang yang telah berada di tingkatan atas (al muntahi) karena Al-Qur’an adalah ensiklopedi dan gudang pengetahuan pertama kali yang dikenal oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip ini memberikan faedah:&lt;br /&gt;a. Mengarahkan anak-anak untuk menyakini sesungguhnya Alloh adalah Tuhan mereka dan bahwa Al-Qur’an ini adalah firman-Nya.&lt;br /&gt;b. Meresapnya ruh Al-Qur’an ke dalam hati mereka dan bersinarnya cahaya Al-Qur’an dalam hati, pemahaman dan  indera mereka.&lt;br /&gt;c. Mentalqin mereka Aqidah Al-Qur’an sejak usia dini.&lt;br /&gt;d. Mereka akan tumbuh berkembang dalam kecintaan kepada Al-Qur’an dan memiliki ikatan dengannya; menjalankan perintah-perintahnya, menajauhi larangan-larangannya, berakhlak dengan akhlaknya serta berjalan sesuai manhaj-manhajnya sehingga mereka tumbuh di atas fitrah dan berikutnya cahaya-cahaya hikmah akan menerangi hati mereka sebelum dikuasai oleh hawa nafsu dan sebelum hati menjadi hitam oleh kotoran-kotoran maksiat dan kesesatan sebagaimana dikatakan dalam syair:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang kepadaku keinginan kepadanya sebelum aku mengerti apakah sebenarnya keinginan itu. Keinginan itu akhirnya mengenai hati yang kosong sehingga melekat begitu kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu.” Ini memberikan isyarat Manhaj Rabbani dalam mendidik generasi seperti dalam rumus ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/Sx7wOmiprlI/AAAAAAAAAsw/eePjy95K-fA/s1600-h/SQ.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 178px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/Sx7wOmiprlI/AAAAAAAAAsw/eePjy95K-fA/s200/SQ.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413027935800634962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits Nabawi adalah sabda Beliau shallallahu alaihi wasallam:&lt;br /&gt;“Pokok ilmu ada tiga macam sedang selain itu adalah fadhl; yaitu ayat muhkamah, sunnah qa’imah, dan hukum warisan yang adil.” (HR. Abu Dawud Ibnu Majah Hakim dari Ibnu Amar bin Ash ra. Hadits shahih/lihat Faidhul Qadiir 4:386)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhkamah artinya jelas tak ada samar sama sekali (qa’imah) artinya tetap dan langgeng, terjaga dan terus diamalkan (adilah) artinya adil (fadhl):&lt;br /&gt;- yang jamaknya adalah fudhuul yaitu sesuatu yang tiada kebaikan di dalamnya sehingga orang yang sibuk dengan sesuatu tak berguna disebut fudhuuli.&lt;br /&gt;- Atau jamaknya fadhaa’il yaitu sesuatu yang ada kebaikkan di dalamnya dan memang dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-4055350223453789651?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/4055350223453789651/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=4055350223453789651' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/4055350223453789651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/4055350223453789651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2009/12/generasi-rabbani-darimana-memulainya.html' title='Generasi Rabbani Darimana Memulainya?'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/Sx7wOmiprlI/AAAAAAAAAsw/eePjy95K-fA/s72-c/SQ.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-805164015636374228</id><published>2009-11-27T17:48:00.000-08:00</published><updated>2009-11-27T18:20:59.898-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Bertayamum Dengan Bedak</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saya ingin menanyakan persoalan yang masih menjadi ganjalan selama ini, yaitu hukum bertayammum dengan bedak tabur. Apakah diperbolehkan atau tidak, karena kalau memakai debu ada rasa risih dan takut kotor?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kamil, &lt;/span&gt;Lawang Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawaban:&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syariat mengenai Tayammum dijelaskan dalam firman Allah:  “Dan jika kalian sakit, atau dalam perjalanan atau datang dari kakus, lalu tidak mendapatkan air maka bertayammumlah dengan debu (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sho’id&lt;/span&gt;) yang suci…” QS. an Nisa’: 43.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat ini turun pada tahun 6 Hijriyyah tepatnya dalam perang Muroisi’/Banil Mushtholiq di mana Aisyah ra kehilangan kalung. Saat sedang mencari kalung Aisyah ra., waktu shalat tiba dan kebetulan ketika itu tidak ada air hingga turunlah firman Allah tersebut. Menanggapi hal ini Used bin Hudher berkata: “Wahai Aisyah, semoga Allah mengasihimu, sebab tidak terjadi sesuatu yang tidak engkau sukai melainkan Allah menjadikannya jalan keluar bagi umat islam”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayammum juga menjadi salah satu keistimewaan dan kemurahan yang hanya diberikan oleh Allah kepada umat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.”Diberikan kepadaku lima hal yang tidak diberikan kepada seorangpun sebelumku… dan dijadikan untukku bumi sebagai masjid serta mensucikan…” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Muttafaq Alaihi&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Semestinya Tayammum itu harus dengan debu, tidak boleh dengan yang lain. Ini pendapat Madzhab Syafii dan Hambali serta Dawud az Zhahiri.  Sementara madzhab Maliki dan Hanafi memperbolehkan Tayammum dengan segala jenis tanah atau yang berada di atas tanah seperti debu, pasir, batu, kapur, celak (sebelum dipindah dari sumbernya) dan salju. Pendapat ini menilik pada asal makna &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sho’iid&lt;/span&gt; yang artinya setiap sesuatu yang ada di atas tanah. Juga berpegang pada hadits riwayat Abu Hurairah ra. bahwa sebagian orang kampung datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mengadu: “Kami berada di tanah berpasir, dan di antara kami ada orang yang junub dan haid, sementara sejak empat bulan kami tidak mendapatkan air?” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wajib bagi kalian menggunakan tanah” HR. Ahmad.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari sini bisa dimengerti bahwa tidak ada dari ulama madzhab manapun yang memperbolehkan bertayammum dengan tepung atau segala yang keluar dari tanah dan sudah melalui proses pembakaran seperti pecahan batu bata, genteng atau gamping. Dalam istilah fiqih disebutkan tidak bolehnya bertayammum dengan remukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Khozaf&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kereweng&lt;/span&gt;. Jawa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai bertayammum dengan bedak, maka jelas tidak sah sebab apapun bahan bedak itu yang jelas dia telah mengalami proses pembakaran yang otomatis sudah tidak lagi dinamakan debu atau sesuatu yang berada di atas tanah. Soal rasa risih menggunakan debu maka ada baiknya jika diketahui betapa para sahabat begitu tunduk dan patuh dengan apa yang telah diperintahkan. Tiada sedikitpun rasa enggan untuk melakukan. Amar bin Yasir bercerita: “Aku junub, lalu aku menggosok seluruh tubuhku dengan debu, kemudian aku kabarkan ini kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam hingga Beliau bersabda: “Mestinya cukup bagimu seperti ini”, Beliau lalu memukulkan dua tangannya di bumi dan mengusap wajah serta dua tangan” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Muttafaq Alaihi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-805164015636374228?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/805164015636374228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=805164015636374228' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/805164015636374228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/805164015636374228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2009/11/bertayamum-dengan-bedak.html' title='Bertayamum Dengan Bedak'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-2602060774476925047</id><published>2009-11-11T13:25:00.000-08:00</published><updated>2009-11-11T13:32:25.086-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Peniadaan</title><content type='html'>Di antara metode yang diterapkan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam dalam Tarbiyah adalah memberikan deskripsi nilai-nilai tinggi yang esesnsial di belakang pemahaman-pemahaman yang telah berkembang secara luas. Ini bertujuan mengarahkan kemauan kepada segala sesuatu yang tinggi dan maksud yang mulia. Contoh-contoh dari metode ini adalah sebagaimana sabda Beliau Shalallahu alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kekayaan bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan hati.”&lt;/span&gt; (HR. Ahmad-Bukhari Muslim). Imam Muslim meriwayatkan dari Mutharrif dari ayahnya yang berkata, “Aku datang kepada Nabi Shalallahu alaihi wasallam saat Beliau sedang membaca “al haakumt takaatsur/Menumpuk-numpuk harta menjadikan kalian lupa”. Beliau berkata, “Anak Adam berkata, “Hartaku, hartaku.” Beliau melanjutkan, “Wahai Anak Adam, bukanlah tiada harta yang kamu miliki dari hartamu kecuali apa yang telah kau makan dan kamu lalu kamu menghabiskannya, atau apa yang telah kamu memakainya dan lalu kamu membuatnya menjadi usang, atau apa yang kamu sedekahkan dan kamu mengabadikannya?””&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Orang yang kuatlah bukanlah orang yang banyak membanting musuhnya. Orang yang kuat hanyalah orang yang mampu menahan diri ketika marah.”&lt;/span&gt; (HR. Ahmad- Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Bukanlah disebut penyambung sanak famili seorang yang hanya membalas kunjungan, penyambung sanak famili sesungguhnya adalah seorang yang jika tali sanak familinya terputus maka ia menyambungnya.”&lt;/span&gt; (HR. Ahmad-Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Bukanlah orang buta seseorang yang buta matanya. Orang buta sesungguhnya adalah orang yang buta mata hatinya.”&lt;/span&gt; (HR. Baihaqi dalam Syuabul Iman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“al Birr (kebaikan) bukanlah busana dan penampilan bagus, tetapi kebaikan adalah ketenangan dan kesantunan.”&lt;/span&gt; (HR. Dailami dalam Musnadul Firdaus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“al Bayan bukanlah banyaknya ucapan, tetapi ucapan yang lugas dalam hal yang disukai Alloh dan Rasul-Nya. Gagap bukanlah gagap lisan, tetapi minimnya pengetahuan akan kebenaran.”&lt;/span&gt; (HR. Dailami dalam Musnadul Firdaus). Sejalan dengan ini adalah sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya sebagian dari al Bayan adalah sihir.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Pembohong bukanlah orang yang mendamaikan manusia; ia lalu menyampaikan kebaikan (pihak pertama kepada pihak kedua) dan mengucapkan kebaikan (pihak kedua kepada pihak pertama)"&lt;/span&gt; (HR. Ahmad-Bukhari Muslim Abu Dawud Turmudzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Puasa bukan hanya dari makan dan minum. Puasa sebenarnya adalah dari lagh dan rafats; jika ada orang mencacimu atau berbuat bodoh kepadamua maka ucapkanlah, “Sesungguhnya aku berpuasa, sesungguhnya aku berpuasa.” &lt;/span&gt;(HR. Hakim-Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.&lt;span style="font-style:italic;"&gt; “Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling (kesana kemari meminta sedekah) kepada manusia sehingga ia mendapatkan sesuap dua suap atau sebutir dua butir kurma, tetapi miskin yang sebenarnya adalah orang  yang tidak mendapatkan kekayaan yang membuatnya puas, tidak pula diketahui akan kondisinya sehingga bisa diberikan sedekah kepadanya dan tidak pula ia bangkitkan lalu meminta-minta kepada manusia.” &lt;/span&gt;(HR. Malik Ahmad Bukhari Muslim Abu Dawud Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Bukanlah orang terbaik di antara kamu seorang yang meninggalkan dunia demi akhirat atau meninggalkan akhirat demi dunia sehingga ia mampu mendapatkan keduanya sebab sesungguhnya dunia adalah sarana menuju akhirat. Jangan kalian menjadi beban orang lain.”&lt;/span&gt; (HR. Ibnu Asakir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepadan dengan hal di atas adalah ucapan syair:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kehidupan bukan sekedar nafas-nafas yang engkau hembuskan. Kehidupan sesungguhnya adalah kehidupan ilmu dan budi pekerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Anak yatim bukanlah anak yang ditinggal oleh bapaknya. Anak yatim sesungguhnya adalah orang yang ditinggalkan ilmu dan budi pekerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafii ra. Berkata:&lt;br /&gt;Ilmu bukanlah sesuatu yang diambil. Ilmu sebenarnya adalah sesuatu yang bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-2602060774476925047?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/2602060774476925047/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=2602060774476925047' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2602060774476925047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2602060774476925047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2009/11/peniadaan.html' title='Peniadaan'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-8404245557220467549</id><published>2009-10-24T15:17:00.000-07:00</published><updated>2009-10-24T15:20:00.065-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Dimana Memakai Cincin</title><content type='html'>Saya pemuda yang suka memakai cincin. Tetapi bukan cincin emas karena itu dilarang keras. Saya melihat umumnya masyarakat cincin diletakkan pada jari-jemari tangan kiri. Saya juga melihat meski tidak banyak orang yang memakai cincin pada jari-jemari tangan kanan. Nah, yang saya tanyakan sunnah memakai cincin itu di tangan yang sebelah mana? Apakah dahulu Rasulullah suka memakai cincin? Dan di mana beliau meletakkan cincinnya? Ustadz, sebelumnya terimakasih banyak atas jawaban pertanyaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Budi Kurniawan&lt;/span&gt;, Megaluh Jombang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam asSubky, menurut Rasulullah dalam hal kesehariannya termasuk sunnah, seperti meniru cara makan, cara berpakaian, cara bersisir dan lain sebagainya. Dari berbagai riwayat, terlihat Rasulullah suka memakai cincin (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;takhottum&lt;/span&gt;). Artinya, memakai cincin adalah sunnah. Beliau suatu saat pernah memakai cincin di jari kelingking tangan kanan dan suatu saat yang lain beliau memakainya pada tangan sebelah kiri, sebagaimana dalam hadits shohih, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Adalah beliau bercincin pada tangan kanannya." &lt;/span&gt;(HR. Bukhori dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Adalah beliau bercincin pada tangan kirinya."&lt;/span&gt; (HR. Muslim dan Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini memakai cincin baik di tangan kanan maupun tangan kiri sama-sama sunnahnya. Imam As Syafi’i berpendapat bahwa memakainya di sebelah kanan itu lebih utama. Sementara Imam Malik berpendapat sebaliknya. Imam Bukhori dan Imam Al Munawi memilih meletakkan cincin pada jari kelingking tangan kanan dengan alas an tangan kanan lebih pantas untuk diperindah. Sedang hadits lain yang menyatakan cincin Rasululla dipakai pada tangan kanan lalu diubah pada tangan kiri adalah hadits dhoif. Oleh karena itu tidak bisa dipakai hujjah. (Lihat Al Munawi: Fadlul Qodir Jilid V Dar. Al Ma’rifah, cet II Beirut).[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-8404245557220467549?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/8404245557220467549/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=8404245557220467549' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8404245557220467549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8404245557220467549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2009/10/dimana-memakai-cincin.html' title='Dimana Memakai Cincin'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-6251191971163707699</id><published>2009-09-18T15:32:00.000-07:00</published><updated>2009-09-18T15:38:01.888-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Breaking News'/><title type='text'>Khutbah Idul Fitri</title><content type='html'>Para pembaca yang budiman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Alloh Abi Ust.H.M. Ihya' Ulumiddin akan khutbah Idul Fitri 1430 H di masjid Rahmat Kembang Kuning Surabaya. Sholat akan dimulai pukul 06.00 wib. Semoga informasi ini bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-6251191971163707699?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/6251191971163707699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=6251191971163707699' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/6251191971163707699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/6251191971163707699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2009/09/khutbah-idul-fitri.html' title='Khutbah Idul Fitri'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-3816110155271367575</id><published>2009-09-08T01:52:00.000-07:00</published><updated>2009-09-08T01:57:34.849-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Ya Alloh... Berikanlah Tambahan Jangan Pernah Mengurangi!</title><content type='html'>Seorang mukmin yang terbina wajib memahami bahwa setiap ibadah memiliki dimensi eksoteris dan esoteris (zhahir dan batin) atau memiliki kulit dan isi sebagaimana diisyaratkan oleh sabda Rasulullah shallallâhu 'alahi wasallam kepada seorang yang berbuat jelek dalam shalatnya: "Kembalilah melakukan shalat, sebab engkau belum melakukan shalat!" Muttafaq alaih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sabda Rasulullah shallallâhu 'alahi wasallam  berikut ini: "Betapa banyak seorang yang melakukan Qiyamullail tetapi tidak mendapatkan apapun selain kecapekan dan kepayahan." HR. Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betapa banyak orang yang berpuasa dan tidak ada bagian untuknya dari puasa tersebut kecuali lapar dan dahaga." HR. Thabarani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama zhahir menetapkan syarat-syarat zhahir bagi suatu amal ibadah karena keterkaitan syarat-syarat tersebut dengan kemurahan dan kemudahan agama ini. Bagi mereka, yang terpenting adalah segala bentuk beban syariat (takâlif) bisa mudah dilaksanakan oleh mayoritas orang-orang yang lupa. Jadi fokus perhatian mereka adalah bagaimana ibadah itu sah dan bisa diterima sebagai sebuah amal batin terpusat kepada bagaimana ibadah itu bisa diterima dalam arti bisa membawa kepada maksud dan tujuan pokok yang berupa rahasia-rahasia ibadah sebagai buah dari keikhlasan dalam menjalankannya sebagaimana contoh berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Rahasia Thaharah&lt;br /&gt;a. Mensucikan anggota tubuh dari kriminalitas dan dosa-dosa.&lt;br /&gt;b. Mensucikan hati dari etika-etika tercela.&lt;br /&gt;c.Mensucikan hati dari segala sesuatu selain Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua berdasarkan firman Alloh, "...Alloh tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Maidah: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallâhu 'alahi wasallam bersabda, "Bersuci adalah separuh keimanan." HR. Turmidzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Rahasia Shalat&lt;br /&gt;Shalat disyariatkan sebagai media bermunajat kepada Alloh ta'âlâ, menyegarkan kembali dzikir, takbir, ta'zhîm, tahmid dan pujian kepada-Nya. "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 45-46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata, "Shalat menjadi sempurna bila disertai konsentrasi hati (hudhûr), berusaha memahami makna bacaan, perasaan ta'zhîm, haebah, pengharapan dan rasa malu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Rahasia Zakat dan Sepadannya&lt;br /&gt;Berakhlak dengan salah satu akhlak Alloh berupa rahmat yang seringkali diucapkan oleh lidah setiap muslim, Bismillâhirrahmânirrahîm. Hal ini memiliki maksud terciptanya suasana saling menyayangi satu dengan yang lain dalam komunitas kaum muslimin meski hanya dengan sedikit kebaikan sebagaimana sabda Rasulullah shallallâhu 'alahi wasallam, "Sungguh janganlah kalian meremehkan sedikit apapun kebaikan." HR. Abu Dawud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga bersabda:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya para wali Abdâl umatku tidak masuk surga dengan amal ibadah, tetapi mereka masuk surga hanya karena rahmat Alloh, jiwa yang dermawan (lowprofile), hati yang bersih dan kasih sayang kepada seluruh kaum muslimin." (al Mundziri berkata: Hadits Mursal riwayat Ibnu Abi Dun'ya/Kasyful Ghummah hal. 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Rahasia Puasa&lt;br /&gt;a. Berakhlak dengan salah satu akhlak Alloh yang berupa shamadiyyah yang memiliki arti dzat yang tidak makan. Abu Amar mengatakan dalam Lisanul Arab; Shamad adalah seorang yang tidak merasakan haus dan lapar di medan peperangan.&lt;br /&gt;b. Menteladani malaikat dalam mencegah diri dari syahwat sebisa mungkin. Atas dasar inilah para ulama membagi puasa menjadi tiga tingkatan:&lt;br /&gt;- Puasa Umum. Mengekang perut dan kemaluan dari dorongan syahwat.&lt;br /&gt;- Puasa Khushush. Menjaga pendengaran, penglihatan, lidah tangan, kaki dan seluruh anggota badan dari dosa-dosa.&lt;br /&gt;- Puasa Khushûshul khushush. Hati berpuasa dari segala keinginan rendah, pemikiran-pemikiran keduniaan, menjaga hati dari segala hal selain Alloh serta hal-hal lain dari berbagai rahasia ibadah yang menjadi rencana utama terciptanya kita umat manusia di mana hal ini justru  sedikit orang yang memahaminya kecuali kelompok al-ârifûn, para pemilik mata hati yang terang benderang. Ini bertolak belakang dengan kondisi orang-orang yang lupa dan orang-orang yang mencampur adukkan kebaikkan dan keburukan yang mayoritas keinginan mereka adalah segala sesuatu  yang menopang urusan penghidupan, memudahkan mereka memperturutkan syahwat dan kelezatan badan dari urusan makanan, minuman, pakaian dan kebutuhan biologis serta mengumpulkan dan menyimpan harta benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Alloh, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kesehatan dalam keimanan. Keimanan dalam keindahan budi pekerti. Keberhasilan yang diikuti keberuntungan. Kasih sayang, afiyah, maghfirah dan ridha dari-Mu. Semoga rahmat ta'zhim selalu tercurah atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya selama orang-orang yang berdzikir mengingat-Nya dan orang-orang yang lupa melupakan-Nya.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-3816110155271367575?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/3816110155271367575/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=3816110155271367575' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/3816110155271367575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/3816110155271367575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2009/09/ya-alloh-berikanlah-tambahan-jangan.html' title='Ya Alloh... Berikanlah Tambahan Jangan Pernah Mengurangi!'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-8370884268055115013</id><published>2009-08-21T14:53:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T15:01:03.247-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Breaking News'/><title type='text'>After Vertigo</title><content type='html'>Ikhwani wa Akhwati hafidhokumullah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Ust. Ihya' mengalami vertigo 2 bulan ini, vertigo beliau datang, pergi, datang lagi begitu seterusnya. Vertigo beliau tidak dapat dipastikan datangnya. Atas saran seorang akhwat, Ust. Ihya' berobat ke dokter syaraf di rumah sakit haji. Hasilnya, Ust. Ihya' diharuskan CT Scan Kepala, Rekam Otak (EEG) dan cek darah lengkap. Ini untuk melihat efek vertigo yang dialami beliau, bersifat permanen ataukah tidak. Juga untuk melihat efek-efek yang lainnya akibat vertigo yang dialami beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon doa para jamaah sekalian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-8370884268055115013?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/8370884268055115013/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=8370884268055115013' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8370884268055115013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8370884268055115013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2009/08/after-vertigo.html' title='After Vertigo'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-902545199937169563</id><published>2009-08-16T18:17:00.000-07:00</published><updated>2009-08-16T18:19:30.959-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Sholat Tak Ada Air dan Debu</title><content type='html'>Kalau akan sholat sementara tidak air, ada jalan yang dituntukan syariat yaitu bertayamum dengan debu. Sekarang kalau terjadi misalnya keadaan seseorang hendak sholat sedang tidak air dan debu pun tidak ada. Apa yang harus dilakukan oleh orang tersebut? Menunda sholat sambil mencari air dan debu ataukah ia sholat dalam keadaan ala kadarnya, yakni tanpa berwudlu atau bertayamum. Sebagai antisipasi hukum terhadap keadaan darurat, saya mohon dikasih keterangan pengasuh Fas'alu sejelas-jelasnya. Sebelumnya jazakumulloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ahmad Taufiq,&lt;/span&gt; Lumingser Adiwarna Tegal Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diantara syarat-syarat yang harus dipenuhi menjelang sholat fardu ialah menutup aurat, menghadap kiblat, dan berdiri. Satu syarat lainnya ialah bersuci (bebas dari najis), dengan terlebih dahulu berwudhu dengan air atau bertayamum manakala tidak ada air atau berhalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak ada air, sementara bertayamum pun tidak bisa karena tidak ada debu (terlepas dari pendapat madzhab Maliki yang membolehkan tertayamum dengan benda apa saja di muka bumi), maka tindakan yang dilakukan ialah, sebagaimana dituturkan oleh Imam Nawawi pengikut madzhab Syafi'i, yaitu memilih di antara empat pilihan berikut ini:&lt;br /&gt;1. Wajib sholat seketika itu bagaimana pun keadaanya. Sholat ini disebut dengan sholat lihurmatil wakti (sholat untuk memulikan waktu). Jika mendapati air ataupun debu kemudian, maka kewajiban dia mengulang sholat.&lt;br /&gt;2. Tidak wajib sholat, hanya dianjurkan, tetapi wajib qodlo (mengganti) di lain waktu.&lt;br /&gt;3. Wajib sholat seketika itu bagaimana pun keadaanya dan tidak wajib mengulangi.&lt;br /&gt;4. Haram sholat seketika itu, tetapi wajib mengqodlo di lain waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara empat pilihan ini pilihan pertama menurut madzhab Syafi'i paling valid. Dengan sekian pilihan ini menunjukkan hendaknya kapan dan dimana saja tidak sampai meninggalkan sholat. Di balik ini tampak pula kemurahan dan keringanan dari ajaran Islam. (Lihat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Majmu'&lt;/span&gt; An Nawawi, jilid II hal. 278).[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-902545199937169563?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/902545199937169563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=902545199937169563' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/902545199937169563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/902545199937169563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2009/08/sholat-tak-ada-air-dan-debu.html' title='Sholat Tak Ada Air dan Debu'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-4645734574599388180</id><published>2009-08-15T20:45:00.000-07:00</published><updated>2009-08-17T01:45:01.145-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Menyia-nyikan Amanat</title><content type='html'>Allah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tabaraka wa ta'alaa&lt;/span&gt; berfirman: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh&lt;/span&gt;" QS al Ahzaab:72.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/span&gt; bersabda: "Tiada Iman bagi seorang yang tidak memiliki integritas " (HR Abu Dawud at Thayalisi). Seorang Badui datang kepada Nabi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/span&gt;. Ia bertanya: "Kapankah kiamat tiba?" Nabi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/span&gt; menjawab: "Ketika amanat disia-siakan maka tunggulah kiamat" Badui itu bertanya: "Bagaimana amanat bisa disia-siakan?" Nabi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/span&gt; bersabda: "Jika urusan dikuasakan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kiamat!"(HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanat adalah sebuah etika yang merupakan lawan kata Khianat.&lt;br /&gt;Menyia-nyiakan amanat memiliki makna:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Khianat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak menunaikan tugas kewajiban dan keteledoran dalam menjalankan ketaatan&lt;br /&gt;Menyerahkan dan menyandarkan urusan kepada selain ahlinya sebagaimana ketika posisi khilafah, pimpinan pemerintahan, mahkamah dan fatwa serta tannggung jawab apa saja dipegang oleh orang-orang yang bukan ahlinya. Sebuah contoh, syarat memegang kepemimpinan umum kaum muslimin adalah 1) ilmu syara' yang mengantarkan kepada ijtihad fiqih dan 2) keadilan sebagai lawan kefasikan yakni melakukan dosa besar atau terus menerus melakukan dosa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali tanda ini muncul adalah di masa tabiin kemudian terus meluas dan tersebar di masa-masa berikutnya sebagaimana Rasulullah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/span&gt; bersabda: "Kehancuran umatku berada di tangan seorang anak muda dari quresy" HR Bukhari. Permulaan orang-orang muda yang bodoh itu adalah Yazid bin Muawiyah (meninggal pada tahun 67) sebagaimana disebutkan oleh al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari Kitabul Fitan. Tentu saja di samping hal yang harus kita mengerti di antara sunnah-sunnah alamiah adalah ketika manusia itu berbuat zhalim maka Allah pasti menguasakan mereka kepada seorang hakim/penguasa yang zhalim seperti diisyartakan firman Allah: "Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan." QS al An'aam: 129. dan seperti disebutkan dalam atsar: "Sebagaimana keadaan kalian seperti itu pula dikuasakan atas kalian" dalam sebuah versi riwayat: "Sebagaimana keadaan kalian seperti itu pula diberikan kepemimpinan atas kalian" (HR Baihaqi. Ia berkata: Hadits ini munqathi. Seorang perowinya yaitu Yahya bin Hasyim masuk dalam kategori dho'if)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Bukhari Muslim disebutkan dari Hudzaifah ra. Ia berkata: Rasulullah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/span&gt; memberikan dua hadits (dua statement) kepadaku di mana aku telah menyaksikan (realitas) salah satunya sementara satu lagi selalu aku menantikannya;(Pertama) Beliau memberitahukan kepadaku bahwa amanat menetap di relung hati para tokoh (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rijaal&lt;/span&gt;). Alqur'an pun turun sehingga mereka bisa mengerti Alqur'an sekaligus mengerti As Sunnah.(Kedua) Beliau bersabda kepadaku tentang sirnanya Amanat. Beliau bersabda: "Sebentar seseorang tidur lalu Amanat tercabut dari hatinya. Bekas Amanat itupun tetap ada laksana noktah. Kemudian seseorang itu kembali tidur sebentar. Amanat lalu tercabut dari hatinya. (Meski begitu) bekasnya tetap ada laksana bengkak air - seperti halnya bara api yang kamu geserkan (jatuhkan) atas kakimu sehingga kaki itu melepuh dan kamu melihatnya bengkak padahal di dalamnya tak ada sesuatu apapun – sehingga (sampai pada tingkat) manusia melakukan jual beli maka hampir tak ada seorangpun yang mau menunaikan amanat hingga dikatakan; "Sesungguhnya di kalangan suku ini ada seorang lelaki yang bisa dipercaya", hingga ada komentar untuk lelaki itu; "Betapa teguh dirinya, betapa cerdas dan cerdik dirinya", padahal tiada sedikitpun iman di dalam hatinya" (HR Bukhari/6497)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini memberikan peringatan akan musnahnya Amanat dan sesungguhnya orang yang dianggap Amanatpun bisa tercerabut darinya sehingga ia menjadi seorang pengkhianat setelah sebelumnya menjadi orang yang bisa dipercaya di mana ini semua bisa terjadi karena dirinya banyak bersentuhan dengan para pengkhianat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyia-nyiakan Amanat adalah ciri khas orang-orang munafik (secara amal) sebagaimana dalam hadits: "Tanda orang munafiq ada tiga; jika berbicara ia bohong, jika berjaji ia mengingkari dan jika dipercaya ia mengkhianati" Muttafaq Alaih. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengkhabarkan bahwa barang siapa mengkhianati Amanat dan mengambil sesuatu dari pengkhianatan itu maka kelak di hari kiamat ia akan datang dengan memikul sesuatu tersebut di pundaknya. Beliau bersabda: "Demi Allah, seorang kalian tidak mengambil sesuatu apapun tanpa hak kecuali ia bertemu dengan Allah sambil membawa sesuatu tersebut di hari kiamat, maka jangan sampai aku melihat salah seorang dari kalian bertemu Allah sambil memikul unta, sapi atau kambing yang terus bersuara" HR Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup kiranya bagi kita untuk mengerti bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika berhijrah ke Madinah justru meninggalkan Ali bin Abi Thalib ra agar menggantikan Beliau menunaikan Amanat orang-orang kafir Quresy yang ada pada Beliau. Padahal mereka telah mengusir Beliau dari tanah kelahiran, menyakiti dan mendustakan Beliau. Kendati begitu hal ini tidak menjadi alasan bagi keabsahan mengkhianati Amanat. Beliau-lah manusia yang bersabda: "Tunaikanlah Amanat kepada orang yang mempercayaimu dan jangan mengkhianati orang yang berkhianat kepadamu"(HR Bukhari dalam Tarikhnya, Abu Dawud, Turmudzi dan Hakim) sebagaimana sesungguhnya Alqur'an telah memberikan bimbingan akan pentingnya tidak menyia-nyiakan Amanat dengan perintah tulisan dan persaksian dalam akad hutang piutang. Allah berfirman: " Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya –sampai firman Allah; Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ".QS al Baqarah: 282 – 283.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, Amanat turun di hati para sahabat Rasulullah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/span&gt; kemudian perlahan-lahan menghilang dari hati orang-orang sedikit demi sedikit sehingga sampai pada kita kondisi seperti sekarang ini di mana orang-orang yang bisa dipercaya dapat dihitung dengan jari...&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Subhaanallah&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-4645734574599388180?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/4645734574599388180/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=4645734574599388180' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/4645734574599388180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/4645734574599388180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2009/08/menyia-nyikan-amanat.html' title='Menyia-nyikan Amanat'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-8831550731976390696</id><published>2009-08-10T16:03:00.000-07:00</published><updated>2009-08-10T16:06:13.992-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Breaking News'/><title type='text'>Mohon Doa</title><content type='html'>Para pembaca setia al-wasath,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon doa untuk kesembuhan Abina Ust. Ihya' Ulumiddin. Beliau mengalami vertigo sudah 2 minggu ini. Semoga beliau dapat beraktifitas kembali dan hadir ditengah-tengah kita. Amiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-8831550731976390696?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/8831550731976390696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=8831550731976390696' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8831550731976390696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8831550731976390696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2009/08/mohon-doa.html' title='Mohon Doa'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-8181954388352621036</id><published>2009-07-07T23:48:00.000-07:00</published><updated>2009-07-07T23:52:25.632-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fas&apos;alu'/><title type='text'>Hukum Memakai Diapers</title><content type='html'>Pengasuh Fas’alu yang dimuliakan Alloh. Saya ingin menanyakan mengenai hukum memakai diapers pada anak-anak balita. Atas jawabannya saya ucapkan terimakasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Santi, &lt;/span&gt;santi.surabaya@xxx.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawaban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara masalah najis berhubungan dengan ketika najis itu menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mani’&lt;/span&gt; (penghalang). Ketika anak dipakaikan diapers, berarti anak tersebut membawa (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘nggembol&lt;/span&gt;) air seni dan kotoran. Di sisi lain, ada maksud untuk menjaga agar najis tidak menyebar ke tempat lain. Tapi anaknya yang menjadi korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Najis tidak boleh jika berhubungan dengan amalan yang ada pengaruh hukumnya terhadap najis. Tetapi jika ada najis dalam aktivitas yang bebas hukum, maka dibolehkan. Misalnya membawa anak saat sedang sholat, sedangkan anak tersebut memakai diapers, maka hal itu tidak boleh. Tetapi jika tidak dalam sholat maka boleh-boleh saja. Karena sebenarnya pada hakekatnya, setiap diri manusia selalu membawa kotoran (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;jumbleng mlaku&lt;/span&gt;). Masalah apakah menjijikan atau tidak, itu tidak termasuk dalam pembahasan tentang hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam Syafii, dalam melakukan sholat, mutlak harus suci dari najis atau termasuk syarat sahnya sholat. Tapi menurut Imam Malik, kesucian dari najis adalah hanya untuk kesempurnaan sholat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari ketentuan hukum menurut Imam Syafii dan Imam Malik, kenyataan dalam riwayat, Rasulullah menggendong Sayyidina Hasan Husein waktu sholat dan beliau juga menggendong Umamah putrinya Sayyidina Zainab. Dan saat beliau sujud, anak tersebut diletakkan. Menurut ahli hadits, tidak ada keterangan yang menjelaskan anak tersebut dalam keadaan suci atau najis. Pada kenyataannya Rasululloh menggendongnya. Jadi kalaupun ada najis maka dimaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ahli fikih yang mempermasalahkannya. Kalau kondisinya jelas-jelas diketahui ada najis, menurut Imam Syafii, maka untuk mendapatkan hal yang utama maka lebih baik najis tersebut disucikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, bagi kita yang memiliki anak balita memang serba repot untuk menghindari najis. Tidak mungkin kita benar-benar steril dari najis, karena setiap hari bergelut dengan anak. Mungkin pendapat Imam Malik bisa menjadi solusi, bahwa kesucian dari najis adalah untuk kesempurnaan sholat, tidak sampai membatalkan sholat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat disimpulkan mengenai hukum pemakaian diapers pada balita, kembali pada apakah ada pengaruhnya terhadap aktivitas ibadah seperti sholat. Jika demikian akan dihukumi boleh atau tidak. Tetapi jika diapers dipakaikan pada balita dan balita tidak diajak sholat, maka diserahkan kepada masing-masing orang apakah mau atau tidak (boleh-boleh saja) untuk memakaikannya.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-8181954388352621036?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/8181954388352621036/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=8181954388352621036' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8181954388352621036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/8181954388352621036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2009/07/hukum-memakai-diapers.html' title='Hukum Memakai Diapers'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-698441844098367451</id><published>2009-07-07T17:55:00.000-07:00</published><updated>2009-07-07T18:04:27.998-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tasawuf'/><title type='text'>Hakikat Cinta Kepada Alloh</title><content type='html'>Cinta bukan sekedar diucapkan dengan kata-kata. Namun cinta itu mesti dibuktikan dengan tindakan nyata. Lebih-lebih cinta kepada sang Khalik Alloh swt. Betapa banyak orang mengikrarkan cinta pada-Nya, tapi hakikatnya perasaan mahabbah itu semu tidak nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Al Hubb Lillaah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alloh ta’ala berfirman: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh”.&lt;/span&gt; QS. al-Baqarah: 165.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini terkait hubungan seorang muslim dengan diri sendiri yang berupa kewajiban membangun kepribadian Islam yang mencakup: 1) Pola pikir Islami yang berpikir dengan logika Islam ketika memberikan penilaian terhadap segala sesuatu, kejadian-kejadian, pribadi-pribadi dengan aneka ragam sikap. 2) Pola jiwa Islami yang memberikan gambaran bagaimana berinteraksi dengan orang sekitar dan segala yang ada di kanan kirinya sesuai manhaj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti tidak ada pilihan kecuali melakukan pembinaan kepada generasi muslim yang kelak akan mengemban Risalah Islam dengan pemikiran yang jelas di kepalanya, aqidah kuat menancap dalam hatinya, ibadah yag murni untuk Tuhannya dan amal shaleh yang memberikan manfaat kepada selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Al Hubb Fillaah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alloh ta’ala berfirman, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara…”&lt;/span&gt; QS. Hujurat: 10. Ini terkait hubungan seorang muslim dengan saudaranya yang berupa kewajiban mewujudkan ikatan Ilsam seperti yang dilakukan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para sahabat yang disebutkan oleh Alloh dalam firman-Nya,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap tegas mereka terhadap orang-orang kafir adalah sebagai buah dari tindakan melarang kemungkaran dalam makna luas, sementara berkasih sayang di antara mereka merupakan buah aktivitas memerintahkan yang baik dalam makna yang luas pula seperti terkandung dalam sabda Rasulullah sholallahu alaihim wasallam, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Setiap kebaikan adalah sedekah”.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud.&lt;/span&gt; Sementara sedekah bisa menolak bencana. Dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Orang yang pengasih akan selalu dikasihi Dzat Maha Pengasih tabbaraka wata’aalaa. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kasihanilah orang yang ada di bumi niscaya orang yang ada di langit akan selalu mengasihi kalian!”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HR. Ahmad, Abu Dawud, Turmudzi, Hakim.&lt;/span&gt; (al Jami’ as Shagir 2/25). “Perlakuan baik akan menjaga dari kematian-kematian buruk, bencana-bencana dan kerusakan-kerusakan…” HR. Hakim dalam al Mustadrak/Kasyful Ghummah: hal. 12).                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Al Hubb Ma’allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alloh ta’alaa berfirman,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; “Maka pernakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…”&lt;/span&gt; QS. Jatsiyah: 22.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini terkait hubungan seorang muslim dengan amalnya. Ia menyangka telah beramal karena Alloh, padahal dalam dirinya ada syirik yang tidak menampak baginya meski ia tahu itu termasuk hal-hal yang merusak amal. Ibnu Taimiyah dalam sebagian fatwa-fatwanya berkata:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya memiliki kecintaan sebagaimana kaum musyrikin mencintai tuhan-tuhan mereka dan sebagaimana kecintaan para penyembah kepada anak sapi emas. Inilah kecintaan Ma’allah, bukan kecintaan Lillaah. Dan inilah kecintaan pada ahli syirik. Hawa nafsu terkadang mengaku mencintai Alloh, meski pada kenyataannya itu adalah kecintaan syirik. Ia hanya cinta kepada sesuatu yang disukainya yang terbungkus dalam kecintaan bersama Alloh. Dan memang keinginan itu sendiri terkadang tidak jelas bagi nafsu sebab sesungguhnya kecintaan anda akan sesuatu bisa menjadikan buta dan menyebabkan tuli. Begitulah amal yang oleh manusia disangka bahwa telah menjalankannya karena Alloh, padahal di sana adal syirik terselubung yang sebenarnya ia mengetahuinya. Hal itu karena kecintaan akan kekuasaan (riyasah), atau kecintaan akan harta benda, atau kecintaan akan popularitas. Karena inilah para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, seseorang berperang karena keberanian, dorongan emosional dan karena pamer. Manakah yang berbeda di jalan Alloh? Beliau sholallahu alai wasallam menjawab, “Barang siapa yang berperang agar kalimat Alloh menjadi mulia maka dialah yang berada di jalan Alloh””. (Tafsir al Qosimi, Mahasin at Ta’wiil I/462).&lt;/span&gt; Dan inilah yang dinamakan Syirik Khafi yang harus diwaspadai oleh seorang muslim yang terbina.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-698441844098367451?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/698441844098367451/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=698441844098367451' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/698441844098367451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/698441844098367451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2009/07/hakikat-cinta-kepada-alloh.html' title='Hakikat Cinta Kepada Alloh'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-2943026315811917325</id><published>2009-06-28T17:26:00.000-07:00</published><updated>2009-06-28T17:43:18.782-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Apakah Hati Kita Masih Hidup?</title><content type='html'>Tausiyah Abi Ihya' Ulumiddin pada Multaqo Sanawy 1430 H Persyarikatan Dakwah Al Haromain, Tulungagung 27-28 Juni 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tabaaraka wataala &lt;/span&gt;berfirman:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan (hati) kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan". &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;QS. al Anfaal: 24&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang hidup merupakan sisi pandang Allah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ta'alaa &lt;/span&gt;sekaligus sasaran saputan cahayaNya. Tanpa hati yang hidup, dan ramai oleh iman serta kilau keyakinan ini, manusia sebenarnya telah mati meski masih berada di kalangan orang-orang yang hidup. Allah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ta'alaa &lt;/span&gt;berfirman: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?...&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;QS. al An'aam: 122.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Atas dasar inilah tarbiyah kita dalam jamaah ini mengarah kepada pelestarian kehidupan hati agar tidak mati, memakmurkannya supaya tidak sepi dan melunakkannya agar tidak keras (tandus). Sungguh Allah telah menegur ahli iman dengan firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk (luluh) hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka..." &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;QS. al Hadiid: 16. &lt;/span&gt;Dan adalah Nabi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;shalallahu alaihi wasallam &lt;/span&gt;memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak tunduk (luluh), amal yang tidak diangkat (diterima) dan doa yang tidak dikabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hati manusia tidak berbeda dengan tubuhnya dalam selalu membutuhkan tiga hal:&lt;br /&gt;1. Penjagaan agar selamat.&lt;br /&gt;2. Makanan agar hidup&lt;br /&gt;3. dan Pengobatan agar sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt; menjaganya dari hal yang disebut oleh Baginda Rasulullah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shalallahu alaihi wasallam &lt;/span&gt;dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wahan&lt;/span&gt;, kecintaan akan dunia yang merupakan pangkal segala kesalahan dan akar semua penyakit, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Karahiyyatul maut, &lt;/span&gt;enggan dengan kematian yang menafikan kenyakinan akan akhirat serta menggerus perasaan selalu mengingat janji pahala di sisi Allah serta siksaan dariNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wahan &lt;/span&gt;manusia terseret kepada sesuatu yang lebih berbahaya bagi dirinya; yaitu kemauan-kemauan hati dan keinginan-keinginan nafsu yang berupa cinta kedudukan dan kekuasaan, mencari popularitas dan sanjungan, menuhankan makhluk Allah, hanya berusaha mendapatkan tepuk riuh massa dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngatok &lt;/span&gt;(asal bapak senang) dengan para tokoh, serta berbagai corak perkara maknawi yang bisa menghancurkan individu dan jamaah. Hal-hal yang menghancurkan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;muhlikat&lt;/span&gt;) maknawi ini lebih berbahaya dibanding dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;muhlikaat zhahir &lt;/span&gt;seperti halnya mencuri, berzina dan meminum miras.Jadi hawa nafsu adalah tuhan terburuk yang disembah di bumi sebagaimana Alloh berfirman,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; "...Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Alloh sedikitpun..." &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;QS. al Qashash: 50.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kedua, memberinya makanan berupa kontinuitas, senantiasa mengingatNya, bersyukur kepadaNya, dan berbuat Ihsan dalam beribadah kepadaNya sebagai sarana meraih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Izza&lt;/span&gt;, kemuliaan yang memang diperintahkan oleh Allah agar kita mencarinya. Allah berfirman, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. KepadaNyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shaleh dinaikkanNya..." &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;QS. Fathir: 10.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kemuliaan bukan dengan harta benda, pangkat, kedudukan dan keturunan, tetapi kemuliaan bisa diraih hanya dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;al Kalim at Thayyib&lt;/span&gt;; yaitu kalimat tauhid dan seluruh ibadah-ibadah lisan yang disertai amal shaleh yang bekerja (berfungsi)  untuk meninggikan dan menjayakannya (baik dalam wilayah individu, keluarga, masyarakat dan negara). Sementara keutamaan berdzikir tidak terbatas pada tasbih, tahlil, tahmid,takbir dll. Justru semua orang yang beramal ketaatan karena Allah ia termasuk orang yang berdzikir kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah setiap dari kita hendaknya betul-betul memperhatikan keharusan-keharusan secara individu atau jamaah (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;iltizamaat fardiyyah atau jama'iyyah&lt;/span&gt;) khususnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menghadiri majlis taklim yang disabdakan Rasulullah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sholallahu alaihi wassallam&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Barangsiapa keluar mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali". &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HR. Turmidzi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Persamaan mencari ilmu dengan jihad &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fi sabilillah &lt;/span&gt;adalah realitas mencari ilmu yang merupakan usaha menghidupkan agama dan menghinakan setan, memayahkan diri serta memecahkan hawa nafsu dan kelezatan. (Dalil al Falihin 4/197).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengagungkan dan mendirikan syiar-syiar Allah. Berdasarkan firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati". &lt;/span&gt;QS. al Hajj: 32.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mengobatinya dengan sesuatu yang bisa menjadikannya baik dan bersih guna membangkitkan perasaan beragama (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;as syu'ur ad diinii&lt;/span&gt;), mengembangkan dorongan dari dalam diri sendiri, dan memenangkan an &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nafs al lawwaamah &lt;/span&gt;atas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;an nafs al ammaarah bi as suu'&lt;/span&gt;. Sesuatu itulah yang disebut jadwal "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Muhasabah&lt;/span&gt;", jadwal yang memuat beberapa pertanyaan yang diajukan oleh seseorang kepada diri sendiri dan harus dijawabnya sendiri dengan "ia" atau "tidak" agar ia mengetahui sampai di mana tingkat penjagaan atau keteledorannya. Inilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Muhasabah &lt;/span&gt;yang secara sempurna hanya terjadi dalam internal dirinya sendiri tanpa ada pengawas kecuali Allah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ta'aalaa. &lt;/span&gt;Di antara pertanyaan itu umpamanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah anda telah menjalankan sholat maktubah tepat waktu?&lt;br /&gt;Apakah anda menjalankannya dengan berjamaah?&lt;br /&gt;Apakah anda menjalankan Qiyamullail?&lt;br /&gt;Apakah anda telah membaca wirid harian, alQuran atau yang lain?&lt;br /&gt;Apakah anda telah mengunjungi saudara fillaah? Apakah...? Apakah...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula halnya atas ketelodoran di sisi Allah ta'alaa supaya amal shalehnya tidak tertimpa bencana-bencana seperti ujub, riya', &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kibr&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ghurur&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ghuluw fiddin, &lt;/span&gt;iri hati, melihat diri sendiri, merendahkan orang lain dll. dari berbagai macam penyakit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya berikan tadzkirah kepada anda sekalian tentang hadits Rasulullah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sholallahu alaihi wasallam: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Barangsiapa yang bergembira karena kebaikannya dan susah karena keburukannya maka dia-lah orang yang (benar-benar) beriman"&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HR. Thabarani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dan ungkapan Ali ra.:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Keburukan yang menyebabkan kamu susah lebih baik daripada kebaikan yang menjadikanmu berbangga" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ucapan Ibnu Atho'lillah as Sakandari pengarang kitab "al-hikam":&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Seringkali terbuka pintu ketaatan bagimu tetapi tidak terbuka (bersamaanya) pintu penerimaan (qabuul). Seringkali kamu terlibat dalam kemaksiatan yang justru kemaksiatan yang menyebabkan rasa hina dan rendah diri lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan bangga diri dan rasa sombong".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Allohu yatawli al jamii'u biro'aa yatih.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-2943026315811917325?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/2943026315811917325/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=2943026315811917325' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2943026315811917325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/2943026315811917325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2009/06/apakah-hati-kita-masih-hidup.html' title='Apakah Hati Kita Masih Hidup?'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-6719869536630019365</id><published>2009-06-18T00:30:00.000-07:00</published><updated>2009-06-18T00:34:58.670-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqofah'/><title type='text'>Wasiat Komplit</title><content type='html'>Allah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Subhana wata’ala &lt;/span&gt;berfirman yang artinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Subhana wata’ala &lt;/span&gt;menutup surat ini dengan beberapa pesan yang komplit kepada orang-orang yang beriman di mana jika mereka bisa melaksanakan pesan-pesan tersebut, mereka menjadi yang paling berhak meraih keberuntungan dunia akhirat. Pesan yang dimaksud adalah seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sabar&lt;br /&gt;Sabar akan menjadi sumber segala keutamaan dan aneka ragam kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mushobaroh&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mushobaroh &lt;/span&gt;berarti berusaha maksimal menahan semua hal yang tidak menyenangkan yang diterima dari orang lain. Hal-hal yang termasuk dalam kategori mushobaroh ini adalah:&lt;br /&gt;a. Tabah akan rasa sakit karena ulah keluarga dan tetangga.&lt;br /&gt;b. Tidak membalas perlakuan buruk orang lain.&lt;br /&gt;c. Mendahulukan (mengalah dari) orang lain/Itsar.&lt;br /&gt;d. Memaafkan kedholiman orang lain.&lt;br /&gt;e. Menghadang, mencegah, dan memberikan jawaban atas tindak pengaburan para pendusta serta memberantas keragu-raguan yang mereka sebarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;3. Murobathoh&lt;br /&gt;Kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;murobathoh &lt;/span&gt;memiliki makna asli mengikat kuda untuk berjaga di benteng pertahanan. Meski begitu, yang dimaksud dengan kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;murobathoh&lt;/span&gt; adalah menyiapkan seluruh potensi kekuatan yang kita miliki secara total untuk menghadapi musuh Islam dengan berbagai macam sarana, baik material (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;madiyyah&lt;/span&gt;), atau nonmaterial (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ruhiyyah&lt;/span&gt;) secara sendiri-sendiri atau bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ini, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;murobathoh &lt;/span&gt;juga memiliki arti lain, seperti diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwaththo’ dari Abu Hurairoh ra. bahwa Rasulullah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sholallahu ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt; bersabda yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apakah aku akan menunjukkan sesuatu kepada kalian yang karenanya Allah menghapus dosa dan meninggikan derajat-derajat?” “Ya, wahai Rasulullah,” jawab para sahabat. Beliau lalu bersabda, “Menyempurnakan wudhu dalam kondisi tak menyenangkan, banyak langkah ke masjid, menanti shalat demi shalat. Itulah ribath, itulah ribath, itulah ribath.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama (menyempurnakan wudhu) merupakan isyarat adanya peperangan dengan nafsu. Kedua, (banyak langkah ke masjid sebagai isyarat adanya pengawasan ketat (muroqobah) terhadap hati dan anggota tubuh. Ketiga, (menanti shalat) menjadi isyarat adanya penjagaan terhadap waktu serta mencari dan memanfaatkan kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Taqwa&lt;br /&gt;Taqwa dimaksudkan sebagai upaya menjaga diri dari kebencian dan kemarahan Allah yang tidak terwujud kecuali setelah mengenal-Nya dan mengetahui apa yang membuat keridhoan-Nya atau menyebabkan kebencian-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Subhana wata’ala&lt;/span&gt; memberikan taufik-Nya kepada kita untuk bisa melakukan aktivitas yang membuat-Nya ridho sehingga kita akan mengapai keberuntungan dunia akhirat dengan anugerah, kebaikan, dan kemurahan-Nya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Washolallahu ‘ala Sayydina Muhammad wa’ala alihi washohbihi wasallam.&lt;/span&gt;[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/767860046660253422-6719869536630019365?l=alwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alwasath.blogspot.com/feeds/6719869536630019365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=767860046660253422&amp;postID=6719869536630019365' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/6719869536630019365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/767860046660253422/posts/default/6719869536630019365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alwasath.blogspot.com/2009/06/wasiat-komplit.html' title='Wasiat Komplit'/><author><name>Abi Ihya'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08017104549222781729</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_uSLEwxCRKGE/TKuziOoMrMI/AAAAAAAAAtc/KUZgHcHsTRI/S220/Abi3.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-767860046660253422.post-39178173187422060</id><published>2009-06-08T17:59:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T18:07:59.228-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausiyah'/><title type='text'>Muhasabah</title><content type='html'>Tausiyah bulan Juni 2009, Abi Ust. Ihya’ Ulumiddin menyampaikan materi tausyiah yang berjudul Muhasabah, bertempat di Ketintang Surabaya. Seluruh anggota jamaah Persyadha hadir, baik yang dari luar kota maupun dalam kota Surabaya. Tausiyah ini juga diadakan di Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut materi tausyiah:&lt;br /&gt;Koreksi diri adalah pohon yang membuahkan taubat yang merupakan salah satu pintu dari berbagai pintu rahmat yang telah disipakan oleh Allah bagi setiap orang yang memiliki keinginan meniti jalan lurus dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;suluk&lt;/span&gt; menuju ridho Allah dan tidak berbuat teledor di sisiNya demi kelanggengan hubungan dengan Tuhannya.Inilah dasar beramal dan sumber segala kesholehan amal perbuatan. Karena itulah Allah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ta’ala &lt;/span&gt;berfirman yang artinya: “Hai orang-
